Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Parkinson merupakan salah satu gangguan neurologis yang paling
umum terjadi, dan merupakan penyakit neurodegeneratif kedua paling sering
dijumpai setelah penyakit Alzheimer.1
Penyakit Parkinson termasuk movement disorder terbanyak pada populasi
dengan usia diatas 65 tahun. Berbagai gejala penyakit Parkinson, antara lain tremor
waktu istirahat, telah dikemukakan sejak Glen tahun 138-201, bahkan berbagai
macam tremor sudah digambarkan tahun 2500 SM oleh bangsa India. Namun Dr.
James Parkinson pada tahun 1817 yang pertama kali menulis deskripsi gejala
penyakit Parkinson dengan rinci dan lengkap kecuali kelemahan otot sehingga
disebutnya paralysis agitans. Pada tahun 1894, Blocg dan Marinesco menduga
substansia nigra sebagai lokus lesi, dan tahun 1919 Tretiakoff menyimpulkan dari
hasil penelitian post mortem penderita penyakit Parkinson pada disertasinya bahwa
ada kesamaan lesi yang ditemukan yaitu lesi disubstansia nigra. Lebih lanjut, secara
terpisah dan dengan cara berbeda ditunjukkan Bein, Carlsson dan Hornykiewicz
tahun 1950an, bahwa penurunan kadar dopamine sebagai kelainan biokimiawi yang
mendasari penyakit Parkinson.1,2
Prevalensi Parkinson meningkat seiring dengan penambahan usia serta
memiliki angka prevalensi yang lebih tinggi pada pria dibanding wanita. Insiden
penyakit Parkinson diperkirakan mengalami peningkatan hingga 25-30% pada 25
tahun kedepan.2,3
Penyakit Parkinson memiliki dampak yang luas, baik terhadap pasien,
keluarga, mupun tenaga medis yang merawat pasien. Parkinson juga berdampak
terhadap quality of life pasien, dimananya terjadi keterbatasan pasien dalam
melakukan kegiatan sehari-harinya.

BAB II
PENYAKIT PARKINSON

I.

DEFINISI
Terdapat dua istilah yang perlu dibedakan yaitu penyakit parkinson dan

parkinsonism. Penyakit Parkinson atau sindrom Parkinson (Parkinsonism) merupakan


suatu penyakit neurodegeneratif/sindrom karena gangguan pada ganglia basalis akibat
penurunan atau tidak adanya pengiriman dopamine dari substansia nigra ke globus
palidus/ neostriatum (striatal dopamine deficiency).4
Parkinsonism adalah suatu sindrom yang ditandai oleh tremor waktu istirahat,
rigiditas, bradikinesia, dan hilangnya refleks postural akibat penurunan kadar
dopamine dengan berbagai macam sebab. Sindrom ini sering disebut sebagai Sindrom
Parkinson.2
II.

EPIDEMIOLOGI
Penyakit Parkinson terjadi di seluruh dunia, jumlah penderita antara pria dan

wanita seimbang, 510 % orang yang terjangkit penyakit Parkinson. Gejala awalnya
muncul sebelum usia 40 tahun, tapi rata-rata menyerang penderita pada usia 65 tahun.
Secara keseluruhan, pengaruh usia pada umumnya mencapai 1 % di seluruh dunia
dan 1,6 % di Eropa, meningkat dari 0,6 % pada usia 6064 tahun sampai 3,5 % pada
usia 8589 tahun. Di Amerika Serikat, ada sekitar 500.000 penderita Parkinson. Di
Indonesia sendiri, dengan jumlah penduduk 210 juta orang, diperkirakan ada sekitar
200.000-400.000 penderita. Rata-rata usia penderita di atas 50 tahun dengan rentang
usia-sesuai dengan penelitian yang dilakukan di beberapa rumah sakit di Sumatera
dan Jawa 18 hingga 85 tahun. Statistik menunjukkan, baik di luar negeri maupun di

dalam negeri, lelaki lebih banyak terkena dibanding perempuan (3:2) dengan alasan
yang belum diketahui.

III.

ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO


Parkinson disebabkan oleh rusaknya sel-sel otak, tepatnya di substansia nigra,

yaitu suatu kelompok sel yang mengatur gerakan-gerakan yang tidak dikehendaki
(involuntary movement). Akibatnya, penderita tidak bisa mengatur gerakan-gerakan
yang tidak disadarinya.
Hingga sekarang, etiologi Parkinson belum diketahui secara pasti, akan tetapi
ada beberapa faktor resiko yang telah diidentifikasi terkait dengan penyakit
Parkinson, yaitu:
1. Usia
Insiden meningkat dari 10 per 10.000 penduduk pada usia 50 sampai 200
dari 10.000 penduduk pada usia 80 tahun. Hal ini berkaitan dengan reaksi
mikrogilial yang mempengaruhi kerusakan neuronal, terutama pada substansia
nigra pada penyakit parkinson.
2. Genetik
Penelitian menunjukkan adanya mutasi genetik yang berperan pada
penyakit parkinson. Yaitu mutasi pada gen a-sinuklein pada lengan panjang
kromosom 4 (PARK1) pada pasien dengan Parkinsonism autosomal dominan.
Pada pasien dengan autosomal resesif Parkinson, ditemukan delesi dan mutasi
point pada gen parkin (PARK2) di kromosom 6. Selain itu juga ditemukan adanya
disfungsi mitokondria. Adanya riwayat penyakit Parkinson pada keluarga
meningakatkan faktor resiko menderita penyakit Parkinson sebesar 8,8 kali pada
usia kurang dari 70 tahun dan 2,8 kali pada usia lebih dari 70 tahun. Meskipun
sangat jarang, jika disebabkan oleh keturunan, gejala parkinsonisme tampak pada
usia relatif muda.
3. Faktor Lingkungan

Xenobiotik
Berhubungan erat dengan paparan pestisida yang dapat menimbulkan

kerusakan mitokondria.

Pekerjaan
Lebih banyak pada orang dengan paparan metal yang lebih tinggi dan

lama.
Infeksi
Paparan virus influenza intrautero diduga turut menjadi faktor
predesposisi penyakit Parkinson melalui kerusakan substansia nigra.
Penelitian pada hewan menunjukkan adanya kerusakan substansia nigra oleh
infeksi Nocardia astroides.

Diet
Konsumsi lemak dan kalori tinggi meningkatkan stress oksidatif, salah

satu mekanisme kerusakan neuronal pada penyakit Parkinson. Sebaliknya,


kopi merupakan neuroprotektif.
4. Ras
Angka kejadian Parkinson lebih tinggi pada orang kulit putih dibandingkan
kulit berwarna.
5. Trauma kepala
Cedera kranio serebral bisa menyebabkan penyakit Parkinson, meski
peranannya masih belum jelas benar.
6. Stress dan depresi
Beberapa penelitian menunjukkan depresi dapat mendahului gejala motorik.
Depresi dan stress dihubungkan dengan penyakit Parkinson karena pada stress
dan depresi terjadi peningkatan turnover katekolamin yang memacu stress
oksidatif.
IV.

