Anda di halaman 1dari 11

REFLEKSI KASUS

GANGGUAN PENGHIDU
Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti
Ujian Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok
RSUD Tidar Magelang

Pembimbing
dr. Asti Widuri, Sp.THT

Disusun oleh
Rahmi Faridah Azzahro
20100310132

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
2015

MASALAH YANG DIKAJI Bagaimana penegakkan diagnosis pada pasien dengan gangguan penghidu? III. Gangguan penghidu disebut dengan osmia. Keluhan nyeri telan disangkal. Anosmia dapat timbul akibat trauma di daerah frontal atau oksipital. yang merupakan saraf untuk menghidu. Keluhan keluar cairan disangkal. Dirasakan kurang lebih selama tiga hari terakhir. Riwayat alergi disangkal. Riwayat telinga tersumbat enam hari yang lalu dan sudah berobat. Pasien juga mengeluh nyeri dan perih di dalam hidung. Riwayat sakit flu tiga minggu yang lalu. Keluhan demam. setelah infeksi oleh virus. Macam-macam kelainan penghidu : Agnosia : tidak bisa menyebutkan atau membedakan bau. parsial (hanya sejumlah bau).REFLEKSI KASUS I. Riwayat keluhan serupa sebelumnya dan trauma disangkal. tumor. atau spesifik (hanya satu atau sejumlah kecil bau). Gangguan pembauan dapat bersifat total (seluruh bau). proses degenerasi pada orang tua. Keluhan disertai suara sengau. batuk dan pilek disangkal. Keluhan membaik. PENGALAMAN Pasien wanita usia 35 tahun datang dengan keluhan tidak bisa mencium bau. walaupun penderita dapat mendeteksi bau. Anosmia : tidak bisa mendeteksi bau. ANALISIS MASALAH Gangguan penghidu adalah gangguan dari saraf olfaktorius. II. Hiposmia : penurunan kemampuan dalam mendeteksi bau Hiperosmia: peningkatan sensistivitas mendeteksi bau Disosmia : distorsi identifikasi bau .

Secara keseluruhan. biasanya disebabkan oleh trauma. b. 1. sebelum terjadinya infeksi saluran nafas atas karena virus. Defek konduktif a. kelainan psikologik atau kelainan psikiatri seperti depresi dan psikosis Phantosmia: persepsi bau tanpa adanya sumber bau Presbiosmia: penurunan atau kehilangan persepsi pembauan yang terjadi pada orang tua. d. Pasien pasca laringektomi atau trakeotomi dapat menderita hiposmia karena berkurang atau tidak adanya aliran udara yang melalui hidung. inverting papilloma. atau toksik (misalnya pada pemakaian kokain). kista dermoid) juga dapat menyebabkan obstruksi. Pada defek sensorineural prosesnya melibatkan struktur saraf yang lebih sentral. Pasien anak dengan . Gangguan pembauan dapat disebabkan oleh proses-proses patologis di sepanjang jalur olfaktorius. Adanya massa/tumor dapat menyumbat rongga hidung sehingga menghalangi aliran odorant ke epitel olfaktorius.Parosmia : perubahan persepsi pembauan meskipun terdapat sumber bau. dan keganasan. akut. Kelainannya meliputi rhinitis (radang hidung) dari berbagai macam tipe. Proses inflamasi/peradangan dapat mengakibatkan gangguan pembauan. Abnormalitas developmental (misalnya ensefalokel. Pada defek konduktif (transport) terjadi gangguan transmisi stimulus bau menuju neuroepitel olfaktorius. Kakosmia : timbul pada epilepsi unsinatus. termasuk rhinitis alergika. Kelainannya meliputi polip nasal (paling sering). biasanya bau tidak enak. alergis dan pembedahan secara agresif. dan trauma kepala. penyebab defisit pembauan yang utama adalah penyakit pada rongga hidung dan/atau sinus. Penyakit sinusitis kronik seringkali diikuti dengan penurunan fungsi pembauan meski telah dilakukan intervensi medis. c. Kelainan ini dianggap serupa dengan gangguan pendengaran yaitu berupa defek konduktif atau sensorineural. lobus temporalis.

