Anda di halaman 1dari 66

SKRINING ISPA DI PUSKESMAS KOTA BANJARBARU

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
BANJARBARU
2015
TUGAS BESAR EPIDEMIOLOGI
SKRINING
Dan Penerapannya pada Proses Skrining ISPA Pasien Balita
di daerah Banjarbaru.

Dosen Mata Kuliah:


Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Dipl.hyp, ST., M.Kes
Disusun Oleh
Kelompok 6:
Achmad Saufi Ridhoni

H1E114001

Dini Amalia

H1E114005

Evi Rizki Setyowati

H1E114006

Firdaus Oktafyanza

H1E114008

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK LINGKUNGAN
BANJARBARU
2015

STRUKTUR JABATAN
Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc

Dr-Ing Yulian Firmana Arifin, ST., MT.

Dr. Rony Riduan, ST., MT.

Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah,


Dipl.hyp, ST., M.Kes

Nova Annisa, S.Si.,MS

Achmad Saufi Ridhoni


Dini Amalia
Evi Rizki Setyowati
Firdaus Oktafyanza

Ucapan terimakasih kami ucapkan kepada :


1. Rektor Universitas Lambung Mangkurat :
Prof. Dr. H. SutartoHadi, M.Si, M.Sc.

2. Dekan Fakultas Teknik Universitas Lambung


Mangkurat :
Dr-Ing Yulian FirmanaArifin, ST., MT.

3. Kepala Prodi TeknikLingkungan Universitas


Lambung Mangkurat :
Dr. Rony Riduan, ST., MT.

4. Dosen Mata Kuliah Epidemiologi :


Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Dipl.hyp,
ST., M.Kes

5. Dosen Mata Kuliah Epidemiologi : .


Nova Annisa, S.Si.,MS

6. AnggotaKelompok :

Achmad Saufi Ridhoni


Dini Amalia
Evi Rizki Setyowati
Firdaus Oktafyanza

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya
makalah yang berjudul Skrining ini dapat diselesaikan tepat waktu. Makalah ini
diajukan sebagai tugas mata kuliah Epidemeologi. Didalam makalah ini Penulis
memaparkan definis skrining serta contoh pelaksanaan skrining pada kasuskasus yang berkaitan dalam teknik lingkungan. Dalam penulisan makalah ini,
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu.
Penulis merasa berkewajiban dan perlu menyampaikan ucapan terima kasih
serta penghargaan, kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M. Si, M. Sc selaku rektor Universitas
Lambung Mangkurat.
2. Bapak DR. Ing. Yulian Firmana Arifin, ST. MT selaku Dekan Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat.
3. Bapak Chairul Irawan, ST., MT., Ph.D selaku PD I Dekan Fakultas Teknik
Universitas Lambung Mangkurat.
4. Ibu Maya Amalia, M.Eng selaku PD II Dekan Fakultas Teknik Universitas
Lambung Mangkurat.
5. Bapak Nurhakim, ST. MT selaku PD III Dekan Fakultas Teknik Universitas
Lambung Mangkurat.
6. Bapak Rony Ridwan, ST. MT selaku Kepala Prodi Teknik Lingkungan
Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat.
7. Ibu Prof. Dr. Qomariyatus Sholihah, Dipl.hyp, ST., M.Kes dan Ibu Nova
Anissa, S.Si. Ms selaku Dosen mata kuliah Epidemiologi.
8. Ibu Puspawati, Amd selaku pengelola data program ISPA Dinas Kesehatan
Banjarbaru.
9. Bapak Taufik Riyadi, SKM.MM selaku Kepala Puskesmas Banjarbaru dan
Ibu Endah Setiyani, Amk selaku pengelola P2 ISPA Puskesmas Banjarbaru.
10. Kedua orang tua dan dan keluarga yang telah mmeberikan doa dan
dukungan dalam pengerjaan makalah ini.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi Penulis khususnya
dan pembaca pada umumnya.
Banjarbaru, Desember 2015
Penulis
RINGKASAN

