Anda di halaman 1dari 18

Tugas Makalah

Sejarah Pendidikan Islam


Masuknya Islam di Kalimantan Barat
Dosen Pengampu:
Nelly Mujahidah

Disusun oleh:
Hamer Hamzah
(1141210033)

Pendidikan Bahasa Arab


Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri
Pontianak

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang
Sejarah tentang masuknya islam di Kalimantan Barat tentu
masih banyak perslelisihan pendapat dari segi orang yang pertama
klai menyebarkan islam, tempat hingga waktunya. Hal ini sangat
wajar mengingat masuknya islam di nusantarapun masih banyak
teori-teori yang sama kuat antara satu dan yang lain dalam
mengungkap fakta yang sebenarnya, adapun teori-teori tersebut
adalah: 1) teori gujarat, Teori gujarat adalah teori masuknya Islam
ke Indonesia yang pertama kali dikemukakan oleh Snouck Hurgronje
dan J. Pijnapel. Dalam teori ini disebutkan bahwa Islam di Indonesia
sebetulnya berasal dari Gujarat, India dan mulai masuk sejak abad
ke 8 Masehi. Islam masuk ke Indonesia melalui wilayah-wilayah di
anak benua India, seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar. Seperti
diketahui bahwa Bangsa Indonesia pada masa itu memang telah
menjalin hubungan dagang dengan India melalui saluran IndonesiaCambay. 2) teori persia, Teori persia adalat teori masuknya Islam ke
Indonesia yang dikemukakan oleh Hoessein Djajadiningrat. Dalam
teori ini dikemukakan bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah
Islam yang berasal dari Persia (Iran). Islam diyakini dibawa oleh
para perdagang Persia mulai pada abad ke 12.

3) teori arabia,

Berdasarkan teori Arab, masuknya Islam ke Indonesia diyakini


berasal dari Arab, yaitu Mekkah dan Madinah pada abad perama
Hijriah atau abad ke 7 Masehi. Pendapat ini didasarkan pada adanya
bukti perkampungan Islam di Pantai Barus, Sumatera Barat, yang
dikenal sebagai Bandar Khalifah. Wilayah ini disebut dengan
wilayah Ta-Shih. Ta-Shih adalah sebutan orang-orang China untuk
orang Arab. Bukti ini terdapat dalam dokumen dari Cina yang ditulis
oleh Chu Fan Chi yang mengutip catatan seorang ahli geografi,
Chou Ku-Fei. Dia mengatakan adanya pelayaran dari wilayah Ta-Shih
yang berjarak 5 hari perjalanan ke Jawa.

B. Tujuan Penulisan
Menjabarkan siapa penyebar islam di Kalimantan Barat ,
kapan dan dimana islam dikenal.
Menjelaskan metode islamisasi di Kalimantan Barat

II. Pembahasan
A. Kalimantan Barat Sebelum Masuknya Islam
Kalimantan (toponim: Kalamantan/ Calmantan/ Kalmantan
Kelamantan/

Kilamantan/

Klamantan/

Klmantan/

Klemantan/

Quallamontan) adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak


di sebelah utara Pulau Jawa dan di sebelah barat Pulau Sulawesi.
Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Brunei, Indonesia (dua per
tiga) dan Malaysia (sepertiga). Pulau Kalimantan terkenal dengan
julukan Pulau Seribu Sungai karena banyaknya sungai yang
mengalir di pulau ini.
Menurut kakawin Nagarakretagama(1365), Kalimantan Barat
menjadi taklukan Majapahit, bahkan sejak zaman Singhasari yang
menamakannya Bakulapura atau Tanjungpura.Wilayah kekuasaan
Tanjungpura membentang dari Tanjung Dato sampai Tanjung
Sambar. Pulau Kalimantan kuno terbagi menjadi 3 wilayah negara
kerajaan induk: Borneo (Brunei), Sukadana (Tanjungpura) dan
Banjarmasin. Tanjung Dato adalah perbatasan wilayah mandala
Borneo (Brunei) dengan wilayah mandala Sukadana (Tanjungpura).
Di

