Anda di halaman 1dari 56

 

REFERAT
SKIZOFRENIA, GANGGUAN
WAHAM, SKIZOAFEKTIF, DAN
PSIKOTIK AKUT
OLEH:
DESTA EKO INDRAWAN, S.KED
BERTA YOLANDA SELVIANA , S.KED
 
 

(1118011029)
(1118011022)

PEMBIMBING:
DR. TENDRY SEPTA, SP.KJ(K)
 
 KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KESEHATAN JIWA
RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

Pendahuluan

Skizofrenia terjadi dengan frekuensi yang sama antara lakilaki dan perempuan, tetapi laki-laki memiliki onset lebih
awal daripada perempuan.

Puncak insidensi antara usia 15-24 tahun pada laki-laki dan
pada perempuan lebih terlambat.

Antara 100000-200000 kasus skizofrenia baru diobati di
Amerika setiap tahunnya. Diperkirakan 2 juta orang
Amerika didiagnosis skizofrenia dan lebih dari 1 juta
mendapatkan terapi psikiatrik setiap tahunnya.

SKIZOFRENI
A

 2.1.1 Definisi
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani,
“schizein”yang berarti “terpisah”atau “pecah”,
dan “phren” yang artinya “jiwa”.
Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau
ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan
perilaku.
Secara umum, simptom skizofrenia dapat
dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom
positif, simptom negative, kognitif, afffektif,
dan agresif

2.1.2 Epidemiologi

Berdasarkan jenis kelamin prevalensi
skizofrenia adalah sama, perbedaannya
terlihat dalam onset dan perjalanan
penyakit. Onset untuk laki laki 15 sampai
25 tahun sedangkan wanita 25-35 tahun.
Penderita Skizofrenia 25-50% berusaha
untuk bunuh diri.

atrofi bilaterla labus temporal medial) 4. . korteks frontal. yaitu sitem limbik.  Faktor Biologi • Kelainan struktur otak (Pelebaran struktur ventrikel tiga dan lateral. Model Diatesis-stres • Model ini mengatakan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) ada kemungkinan lingkungan akan menimbulkan stres. 3. Faktor Neurobiologi • Terdapat beberapa area tertentu dalam otak yang berperan dalam membuat seseorang menjadi patologis. Faktor Psikososial  • Teori Tentang Individu Pasien .1.3 Etiologi 1. 2.2. cerebellum dan ganglia basalis. Teori Tentang Keluarga .dan Teori Sosial  .

kewaspadaan dan eksekutif (atensi. fungsi sosial.  Pada fase prodromal  biasanya timbul gejala non spesifik yang lamanya bisa Pada fase aktif  minggu. hubungan sosial). menjadi jelas. waham. konsentrasi. Gejala inkoherensi.2.  fase residual  dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. penderita skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan.4 Gambaran Klinis Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal. tersebut meliputi : halusinasi disertai hendaya fungsi gangguan afek. . fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri. bulan gejala positif / ataupun lebih dari psikotik menjadi satu tahun sebelum jelas seperti tingkah onset psikotik laku katatonik. mengurutkan peristiwa. Disamping gejala ketiga fase diatas.1. pekerjaan. fase aktif dan fase residual.

sudah timbul ide lain. yaitu primer dan sekunder. Perasaan halus sudah hilang. langkah. Karena itu sering kita tidak dapat merasakan perasaan penderita. Gejala-gejala primer : 1. Gangguan kemauan • Banyak penderita dengan skizofrenia mempunyai kelemahan kemauan. Gangguan afek dan emosi • Kedangkalan afek dan emosi (“emotional blunting”). 3. Gangguan proses pikiran (bentuk. Kadang-kadang satu ide belum selesai diutarakan. misalnya penderita menjadi acuh tak acuh terhadap hal-hal penting untuk dirinya sendiri seperti keadaan keluarganya dan masa depannya. Mereka tidak dapat mengambil keputusan. isi pikiran). Yang terganggu terutama ialah asosiasi. • Pada skizofrenia inti gangguan memang terdapat pada proses pikiran. 2.Gejala-gejala skizofrenia dapat dibagi menjadi dua kelompok menurut Bleuler. • Yang penting juga pada skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk melakukan hubungan emosi yang baik (“emotional rapport”).. tidak dapat bertindak dalam suatu keadaan .

