Anda di halaman 1dari 11

1

MERAJUT KEMBALI KEJAYAAN
HMI KOMISARIAT FHUI1
1 Tulisan

ini disampaikan sebagai bahan pembekalan bagi Pengurus Terlantik HMI Komisariat FHUI Periode
2009/2010, sekaligus sebagai bahan Pengantar Utama Diskusi dengan Tema: ”Kebangkitan Dimulai dari Sini, dari
Komisariat Kita” pada Sabtu, 7 Februari 2009 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok. Diskusi
menghadirkan Pembicara lainnya, yaitu DR. SULASTOMO (Mantan Ketua Umum PB HMI Periode 1963-1967,
Pemimpin Umum Harian Pelita) dan ABDUL HARIS M. RUM (Partner Lubis Ganie Surowidjojo Lawfirm).
Kegiatan ini sekaligus sebagai refleksi hari lahir HMI ke-62 yang jatuh bertepatan pada tanggal 5 Februari 2009.
2 Mantan Pengurus HMI Komisariat FHUI dan Ketua Senat Mahasiswa FHUI Periode 2004/2005; Staf Yustisial Hakim Konstitusi RI.

Oleh: Pan Mohamad Faiz, S.H., M.C.L.2
I. Pendahuluan
Kibaran bendera Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di jagad raya kemahasiswaan memang tidak
pernah surut hingga kini. Maklum saja, organisasi yang berdiri sejak tanggal 5 Februari 1947 dengan
bernafaskan keislaman dan berbasis intelektualitas ini telah dan terus menelurkan sederat kampiun
kenamaan di berbagai bidang, mulai dari para akademisi, politisi, pengusaha, hingga petinggi negara.
Namun demikian, pantulan suara genderang HMI ternyata juga tidak kalah sumbangnya dengan apa
yang telah dihasilkannya selama ini. Tak pelak, di tengah-tengah nada yang membanggakan, kiprah
HMI kerap kali diterjang kritik yang beraneka ragam.
Pasalnya, tujuan dasar organisasi untuk membina insan akademis, pencipta, pengabdi yang
bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi
Allah SWT bak api jauh dari panggang. Aksi intelektual yang biasanya menjadi garda terdepan corak
pergerakan HMI kian hari kian memudar. Bahkan, tidak jarang justru cipratan noda hitam muncul
akibat bentrokan fisik yang terjadi antarsesama kader muda HMI ataupun organisasi lainnya. Tokohtokoh HMI yang acapkali tersandung dengan berbagai kasus hukum dan imoral, turut pula
menambah wajah buram organisasi ini. Tak pelak, hal tersebut seringkali dihembuskan menjadi
bumbu politis dari pihak yang tidak senang dengan keberadaan HMI. Lebih dari itu, terbentuk
dualisme kepengurusan yang kadang terjadi hampir di tiap tingkatan Kepengurusan HMI, mulai dari
tingkatan PB, Cabang, hingga Komisariat sekalipun, menyebabkan banyak pihak menggelenggelengkan kepala menunjukan tanda keheranannya.
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk sekedar mengupas dua sisi wajah HMI semata. Namun lebih
dari itu, yaitu untuk dijadikan bahan refleksi bersama perjalanan kita guna membangun kembali
kejayaan HMI melalui perjuangan dan pegerakan yang sesuai dengan perkembangan jaman tanpa
melenceng jauh dari arah pembentukannya.
