Anda di halaman 1dari 39

PETUNJUK PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI I

disusun oleh :
Mujtahid Kaavessina, ST, MT, PhD

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2014

DAFTAR ISI

Sampul

i

Daftar Isi

ii

Format Laporan Resmi

iii

Materi Praktikum

1

Filtrasi
Sedimentasi
Kesetimbangan fasa uap-cair
Kesetimbangan fasa cair-cair
Transfer massa
Pencampuran (mixing)
Fluidisasi
Absorbsi
Konduktivitas panas
Dinamika perpindahan panas pada Heat Exchanger

FORMAT LAPORAN RESMI
PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

Aturan pembuatan laporan resmi praktikum Program Studi Diploma III Teknik
Kimia adalah sebagai berikut :
1. Laporan ditulis tangan di atas kertas HVS minimal 70 gr ukuran A4
2. Format kertas untuk penulisan 4-4-3-3, yaitu :
4 cm

4 cm

tempat penulisan

3 cm

3 cm
3. Laporan setiap materi praktikum berisi :
a. Judul
b. Tujuan
c. Data Percobaan
Harus ditanda tangani oleh asisten dan dosen pengampu praktikum. Dibuat
2 copy (1 untuk praktikan; dijadikan satu dalam laporan (tidak perlu di
tulis lagi), 1untuk arsip laboratorium)
d. Perhitungan
e. Pembahasan
f. Kesimpulan
g. Lampiran :

Lembar Pre Test
Bahan pre-test meliputi tujuan, dasar teori, gambar alat, bahan dan cara
kerja. Dinilai dan ditanda tangani oleh asisten

Lain-lain ( grafik, tabel, gambar)

4. TUJUAN PERCOBAAN Setelah mengikuti praktikum filtrasi. Laporan akhir berisi sub bab : Halaman judul (sesuai dengan judul praktikum) Lembar Pengesahan (ditandatangani oleh asisten dan dosen pengampu) Daftar Isi Bab I Materi Praktikum 1 Bab II Materi Praktikum 2 Bab III Materi Praktikum 3 Dst Daftar Pustaka BAB I. mahasiswa mampu: . FILTRASI A.

sehingga emulsi tidak dapat lewat lagi. Dari bidang ini. Hal ini dapat terjadi bila bingkai sudah penuh dengan zat padat. menentukan waktu filtrasi optimum B. dengan cara mengalirkan cairan pencuci untuk membersihkan. Pinggan disusun silih berganti. DASAR TEORI Untuk memisahkan partikel padat dari suatu larutan suspensi atau slurry dapat dilakukan dengan cara filtrasi. Emulsi (slurry) umpan dipompakan dari tangki pada tekanan 3-10 atm. di antaranya dengan menggunakan filter press. sampai keluar dari filter press. Proses selanjutnya adalah pencucian. Filtrasi dioperasikan hingga tidak ada lagi zat cair yang keluar dan tekanan filtrasi akan naik dengan tajam. Slurry umpan masuk ke dalam masing-masing komponen itu dengan tekanan. Filter press terdiri dari seperangkap pinggan atau lempeng (plate) yang dirancang untuk memberikan sederetan ruang tempat zat padat dapat ditahan. diletakan secara vertikal pada rak logam dan kain dipasang menutupi setiap bingkai dan dirapatkan dengan bantuan skrup atau ram hidrolik. Slurry mengalir melalui saluran yang terpasang memanjang pada salah satu sudut rakitan. melalui saluran tambahan.1. cairannya lewat melalui kanvas dan keluar melalui pipa pengeluaran dan meninggalkan zat padat basah di dalam ruang itu. menentukan harga tetapan-tetapan filtrasi (tahanan jenis fluida dan tahanan filter) 2. Di sini zat padat itu dapat melalui alur pada muka pinggan. Pinggan yang digunakan berbentuk plate dan frame (pinggan dan bingkai). mengalir ke dalam masing-masing bingkai. Lempeng (plate) itu ditutup dengan medium penyaring (filter) atau kanvas. Laju alir filtrat dapat ditentukan menurut persamaan dasar : dV dt dengan : A  A P rL = luas penampang zat paat yang tertahan (cake) P = beda tekanan sepanjang cake L = tebal cake (1) .

sehingga integral persamaan (4) adalah V  V dV 0 V2  t   0 A 2 P dt rK (5) 2 A 2 P t rK (6) Persamaan di atas mengasumsikan bahwa resistensi terhadap aliran hanya disebabkan oleh lapisan homogen dari cake. maka V=0. tebal cake akan bertambah dan laju filtrat akan menurun. LA V  K (3) Substitusi harga L pada persamaan (1) maka didapat dV dt  A 2 P rVK (4) Pada t=0. Dalam praktek resistensi terhadap aliran dapat disebabkan oleh lapisan homogen cake itu sendiri dan kain/kertas saringnya sehingga didapat persamaan : dV dt  A P r   L  L' (7)  Substitusi dengan cara di atas dV dt  A P  KV  r  L'   A  V  KV    A  L'  dV 0 (8) t   0 A P dt r (9) . LA  dengan : K atau L A  K V V (2) = konstanta pembanding V = volume filtrat sehingga. = viskositas fluida r = tahanan jenis (spesifik kristal) fluida Selama proses. atau dapat juga dikatakan pertambahan volume cake sebanding dengan pertambahan volume filtrat.