f. formaldehid). dan pengolesan garam zink secara langsung.trakeotomi dan dipasang kanula pada usia yang sangat muda dan dalam jangka waktu yang lama kadang tetap menderita gangguan pembauan meski telah dilakukan dekanulasi. Jumlah serabut pada bulbus olfaktorius berkurang dengan laju 1% per tahun. Kallman syndrome ditandai oleh anosmia akibat kegagalan ontogenesis struktur olfakorius dan hipogonadisme hipogonadotropik. hipoadrenalisme. c. thiamin. zink) terbukti dapat mempengaruhi pembauan. Banyak obat-obatan dan senyawa yang dapat mengubah sensitivitas bau. e. Disfungsi pembauan juga dapat disebabkan oleh toksisitas dari obat-obatan sistemik atau inhalasi (aminoglikosida. . 2. DM) berpengaruh pada fungsi pembauan. Hal ini terjadi karena tidak adanya stimulasi sistem olfaktorius pada usia yang dini. g. nikotin. bahan terlarut organik. Trauma kepala. atau perdarahan subarakhnoid dapat menyebabkan regangan. d. Penyebab kongenital menyebabkan hilangnya struktur saraf. b. Berkurangnya struktur bulbus olfaktorius ini dapat terjadi sekunder karena berkurangnya sel-sel sensorik pada mukosa olfaktorius dan penurunan fungsi proses kognitif di susunan saraf pusat. sarkoidosis (mempengaruhi stuktur saraf). Proses infeksi/inflamasi menyebabkan defek sentral dan gangguan pada transmisi sinyal. Gangguan endokrin (hipotiroidisme. Kelainannya meliputi infeksi virus (yang merusak neuroepitel). diantaranya alkohol. operasi otak. kerusakan atau terpotongnya fila olfaktoria yang halus dan mengakibatkan anosmia. dan sklerosis multipel. Defisiensi gizi (vitamin A. Defek sentral/sensorineural a. Wegener granulomatosis.

kepala dan leher. riwayat trauma. virus ataupun bahan iritan juga bisa mengakibatkan gangguan konduktif Selain pemeriksaan hidung. Pada kasus Alzheimer disease. pemeriksaan telinga juga bisa dilakukan untuk memastikan otitis media serosa yang menandakan adanya massa atau inflamasi pada nasofaring Massa nasofaring yang menonjol ke rongga mulut atau drainase purulen di orofaring dapat ditemukan pada pemeriksaan mulut. hilangnya fungsi pembauan kadang merupakan gejala pertama dari proses penyakitnya. patologi hidung atau sinus. Berikan penekanan khusus pada riwayat ISPA. Proses degeneratif pada sistem saraf pusat (penyakit Parkinson. Konduktif Pemeriksaan ini untuk menilai ada atau tidaknya massa atau polip.h. Penegakkan Diagnosis Tahapan pertama dalam mendiagnosis adalah melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. deviasi septum atau adanya fraktur pada tulang kribriformis yang biasa dijumpai pada trauma kepala yang menghalangi aliran udara ke sel epitel olfaktori. Seringkali dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan MRI apabila riwayat penyakitnya tidak mendukung atau ditemukan gejala dan tanda neurologis sekunder. Sejalan dengan proses penuaan. a. bakteri. Lakukan CT scan jika dipandang perlu. proses penuaan normal) dapat menyebabkan hiposmia. dan obat-obatan yang diminum. hidung. Pemeriksaan tersebut berguna untuk mengidentifikasi jenis dan asal kelainan. masalah medis lainnya. i. Leher harus dipalpasi untuk mencari massa atau pembesaran tiroid . Adanya inflamasi atau iritasi mukosa hidung yang bisa disebabkan oleh allergen. dimana penurunannya nampak paling menonjol selama usia dekade ketujuh. berkurangnya fungsi pembauan lebih berat daripada fungsi pengecapan. perdarahan dan bekuan darah. Alzheimer disease. Pemeriksaan fisik harus dilakukan secara teliti dan menyeluruh yang meliputi pemeriksaan telinga.