Kalimantan

Barat

Kerajaan-kerajaan

sedikitnya

tersebut

pernah

adalah

berdiri

13

Tanjungpura,

kerajaan.
Sukadana,

Simpang, Mempawah, Sambas, Landah, Tayan, Meliau, Sanggau,


Sekadau, Sintang, Kubu, dan Pontianak. Tumbuhnya kerajaan
2

tersebut bermula dari kedatangan Prabu Jaya, anak Brawijaya dari


Pulau Jawa.
Jadi, sebelum masuknya islam di Kalimantan Barat kehidupan
social di Kalimantan barat dipegang erat oleh budaya Hindu- Budha.
Kalimantan barat diresmikan menjadi provins yang sah pada 1
Januari 1957.
B. Sejarah Masuknya Islam di Kalimantan Barat
Terdapat berbagai versi tentang sejarah masuknya islam di
Kalimantan barat. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Islam
pertama kali masuk ke Kalimantan Barat pada Abad ke-15, dan ada
juga pendapat lain yang mengatakan Islam masuk di Kalbar pada
abad ke-16. Menurut Hermansyah (2010) masuknya islam di
Kalimantan barat secara umum dapat dilihat melalui dua jalur.
Pertama, melalui pesisir barat dan selatan. Kedua , melalui jalur
timur. Lebih jelasnya akan diuraikan pada bagian dibawah:
1. Islamisasi Pesisir Barat dan Selatan
Sejauh yang dapat diketahui, informasi tentang keberadaan
orang islam yang pertama kali dating ke Kalimantan Barat pada
awal abad ke-15 oleh orang china. Diketahui bahwa pada tahun
1407 M di Sambas didirikan Muslim/Hanafi sebuah komunitas
China. Komunitas ini memiliki hubungan dengan tiongkok yang
kemudian mengalami penyusutan pada tahun 1450-1475

M.

Kemudian pada tahun 1463, Laksamana Cheng Ho 1, memimpin


ekspedisi ke Nan Nyang. Beberapa anak buahnya kemudian ada
yang

menetap

di

Kalimantan

Barat

dan

membaur

dengan

masyarakat setempat. Mereka juga membawa ajaran islam yang


mereka anut.
1

Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa
tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma
Sanbao ( )/Sam Po Bo.

Informasi yang agak jelas tentang keberadaan islam di kawasan


pantai barat Kalimantan Barat adalah ketika berdiri kerajaan islam
Sambas. Kerajaan inilah antara lain yang memainkan peran penting
dalam penyebaran islam di Kalimantan Barat, khususnya di
Sambas. Kerajaan ini didirikan oleh Raden Sulaiman 2 (1009-1081
M). proses islamisasi kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam
Sambas dimulai dari kedatangan Raja Tengah ke Sambas. Raja
tengah adalah putra Sultan Abdul Jalil Akbar dari Brunei. Ketika
sudah cukup dewasa, Raja Tengah diberi kepercayaan untuk
memerintah negeri Sarawak. Raja Tengah terkenal gagah berani
dalam memeperluas wilayah kekuasaannya. Selain itu, beliau juga
sangat gigih dalam menyebarkan agama Islam. Tidak lama setelah
memerintah negeri Sarawak, baginda mengunjungi negeri johor
menggunakan beberapa buah perahu layar zepuar. Kepergian itu
dimaksudkan untuk menziarahi ibunda baginda, yaitu permaisuri
sultan Abdul Jalil. Setelah kurang lebih dua tahun di zohor, baginda
kembali ke serawak. Namun ditengah perjalanan pulang tersebut
perahu baginda ditempa angina kencang sehingga terdanpar di
sukadana.
Kedatangan Raja Tengah ke Tukadana disambut baik oleh
Palembahan Sukadana. Bahkan kemudian Raja Tengah diangkat
menjadi wazir, setelah beberapa lama di sukadana Raja Tengah
berniat mengunjungi Sambas yang ketika itu masih berpusat di kota
lama. Keinginan untuk mengunjungi Sambas didorong oleh cerita
ibu muda sultan yang berada di zohor. Ketika di Johor, ibu muda
sultan menceritakan bahwa sambas adalah salah satu daerah
kekuasaan zohor yang kaya dengan emas. Penguasa sambas ketika
itu adalah ratu sepudak yang beragama hindu. Kehadiran raja
tengah disambut baik oleh ratu sepudak. Perangai baik yang
2

