Anda di halaman 1dari 9

1.1

Tujuan Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan flavonoida dalam tanaman.

1.2 Dasar Teori

a. Flavonoida Secara Umum Senyawa-senyawa flavonoida adalah senyawa senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon, terdiri dari dua cincin benzene yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai linier yang terdiri dari tiga atom karbon. Semyawa-semyawa flavonoida adalah 1,3 diaril propane, senyawa isoflavonoid adalah senyawa 1,2 diaril propane, sedangkan senyawa-senyawa neoflavonoida adalah 1,1 diaril propane. Istilah flavonoida diberikan pada suatu golongan besar senyawa berasal dari kelompok senyawa yang paling umum, yaitu senyawa flavon; suatu jembatan oksigen terdapat antara cincin A dalam kedudukan orto, dan atom karbon benzyl yang terletak disebelah cincin B. Senyawaheterosiklik ini, pada tingkat oksidasi yang ebrbeda terdapat dalam kebanyakan tumbuhan. Flavon adalah bentuk yang mempunyai cincin C dengan tingkat oksidasi paling rendah dan dianggap sebagai struktur induk dalam nomenklatur kelompok senyawa-senyawa ini. (Manitto, 1981)

Senyawa flavonoida sebenarnya terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga, buah, dan biji. Kebanyakan flavonoida ini berada di dalam tumbuh-tumbuhan, kecuali alga. Namun, ada juga flavonoida yang terdapat dalam hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang dan sekresi lebah. Dalam sayap kupu-kupu dengan anggapan bahwa flavonoida berasal dari tumbuh- tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut dan tidak dibiosintesis didalam tubuh mereka. Penyebaran jenis flavonoida pada golongan tumbuhan yang tersebar yaitu angiospermae, klorofita, fungi, briofita. (Markham, 1988)

tumbuhan yang tersebar yaitu angiospermae, klorofita, fungi, briofita. (Markham, 1988) Kerangka dasar senyawa flavonoida

Kerangka dasar senyawa flavonoida

b.

Flavonoida pada Tanaman Psidium guajava

Klasifikasi

Kingdom

: Plantae

Suku Kingdom

: Tracheobionata

Super Divisi

: Spermatophyta

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Sub Kelas

: Rosidae

Ordo

: Myrtales

Family

: Myrtaceae

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajaava

Menurut Taiz dan Zieger (2002) metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan merupakan bagian dari system pertahanan diri. Senyawa tersebut berperan sebagai pelindung dari serangan infeksi mikroba pathogen dan mencegah pemakan oleh herbivore. Metabolit sekunder dibedakan mennjadi tigamkelompok besar yaitu terpen, fenolik, dan senyawa mengandung nitrogen terutama alkaloid. Tanin pada daun jambu biji dapat ditemukan pada bagian buah, daun dan kulit batang, sedangkan pada bunganya tidak banyak mengandung tannin, juga mengandung zat lain seperti asam ursolat, asam lat, asam guajaverin, minyak atsiri dan vitamin (Thomas, 1989). Daun-daun jambu biji memiliki kandungan zat-zat penyamak (psiditanin) sekitar 9%, minyak atsiri berwarna kehijauan yang mengandung eganol sekitar 4%, dammar 3%, minyak lemak 6%, dan garam-garam mineral. (Kartasapoetra, 2004) Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat adalah daunnya, karena daunnya diketahui banyak mengandung tannin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak dan asam malat (Depkes, 1989). Daun jambu bbijji mempunyai khasiat sebagai antidiare, astringen, sariawan dan menghentikan pendarahan. Sedangkan senyawa kimia yang terkandung didalam buah jambu adalah benxaldehid, D-ribosa,

Larabinosa, D-ramnosa, D-glukosa, D-galktosa, D-fruktosa dan sakrosa quersetin adalah senyawa golongan flavonoida jenis flavonol dan flavon, senyawa ini banyak terdapat pada tanaman family myrtaceae dan solanacea. Telah dikenal sejumlah glikosida flavonol yaitu turunan quersetin, diantaranya dalah quersetin -3-L- rhamonoside atau quersetin yang digunakan untuk pewarna tekstil, quersetin-3- rutinoside yang biasa disebut rutin dan quersetin 3 glukoside atau isoquersitrin yang berkhasiat diantaranya umtuk mengobati kerapuhan pembuluh kapiler pada manusia. Senyawa rutin terdapat dalam tanaman tembakau dari familik Solanaceae dan Eucalyptus macrorynh dan family Myrtaceae. (Harborne, 1987)

c. Kromatografi Lapis Tipis Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponennya seluruh bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip ini. Semua kromatografi mempunyai fase diam berupa padatan, atau kombinasi dan fase gerak beruapa cairan gas. Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponennya yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. (Harbone, 1987) Pelaksanaan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silica atau alumina ynag seragam pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plantik yang keras. Gel silica atau alumina merupakan fase diam untuk kromatografi lapis tipis. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. (Harbone, 1987)

1.3 Prosedur Kerja

a. Preparasi sampel

1. 0,3 gram ekstrak dikocok dengan 3 ml n-heksan berkali-kali dalam tabung reaksi

sampai ekstrak n-heksan tidak berwarna.