Pertanyaannya kini adalah dari manakah sekarang kita harus memulainya? Tentunya tidak akan ada
jawaban yang mutlak untuk pertanyaan tersebut, tetapi marilah kita sejenak mengingat kembali
Firman Allah SWT dalam surat Ar Ra’du ayat 11 yang 2

keluarga. Akhirnya yang bermunculan adalah sikap apatisme dan sirnanya rasa sense of belonging terhadap kepemilikan nurani kekeluargaan yang menjadi modal utama kekalnya hubungan silaturahmi sesama anggota dan alumni HMI Komisariat FHUI selama ini. Oleh karenanya. tempat hunian dimana penulis pernah ditempa. Sedangkan bagi mereka yang masih duduk di bangku kuliah.berbunyi. Ratusan alumnusnya pun kini telah terbukti mendulang sukses dalam perjalanan karir hidupnya selepas menyelesaikan studi di bangku kuliah. II. baik dari calon anggota maupun anggota HMI Komisariat FHUI itu sendiri. kemudian bangsa dan negara. Namun sayangnya. kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. bila kita tilik secara historis. "Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum.” Ayat ini menggambarkan bahwa setiap kaum dapat berubah apabila mereka berkehendak untuk melakukan perubahan diri mereka sendiri. kita pun tidak perlu terlalu risau berlebihan sehingga 3 . yaitu pribadi kita masing-masing. HMI Komisariat FHUI dapat dikatakan sebagai salah satu Komisariat yang tidak pernah hilang keberadaan dan perannya dari peta organisasi ekstra kampus di Universitas Indonesia (UI). Sedangkan. Untuk uraian kali ini. Dalam konteks perbaikan dan penyempurnaan eksistensi HMI. dan dibesarkan hingga seperti sekarang ini. para anggota dan alumni sebagai insan mulia dengan ditopang pula oleh penguatan kelembagaan HMI di tingkat Komisariat sebagai nadi terdekat dari basis pergerakan organisasi secara struktural. Hingga kini masih banyak yang berpikiran bahwa dengan cara ‘menyemplungkan’dirinya saja tanpa berbuat banyak dengan menjadi bagian dari anggota HMI Komisariat FHUI. Menghadapi fenomena demikian. masyarakat. Revitalisasi HMI Komisariat FHUI Sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan. bagi mereka yang memang berniat tulus untuk mengembangkan karakter ilmu dan sifat kepemimpinan serta menambah jaringan mutualnya. tidak sedikit yang didaulat menjadi teladan dan role model baik di bidang akademis maupun aktivis organisasi. maka perubahan haruslah datang dari hal yang paling dekat dan sederhana dari kita semua. maka penulis akan mencoba untuk lebih memfokuskan pembahasan terhadap HMI Komisariat FHUI. Walaupun kini dapat dikatakan bahwa telah terjadi perbaikan konstruktif dan konsolidasi internal kembali secara gradual. Setidaknya kondisi yang mencemaskan ini sedikit terlihat dalam perjalanan aktivitas Komisariat beberapa tahun terakhir. yang mempunyai angan-angan mengikuti jejak manis para pendahulunya. Untuk itu berlakulah konsep perbaikan dan kebangkitan yang harus dimulai dari diri sendiri. umat. dikader. salah kaprah kerap terjadi dalam hal ini. hingga kini tidak sedikit jumlahnya. berkali-kali merasa dikecewakan dan bahkan frustasi karena organisasinya tersebut tidak mampu memfasilitasi dan tidak dapat menjadi wadah yang sesuai dengan keinginannya. maka dengan sendirinya ia dapat menuai sukses sebagaimana yang menjadi ‘dongeng’ keseharian di Komisariat FHUI.

serta dianggap mempunyai prospek cerah untuk penguatan lembaga HMI. sumber daya manusia atau orang (man). mengingat peran dan kontribusinya dalam mengisi aktivitas kampus juga tidak sedikit. seringkali terlontar pendapat lebih baik sedikit anggota namun kualitasnya merata dibandingkan dengan banyak anggota namun kualitasnya tidak terjaga. money (uang). namun jangan juga menjadi terlalu berbelit yang dapat menyebabkan hilangnya minat para calon anggota. Karena faktanya. serta untuk membangkitkan dan menghidupkan perjuangan para insan terbaiknya. Sehingga. cara atau metode (method). masalah kualitas menjadi nomor kedua. Uraian berikut amat terkait dengan konsepsi yang penulis rumuskan sebagai “5M + 1R”. 