Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Asma adalah suatu keadaan di mana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan peradangan
dan penyempitan pada saluran nafas.Asma merupakan penyakit kronik yang menjadi
permasalahan kesehatan di dunia dan termasuk dalam 10 besar penyebab utama
morbiditas dan mortalitas di Indonesia.Prevalensi asma selalu meningkat dalam 20
tahun belakangan ini, diperkirakan sekitar 300 juta penduduk dunia telah memiliki
riwayat sebagai penderita asma dan akan terus meningkat hingga mencapai 400 juta
jiwa pada tahun 20251,2.
World Health Organization (WHO) telah mengestimasikan bahwa terdapat 15
juta jiwa setiap tahunnya mengalami keterbatasan fisik dan mental (disabilitas) akibat
asma atau sama dengan 1% dari seluruh penyakit lain yang mampu menimbulkan
disabilitas. Laporan setiap tahunnya terkait kematian akibat asma telah mencapai
angka 250.000 jiwa3.
Selain dilihat dari angka morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi, asma
akan menjadi permasalahan masyarakat karena mampu memberikan beban yang
signifikan dalam konteks biaya perawatan kesehatan namun juga hilangnya
produktivitas dan rendahnya partisipasi individu yang bersangkutan dalam kehidupan
keluarga maupun sosial ekonominya sehingga diperlukan diagnosis dini dan
implementasi terapi yang tepat dan akurat dalam penanganannya terutama pada
pelayanan kesehatan tingkat pertama. Peran dokter dan tenaga kesehatan pada
pelayanan kesehatan tingkat pertama sangatlah penting, termasuk dalam memberikan
edukasi atau pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan kepada penderita dan
keluarganya akan sangat berarti bagi penderita, terutama bagaimana sikap dan
tindakan yang bisa dikerjakan pada waktu menghadapi serangan, dan bagaimana
caranya mencegah terjadinya serangan asma.

1

hal ini menyebabkan pasien tidak mampu berbaring.1 IDENTITAS PENDERITA Nama : Tn.BAB II LAPORAN KASUS 2. Pasien hanya mampu berkata sepatah-sepatah ketika serangan sesaknya kambuh. Sesak diikuti oleh suara ngik-ngik.2 KELUHAN UTAMA Sesak nafas 2. sangat kental sehingga susah dikeluarkan. Batuk dikatakan berdahak dengan dahak berwarna putih. sehingga dia tidak mampu beraktivitas. dan batuk hilang timbul sepanjang hari. Pasien mengatakan bahwa sesaknya terasa cukup berat.3ANAMNESA : Pasien mengeluhkan sesak nafas yang dirasakan sejak pagi ± 4 jam sebelum datang ke puskesmas ketika pasien bangun tidur. Pasien juga mengeluhkan batuk yang dirasakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. 2 . Sesak membaik sedikit ketika dalam posisi duduk dan tambah berat ketika pasien dalam posisi berbaring. DNS Umur : 61 Tahun Jenis kelamin : Laki-laki Bangsa : Indonesia Suku : Bali Agama : Hindu Pendidikan : Tamat SD Status : Menikah Pekerjaan : Pedagang Alamat : BatuBulan Tanggal Pemeriksaan : 7 Oktober 2015 2.

badan meriang. Riwayat Pribadi dan Sosial Pasien adalah seorang pedagang. Kesehariannya pasien sering terpapar debu saat berdagang dan tidak menggunakan masker. Riwayat tekanan darah tinggi. kencing manis. ginjal. pusing. Riwayat merokok dan minum-minuman beralkohol disangkal. Biasanya sesak dikatakan muncul ketika pasien mengalami batuk atau cuaca terlalu dingin. kencing manis. Riwayat Penyakit Sebelumnya Pasien mengalami sesak sejak anak-anak dan dikatakan asma oleh dokter.Batuk disertai dengan pilek. Riwayat Penyakit dalam Keluarga Pasien mengakui dalam keluarganya ada yang memiliki keluhan yang sama seperti dia. Riwayat alergi obat disangkal oleh pasien. Setiap sesak pasien kambuh pasien hanya beristirahat namun jika dirasakan berat dan tidak mau hilang pasien pergi ke pusat kesehatan untuk diuap agar dapat bernapas lebih lega. ginjal disangkal oleh pasien. penyakit jantung. Dua bulan yang lalu pasien juga mengalami keluhan yang sama. dan alergi obat disangkal. Ibu pasien sering mengalami sesak dan dikatakan asma oleh dokter.4 PEMERIKSAAN FISIK (7 Oktober 2015) Status Present Kesan umum : sesak Kesadaran : Compos Mentis GCS : E4V5M6 TD : 110/80 mmHg Nadi : 100 x/mnt 3 . infeksi paru-paru. 2. dan sakit tenggorokan. Sebelum datang ke Puskesmas pasien sudah mengkonsumsi parasetamol. Riwayat penyakit jantung.