Beberapa metode sudah tersedia untuk pemeriksaan penciuman diantaranya : a) Tes Odor stix – Tes Odor stix menggunakan sebuah pena ajaib mirip spidol yang menghasilkan bau-bauan. ia sangat dianjurkan untuk pemeriksaan pasien dengan gangguan penciuman. Pena ini dipegang dalam jarak sekitar 3-6 inci dari hidung pasien untuk memeriksa persepsi bau oleh pasien secara kasar. c) Scratch and sniff card (Kartu gesek dan cium) – Tersedia scratch and sniff card yang mengandung 3 bau untuk menguji penciuman secara kasar. b) Tes alkohol 12 inci – Satu lagi tes yang memeriksa persepsi kasar terhadap bau. (b) pisang. Skor rata-rata untuk pasien-pasien anosmia total sedikit lebih tinggi dibanding yang diperkirakan menurut peluang saja karena dimasukannya sejumlah bau-bauan yang beraksi melalui rangsangan trigeminal. dan menentukan derajat gangguan permanen. The University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT) – Tes yang jauh lebih baik dibanding yang lain adalah UPSIT. atau (d) jus buah. Tes ini sangat reliabel (reliabilitas tes-retes jangka pendek r = 0. salah satu itemnya berbunyi “Bau ini paling mirip seperti bau (a) coklat. Sensorineural Pemeriksaan sensorik fungsi penciuman dibutuhkan untuk memastikan keluhan pasien. Langkah pertama dalam pemeriksaan sensorik adalah menentukan derajat sejauh mana keberadaan sensasi kualitatif.95) dan sensitif terhadap perbedaan usia dan jenis kelamin. Tes ini menggunakan 40 item pilihan-ganda yang berisi baubauan scratch and sniff berkapsul mikro. Sebagai contoh. tes alkohol 12 inci. Orang-orang yang kehilangan seluruh fungsi penciumannya akan mencapai skor pada kisaran 7-19 dari maksimal 40.” dan pasien diharuskan menjawab salah satu dari pilihan jawaban yang ada. Tes ini merupakan penentuan kuantitatif yang akurat untuk derajat relatif defisit penciuman. . (c) bawang putih.b. menggunakan paket alkohol isopropil yang baru saja dibuka dan dipegang pada jarak sekitar 12 inci dari hidung pasien. mengevaluasi kemanjuran terapi.

Sniffin’ Sticks menggunakan sejumlah stik n-butanol yang berbentuk seperti pen dan mengandung bau dengan konsentrasi yang berbeda. kemudian pemeriksa akan meminta pasien menghidu tiga stik. Konsentrasi stik yang diberikan akan terus meningkat sehingga pasien dapat mengidentifikasi dengan benar paling kurang dua kali. fungsi endokrin. Sensitivitas untuk masing-masing lubang hidung ditentukan dengan ambang deteksi untuk fenil-teil metil etil karbinol. vanilla. coklat. tes reduksi urin dan lain. Sebenarnya pemeriksaan olfaktorius dapat juga terbagi menjadi 2 macam yaitu pemeriksaan olfaktorius subjektif dan objektif.Setelah dokter menentukan derajat sejauh mana keberadaan sensasi kualitatif. Tes ini hanya memerlukan waktu 10 menit dan mudah dilakukan. Walau tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium standar namun dapat dilakukan pemeriksaan alergi.lain. karena degenerasi neuroepitelium olfaktorius yang luas dan interkalasi epitel pernapasan pada daerah . membedakan bau-bau yang berlainan serta kemampuan mengidentifikasi bau dapat dinilai. fungsi tiroid. dan defisiensi gizi berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik. fungsi ginjal dan hepar. yaitu yang mempunyai bau yang akan menstimulasi hanya nervus olfaktorius (kopi. Ambang ini ditetapkan menggunakan rangsangan bertingkat. Namun. Setelah itu dinilai pada konsentrasi yang mana pasien bisa mendeteksi bau tersebut dengan benar. misalnya Sniffin’ Sticks. Pemeriksaan olfaktorius subjektif juga bisa dilakukan menggunakan alat test yang siap pakai. asam asetat). langkah kedua pada pemeriksaan sensorik adalah menetapkan ambang deteksi untuk bau alkohol feniletil. maka digunakan stik dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Beberapa jenis substansi digunakan. Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan adalah tes gula darah. pelbagai bahan diletakkkan di depan hidung penderita secara terpisah antara kedua lubang hidung sebelum dan setelah dekongesti dari mukosa hidung. dimana antara ketiga-tiga stik tersebut hanya satu stik yang mempunyai bau. Pada pemeriksaan olfaktorius subjektif. lavender). Tahanan hidung juga dapat diukur dengan rinomanometri anterior untuk masingmasing sisi hidung. kemampuan mendeteksi bau. Telah dikembangkan teknik-teknik untuk biopsi neuroepitelium olfaktorius. Pasien yang dites akan ditutup matanya. DM. serta substansi yang turut mempunyai komponen pengecapan (kloroform piridine). substansi yang menstimulasi komponen trigeminal (menthol. Jika pasien tidak bisa mendeteksi sebarang bau atau mengidentifikasi stik yang salah. Melalui penggunaan alat ini.