4 . method (cara). Sebenarnya. Proses persyaratan mengikuti prakegiatan LK 1 dan wawancara sudah seyogyanya terus dilakukan. Untuk mempercepat pulihnya aktivitas kegiatan dan menajerial HMI Komisariat FHUI. Begitu pula dengan cara-cara pengkaderan dan pembinaan anggota. sebagian pihak percaya bahwa HMI Komisariat FHUI memerlukan anggota yang jumlahnya juga harus banyak. dan relation (hubungan). Lalu bagaimanakah idealnya? Tentunya kita semua menginginkan Komisariat memiliki banyak anggota dengan kualitas yang tinggi dan merata. material (bahan). suatu organisasi masih terbilang wajar apabila terkadang eksistensi longitudinalnya berubah naikturun. yaitu dengan cara membentuk batas atas maksimum penerimaan anggota setiap hendak melaksanakan Latihan Kader I (LK 1). management (manajemen). Memiliki keanggotaan dengan kekuatan kuantitas maupun kualitas tidak akan menjadi jaminan tumbuh berkembangnya Komisariat dengan baik. banyak calon anggota yang memiliki kualitas dan mutu kepemimpinan baik. Aktivitas kegiatan rutin dan silaturahmi secara berkala sesama keluarga besar Komisariat menjadi syarat mutlak berjalannya roda organisasi secara berkesinambungan. sepanjang ia tidak menjadi organisasi tanpa adanya kehadiran kegiatan pengkaderan sebagai detak jantung HMI. Kedua. Di sisi lain. Sebagian beranggapan bahwa HMI Komisariat FHUI tidak perlu menjadi organisasi penampungan anggota yang membludak. kedua pendapat yang muncul di atas dapat dicarikan jalan tengah. karena toh mereka dapat dibina dan dibentuk melalui sistem pengkaderan yang tepat untuk menjadi orang-orang yang berkualitas. yaitu man (orang). namun ‘terpental’ karena hal-hal yang bersifat nonsusbtantif serta tidak berjalan maksimalnya fungsi pengamatan sekaligus pencarian bibit-bibit kader unggulan (scout talent). kesan yang ingin kita timbulkan yaitu terciptanya proses rekruitmen yang bersifat eksklusif-substantif. Bagi kalangan kedua ini. Sehingga.justru dapat menyebabkan tidak bekerjanya otak dan tangan-tangan kita. Inilah yang harus kita jadikan evaluasi dengan cara duduk membahas bersama dan meninjau kembali tiap tahapan penerimaan anggota. Ibarat sebuah gelombang. setidaknya terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai catatan untuk kita semua. Pertama. Untuk menggerakan roda Komisariat sudah tentu kita membutuhkan tenaga kepengurusan sesuai dengan proporsinya. Tarik ulur pendapat mengenai pola rekrutmen yang menitikberatkan antara kualitas dan kuantitas hingga kini terus terjadi. Begitu juga dengan keanggotaan yang menjadi tulang punggung keberadaan Komisariat.

atau bahkan berbagai urusannya terkesan dinomorsekiankan daripada organisasi-organisasi lain yang kita geluti? Jawabannya terdapat pada ketidakmampuan manajemen diri kita dalam mengelola dan mengatur ataupun peran. tidak terkendali. Untuk kesemuanya itu. dan terasa ‘nyaman’ ketika harus dikenakan oleh setiap pengurus dan anggota yang terlibat di dalamnya. kembali harus dibuat standarisasi dan blue print program pengkaderan. pengkaderan hanya terjadi pada proses Latihan Kader I (LK-1). maka perlu kita tata dan rumuskan kembali program-program unggulan. yang hasil akhirnya dapat diukur atau dinilai keberhasilannya. bulanan. Keempat. salah satunya disebabkan tidak terencananya program pengkaderan secara baik dan sistematis. Namun nyatanya. agar terlibat aktif untuk menyelamatkan fondasi keberadaan Komisariat. sosial-keagamaan. bahan (material) pendukung. perlu dibuat Standar Operational Procedure (SOP) dan aturan main berorganisasi yang lebih down to earth. Sudah menjadi rahasia umum bahwa menurunnya peran dan eksistensi HMI Komisariat FHUI akhir-akhir ini dalam melahirkan kaderkader unggulan. anggota yang telah diterima dilepas untuk bebas berkarya di belantara aktivitas kampus sesuai kehendaknya. dan lain sebagainya dalam kesempatan berkala pada satu periode kepengurusan yang benar-benar diperuntukan khusus untuk rapat kerja dan evaluasi kineja organisasi. Mengatasi masalah tersebut. manajemen (management) organisasi. Kegiatan yang dirasa kurang peka terhadap timbulnya disfungsi