JVP normal Thorak : Simetris (+) Cor Inspeksi : ictus cordis tidak tampak Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V MCL sinistra.- wheezing + + + + + + Abdomen: 4 . faring hiperemis (+). edem palpebra -/- THT : Tonsil T1/T1 hiperemi (-). barrel chest (-) Palpasi : VF N/N.. Rp +/+ isokor. tidak kuat angkat Perkusi Auskultasi : batas kanan : PSL Dextra batas kiri : ICS V MCL Sinistra batasatas : ICS II batas bawah : ICS V MCL Sinistra : S1S2 tunggal reguler. retraksi(-).7ºC VAS : 0/10 Berat Badan : 70 Kg Lokasi:- Tinggi Badan : 172 cm Status General Mata : anemia-/-. nyeri tekan (-) Perkusi : sonor/sonor Auskultasi : ves + + + + + + ronki. ikterus-/-.RR : 30 x/mnt Temp axilla : 37.. murmur (–) Pulmo Inspeksi : gerak pernafasan simetris statis dan dinamis. sekret (-) Leher : pembesaran kelenjar (-).

denyut epigastrial (-) Auskultasi : BU (+) normal Palpasi : Nyeri tekan (-) Hepar tidak teraba.6 ASESSMENT Serangan Asma Sedang pada Asma Terkontrol Moderate Asthma Attack on Controlled Asthma 2.5 mg  Ambroxol 3 x 30mg  CTM 3 x 6mg  Paracetamol 3x500mg 2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG 2.+ + Hangat: edema: .Inspeksi : distensi (-).+ + .. Lien tidak teraba ginjal kanan & kiri tidak teraba Perkusi : Timpani Ektremitas .7 PENATALAKSANAAN  Nebulisasi Ventolin 1 amp  Salbutamol 3 x 2mg  Dexametason 2 x 0.- Sianosis 2.8 PROGNOSIS Dubius ad bonam 5 .

merokok. obat – obatan (aspirin dan beta blocker). senyawa kimia yang terhirup. Gejala ini berhubungan dengan luasnya inflamasi. menyebabkan obstruksi jalan napas yang bervariasi derajatnya dan bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan. pasien memiliki riwayat eczema atau ada riwayat asma atau penyakit atopic pada keluarga. infeksi traktus respiratius (virus). dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam atau dinihari. debu pada lingkungan sekitar. Dari anamnesis ditemukan gejala klinis seperti suara mengi atau “ngik-ngik: yang dapat didengar saat pasien mengeluarkan napasnya. sehingga menimbulkan peradangan dan penyempitan yang bersifat sementara dengan gejala periodik berupa mengi. Temuan yang paling sering pada pasien asma adalah adanya mengi (wheezing) saat auskultasi yang akan mengkonfirmasi adanya obstruksi jalan napas. eosinofil.3. kondisi emosional yang kuat.Wheezing di akhir ekspirasi hampir selalu merupakan tanda penyakit paru obstruktif seperti asma. dan limfosit T. gejala memburuk sesuai dengan pola musim. olahraga. gejala terjadi dan memburuk apabila mendapat paparan bulu binatang. Namun pada beberapa pasien 6 . temuan saat pemeriksaan fisik sistem pernapasan bisa saja ditemukan normal. rasa terkekang pada dada yang berulang. sesak napas. gejala berespon terhadap terapi asma. Diagnosis asma kadang-kadang dapat ditegakkan atas dasar anamnesis dan auskultasi. Pada asma ringan. kesulitan bernapas yang berulang. gejala memburuk saat malam hari dan sering membangunkan pasien. serbuk atau tepung sari. dan inflamasi ini juga menyebabkan peningkatan respon jalan napas terhadap berbagai rangsangan1. Karena gejala asma pada pasien bisa sangat bervariasi. auskultasi hampir selalu normal bila pasiennya asimtomatik. riwayat salah satu dari keluhan batuk yang memberat saat malam hari. perubahan suhu tubuh.BAB IV PEMBAHASAN Asma bronkiale adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas yang melibatkan banyak sel inflamasi terutama sel mast. mengi yang berulang.