adalah putra sultan Tengah dari Brunei Darusssalam yang memerintah negeri Sarawak. Sedangkan
sultan Sultan Tengah atau Raja Tengah adalah putra kedua sultan brunei ke-9 Muhammad Hasan.

ditunjukkan oleh raja tengah mendorong ratu sepudak untuk lebih


menjalin hubungan mereka. Hubungan erat ini ditandai dengan
menikahkan putra sulung raja tengah yaitu raden sulaiman dengan
adek bungsu raden sepudak yakni Mas Ayu Bungsu. Selama di
Sambas, Raja Tengah menceritakan sangat giat menyebarkan
agama islam. Dalam waktu yang relative singkat banyak orang
yang memeluk agama islam.
Sementara itu pada bagian lain di Kalimantan Barat, terutama
pantai selatan, Islam lebih dahulu dipeluk oleh penduduk setempat,
di Sukadana, Ketapang. Atas perintah seorang raja muslim yakni
Sultan Mahmud Syafiudin ketika Sultan tengah tiba disana. Kapan
bagimana proses islamisasinya juga masih kabur. Menurut Al-Attas
Sukadana

diislamkan

oleh

mubaligh

arab

dan

melayu

dari

Palembang ditambahkan pula tahun 1000 H semua penduduk


pantai Kalimantan sudah menjadi penganut Islam, sedangkan
menurut pangeran tumanggung jayakusuma ketika sultan tengah
datang ke sukadana, telah datang pula seorang ulama dari mekkah
yang bernama syikh syamsudin, ulama ini secara khusus datang ke
sukadana untuk menyebarkan Islam
Informasi yang agak rinci mengenai Islam dikawasan ini adalah
ketia datang seorang pendakwah Islam dari timur tengah yakni
habib husain al kadri. Beliau lahir di Tarim Ar-Ridha Hadralmaut,
Yaman Selatan, pada tahun 1120 H/1708 M. Nama lengkapnya
adalah As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad
bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad Alkadrie, atau disebut
juga dengan nama Jamalul Lail dan Ba Alawi, yang konon nasabnya
sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Nama besarnya adalah Tuan
Besar Mempawah. Ia termasuk dalam kelompok empat sahabat
yang pergi ke wilayah Timur (Indonesia). Tiga ulama lain yang turut
beserta dengan dirinya adalah: Saiyid Abu Bakar al-Aidrus (dengan
gelar Tuan Besar Aceh) yang menetap dan wafat di Aceh, Saiyid

Umar as-Sagaf (Tuan Besar Siak) yang menetap, mengajar, dan


wafat di Siak, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi (Datuk
Marang), yang menetap dan mengajar di Terengganu.
Habib Husein memulai pengembaraan ke Aceh. Ia menetap di
sana selama satu tahun dengan tujuan menyebarkan Islam dan
mengajarkan kitab. Ia kemudian melanjutkan pengembaraannya ke
Siak, Betawi (tinggal selama tujuh bulan), dan Semarang (menetap
selama dua tahun). Ketika menetap di Semarang, ia berteman baik
dengan Syeikh Salim bin Hambal. Keduanya kemudian pergi
berlayar ke negeri Matan. Sesampainya di sana mereka kemudian
menemui Saiyid Hasyim al-Yahya dengan gelar Tuan Janggut Merah,
seorang ulama yang hebat, gagah, dan berani.