PATOFISIOLOGI

Ciri-ciri Penyakit Parkinson yaitu ditemukannya Lewy bodies dan kematian


sel neuronal pada pars kompakta substansia nigra. Penyakit parkinson tidak muncul
apabila tingkat striatal dopamine (DA) turun sampai 20% dan kematian substansia
nigra (SN) tidak melebihi 50%.6
Di striatum, output dari neuron GABAergik bekerja secara langsung pada
segmen internal globus pallidus dan pars retikulata substansia nigra yang didominasi
oleh reseptor dopamine D1. Sedangkan reseptor D2 dopamin lebih dominan pada
output neuron GABAergik di segmen eksternal globus pallidus. Dopamine memiliki
efek yang berbeda terhadap reseptor-reseptor diatas, dan oleh karena itu, pada
perangsangan neuron di daerah striatal, akan membangkitkan reseptor D1 (sumber
dari jalur langsung striatopallidal) dan menginhibisi neuron dengan reseptor D2
(sumber dari jalur tidak langsung striatopallidal). Dalam keadaan normal (nondefisiensi dopamine), terdapat keseimbangan aktivitas antara jalur langsung dan jalur
tidak langsung pada internal segmen globus pallidus dan pars retikulata substansia
nigra.7
Substansia nigra (sering disebut black substance), adalah suatu region kecil di
otak (brain stem) yang terletak sedikit di atas medulla spinalis. Bagian ini menjadi
pusat

control/koordinasi

dari

seluruh

pergerakan.

Sel-selnya

menghasilkan

neurotransmitter yang disebut dopamine, yang berfungsi untuk mengatur seluruh


gerakan otot dan keseimbangan tubuh yang dilakukan oleh sistem saraf pusat.
Dopamine diperlukan untuk komunikasi elektrokimia antara sel-sel neuron di otak
terutama dalam mengatur pergerakan, keseimbangan dan refleks postural, serta
kelancaran komunikasi (bicara). Pada penyakit Parkinson sel-sel neuron di SNc
mengalami degenerasi, sehingga produksi dopamine menurun dan akibatnya semua
fungsi neuron di system saraf pusat (SSP) menurun dan menghasilkan kelambatan
gerak (bradikinesia), kelambatan bicara dan berpikir (bradifrenia), tremor dan
kekauan (rigiditas).

Ganglia Basalis : Putamen, Globus Pallidus Eksternus (Gpe), Globus Pallidus


Internus (Gpi), Nukleus Subthalamikus (Stn), Substansia Nigra Pars Retikulata
(Snr), Substansia Nigra Pars Compakta (Snc). Thalamus : Nukleus
Ventroanterior (Va) Dan Ventrolateral (Vl).
Neurotransmiter : Dopamine (Da), Gaba, Substansi P, Enkephalin (Enk),
Glutamate (Glu). Neuron Inhibitorik
Neuron Eksitatorik

Jaras-jaras
Nigrostriatal
: 1
2
Indirect Striatopallidal
3
Direct Striatopallidal

4
5
6

Pallidothalamik/Nigrothal
Thalamokortikal
amik
Kortikostriatal

Pada Parkinsons Disease Adanya Degenerasi Snc Mengakibatkan


Hilangnya Pengaruh Dopaminergik Terhadap Striatum (Terhadap Reseptor D1
Bersifat Eksitatorik, Sedangkan Terhadap Reseptor D2 Bersifat Inhibitorik);
Sehingga

Fungsi

Inhibisi

Dari

Direct

Striatopallidal

Menurun

Yang

Mengakibatkan Meningkatnya Output Inhibitorik Dari Pallidothalamik Dan


Nigrothalamik; Defisiensi Dopamine Tersebut Juga Mengakibatkan Indirect
Striatopallidal Mengalami Disinhibisi [Tidak Terinhibisi] Sehingga Fungsi
Inhibitorik Dari
Selanjutnya

Jaras

Pallidosubthalamik

Mengakibatkan

Mengalami

Penurunan

Yang

Meningkatnya Aktifitas Eksitatorik Dari Nukleus

Subthalamik, Sehingga Juga Memberikan Dampak Yang Sama Seperti Halnya


Melalui Direct Stritopallidal Yaitu Meningkatnya Aktifitas Inhibitorik Dari
Pallidothalamik Dan Nigrothalamik; Sehingga Dampak Akhir Dari Berkurangnya
Pengaruh Dopamine Melalui Direct Dan Indirect Pathway Adalah Berkurangnya
Aktifitas Thalamokortikal (Diskinesia).
Substansi nigra pars compacta merupakan penghasil dopamin. Dalam
kondisi fisiologik dopamin dari ujung saraf SNc akan merangsang reseptor D1 dan
D2 di putamen. Kemudian di salurkan ke Globus palidus pars interna atau Substansia
nigra pars retikularis lewat dua jalur, yaitu jalur direct reseptor D1 dan indirect

reseptor D2. Bila, masukan direct dan indirect seimbang maka tidak ada kelainan
gerakan. Ketika terjadi kerusakan atau degenerasi dari sel-sel SNc maka produksi
dopaminnya akan berkurang. Pada penyakit parkinson terdapat dua pendekatan
yaitu:
1. Teori keseimbangan dopaminergik dan cholinergik.
Dopamin dari SNc akan disalurkan ke putamen, selain dopamin di SNc juga
terdapat achetilcolin. Untuk menghasilkan gerakan motorik yang baik diperlukan
keseimbangan antara kedua NT itu. Ketika terjadi penurunan dopamin achetilcolin
akan meningkat sehingga terjadi dominasi saraf kolinergik, akibatnya timbulah
hipokinesia.
2. Teori ketidak seimbangan jalur langsung dan jalur tidak langsung.
Pada parkinson jalur indirect lebih hiperaktiv dan jalur direct lebih hipoaktiv.
Kerja jalur indirect lebih dominan, sehingga efek inhibisinya meningkat. Hal ini
menyebabkan talamus tertekan. Sehingga rangsangan dari talamus ke korteks akan
menurun dan output dari korteks ke neuron motorik medula spinalis jug melemah
akibatnya terjadi hipokinesia.
Klasifikasi

Idiopatik (Primer)
a. Penyakit Parkinson
b. Juvenile Parkinsonism

Simtomatik (Sekunder)
a. Infeksi dan pasca infeksi
b. Pasca ensefalitis
c. Toksin

: MTMP, Co, Mn, Mg, metanol, etanol, sianida

d. Obat

: antipsikotik, antiemetik, reserpin, lithium, flunarisin

e. Vaskular

: multiinfark serebral

f. Trauma kranioserebral

g. Lain-lain : tumor otak, siringomielia

Sindrom Parkinson Plus (Multiple System Degeneration)


Pada kelompok ini gejalanya hanya merupakan sebagian dari gambaran
penyakit keseluruhan.
a. Progressive supranuclear palsy
b. Multiple

system

striatonigral,

atrophy

(sindrom

olivo-pontocerebellar

Shy-drager,

degeneration,

degenerasi

parkinsonism-

amyotrophy syndrome),
c. Degenerasi kortikobasal ganglionik
d.

Sindrom demensia

e.

Hidrosefalus normotensif

f.

Kelainan herediter (Penyakit Wilson, penyakit Huntington,


Parkinsonisme familial dengan neuropati peripheral)

V.

