Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN

CHRONIC KIDNEY DISEASE (GAGAL GINJAL KRONIS)
DI RUANG 21 RSUD dr. SAIFUL ANWAR MALANG

Disusun Oleh :
PSIK BRAWIJAYA

PROMOSI KESEHATAN RUMAH SAKIT
RSUD Dr SAIFUL ANWAR MALANG
2016

SAIFUL ANWAR .MALANG Oleh : Atikatsani Latifah Rahmi Nurrosyid P Prilly Priskillya Defi Destyaweny Telah diperiksa dan disetujui pada : Hari : Tangga : Pembimbing Lahan _________________________ .LEMBAR PENGESAHAN CHRONIC KIDNEY DISEASE di Ruang 21 RSUD dr.

500 penderita. Setiap tahun penderita penyakit gagal ginjal meningkat. Dari data diatas. dan tahun 2010 mengalami peningkatan yaitu 2 juta orang yang menderita penyakit ginjal. 2013).000 penderita.. pada tahu 2008 jumlah pasien hemodialisa (cuci darah) mencapai 2260 orang dari 2146 orang pada tahun 2007. 22 Januari 2016 Waktu : pukul 09. kami mahasiswa profesi PSIK UB tertarik untuk memberikan penyuluhan tentang Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis .berdasarkan data dari Indonesia Renal Registry..22 %) dan di posisi kedua adalah Kabupaten Sukoharjo yaitu 742 kasus (12. 2013). Gagal gijal kronik secara progresif kehilangan fungsi ginjal nefronnya satu persatu yang secara bertahap menurunkan keseluruhan fungsi ginjal (Sjamsuhidajat & Jong.00 s/d Selesai A.SATUAN ACARA PENYULUHAN Bidang study : Keperawatan Medikal Bedah Topik : Chronic Kidney Disease Sasaran : Pasien.(Roderick. 2008). Sedangkan di Indonesia menurut Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia jumlah yang menderita penyakit gagal ginjal kronik sekitar 50 orang per satu juta penduduk (Lukman et al. Pusat data dan informasi Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PDPERSI) menyatakan jumlah penderita gagal ginjal kronik diperkirakan sekitar 50 orang per satu juta penduduk.50 %). Keluarga Pasien. 2011). Di indonesia peningkatan penderita penyakit ini mencapai angka 20%. Pengunjung Rumah Sakit dan Petugas Kesehatan Tempat : Di Ruang 21 RSU DrSaiful Anwar Hari/tanggal : Jumat. LATAR BELAKANG Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penyakit yang terjadi setelah berbagai macam penyakit yang merusak masa nefron ginjal sampai pada titik keduanya tidak mampu untuk menjalankan fungsi regulatorik dan ekstetoriknya untuk mempertahankan homeostatis (Lukman et al. tahun 2007 80. di Amerika serikat pada tahun 2002 sebanyak 34. suatu kegiatan registrasi dari perhimpunan nefrologi Indonesia. Data Dinkes Jawa tengah (2008) bahwa angka kejadian kasus gagal ginjal di Jawa Tengah yang paling tinggi adalah Kota Surakarta dengan 1497 kasus (25.

keluarga pasien. pengunjung rumah sakit dan petugas kesehatan memahami dan mengetahui: 1. Penyebab Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 3. Penatalaksanaan Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis C.B. Pengertian Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 2. keluarga pasien. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan diharapkan pasien. Ceramah 2. Klasifikasi Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 4. Leaflet tentang Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis . Tanda dan Gejala Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 5. MATERI (terlampir) D. MEDIA 1. Pencegahan Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 8. pengunjung rumah sakit dan petugas kesehatan memahami dan mengetahui tentang Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis C. Komplikasi Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 7. PPT 2. diharapkan pasien. Pemeriksaan Penunjang Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis 6. Diskusi/Tanya jawab E. METODE 1.