K V2  L' V 2A t V Plot   rK 2 2 A P A P t r V r  L' A P (10) (11) rK t terhadap V. Plate dan frame filter press 5. Kain 4. t V Slope/gradien intercept Vol filtrat (V) C. Tangki dengan pengaduk untuk tempat slurry 7. Manometer 6. Recycle kran 2. Penampung filtrat . ALAT 1. didapat slope atau gradien . BAHAN Tepung beras Air D. Timbangan 3. dan intercept 2 A 2 P V r  L' A P Nilai r didapat dari gradien/slope dan nilai L’ didapat dari intercept-nya.

Tampunglah cairan (filtrat) yang keluar dan ukurlah waktu (t) dan volumenya (Vf) . Percobaan 1. kran pengumpan ditutup rapat dan kemudian pompa dihidupkan sehingga terjadi resirkulasi slurry antara tangki dan pompa. 2. manometer dan pompa sehingga siap untuk dirangkai. ditabelkan. 2. Persiapkan frame. Rangkaian alat praktikum filtrasi E.Gambar 1. Buka kran pengumpan. 3. Recycle kran dibuka penuh. CARA PERCOBAAN Persiapan 1. 3. . Buatlah slurry kadar tertentu (1-3) % berat dan pada operasi filtrasi diusahakan selalu homogen. filter plate. kain. Setelah ffp terangkai baik cobalah dengan air sampai tak ada kebocoran. sehingga ffp beroperasi pada tekanan tetap ( tanyakan asisten) dengan mengatur kran recycle.

Hari/tgl : Asisten : Tabel 1. itulah luas media filter yg nyata (actual). 5. Kendalikan agar tangki penampung slurry tidak betul-betul kosong dengan cara menambah slurry sehingga saat mematikan pompa tangki tidak kosong. LEMBAR PENGAMATAN LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I Percobaan : Filtrasi Kelompok : Nama Praktikan/NIM : 1. 7. Ketika pompa dimatikan slaurry yg tertinggal dalam tangki dan pompa serta pipa-2 adalah cairan yang tidak tersaring. Data pengamatan 1 DATA Berat filter cloth Diameter Frame Tekanan Berat cake Tebal cake Tabel 2. F. 8. Keruklah kue yg terbentuk keringkan & timbanglah. Data pengamatan 2 Percobaan 1 Percobaan 2 . Bongkar dan ukurlah luas kue di mana terbentuk. Catat luas dan berat kue kering.4. 6. 2.

Dari nilai slope dan intecept grafik tersebut.. dkk.. 1950. New York Foust. G. Volume Filtrat Percobaan 1 Waktu. Tanda tangan ttd (nama terang) Praktikan 2. “Unit Operation”. s t Percobaan 2 Waktu. John Wiley & sons. DAFTAR PUSTAKA Brown. Inc. 1980. A. TUGAS PERHITUNGAN Buatlah grafik hubungan t/V danV dari percobaan di atas. John Wiley & sons.. hitunglah r (tahanan jenis fluida) dan L’ (tahanan filter) H..G. Tanda tangan Dosen.No.S. Inc. s t Asisten Praktikan 1.. ttd (nama terang) G. “Principles of Unit Operation”. SEDIMENTASI . New York BAB II.

B. Semakin pekat atau konsentrasi padatan semakin besar maka kecepatan sedimentasi semakin lambat. Pada periode awal. V+ dV + VL C . kecepatan sedimentasi mempunyai nilai maksimum dan kecepatan ini disebut sebagai free settling velocity. Kalau ditinjau suatu titik dengan konsentrasi tetap = C. DASAR TEORI Percobaan sedimentasi dapat dilakukan di laboratorium. membuat kurva hubungan antara kecepatan pengendapan dengan konsentrasi padatan pada operasi sedimentasi. maka posisi titik itu makin lama makin tinggi. dan kecepatan ini disebut hindered settling velocity. seperti skema berikut : A B B B C D Gambar 1. karena ada saling pengaruh antar partikel. Skema percobaan sedimentasi Kecepatan sedimentasi adalah kecepatan turunnya bidang batas A-B. memahami proses sedimentasi 2. TUJUAN PERCOBAAN Setelah mengikuti praktikum sedimentasi. Hal ini menujukkan seolah-olah tinggi padatan naik dengan kecepatan VL .A. mahasiswa dapat 1. Skema peristiwa ini dapat dilihat pada gambar 2.