dada hiperinflasi. Dari auskultasi thorax ditemukan suara tambahan mengi (wheezing) ekspirasi. pusing. Setiap sesak pasien kambuh pasien hanya beristirahat namun jika dirasakan berat dan tidak mau hilang pasien pergi ke pusat kesehatan untuk diuap agar dapat bernapas lebih lega. tetapi dengan tanda eksaserbasi berat lainnya berupa sianosis. terasa cukup berat sehingga tidak mampu beraktivitas. berdahak dengan dahak berwarna putih. Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan. pemeriksaan fisik dan penunjang. diikuti oleh suara ngik-ngik. Pasien juga mengeluhkan batuk yang dirasakan sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. penurunan kesadaran. didapatkan keadaan umum pasien tampak sesak dengan kesadaran kompos mentisdan tidak ada kelainan neurologis. wheezing bisa saja tidak ada atau hanya terdengar apabila pasien diinstruksikan untuk melakukan ekspirasi paksa. badan meriang. Biasanya pada eksaserbasi asma berat. napas menggunakan otot aksesoris dan resesi interkostal. Pada laporan kasus ini. sangat kental sehingga susah dikeluarkan. Dua bulan yang lalu pasien juga mengalami keluhan yang sama.dengan asma. Keluhan sesak biasanya muncul ketika pasien mengalami batuk atau cuaca terlalu dingin. kesulitan berbicara. 7 . wheezing tidak terdengar karena penurunan laju udara pada saluran napas dan ventilasinya. dan batuk hilang timbul sepanjang hari. Hal ini menunjukan pasein tidak mengalami kelainan pada intrakranialnya. pasien adalah seorang laki-laki berumur 61 tahun datang ke Puskesmas I DenpasarTimur dan didiagnosis dengan serangan asma sedang pada asma intermiten. Pada pemeriksaan tanda vital didapatkan peningkatan frekuensi jantung (100 kali per menit). Batuk disertai dengan pilek. dan sakit tenggorokan. takikardia. dengan laju respirasi yang meningkat yakni 30 kali per menit. Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluhkan sesak nafas yang dirasakan sejak pagi kurang lebih 4 jam sebelum datang ke puskesmas. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis. Pasien sudah mengalami sesak sejak anak-anak dan dikatakan asma oleh dokter. Pasien hanya mampu berkata sepatah-sepatah. membaik sedikit ketika dalam posisi duduk dan tambah berat ketika pasien dalam posisi berbaring.

4. Seorang pasien asma persisten dapat mengalami serangan ringan saja. langsung dinilai derajat serangannya menurut klasifikasi di atas sesuai dengan fasilitas yang tersedia.Pembagian Klasifikasi asma menurut Global Initiative for Asthma(GINA) 2011 membagi berdasar keadaan terkontrolnya asma. Dalam panduan GINA ditekankan bahwa pemeriksaan uji fungsi paru (spirometer atau peak flow meter) merupakan bagian integral penilaian tatalaksana serangan asma. Pasien asma yang datang dalam keadaan serangan di Unit Gawat Darurat. 1 Gejala siang ≤ 2x/minggu > 2 x/minggu 2 Hambatan aktivitas Tidak ada ada Gejala malam/bangun 3 Tidak ada ada waktu malam 4 Perlu reliever ≤ 2 x/minggu > 2 x/minggu 5 Fungsi paru (PEFR/FEV1) < 80% prediksi normal atau hasil terbaik (bila ada) Tak terkontrol 3 atau lebih keadaan terkontrol parsial pada tiap – tiap minggu Selain klasifikasi tersebut. bukan hanya evaluasi klinis. Tabel 2. yaitu : terkontrol.4. Sebaliknya bisa saja pasien yang tergolong asma terkontrol mengalami serangan asma berat bahkan serangan ancaman henti napas (kematian)3. Jadi perlu dibedakan antara derajat penyakit asma (aspek kronik) dengan derajat serangan asma (aspek akut). yang terbagi atas serangan ringan. Penilaian Derajat Serangan Asma4 8 . Namun di Indonesia penggunaan alat tersebut belum memasyarakat3. asma juga dapat dinilai berdasarkan derajat serangan. terkontrol parsial dan tidak terkontrol3. Tabel 1. Klasifikasi Asma berdasarkan keadaan terkontrolnya3 Penilaian Terhadap Kontrol Klinis Terkini ( sebaiknya > 4 minggu ) No Karakteristik Terkontrol Terkontrol parsial . sedang. dan berat.