F. Terminasi :  Mengucapkan terima kasih atas peran serta peserta.  Mendengarkan  Mengucapkan salam penutup  Menjawab salam . Pelaksanaan :  Memperhatikan  Memperhatikan  Menjawab  Pengertian Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  Penyebab Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  Klasifikasi Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  Tandadangejala Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  Pemeriksaan penunjang Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  Komplikasi Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  Pencegahan Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis  8 menit Penatalaksanaan Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis Evaluasi :  Memberikan kesempatan kepada peserta untuk bertanya.  Menjawab salam  Memperkenalkan diri.  2 menit Memberikan reinforcement positif kepada peserta yang dapat menjawab pertanyaan.  Mendengarkan  Menjelaskan tujuan dari penyuluhan.  pertanyaan Menanyakan kepada peserta tentang materi yang telah diberikan. WAKTU 5 menit 30menit KEGIATAN PENYULUHAN KEGIATAN PESERTA Pembukaan :  Membuka kegiatan dengan mengucapkan salam.  Memperhatikan  Menyebutkan materi yang akan diberikan. KEGIATAN PENYULUHAN No.

maka penyuluhan dianggap berhasil. Misalnya : jumlah peserta penyuluhan 10 orang. Kriteria Evaluasi Proses a. Diharapkan peserta memberikan respon atau umpan balik berupa pertanyaan-pertanyaan 3. media. namun jika kurang dari 8 peserta menjawab pertanyaan dengan benar maka penyuluhan dianggap tidak berhasil. Penyuluhan dikatakan berhasil jika dari total seluruh sasaran yang mengikuti penyuluhan. saat diawal penyuluhan diberikan beberapa pertanyaan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta penyuluhan. Diharapkan peserta antusias terhadap materi penyuluhan d. Pertanyaan yang sama juga diberikan pada akhir penyuluhan. alat bantu. Diharapkan suasana penyuluhan kondusif dan tidak ada peserta yang meninggalkan ruangan saat dilakukan penyuluhan c. Kriteria Evaluasi Hasil Sebelum melakukan penyuluhan pemateri memberikan pertanyaan dasar mengenai Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis. KRITERIA EVALUASI 1. diharapkan telah mempersiapkan terkait materi. Penyuluhmencari literatur mengenai Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis b. Penyuluhan dilakukan dengan sesuai pengorganisasian Moderator : Rahmi Nurrosyid P Fasilitator : Defi Destyaweny Pemateri : Atikatsani Latifah Observer : Prilly Prikillya 2. 80% sasaran dapat menjawab dengan benar. Kriteria Evaluasi Struktur a. serta sarana-prasarana yang digunakan untuk penyuluhan kesehatan dengan matang c. Diharapkan penyuluhan berjalan sesuai rencana b. MATERI PENYULUHAN CHRONIC KIDNEY DISEASE (GAGAL GINJAL KRONIK) . jika 8 dari 10 orang peserta dapat menjawab pertanyaan dengan benar.G. Penyuluh membuat SAP mengenai Chronic Kidney Disease / gagal ginjal kronis. kemudian setelah penyuluhan peserta diberikan pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diberikan sebelum dilakukan penyuluhan.

812). antara lain: 1. Infeksi misalnya pielonefritis kronik 2. Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna. Penyakit peradangan misalnya glomerulonefritis 3. Price 1995. KLASIFIKASI GAGAL GINJAL KRONIS Klasifikasi CKD berdasarkan Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (KDOQI) pada tahun 2002 yaitu: . nefrosklerosis maligna. urine. atau imaging. Chronic kidney disease (CKD) didefinisikan sebagai kerusakan ginjal atau penurunan GFR <60 ml/menit/1. CKD merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat. Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik.biasanya berlangsung beberapa tahun (Brunner & Suddarth. 2001) Gagal ginjal kronik merupakan keadaan dimana ginjal tidak mampu mempertahankan lingkungan internal yang konsisten dengan kehidupan dan pemulihan fungsi tidak dimulai. PENYEBAB GAGAL GINJAL KRONIS Penyebab GGK menurut Price & Wilson (2006) dibagi menjadi delapan kelas. Nefropati obstruktif C. hiperparatiroidisme.nefropati timbal 8. termasukabnormalitas pada pemeriksaan darah. (Suhardjono. poliarteritis nodosa.Kerusakan ginjal yang dimaksud adalah adanya abnormalitas patologis atau adanya marker kerusakan ginjal. PENGERTIAN GAGAL GINJAL KRONIS Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit. amiloidosis yang menyebabkan komplikasi CKD 7. B. Penyakit metabolik misalnya DM. Pada kebanyakan individu transisi dari sehat ke status kronis atau penyakit yang menetap sangat lamban dan menunggu beberapa tahun ( Barbarra C. Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik. stenosis arteria renalis 4.A. gout. Long.sklerosis sistemik progresif 5. Edisi 4 hal. 2002). Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik. menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah).73m2 selama ≥3 bulan.asidosis tubulus ginjal 6.