sosialkemasyarakatan menjadi catatan merah yang dipaparkan oleh banyak pihak. Untuk itu. pengkaderan. baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Bahkan bisa dikatakan sebagian dari mereka yang diamanahkan menjadi pengurus harian komisariat merupakan orang-orang yang juga dipercaya memegang jabatan penting dalam organisasi kemahasiswaan dan masyarakat lainnya. kenapa ketika kita melakukan tata kelola organisasi di Komisariat terasa bebannya menjadi lebih berat. Untuk itu. Setelah itu.merupakan elemen penting yang tidak dapat dikesampingkan. Tidak kalah pentingnya dari program pengkaderan yaitu program-program yang dirasakan kebermanfaatannya secara langsung baik oleh anggota ataupun pihak lain di luar keluarga Komisariat. Lunturnya kegiatan yang berasaskan nilai-nilai keislaman menjadi kritik tajam yang bermunculan akhir-akhir ini. komitmen dan pengorbanan tinggi menjadi suatu keniscayaan dari setiap pengurus dan anggota Komisariat dalam meluangkan waktu dan tenaganya. Selain itu. Oleh karenanya. Umumnya. Diperlukan seperangkat bahan pendukung untuk menunjang program dan 5 . Tidak lengkap rasanya jika suatu organisasi hanya menggantungkan diri pada kualitas verbal sumber daya manusianya semata. Penulis teramat yakin bahwasanya para Pengurus dan Anggota HMI Komisariat FHUI adalah orang-orang terpilih yang mahfum betul cara mengelola organisasi. tidak kaku. patut rasanya kita menyematkan penghargaan kepada mereka yang telah benar-benar menunjukan loyalitasnya untuk mengabdi secara total kepada Komisariat. Ketiga. kendala yang selalu timbul adalah terlalu banyak anggota dan kader Komisariat berkualitas yang kemudian direkrut menjadi pengurus inti organisasi lain telah menyebakan kosongnya ‘kandang rumah’ sendiri.

misalnya kesekretariatan Komisariat. dan kelengkapan administratif lainnya. misalnya. Sudah saatnya HMI Komisariat FHUI memiliki sendiri peralatan dan perlengkapan penunjang yang abadi. Bahwa benar kita pernah memiliki hal-hal sebagaimana penulis sebutkan di atas. semata-mata untuk mengembangkan organisasi yang mapan. sehat. ibarat pepatah ‘lain rumput lain ilalang’. Oleh sebab itu. 6 bulan. Kelima. untuk kemudian menjadi modal utama pencarian solusi permasalahan pada kehidupan yang sesungguhnya. Lebih memprihatinkan lagi. pengurus dan anggota diharapkan mampu menemukan cara-cara lain untuk menemukan sumber keuangan di luar sumbangan para donatur. Dengan demikian. tata kelola keuangan Komisariat juga dianggap masih rapuh. keberadaan fasilitas pendukung tersebut amat tergantung dari tiap-tiap kepengurusan Komisariat masing-masing yang telah terbentuk. Pengumpulan dan penciptaan uang sebagai kas organisasi menjadi tantangan tersendiri bagi setiap kepengurusan. Buntunya kreativitas dan matinya jiwa kewirausahaan dalam memutar uang organisasi berhujung pada ketergantungan kucuran dana dari pihak-pihak tertentu. kesekretariatan untuk tempat berkumpul dan menggelar rapat harian ataupun diskusi rutin. Di sisi lain. Namun demikian. uang (money).kegiatan dalam rangka pencapaian visi-misinya. Namun bagaimanakah caranya? Pernahkah kita terbesit untuk mencari kas dari sumber bunga deposito dari uang yang dipinjamkan oleh pihak tertentu? Sudahkah disusun rencana untuk melaksanakan program wakaf dengan berbagai bentuk yang digunakan untuk kepentingan umat dengan pengelola inti pengurus Komisariat? Atau misalnya pembuatan toko kelontong sederhana ataupun penyusunan buku yang digarap bersama untuk kemudian ditawarkan kepada pembacanya langsung ataupun melalui media penerbit-penerbit yang tertarik? Kalaupun berbentuk donasi perorangan. kop surat. 