( V + VL ) ( C + ΔC ) (1) ( V + VL ) C + C . maka konsentrasi slurry pada kecepatan itu adalah CL. Hubungan V = f ( C ) ditentukan berdasarkan data sedimentasi batch berupa tinggi bidang batas jernih ( Z) dan waktu sedimentasi ( t ). = Kecepatan naiknya padatan dalam zone. C = A. Ditinjau pada kecepatan sedimentasi = VL. ΔC Untuk ΔV→ 0 dan ΔC → 0 maka : VL  C dV V dC (2) Oleh karena V = f ( C ) dan V adalah kecepatan pengendapan untuk konsentrasii slurry sebesar C. ( V + ΔV + VL ) . Nilai VL merupakan slope kurva Z versus t posisi Z= ZL dan waktu t = tL Secara grafis ditunjukkan sebagai berikut : Zo Slope   dz ( z  z ) (z  z )  i L  i L dt (0  t L ) tL pada . maka nilai : C = tetap dV  tetap dC VL = tetap. Skema zone dengan konsentrasi slurry C sampai dengan C+ΔC. ΔV = ( V + VL ) .VL C+ ΔC V + VL Gambar 2. VL Neraca massa padatan pada zone dengan konsentrasi C sampai dengan C+ΔC : A = Luas penampang tabung Input = output A. ΔV = ( V + VL ) C + ( V + VL ) . V = Kecepatan partikel relatif terhadap tabung pada konsentrasi C. ΔC C . V + VL = Kecepatan pengendapan relatif terhadap tebal zone.

Zo . semua partikel berada di atas zone dengan konsentrasi C L. Penentuan kecepatan sedimentasi secara grafis (zi  z L ) (3) tL Nilai CL dievaluasi dengan cara meninjau sutu zone dengan konsentrasi CL VL  bergerak ke atas dengan kecepatan VL . Co ( VL  VL ) t L (6) Substitusi persamaan (3) dan (4) ke persamaan (6) : ( jabarkan sehingga diperoleh persamaan (7) ) CL  Zo .Zi Slope = tg α ZL 0. VL  Tetapi pada saat t= tL. Maka : zL (4) tL Pada saat awal t = 0 . semua partikel berada di bawah zone itu. Mula-mula zone itu berada di dasar tabung. CaCO3 2. Co Zi C.0 tL t Gambar 3. ( jumlah partikel yang menembus = ( jumlah partikel dalam endapan) zone sebelum waktu tL ) A (V + VL ) . BAHAN 1. tL = A. CL . Co (5) Zo = tinggi slurry mula-mula Co = konsentrasi slurry mula-mula CL  Zo . aquades (7) .

M3 dan volum slurry ditentukan oleh asisten). E. CARA PERCOBAAN 1. Catat ketinggian bidang batas cairan jernih (Z) setiap 30 detik. LEMBAR PENGAMATAN LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I Percobaan : Sedimentasi Kelompok : Nama Praktikan/NIM : 1. Tambahkan akuades sehingga diperoleh volum slurry sebesar V2 mL. Gelas ukur 2.D. F. ALAT 1. Masukkan sejumlah V1 mL akuades di dalam gelas ukur. Hidupkan stopwatch dan waktu sedimentasi mulai dihitung. Catat ketinggian permukaan slurry. Timbang sejumlah M1 gram CaCO3 dan masukkan ke dalam gelas ukur yang sudah terisi akuades. Pengaduk 3. Aduk sampai homogen. 2. Ulangi percobaan dengan jumlah CaCO3 lebih banyak (M2 dan M3 gram) dan volum slurry sama dengan percobaan sebelumnya (jumlah M1. . 4. 3. Stopwacth. M2.

.. menit z.......g/mL Tabel 1. menit z...... Hubungan ketinggian bidang batas (z) dengan waktu (t) No Percobaan 1 t..... cm Percobaan 3 t.  Berat CaCO3 (M1) :  Volum slurry (V2) :  Konsentrasi larutan 1 : ... menit z.. Tanda tangan .....g/mL Percobaan 2.... Hari/tgl : Asisten : DATA PERCOBAAN : Percobaan 1..  Berat CaCO3 (M2) :  Volum slurry (V2) :  Konsentrasi larutan 2 : ..... cm Asisten Praktikan 1.. Tanda tangan ttd (nama terang) Praktikan 2...2. cm Percobaan 2 t.........g/mL Percobaan3....  Berat CaCO3 (M3) :  Volum slurry (V2) :  Konsentrasi larutan 3 : ...

New York Foust. H. Membuat grafik V versus C. C. .et al. Menghitung V dan C pada (Z. Allyn and Bacon. 3. 1950. ttd (nama terang) G. New York Geankoplis. Massachusets.J. et al 1959. Principles of Unit Operations. Membuat grafik Z versus t.G. TUGAS PERHITUNGAN 1.S. 1983. DAFTAR PUSTAKA Brown...Dosen. John Wiley and Sons. 2ed ed. G. John Wiley and Sons. Unit Operation. A. 2... Transport Processes and Unit Operations.t) tertentu.