2. Residu dilarutkan dalam 20 ml etanol dan dibagi menjadi 4 bagian, masing-masing disebut sebgai larutan IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID.

b. Reaksi Warna

Larutan IIIA sebagai blanko, larutan IIIB ditambah 0,5 ml HCL pekat dan diamati perubahan warna yang terjadi, kemudian dipanaskan diatas penangas air dan diamati lagi perubahan warna yang terjadi.

Bila perlahan-lahan menjadi warna merah terang atau ungu menunjukkan adanya senyawa leukoantosianin (dibandingkan dengan blanko)

2. Uji Wilstater

Larutan IIAA sebagai Blanko, lat=rutan IIC ditambah 0,5 ml HCL pekat dan $ potong magnesium.

Diamati perubahan warna tang terjadi, diencerkan dengan 2 ml air sulingf, keudian ditambah 1 ml butanol.

Diamati warna yang terjadi disetiap lapisan. Perubahan warna jingga menunjukkan adanya flavon, merah pucat menunjukkan adanya flavonol, merah tua menunjukkan adanya flavonon.

c. Kromatografi Lapis Tipis

1.

Larutan IIID ditotolkan pada fase diam.

2.

Uji kromatografi lapis tipis ini menggunakan :

Fase diam : lapisan tipis selulosa (diganti KIesel Gel 254) Fase gerak : kloroform:aseton:asam formiat (6:6:1) Penampak noda : - Pereaksi sitrat borat atau

- Uap ammonia atau

- Asam sulfat 10%

3.

Adanya flavonoid ditunjukkan dengan timbulnya noda berwarna kuning intensif.

4.

Noda kuning yang ditimbulkan oleh uap amonianya akan hilang secara perlahan

ketika amonianya menguap meninggalkan noda.

5.

Sedangkan noda kuning yang ditimbulkan oleh pereaksi sitrat-borat sifatnya permanen.

1.4 Hasil

a. Reaksi warna

1. Uji Bate-Smoith dan Metcalf

Pada larutan IIIB ditambah 0,5ml HCL pekat kemudian dipanaskan

diatas penangas air akan terjadi perubahan warna menjadi merah terang

menunjukkan adanya senyawa leuko antosianin.

2. Uji Wilstater

Larutan IIIC ditambah 0,5 ml HCL pekat + 4 potong magnesium, terjadi

perubahan warna jingga menunjukkan adanya senyawa flavon.

b. Perhitungan nilai Rf

Noda n-heksan :

Noda etanol :

b. Perhitungan nilai Rf Noda n-heksan : Noda etanol : Ekstrak + n-heksan berkali- kali dlm

Ekstrak + n-heksan berkali- kali dlm tabung rx, dikocok ad n-heksan jernih

berkali- kali dlm tabung rx, dikocok ad n-heksan jernih Residu dilarutkan dg 20ml etanol, kemudian dibagi

Residu dilarutkan dg 20ml etanol, kemudian dibagi menjadi 4 dlm tabung rx IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID

Larutan IIIA : blanko, Larutan III B : uji bate- smith menghasilkan warna merah terang

Larutan IIIA : blanko, Larutan III B : uji bate- smith menghasilkan warna merah terang adanya leukoantosianin

smith menghasilkan warna merah terang adanya leukoantosianin Larutan jernih n- heksan & Larutan IIID ditotolkan pd

Larutan jernih n- heksan & Larutan IIID ditotolkan pd plat lihat dibawah

heksan & Larutan IIID ditotolkan pd plat lihat dibawah Larutan III C : Uji wilstater menghasilkan
heksan & Larutan IIID ditotolkan pd plat lihat dibawah Larutan III C : Uji wilstater menghasilkan

Larutan III C : Uji wilstater menghasilkan warna jingga adanya flavon

C : Uji wilstater menghasilkan warna jingga adanya flavon Larutan IIID ditotolkan pada fase diam saat

Larutan IIID ditotolkan pada fase diam saat KLT

flavon Larutan IIID ditotolkan pada fase diam saat KLT Setelah dimasukkan pada chamber, lalu dicek pergerakan
flavon Larutan IIID ditotolkan pada fase diam saat KLT Setelah dimasukkan pada chamber, lalu dicek pergerakan

Setelah dimasukkan pada chamber, lalu dicek pergerakan noda dibawah sinar uv

pada chamber, lalu dicek pergerakan noda dibawah sinar uv Dilihat penampak noda dg uap amonia, kemudian

Dilihat penampak noda dg uap amonia, kemudian hitung Rf

1.5 Pembahasan Praktikum kali ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya senyawa Psidium guajava atau disebut jambu biji dalam bahasa Indonesia. Terdapat 2 jenis pengujian untuk mengidentifikasi senyawa-senyawa yang ada dalam ekstrak jambu biji.