Setelah menetap beberapa hari di Matan, Habib Husein dan


Syekh Salim kemudian dijamu oleh Sultan Matan. Pada saat jamuan
makan dengan sultan digelar, ada suatu kisah menarik yang
mencerminkan kecerdikan ilmu Habib Husein ketika menyikapi
kejadian yang berkenaan dengan tempat sirih adat istiadat
kesultanan yang dikeluarkan di hadapan sultan dan para punggawa
kesultanan. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat suatu benda besi buatan
Bali dengan ukiran kepala ular yang ada di dalam tempat siri
tersebut. Di hadapan Sultan Matan dan para pembesar kesultanan,
Sayid Hasyim mematah-matah dan menumbuk-numbuk benda
tersebut dengan tongkatnya. Kontan saja, Sultan marah terhadap
sikap Saiyid Hasyim. Habib Husein mengambil benda yang telah
tercerai-berai tersebut, yang kemudian diusap-usap dengan air
liurnya. Atas izin Allah SWT, benda tersebut tiba-tiba kembali utuh
seperti sedia kala.
Setelah menetap di Matan selama dua hingga tiga tahun, Habib
Husein

didatangi

seseorang

yang
6

merupakan

utusan

Raja

Mempawah (Upu Daeng Menambon dengan gelar Pangeran Tua)


dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu. Surat yang
dibawa isinya tiada lain adalah bujukan raja terhadap Habib Husein
agar ia bersedia pindah ke Mempawai. Habib Husein tidak langsung
menerima tawaran tersebut karena dirinya masih betah tinggal di
Matan. Utusan raja tersebut kemudian kembali ke Mempawai
dengan tangan kosong. Kesediaan Habib Husein untuk menetap di
Mempawah terwujud setelah dirinya merasa adanya ketidakcocokan
dengan sikap dan pendirian Sultan Matan.

Habib Husein pindah ke Mempawah pada 8 Muharam 1160 H/20


Januari

1747

M,

dan

menetap

di

Kampung

Galah

Hirang.

Kedatangannya di tempat ini menjadi daya tarik tersendiri bagi


masyarakat di Mempawah. Banyak orang dari pelbagai penjuru
yang datang ke Mempawah. Ada pengunjung yang tujuannya untuk
berniaga, namun tidak sedikit dari mereka yang menyempatkan diri
untuk berguru kepada Habib Husein. Ia merupakan mufti pertama di
Mempawah. Ketika mengajar, yang diutamakan olehnya adalah
pelajaran lughah Arabiyah (bahasa Arab). Dalam tempo yang
singkat, Kampung Galah Hirang berkembang sangat pesat, bahkan
lebih ramai dari pusat Kesultanan Mempawah sendiri. Setelah Upu
Daeng Menambon (Sultan Mempawah) wafat, puteranya yang
bernama Gusti Jamiril kemudian menjadi anak angkat Husein AlQadri. Gusti Jamiril diasuh oleh Habib Husein di Kampung Galah
Hirang. Pada tahun 1166 H/1752 M, Gusti Jamiril dinobatkan sebagai
Sultan

Mempawah

menggantikan

ayahnya

dengan

gelar

Penembahan Adiwijaya Kesuma.


Habib Husein memiliki seorang putra yang bernama Syarif
Abdurrahman Al-kadrie yang merupakan pendiri kota Pontianak
sekaligus menjadi cikal bakal penyebaran islam dan sekitarnya. Ia

adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak. Ia dilahirkan


pada tahun 1142 Hijriah / 1729/1730 M, putra Al Habib Husin,
seorang penyebar ajaran Islam yang berasal Arab.
Tiga bulan setelah ayahnya wafat di Kerajaan Mempawah, Syarif
Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat
untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14
perahu Kakap menyusuri Sungai Peniti. Waktu dzuhur mereka
sampai

di

sebuah

tanjung,

Syarif

Abdurrahman

bersama

pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan


nama Kelapa Tinggi Segedong.
Namun Syarif Abdurrahman mendapat firasat bahwa tempat itu
tidak baik untuk tempat tinggal dan ia memutuskan untuk
melanjutkan perjalanan mudik ke hulu sungai. Tempat Syarif
Abdurrahman dan rombongan salat zuhur itu kini dikenal sebagai
Tanjung

Dhohor.