Kesetimbangan fase dikenal dengan kaidah fase Gibbs yang dirumuskan sebagai berikut : F=C-P+2 (1) dengan : F = jumlah derajat kebebasan C = jumlah spesi (campuran) P = jumlah fase Pada kesetimbangan fase uap air. tekanan maupun komposisi dari kedua fase. DASAR TEORI Kesetimbangan adalah kondisi yang tidak ada perubahan dalam waktu yang lama. Suhu dan tekanan fase uap akan sama dengan suhu dan tekanan . yaitu : 1. F = 2-2+2 = 2. Bila ditinjau suatu sistem dimana terjadi kontak antara dua fasa. P = 2. B. Kesetimbangan ditinjau dari sifatnya. Kesetimbangan statik. labil. membuktikan teori kesetimbangan fase untuk campuran biner 2. sebagai contoh fase cair dan fase uap maka kedua fasa tersebut dikatakan setimbang jika kecepatan menguap dari fase cair akan sama dengan kecepatan mengembun fase uap. indofferant.CAIR A. Pada kondisi ini tidak terjadi perubahan suhu. C = 2. TUJUAN PERCOBAAN Setelah mengikuti praktikum kesetimbangan fase uap-cair. misal : kesetimbangan stabil. mahasiswa mampu : 1. Kesetimbangan dinamik. 2. KESETIMBANGAN FASA UAP.BAB III. misal : kesetimbangan proses kimia dan kesetimbangan proses fisika. membuat kurva kesetimbangan dari komponen dalam fase uap dan komponen dalam fase cair. Dalam teknik kimia. maka untuk distilasi bila persamaan Gibbs tersebut dikenakan pada sistem larutan biner yang didestilasi maka.. dua jenis kesetimbangan yang penting adalah kesetimbangan fase dan kesetimbangan kimia. dibedakan menjadi 2 .

Yi = mol fraksi komponen (i) pada fase cair atau uap. Pi = Pi o Xi (Raoult) (2) Yi = Pi / Pt (Dalton) (3) dengan : Xi . Pada kesetimbangan fase uap-cair. maka persamaan Dalton dapat dinyatakan o P X Yi  i i Pt (4) Pio merupakan fungsi temperatur. untuk campuran yang dapat dianggap mendekati keadaan ideal (tekanan rendah). C = konstanta Pi o = tekanan uap komponen (i) murni pada suhu sistem. Pi = tekanan parsial komponen (i) dalam fase uap Pi o = tekanan uap komponen (i) murni pada suhu sistem Pt = tekanan total sistem Dengan eliminasi Pt. sedang potensial kimia tiap senyawa di fase cair dan fase uap akan sama pula. B.Xa maka (6) .fase cair. dan menurut Antoinne o ln Pi  A  B CT (5) dengan A. yang terdiri dari komponen a dan b maka hukum Raoult-Dalton dapat dijabarkan : o Pa X a Ya  o Pt Yb Pb X b Pt atau Pa o Pb o  Ya X b Yb X a dengan Yb = 1 . K Pada campuran biner. mmHg T = Suhu. maka hubungan variabel-variabel pada keadaan setimbang dapat dinyatakan menurut hukum Raoult dan Dalton.Ya dan Xb = 1 .

air suling D. Labu leher tiga 2. alkohol atau metanol atau asam asetat 2. ALAT DAN SKEMA RANGKAIAN ALAT 1. Labu destilasi 2. Pemanas 3. Pendingin 6. Termometer 3.Pa o Pb o  Ya (1  X a )  α ab (1  Ya ) X a (7) atau Ya  α ab X a 1  (1  α ab ) X a (8) ab = sifat penguapan relatif komponen a terhadap b C. Temperatur 4. BAHAN 1. Refraktometer 5. Klem . Pendingin 6. Pemanas lidtrik 4. Oil bath 5. Statif 7. Gelas piala Gambar rangkaian alat percobaan Keterangan 1.

mengambil destilat yang tertampung dan mengukur indeks biasnya. 7. tunggu hingga suhu termometer bertambah dan terlihat umpan mendidih kemudian termometer menunjukkan suhu konstan 6. Mengukur indeks bias tiap konsentrasi larutan standar 3. Mengambil sampel residu dan mengukur indeks biasnya. 2. Setelah kesetimbangan tercapai. Menambahkan alkohol atau aquadest dalam larutan umpan. Memasukkan larutan umpan (campuran alkohol dan aquadest) dalam labu leher tiga pada rangkaian alat destilasi 5.E. CARA PERCOBAAN 1. Membuat larutan standar (campuran alkohol dan aquadest ) pada berbagai konsentrasi 2. F. Mengulangi prosedur 4 sampai 6 pada berbagai variasi campuran alkohol dan aquadest. 8. Menyalakan pemanas listrik. LEMBAR PENGAMATAN LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I Percobaan : Kesetimbangan Fasa Cair Uap Kelompok : Nama Praktikan/NIM : 1. Hari/tgl : Asisten : DATA PERCOBAAN : Berat picnometer kosong : Suhu aquadest (T) : Berat alkohol + picnometer : .