waham sindiran. waham dosa. halusinasi cita rasa (gustatorik) atau halusinasi singgungan (taktil). 2. Kadang-kadang terdapat halusinasi penciuman (olfaktorik). Halusinasi • Paling sering pada keadaan skizofrenia ialah halusinasi (oditif atau akustik) dalam bentuk suara manusia. 3 Gejala psikomotor • Juga dinamakan gejala-gejala katatonik atau gangguan perbuatan.Gejala-gejala sekunder : 1. bunyi barang-barang atau siulan. • Waham sekunder biasanya logis kedengarannya dapat diikuti dan merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lain. Waham • Waham primer timbul secara tidak logis sama sekali. tanpa penyebab apa-apa dari luar. dan sebagainya. waham nihilistik. . waham kejaran. Waham dinamakan menurut isinya : waham kebesaran atau ekspansif. Menurur MayerGross hal ini hampir patognomonis buat skizofrenia. Kelompok gejala ini oleh Bleuler dimasukkan dalam kelompok gejala skizofrenia yang sekunder sebab didapati juga pada penyakit lain.

lebih suka menghabiskan waktu sendirian dan merasa terisolasi. perlu usaha keras untuk melakukannya. yaitu mendengar. yaitu kecurigaan yang berlebihan. • Tidak dapat berkosentrasi.Gejala skizofrenia : Gejala positif • Delusi/waham. melihat. menonton televisi dari awal hingga selesai. sulit mengingat/ mempelajari sesuatu yang baru. Penderita akan kehilangan ketertarikan untuk berteman. • Menarik diri dari masyarakat (social withdrawal). • Miskin perbendaharaan kata dan proses berpikir yang lambat. sehingga sulit membaca. Misalnya saat mengatakan sesuatu dan lupa apa yang telah diucapkan. . Gejala kognitif • Mengalami problema dengan perhatian dan ingatan. yaitu keyakinan yang tidak masuk akal • Halusinasi. • Pikiran paranoid. mencium sesuatu yang sebenarnya tidak ada. merasakan. Gejala negatif • Motivasi rendah (low motivation). Penderita akan kehilangan ketertarikan pada semua aspek kehidupan.

• Kekhawatiran Gejala agresif • Mencelakakan diri sendiri/orang lain • Kesulitan untuk mengontrol keinginan .Gejala affektif • Anxietas • Irritable/mudah tersinggung .

Salah satu dari: 2. Wahamwaham menetap jenis lainnya. yang menurut budaya setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil .2.20): 1.5 Kriteria Diagnosis KRITERIA DIAGNOSTIK MENURUT PPDGJ III (F. Halusinasi auditorik 4. Salah satu dari: • “thought echo” • “thought insertion or withdrawal” • “thought broadcasting” • “delusion of control” • “delusion of influence” • “delusion of passivity” • “delusional perception” 3.1.

seperti sikap sangat apatis. dan respon emosional yang menumpul atau tidak wajar . bicara yang jarang.Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :  5. seperti gaduhgelisah 8. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja 6. Gejalagejala “negatif”. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan 7. Perilaku katatonik.

diagnosis tambahan skizofrenia dibuat bila waham dan halusinasi menonjol. alogia.Menurut Diagnostic and statistical manual of Mental Disorders Fourth Text Revised (DSM-IV-TR) : Terdapat 2 atau lebih gejala dibawah ini selama 1 bulan atau kurang dari sebulan jika pengobatan berhasil • Waham • Halusinasi • Bicara disorganisasi • Perilaku disorganisasi/katatonik yang jelas • Symptom negative (afek datar. . avolition) • Catatan = dapat hanya 1 gejala bila dijumpai waham bizarre/halusinasi dengar Disfungsi social/pekerjaan Durasi gangguan terus menerus selama 6 bulan Disingkirkan gangguan penggunaan zat atau kondisi medis umum Jika terdapat gangguan perkembangan parsive.