6 . stempel. sudah saatnya Komisariat yang didukung oleh para alumni dan simpatisannya mencari jalan keluar terbaik guna memenuhi kebutuhan abadi sebagai asset penting. Untuk menyebut beberapa diantaranya. mungkinkah kita ciptakan sistem donasi kecil namun secara massif dan berjalan tetap untuk jangka waktu 3 bulan. Muncul-tenggelamnya alat pendukung tersebut juga turut berkontribusi terhadap pasang-surutnya aktivitas organisasi dalam jangka panjang. Sebab di masa menjadi penguruslah kita dituntut untuk menembus keringnya kemarau gagasan dan kreativitas otak. Inilah masalah klasik yang seringkali dijadikan kambing hitam tidak berjalannya kegiatan dan pengkaderan Komisariat secara berkala. sistem ATM (Automatic Teller Machine) ini seakan membudaya menjadi bentuk satu-satunya cara yang halal untuk ditempuh dan terpikirkan. Ketiadaan uang sebagai modal penyelenggaraan kegiatan menjadi problema yang tidak pernah berhujung pangkal. kartu anggota. dan terarah. hingga fitur-fitur yang dapat diciptakan pada dunia maya (internet) serupa website dan sebagainya sebagai media komunikasi terarah tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. 1 tahun ataupun hingga 3 tahun lamanya? Contoh-contoh tersebut adalah segelintir cara dari ratusan cara lainnya yang harus kita temukan dan manfaatkan sesuai dengan momentumnya. alat tulis kantor beserta komputer dan printernya untuk menelurkan karya-karya ilmiah.

pengurus dan alumni harus dipertahankan dan semakin dipererat. Namun demikian. Begitu pula dengan lembaga-lembaga kemahasiswaan lainnya baik intra maupun ekstra kampus. yaitu hubungan (relation) baik. keenam. dan lain sebagainya. tentu saja pengenalan dan hubungan kekeluargaan antarsesama anggota. GMNI. kita pun selalu dituntut untuk menjaga diri dan memiliki perilaku baik dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama. III. baik dari internal maupun eksternal Komisariat. baik secara organisasi maupun perorangan. seperti BSO. Sejatinya. hubungan yang terjaga harus didudukan secara proposional dengan memegang teguh prinsip-prinsip dasar perjuangan dan kebenaran yang telah digariskan dengan rasa saling menghargai dan menghormati antarsesama umat manusia. pengharapan tersebut kian memberatkan tatkala kita seringkali dibayang-bayangi oleh nama besar bendera organisasi dan kesuksesan historis yang pernah terjadi. berbangsa dan bernegara. Akibatnya. Akan tetapi. hubungan baik tersebut juga jangan disalahartikan bahwa kita harus menuruti dan meng-iya-kan hal-hal yang berpotensi mengancam independensi dan keprofesionalitasan Komisariat. termasuk di hadapan jajaran Rektorat. PMII. Sebagai organisasi yang terbuka (eksklusif). anggota. Ragam hubungan inilah yang menjadi pegangan dasar berkembanganya eksistensi dan peran Komisariat di mata banyak orang. hingga tenaga pendididik di Fakultas. dengan jumlah besar dan kapasiatas yang mumpuni. Penulis menangkap bahwa apa yang dirasakan oleh kader-kader muda HMI Komisariat FHUI saat ini adalah terciptanya suatu kegamangan bertindak yang menyebabkan belum dapat menentukan kemana arah angin perahu Komisariat ingin berlayar. Sebagai personal pengurus. sosial dan kemasyarakatan. penulis juga melihat bahwa terjadinya kevakuman kegiatan dalam belakangan waktu terakhir telah menyebabkan tidak terdapatnya flat fotogenik yang mampu memberikan pendaran bayangan kegiatan ataupun program kerja yang dapat ditindaklajuti. Peran dan Kontibusi Riil Pengharapan selalu datang. suatu Komisariat juga harus membina hubungan kelembagaan yang bersifat vertikal dan horizontal. Sebagai sebuah keluarga inti. moral. Intinya. KAMMI. Bahkan jika diperlukan. Dekanat. kita pun sebenarnya sudah dapat membentuk Ikatan Alumni HMI Komisariat FHUI (ILUNI HMI FHUI) yang tersendiri. agar setiap insan HMI Komisariat FHUI mampu berperan dan memberikan kontribusi riil dalam setiap persoalan yang mendera di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat. dan juga alumni. HMI Komisariat FHUI harus dapat membina hubungan baik dengan siapa saja tanpa terkecuali.Hal yang terakhir. Kenyataan tersebut harus kita 7 . Dari hasil diskusi beberapa kali dengan rekan-rekan anggota Komisariat. pengurus seakan-akan diharuskan membangun kembali Komisariat yang sempat lemas-lunglai akibat hadirnya ‘konflik internal’ yang berkepanjangan. Senat/BEM. BO Fakultas. BPM/Dewan Mahasiswa. yaitu kepada sesama Komisariat ataupun kepada Cabang dan PB HMI di tingkatan Pusat.