Tanda tangan ttd (nama terang) Praktikan 2. Tanda tangan Dosen.Berat alkohol : Kadar alkohol : Berat aquadest + picnometer : Berat aquadest : Tabel 1. Menentukan fraksi mol alkohol 3. ml Indeks bias Tabel 2. ml Suhu kesetimbangan. Menentukan densitas aquades dan densitas alkohol 2. TUGAS PERHITUNGAN 1. Data indeks bias larutan standar No. ml Volume etanol. Menggambar dan menentukan persamaan grafik larutan standar.C Indeks bias Residu Indeks bias distilat Asisten Praktikan 1. konsentrasi vs indeks bias. Data kesetimbangan pada berbagai variasi campuran alkohol-aquades Volume akuades. ml Volume etanol. . ttd (nama terang) G. Volume akuades.

W. J. Prentice Hall PTR.. R. McGraw-Hill Book Company..H.. Equilibrium Staged Separations. H. 1999. Menentukan fraksi mol alkohol di distilat dan residu dengan persamaan grafik larutan standar 5. Membuat grafik suhu vs komposisi fase uap dan fase cair. Menghitung relatif volatilitas 6.. Perry’s Chemical Engineers Handbook. P.M. New York Wankat. grafik komposisi fase uap dan komposisi fase cair pada kesetimbangan H. and Van Ness. New Jersey .. Introduction to Chemical Engineering Thermodynamic. DAFTAR PUSTAKA Smith. C. D.C. and Green.4. LTD. 7th ed. McGraw-Hill Kogakhusa. Tokyo Perry.

KESETIMBANGAN FASE CAIR-CAIR A.BAB IV. Komponen cair yang berjumlah lebih banyak disebut sebagai pelarut umpan (feed solvent) sedankan komponen yang lebih sedikit disebut sebagai zat terlarut (solute). K  (1) y x . Zat terlarut akan terdistribusi pada kedua fase cair tersebut dan terjadi perpindahan massa secara bolak-balik. Proses ini analog dengan proses stripping atau absorpsi dimana massa dipindahkan dari satu fase ke fase yang lain. diberi simbol K. Fase zat terlarut yang terekstrak-pelarut ekstraksi yang keluar dari kontaktor cair-cair disebut extract. yang disebut sebagai umpan adalah larutan yang mengandung komponen yang akan dipisahkan. TUJUAN PERCOBAAN Setelah mengikuti praktikum kesetimbangan fasa cair-cair. Pelarut ekstraksi adalah cairan immicible yang ditambahkan ke dalam proses dengan tujuan untuk mengambil zat terlarut dari dalam umpan. DASAR TEORI Ekstraksi cair-cair merupakan proses dimana satu atau lebih zat terlarut dipindahkan dari satu fase cairan ke fase cairan yang kedua. Perbandingan antara fraksi berat solute di fase ekstrak (y) dengan fraksi berat solute di fase rafinat (x) disebut dengan Koefisien Distribusi atau Koefisien Partisi. mahasiswa mampu : 1. Kedua fase cairan tidak saling melarutkan. menentukan koefisien distribusi ekstraksi cair-cair B. sedang sisa zat terlarut-pelarut umpan disebut sebagai rafinate. membuat kurva kesetimbangan ekstraksi cair-cair 2. maka dikatakan terjadi kesetimbangan distribusi. Bila kecepatan distribusi tetap. Di dalam proses ekstraksi cair-cair.

buret 50 mL (1) 12. ALAT Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah. gelas beaker 100 mL (1) 4.Untuk perhitungan shortcut. Minyak tanah 4. Larutan NaOH 0. pipet volume 25 mL (1) 11. labu ukur 250 mL (1) 2. labu ukur 100 mL (1) 9. pipet volume 10 mL (1) 5. erlenmeyer 250 mL (3) 6. corong pemisah 250 mL (1) 8. pengaduk kaca (1) 3. corong gelas kecil (1) 13. K dY dX (3) Nilai K merupakan salah satu parameter utama yang digunakan untuk menentukan rasio minimum pelarut ekstraksi dengan pelarut umpan yang dapat dipakai dalam suatu proses ekstraksi. di mana garis kesetimbangan berupa garis lurus. gelas beaker 600 mL (1) 10. Aquades D. BAHAN 1. gelas ukur 10 mL (1) 7. C. K X Y (2) Untuk konsentrasi yang rendah. Asam asetat pekat 2. gelas beaker 400 mL (1) 14. 1. piknometer (1) .05 N 3. maka nilai K merupakan slope dari garis kesetimbangan. koefisien distribusi dihitung dengan menggunakan perbandingan berat solute dengan pelarut di fase ekstrak (Y) dan perbandingan berat solute dengan pelarut di fase rafinat (X).