20) F 20. 5 Skizofrenia Residual F 20. 9 Skizofrenia YTT .4 Depresi Pasca Skizofrenia F 20.2 Skizofrenia Katatonik F 20.6 Klasifikasi MENURUT PPDGJ III (F. 8 Skizofrenia Lainnya F 20.3 Skizofrenia Tak Terinci F 20.1 Skizofrenia Hebefrenik F 20.6 Skizofrenia Simpleks F 20.1.2.0 Skizofrenia Paranoid F 20.

Trilafon (perphenazine) • 4. Stelazine ( trifluoperazine) • 2. Clozaril • Para ahli merekomendaskan penggunaan Clozaril bila paling sedikit 2 dari obat antipsikotik yang lebih aman tidak berhasil. Terapi Somatik (Medikamentos a) a. Thorazine ( chlorpromazine) • 3. Haldol (haloperidol) • 5. Prolixin (fluphenazine) • Risperdal (risperidone) • Seroquel (quetiapine) • Zyprexa (olanzopine) c.7 Penatalaksanaan 1. Mellaril (thioridazine) • 6. Navane (thiothixene) • 7. Antipsikotik Konvensional b. Newer Atypcal Antipsycotic • 1.2.1. .

1. 2 mg.Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran No Nama Generik Sediaan Dosis 1 Klorpromazin Tablet 25 dan 100 mg 150-600 mg/hari Injeksi 25 mg/ml 2 Haloperidol Tablet 0.5 mg. 5 mg 10-15 mg/hari 5 Flufenazin Dekanoat Injeksi 25 mg/ml 25 mg/2-4 minggu 6 Levomeprazin Tablet 25 mg 25-50 mg/hari Injeksi 25 mg/ml 7 Trifluperazin Tablet 1 mg.5 mg. 4. 5 mg 10-15 mg/hari 8 Tioridazin Tablet 50 mg. 8 mg 12-24 mg/hari 4 Flufenazin Tablet 2.5 mg. 5mg 5-15 mg/hari Injeksi 5mg/ml 3 Perfenazin Tablet 2. 3 mg 2-6 mg/hari . 100 mg 150-600 mg/hari 9 Sulpirid Tablet 200 mg 300-600 mg/hari Injeksi 50mg/ml 10 Pimozid Tablet 1 mg. 4 mg 1-4 mg/hari 11 Risperidon Tablet 1 mg.

Terapi berorintasi-keluarga c. Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh serta keluarga pasien tentang skizofrenia. Rehabilitasi dan penyesuaian yang dilakukan pada perawatan rumah sakit harus direncanakan. Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization) • ----Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Terapi kelompok d. Psikoterapi individual 3. Terapi perilaku b.2. . Terapi Psikososial • • • • a.

Sekitar 25% tidak akan pernah pulih dan perjalanan penyakitnya cenderung memburuk. . Sekitar 25% pasien dapat kembali pulih dari episode awal dan fungsinya dapat kembali pada tingkat prodromal (sebelum munculnya gangguan tersebut). Sekitar 50% berada diantaranya.2.8 Prognosis Prognosis untuk skizofrenia pada umumnya kurang begitu menggembirakan. ditandai dengan kekambuhan periodik dan ketidakmampuan berfungsi dengan efektif kecuali untuk waktu yang singkat.1.

GANGGUAN WAHAM .