seseorang yang berada pada stadium 2 juga tidak merasakan gejala karena ginjal tetap dapat berfungsi dengan baik.85 a. d. walaupun dengan GFR yang mulai menurun. Kondisi dimana terjadi penumpukan racun dalam darah atau uremia biasanya muncul pada stadium ini. anemia. Stadium 3 Seseorang yang menderita CKD stadium 3 mengalami penurunan GFR moderat yaitu diantara 30 s/d 59 ml/min. anemia atau keluhan pada tulang. Dengan penurunan pada tingkat ini akumulasi sisa– sisa metabolisme akan menumpuk dalam darah yang disebut uremia. penyakit tulang.Untuk menilai GFR (Glomelular Filtration Rate) / CCT (Clearance Creatinin Test) dapat digunakan rumus :Clearance creatinin (ml/ menit) = (140-umur ) x berat badan (kg) 72 x creatinin serum *) Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0. Pada stadium ini muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). Selain itu besar kemungkinan muncul komplikasi seperti tekanan darah tinggi (hipertensi). c. kardiovaskular lainnya. masalah pada jantung dan penyakit . Stadium 2 Sama seperti pada stadium awal. Stadium 4 Pada stadium ini fungsi ginjal hanya sekitar 15–30% saja dan apabila seseorang berada pada stadium ini sangat mungkin dalam waktu dekat diharuskan menjalani terapi pengganti ginjal/dialisis atau melakukan transplantasi. b. Stadium 1 Seseorang yang berada pada stadium 1 CKD biasanya belum merasakan gejala yang mengindikasikan kerusakan pada ginjal.Kalaupun hal tersebut diketahui biasanya saat penderita memeriksakan diri untuk penyakit lainnya seperti diabetes dan hipertensi.Hal ini disebabkan ginjal tetap berfungsi secara normal meskipun tidak lagi dalam kondisi 100% sehingga banyak penderita yang tidak mengetahui kondisi ginjalnya dalam stadium 1.

Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh. yaitu sebesar 60-89. kram ataupunrestless legs. D.  Rasa sakit pada ginjal. seputar wajah atau tangan. 2) Stadium 2 Seseorang dengan CKD stadium 2 biasanya juga belum merasakan gejala yang menandakan kerusakan ginjal walaupun sudah terdapat penurunan GFR ringan. atau merah apabila bercampur dengan darah.  Sulit tidur: Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal. Stadium 5 Pada stadium ini ginjal kehilangan hampir seluruh kemampuannya untuk bekerja secara optimal.  Kelebihan cairan: Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh. TANDA DAN GEJALA GAGAL GINJAL KRONIS Pasien dengan CKD menunjukkan manifestasi yang berbeda-beda.Untuk itu diperlukan suatu terapi pengganti ginjal (dialisis) atau transplantasi agar penderita dapat bertahan hidup. Penderita GGK pada stadium ini biasanya akan diminta untuk menjaga kecukupan protein namun tetap mewaspadai kadar fosfor yang ada . 1) Stadium 1 Seseorang dengan CKD stadium 1 biasanya belum merasakan gejala yang menandakan kerusakan ginjal karena ginjal masih dapat berfungsi dengan normal. tergantung pada stadium CKD yang dialami. Selain itu sangat disarankan juga untuk meminta bantuan ahli gizi untuk mendapatkan perencanaan diet yang tepat. Selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah malam.gejala terkadang mulai dirasakan seperti:  Fatigue: rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia.  Perubahan pada urin: urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah. 3) Stadium 3 Padastadium ini.  Penderita GGK stadium 3 disarankan untuk memeriksakan diri ke seorang ahli ginjal hipertensi (nephrolog). orannye tua. Dokter akan memberikan rekomendasi terbaik serta terapi – terapi yang bertujuan untuk memperlambat laju penurunan fungsi ginjal. gejala.e.