GEJALA KLINIS
Empat tanda klinis kardinal dari penyakit Parkinson adalah: tremor at rest,

rigidity, bradikinesia, dan postural instability.8 Sebagai tambahan, terdapat gejala lain
berupa flexed posture, dan freezing (motor blocks) yang juga dimasukan sebagai
penemuan klinis klasik parkinsonism, dan umumnya paling sering terjadi pada penyakit
Parkinson.
1. Tremor
Tremor saat istirahat, atau tremor at rest merupakan gejala tersering
dan mudah dikenali pada penyakit Parkinson. Tremor bersifat unilateral, dan
kebanyakan selalu didahului pada ekstremitas bagian distal. Tremor pada tangan
digambarkan supinasi dan pronasi (pill-rolling) yang bisa menyebar dari satu
tangan ke tangan lainnya. Resting tremor pada pasien dengan penyakit Parkinson
dapat juga melibatkan bibir, dagu, rahang, dan kaki, namun tremor pada penyakit
Parkinson jarang melibatkan leher dan kepala ataupun suara. Pasien yang
mengalami tremor pada kepala kebanyakan memiliki tremor esensial, dystonia

servikal ataupun keduanya daripada penyakit parkinson. Karakteristik resting


tremor hilang ketika pasien beraktifitas atau selama pasien tidur.9 Beberapa
pasien juga melaporkan getaran internal yang tidak berhubungan dengan tremor
yang bisa dilihat.
Beberapa pasien penyakit Parkinson juga memiliki postural tremor yang
dirasa lebih utama dan lebih mengganggu dibandingkan resting tremor dan
mungkin merupakan manifestasi awal penyakit.Parkinson dengan adanya
postural tremor (re-emergent tremor), berbeda dari tremor essential, dimana
tremor menghilang setelah pasien membentangkan tangannya dalam posisi
horizontal. Karena re-emergent tremor terjadi dalam frekuensi yang sama
seperti halnya resting tremor, dan juga memiliki respon terhadap terapi dengan
obat-obatan dopaminergik, maka re-emergent tremor dapat dianggap sebagai
varian dari resting tremor. Ada beberapa petunjuk dalam mendiagnosa tremor
essential pada pasien dengan penyakit Parkinson. Termasuk didalamnya adalah
anamnesa mengenai lamanya tremor terjadi, riwayat keluarga dengan tremor,
tremor pada region kepala dan suara, dan tremor yang tidak berhenti dengan
dilakukannya pembentangan kedua tangan di depan tubuh ke arah horizontal, ada
tidaknya rasa gemetar saat menulis dan memilin, juga adanya tremor yang
bertambah dengan konsumsi alcohol dan beta bloker.
Dalam perjalanan Parkinson, keberadaan resting tremor bervariasi pada
setiap pasien. Dalam salah satu studi, Hughes dan koleganya melaporkan bahwa
69% pasien penyakit Parkinson memiliki resting tremor saat onset penyakit dan
75% pasien penyakit Parkinson baru memiliki tremor pada perjalanan penyakit.
Tremor juga dilaporkan tidak dijumpai pada 9% pasien penyakit Parkinson tahap
kronik. Sedangkan dilaporkan bahwa hanya 11% pasien penyakit Parkinson yang
sama sekali tidak memiliki tremor. Studi patologi klinik mengatakan bahwa
terjadi degenerasi pada neuron di daerah otak tengah, pada pasien penyakit
Parkinson dengan gejala tremor.
2. Bradikinesia
Bradikinesia, atau kelambanan dalam bergerak, dan merupakan
manifestasi klinis Parkinson yang karakteristik, walaupun bradikinesia juga dapat
dijumpai pada penyakit lain, termasuk depresi. Bradikinesia merupakan hal yang

patognomonik, yang menunjukkan kerusakan pada basal ganglia, yang meliputi


kesulitan dalam merencanakan dan menyelenggarakan gerakan, memulai gerakan
dan kesulitan dalam melaksanakan gerakan secara simultan. Manifestasi awal
sering diawali dengan kelambanan dalam melakukan aktifitas sehari-hari
(Activity of Daily Living) dan perlambatan pergerakan serta respon time yang
menurun.9 Hal ini termasuk kesulitan dalam melakukan gerak motorik halus
seperti membuka kancing baju, dan menggunakan perkakas. Manifestasi lain
bradikinesia adalah hilangnya pergerakan dan langkah spontan, air liur yang
menetes dikarenakan gangguan menelan akibat bradikinesia mengenai daerah
orofaring, monotonik dan hipofonik disartria, kehilangan ekspresi wajah
(hipomimia), muka menjadi seperti topeng, dan penurunan kedipan mata,
pengurangan ayunan tangan sehingga cara berjalan tidak lagi melenggang.
Bradikinesia merupakan gejala dari penyakit Parkinson yang paling mudah untuk
dikenali, dan mungkin terlihat jelas walaupun belum dilakukan pemeriksaan
neurologis. Pada bradikinesia juga dapat ditemukan gejala tambahan seperti
gerakan cepat, berulang,

pergerakan

tangan

bergantian

(ketukan

jari,

menggenggan-genggam tangan, pronasi-supinasi tangan). Serta ketukan tumit


tidak hanya lambat tetapi juga amplitudo yang melemah, dan bila tangan yang
dominan terlibat, maka tulisan secara gradual menjadi kecil dan rapat, disebut
juga sebagai mikrografia.10
Patofisiologi terjadinya bradikinesia masih belum dapat digambarkan
dengan baik, akan tetapi adanya gejala bradikinesia pada seseorang menunjukkan
bahwa penyakit yang dideritanya berkaitan erat dengan tingkat defisiensi
dopamine. Diduga bahwa bradikinesia adalah hasil dari kekacauan aktifitas
korteks

motorik

normal yang

dimediasi dengan

berkurangnya

fungsi

dopaminergic. Penelitian Neuroimaging fungsional juga menunjukkan kerusakan


dalam pemasukkan sistem kortikal dan subkortikal yang mengatur parameter
kinematic pergerakan (seperti kecepataan). Sebaliknya, pemasukan dari beberapa
area premotorik, yang bertanggungjawab untuk kontrol visuomotorik meningkat.
3. Rigiditas
Rigiditas ditandai dengan peningkatan tahanan, biasanya dinamakan
dengan penomena cog-wheel, sepanjang pergerakan pasif dari anggota gerak

(flexi, ekstensi, ataupun rotasi dari sendi). Ini biasanya terjadi pada proksimal
(seperti, leher, bahu, dan pinggul) dibagian distal terjadi (seperti di pergelangan
tangan dan pergelangan kaki).Foments maneuver merupakan manuver yang
biasa digunakan untuk memeriksa adanya rigiditas. Keistimewaan manuver ini
dapat mendeteksi rigiditas yang masih ringan.
Rigiditas dapat disertai dengan adanya nyeri, terutama nyeri pada bahu,
yang merupakan manifestasi dini dari penyakit Parkinson.Meskipun seringkali
terjadi misdiagnosis, sebagai arthritis, bursitis atau cedera pada otot-otot rotator
cuff. Sebuah prospektif studi yang dilakukan pada 6038 orang (usia rata-rata 68,5
tahun), dimana tidak terdapat demensia ataupun gejalan Parkinsonism,
ditemukan adanya kekakuan, tremor dan ketidakseimbangan yang diasosiasikan
dengan peningkatan resiko terjadinya penyakit Parkinson. Melalui penelitian
dengan kohort, dengan follow up selama 5,8 tahun, ditegakkan diagnosis 56
kasus penyakit Parkinson.
4. Postural Instability
Deformitas postural dapat terjadi karena kekakuan pada leher dan tubuh,
merupakan manifestasi umum dari penyakit Parkinson tahap lanjut dan biasanya
terjadi setelah tanda klinis lainnya terjadi. Deformitas postural menghasilkan
leher dan badan yang fleksi, siku dan lutut yang fleksi dan sering berhubungan
dengan kekakuan. Ketidaknormalan Skeletal lainnya meliputi fleksi leher yang
ekstrim, leksi trunkal (camptokormania) dan scoliosis. Camptokormania ditandai
dengan fleksi yang ekstrim pada thorakolumbal. Kondisi ini semakin parah saat
berjalan dan berkurang saat duduk, rebahan pada posisi supine. Sebagai
tambahan

pada

penyakit

Parkinson,

sebab

lain

yang

menyebabkan

camptocormania meliputi dystonia dan ekstensi miopati trunkal. Deformitas


badan laiinya yaitu sindrom pisa yang dilihat ketika duduk atau berdiri badan
pasien menjadi miring.11
Pemeriksaan yang dapat dilakukan ialah pull test, dimana penderita
diberikan dorongan ke depan atau ke belakang secara cepat pada bahu,
digunakan untuk menentukan derajat retropulsi atau propulsi. Bila pasien mundur
dua langkah atau sama sekali kehilangan respon postural, mengindikasikan
adanya abnormalitas respon postural.