.2. • Gangguan waham adalah terjadinya waham atau sistem waham yang biasanya menetap. dan tidak memiliki dasar organik yang dapat diidentifikasi.1 Definisi • Waham adalah keyakinan palsu berdasarkan pada kesimpulan yang salah tentang kenyataan eksternal yang tegas dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain. kadang-kadang seumur hidup.2.

dengan risiko seumur hidup 0.2. . sekitar 0.2 Epidemiologi Prevalensi gangguan waham jauh lebih rendah daripada skizofrenia.05 dan 1%.2. Secara keseluruhan. Usia rerata awitan antara 40 dan 55 tahun.03 %. gangguan waham sedikit lebih sering daripada perempuan.

dan penyangkalan.3 Etiologi Faktor Biologis • Berbagai kondisi medis non psikiatrik dan zat merupakan faktor biologis yang dapat menyebabkan waham. .2. proyeksi. Adapun keadaan neurologis yang paling sering berhubungan dengan waham adalah keadaan yang mempengaruhi sistem limbik dan ganglia basalis.2. Teori Psikodinamika • Teori psikodinamika spesifik tentang penyebab dan evolusi gejala waham adalah tanggapan tentang orang yang hipersensitif dan mekanisme ego spesifik berupareaksi formasi.

• Waham timbul sebagai akibat dari defek kognitif fundamental yang mengakibatkan kapasitas pasien untuk membuat kesimpulan dari bukti-bukti (gangguan hubungan sebab akibat). • Waham yang timbul dari proses kognitif yang normal menunjukkan adanya pengalaman persepsi abnormal (mekanisme psikobiologik. hipotesis pengalaman yang menyimpang). .2.4 Patogenesis Ada 3 kategori dari Teori Pembentukan Waham : • Waham yang timbul pada sistem kognitif muncul karena adanya pola yang berbeda dari motivasi yang ada (mekanisme psikodinamika dan teori fungsi sosial).2.

dan Afek • Mood pasien sejalan dengan isi waham.5 Gambaran Klinis Gambaran Umum • Pasien biasanya berdandan dengan baik dan berpakaian rapi. seorang pasien dengan waham kejar adalah pencuriga.2. pasien dengan gangguan waham tidak memiliki halusinasi yang menonjol atau berkelanjutan Pikiran • Gangguan isi pikiran terutama dalam bentuk waham merupakan gejala utama dari gangguan. Waham biasanya sistematis dan karakteristiknya adalah sesuatu yang mungkin. Seorang pasien dengan waham kebesaran adalah euforik. tanpa buktibukti adanya disintegrasi nyata pada kepribadian atau aktifitas harian. Gangguan Persepsi • Menurut definisi. Perasaan. .2. Mood.

• Daya Ingat • Daya ingat dan proses kognitif lainny autuh pada pasien dengan gangguan waham. atau waktu. kecuali jika hal tersebut membahayakan sistem wahamnya. atau kekerasan lainnya. Kejujuran • Pasien dengan gangguan waham. pembunuhan. Pengendalian Impuls • Pasien dengan gangguan waham. . Pertimbangan dan Tilikan • Pasien dengan gangguan waham hampir seluruhnya tidak memiliki tilikan terhadap kondisi mereka dan hampir selalu dibawa ke rumah sakit oleh orang lain.Sensoris dan Kognitif • Orientasi • Pasien dengan gangguan waham biasanya tidak memiliki kelainan pada orientasi. biasanya dapat dipercaya informasinya. maka dokter harus mengevaluasi atas ide atau rencana tindakan terhadap waham mereka yang berkaitan dengan bunuh diri. kecuali mereka memiliki waham spesifik tentang seseorang. tempat.

seperti dikuntit.6 Diagnosis Kriteria Diagnosis Gangguan Waham berdasarkan DSM-IV-TR: • Waham non-bizar (yaitu. dibohongi oleh pasangannya atau orang yang dicintai) sedikitnya selama sebulan • Tidak pernah cocok dengan kriteria A untuk skizofrenia. Catatan: halusinasi auditorik atau visual tidak menonjol bila ada . berpenyakit. ditulari penyakit. diracuni.2. menyangkut situasi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.2. dicintai dari jauh.