 Perubahan cita rasa makanan : dapat terjadi bahwa makanan yang dikonsumsi tidak terasa seperti biasanya. seputar wajah atau tangan. kram ataupunrestless legs.dalam makanan tersebut. atau merah apabila bercampur dengan darah.  Sakit kepala. Mengontrol minuman diperlukan selain pembatasan sodium untuk penderita hipertensi. Penderita juga dapat mengalami sesak nafas akaibat teralu banyak cairan yang berada dalam tubuh. yaitu:  Fatique: rasa lemah/lelah yang biasanya diakibatkan oleh anemia. Membatasi karbohidrat biasanya juga dianjurkan bagi penderita yang juga mempunyai diabetes.  Nausea : muntah atau rasa ingin muntah. Rasa sakit sekitar pinggang tempat ginjal berada dapat dialami oleh sebagian penderita yang mempunyai masalah ginjal seperti polikistik dan infeksi.  Sulit berkonsentrasi 5) Stadium 5 (gagal ginjal terminal) Gejala yang dapat timbul pada stadium 5 antara lain:  Kehilangan nafsu makan  Nausea.  Sulit tidur: Sebagian penderita akan mengalami kesulitan untuk tidur disebabkan munculnya rasa gatal. 4) Stadium 4 Gejala yang mungkin dirasakan pada stadium 4 hampir sama dengan stadium 3.  Rasa sakit pada ginjal. Selain itu warna urin juga mengalami perubahan menjadi coklat. Selain itu penderita juga harus membatasi asupan kalsium apabila kandungan dalam darah terlalu tinggi. Hal ini membuat penderita akan mengalami pembengkakan sekitar kaki bagian bawah. .  Kelebihan cairan: Seiring dengan menurunnya fungsi ginjal membuat ginjal tidak dapat lagi mengatur komposisi cairan yang berada dalam tubuh.  Perubahan pada urin: urin yang keluar dapat berbusa yang menandakan adanya kandungan protein di urin. Kuantitas urin bisa bertambah atau berkurang dan terkadang penderita sering trbangun untuk buang air kecil di tengah malam. Tidak ada pembatasan kalium kecuali didapati kadar dalam darah diatas normal.  Bau mulut uremic : ureum yang menumpuk dalam darah dapat dideteksi melalui bau pernafasan yang tidak enak. orannye tua. karena menjaga kadar fosfor dalam darah tetap rendah penting bagi kelangsungan fungsi ginjal.

ekusi perikardial. Pola Makan Sehat Pola makan sehat penting untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan menjaga tekanan darah tetap normal.  Urin tidak keluar atau hanya sedikit sekali. Kedua kondisi ini penting untuk mencegah terjadinya penyakit ginjal kronis. 2002) F. KOMPLIKASI GAGAL GINJAL KRONIS Komplikasi potensial gagal ginjal kronis yang memerlukan pendekatan kolaboratif dalam perwatan mencakup . kadar kalsium serum yang rendah metabolisme vit. terutama di seputar wajah.  Gatal – gatal. dan peningkatan kadar aluminium. (Smeltzer & Bare. Hipertensi ini bias menyebabkan GGK namun juga bisa lebih memperparah hipertensi yang sudah ada. katabolisme dan masukkan diet berlebihan. dan kehilangan darah selama hemodalisis 5. 2. Hiperkalemia akibat penurunana ekskresi asidos metabolik.  Tidak mampu berkonsentrasi.  Bengkak. Konsumsilah makanan berimbang meliputi banyak sayuran dan buah segar. 2001) a. penurunan rentang usia sel darah merah. PENCEGAHAN GAGAL GINJAL KRONIS Umumnya penyakit ini tidak dapat dicegah sepenuhnya meski dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko berkembangnya penyakit ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD). anemia akibat penurunan eritropoetin. D abnormal. Merasa lelah. mata dan pergelangan kaki. perdarahan gastrointestinal akibat iritasi oleh toksin. Penyakit tulang kalsifikasi metastatik akibat retensi fostat. (Supartondo. 3. dan tamponade jantung akibat retensi produk sampah uremik dan dialisis yang tidak adekuad. 1. atau disebut hipertensi malignansi 4. . Hipertensi akibat retensi cairan dan natrium serta malfungsi sistem reninangiotensin-aldosteron. Peridarkitis.  Kram otot  Perubahan warna kulit E.