Instabilitas postural (bersamaan dengan freezing gait) merupakan


penyebab tersering terjatuhnya penderita Parkinson dan berkontribusi secara
signifikan terhadap resiko fraktur panggul. Onset latensi yang panjang
membedakan penyakit Parkinson dengan kelainan neurodegeneratif lainnya,
seperti progressive supranuclear palsy (PSP) dan multiple system atrophy
(MSA). Beberapa faktor mempengaruhi kejadian instabilitas postural pada
penderita Parkinson, seperti hipotensi ortostatik, perubahan sensorik terkait usia,
dan kemampuan mengintegritaskan visual, vestibularm dna input sensorik
propioseptif (kinesthesia). Kejadian jatuh pada penyakit Parkinson akibat
instabilitas postural, dapat berdampak pada kontrol keseimbangan. Pada sebuah
studi, 38% pada penderita yang dievaluasi mengalami kejadian terjatuh, 13%
diantaranya sering terjatuh lebih dari satu kali dalam seminggu, sehingga
dikatakan bahwa frekuensi terjatuhnya penderita berhubungan dengan tingkat
keparahan penyakit.

Gambaran lain :

a. Freezing
Freezing, yang juga berarti motor block, merupakan suatu bentuk akinesia
(hilang pergerakan) dan merupakan gejala disabilitas paling penting pada penyakit
Parkinson. Meskipun freezing merupakan gejala klinik yang khas, gejala ini tidak selalu
terdapat pada pasien dengan penyakit Parkinson. Gejala ini lebih sering terdapat pada
laki-laki dibandingkan pada wanita, dan frekuensinya lebih sedikit terjadi pada pasien
dengan gejala utama berupa tremor. Freezing paling sering mengenai tungkai saat
berjalan, tetapi lengan dan kelopak mata juga dapat terkena. Manifestasi klinik dapat
terjadi secara mendadak dan bersifat sementara (biasanya kurang dari 10 detik),
sehingga dapat terjadi kesulitan dalam berjalan. Dalam hal ini, mungkin meliputi
kesulitan untuk memulai berjalan atau terjadi secara tiba-tiba saat sedang berjalan
melintasi jalanan yang padat dan ramai. Freezing merupakan penyebab tersering
terjadinya trauma.
b. start hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah
c. Bicara monoton. Hal ini karena bradikinesia dan rigiditas otot pernapasan, pita
suara, otot laring, sehingga bila berbicara atau mengucapkan kata-kata yang
monoton dengan volume suara halus (suara bisikan) yang lambat.
Gejala Non-Motorik
Perubahan neuropatologi pada penyakit Parkinson dapat berkembang dan
meluas hingga diluar system nigrostriatal. Gejala non motorik yang dimaksud meliputi
disfungsi otonom, gangguan kognitif atau neurobehavioral, gangguan sensorik, dan
gangguan tidur.
1. Disfungsi Otonom
Disfungsi otonom dapat terjadi karena berkurangnya sel-sel neuron di
ganglia simpatis secara progresif. Gejalanya antara lain: Keringat berlebihan, air ludah
berlebihan, gangguan sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi ortostatik, kulit
berminyak dan infeksi kulit seboroik, pengeluaran urin yang banyak, gangguan seksual
seperti disfungsi ereksi.

2. Abnormalitas Fungsi Kognitif dan Neurobehavior


Penyakit Parkinson yang dihubungkan dengan terjadinya demensia juga
dihubungkan komorbiditas neuropsikiatri. Diantara 537 pasien, depresi (58%), apatis
(54%), anxietas (49%) dan halusinasi (44%) merupakan hal yang tersering dilaporkan.
Sehubungan dengan disfungsi afektif dan kognitif, banyak pasien dengan penyakit
Parkinson dilaporkan memiliki tingkah laku obsesif-kompulsif dan impulsive. Gejala
tingkah laku ini terkadang merupakan gejala hedonistic homeostatic dysregulation.
Disfungsi kognitif dan tingkah laku pada pasien penyakit Parkinson, belum dapat
dimengerti sepenuhnya.

3. Gangguan Tidur
Meskipun gangguan tidur (misalnya; tidur yang berlebihan, serangan tidur)
untuk sebagian besar dianggap berasal dari efek terapi farmakologis, beberapa klinikus
saat ini percaya bahwa hal ini merupakan satu bagian integral dari penyakit Parkinson.
Hal ini didukung oleh adanya suatu observasi yang menunjukkan adanya rapid eye
movement (REM) dalam gangguan tidur, yang terdapat setidaknya pada 1/3 (sepertiga)
pasien dengan penyakit Parkinson. Gangguan tidur REM, saat ini telah dianggap sebagai
pre-parkinsonian state, yang ditandai dengan peningkatan mimpi buruk; seperti bicara
dalam tidur, berteriak, menyumpah, memukul, menendang dan hal lainnya yang
melibatkan aktifitas motorik. Insomnia, juga terdapat (dengan prevalensi > 50%) dalam
frekuensi yang berbeda-beda di setiap pasien.

4. Abnormalitas Sistem Sensorik


Gejala sensorik seperti disfungsi olfaktorik, nyeri, parestesi, akathisia, nyeri
daerah mulut dan nyeri pada regio genitalia merupakan gangguan terbanyak namun
sekaligus sering tidak dikenali sebagai gejala Parkinsonism. Dalam salah satu studi

ditemukan bahwa disfungsi sistem olfaktori (hiposmia) mungkin merupakan tanda dini
dari penyakit Parkinson, hal ini dikorelasikan dengan meningkatnya resiko sebanyak
10% terhadap terjadinya penyakit dalam 2 tahun kemudian. Telah didalilkan bahwa
disfungsi olfaktori dihubungkan dengan hilangnya neuron di area kortikomedial
amigdala, atau hilangnya neuron dopaminergik di bulbus olfaktorius.
I.

DIAGNOSIS
Diagnosis penyakit Parkinson ditegakkan berdasarkan temuan klinis dengan

adanya gejala motorik utama, anta lain tremor sewaktu istirahat, rigiditas, bradikinesia,
dan hilangnya reflex postural.
Kriteria diagnostik untuk penyakit Parkinson di Indonesia adalah kriteria Hughes
(1992):

Possible: didapatkan 1 dari gejala-gejala utama


Probable: didapatkan 2 dari gejala-gejala utama.
Definite: didapatkan 3 dari gejala-gejala utama

Tanda khusus:
Myersons sign:

Tidak dapat mencegah mata berkedip-kedip bila daerah glabela diketuk


berulang

Ketukan berulang (2x/detik) pada glabela membangkitkan reaksi berkedipkedip (terus-menerus)

Stadium penyakit Parkinson ditentukan berdasarkan Hoehn and Yahr (1967), yaitu:

Stadium 1 : gejala dan tanda pada satu sisi, terdapat gejala yang ringan,
terdapat gejala yang mengganggu tapi menimbulkan kecacatan, biasanya
terdapat tremor pada satu anggota gerak, dan gejala yang timbul biasanya

dapat dikenali oleh orang terdekat pasien.


Stadium 2 : terdapat gejala bilateral, terdapat kecacatan minimal, sikap

atau cara berjalan terganggu.


Stadium 3 : gerak tubuh nyata melambat, keseimbangan mulai terganggu
saat berjalan atau berdiri, disfungsi umum sedang.