ISPA di indonesia menjadi salah satu penyebab kematian. Pengaruh


geografis dapat mendorong terjadinya peningkatan kasus maupun kematian
penderita akibat ISPA, misalnya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh
asap

karena

kebakaran hutan. Terutama daerah kalimantan apabila musim

kemarau banyak masyarakat yang membuka lahan baru dengan membakar


hutan, sehingga menimbulkan asap.
Sarana kesehatan yang banyak di kunjungi masyarakat Indonesia
biasanya puskesmas. Puskesmas memberi layanan ata rung yang berbeda
terhadap seseorang yang terkena ISPA. Oleh karena itu, metode yang digunakan
mengunjungi puskesmas terdekat untuk wawancara dan meminta data.
Berdasarkan data dan hasil wawancara yang dilakukan di puskesmas
Banjarbaru, banyaknya pasien yang berobat dengan keluhan ISPA. Orang yang
terkena ISPA dapat diketahui dengan mudah melalui proses skrining, misalnya
memperhatikan ritme pernapasannya. Jumlah pasien yang terkena ISPA
meningkat pada bulan April, sedangkan kabut asap terjadi pada bulan JuliAgustus. Oleh karena itu, kabut asap bukan salah satu penyebab yang berisiko
terhadap ISPA. Namun pola hidup yang kurang bersih menjadi penyebab utama
terjadinya ISPA.

DAFTAR SINGKATAN
1. ACS
2. ACOG

:
:

American Cancer Society


American College of Obstetricians and

3. ARI
4. ASI
5. BBLR
6. DES
7. EKG
8. HCG
9. HPV
10. IMS
11. ISPA
12. RSV
13. TBC
14. WHO

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Gynecologist
Acute Respiratory Infection
Air Susu Ibu
Berat Bayi Lahir Rendah
Dethylstibestrol
Elektrokardiogram
Human Chorionic Gonadotropin
Human Papilloma Virus
Infeksi Menular Seksual
Infeksi Saluran Pernafasan Akut
Respiratory Synctial Virus
Tuberculosis
World Health Organization

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Hasil Skrining...................................................................................16
Tabel 2.2 Batas Napas Cepat Sesuai Golongan Umur Balita..........................33
Tabel 3.1 Laporan Januari Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............34
Tabel 3.2 Laporan Februari Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............35
Tabel 3.3 Laporan Maret Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita).............35
Tabel 3.4 Laporan April Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............36
Tabel 3.5 Laporan Mei Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............37
Tabel 3.6 Laporan Juni Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............37
Tabel 3.7 Laporan Juli Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............38
Tabel 3.8 Laporan Agustus Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru
tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)..............38

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Bagan Proses Pelaksaan Skrining.................................................9
Gambar 2.2 Hubungan antara Sensitivitas dan Spesifisitas............................14
Gambar 2.3 Perhitungan Validitas Uji Skrining................................................16
Gambar 2.4 Contoh Perhitungan Spesifisitas Sensitivitas...............................16
Gambar 2.5 Contoh Perhitungan Spesifisitas..................................................17

DAFTAR GRAFIK
Grafik 3.1 Grafik Penemuan Penderita Pneumonia per Bulan Kota Banjarbaru
Tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru..........................42

DAFTAR ISI
STRUKTUR JABATAN....................................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................................iv
RINGKASAN...................................................................................................v
DAFTAR SINGKATAN.....................................................................................vi
DAFTAR TABEL..............................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................viii
DAFTAR GRAFIK............................................................................................ix
DAFTAR ISI.....................................................................................................x
BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...............................................................................1
1.2. Rumusan Masalah.........................................................................1
1.3. Tujuan............................................................................................2
1.4. Manfaat..........................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Skrining..........................................................................................3
2.2. Tujuan dan Manfaat Skrining.........................................................5
2.3. Sasaran dan Persyaratan Pelaksanaan Skrining...........................7
2.4. Proses Pelakasaan Skrining..........................................................8
2.5. Skrining ISPA.................................................................................19
2.5.1 Pengertian ISPA.................................................................19
2.5.2 Etiologi...............................................................................23
2.5.3 Tanda dan Gejala...............................................................24
2.5.4 Faktor yang Mempengaruhi ISPA.......................................25
2.5.5 Skrining pada ISPA............................................................31
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian..............................................................................33
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian..........................................................33
BAB IV ISI
4.1 Hasil...................................................................................................34
4.2 Pembahasan......................................................................................38
BAB V