. Setiap hembusan nafas di dunia ini kita lantunkan puji syukur atas curahan nikmat iman kepada Allah SWT. dan tahapan “BerpRestASI” (2011-2010). misalnya Pemilu. Mampukah dengan segudang pengalaman yang diperolehnya dari pola pengkaderan dan interaksi mutualisme antarsesama. konflik perdamaian dunia. BHP. siapapun tahu betul target apa yang menjadi sumbu utama program kerja tahunan yang saling terkait dan menopang antara tahun ini dengan tahun-tahun selanjutnya.. kita pun harus tetap menyusun dan mempertahankan program-program yang mampu mengasah pemikiran disertai dengan tindakan konkret. kaderkader terbaik dapat mengejewantahkan nilai-nilai perjuangannya dalam tataran kebijakan maupun praktis? Di sinilah Komisariat memegang peranan yang termat penting sebagai ujung tombak pergerakan sebelum akhirnya waktu jualah yang akan menjawab kesemuanya itu. Penutup Menutup tulisan ini. sumbu utama sebagaimana dicontohkan tersebut di atas tidak perlu bersifat kaku atau rigid. Bangkitlah Bangsaku. marilah kita semua. yang merupakan fokus utama program Komisariat mulai dari tahapan “KOnsolidasi” (2009-2010). Umatku. dan setiap ayunan kaki ini kita langkahkan dengan penuh ikhlas. namun isu-isu mainstream. keluarga. dan Negeriku! *** 8 . harus pula memperoleh sentuhan tangan-tangan dan pemikiran progresif kader-kader muda HMI. maka mulai saat ini Komisariat harus mampu menyusun Visi-Misi pegerakan dan perjuangannya secara jangka panjang untuk 3-5 tahun ke depan dan tidak lagi sekedar mengusung agenda-agenda parsial yang diadakan secara rutin setiap tahunnya. maka secara alamiah kader-kader Komisariat akan diuji penerimaannya dalam memegang amanah ekstra yang lebih besar di luar Komisariat. umat. Amin ya rabbal alamin. namun harus pula segera kita kubur dalam-dalam guna menatap masa depan Komisariat yang lebih baik. yaitu “Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling bermanfaat untuk orang lain”. IV. Komisariat dapat mengusung VISI 2012 dengan tema “KOPERASI” (2009-2012). Artinya. Setelah berhasil melaksanakan program-program yang riil dan konkret ke tengah-tengah masyarakat dan mahasiswa. Akan tetapi. Sebagai perumpamaan.. seraya berdoa agar kelak kita termasuk dalam golongan umat terbaik sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW. saudara-sudara kita satu Komisariat. Seperti misalnya di tahun 2009. bangsa dan negara. walaupun kita dalam tahap konsolidasi.akui dengan lapang dada sebagai kesalahan bersama masa lalu. untuk kembali merapatkan barisan serta memperkuat tali silaturahmi sambil memberikan manfaat yang terbaik dari apa yang kita miliki untuk diri pribadi. sambil menyusun target kebangkitan. tahapan “PEngabdian” (2010-2011). masyarakat. Apabila keberadaan HMI Komisariat FHUI ingin dinilai secara positif. segenap keluarga besar HMI Komisariat FHUI. Sehingga. dsb.