Stadium 4 : terdapat gejala yang berat, masih dapat berjalan hanya untuk
jarak tertentu, rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu berdiri sendiri, tremor

dapat berkurang dibandingkan stadium sebelumnya.


Stadium 5 : stadium kakhetik (cachetic stage), kecacatan total, tidak
mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu.

Pemeriksaan Penunjang

Neuroimaging
a. CT-SCAN (biasanya terjadi atropi kortikal difus, sulki melebar,
hidrosefalus eks vakuo).
b. MRI (Magnetic Resonance Imaging). Hanya pada penderita parkinson
ditemukan perubahan signal yang menunjukkan atrofi multisistem
pada striatum.
c. PET

(Positron

Emission

Tomography)

dengan

menggunakan

fluorodopa sensitive untuk mendeteksi berkurangnya dopamin,


dimana uptake fluorodopa di korpus striatum berkurang.
d. SPECT (Single Photon Emission Computed Tomograpy)
Dapat mendeteksi sistem pre dan post sinaptik. Pada parkinson
gangguan pada pre sinaptik.

Laboratorium
a. Patologi anatomi untuk mendeteksi lewy bodies
b. Pemeriksaan kadar bahan Cu

II.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan penyakit Parkinson dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Bekerja pada sistem dopaminergic
2. Bekerja pada sistem kolinergik
3. Bekerja pada glutaminergik.
Ketiga macam pengobatan ini mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengurangi

gejala motorik dari penyakit Parkinson. Obat-obat tersebut harus dikonsumsi seorang
penderita Parkinson seumur hidup, dan akan menimbulkan efek samping penggunaan
obat jangka panjang yang merugikan dan akan mempengaruhi kualitas hidup penderita
Parkinson.
1. Obat dopaminergik
a. L-dopa
Levodopa atau L-dopa merupakan prekursor dopamine. Pada terapi Parkinson,
tidak dapat secara langsung diberikan dopamin eksogen sebab dopamin dalam
darah tidak dapat menembus blood brain barier. Hal ini berbeda dengan levodopa,
dimana levodopa yang diserap dalam saluran cerna melalui transport aktif menuju
darah, dan mampu menembus blood brain barier. Kemudian levodopa dikonversi
menjadi dopamine di otak dengan bantuan enzim dopa dekarboksilase. Lebih dari
90% levodopa dimetabolisme menjadi dopamine oleh dekarboksilase dopa perifer
(diluar SSP) dan kadar yang sampai ke otak kurang dari 2%, sehingga levodopa
perlu diberikan dalam dosis tinggi. Akan tetapi, kadar dopamine yang tinggi di
perifer dapat menyebabkan efek samping otonomik yang hebat. Efek samping
otonomik yang hebat ini dapat dikurangi dengan pemberian bersama-sama dengan
inhibitor enzim dopa dekarboksilase perifer, yaitu carbidopa.
Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa terdapat peningkatan dari kualitas
hidup dan gerak motorik seorang penderita Parkinson sebanyak 40-50% dengan
pemberian levodopa, dibandingkan dengan pemberian agonis dopamine.12,13
Berdasarkan gambaran gejala klinis, pasien dengan PD dikelompokkan ke
dalam 3 kategori dasar yaitu kategori ringan, sedang dan berat. Pada tingkat ringan
(3-5 tahun pertama setelah diagnosis), respon terhadap levodopa masih baik dan
efek yang menguntungkan ini menetap walaupun dosis yang diberikan tidak
bersifat individual.18 Pada tingkat sedang biasanya setelah 5-10 tahun di diagnosa,
biasanya 50-70% pasien memperlihatkan komplikasi motorik yang diinduksi oleh

obat (drug induce) berupa periode on dan off. Waktu periode on pasien
tampak memberikan respon terhadap obat, akantetapi waktu periode off gejala
Parkinson kembali kambuh.18 Pada kategori ketiga (berat) pasien Parkinson yang
lanjut sudah terjadi kerusakan motorik yang progresif meskipun telah mendapat
terapi levodopa, dan tidak merespon secara baik terhadap pengobatan yang
menyebabkan timbulnya komplikasi motorik seperti fluktuasi dan diskinesia dan
mungkin sulit diobati, bahkan tidak mungkin dapat dikontrol dengan terapi obat.
Fluktuasi motorik ialah istilah yang menunjukkan berbagai variasi respon
pasien terhadap levodopa. Fluktuasi non motorik juga terjadi dan ini semakin
dikenal dengan baik dengan munculnya gejala sensorik, terutama nyeri, rasa geli
dan akathsia, gejala otonom seperti inkontinesia urine, keringat berlebihan, sensasi
panas dan dingin, dan disfagi serta kelainan psikiatrik mencakup depresi, cemas
psikosis. Hal ini dirasakan lebih menyusahkan dibanding fluktuasi motorik. 14
Beberapa pola klinis fluktuasi motorik yang secara umum telah dikenal ialah:
1. Efek wearing off : Efek anti parkinson levodopa akan menghilang
menjelang akhir dosis dalam bentuk yang bisa diramalkan. Ini disebut juga
kegagalan diakhir dosis (end-of-dose failure).
2. Wearing off bermasalah : lama respon levodopa terjadi bervariasi sehingga
penentuan waktu wearing off menjadi kurang pasti (tidak dapat
diramalkan).
3. Delayed-on : keterlambatan dalam memulainya efek levodopa.
4. No-on : sebuah dosis levodopa tidak memberikan efek, disebut sebagai
kegagalan dosis (dose failure).
5. On-off : respon pada levodopa bervariasi dalam cara yang tidak bisa
diramalkan yang tidak ada hubungannya dengan waktu pemberian dosis.
Terjadi tiba-tiba seperti timbol lampu yang dihidup matikan.
6. Yo-yoing : fluktuasi dari immobilitas berat ke diskinesia berat secara tibatiba.
Untuk mencegah timbulnya efek samping dari penggunaan levodopa
tersebut, saat ini strategi penundaan pemberian levodopa lebih diterapkan.
Levodopa diberikan ketika gejala Parkinson pada pasien sudah mulai
menyebabkan gangguan fungsional dalam kehidupan sehari-hari.

Secara Umum :
Penderita Usia Tua : Preparat L-Dopa Merupakan Pilihan Pertama Dan

Satu-Satunya
Penderita Usia Menengah : L-Dopa Sebagai Terapi Permulaan,
Selanjutnya Ditambahkan Dengan Agonis Dopamine Untuk Mengurangi
Efek Samping L-Dopa
Penderita Dewasa Muda : Agonis Dopamine, Selanjutnya Suplementasi
L-Dopa Dosis Kecil (100 Mg) Seringkali Diperlukan Untuk Memberikan
Outcome Yang Lebih Baik
Indikasi Utama Dari Penggunaan L-Dopa : Hendaya Yang Ditimbulkan
Oleh Bradikinesia

L-Dopa Diberikan Bersamaan Dengan Peripherally Acting Ddc Inhibitor


(Carbidopa, Beserazide) Untuk Mengurangi Efek Samping Seperti :
Nausea, Vomiting, Aritmia Kardiak, Dan Hipotensi Postural.