PENTUP

5.1 Kesimpulan........................................................................................46
5.2 Saran.................................................................................................46
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................47
CONTOH SOAL.................................................................................................50
INDEKS.............................................................................................................. 51

10

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan
yang sangat serius baik di Dunia maupun di Indonesia. Tahun 2008 UNICEF dan
WHO melaporkan bahwa ISPA merupakan penyebab kematian paling besar
pada manusia, jika dibandingkan dengan total kematian akibat AIDS, malaria dan
campak. Kematian akibat ISPA ini (99,9% terutama Pneumonia) terjadi pada
negara-negara kurang berkembang dan berkembang seperti Sub Sahara Afrika
dan Asia khususnya di Asia tenggara dan Asia Selatan. Untuk Sub Sahara sendiri
terjadi 1.022.000 kasus per tahun sedangkan di Asia Selatan mencapai 702.000
kasus per tahun (Depkes RI, 2010).
ISPA di Indonesia masih menempati urutan pertama penyebab kematian
di Indonesia. Proporsi kematian Balita yang disebabkan oleh ISPA mencakup
20% - 30% dari seluruh kematian anak Balita. ISPA juga merupakan salah satu
penyebab utama kunjungan pasien pada sarana kesehatan. Sebanyak 40% 60% kunjungan berobat di Puskesmas dan sebanyak 15% - 30 % kunjungan
berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit disebabkan oleh
ISPA. Ditinjau dari prevalensinya pada tahun 1999

di Indonesia,

diketahui

bahwa penyakit saluran pernafasan menempati urutan pertama dari 10 penyakit


rawat jalan dan menjadi urutan kedua pada tahun 2007 dan menjadi pertama
kembali

pada tahun 2008. Berdasarkan hasil survei kesehatan nasional

(Surkesnas) pada tahun 2008 menunjukkan kematian bayi akibat ISPA sebesar
28%, artinya ada 28 bayi dari 100 bayi dapat meninggal akibat penyakit ISPA.
Tahun 2009 menunjukkan bahwa angka kematian bayi di Indonesia mencapai
46%, artinya ada 46 bayi dari 100 bayi dapat meninggal akibat penyakit ISPA
(Argadireja, 2015).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud skrinning?
2. Apa tujuan dan manfaat skrinning?
3. Apa sasaran dan persyarat pelaksanaan skirinning?

4. Bagaimana proses pelaksanaan skrinning?


5. Seperti apa penerapan skrinning pada sebuah kasus?

1.
2.
3.
4.
5.

1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
Memahami pengertian Skrining.
Mengetahui tujuan dan manfaat skrining
Mengetahui sasasran dan syarat pelaksanaan skrining.
Mengetahui proses pelaksanaan skrining
Memahami penerapan skrining pada kasus.
1.4 Manfaat
Manfaat dari makalah ini agar mahasiswa serta pembaca lainnya dapat