seluruh masa episoda sindrom afektif itu biasanya relatif singkat dibandingkan dengan masa seluruhnya dari gangguan waham itu.  Bila sindrom depresi dan manik yang hebat sudah ada ketika gangguan waham itu ada. Selain waham atau reaksi ikutannya.  Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya. perilaku tidak terlalu aneh atau bizar. penyalahgunaan obat. obat) atau kondisi medis umum. .

penumpulan afek. siar pikiran. Ganguan Waham Menetap • Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinis atau gejala yang paling mencolok. • Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadangkadang saja ada dan bersifat sementara. dsb.-) mungkin terjadi secara intermiten.) .Waham-waham tersebut (baik tunggal maupun sebagai suatu sistem waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya. • Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham dikendalikan. • Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak.Kriteria Diagnostik berdasarkan PPDGJ – III F22. dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat. dengan syarat bahwa waham-waham tersebut menetap pada saat-saat tidak terdapat gangguan afektif itu. • Gejala-gejala depresif atau bahkan suatu episode depresi yang lengkap / “full-blown” (F32.

F24. waham diinduksi pada anggota pasif. dan biasanya waham tersebut menghilang bila mereka dipisahkan) • Jika ada alasan untuk percaya bahwa dua orang tinggal bersama mempunyai gangguan psikotik yang terpisah maka tidak satupun diantaranya boleh dimasukkan dalam kode diagnosis ini. walaupun beberapa diantara waham-waham itu diyakini bersama. dan saling mendukung dalam keyakinan waham itu. • Mereka mempunyai hubungan dekat yang tak lazim dalam bentuk seperti diuraikan diatas. Gangguan Waham Induksi • Diagnosis gangguan waham karena induksi harus dibuat hanya jika : • Dua orang atau lebih mengalami waham atau sistem waham yang sama. • Ada bukti dalam kaitan waktu atau konteks lainnya bahwa waham tersebut diinduksi pada anggota pasif dari suatu pasangan atau kelompok melalui kontak dengan anggota yang aktif (hanya satu orang anggota aktif yang menderita gangguan psikotik yang sesungguhnya. .

tetapi ada sejumlah alasan tertentu dimana diperlukan perawatan di rumah sakit. • jika perilaku pasien dengan waham telah mempengaruhi fungsi kehidupannya. namun tidak diketahui langsung oleh pasien.2.7 Terapi Perawatan di Rumah Sakit • Pada umumnya pasien dengan gangguan waham dapat diobati dengan rawat jalan. • pasien tidak mampu mengendalikan impulsnya.2. Psikoterapi • Elemen terpenting dari suatu psikoterapi adalah menjalin hubungan yang baik antara pasien Perawatan di Keluarga • Jika anggota keluarga hadir. . Dapat digunakan anti depresan atau anti konvulsan. pasien yang teragitasi parah harus diberikan suatu obat antipsikotik secara intramuskular dalam dosis rendah dan ditingkatkan secara perlahan-lahan. obat harus dihentikan. sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan kekerasan. • Jika pasien tidak merespon terhadap pengobatan antipsikotik. klinisi dapat memutuskan untuk melibatkan mereka di dalam rencana pengobatan. Farmakoterapi • Dalam keadaan gawat darurat. yaitu: • diperlukan pemeriksaan medis dan neurologis yang lengkap yang dapat menunjukkan kondisi medis nonpsikiatri.

2. Kira-kira 50% pasien pulih dalam follow-up jangka panjang. 20% mengalami penurunan gejala dan 30% lain tidak mengalami perubahan dalam gejalanya.2. kurang dari 10% pasien gangguan waham menjadi gangguan afektif.9 Prognosis Gangguan waham diperkirakan merupakan diagnosis yang cukup stabil. Kurang dari 25% dari semua pasien dengan gangguan waham menjadi skizofrenia. .

SKIZOAFEKTIF .

Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas dan pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol. .3.1 Definisi Gangguan Skizoafektif mempunyai gambaran baik skizofrenia maupun gangguan afektif.2.