Dosis :
Dosis Permulaan :

Carbidopa 25 MgL-Dopa 100 Mg Tid (Segera

Setelah Makan), Beserazide 50 MgL-Dopa 100 Mg Tid (Segera


Setelah Makan)
Dosis Dinaikkan 1 Tablet Perhari Setiap 3 Atau 4 Hari, Sepanjang Dapat
Ditoleransi, Selama Kurun 4 Minggu.
Dosis Akhir : Dosis Minimum Untuk Aktifitas Fungsional Sehari-Hari
(Umumnya : <1 Gr L-Dopa Perhari).
Perbaikan Umumnya Nyata Setelah 2 Minggu Memulai Terapi L-Dopa

Respon Terhadap Terapi :


80% Penderita Mendapatkan Pemulihan Signifikan
Terdapat Penurunan Khasiat L-Dopa Setelah Kurun Penggunaan 2 3
Tahun; Setelah Penggunaan 5 6 Tahun, Hanya 25% - 50% Penderita Yang
Masih Bertahan Sesuai Pemulihan Awal.
Terapi Jangka Panjang Terbukti Menurunkan Mortalitas, Meskipun
Munculnya Demensia Menjadi Problema Utama
Seiring Pulihnya Diskinesia, Penderita Dapat Menjadi Depresi; Dapat
Ditambahkan Ssri (Jangan Mao Inhibitor) Untuk Mengatasi Depresi.

Efek Samping Yang Berhubungan Dengan Dosis :


Dosis Tinggi Dapat Menimbulkan Peak Dose Dyskinesia; Seringkali
Muncul Sebelum Durasi Pengobatan Berlangsung 1 Tahun Pada Penderita
Usia Muda; Efek Samping Ini Akan Semakin Berat Dengan Berjalannya
Waktu Dimana Hampir 75% Penderita Mengalaminya Setelah Pengobatan
Berlangsung 6 Tahun. Peak Dose Dyskinesia Muncul 20 90 Menit Setelah
Minum Obat Yang Secara Klinis Menyerupai Tardive Dyskinesia Akibat
Terapi Antipsikotik (Umumnya Choreiform, Meskipun Dapat Pula Distonik,
Ballistic, Atau Mioklonik). Efek Samping Ini Dapat Diatasi Melalui
Penurunan Dosis L-Dopa Bertahap Selama Beberapa Hari. Pemberian
Suplementasi Vitamin Pada Penderita Yang Mendapatkan Terapi L-Dopa
Tanpa Disertai Ddc Inhibitor Tidak Boleh Mengandung B6 Oleh Karena
Akan Mengurangi Khasiat Obat.
End-Of-Dose Wearing-Off Phenomenon Adalah Efek Samping Yang
Menjadi Semakin Nyata
Pada Penderita Yang Telah Menjalani Terapi Jangka Lama. Efek

Samping Ini Berhubungan Dengan Rendahnya Kadar Plasma Dari L-Dopa :


O Umumnya Diatasi Dengan Pemberian Dosis Yang Lebih Kecil
Dengan Pemberian Yang Lebih Sering :
O Late

Afternoon

Drug

Failure

Diatasi

Dengan

Pemberian

Domperidone Dan Cisapride.


O Fluktuasi Respon Terhadap L-Dopa Juga Dapat Diatasi Dengan
Pemberian

Preparat

L-Dopa

Lepas

Lambat

(Slow

Release

Preparation), Atau Liquid L-Dopa


O Obat Lainnya Untuk Mengatasi Wearing-Off Phenomenon : Agonis
Dopamine, Amantadine, Selegiline, Dan Antikolinergik (Namun
Tidak Ada Yang Memuaskan)
O Diet Rendah Protein; Untuk Mengurangi Kompetisi Absorbsi
Phenylalanine Dan Tyrosine, Terutama Dalam Menembus Bbb.
Biphasic Dose Response Adalah Berupa Diskinesia Yang Berlangsung
Sesaat Segera Setelah Minum L-Dopa Dosis Pertama Di Pagi Hari Yang
Segera Menghilang, Namun 1 2 Jam Kemudian Muncul Spasmus
Distonik Berat Terutama Mengenai Ekstremitas Bawah. Spasmus Ini
Seringkali Menghilang Setelah Jadwal Dosis L-Dopa Selanjutnya. Dapat
Diatasi Dengan Baclofen 5 40 Mg/Hari.
Efek Samping Yang Paling Mengganggu Adalah Nausea Dan Vomiting;
Atasi Dengan Domperidone 10 20 Mg 30 Menit Sebelum Minum LDopa, Atau Antikolinergik, Atau Antihistamin.
Vivid Dreaming Dapat Diatasi Dengan Membatalkan Dosis Terakhir LDopa Dimalam Hari.
Ansietas, Agitasi, Konfusi, Delusi [Waham], Halusinasi Visual, Dan
Psikosis Umumnya Menunjukkan Respon Yang Segera Dengan Penurunan
Dosis L-Dopa (Dalam Satu Atau Beberapa Hari), Meskipun Pada Beberapa
Kasus Memerlukan Waktu Sampai Beberapa Minggu Untuk Menghilang
Secara Komplit. Halusinasi Dapat Diatasi Dengan Clozapine, Dimulai
Dengan 6,25 Mg Selanjutnya Dinaikkan Bertahap Sampai 50 Mg/Hari.
Euphoria, Mania, Dan Hiperseksualitas Dapat Diatasi Dengan Olanzapine;
Dimulai Dengan 2,5 Mg/Hari Ditingkatkan Bertahap Sampai 10 Mg/Hari.
Efek Samping Otonom Meliputi : Flushing [Muka Merah], Hipotensi
Orthostatik, Dan Premature Ventricular Contraction.
O Hipotensi Orthostatik : Elevasi Ujung Kepala Tempat Tidur,
Antigravity
Stocking, Dan 9--Fludrocortisone (0,1
0,2 Mg/Hari).
O

Hipotensi Postural Dapat Diberikan : Midrodine (20 40

Mg/Hari).

Penghentian Terapi L-Dopa Secara Mendadak Harus Dihindari, Oleh


Karena Dapat Menimbulkan Keadaan Yang Menyerupai Neuroleptic
Malignant Syndrome Berupa : Demam, Rigiditas, Dan Koma.

Efek Samping Yang Tidak Berhubungan Dengan Dosis L-Dopa :


On-Off Phenomenon Merupakan Efek Samping Yang Akan Muncul
Dengan Telah Berlangsung Lamanya Terapi Menggunakan L-Dopa;
Efek Ini Tidak Dijumpai Pada Terapi Tanpa L-Dopa. Disabilitas Yang
Ditimbulkan Oleh Efek Samping Ini Dijumpai Pada 50% Penderita
Yang Telah Menjalani Terapi L-Dopa Selama 5 Tahun Atau Lebih.
Gejala Meliputi Periode Yang Tidak Dapat Diprediksi Kemunculannya
Berupa : Akinesia Berat, Hipotonia Yang Berlangsung Selama 30
Menit Sampai Beberapa Jam, Dan Tidak Hilang Dengan Dosis L-Dopa
Berikutnya. Efek Samping Ini Sebahagian Dapat Dikurangi Dengan
Pemberian Dosis L-Dopa Setiap 2 Jam Sekali. Terapi On- Off
Phenomenon : Apomorphine Subkutan Atau Infusi (Dosis Dimulai
Dengan 1,5 Mg Dititrasi Sampai 7 Mg); Diberikan SekurangKurangnya 24 Jam Setelah Pemberian Domperidone 3 Kali 20 Mg.
Respon Yang Baik Dapat Muncul 10 Menit Setelah Pemberian; Namun
Hanya Bertahan Sampai 50 Menit.

