Anda di halaman 1dari 1

Public Privat Partnership

KENDALA PENERAPAN PUBLIC PRIVATE PARTNERSHIP DI INDONESIA
Dalam membiayai pembangunan, pemerintah mengakui memiliki keterbatasan dalam hal
pendanaan. Salah satu solusi atas masalah tersebut adalah penerapan Public Private Partnership
dalam pembiayaan pembangunan. Beberapa negara dinilai telah berhasil dalam menerapkan Public
Private Partnership antara lain Korea Selatan, Jepang, Belanda dan Inggris. Di dalam negeri,
penerapan Public Private Partnership telah dimulai untuk beberapa proyek. Namun demikian,
terdapat beberapa kendala dimana Public Private Partnership dianggap masih sulit dilaksanakan di
Indonesia, antara lain dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Kepastian Hukum
Dalam penerapan Public Private Partnership, pihak investor tentunya membutuhkan kepastian
hukum berkenaan dengan pelaksanaan proyek terutama dalam hal proyek multiyears. Keadaan
politik Indonesia yang cenderung rentan perubahan dinilai belum dapat memberikan kepastian
hukum yang dibutuhkan para calon investor. Peraturan yang tumpang tindih serta ego sektoral
yang masih kental di kalangan kementerian dan lembaga juga menambah faktor penyebab tidak
idealnya Public Private Partnership untuk diterapkan.
2. Birokrasi
Meskipun beberapa kementerian telah melakukan reformasi birokrasi, namun kualitas birokrasi
di Indonesia, tidak dapat dipungkiri masih cenderung rumit, berbelit-belit dan tidak cepat.
Pengeluaran ijin-ijin terkait dengan proyek yang tidak mudah merupakan salah satu contoh
bagaimana birokrasi dapat menghambat penerapan Public Private Partnership di Indonesia.
3. Insentif
Konsep Public Private Partnership secara sederhana merupakan kerjasama swasta dalam
penyediaan dana dan pelaksanaan proyek, dengan pemerintah dalam memberikan regulasi dan
insentif-insentif yang menguntungkan kedua belah pihak. Salah satu contoh insentif yang cukup
sensitif adalah pajak. Bentuk insentif pajak yang ditawarkan pemerintah disinyalir belum begitu
menarik minat investor untuk melakukan kerja sama Public Private Partnership.
4. Return
Dalam beberapa kasus, investor menilai ROI dan ROE yang ditawarkan pemerintah nampaknya
belum dapat mencapai kata sepakat. Tingkat pengembalian atas investasi dianggap tidak cukup
menarik bagi pihak swasta. Perlu diingat bahwa sektor swasta cenderung berbentuk entitas
profit-oriented. Meskipun tujuan penerapan Public Private Partnership untuk pengadaan aset
memiliki salah satu tujuan untuk memberikan barang atau layanan publik untuk masyarakat,
namun sudut pandang bisnis hendaknya tetap dijadikan pertimbangan pemerintah dalam
mengemas tawaran proyek Public Private Partnership.
5. Manajemen Aset
Manajemen aset Indonesia belum memiliki akuntabilitas publik yang baik. Mental hazard
beberapa oknum serta ego sektoral yang cenderung masih tinggi tentunya menghambat proses
perbaikan-perbaikan system yang dilakukan oleh kementerian terkait antara lain DJA dan DJKN.
Dibutuhkan system pengelolaan aset yang baik sebagai bentuk efisiensi dan efektifitas dalam
siklus hidup aset. Public Private Partnership yang cenderung diterapkan pada proyek dengan
dana besar akan terasa sia-sia dan sangat disayangkan apabila tidak diimbangi dengan
pengelolaan aset yang baik.
Pentingnya penerapan Public Private Partnership dalam proyek pemerintah dilihat dari
manfaatnya hendaknya menjadi salah satu fokus pemerintah dalam melakukan assessment guna
memperbaiki kualitas kelembagaan dan daya jual proyek Public Private Partnership. Dalam
menyusun Cost Benefit Analysis, pemerintah juga diharapkan dapat melihat kepentingan yang lebih
luas, yaitu kepentingan negara dibandingkan dengan ego sektoral atau kepentingan oknum tertentu.
Namun demikian, upaya-upaya perbaikan dalam rangka enhancement penerapan Public Private
Partnership untuk pembangunan merupakan bentuk kesungguhan dan keterbukaan pemerintah
menuju Indonesia yang lebih baik.
Prima Pribadi Putra - 144060005957

9D-27_D-IV Akuntansi Khusus