Ketika

menyusuri

Sungai

Kapuas,

mereka

menemukan sebuah pulau, yang kini dikenal dengan nama Batu


Layang, dimana sekarang di tempat itulah Syarif Abdurrahman
beserta keturunannya dimakamkan. Di pulau itu mereka mulai
mendapat gangguan hantu Pontianak. Syarif Abdurrahman lalu
memerintahkan kepada seluruh pengikutnya agar memerangi
hantu-hantu itu. Setelah itu, rombongan kembali melanjutkan
perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. Akhirnya pada tanggal 8
bulan Sya'ban 1192 Hijriah,bertepatan dengan hari Senin dengan
dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan
Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak
dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie.
Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771,
mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai
Landak. Setelah delapan hari menebas pohon di daratan itu, maka
Syarif Abdurrahman lalu membangun sebuah rumah dan balai, dan
8

kemudian tempat tersebut diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini


berdiri Mesjid Jami dan Keraton Kadariah.
2. Islamisasi Pedalaman (Jalur Timur)
Sebuah manuskrip yang ditulis pada tahun 1241 H oleh pangeran
Ratu Idrisi3 mencatat bahwa islam di kerajaan Sintang pertama kali
di bawa oleh Muhammad Saman dari Banjarmasin da cik Shamad
dari Sarawak. Tidak ada catatan kapan dan bagaimana kedua orng
ini sampai ke Sintang. Menurut manuskrip itu, sebelum menjadi
kerajaan islam, Sintang merupakan kerajaan hindu. Islam pertama
kali disebarkan di Sintang ketika kawasan itu diperintah oleh
seorang raja yang bernama Pangeran Agung Abang Pincin. Raja ini
berhasil diislamkan oleh Muhammad Saman dan cik Shamad.
Setelah pangeran Agung wafat, Sintang diperintah oleh
putranya Pangeran Tunggal. Pada masa ini umat islam semakin
bertamabah. Pengajaran agama islam semakin ditingkatkan seperti
pelaksanaan salat pada mulanya belum diajarkan dan digalakkan.
3. Pola Islamisasi di Kalimantan Barat
Menurut Soedarto (Juniar Purba dkk, 2011) ada empat pola dalam
islamisasi di Kalimantan Barat.

Langsung , yakni seorang raja mendapat kesan langsung


keutamaan seorang ulama yang datang di kerajaanya, raja
tersebut kemudian menyatakan keislamanya dan mengajak

seluruh pejabat kerajaan untuk memeluk islam.


Tidak langsung, penguasa local menerima baik kedatangan
ulama

penyebar

islam

dan

memberikan

keleluasaan

kepadanya unyuk mengajarkan islam, sebagian mereka lalu di


kawinkan dengan keluarga istana.
3 Seorang wazir terkemuka dari kerajaan sintang

Melalui transaksi dagang, pedagang-pedagang muslim yang


umumnya

datang

pertemuan

sungai

dan

kemudian

melakukan

bermukim

transaksi

di

daerah

dagang

dengan

penduduk hulu sungai. Sebagian penduduk local tertarik


dengan agama yang dianut oleh para pedagang muslim

tersebut.
Pengangkatan pejabat, tokoh-tokoh masyarakat yang berjasa
bagi kerajaannya biasa diangkat oleh raja menjadi pejabat,
sekalipun

tokoh

itu

bukan

muslim.

Sebagian

mereka

menyatakan keislamaanya.
C. Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Barat
1. Keraton Kadriah Pontianak
Umat

Islam

menjadi

mayoritas

ketika

berdirinya

kerajaan

Pontianak pada tahun 1771 Miladiah. Kesultanan Pontianak dengan


rajanya Sultan Syarif Abdurahman Al Qadrie adalah putra Syarif
Husin Al Qadrie yang menjadi salah seorang penyebar agama Islam
di

Kalimantan

Barat.