memahami skrining, serta dapat menerapkannya pada saat diperlukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Skrining
Di Indonesia kasus ISPA juga masih menempati urutan pertama dalam
jumlah pasien rawat jalan terbanyak. Hal ini menunjukkan angka kesakitan akibat
ISPA masih tinggi. Angka kematian pneumonia juga masih tinggi, yaitu kurang 5
per 1000 balita (Rahajoe dkk, 2012). Pencegahan primer merupakan cara terbaik
untuk mencegah penyakit, tetapi bila hal ini tidak mungkin dilakukan maka
deteksi tanda, gejala, dan pengobatan penyakit secara tuntas merupakan
pertahanan kedua. Untuk mendeteksi tanda dan gejala penyakit secara dini dan
menemukan penyakit sebelum menimbulkan gejala dapat dilakukan dengan cara
berikut.
1. Deteksi tanda dan gejala dini.
Untuk dapat mendeteksi tanda dan gejala penyakit secara dini dibutuhkan
pengetahuan tentang tanda dan gejala tersebut yang dilakukan oleh tenaga
kesehatan serta masyarakat. Dengan cara demikian, timbulnya kasus baru dapat
segera diketahui dan diberikan pengobatan. Biasanya, penderita datang untuk
mencari pengobatan setelah menimbulkan gejala dan mengganggu kegiatan
sehari-hari yang berarti penyakit telah berada dalam stadium lanjut. Hal ini
disebabkan ketidaktahuan dan ketidakmampuan penderita.
2. Penemuan kasus sebelum menimbulkan gejala.
Penemuan kasus ini dapat dilakukan dengan mengadakan uji skrining
terhadap orang-orang yang tampaknya sehat, tetapi mungkin menderita
penyakit. Diagnosis dan pengobatan penyakit yang diperoleh dari penderita yang
datang untuk mencari pengobatan setelah timbulgejala relatif sedikit sekali
dibandingkan dengan penderita tanpa gejala (Mubarak, 2012).
Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik pada satu atau
sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang
diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit (Rajab, 2009). Tes skrining
merupakan salah satu cara yang dipergunakan pada epidemiologi untuk
mengetahui prevalensi suatu penyakit yang tidak dapat didiagnosis atau keadaan
ketika angka kesakitan tinggi pada sekelompok individu atau masyarakat berisiko
tinggi serta pada keadaan yang kritis dan serius yang memerlukan penanganan

segera. Namun demikian, masih harus dilengkapi dengan pemeriksaan lain


untuk menentukan diagnosis definitif (Chandra, 2009).
Skrinning adalah usaha mendeteksi atau menemukan penderitaan
penyakit tertentu yang gejalanya tidak terlalu nampak dalam suatu masyarakat
atau kelompok penduduk tertentu melalui suatu tes atau pemeriksaan secara
sederhana untuk dapat memisahkan mereka yang betul-betul sehat terhadap
mereka yang kemungkinan besar menderita. Skrinning test merupakan suatu tes
sederhana yang diterapkan pada sekelompok populasi tertentu (yang relatif
sehat) dan bertujuan untuk mendeteksi mereka yang mempunyai kemungkinan
cukup tinggi menderita penyakit yang sedang diamati (disease under study)
sehingga kepada mereka dapat dilakukan diagnosis lengkap dan selanjutnya
bagi mereka yang menderita penyakit tersebut dapat diberikan pengobatan
secara dini (Noor, 2008).
Skrining adalah suatu usaha mencari/mendeteksi penderita penyakit
tertentu yang tanpa gejala dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu
melalui suatu test/pemeriksaan, yang secara singkat dan sederhana dapat
memisahkan mereka yang sehat terhadap merekayang kemungkinan besar
menderita, yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.
Skrining bukan diagnosis, sehingga hasil yang didapat betul-betul didasarkan
pada hasil pemeriksaan tes tertentu sedangkan kepastian diagnosis klinik
dilakukan pada tahap selanjutnya. Skrining dapat didefinisikan sebagai
identifikasi presumtif penyakit yang tidak tampak dengan menggunakan
pengujian pemeriksaan, atau prosedur lain yang dilakukan secara cepat unntuk
memeriksa individu yang tampaknya sehattetapi mungkin menderita penyakit.
Individu yang ditemukan positif atau tersangka dengan menderita suatu penyakit
harus segera dirujuk ke dokter untuk kepastian diagnosa dan pengobatan
(Weraman, 2010).
Berbeda dengan diagnosis yang artinya merupakan suatu tindakan untuk
menganalisis suatu permasalahan, mengidentidikasi penyebabnya secara tepat
untuk tujuan pengambilan keputusan dan hasil keputusan tersebut dilaporkan
dalam bentuk deskriptif (Yang dan Embretson, 2007). Skrining bukanlah sebuah
diagnosis, sehingga hasil yang diperoleh betul-betul hanya didasarkan pada hasil
pemeriksaan tes skrining tertentu, sedangkan kepastian diagnosis klinis

dilakukan belakangan secara terpisah, jika hasil dari skrining tersebut


menunjukan hasil yang positif (Noor, 2008).
Skrinning atau penyaringan

kasus adalah cara untuk mengidentifikasi

penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur
lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin
menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita dari suatu
populasi tertentu. Skrining dalam pengobatan, adalah strategi yang digunakan
dalam suatu populasi untuk mendeteksi suatu penyakit pada individu tanpa
tanda-tanda atau gejala penyakit itu.
Selain beberapa pengertian diatas skrining bisa diartikan sebagai:

Rangkaian pengujian yang dilakukan terhadap pasien simptomatik yang

diagnosisnya belum dapat dipastikan


Agen kimiawi dapat di-skrining dengan pengujian laboratorium atau surveilans

epidemiologi untuk mengidentifikasi zat-zat yang diperkirakan bersifat toksik


Prosedur skrining dapat digunakan untuk mengestimasi prevalensi berbagai

kondisi tanpa bertujuan untuk pengendalian penyakit dalam waktu dekat


Skrining adalah pengidentifikasian orang yang beresiko tinggi terhadap suatu
penyakit

(Harlan, 2006).
2.2 Tujuan dan Manfaat Skrining
Uji skrining digunakan untuk mengidentifikasi suatu penanda awal
perkembangan

penyakit

sehingga

intervensi

dapat

diterapkan

untuk

menghambat proses penyakit. Selanjutnya, akan digunakan istilah penyakit


untuk

menyebut

perkembangannya

setiap
atau

peristiwa
setiap

dalam

proses

komplikasinya.

Pada

penyakit,

termasuk

umumnya,

skrining

dilakukan hanya ketika syarat-syarat terpenuhi, yakni penyakit tersebut


merupakan penyebab utama kematian dan kesakitan, terdapat sebuah uji yang
sudah terbukti dan dapat diterima untuk mendeteksi individu-individu pada suatu
tahap awal penyakit yang dapat dimodifikasi, dan terdapat pengobatan yang
aman dan efektif untuk mencegah penyakit atau akibat-akibat penyakit (Morton,
2008).
Tujuan

skrining

adalah

untuk

mengidentifikasi

penyakit

yang

asimptomatis (tanpa gejala), atau faktor risiko penyakit, dengan menguji populasi

yang belum mengalami gejala klinis (Bailey, 2005). Secara umum Tujuan
Skrining adalah untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit
dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Program
diagnosis dan pengobatan dini hampir selalu diarahkan kepada penyakit tidak
menular, seperti tingkatan prevensi penyakit, deteksi dan pengobatan dini yang
termasuk dalam tingkat prevensi sekunder. Berikut tujuan dari skrining secara
lebih detail:
1. Untuk Menemukan orang yang terdeteksi menderita suatu penyakit sedini
mungkin sehingga dapat dengan segera memperoleh pengobatan.
2. Untuk Mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat.
3. Untuk Mendidik dan membiasakan masyarakat untuk memeriksakan diri
sedini mungkin.
4. Untuk Mendidik dan memberikan gambaran kepada petugas kesehatan
tentang sifat penyakit dan untuk selalu waspada melakukan

pengamatan

terhadap gejala dini.


5. Untuk Mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi klinis dan
peneliti.
(Harlan, 2006).
Dengan demikian skrining merupakan bagian dari survei epidemiologi
untuk menentukan frekuensi kejadian atau

riwayat perjalanan alamiah suatu

penyakit. Bukan hanya itu, skrining juga dilakukan untuk mengetahui sejauh
mana keefektifan sutu test dalam melakukan pencegahan penularan, serta
perlindungan kesehatan masyarakat. Misalnya penggunaan pemeriksaan x-ray
massal untuk mendeteksi tuberkolosis paru (Weraman, 2010).
Secara garis besar, uji skrining ialah cara untuk mengidentifikasi penyakit
yang belum tampak melalui tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang
dapoat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita
penyakit dengan orang orang yang mungkin tidak menderita. Jadi, tes untuk uji
skrining tidak dimaksudkan untuk mendiagnosis sehingga pada hasil tes uji
skrining yang positif harus dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif untuk
menentukan apakah yang bersangkutan memang sakit atau tidak kemudian bagi
yang

diagnosisnya

positif

dilakukan

pengobatan

intensif

agar

tidak

membahayakan bagi dirinya maupun lingkungannya, khususnya bagi penyakitpenyakit menular (Mubarak, 2012).