8%. mungkin berkisar antara 0. Prevalensi gangguan tersebut dilaporkan lebih rendah pada lakilaki dibanding perempuan. .2 Epidemiologi Prevalensi seumur hidup gangguan skizoafektif kurang dari 1%.2.3..5% – 0.

3 Etiologi Penyebab gangguan skizoafektif tidak diketahui.2.3. beberapa data menunjukkan bahwa kedua gangguan tersebut terkait secara genetis. Gangguan dapat berupa tipe skizofrenia atau tipe gangguan mood. .

3. Dan pada gangguan skizoafektif tipe depresif.2. gejala depresif yang menonjol. gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. Bila gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama.4 Gejala Klinis gangguan episodik gejala gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit yang sama. .

pada suatu waktu.3.2. episode manik. Gejala yang memenuhi criteria episode mood timbul dalam jumlah yang bermakna pada durasi total periode aktif dan residual penyakit Gangguan tidak disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat atau keadaan kesehatan umum. atau episode campuran yang terjadi bersamaan dengan gejala yang memenuhi kriteria A skizofrenia. episode depresif mayor. Selama periode penyakit yang sama. terdapat waham atau halusinasi selama sekurangkurangnya 2 minggu tanpa gejala mood yang menonjol.5 Diagnosis Kriteria diagnostik gangguan skizoafektif berdasarkan DSM-IVTR • • • • Periode penyakit tidak terputus berupa. .

baik depresif maupun kelainan poerilaku terkait. atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain.Diagnosis menurut (PPDGJ-III): Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala defenitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif yang menonjol pada saat bersamaan. . Gangguan skizoafektif tipe depresif didiagnosis apabila afek depresif menonjol. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik dua gejala skizofrenia yang khas. Gangguan skizoafektif tipe manik didiagnosis apabila gejala afek meningkat secara menonjol atau ada peningkatan afek yang tidak begitu menonjol dikombinasi dengan iritabilitas atau kegelisahan yang memuncak. Dalam episode yang sama harus jelas ada sedikitnya satu atau lebih baik dua gejala skizofrenia yang khas. dalam satu episode penyakit yang sama. disertai noleh sedikitnya dua gejala khas.

.2.3.7 Perjalanan Gangguan Dan Prognosis Sebagai suatu kelompok. pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan prognosis pasien dengan gangguan mood.

. • Sedangkan pasien dengan gannguan skizoafektif tipe depresif dapat diberikan antidepresan. Pemberian obat antipsikotik diberikan jika perlu dan untuk pengendalian jangka pendek. Apabila pengobatan dengan antidepresan tidak efektif dapat dicoba dengan terapi elektrokonvulsif. Pemantauan laboratorium terhadap konsentrasi obat dalam plasma dan tes fungsi ginjal. valproate (Depakene). dan fungsi hematologik harus dilakukan secara berkala. dan rehabilitasi kognitif. ataupun kombinasi dari obat anti mania jika satu obat saja tidak efektif. Pengobatan Farmakoterapi • Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah dengan pemberian antipsikotik disertai dengan pemberian antimanik atau antidepresan.8 Terapi Pengobatan Psikososial • Pasien dapat terbantu dengan kombinasi terapi keluarga. namun pasien teragitasi atau insomnia dapat disembuhkan dengan antidepresan trisiklik. latihan keterampilan sosial. Inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) sering digunakan sebagai agen lini pertama.3. tiroid. • Pasien dengan gangguan skizoafektif tipe manik dapat diberikan farmakoterapi berupa lithium carbonate.2. carbamazepine (tegretol).

PSIKOTIK AKUT .