Titrasi 5 ml rafinat dengan larutan NaOH sebanyak 3 kali (V2). 2. 7. Ukur densitas minyak dan larutan asam asetat dengan piknometer 4.E. Hari/tgl : Asisten : DATA PERCOBAAN : Volume asam asetat yang dibuat : Kerapatan larutan asam asetat pekat : Kadar larutan asam asetat pekat : Normalitas larutan asam asetat : Volume asam asetat pekat yang diambil : Berat piknometer : .05 N (V1) 3. LEMBAR PENGAMATAN LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I Percobaan : Kesetimbangan Fasa Cair-Cair Kelompok : Nama Praktikan/NIM : 1. Ukur densitas raffinat 8. Titrasi 25 ml larutan asam asetat (3 kali) dengan NaOH 0. Kocok sampai terjadi kesetimbangan ( 15 menit) 5. Lakukan kembali langkah 2 sampai 7 untuk larutan asam asetat dengan konsentrasi yang berbeda F. Buat larutan asam asetat dengan konsentrasi tertentu dari asam asetat pekat 2. Masukkan larutan asam asetat 100 ml dengan konsentrasi tertentu ke dalam corong pemisah dan tambahkan 100 ml minyak tanah. CARA PERCOBAAN 1. Pisahkan kedua lapisan yang terjadi 6.

ttd (nama terang) G. Hasil titrasi rafinat Konsentrasi asam asetat Volume Rafinat. ml II III Tabel 2. Tanda tangan ttd (nama terang) Praktikan 2. Tanda tangan Dosen.ml I II III Asisten Praktikan 1.Tabel 1. Hitung koefisien distribusi (K) . Hitung konsentrasi asam asetat di minyak tanah setelah kesetimbangan (Y) 4. Hitung konsentrasi larutan asam asetat mula-mula dalam % berat bebas solut 2. Standarisasi larutan asam asetat Konsentrasi asam asetat I Volume NaOH. Hitung konsentrasi larutan asam asetat setelah kesetimbangan dalam % berat bebas solut (X) 3. Gambarkan grafik hubungan antara Y dengan X 5.ml Volume NaOH. CARA PERHITUNGAN 1.

and Green..C. 1999.P. TUJUAN PERCOBAAN Setelah mengikuti praktikum transfer massa.H. Transfer massa dapat terjadi pada suatu fase yang sama atau pada fase yang berbeda. New Jersey BAB V. Peristiwa perpindahan suatu zat karena adanya perbedaan konsentrasi pada dua tempat yang berbeda tersebut disebut dengan transfer massa.. Transfer massa antar fase fluida – padatan terjadi secara molekuler. D. Prentice Hall PTR. Equilibrium Staged Separations.W. Menghitung kecepatan transfer massa 3.YA) dengan (1) . TRANSFER MASSA A. Menunjukkan pengaruh kecepatan aliran udara terhadap koefisien transfer massa volumetris B. Menentukan koefisien trnasfer massa volumetris pada perpindahan massa naftalen padat ke udara 2.. R. melibatkan langkah transfer massa dari badan fluida ke permukaan antar fase fluida-padat dengan melewati suatu film fluida yang stagnan. 7th ed..H. DAFTAR PUSTAKA Perry. McGraw-Hill Book Company. Beberapa operasi operasi transfer massa yang melibatkan transfer bahan di antara dua fase yang baerkontak misalnya aliran gas berkontak dengan cairan. dua aliran cairan yang immiscible. mahasiswa mamput : 1. DASAR TEORI Pada suatu sistem yang mengandung dua komponen atau lebih yang konsentrasinya berbeda-beda dari titik ke titik mempunyai kecenderungan bagi massa untuk berpindah sehingga meminimalkan perbedaan konsentrasi di dalam sistem. Perry’s Chemical Engineers Handbook. dan fluida yang mengalir melalui padatan. Kecepatan transfer massa dapat dihitung dengan persamaan : NA’ = kY (YA* . New York Wankat.

persamaan neraca massa dapat disusun pada suatu elemen volum. gram B = konsentrasi padatan A pada fase gas B yang setimbang dengan gram A konsenrasi jenuh padatan. adalah luas tempat transfer setiap volum sistem. cm 2 . adalah sebagai berikut : Y. det . GS Z + Z Z Y. det . dari pemasukan dan dengan tebal z. dan disebut dengan koefisien transfer massa volumetris ky.a. gram A gram B gram A = konsentrasi padatan A dalam fase gas B. Kecepatan transfer massa yang dihitung dengan parameter ini disebut sebagai kecepatan transfer massa volumetris. gram B Luas permukaan bidang tempat terjadinya transfer massa kadang sukar diukur. diperlukan satu parameter lagi yaitu a.YA) (2) dengan gram A NA = fluks massa. kY YA YA* gram A cm 2 det gram A = koefisien transfer massa. cm 3 . GS . Parameter ini biasa digabung dengan kosfisien transfer massa ky. kY gram A = koefisien transfer massa. Dalam keadaan demikian. NA = kYa (YA* . Neraca massa naftalen pada fase gas pada keadaan mantap (steady) di dalam eleman volum pada jarak tertentu. z.NA’ = fluks massa A. gram A cm 3 det gram B Pada suatu kolomberisi naftalen (A).