Pada kasus ini. sesak kali ini merupakan serangan pertama sejak 6 bulan terakhir. frekuensi serangan asma pada pasien 1 bulan terakhir tidak lebih dari 1 kali/seminggu. dan penggunaan obat pelega (reliever) lebih dari 1 kali/seminggu disangkal. tidak adanya keterbatasan aktivitas karena asma. Klasifikasi berdasarkan intensitas serangan pada kasus ini tergolong sedang dapat dilihat dari 9 . Timbulnya asma pada malam hari yang menyebabkan pasien terbangun tidak lebih dari 2 kali tiap minggunya sehinggapasien diklasifikasikan sebagai asma terkontrol.

rangsang sesuatu yang bersifat allergen seperti asap rokok. serbuk sari. Faktor penyebab yaitu sel mast di sepanjang bronkus melepaskan bahan seperti histamin dan leukotrien sebagai respon terhadap benda asing (alergen). dimana hal ini akan memperkecil diameter dari saluran udara (bronkokonstriksi) dan menimbulkan keluhan sulit bernapas. wheezing dan disertai hiperreaktivitas saluran respiratorik terhadap berbagai rangsangan. Tatalaksana awal terhadap pasien adalah pemberian βagonis dengan penambahan garam fisiologis secara nebulisasi. infeksi saluran pernafasan. seperti perubahan cuaca dan suhu udara. Menurut The Lung Association. dan rencana re-evaluasi tatalaksana jangka panjang untuk mencegah kekambuhan. asap. debu.gejala yang dialami pasien. bulu binatang. gangguan emosi. ada dua faktor yang menjadi pencetus asma yaitu pemicu (trigger) dan penyebab (inducer). Inflamasi saluran respiratorik yang ditemukan pada pasien asma diyakini merupakan hal yang mendasari gangguan fungsi pernapasan. debu halus yang terdapat di dalam rumah atau bulu binatang. kerja fisik atau olahraga yang berlebihan.4. mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya. lebih ringan saat posisi duduk. Perubahan fungsional yang dihubungkan dengan gejala khas pada asma: batuk. mengurangi hipoksemia. berbicara sepenggal kalimat. udara dingin dan olahraga. takipnea3. sesak. peningkatan pembentukan lendir. seperti serbuk sari. Nebulisasi serupa 10 . perpindahan sel darah putih tertentu ke bronki yang mengakibatkan peradangan (inflammation) pada saluran pernafasan. Pada pasien didapatkan kecurigaan pencetus asma berasal dari infeksi saluran pernapasan atas. insektisida. yaitu sesak muncul saat berbicara. Batuk sangat mungkin disebabkan oleh stimulasi saraf sensoris pada saluran respiratorik oleh mediator inflamasi. Obstruksi saluran respiratorik menyebabkan keterbatasan aliran udara yang dapat kembali secara spontan atau setelah pengobatan. Tujuan tatalaksana serangan asma adalah meredakan penyempitan saluran respiratorik secepat mungkin. Pemicu mengakibatkan terganggunya saluran pernafasan dan mengakibatkan menyempitnya saluran pernafasan (bronkokonstriksi) tetapi tidak menyebabkan peradangan. yang menyebabkan terjadinya kontraksi otot polos. polusi udara dan hewan piaraan. debu.