mentega. kenali faktor resiko penyakit ginjal Penyakit kronis (bersifat menetap dalam jangka panjang). merokok dan mengonsumsi minuman keras dapat memperburuk kondisi gangguan ginjal yang sudah terjadi. neuropati perifer. PENATALAKSANAAN ATAU PENANGANAN MEDIS GAGAL GINJAL KRONIS a. uremic frost. d.5 kaleng bir berkadar alkohol 4. dapat berpotensi menyebabkan gangguan ginjal kronis. Olahraga Teratur Naiknya tekanan darah dan risiko berkembangnya CKD dapat diminimalkan dengan olahraga teratur. Gambaran klinis  Sesuai penyakit yang mendasari seperti DM. terlalu banyak garam juga akan meningkatkan tekanan darah. keju. Sebaliknya. c. kelebihan volume cairan. perjalanan penyakit termasuk semua faktor yang dapat memperburuk faal ginjal (LFG). Penting untuk membatasi konsumsi garam tidak lebih dari 6 gram sehari yang setara dengan satu sendok teh penuh. Disarankan untuk menjalankan aktivitas aerobik dengan intensitas menengah seperti berenang atau lari pagi selama setidaknya 2 -3 jam tiap minggu. Lupus Eritematosus Sistemik (LES). avocad. minyak biji sesawi. Hindari Rokok dan Minuman Keras Selain meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. nokturia. seperti diabetes. Pastikan Anda tidak mengonsumsi lebih dari 2-2.Selain itu.7% per hari. kontrol kadar kolesterol dengan menghindari makanan kaya lemak jenuh tinggi seperti goreng-gorengan. etiologi GGK. biskuit. mual muntah. kue. kejang sampai koma). antara lain minyak ikan. minyak bunga matahari. infeksi traktus urinarius. letargi. Selain itu. Tiap tahun. santan kelapa. e. disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya lemak tidak jenuh yang dapat mengurangi kadar kolesterol. Konsumsi obat anti-inflamasi non-steroid seperti aspirin dan ibuprofendalam dosis berlebih dapat menyebabkan gangguan ginjal. serta makanan-makanan yang mengandung minyak kelapa atau minyak sawit. G. minyak zaitun. Anamnesis dan pemeriksaan fisik Anamnesis harus terarah dengan mengumpulkan semua keluhan yang berhubungan dengan retensi atau akumulasi toksin azotemia. Selain meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. . Gambaran klinik (keluhan subjektif dan objektif termasuk kelainan laboratorium) mempunyai spektrum klinik luas dan melibatkan banyak organ dan tergantung dari derajat penurunan faal ginjal. Waspada Diabetes. Sindrom uremia ( lemah. Ikuti saran dokter dan lakukan langkah-langkah untuk menjaga kondisi tubuh. Baca Petunjuk Obat Pastikan mengikuti petunjuk pemakaian jika memang harus mengonsumsi obat pereda sakit. pengidap diabetes disarankan untuk memeriksakan fungsi ginjalnya. kacang dan biji-bijian. mengonsumsi minuman keras secara berlebihan akan meningkatkan tekanan darah Anda. hipertensi. b.  hiperurikemi. anoreksia. pruritus. perikarditis.

khlorida) . anemia. osteodistorfi renal. Sekobarbita 30-50 mg (i. Muntah. kalium. payah jantung.5 mEq/L  Berat (severe) : > 7. mual. pucat. Asidosis Metabolik o Koreksi intravenous jika PH<7. gangguan keseimbangan elektrolit (sodium. menggunakan syring pump  kalitake berfungsi untuk menghambat penyerapan kalium dalam usus o sehingga penurunannya cepat Berat : . kejang 5. muntah.3 x BB (kg) x [def HCO3 (mEq/L x 0. sesak. 10%.v bolus dalam 3-5 - menit sebagai kompetitor Na-bik 45-90 mEq/L i. Overhidrasi Tanda : o Sesak o Napas kusmaul  Asidosis metabolic o RBH (+) o Suara dasar vesikuler o JIka parah : Batuk darah (Pink Frothy) akan berlanjut menjadi hemptoe (warna mera cerah) 3.5 mEq/L Penanganan : o Rendah : koreksi dengan kalitake 3x1 sachet o Sedang : koreksi dengan kalitake (Ion Exchange resin) 3x2 sachet.Ca Gluc. Hiperkalemi Klasifikasi:  Ringan (Mild) : 5. asidosis metabolik. Kejang Th/ : Diazepam 5-10 mg.0084] o Bila tidak berhasil dilakukan dialysis 2.5 – 6.5 mEq/L  Sedang (Moderate) : 6.1 o HCO3 < 12 o JIka HCO3 13 -18 maka dilakukan koreksi dengan tablet biknat 3x500mg o Koreksi biknat : blind bolus 50 mEq (encerkan dulu 1:1) o Drip 200 cc D5 (tetes 20x/menit) o Rumus Na-Bik = 0. 0. Perdarahan 7. Syndrom Uremia Mual.5 – 7. D40  Kenapa insulin? Insulin dapat memasukan kalium intravaskuler ke dalam intra sel sehingga kalium intra sel dapat meningkat. Krisis Hipertensi Diagnosis : Anamnesis : Lemas.Insulin 10 unit + 2 fl.5 ml/ kgBB (10-20 ml) i. Kegawatan CKD 1.  Pemberian insulin ini abis dlm waktu 6-8jam  Pemberian insulin dapat mengakibatkan hipoglikemi sehingga harus ditambah dengan D40 . Gejala komplikasi seperti hipertensi. BAK kurang .v) 4.v blus beberapa menit (ssi analisis BGA) 6.