Elemen volum kolom bahan isian  kecpatn  kecpatn  kecpatnper indahnmas A       0 i nput   outp   daripadtankegas  GS  YA Z . cm2 V = Elemen volum.a  Z (YA* .GS  YA Z+Z + NA ky.GS  YA Z+Z + NA V = 0 (3) dengan : GS = Laju alir massa fase gas B.YA) = 0 Jika Gs diasumsikan tetap maka lim G Z 0 dYA dZ  YA S 0 Z  Z  YA Z     k Y .Gambar 1.a YA 0 YA*  YA Y    k Y . cm3 GS  YA Z .a YA*  YA Z  L  dZ    . gram B/cm2det  = Luas penampang.a * (YA  YA ) GS  G S AL dYA k Y .

a  YAL YA 0 G S  YA*  YA 0   L   ln k Y .a    GS  Y*  ln * A L  YA  YAL  (4) Untuk menentukan GS GS mol B BM B gram B   t t GS   Q B P BM B A RT Neraca massa A pada fase padat mas  mas  mas yangberpindah        0 m ulamula akhir  darifsepadtkefasegas m0 – mt – YAL  GS t = 0 m0 – mt = YAL  GS t m = YAL  GS t ( VB P ) BM B RT t  ( VB )P BM B t A RT (5) .a  YA*  YAL  YA0 = 0 k Y .L    GS ln YA*  YA k Y .

kompresor 2. Persamaan (4) menjadi k Y . ALAT Rangkaian peralatan dengan alat utama kolom kaca dan kompresor. Keterangan gambar : 2 1 E. gram A/gram padatan Karena padatan dianggap murni terdiri dari A. kolom kaca . CARA PERCOBAAN 1. Timbang kapur barus dalam jumlah tertentu. C.a   GS  H ln L  H  YAL   (8)  Koefisien transfer massa dipengaruhi oleh geometri sistem . aliran.YAL = m/( GS t) (6) Pada batas muka (interface) padatan-gas terdapat kesetimbangan antara konsentrasi A di padatan dengan konsentrasi A di fase gas yang dapat dinyatakan dengan persamaan : YAL* = H Cs (7) dengan H = konstanta Cs = konsentrasi A jenuh pada fase padat. Naftalen 2. dan sifat-sifat fliuda. 1. Udara D. BAHAN 1. maka C s = 1.

F. 4. Hitung YAL untuk kecepatan alir udara tertentu . kran dibuka. Kecepatan udara yang mengalir diusahakan konstan.2. Hidupkan kompresor (kran kompresor dalam keadaan tertutup). Kecepatan aliran Massa naftalen Mula-mula akhir Asisten Praktikan 1. CARA PERHITUNGAN 1. Tanda tangan Dosen. 2. ttd (nama terang) G. LEMBAR PENGAMATAN LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM SATUAN OPERASI I Percobaan : Kelompok : Nama Praktikan/NIM : 1. Setelah udara dialirkan selama 15 menit. kapur barus dikeluarkan dan ditimbang. Hari/tgl : Asisten : DATA PERCOBAAN : No. 5. Masukkan kapur barus dalam kolom. Setelah tekanan dalam kompresor tertentu. 3. Tanda tangan ttd (nama terang) Praktikan 2. Ulangi langkah 2 dengan mengubah-ubah kecepatan aliran.

G.a untuk kecepatan alir tertentu 3. John Wiley and Sons.2.E. C. Buat plot antara ky. and Mass Transfer”.E. Massachusets. J.J. Heat. Unit Operation. DAFTAR PUSTAKA Brown..R. New York Foust. New York Geankoplis. Principles of Unit Operations. Allyn and Bacon. 2ed ed. New York. John Wiley and Sons. H... Welty.a vs kecepatan alir. 1976. “ Fundamentals of Momentum. 1950. and Wilson. C. Wicks. Hitung ky.. 1983. John Wiley & Sons...et al. A. BAB VI PERPINDAHAN PANAS .S. G. Transport Processes and Unit Operations. R.. et al 1959.