Beberapa manfaat tes skrining di masyarakat antara lain, biaya yang


dikeluarkan relatif murah serta dapat dilaksanakan dengan efektif, selain itu
melalui tes skrining dapat lebih cepat memperoleh keterangan tentang sifat dan
situasi penyakit dalam masyarakat untuk usaha penanggulangan penyakit yang
akan timbul. Skrining juga dapat mendeteksi kondisi medis pada tahap awal
sebelum gejala ditemukan sedangkan pengobatan lebih efektif ketika penyakit
tersebut sudah terdeteksi keberadaannya (Chandra, 2009).
2.3 Sasaran dan Syarat Skrining
Uji skrining seringkali bukan merupakan uji diagnostik dan biasanya
hanya berusaha untuk mengidentifikasi sejumlah kecil individu yang berisiko
tinggi untuk mengalami kondisi tertentu. Skrining penyakit merupakan contoh dari
pencegahan sekunder, meskipun skrining yang bersifat pencegahan primer juga
dapat dilakukan berupa skrining untuk mendapatkan kelompok yang memiliki
faktor risiko penyakit, misalnya skrining obesitas, skrining hiperkolesterolemia
sebagai faktor risiko penyakit kardiovaskuler, dan lain-lain. Semua skrining
dengan sasaran pengobatan dini dimaksudkan untuk mengidentifikasi orang
orang asimptomatik yang beresiko mengidap gangguan kesehatan serius.
Sasaran penyaringan adalah penyakit kronis seperti :

Infeksi Bakteri (Lepra, TBC dll.)


Infeksi Virus (Hepatitis)
Infeksi parasit (malaria, mikrofilaria, toxoplasma, dll)
Penyakit Non-Infeksi : (Hipertensi, Diabetes mellitus, Jantung Koroner, Ca

Serviks, Ca Prostat, Glaukoma)


HIV-AIDS

(Harlan, 2006).
Untuk dapat melakukan proses skrining, diharuskan memenuhi beberapa
kriteria atau ketentuan-ketentuan khusus yang merupakan persyaratan suatu tes
skrining, antara lain :
a. Penyakit yang dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti
dalam masyarakat dan dapat mengancam derajat kesehatan masyarakat
tersebut.
b. Tersedianya obat yang potensial dan memungkinkan pengobatan bagi
mereka yang dinyatakan menderita penyakit sesudah mengalami tes.

Keadaan penyediaan obat dan jangkauan biaya pengobatan dapat


mempengaruhi tingkat atau kekuatan tes yang dipilih.
c. Tersedianya fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti bagi mereka yang
dinyatakan positif terserang penyakit dan ketersediaan biaya pengobatan
bagi mereka yang dinyatakan positif dari hasil diagnosis klinis.
d. Tes penyaringan, terutama ditujukan pada penyakit yang masa latennya
cukup lama dan dapat diketahui melalui pemeriksaan atau tes khusus.
e. Tes penyaringan hanya dilakukan bila memenuhi syarat untuk tingkat
sensitivitas dan spesifitasnya karena kedua hal tersebut merupakan
standar untuk mengetahui apakah disuatu daerah yang dilakukan skrining
f.

berkurang atau malah bertambah frekuensi endemiknya.


Semua bentuk atau teknis dan cara pemeriksaan dalam tes penyaringan

harus dapat diterima oleh masyarakat secara umum.


g. Sifat perjalanan penyakit yang akan dilakukan tes harus diketahui denan
pasti.
h. Adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang
i.

mereka yang dinyatakan menderita penyakit tersebut.


Biaya yang digunakan dalam melakukan tes penyaringan sampai pada
titik akhir pemeriksaan harus seimbang dengan resiko biaya bila tanpa

j.

melakukan tes tersebut.