ultrasonografi (USG). elektrolit dan imunodiagnosis. elektrolit. Def.Etiologi gagal ginjal kronik (GGK) Analisis urin rutin. pielografi retrograde. 2) Diagnosis pemburuk faal ginjal Pemeriksaan radiologi dan radionuklida (renogram) dan pemeriksaan ultrasonografi (USG) 3) Diagnosis Radiologis  FPA. Blood loss. mikrobiologi urin. c. yaitu foto polos perut. a. c. dan pemeriksaan lain berdasarkan indikasi terutama faktor pemburuk faal ginjal (LFG). HT emergency : dibutuhkan penurunan TD segera-parenteral Kerusakan organ target b. Pemeriksaan laboratorium Tujuan pemeriksaan laboratorium yaitu memastikan dan menentukan derajat penurunan faal ginjal (LFG). pengambilan sample 4. intake kurang Krisis Hipertensi : keadaan HT yang membutuhkan penurunan TD segera karena akan mempengaruhi keadaan pasien selanjutnya a. yaitu: 1) Diagnosis etiologi GGK Beberapa pemeriksaan penunjang diagnosis. umur eritrosit pendek karena uremia 5. inhibitor eritropoesis 6.Pemeriksaan faal ginjal (LFG) Pemeriksaan ureum. endokrin. kreatinin serum dan asam urat serum sudah cukup memadai sebagai uji saring untuk faal ginjal (LFG). perdarahan GIT. edema tungkai-palpebra. tanda-tanda bendungan Laboratorium DD/ : GGA : Gangguan fungsi ginjal Trias CKD :  Azotemia  Anemia  HT Anemia pada CKD 1.PF : Anemis. kimia darah. b. HT urgency : Penurunan TD beberapa jam (24 jam) – oral Tidak disertai kerusakan organ b. Fe 3. hemopoiesis. identifikasi etiologi dan menentukan perjalanan penyakit termasuk semua faktor pemburuk faal ginjal. bisa tampak radio opak .Pemeriksaan laboratorium untuk perjalanan penyakit Progresivitas penurunan faal ginjal. nefrotomogram. pielografi antegrade dan Micturating Cysto Urography (MCU). kulit kering. Pemeriksaan penunjang diagnosis Pemeriksaan penunjang diagnosis harus selektif sesuai dengan tujuannya. Defisiensi eritropoetin : Produksi kurang 2.

prognosis. ditunjukkan dengan kebutuhan ESA yang lebih sedikit setelah pasien menerima suplemen zat besi. Hipertensi ditangani dengan medikasi antihipertensi kontrol volume intravaskuler. dan mengevaluasi terapi yg diberikan. khawatir pengaruh toksik oleh kontras terhadap ginjal yang sudah   mengalami kerusakan Pielografi antegrad dan retrograd sesuai indikasi USG ginjal. Biasanya cairan diperbolehkan 300-600 ml/24 jam. daging) di mana makanan tersebut dapat mensuplai asam amino untuk perbaikan dan pertumbuhan sel. digitalis atau dobutamine dan dialisis. Anemia Penatalaksanaan anemia dengan rekombinan erythropoiesis-stimulating agents (ESAs) dapat memperbaiki kondisi pasien CKD dengan anemia secara signifikan. tubuh juga memerlukan banyak zat besi sehingga dapat terjadi defisiensi zat besi. Protein yang dikonsumsi harus bernilai biologis (produk susu. karena tubuh membentuk banyak sel darah merah. kista.Pemberian vitamin juga penting karena pasien dialisis mungkin kehilangan vitamin larut air melalui darah sewaktu dialisa. telur.macam dari penanganan Gagal Ginjal Kronis: a) Konservatif Diet TKRP (Tinggi Kalori Rendah Protein) Protein dibatasi karena urea.0 gr/dL. diit rendah natrium.ESAs harus diberikan untuk mencapai dan mempertahankan konsentrasi hemoglobin 11. asam urat dan asam organik merupakan hasil pemecahan protein yang akan menumpuk secara cepat dalam darah jika terdapat gangguan pada klirens renal. kalsifikasi  Pemeriksaan pemindaian ginjal atau renografi bila ada indikasi 4) Biopsi dan Pemeriksaan Histopatologi Ginjal Dilakukan pada pasien dengan ukuran ginjal yg masih mendekati normal. Pasien juga harus menerima suplemen zat besi selama menerima terapi ESA karena erythropoiesis yang diinduksi secara farmakologis dibatasi oleh supply zat besi. massa. terapi. namun suplemen natrium bikarbonat pada dialisis mungkin diperlukan untuk mengoreksi asidosis. Pielografi intravena ( jarang ) karena kontras sering tidak bisa melewati filter glomerulus.0 sampai 12. Selain itu. Asidosis metabolik pada pasien CKD biasanya tanpa gejala dan tidak perlu penanganan. adanya hidronefrosis atau batu ginjal. b) Simptomatik 1.Serum ferritin dan persen transferrin saturation mengalami penurunan setelah 1 minggu terapi ESA pada pasien dengan . 2. Berikut adalah macam. memperlihatkan ukuran ginjal yang mengecil. Kalori untuk mencegah kelemahan dari Karbohidrat dan lemak. dimana diagnosis secara noninvasif tidak bisa ditegakkan. Gagal jantung kongestif dan edema pulmoner perlu pembatasan cairan. Tujuannya mengetahui etiologi. korteks menipis. diuretik.