Publikasi Ilmiah: 1. .. BEM Universitas Indonesia.L TTL : Jakarta.Email : pan. Berbagai makalah yang dipresentasikan pada Konferensi Internasional Pelajar Indonesia yang diselenggarakan di New Delhi (India).faiz@gmail. OISAA (Overseas Indonesian Students Association Alliance).com. . 8.5 9 . dan FLG (Forum Lintas Generasi). Kuala Lumpur (Malaysia). Pendiri LPHKI (Lembaga Pengkajian Hukum dan Kepemerintahan Indonesia). M. Ketua Majelis Perwakilan Kelas (MPK) OSIS SMU Negeri 70 Jakarta 9. 2. Ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS) SLTP Negeri 48 Jakarta 10. Sydney (Australia). Ketua Umum Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bola Basket tingkat Pusat Periode 2002/2003 dan 2003/2004. KOPMA FHUI. 2. Puluhan makalah dan artikel yang pernah dimuat dalam Jurnal terakreditasi dan Koran nasional baik yang berbahasa Indonesia maupun berbahasa Asing.600. ISBN 978-979-3244-15-0. 4.900. dan Peneliti lepas di berbagai NGO Hukum Pendidikan : 1. Meraih Harapan” (2008) oleh Penerbit Konstitusi Press dan Pustaka Indonesia Satu. University of Delhi (S2) Program Perbandingan Hukum Tata Negara 2. Ketua Umum Pers. 3. 24 Desember 1982 Pekerjaan : Staf Hakim Konstitusi RI.panmohamadfaiz. Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (SM-FHUI) Periode 2004/2005. 6. Alamat Kontak: . SMU Negeri 70 Jakarta Riwayat Organisasi: 1. LK2 FHUI. Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Indonesia di India (PPI-India) Periode 2007/2008.SEKILAS TENTANG PENULIS Nama : Pan Mohamad Faiz. 3. dan Delft (Belanda). dsb. Buku “Bangkit Indonesia: Menaklukkan Tantangan.Mobile : +62812. Manager Development for South-East of Sharing Analysis on Regional Economic (ShAREInternational) Periode 2006-sekarang.com. S.Website : www.mohamad. dsb. 2007. Member of International Youth Parliament.H. 7. Fotografi dan Film Mahasiswa (PERFILMA) FHUI Periode 2003/2004. Faculty of Law. 5. Fakultas Hukum Universitas Indonesia (S1) Program Praktisi Hukum Angkatan 2001 3.C. Mantan Pengurus dan Anggota HMI Komisariat FHUI. 4.

Perlukah jalan baru untuk bangkit? *** PERTANYAAN seperti itu justru tidak tepat. Sejauh apa (sebenarnya) kebutuhan untuk bangkit itu? Dalam beberapa tahun terakhir. Diskusinya cukup menarik. agar kita bisa lebih baik dari kondisi sekarang. dimana kita berada. Tema itu. memang ada kegelisahan di kalangan HMI. Selain itu juga mengindikasikan kemauan untuk mawas diri. mengapa justru di era demokratisasi. menunjukkan kesadaran dan kepedulian pada lingkungan yang terkecil. Kalau semua Komisariat HMI melakukan yang sama. Ada kebutuhan untuk bangkit. insya-Allah akan menjadi suatu kebangkitan nasional bagi HMI. Tema ini juga mengindikasikan adanya kesadaran diri. Tersudutnya HMI dapat disimpulkan. bahwa HMI (sekarang) sedang dalam kondisi yang tidak menggembirakan. yang mungkin justru bisa memberi dampak yang lebih besar dibanding kita berpikir untuk lingkungan yang besar. yaitu jalan yang dirintis oleh para pendiri HMI. melibatkan beberapa alumni senior berbagai generasi dan HMI-wan/wati. agar HMI tidak terpuruk lebih dalam lagi. Apa yang terjadi pada HMI sekarang adalah justru HMI telah kehilangan jalan yang mestinya dilaluinya. tentunya dilandasi kesadaran. HMI justru sering tidak 10 . Inkonsistensi terhadap jalan yang telah digariskan telah membuat HMI tidak jelas jalannya sebagai organisasi mahasiswa. keberadaan HMI justru semakin tersudut? Padahal. diselenggarakan diskusi dengan tema “Kebangkitan Dimulai dari Sini. sebagai ketidakmampuan HMI berkompetisi secara terbuka di alam demokrasi. Dengan tema seperti itu. sebelum hendak mewujudkan cita-cita yang besar. Hal ini terlihat dari kecilnya minat mahasiswa baru menjadi anggota HMI.LAMPIRAN: KEBANGKITAN DIMULAI DARI SINI Oleh SULASTOMO DALAM rangka pelantikan pengurus baru HMI Komisariat Fakultas Hukum UI. dari Komisariat Fakultas Hukum UI”. tradisi demokrasi sejak awal telah ditanamkan pada setiap kader HMI.

