Anda di halaman 1dari 15

SEJARAH

KERAJAAN BANTEN
PRESENTED BY :
NUR HIKMAH PURNAMA SARI
XII-IPA
SMAN 1 KELUA

Perkembangan
Awal Kerajaan
Banten

Pemerintahan
- Raja-raja yang
berkuasa
- Puncak Kejayaan
-Penurunan dan
Penghapusan
kesultanan

Letak Kerajaan

Kehidupan sosial
-Agama
-Perekonomian

Perkembangan Awal
Kerajaan Banten
Semula
Banten
menjadi
daerah
kekuasaan Kerajaan
Pajajaran. Rajanya (Samiam) mengadakan hubungan
dengan Portugis di Malaka untuk membendung meluasnya
kekuasaan Demak. Namun melalui, Faletehan, Demak
berhasil menduduki Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.
Pada tahun 1552 M, Faletehan menyerahkan pemerintahan
Banten
kepada
putranya,Hasanuddin.
Di
bawah
pemerintahan Sultan Hasanuddin (1552-1570 M), Banten
cepat berkembang menjadi besar. Wilayahnya meluas
sampai ke Lampung, Bengkulu, dan Palembang.
Pada awalnya kawasan Banten juga dikenal dengan Banten
Girang merupakan bagian dari kerajaan sunda. Kedatangan
pasukan Kerajaan Demak di bawah pimpinan Maulana
Hasanuddin ke kawasan tersebut selain untuk perluasan
wilayah juga sekaligus penyebaran dakwah Islam. Kemudian
dipicu oleh adanya kerjasama Sunda-Portugal dalam bidang
ekonomi dan politik, hal ini dianggap dapat membahayakan
kedudukan Kerajaan Demak selepas kekalahan mereka
mengusir Portugal dari Melaka tahun 1513..

Selain mulai membangun benteng pertahanan di


Banten, Maulana Hasanuddin juga melanjutkan
perluasan kekuasaan ke daerah penghasil lada di
Lampung. Ia berperan dalam penyebaran Islam di
kawasan tersebut, selain itu ia juga telah
melakukan
kontak
dagang
dengan
raja
Malangkabu (Minangkabau, Kerajaan Inderapura),
Sultan Munawar Syah dan dianugerahi keris oleh
raja tersebut.
Seiring dengan kemunduran Demak terutama
setelah meninggalnya Trenggana,Banten yang
sebelumnya vazal dari Kerajaan Demak, mulai
melepaskan diri dan menjadi kerajaan yang
mandiri.

LETAK KERAJAAN

Secara Geografis, kerajaan banten terletak di daerah


Jawa Barat bagian utara . Kerajaan Banten menjadi
penguasa jalur pelayaran dan perdagangan yang
melalui Selat Sunda. Dengan posisi yang strategis
inilah, Kerajaan Banten berkembang menjadi sebuah
kerajaan besar di jawa Barat dan bahkan menjadi
saingan berat VOC (Belanda) yang berkedudukan di
Batavia.

PEMERINTAHAN
Raja-Raja Yang Berkuasa
Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin
1552 - 1570
Maulana Yusuf atau Pangeran Pasareyan
1570 - 1585
Maulana Muhammad atau Pangeran Sedangrana
1585 - 1596
Sultan Abu al-Mafakhir Mahmud Abdulkadir atau
Pangeran Ratu 1596 - 1647
Sultan Abu al-Ma'ali Ahmad
1647 - 1651
Sultan Ageng Tirtayasa atau Sultan Abu al-Fath
Abdul Fattah 1651-1682
Sultan Haji atau Sultan Abu Nashar Abdul Qahar
1683 - 1687
Sultan Abu Fadhl Muhammad Yahya
1687 - 1690

Sultan Abul Mahasin Muhammad Zainul Abidin


1690 - 1733
Sultan Abul Fathi Muhammad Syifa Zainul Arifin
1733 - 1747
Ratu Syarifah Fatimah
1747 - 1750
Sultan Arif Zainul Asyiqin al-Qadiri
1753 - 1773
Sultan Abul Mafakhir Muhammad Aliuddin
1773 - 1799
Sultan Abul Fath Muhammad Muhyiddin
Zainussalihin 1799 - 1803
Sultan Abul Nashar Muhammad Ishaq
Zainulmutaqin 1803 - 1808
Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin
Zainussalihin 1809 - 1813