4. . atau suatu suatu gangguan psikotik karena kondisi medis umum. gangguan berhubungan dengan zat.2.1 Definisi Psikotis akut adalah sekelompok gangguan jiwa yang berlangsung kurang dari satu bulan dan tidak disertai gangguan mood.

insidensi nonaffective acute remitting psychoses 10x lebih tinggi terjadi di negara-negara berkembang daripada negara-negara industri.4.2.2 Epidemiologi Frekuensi Internasional • Bila dibandingkan dengan skizofrenia. Usia • Gangguan ini lebih sering terjadi pada pasien dengan usia antara dekade ke tiga hingga awal dekade ke empat. . risiko pasien menyakiti diri sendiri dan/atau orang lain dapat meningkat Jenis kelamin • Dua kali lebih tinggi terjadi pada wanita dibandingkan pria. Mortality/Morbidity • Sebagaimana episode psikosis lainnya.

3 Etiologi Pada pasien dengan gangguan psikotik akut yang pernah memiliki gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis ke arah perkembangan gejala psikotik Teori psikodinamika menyatakan bahwa gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap fantasi yang dilarang.4.2. . penurunan harapan yang tidak tercapai atau suatu pelepasan dari situasi psikososial tertentu.

4 Patofisiologi  Hipotesis dopamine pada gangguan psikosis serupa dengan penderita skizofrenia adalah yang paling berkembang dari berbagai hipotesis.2.4. Hipotesis ini menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya aktivitas dopaminergik. dan merupakan dasar dari banyak terapi obat yang rasional. .

4.2. tetapi tidak selalu memasukkan keseluruhan pola gejala yan gditemukan pada skizofrenia. biasanya dengan onset yang tiba-tiba. • berteriak-teria katau diam membisu.5 Gambaran klinis Gejala gangguan psikotik singkat • selalu termasuk sekurangnya satu gejala psikotik. . • atau perilaku yang aneh. pakaian. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik singkat adalah • perubahan emosional. • dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama terjadi.

PPDGJ III. tidak termasuk periode prodormal yang gejalanya sering tidak jelas) sebagai ciri khas yang menentukan seluruh kelompok.4. atau schizophrenia-like = gejala skizofrenik yang khas) • Adanya stress akut yang berkaitan • Tanpa diketahui berapa lama gangguan akan berlangsung .2. Urutan prioritas yang digunakan adalah • Onset yang akut (dalam masa 2 minggu atau kurang sama dengan jangka waktu gejala-gejala psikotik menjadi nyata dan mengganggu sedikitnya beberapa aspek kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. • Adanya sindrom yang khas (berupa polimorfik = beraneka ragam dan berubah cepat. Pedoman diagnostik Menggunakan urutan diagnosis yang mencerminkan urutan prioritas yang diberikan untuk ciri-ciri utama terpilih dari gangguan ini.6 Diagnosis.

• Tidak ada gangguan dalam kelompok ini yang memenuhi criteria episode manic atau episode depresif. Tidak merupakan intoksikasi akibat penggunaan alcohol atau obatobatan . seperti trauma kapitis. delirium atau demensia. walaupun perubahan emosional dan gejala-gejala afektif individual dapat menonjol dari waktu ke waktu • Tidak ada penyebab organik.

• Walaupun gejala-gejalanya beraneka ragam. • Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk lebih dari 1 bulan maka diagnosis harus diubah menjadi skizofrenia. • Disertai gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia yang harus sudah ada untuk sebagian besar waktu sejak munculnya gambaran klinis psikotik itu secara jelas. tidak satupun dari gejala itu ada secara cukup konsisten dapat memenuhi kriteria skizofrenia atau episode manik atau episode depresif. • Harus ada keadaan emosional yang sama beranekaragamnya. dan (c) yang khas untuk gangguan psikotik polimorfik akut.1 Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizofrenia • Memenuhi kriteria (a). (b).0 Gangguan psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia • Onset harus akut (dari suatu keadaan nonpsikotik sampai keadaan psikotik yang jelas dalam kurun waktu 2 minggu atau kurang). .Bentuk-bentuk psikosis akut (PPDGJ III) F 23. • Harus ada beberapa jenis halusinasi atau waham yang berubah dalam jenis dan intensitasnya dari hari ke hari atau dalam hari yang sama. F 23.