Memahami fenomena perpindahan panas konveksi dan konduksi 2. DASAR TEORI Perpidahan panas adalah merupakan bagian yamg penting dari proses kimia pada umumnya. yaitu perpindahan panas dari sumber panas menuju suatu benda secara pancaran melalui gelombang elektromagnetik tertentu tanpa memerlukan media penghantar. 2. Plate and frame exchanger 4. Perpindahan panas dapat berlangsung berdasarkan 3 macam dasar sebagai berikut : 1. Direct contact Neraca panas pada alat penukar panas adalah panas yang dilepaskan oleh fluida panas sama dengan panas yang diterima oleh fluida dingin W Cp ( T1 . Air cooled 5. TUJUAN PERCOBAAN Setelah mengikuti praktikum perpindahan panas. Perpindahan panas secara konduksi. Perpindahan panas secara konveksi. perpindahan panas antara dua fluida biasanya dilakukan dalam alat penukar panas. yaitu perpindahan panas dari satu posisi ke posisi lainnya di dalam fluida secara memancar yang biasanya disertai dengan adanya perpindahan massa (disebabkan adanya difusi ataupun arus Eddy) 3. Menentukan koefisien perpindahan panas keseluruhan 3. Beberapa tipe alat penukar panas antara lain : 1.A. Shell and tube exchanger 3.T2 ) = w cp ( t2 – t1 ) = q Dengan : (1) . Menentukan efisiensi peralatan penukar panas B. yaitu panas secara rambatan yang umumnya terjadi pada benda padat. mahasiswa mampu : 1. Double-pipe exchanger 2. Di industri. Perpindahan panas secara radiasi.

m2 TLMTD = Logarithmic mean temperature difference. kal/jam Persamaan umum untuk perpindahan panas melewati suatu permukaan adalah q = U A TLMTD (2) dengan : q = Laju perpindahan kalor. kg/jam w = Laju aliran massa fluida dingin. Fluida panas 2. BAHAN 1. C q = Laju perpindahan kalor. kal/ (m2 jam C) A = Luas permukaan perpindahan panas. kal/kg C T1. t2 = Temperatur fluida dingin saat masuk dan keluar.W = Laju aliran massa fluida panas. Fluida dingin (4) (5) . C ΔTLMTD  Δt 2  Δt1 ln  t 2  t1   (3) Efisiensi Peralatan Penukar Panas Efisiensi adalah perbandingan kalor yangdipindahkan dari suatu fluida dengan kalor maksimum yangseharusnya dapat dipindahkan ε ε w cp (t 2  t 1 ) w cp (T1  t 1 )  (t 2  t 1 ) (T1  t 1 ) W Cp (T1  T2 ) (T1  T2 )  W Cp (T1  t 1 ) (T1  t 1 ) C. kal/jam U = Koefisien perpindahan panas overall. C t1. T2 = Temperatur fluida panas saat masuk dan keluar. kal/kg C cp = Kalor spesifik fluida dingin. kg/jam Cp = Kalor spesifik fluida panas.

ALAT DAN SKEMA RANGKAIAN ALAT 1. pemanas. Tangki panas dan dingin 3. Hidupkan pompa fluida panas dilanjutkan dengan pompa fluida dingin 4. Catat laju alir. Panaskan fluida yang akan digunakan sebagai fluida panas sampai suhu yang diinginkan. Alat penukar panas 2. Pompa. Atur laju alir fluida panas dan fluida dingin sesuai yang diinginkan 5. Pasang peralatan sesuai dengan gambar 3. suhu masuk dan keluar fluida panas dan dingin saat keadaan steady state . 2. Rangkaian alat praktikum perpindahan panas E. CARA PERCOBAAN 1. flowmeter T indikator Flow indikator Bak Fluida dingin Bak fluida panas Pemanas Gambar 1.D.

6. . Ulangi langkah di atas dengan variasi laju alir 7. Lakukan untuk counter current maupun cocurrent F. LEMBAR PENGAMATAN Percobaan Kelompok Nama Praktikan (NIM) : PERPINDAHAN PANAS : : 1.

U 4.. Menghitung q dari neraca panas 3. Menghitung efisiensi alat penukar panas . tanggal Nama Asisten : Jenis HE Diameter pipa luar (Shell) Diameter pipa dalam (Tube) : Panjang pipa : Jumlah tube (utk shell&tube) : Berat picnometer kosong Berat fluida panas + picno Berat fluida panas Berat fluida dingin + picno Berat fluida dingin : : : : : : : Tabel 1. Menghitung Koefisien perpindahan panas overall. Data untuk Counter Current FLUIDA PANAS Laju alir Suhu Suhu masuk FLUIDA DINGIN Laju alir Suhu Suhu keluar masuk keluar Tabel 2.) G.) masuk keluar Praktikan (…………. Data untuk Cocurrent Laju alir FLUIDA PANAS Suhu Suhu masuk Asisten (…………. Menghitung densitas dan kalor spesifik fluida panas dan fluida dingin 2.) FLUIDA DINGIN Laju alir Suhu Suhu keluar Dosen (…………. Hari. CARA PERHITUNGAN 1..2.

Vol. Tokyo .J.Process Heat Transfer. and Richardson.J. D. 6.. Inc. Pergamon Press.. 1983. New York Kern. McGraw Hill Book Company. Chemical Engineering. DAFTAR PUSTAKA Coulson.H.M. Q.F.1983..