Sebelum dilakukan pengujian, dilakukan ekstraksi daun jambu biji menggunakan 2 pelarut yaitu n-heksan dan etanol. Ekstrak dicuci dengan n-heksan berkali-kali sampai filtrate tidak berwarna hijau, proses ekstraksi menggunakan n-heksan bertujuan untuk menarik senyawa non polar yang ada pada ekstrak jambu biji. Kemudian residu hasil dari ekstraksi pertama dilarutkan dalam etanol, pelarutan kedua ini bertujuan untuk menarik senyawa polar dan semipolar. Larutan kemudia dibagi menjadi 4 bagian, dari persiapan sampel ini diperoleh larutan IIIA, IIIB, IIIC, dan IIID.

Pada uji flavonoid yang pertama adalah pengujian warna, yang pertama uji Bate-Smith dan Metcalf. Pada uji Bate-Smith dan Metcalf larutan ditambah dengan 0,5 ml HCL pekat untuk menghidrolisi dan memutuskan ikatan glikosida. Hidrolisis ini untuk menghidrolisis dan memutuskan ikatan antosianin, yaitu antosianidin, tetapi tidak ada perubahan warna yang terjadi, kemudian larutan dipanaskan diatas penangas air utnuk mempercepat terjadinya hidrolisis. Pada kelompok kami menunjukkan hasil positif, ditandai dengan adanya cincin warna merah terang atau ungu pada sebagian larutan, hal ini menunjukan adanya antosianin.

Uji warna yang kedua yaitu uji wilstater. Larutan IIIC ditambah dengan 0,5 ml HCL pekat dan $ potong magnesium. Penambahan ini untuk reaksi reduksi menjadi suatu flavonol, flavanon dan xanton. Penambahan asam akan menyebabkan perubahan warna ketika reduksi berlangsung. Kemudian larutan tersebut diencerkan dengan air suling dan ditambah dengan butanol sehingga terbentuk 2 lapisan antara larutan fase butanol yang ada pada bagian bawah.

Diamati warna yang terjadi antara kedua cairan (pada tiap lapisan). Terjadi perubahan warna jingga yang menunjukkan adanya flavon.

Uji yang terakhir adalah uji KLT, dengan fase diam kiesel gel GF 254, fase gerak kloroform:aseton:asam formiat (6:6:1) dengan penampak noda uap amonialarutan IIID ditotolkan pada lempeng, kemudian lempeng dieluasi dalam chamber, ditunggu hingga garis batas atas pada lempeng. Sebelum disemprot, lempeng diamati dibawah sinar UV (254nm) untuk melihat penampak noda kemudian disemprot dengan uap ammonia dan kemudia dipanaskan sampai terbentuk warna kuning. Noda kuning yang ditimbulkan oleh uap ammonia akan hilang secara perlahan ketika amonianya menguap meninggalkan noda. Adanya flavonod ditunjukkan dengan timbulnya noda berwarna kuning intensif, hasil KLT menunjukkan hasil yang positif.

1.6 Kesimpulan

Dari hasil praktikum yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Dengan Uji Bate-Smith dan Metcalf pada ekstrak psidium guajava positif mengandung leukoantosianin dengan adanya warna merah terang pada larutan.

2. Dengan Uji Wilstater pada ekstrak psidium guajava mengandung senyawa golongan flavon ditunjukkan dengan adanya warna jingga pada larutan.

3. Dengan kromatografi lapis tipis, ekstrak psidium guajava positif mengandung senyawa flavonoid ditunjukkan dengan timbulnya warna kuning intensif.

DAFTAR PUSTAKA

DEPKES RI, 1995.materia medika Indonesia, jilid VI

Harborne, J.B, 1973. Phytochemical Methods. BANDUNG

Kartasapoetra, G. 2004.Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta

Mannito, P. (1981). Biosintesis Produk Alami. Terjemahan Koesmardiyah. Cetakan Pertama.Penerbit IKIP.Semarang 381-382.

Markham, K.R(1988).Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Terjemahan k.Padmawinata. ITB Press. BANDUNG. 23-24, 42-43