Anda di halaman 1dari 6

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA ANAK CHILD ABUSE


NUR ASNAH SITOHANG
Program Ilmu Keperawatan
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara
BAB I
PENDAHULUAN
Dewasa ini sering kita dengar terjadinya penganiayaan/perlakuan salah terhadap anak, baik
yang dilakukan oleh keluarga ataupun oleh pihak-pihak lain. Dalam bidang kedokteran
sendiri, child abuse ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1860, di Perancis. Dimana 320
orang anak meninggal dengan kecurigaan akibat perlakuan yang salah.
Memang sangat sukar kita percayai bahwa seseorang anak yang seharusnya menjadi
tempat curahan kasih sayang dari orang tua dan keluarganya, malah mendapatkan
penganiayaan sampai harus dirawat di Rumah Sakit ataupun sampai meninggal dunia.
Insidennya :
1. Hampir 3 juta kasus penganiayaan fisik dan seksual pada anak terjadi pada tahun 1992
2. Sebanyak 45 dari setiap 100 anak dapat mengalami penganiayaan
3. Lebih dari 100 anak meninggal setiap tahunnya karena penganiayaan dan pengabaian
4. Penganiayaan seksual paling sering terjadi pada anak perempuan, keluarga tiri, anakanak yang tinggal dengan satu orang tua atau pria yang bukan keluarga
Di Indonesia ditemukan 160 kasus penganiyaan fisik,72 kasusu penganiyaan
mental,dan 27 kasus penganiyaan seksual ( diteliti oleh Heddy Shri Ahimsa Putra,Tahun
1999 ). Sedangkan menurut YKAI didapatkan data pada tahun 1994 tercatat 172 kasus,
tahun 1995 meningkat menjadi 421 dan tahun 1996 menjadi 476 kasus.
Setiap negara bagian mempunyai undang-undang yang menjelaskan tanggung jawab legal
untuk melaporkan jika terdapat kecurigaan penganiayaan anak. Kecurigaan penganiayaan
anak harus dilaporkan ke lembaga layanan perlindungan anak setempat. Pelapor yang diberi
mandat untuk melapor adalah perawat, dokter, dokter gigi, dokter anak, psikologi dan ahli
terapi wicara, peneliti sebab kematian, dokter, karyawan lembaga penitipan anak, pekerja
layanan anak-anak, pekerja sosial, guru sekolah. Kegagalan seseorang untuk melaporkan
orang tersebut didenda atau diberi hukuman lain, sesuai dengan status masing-masing.
Di Indonesia tanggung jawab pelaku pencederaan anak tertera dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang pasalnya berkaitan dengan jenis dan akibat
pencederaan anak.
Kemunculan Undang undang no.23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi
secercah cahaya untuk mengurangi terjadinya child abuse .

2004 Digitized by USU digital library 1

BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1. Defenisi
- Child Abuse : tindakan yang mempengaruhi perkembangan anak sehingga tidak
optimal lagi (David Gill, 1973)
- Child Abuse : perlakuan salah terhadap fisik dan emosi anak, menelantarkan pendidikan
dan kesehatannya dan juga penyalahgunaan seksual (Synder, 1983)
- Child Abuse adalah penganiayaan, penelantaran dan eksploitasi terhadap anak, dimana
ini adalah hasil dari perilaku manusia yang keliru terhadap anak
2.Klasifikasi
Terdapat 2 golongan besar, yaitu :
1) Dalam keluarga
- Penganiayaan fisik, Non Accidental injury mulai dari ringan bruiser laserasi sampai
pada trauma neurologic yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat hukuman
badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun
- Penelantaran anak/kelalaian, yaitu : kegiatan atau behavior yang langsung dapat
menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan
psikologisnya. Kelalaian dapat berupa :
a. Pemeliharaan yang kurang memadai
Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa kehilangan kasih sayang, gangguan
kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
b. Pengawasan yang kurang memadai
Menyebabkan anak gagal mengalami resiko untuk terjadinya trauma fisik dan
jiwa
c. Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan
Kegagalan dalam merawat anak dengan baik
d. Kelalaian dalam pendidikan
Meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu berinteraksi dengan
lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak mencari nafkah untuk
keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah
- Penganiayaan emosional

Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan anak, tidak mengakui


sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu diikuti bentuk penganiayaan
lain
-

Penganiayaan seksual, mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada


seseorang anak untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan sexual yang
nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti : aktivitas seksual (oral genital,
genital, anal atau sodomi) termasuk incest. (The Child Abuse & Prevention Act /
Public Law 100-294).

2) Di luar rumah.
Dalam institusi/lembaga, di tempat kerja, di jalan, di medan perang.
3. Aspek Hukum Pencederaan Anak di Indonesia
Orang tua adalah yang pertama-tama bertanggung jawab atas terwujudnya kesejahteraan
anak baik secara rohani, jasmani, maupun social (Pasal 9 UU No.4/1979), UU No. 12 tahun
2002 menjelaskan tentang penganiayaan fisik pada anak, Di Indonesia tanggung jawab
pelaku pencederaan
2004 Digitized by USU digital library 2

anak tertera dalam Kitab UU hukum pidana (KUHP) yang pasal-pasalnya berkaitan dengan
jenis & akibat pencederaan anak.
Peranan professional khususnya dari yang menangani, menolong, mengobati anak diduga
akibat pencederaan anak, pelaporannya kepada yang berwajib dilindungi UU.
Dalam KUHP penerapan pasal-pasalnya tergantung dari jenis & akibat pencederaannya.
Pencederaan anak yang bersifat penganiayaan dan bersifat menimbulkan cidera fisik
diterapkan dalam pasal 351 ayat 1 (ancaman hukuman penjara paling lama 2 tahun 8
bulan). Ayat 2 bila mengakibatkan luka-luka berat (ancaman hukuman penjara paling
lama 5 tahun). Ayat 3 bila mengakibatkan mati (ancaman hukuman penjara paling lama
7 tahun)
Bagi orang tua sebagai pelaku pencederaan anak (fisik) hukuman dapat ditambah dengan
sepertiga (pasal 356)
Bila pencederaan anak berupa penelantaran sehingga anak terlantar pasal 1 butir 7 tahun
1979, dapat kemungkinan diterapkan. Pasal 301 (ancaman hukuman pidana penjara
paling lama 4 tahun). Pasal 304 (ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun 6 bulan).
Pasal 306 ayat 1 bila mengakibatkan luka (ancaman pidana penjara paling lama 9
tahun). Bagi orang tua sebagai pelaku ancaman pidana pada pasal 305 dan 306 dapat
ditambah dengan 1/3 (pasal 307)
Pencederaan anak bersifat seksual
Pasal yang diterapkan pasal 287 (ancaman pidana penjara paling lama 9 tahun). Pasal
290 butir 3 (ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun).
2004 Digitized by USU digital library 3

4. Faktor-faktor penyebab
Faktor Sosiokultural
Stress berasal dari anak
Fisik berbeda
Mental berbeda
Temperamen berbeda
Tingkah laku berbeda
Anak angkat

Stress keluarga

Kemiskinan
pengangguran mobilitas,
isolasi, perumahan tidak
memadai
Hubungan orang tua
anak stress prenatal,
anak yang tidak
diharapkan premature,
dll
Perceraian

Stress berasal dari


orang tua
Rendah diri
Waktu kecil mendapat
perlakuan salah
Depresi
Harapan pada anak
yang tidak realistis
Kelainan
karakter/gangguan jiwa