2. memfasilitasi anggotanya mengenal masyarakat. Non-praktis politik tidak berarti tidak berpolitik. bahkan mestinya menyatu. yang tidak memungkinkan untuk melakukan politik praktis. Bahwa HMI adalah organisasi kader umat dan bangsa. independen. tempat ilmunya diabdikan. Disinilah peran lembaga-lembaga kekaryaan HMI. Karena itu. di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Sebagai organisasi kader. pencipta. 11 . termasuk sekedar rekreasi. 3. berdasar nilai dan moral yang dilandasi wawasan Kebangsaan dan ke-Islam-an. mestinya tidak perlu dipertentangkan. Pokok-pokok jalan yang digagas oleh para pendiri HMI. yang tentunya memiliki sifat/khas mahasiswa. Sikap independen diperlukan untuk membangun sikap kritis. terlibat dalam lembaga politik formal. Wawasan Kebangsaan dan ke-Islam-an. Menciptakan bentuk rekreasi yang menunjang kualitas pembentukan manusia akademis (dahulu) adalah khas HMI. yaitu manusia akademis. pemuda atau anak muda. tidak menjadi minat mahasiswa untuk bergabung dengan HMI. yang terbatas selama menjadi mahasiswa. di HMI lah setiap anggota HMI dipersiapkan untuk mengabdikan ilmunya (kelak) di masyarakat. Namun HMI harus dapat ikut membentuk kelahiran manusia akademis itu. dan kedua. dan pengabdi yang bernafaskan Islam. sudah tentu HMI juga harus menunjukkan sifat kepemudaannya dengan berbagai kegiatan yang diminati anak muda. Hal ini juga sejalan dengan sifat keanggotaan HMI. yang kemudian dikembangkan sesuai dengan perubahan zaman adalah: 1. Misalnya dalam bentuk student work camp atau meninjau sarana/fasilitas yang bermanfaat menambah wawasan. justru setelah selesai menyelesaikan studinya. Kualitas akademisnya sudah tentu menjadi tanggung jawab perguruan tinggi/fakultas. Sebagai organsiasi kader. Peran HMI itu dapat berwujud. agar lebih berhasil dengan prestasi akademik yang sebaik mungkin. yang merupakan wadah menggodog anggota HMI mengabdikan ilmunya di masyarakat. dan non-praktis politik. HMI adalah tempat mempersiapkan diri untuk pengabdiannya di masa depan. jangka pendek.mengesankan sebagai organisasi mahasiswa. pertama. Politik HMI adalah apa yang sering dikatakan sebagai high politics. sesuai dengan kodratnya sebagai pemuda dan akademisi. Sebagai organisasi mahasiswa. berwawasan ke-Indonesia-an dan ke-Islam-an dan profesional dalam pengabdiannya pada masyarakat. kegiatan memfasilitasi studi anggotanya.

(*) 12 Sumber: http://www.id/baca. ketiga kegiatan (jalan) itulah yang selayaknya harus selalu menjadi perhatian HMI. Sudah tentu harus sesuai dengan jenjang organisasi HMI.Sebagai organisasi mahasiswa. disebabkan kesinambungan generasi yang sering terputus. Kalau kesadaran seperti itu dapat ditumbuhkan kembali.or. Jalan lama yang dirintis oleh para pendahulu HMI sudah selalu mempertimbangkan kecenderungan masa depan. kebangkitan HMI mungkin tidak terlalu lama lagi. meskipun harus memperhatikan perkembangan lingkungan yang berubah dengan cepat.php?id=64218 . Insya-Allah. *** DAPAT disimpulkan. Bahkan mungkin mendahului zamannya.pelita. Sebuah pemahaman yang mungkin terlepas. yang lebih menggambarkan sebagai apa yang dikenal sebagai student need dan student interest harus lebih menjadi perhatian setiap Komisariat HMI. Kegiatan kedua dan ketiga. HMI tidak perlu mencari jalan baru.