Kawasan

sekitar

pusat

pemerintahan

kesultanan Pontianak yang terletak dipinggiran Sugai Kapuas,


Kampung Kapur, Kampung Bansir, kampung Banjar Serasan dan
Kampung Saigon sangat kental pengaruh agama Islam. Daerah
Kampung Kapur terdapat seorang guru ngaji yang bernama Djafar
pada jaman tersebut beliau salah seorang yang termasyhur, sultan
Pontianak

Syarif

Abdurrahman

Al-Qadrie

mengundang

Djafar

khusus menjadi guru ngaji dilingkungan Keraton Kadriyah Pontianak


(Usman dkk:1997). Kemudian pengajian seperti ini berkembang,
adanya pengajian ibu-ibu, dan pada perkembangannya kemudian
banyak lembaga-lembaga pendidikan yang kemudian tumbuh dan
berkembang.
2. Kerajaan Sambas
10

Pendidikan Islam di kerajaan Sambas dapat dilihat dari dua tahap


sebagai berikut: Tahap pertama, yaitu pendidikan dilingkungan
keluarga. Pendidikan dilingkungan keluarga diberikan dalam bentuk
pelajaran membaca Al-Quran. Pendidikan seperti ini diberikan
kepada anak dari sejak dini bagi anak-anak berumur 5-10 tahun.
Kegiatan yang biasa disebut mengaji ini dilakukan secara
berkelompok dirumah guru ngaji. Mula-mula anak di ajari membaca
huruf Hijaiyyah dengan cara mengeja satu demi satu huruf
kemudian merangkainya dengan kata sehingga terbentuk satu
kesatuan kalimat. Apabila huruf-huruf ini telah dikenal barulah
pindah membaca Jus Amma, yaitu jus ke-30 yang dibukukan
tersendiri dan disebut juga Al-Quran kecil. Bagi anak yang sudah
lancar membaca dan telah tamat Juz Amma, guru ngaji biasanya
menyelenggarakan upacara penamatan yang disebut Khataman AlQuran. Pada saat acara Khataman Al-Qur,an orang tua murid ngaji
masing-masing mengantarkan hadiah berupa beras, kelapa, dan
kain kepada guru ngaji. Besar kecilnya pemberian dan upacara
tergantung pada kemampuan orang tua murid (Erwin,dkk 2005:18).
Jika anak telah tamat Al-Quran Kecil, selanjutnya anak pindah
untuk membaca Al-Quran Besar. Prosesi pengajaran Al-Quran
besar, pertama-tama guru membimbing sekali atau dua kali, lalu
anak mengulangnya beberapa kali sampai lancar. Pengetahuan
membaca

seperti

ini

ditingkatkan

dengan

memberikan

pengetahuan seni membaca. Akhirnya, anak mampu membaca


sendiri tanpa pembimbing. Disamping membaca anak-anak juga
diberikan ilmu tajwid. Waktu yang diperlukan untuk menamatkan
seluruh bacaan tidak ditentukan tergantung kemampuan membaca
setiap anak. Namun, rata-rata mereka dapat menamatkan bacaan
Al-Quran antara 6-12 bulan (Erwin, dkk 2005:19).
Tahap

kedua,

pada

tahap

ini

adanya

pengakuan

anggota

masyarakat atau lingkungan masyarakat terhadap kealiman dan

keshalehan

seorang

ustad

atau

syekh,

sehingga

anggota

masyarakat mengirimkan anaknya untuk memperdalam ilmu. Pada


tahap ini anak-anak yang telah meningkat remaja diajari dasardasar ilmu nahwu dan saraf.Selain itu juga di ajarkan semacam ilmu
usul yang berisi materi rukun iman dan rukun Islam. Kitab rujukan
utamanya adalah kitab Perukunan Melayu karya Arsyad al-Banjari.
Selain itu, terdapat juga pelajaran fikih yang termuat dalam kitab
1001 Masalah yang amat praktis susunannya. Umumnya kitabkitab rujukan ini menggunakan bahasa Arab Jawi (berbahasa Melayu
beraksara Arab) dan sering kali tidak mencantumkan nama
pengarangnya

(anonymous).

Selain

ilmu

fikih,terdapat

kecenderungan berkembangnya ilmu tasawuf (Erwin, dkk 2005:19).