• Memenuhi kriteria skizofrenia. • Tidak memenuhi kriteria psikosis polimorfik akut.F 23.3 Gangguan psikotik akut lainnya dengan predominan waham • Onset gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang. dari nonpsikosis psikosis). • Baik kriteria skizofrenia maupun gangguan psikotik polimorfik akut tidak terpenuhi. dari nonpsikosis psikosis). F 23.9 Gangguan psikotik akut dan sementara YTT .2 Gangguan psikotik lir-skizofrenia (schizophrenia-like akut) • Onset gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang. F 23. • Waham dan halusinasi. tetapi lamanya kurang dari 1 bulan.8 Gangguan psikotik akut dan sementara lainnya • Gangguan psikotik akut lain yang tidak dapat diklasifikasikan ke dalam kategori manapun. F 23.

sendirian atau bersama-sama. suatu medikasi) atau kondisi medis umum. Gangguan yang muncul bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan. akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut. • Dengan onset pascapersalinan: jika onset dalam waktu 4 minggu setelah persalianan. • Tanpa stressor nyata: jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah atau tampaknya bukan sebagai respons terhadap kejadian yang.DSM IV (Kriteria diagnostik untuk gangguan psikotik akut) Adanya satu (atau lebih) gejala berikut: • Waham • Halusinasi • Bicara disorganisasi ( menyimpang atau inkoheren) • Perilaku terdisorganisasi jelas atau katatonik Lama suatu episode gangguan adalah sekurangnya satu hari sampai kurang dari satu bulan. Sebutkan jika: • Dengan stressor nyata (psikosis reaktif singkat): jika gejala terjadi segera setelah dan tampak sebagai respons dari suatu kejadian yang semdirian atau bersama-sama akan menimbulkan stress yang cukup besar bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur orang tersebut. .

Klinisi lain berpendapat bahwa stressor mungkin merupakan urutan peristiwa yang menimbulkan stress sedang.4. . • Contoh peristiwa adalah kematian anggota keluarga dekat dan kecelakaan kendaraan yang berat.7 Jenis Stresor Stressor pencetus yang paling jelas adalah peristiwa kehidupan yang besar yang dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang. bukannya peristiwa tunggal yang menimbulkan stress dengan jelas.2.

dan perkembangan strategi untuk mengatasinya adalah topik utama bagi terapi tersebut.9 Penatalaksanaan Perawatan di rumah sakit Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan untuk pemeriksaan dan perlindungan pasien.2. Psiokoterapi Diskusi tentang stressor. . Farmakoterapi Dua kelas utama yang harus dipertimbangkan dalam pengobatan gangguan psikotik akut adalah obat antipsikotik antagonis reseptor dopamine dan benzodiazepine.4. episode psikotik.

4.2. Bunuh diri adalah suatu keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif pascapsikotik. .10 Prognosis Pada umumnya pasien dengan gangguan psikotik singkat memiliki prognosis yang baik dan penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari semua pasien tidak memiliki masalah psikiatrik berat lebih lanjut.

The Medical Basis of Psychiatry 3rd Ed. HI dan Sadock. dkk. USA: Humana Press Ingram. BJ. Cornelius Dn Robertson Mary. . PJ. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Psychiatry at a Glance. Edisi 2. Jakarta: Widyaa Medika Katona. Jakarta : Binapura Aksara Publisher Kaplan. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. Clayton PJ. 1993. Buku Ajar Psikiatri. Treasaden. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jakarta: EGC Kaplan.. Puri. Jakarta: Penerbit Kedokteran EGC. 2010. 2005. Jakarta. Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.. Laking. BK. 2000. 2008. Jilid satu. 2010. 3th edition. IH. Saddock. 2003.DAFTAR PUSTAKA Fattemi SH. London: Blackwall Publishing Maslim R. Catatan Klinik Psikiatri.