Kontraindikasi

Terapi

L-Dopa

Narrow-Angle

Glaucoma,

Melanoma, Dan Penggunaan Bersamaan Dengan Mao Inhibitor.


b. MAO dan COMT inhibitor
Pada umumnya penyakit parkinson memberi respon yang cepat dan
bagus dengan L-dopa dibandingkan dengan yang lain ,namun ada laporan
bahwa L-dopa dan dopamin menghasilkan metabolit yang mengganggu
atau menekan proses pembentukan energi dari mitokondria dengan akibat
terjadinya oxidative stress yang menuntun timbulnya degenerasi sel
neuron. Preparat penghambat enzim MAO (monoamine oxydase) dan
COMT (Catechol-O-methyl transferase) ditambahkan bersama preparat Ldopa untuk melindungi dopamin terhadap degradasi oleh enzim tersebut
sehingga metabolit berkurang (pembentukan radikal bebas dari dopamin
berkurang) sehingga neuron terlindung dari proses oxidative stress.

24

Selegilline dan rasagiline merupakan merupakan obat golongan MAOInhibitor. MAO-B Inhibitor memblok metabolisme dopamine sehingga
kadarnya tetap meningkat di striatum.11
Entacapon dan tolcapon merupakan obat golongan COMTInhibitor. Obat golongan COMT Inhibitor menghambat degradasi
dopamine menjadi3-O-methyldopa oleh enzim COMT, terutama di perifer
dan meningkatkan jumlah levodopa yang melewati sawar darah otak.12
c. Agonis dopamine
Pemberian obat dopamine agonis direkomendasikan sebagai terapi
awal atau inisial dari golongan obat dopaminergik karena perlunya
menunda pemberian levodopa pada tahap awal penyakit Parkinson. Obatobat dopamine agonis bekerja dengan mengaktivasi reseptor dopamine
secara langsung, dimana berdasarkan studi penemuan klinis dan
eksperimental menemukan bahwa aktivasi reseptor dopamin yang penting
adalah reseptor dopamin D2 dalam memediasi efek antiparkinsonian dari
dopamine agonis. Akan tetapi, beberapa penelitian saat ini juga
menyatakan bahwa stimulasi reseptor D1 dan D2 dibutuhkan terhadap
peningkatan optimal efek terhadap fungsi fisiologis dan perilaku.
Obat ini memiliki durasi kerja yang lebih lama dibandingkan
dopamine. Dopamine agonis terdiri atas derivat ergot (bromocriptine,
cabergoline, lisuride and pergolide) dan derivat non-ergot (pramipexole
and ropinirole). Derivat non-ergot memiliki resiko komplikasi yang lebih
rendah dibandingkan derivat ergot. Komplikasi yang terjadi dapat berupa
ulkus peptikum, efek vasokonstriktif, fibrosis retroperitoneal, penyakit
katup jantung, dan reaksi serosal berupa efusi pleura, perikardial, dan
peritoneal. Oleh karena obat-obat derivat ergot berpotensi cukup kuat
terhadap kejadian penyakit jantung katup, penggunaan obat golongan ini
sudah sangat terbatas.
Pramiprexole merupakan obat yang aman dan efektif apabila
digunakan sebagai monoterapi pada tahap awal Parkinson. Pramiprexole
juga digunakan sebagai neuroprotektif dan dapat meningkatkan aktivitas
neurotropik pada dopaminergik mesensefali. Penggunaan ropirinole juga

25

merupakan obat yang aman dan efektif pada tahap awal penyakit
Parkinson, hanya saja ropirinole beresiko lebih tinggi terhadap kejadian
hipotensi dan somnolen.

Agonis Dopamine Yang Bekerja Pada Reseptor D2 Adalah Efektif


Sebagai Terapi Tambahan (Adjunctive Treatment) Namun Tidak Sebaik
L-Dopa Sebagai Primary Symptom Control.

Bersifat Neuroprotektif (Apabila Teori Toksisitas Dopamine Benar):

Tidak Diubah Menjadi Dopamine, Sehingga Mengurangi Eksitasi

Neuron Dopamine

Bekerja Sebagai Free Radical Scavenger Dan Menginduksi


Ensim Yang Memetabolisme Radikal Bebas.

Oleh Karena Jarang Menimbulkan Fluktuasi Motorik, Maka Baik


Diberikan Pada Penderita Usia Muda Atau Usia Menengah, Dan Pada
Penderita Yang Mengalami Diskinesia.
Kekurangan Utama Preparat Ini : Kecenderungannya Menimbulkan
Efek Samping Perilaku, Terutama Halusinasi Visual Dan Delirium.
Efek Samping Meliputi : Hipotensi Postural, Meteorismus, Nausea
Vomiting, Konstipasi, Mulut Kering, Fatigue, Sedasi, Nasal Stuffiness,
Dan Erythromelalgia.

Bromocriptine Mesylate Merupakan Agonis Dopamine Yang Paling

Sering Digunakan.

Dapat Mengurangi Dosis L-Dopa Sampai 30%.


Dosis Awal 2,5 Mg/Hari, Selanjutnya Dinaikkan Bertahap Selama
Kurun Beberapa Minggu.
Khasiat Terapeutik Maksimal Berlangsung Lambat; Dan
Dosis Rendah (12 mg/Hari) Dapat Dipertahankan Selama Beberapa
Bulan,

Sebelum Memberikan

Dosis Efektif Penuh. Dosis

Maksimum Adalah : 3050 Mg/Hari, Umumnya Dalam Pemberian


Duakali Atau Tigakali Sehari.

Efek

Samping

Meliputi:

Nausea

(Dapat

Diatasi

Dengan

26

Domperidone), Vomiting, Dan Hipotensi Postural.


Pergolide Mesylate Merupakan Analog Ergot Mutakhir, Bekerja Pada
Baik Reseptor D1 Maupun D2. Rerata Dosis Efektif Berkisar 24
Mg/Hari; Dimulai Dengan 0,1 Mg/Hari.
2. Obat non-dopaminergik
Antikolinergik
Obat antikolinergik menghambat sistem kolinergik di ganglia
basal. Sistem kolinergik secara normal diinhibisi mengakibatkan
aktivitas yang berlebihan pada sistem kolinergik. Pada penderita
penyakit parkinson yang ringan dengan gangguan ringan obat
antikolinergik paling efektif. Obat antikolinergik triheksifenidil,
benztropin dan biperiden. Mulut kering, konstipasi dan retensio urin
merupakan komplikasi yang sering dijumpai pada pengguna obat
antikolinergik.
Triheksifenidil dan benztropine merupakan obat antikolinergik.
Obat ini menghambat sistem kolinergik di ganglia basal dengan
menghambat aksi neurotransmitter asetilkolin, sehingga mampu
membantu dalam menjaga keseimbangan antara dopamine dan
asetilkolin, sehingga dapat mengurangi gejala tremor.12
Efek samping obat antikolinergik perifer mencakup pandangan
menjadi kabur, mulut kering, retensi urin. Piridostigmin, sampai 60
mg, 3x sehari, dapat membantu mengatasi mulut kering dan kesulitan
miksi. Efek samping sentral terutama adalah pelupa dan menurunnya
memori jangka pendek. Kadang-kadang dapat dijumpai halusinasi dan
psikosis, terutama pada kelompok usia lanjut, sehingga dapat
digunakan obat antikolinergik yang lebih lemah, seperti difenhidramin

(Benadryl), orfenadrin (Norflex), amitriptilin.13


Obat yang bekerja pada sistem glutaminergik
Diantara obat obat glutamatergik yang bermanfaat untuk
penyakit Parkinson adalah dari golongan antagonisnya , yaitu amantadine,
memantine, dan remacemide. Antagonis glutamatergik diduga menekan
kegiatan berlebihan jalur dari inti subtalamikus sampai globus palidus

27

internus sehingga jalur indirek seimbang kegiatannya dengan jalur direk ,


dengan demikian out put ganglia basalis ke arah talamus dan korteks
normal kembali. Disamping itu, diduga antagonis glutamatergik dapat
meningkatkan

pelepasan

dopamin,

menstimulasi reseptor dopamin.

menghambat

reuptake

dan

Obat ini lebih efektif untuk akinesia dan

rigiditas daripada antikolinergik.