6. Obat pelega diberikan saat serangan asma dan dan obat pengontrol diberikan untuk pencegahan serangan asma. namun hanya diberikan untuk jangka pendek (3-5 hari). Jika tetap baik.5. karena penilaian derajat secara klinis tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat dan jelas. pasien hanya menunjukkan respons parsial (incompleteresponse). Pasien kemudian dianjurkan kontrol ke Klinik Rawat Jalan dalam waktu 24-48 jam untuk reevaluasi tatalaksananya4. pasien diobservasi selama 1 jam. pasien dapat dipulangkan.Deksametason merupakan steroid yang memiliki potensi lebih tinggi4. Pemberian obat tambahan dibutuhkan untuk mengatasi reaksi inflamasi akibat infeksi saluran pernapasan. Jika dengan pemberian nebulisasi dua kali. Pasien dibekali obat (beta-agonis hirupan atau oral) yang diberikan tiap 4-6 jam. Pada serangan asma sedang hingga berat dapat diberikan steroid sistemik (oral) metilprednisolon dengan dosis 2 mg/kgBB/hari.dapat diulang dua kali dengan selang 20 menit. Jika dengan sekali nebulisasi pasien menunjukkan respon yang baik (complete response). Jika menurut penilaian awal pasien datang jelas dalam serangan berat. Salbutamol merupakan agen beta adrenergik yang digunakan sebagai bronkodilator yang efektif untuk meringankan gejala asma akut dan bronkokonstriksi4. 11 . Hiperreaktivitas ini merupakan predisposisi terjadinya penyempitan saluran respiratorik sebagai respons terhadap berbagai macam rangsang. Adanya infeksi pada saluran pernapasan menyebabkan terbatasnya aliran udara dan peningkatan reaktivitas saluran napas.7. pasien perlu diobservasi dan ditangani di Ruang Rawat Sehari (RRS). Obat asma terdiri dari obat pelega dan pengontrol. Jika pencetus serangannya adalah infeksi virus. Pada pemberian ketiga nebulisasi ditambahkan obat antikolinergik. langsung berikan nebulisasi β-agonis dikombinasikan dengan antikolinergik4. B2 agonis merupakan salah satu obat asma yang digunakan untuk obat pengontrol. Steroid lain yang dapat diberikan selain metlprednisolon adalah prednison4.5. dapat ditambahkan steroid oral. Tatalaksana awal ini sekaligus dapat berfungsi sebagai penapis yaitu untuk penentuan derajat serangan.5.

paracetamol 3 x 500mg. gunakan masker saat sedang di jalan atau saat berdagang. pasien kemudian dipulangkan dan diberikan salbutamol 3 x 2mg. serangan yang mengancam jiwa.5 mg. Selain penatalaksanaan medis diberikan juga penatalaksanaan non medis berupa edukasi kepada pasien. Dokter puskesmas atau dokter umum harus merujuk pasien asma dengan kondisi tertentu ke RS yang memiliki pelayanan spesifik jika didapatkan asma dengan kondisi serangan berat. diabetes. Asma lebih mudah tercetus pada pasien dengan rinitis alergika yang biasanya diperparah ketika terpapar alergen seperti debu. Sesuai dengan protokol penanganan asma. kontrol rutin. Selain itu. Kondisi pasien setelah mendapatkan nebulisasi dapat dikatakan membaik.7. ambroxol 3 x 30mg.Pemberian mukolitik seperti ambroxol perlu dipertimbangkan pada pasien ini dikarenakan pada asma serangan akut seringkali diperberat akibat adanya udem mukosa dan sekresi mukus dibanding dengan bronkospasme. dan lainnya. CTM 3 x 6mg. dexametason 2 x 0. 12 . ditujukan untuk mengurangi efek histamin4. serbuk sari bunga. dimana laju pernapasan pasien sudah menurun menjadi 24 kali per menit dan pada auskultasi didapatkan suara wheezing menurun. Setelah diobservasi ± 30 menit dan melihat respon baik terhadap penanganan awal. serta tau kapan pasien memerlukan penanganan segera. dan asma dengan kondisi khusus seperti ibu hamil. menjaga rumah agar tetap bersih terbebas dari debu. kesehatan pasien tetap perlu dijaga dan tidak boleh melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat karena hal tersebut dapat mencetuskan serangan asma. polusi udara. pada pasien diberikan penanganan awal berupa nebulisasi ventolin 1 ampul. Saran yang diberikan adalah menjauhkan pasien dari hal tersebut dengan cara. Edukasi yang diberikan berupa penjelasan menganai faktor risiko.Histamin merupakan salah satu sel-sel agonis yang berperan dalam terjadinya bronkokonstriksi dan sekresi mukus berlebih sehingga pemberian antihistamin tepat diberikan. pada tatalaksana jangka panjang apabila dengan inhalasi kortikosteroid dosis rendah tidak ada perbaikan / tidak terkontro.

13 .Prognosis pasien pada kasus ini baik. hal ini berdasarkan tidak adanya komplikasi yang terjadi dan perkembangan yang ditampakkan oleh pasien dari hari ke hari berupa berkurangnya keluhan-keluhan yang terjadi.