Puncak Kejayaan
Kerajaan Banten
Masa Sultan Ageng Tirtayasa (bertahta 1651-1682)
dipandang sebagai masa kejayaan Banten. Di bawah
Kepemimpinan dia:
Banten memiliki armada yang mengesankan, dibangun
atas contoh Eropa, serta juga telah mengupah orang
Eropa bekerja pada Kesultanan Banten.
Dalam mengamankan jalur pelayarannya Banten juga
mengirimkan armada lautnya ke Sukadana atau
Kerajaan Tanjungpura (Kalimantan Barat sekarang)
dan menaklukkannya tahun 1661.
Pada masa ini Banten juga berusaha keluar dari
tekanan yang dilakukan VOC, yang sebelumnya telah
melakukan blokade atas kapal-kapal dagang menuju
Banten.

Penurunan dan
Penghapusan Kesultanan

Bantuan dan dukungan VOC kepada Sultan Haji


mesti dibayar dengan memberikan kompensasi
kepada VOC di antaranya pada 12 Maret 1682,
wilayah Lampung diserahkan kepada VOC, seperti
tertera dalam surat Sultan Haji kepada Mayor Issac
de Saint Martin, Admiral kapal VOC di Batavia yang
sedang berlabuh di Banten.

Setelah meninggalnya Sultan Haji tahun 1687, VOC


mulai
mencengkramkan
pengaruhnya
di
Kesultanan Banten, sehingga pengangkatan para
Sultan Banten mesti mendapat persetujuan dari
Gubernur Jendral Hindia-Belanda di Batavia.

Perang saudara yang berlangsung antara sultan


ageng dan sultan Haji di Banten meninggalkan
ketidakstabilan pemerintahan masa berikutnya.

Konfik antara keturunan penguasa Banten maupun


Kesultanan Banten resmi dihapuskan tahun 1813
oleh pemerintah kolonial Inggris.[21] Pada tahun
itu, Sultan Muhammad bin Muhammad Muhyiddin
Zainussalihin dilucuti dan dipaksa turun tahta oleh
Thomas Stamford Raffles. Peristiwa ini merupakan
pukulan pamungkas yang mengakhiri riwayat
Kesultanan Banten.
Sejarah Itu asyik
khaaaannn ??

Kehidupan Sosial
Agama

Berdasarkan data arkeologis, masa awal masyarakat


Banten dipengaruhi oleh beberapa kerajaan yang
membawa
keyakinan
Hindu-Budha,
seperti
Tarumanagara, Sriwijaya dan Kerajaan Sunda.

Islam menjadi pilar pendirian Kesultanan Banten, Sultan


Banten dirujuk memiliki silsilah sampai kepada Nabi
Muhammad, dan menempatkan para ulama memiliki
pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakatnya,
seiring itu tarekat maupun tasawuf juga berkembang di
Banten. Sementara budaya masyarakat menyerap Islam
sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Beberapa tradisi
yang ada dipengaruhi oleh perkembangan Islam di
masyarakat, seperti terlihat pada kesenian bela diri
Debus.

Kadi memainkan peranan penting dalam pemerintahan


Kesultanan Banten, selain bertanggungjawab dalam
penyelesaian sengketa rakyat di pengadilan agama, juga
dalam penegakan hukum Islam seperti hudud.

Toleransi umat beragama di Banten, berkembang


dengan baik. Walau didominasi oleh muslim,
namun
komunitas
tertentu
diperkenankan
membangun sarana peribadatan mereka, di mana
sekitar tahun 1673 telah berdiri beberapa klenteng
pada kawasan sekitar pelabuhan Banten.

Ini salah satu Lukisan litograf Masjid Agung Banten


pada kurun 1882-1889.

PEREKONOMIAN
Dalam meletakan dasar pembangunan ekonomi
Banten, selain di bidang perdagangan untuk daerah
pesisir, pada kawasan pedalaman pembukaan sawah
mulai diperkenalkan.
Pada masa Sultan Ageng antara 1663 dan 1667
pekerjaan
pengairan
besar
dilakukan
untuk
mengembangkan pertanian. Di bawah Sultan Ageng,
perkembangan
penduduk
Banten
meningkat
signifikan.
Tak dapat dipungkiri sampai pada tahun 1678,
Banten telah menjadi kota metropolitan, dengan
jumlah penduduk dan kekayaan yang dimilikinya
menjadikan Banten sebagai salah satu kota terbesar
di dunia pada masa tersebut.