Terapi simptomatik didasarkan atas kebutuhan pasien dan harus direevaluasi
secara
berkala,
sesuai
dengan

progresivitas penyakit.
Berikut ini adalah algoritma penatalaksanaan penyakit Parkinson:15

28

Non-Medikamentosa
1. Edukasi
Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga, hendaknya
diberikan pemahaman mengenai penyakitnya, diberikan keterangan
secara rinci dan suportif dan tidak membuat penderita cemas atau
takut. Dukungan fisik dan psikis dari keluarga pasien juga penting,
terutama karena pasien dengan Parkinson harus minum obat secara
teratur dan menghindari trauma.15
2. Rehabilitasi
Rehabilitasi ditujukan untuk

meningkatkan

kualitas

hidup

penderita dan mencegah bertambah beratnya gejala penyakit serta


mengatasi masalah-masalah, antara lain:
Abnormalitas gerakan
Kecenderungan postur tubuh yang salah
Gejala otonom
Gangguan perawatan diri ( Activity of Daily Living ADL )
Perubahan psikologik
Untuk mencapai tujuan tersebut dapat dilakukan tindakan sebagai
berikut:
1. Terapi fisik (ROM: range of motion)
Peregangan
Koreksi postur tubuh
Latihan koordinasi
Latihan jalan ( gait training )
Latihan buli-buli dan rectum
Latihan kebugaran kardiopulmonar
Edukasi dan program latihan di rumah
2. Terapi okupasi
3. Terapi wicara
Membantu penderita Parkinson dengan memberikan program
latihan pernapasan diafragma, evaluasi menelan, latihan disartria,
latihan bernapas dalam sebelum bicara. Latihan ini dapat membantu
memperbaiki volume berbicara, irama dan artikulasi.
4. Psikoterapi
5. Terapi sosial medic
III.

PROGNOSIS
29

Dengan adanya pengobatan levodopa, didapatkan kemajuan dalam


harapan hidup penderita Parkinson, namun penyakit ini masih mengurangi
harapan hidup pada sebagian besar pasien, terutama yang menderita bentuk
umum. Parkinson adalah penyakit degeneratif, dimana hilangnya sel-sel neuron
tetap berlanjut walaupun dapat respon dari obat-obatan yang dikonsumsi pasien.
Pada akhirnya, respon terhadap obat akan berkurang dan keadaan pasien dapat
memburuk, tidak dapat mobilisasi dan akhirnya dapat meninggal karena
komplikasi infeksi.

BAB III
KESIMPULAN
Penyakit Parkinson merupakan penyakit neurodegenerative yang bersifat
kronis. Ditandai dengan keadaan degeneratif yang biasanya mengenai jaras
ekstrapiramidal yang mempunyai neurotransmitor dopamine. Tanda khas dari
penyakit ini adalah trias Parkinson yaitu: bradikinesia, rigiditas, dan tremor, serta
bisa juga terdapat postural instability pada seorang penderita Parkinson.
Pengobatan Parkinson bersifat simptomatik atau mengurangi gejala,
namun karena penyebab pastinya belum diketahui, maka tidak ada obat yang
benar-benar dapat meyembuhkan Parkinson. Pengobatan Parkinson berlangsung
seumur hidup, dan selain pengobatan medikamentosa, pengobatan nonmedikamentosa juga penting bagi penderita Parkinson agar dapat meningkatkan
quality of life penderita itu sendiri.

30

DAFTAR PUSTAKA
1

Jankovic J. Parkinsons disease: clinical features and diagnosis. 2008. USA: J


Neurol Neurosurg Psychiatry. 79:368-376.

Tan, Louis. Joesoef, Aboe Amar. Sjahrir, Hasan. 2007. Parkinsonss Disease
& Other Movement Disorders. Yogyakarta : Pustaka Cendekia Press dan
Departemen Neurologi FK USU Medan.

National Institute for Health and Clinical Excellence. 2006. Parkinson's


disease: Diagnosis and management in primary and secondary care. London:

National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE).


Healy DG, Abou-Sleiman PM, Wood NW. 2004. PINK, PANK, or PARK? A
clinicians guide to familial parkinsonism. Lancet Neurol; 3:652-62.

Thomas B, Beal Flint M. 2007. Parkinsons disease. USA: Human Molecular


Genetics; Vol.16; p.183-94.

Siderowf A, Stern M. 2003. Update on Parkinsons disease. Annals of


internal medicine; Vol.138; p.651-9.

Gibb WRG, Lees AJ. 1988. The relevance of the Lewy body to the
pathogenesis of idiopathic Parkinsons disease. J Neurol Neurosurg
Psychiatry; 51:745-52.

31

Syamsudin, Thamrin. 2013. Buku Panduan Tatalaksana Penyakit Parkinson


dan Gangguan Gerak Lainnya. Kelompok Studi Movement Disorder
Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI).

Hughes AJ, Daniel SE, Kilford L, Lees AJ. 1992. Accuracy of clinical
diagnosis of Parkinsons disease: a clinico-pathological study of 100 cases. J
Neurol Neurosurg Psychiatry; 55:181-4.

10 Gelb DJ, Oliver G, Gilman S. 1999. Diagnostic criteria for Parkinsons


disease. Arch Neurol; 56:33-9.
11 Hauser, Robert A. Lyons, Kelly E. Parkinsons Disease. Available at
http://emedicine.medscape.com/article/1831191-overview [Accessed 18 April
2015]
12 Rascol O, Brooks DJ, Korczyn AD, De Deyn PP, Clarke CE, Lang AE. 2000.
A five-year study of the incidence of dyskinesia in patients with early
Parkinsons disease who were treated with ropinirole or levodopa. N Engl J
Med; 342:1484-91.
13 Lees AJ, Katzenschlager R, Head J, Ben Shlomo Y. 2001. Ten-year follow-up
of three different initial treatments in de-novo PD: a randomized trial.
Neurology; 57: 1687-94.
14 Obesso JA., Olanow CW. and Nutt JG. 2000. Levodopa motor complications
in Parkinsons disease. Trens Neurosc.23 (suppl). S2-7.
15 Grant R, Varney S, Lockhart I, Bakhshi L, Richards A, Ingham J, et al. 2006.
Parkinsons disease: National clinical guideline for diagnosis and
management in primary and secondary care. London: Royal College of
Physicians.
16 Jankovic J, Aguilar LG. 2008. Current approaches to the treatment of
Parkinsons disease. USA: Neurophsyciatric disease and treatment; Vol.4 (4);
p.743-57.

32

17 Lumbantobing SM. 2005. Sindrom Parkinson. In: Gangguan gerak. Jakarta:


Balai penerbit FKUI; p.67-110.
18 Muis A, Joesof AA, Agoes A, Sudomo A, Shahab A, Husni A, dkk. 2000.
Konsensus tatalaksana penyakit Parkinson. Surabaya: Perhimpunan dokter
spesialis saraf Indonesia (PERDOSSI); p.8-17.
19 Hirsch MA, Toole T, Maitland CG, Rider RA. 2003. The effects of balance
training and high-intensity resistance training on persons with idiopathic
Parkinsons disease. Arch Phys Med Rehabil; 84:1109-17.
20 Koller WC. 2000. Levodopa in the Treatment of Parkinson Disease.
Neurology; 55 (suppl 4) S42-S45.
21 Stewart A., Factor D.O. 2006. Treatment of Patients with Advanced Disease.
American Academy of Neurology, Annual Meeting, AAN Enterprice Inc.

33