Lokasi berlangsungnya pendidikan pada tahap ini biasanya berada
di lingkungan kampung. Dalam tahap ini, selain rumah guru, masjid
juga memainkan peranan penting sebagai lembaga pendidikan
Islam

tradisional.

Disetiap

desa

telah

didirikan

masjid

atau

surau,sehingga aktifitas pendidikan Islam pada saat itu dipusatkan


di masjid.
Namun, ketika penguasa ke-8 kesultanan Sambas, Muruhum Anom
yang bergelar Sultan Muhammad Ali Tsafiuddin (berkuasa 18131826), mulai membangun institusi keagamaan Islam di Istana
dengan melantik H. Nuruddin Mustafa sebagai imam kesultanan.
Tugas imam adalah setiap hari datang ke istana untuk memberikan
pengajaran agama terutama pengajian al-Quran dan sembahyang
kepada

kerabat

Sultan

(Machrus

Effendy

1995:20).

Dengan

demikian, perkembangan berikutnya istana dijadikan lembaga


pendidikan dikalangan elit penguasa, selain masjid. Lembaga
pendidikan

istana

(palace

school)

inilah

yang

kemudian

berkembang menjadi madrasah al-Sutaniyah. Kemudian Muhammad


Tsaifudin II mendirikan madrasah al-Sultaniyah pada tahun 1868.
Pada

awalnya

kurikulum

madrasah ini
12

masih

terbatas

pada

pelajaran Agama Islam. Peserta didiknya pun hanya dari kalangan


kesultanan, aktivitas pembelajaran masih didalam istana. Namun
setelah adanya pembauran dan adanya keinginan untuk membuat
madrasah ini semakin baik, mulailah dikelola namun setelah adanya
pembauran dan adanya keinginan untuk membuat madrasah ini
semakin baik, mulailah dikelola dengan memasukan kurikulum
pendidikan

barat

disamping

pendidikan

Islam,

agar

dapat

menyaingi sekolah-sekolah milik kolonial Belanda. Lalu kemudian


sekolah ini diganti namanya menjadi Tarbiatoel Islam (Erwin, dkk
2005:21).
D. Lembaga lembaga Pendidikan di Kalimantan Barat
1. Sebelum Kemerdekaan (Sebelum 1945).
a. Madrasahtun Najah Wal Falah
Madrasah ini adalah madrasah yang tertua di Kalimantan Barat.
Letaknya di Sei. Bakau Besar Mempawah, didirikan kira-kira tahun
1918 M. Kemudian berdirilah madrasah-madrasah dikota-kota,
bahkan di dusun-dusun berupa madrasah-madrasah Ibtidaiyah dan
Tsanawiyah (Mahmud Yunus 2008:382).
b. Madrasah As-Sultaniyah Sambas
Madrasah ini didirikan pada tahun 1922 M. Kemudian diubah
nama menjadi Tarbiyatul Islam. Lama pelajaran lima tahun (5 kelas)
dan ditambah 1 tahun lagi untuk kursus fak agama. Yang diterima
masuk madrasah ini adalah tamatan dari SR 5/6 tahun. Ketua
pengurus madrasah ini adalah H.M. Basuni Imran seorang ulama
besar di Sambas, dan ketua madrasah ialah H. Abd. Rahman.
Pelajarannya ialah ilmu-ilmu agama ditambah dengan pengetahuan
umum sebagai berikut (Rencana tahun 1953 M); nahwu, shorof,
insya, bahasa Arab, tafsir, hadis, fiqih, ushul, tarikh, berhitung, ilmu
bumi, ilmu alam, ilmu tumbuh-tumbuhan, ilmu ukur, kesehatan,