dan prinsip dasar kedua teknik itu sama. c) Terapi Pengganti 1. Dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan atau CAPD Dialisis peritoneal adalah metode cuci darah dengan bantuan membran selaput rongga perut (peritoneum).CKD yang menerima dialysis. Ginjal yang dicangkokkan berasal dari dua sumber. b. Darah mengalir melalui ginjal yang baru yang akan membuat urin seperti ginjal saat masih sehat atau berfungsi. Hemodialisis klinis di rumah sakit . a. Transplantasi ginjal merupakan prosedur menempatkan ginjal yang sehat berasal dari orang lain kedalam tubuh pasien gagal ginjal. Ginjal yang baru mengambil alih fungsi kedua ginjal yang telah mengalami kegagalan dalam menjalankan fungsinya. Transplantasi Ginjal Transplantasi ginjal adalah terapi yang paling ideal mengatasi gagal ginjal karena menghasilkan rehabilitasi yang lebih baik disbanding dialysis kronik dan menimbulkan perasaan sehat seperti orang normal. Hemodialisis dan dialysis merupakan dua teknik utama yang digunakan dalam dialysis. yaitu donor hidup atau donor yang baru saja meninggal (donor kadaver).Karena pasien CKD mengalami gangguan metabolism zat besi.CAPD merupakan suatu teknik dialisis kronik dengan efisiensi rendah sehingga perlu diperhatikan kondisi pasien terhadap kerentanan perubahan cairan (seperti pasien diabetes dan kardiovaskular). serum ferritin dan persen transferrin saturation harus dipertahankan lebih tinggi daripada individu normal. Cuci Darah (dialisis) Dialisis adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari satu kompartemen cair menuju kompartemen cair lainnya. 2. dan persen transferrin saturation ≥20%.Seorang ahli bedah menempatkan ginjal yang baru (donor) pada sisi abdomen bawah dan menghubungkan arteri dan vena renalis dengan ginjal yang baru. sehingga darah tidak perlu lagi dikeluarkan dari tubuh untuk dibersihkan seperti yang terjadi pada mesin dialisis.Maintenance serum ferritin yang disarankan yaitu ≥200 ng/mL.Sebagian besar pasien CKD membutuhkan suplementasi zat besi parenteral untuk mencapai kadar zat besi yang disarankan. difusi solute dan air dari plasma ke larutan dialisis sebagai respons terhadap perbedaan konsentrasi atau tekanan tertentu.