DOKUMENTASI 1. fraktur fossa kranii anterior yang tak diduga sebelumnya. Pasien juga mengeluh nyeri dan perih di dalam hidung. material biopsi harus diinterpretasikan dengan hati-hati. Keluhan nyeri telan disangkal. ventrikel. Magelang 2. sedangkan MRI bermanfaat untuk mengevaluasi bulbus olfaktorius. . CT scan atau MRI kepala dibutuhkan untuk menyingkirkan neoplasma pada fossa kranii anterior. Anamnesis a) Keluhan Utama Tidak bisa mencium bau b) Riwayat Penyakit Sekarang Pasien wanita usia 35 tahun datang dengan keluhan tidak bisa mencium bau. Kelainan tulang paling bagus dilihat melalui CT. Keluhan demam.penciuman orang dewasa tanpa disfungsi penciuman yang jelas. dan jaringan-jaringan lunak lainnya di otak. IV. dan neoplasma pada rongga hidung dan sinus paranasalis. sinusitis paranasalis. Dirasakan kurang lebih selama tiga hari terakhir. Keluhan keluar cairan disangkal. fossa kranii anterior. Magelang Tengah. CT koronal paling baik untuk memeriksa anatomi dan penyakit pada lempeng kribiformis. Identitas Pasien a) Nama : Ny. dan sinus. Keluhan disertai suara sengau. batuk dan pilek disangkal. S b) Umur : 35 tahun c) Pekerjaan : Buruh Pabrik d) Agama : Islam e) Alamat : Jalan Tentara Pelajar.

Riwayat keluhan serupa sebelumnya dan trauma disangkal.Riwayat alergi disangkal. Riwayat telinga tersumbat enam hari yang lalu dan sudah berobat.. hiperemis - Edem -. Pemeriksaan Fisik a) Pemeriksaan Umum Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Vital Sign : N : 88 x/menit S : 36. Riwayat sakit flu tiga minggu yang lalu. hiperemis - Membran timpani Perforasi Perforasi . Keluhan membaik. nyeri ketuk - Nyeri tekan -.70 C R : 20 x/menit Telinga Dextra Sinistra Auricula Normotia Normotia Planum mastoidium Nyeri tekan . nyeri ketuk - Glandula limfatika Nnll - Nnll - Canalis audiotorius extrena Edem . c) Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat asma : disangkal Riwayat jantung : disangkal Riwayat hipertensi : disangkal Riwayat DM : disangkal Riwayat TBC : disangkal Riwayat Alergi : disangkal d) Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat asma Riwayat hipertensi Riwayat DM Riwayat TBC : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal 3..

5 mg) Tenang . Hiperemis + Darah - Septum nasi Ditengah. deviasi - Tenggorokan Tonsil T1 Uvula Dinding posterior T1 Tenang pharing 4. Terapi Cefixime 2 x 1 tab Dextamin 3 x 1 tab Breathy Nasal Spray (NaCl 6. Diagnosis Gangguan penghidu dd. Rhinitis akut 5. hiperemis + Edem +.Hidung Deformitas - - Kavum nasi Lapang Lapang Konka inferior Edem +.

Iskandar N. Textbook of Medical Physiology. 2006. 1997. REFERENSI Lalwani AK. 2007. Boeis.html Soepardi EA. 2004.emedicine/disorderoftasteandsmell. Available from : www. h. McGraw Hill Inc : United States of America Leopold DA. Disorder of Taste and Smell. Hanya pemberian antibiotik dan kortikosterid untuk kemudian di evaluasi lebih lanjut jika keluha tidak berkurang. Guyton AC. KESIMPULAN Pasien wanita memiliki gangguan penghidu suspek rhinitis akut yang bisa disebabkan karena infeksi berdasarkan dari riwayat penyakit pasien. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2010. Ed ke-11. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan lanjut. Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head & Neck Surgery. 663-670. Hall JE.V. Edukasi yang diberikan adalah dianjurkan untuk tidak mencium bau yang menyengat dan menggunakan penutup hidung saat udara ekstrim.Tenggorok – Kepala leher. . Adams. Holbrook EN. Buku Ajar Penyakit THT BOIES. VI. Edisike – 6. Buku Ajar IlmuKesehatanTelinga – Hidung. FakultasKedokteranUniversitas Indonesia : Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Higler.