akhlak,

gerak

badan,

Al-Quran,

Terjemah

(Mahmud

Yunus

2008:382).
2. Sesudah Kemerdekaan (Setelah 1945)
a. Era 50-an
1) Persatuan Madrasah-madrasah Islam Indonesia Pontianak
(PERMI)
PERMI didirikan pada tahun 1954 di Pontianak maksud dan
tujuan didirikannya adalah: 1. Menyatukan nama madrasah dengan
nama yang sederhana yaitu Madrasatul Islam Al-Ibtidaiyah (S.R.I)
dan Madrasatul Islam Tsanawiyah (SMIP); 2. Menyatukan leerpan
dan kitab-kitabnya; 3. Mendirikan satu ikatan sebagai federasi,
rencana namanya ialah Persatuan Madrasah Islam Indonesia
(PERMI).
Mata pelajaran dari madrasah-madrasah itu terdiri dari ilmu
Agama, bahasa Arab dan pengetahuan umum. Pengetahuan umum
sekurang-kurangnya 30%. Kitab Agama dan bahasa Arab yang
dipakai ialah keluaran Sumatera (seperti karangan Ustadz Mahmud
Yunus dan lain-lain), Mesir dan Jawa. Kitaab-kitab umum dipakailah
kitab-kitab

yang

diajarkan

di

SR

dan

SMP

(Mahmud

Yunus

2008:384).
2) Madrasah Diniyah Ismail Mundu (Telok Pakedai)
Madrasah ini didirikan pada tahun 1955, oleh H. Ismail Mundu bin
Daeng Karim keturunan Raja Sul-Sel yang dilahirkan pada tahun
1287 H/1870M. Beliau adalah seorang guru besar dan mufti Telok
Pakedai. Madrasah Diniyah Ismail Mundu ini didirikan untuk
memberikan pendidikan agama yang terpusat pada anak-anak
dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai agama Islam serta
dapat memahami ajaran Islam sejak dini, karena pendidikan yang
14

dilakukan di Masjid Batu hanya hanya untuk orang dewasa dan


orang tua saja. Madrasah ini terletak kurang lebih 3 km dari Masjid
Batu sebagai pusat pendidikan pertama, yang didirikan Ismail
Mundu.

Di

bangunan

ini

terdapat

dua

ruangan

untuk

penyelenggaraan pendidikan. Dan sekarang terletak dijalan Ismail


Mundu kecamatan Telok Pakedai kabupaten Pontianak.
Adapun

pendidikan

yang

diselenggarakan

pada

Madrasah

Diniyah Ismail Mundu ini adalah; Baca Tulis Al-Quran, Bahasa Arab,
Aqidah Akhlak, Ibadah dan Fiqih. Pendidikan di Madrasah ini bersifat
non formal dimana pada lembaga pendidikan ini tidak berdasarkan
kurikulum yang berlaku, hanya berdasarkan program pembelajaran
yang di susun bersama para tenaga pengajar, berdasarkan tujuan
pendidikan yang hanya memberikan pendidikan agama terhadap
anak-anak. Pada awal pendidikan tenaga pengajar hanya bersifat
suka rela, dan murid yang masuk tidak dipungut biaya. Ismail
Mundu sebagai pendiri dan pengajar hanya 2 tahun mengabdikan
dirinya karena pada tahun 1957 beliau meninggal, kemudian
diteruskan oleh teman-temannya.

III. PENUTUP
Kesimpulan

Proses masuknya islam di Kalimantan Barat melalui dua jalur yaitu,


pesisir pantai barat dan selatan dan jalur timur. Di pesisir barat
yaitu di daerah sambas Islam diperkenalkan oleh Raja tengah dari
Sarawak. Sementara di pesisir pantai selatan Islam dibawa oleh
seorang ulama dari Hadramaut yaitu Habib Husein Al-Kadrie.
Sementara di jalur timur islam disebarkan oleh ulama dari
Banjarmasin Muhammad Saman dan cik Samad dari Sarawak.
Sementara itu pola islamisasi di Kalimantan Barat dibagi menjadi
empat yaitu, langsung, tidak langsung, transaksi perdagangan,dan
pengangkatan jabatan

16

Daftar pustaka
Hermansyah, pengembangan islam di pedalaman Kalimantan.
2012. Pontianak:Stain Press
Laffan, Michael. Sejarah Islam di Nusantara.2015.Bandung: PT
Bentang Pustaka
https://id.wikipedia.com