gradien ini dapat di tingkatkan meleui tekanan negatif yang di kenal dengan ultrafiltrasi. Tekanan negatif ini di terapkan pada alat ini sebagai kekuatan penghisap pada membran dan memfasilitasi pengeluran air karena pasien tidak dapat mengekresikan ari kekuatan ini di perlukan untuk mengeluarkan cairan hingga isovolemia(keseimbangan cairan).  Air yang berlebihan akan di keluarkan dari tubuh melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat di kendalaikan dengan menciptakan gradien tekanan dengan kata lain. yaitu: difusi.Pada hemodialisis. osmosis. Penatalaksanaan pasien yang menjalani hemodialisis jangka panjang  Diet dan massalah cairan tercapai .Cara yang umum dilakukan untuk menangani gagal ginjal di Indonesia adalah dengan menggunakan mesin cuci darah (dialiser) yang berfungsi sebagai ginjal buatan. Terdapat tiga prinsip yang mendasari kerja hemodialisis. air bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih tinggi (tubuh pasien) ke tekanan yang loebih rendah (cairan dialisat). dan ultrafiltrasi.  Toksin dan zat limbah di keluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah yang memilki konsentrasi tinggi ke cairan yang konsentrasi rendah. Hemodialisis Hemodialisis (HD) adalah cara pengobatan / prosedur tindakan untuk memisahkan darah dari zat-zat sisa / racun yang dilaksanakan dengan mengalirkan darah melalui membran semipermiabel dimana zat sisa atau racun ini dialihkan dari darah ke cairan dialisat yang kemudian dibuang. aliran darah yang penuh dengan toksik dan sisa nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke dialiser tempat darah tersebut di bersihkan dan kemudian di kembalikan lagi ke tubuh pasien. sedangkan darah kembali ke dalam tubuh sesuai dengan arti dari hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memindahkan Tujuan hemodialisis adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari darah dan mengeluarkan air yang berlebihan.

5. Apabila ginajal yang rusak tidak mampu mengekresikan produk akhir metabolisme. Kram otot yang nyeri terjadi ketikacairan dan elektrolit dengan cepat meningglkan ruang ekstrasel. Emboli udara merupakan komplikasi yang jarang tetapi dapat saja terjadi jika udara memasuki sistem vaskuler pasien.Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisis mengingat adanya efek uremia. 7. 6. Pruritus dapat terjadi selama terapi dialisis ketika produk akhir metabolisme meninggalkan kulit. Hipotensi dapat terjadi selama terapi dialisis ketika cairan di keluarkan. . Komplikasi terapi dialisis sendiri dapat mencakup hal-hal berikut: 1. subtansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun atau toksin yang di kenal dengan gejala uremik. 4. 2.  Pertimbangan medikasi Banyak obat yang dieksresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Nyeri dada dapat terjadi karena pCO2menurun bersamaan dengan terjadinya sirkulasi darah di luar tubuh. Mual dan muntah merupakan peristiwa yang sering terjadi. 3. Gangguan keseimbangan dialisis terjadi karena perpindahan cairan serebral dan muncul sebagai serangan kejang. Pasien yang memerlukan obat-obatan harus di pantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-oabatan dalam darah dan jaringan dapat di pertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik.

I.kejadian. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.Harrison’s Principles of Internal Medicine..int/publication//AB%20AGUSS. Jilid II. diagnosis. 73(3): 289-97 . United States of America: McGraw-Hill Companies. M. 2000 Fauci et al. A. Bandung: Yayasan Alumni Pendidikan Keperawatan Nettina.. 2006. Alih bahasa:Kariasa.E. Perawatan Medikal Bedah. 2001. Brenda G. Angka Kejadian Sakit Ginjal di Indonesia. Olva. Penerbit Buku Kedokteran. Barbara C. 2008.C. 2008. Adam.angka. Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. 2001.00 WIB Doengoes.. M.. treatment. Suzanne C. Anemia in chronic kidney disease:Causes.DAFTAR PUSTAKA Djoko. (Volume 2). Jakarta. http://www. dkk. Jakarta. Edisi Ketiga. Santoso. Penerjemah: Karnaen. EGC. dkk. Geissler. Jakarta: EGC. Nursing care plans: Guidelines for planning and documenting patients care. Long. FK UI. Inc. 2001..Jakarta : EGC Nurko. Cleveland Clinic Journal of Medicine. Smeltzer. Sylvia A dan Lorraine M Wilson.htm di unduh pada tanggal 17 Januari 2016 pukul 19. Pedoman Praktik Keperawatan. Bare. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Lippincott Williams & Wilkins Suhardjono. Brunner & Suddarth Textbook of Medical Surgical Nursing 10th Edition.2006. 17th Edition. Jakarta : Balai Penerbit FKUI Price.M.F. Sandra M. 1996.. 2005. Moorhouse. Saul. Supartondo. Gagal Ginjal Kronik.