Harus memungkinkan
tentangpenyakit

untuk

tersebut

diadakan

serta

pemantauan

penemuan

(follow

penderita

up)

secara

berkesinambungan. Melihat hal tersebut penyakit HIV/AIDS dan Ca paru


serta penyakit yang tidak diketahui pasti perjalanan penyakitnya tidak
dibenarkan untuk dilakukan skrining, namun jika dilihat dari sisi lamanya
perkembangan penyakit, HIV/AIDS merupakan penyakit yang memenuhi
persyaratan skrining (Noor, 2008).
2.4 Proses Pelaksanaan Skrining
Bentuk pelaksanaan skrining diantaranya adalah:
1. Mass screening adalah skrining secara masal pada masyarakat tertentu.
2. Selective screening adalah skrining secara selektif berdasarkan kriteria
tertentu, contoh pemeriksaan Ca paru pada perokok; pemeriksaan Ca servik
pada wanita yang sudah menikah.
3. Single disease screening adalah skrining yang dilakukan untuk satu jenis
penyakit.

4. Multiphasic screening adalah skrining yang dilakukan untuk lebih dari satu
jenis penyakit contoh pemeriksaan IMS; penyakit sesak nafas
(Harlan, 2006).

Gambar 2.1 Bagan Proses Pelaksaan Skrining


Pada sekelompok individu yang tampak sehat dilakukan pemeriksaan
(tes) dan hasil tes dapat positif dan negatif. Individu dengan hasil negatif pada
suatu saat dapat dilakukan tes ulang, sedangkan pada individu dengan hasil tes
positif dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih spesifik dan bila hasilnya
positif dilakukan pengobatan secara intensif, sedangkan individu dengan hasil tes
negatif. dapat dilakukan tes ulang dan seterusnya sampai penderita semua
penderita terjaring. Tes skrining pada umumnya dilakukan secara masal pada
suatu kelompok populasi tertentu yang menjadi sasaran skrining. Namun
demikian bila suatu penyakit diperkirakan mempunyai sifat risiko tinggi pada
kelompok populasi tertentu, maka tes ini dapat pula dilakukan secara selektif
(misalnya khusus pada wanita dewasa) maupun secara random yang sarannya
ditujukan terutama kepada mereka dengan risiko tinggi. Tes ini dapat dilakukan
khusus untuk satu jenis penyakit tertentu, tetapi dapat pula dilakukan secara
serentak untuk lebih dari satu penyakit (Noor, 2008).
Uji skrining terdiri dari dua tahap, tahap pertama melakukan pemeriksaan
terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita
penyakit dan bila hasil tes negatif maka dianggap orang tersebut tidak menderita
penyakit. Bila hasil tes positif maka dilakukan pemeriksaan tahap kedua yaitu
pemeriksaan diagnostik yang bila hasilnya positif maka dianggap sakit dan
mendapatkan pengobatan, tetapi bila hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit
9

dan tidak memerlukan pengobatan. Bagi hasil pemeriksaan yang negatif


dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik. Ini berarti bahwa proses skrining
adalah pemeriksaan pada tahap pertama.
Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk skrinig dapat berupa
pemeriksaan laboratorium atau radiologis, misalnya :
a. Pemeriksaan gula darah.
b. Pemeriksaan radiologis untuk uji skrining penyakit TBC.
Pemeriksaan diatas harus dapat dilakukan:
1. Dengan cepat tanpa memilah sasaran untuk pemeriksaan lebih lanjut
(pemeriksaan diagnostik).
2. Tidak mahal.
3. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan.
4. Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa.
(Budiarto dan Anggraeni, 2003).
Namun jika dalam pelaksanaanya tidak berpengaruh terhadap perjalanan
penyakit, usia saat terjadinya stadium lanjut penyakit atau kematian tidak akan
berubah, walaupun ada perolehan lead time, yaitu periode dari saat deteksi
penyakit (dengan skrining) sampai dengan saat diagnosis seharusnya dibuat jika
tidak ada skrining.
Contoh dari pelaksanaan skrinning diantaranya adalah:
1. Mammografi dan Termografi; Untuk mendeteksi Ca Mammae.
Kadangkala

dokter-dokter

juga

menganjurkan

penggunaan

dari

screening magnetic resonance imaging (MRI) pada wanita-wanita lebih


muda dengan jaringan payudara yang padat.
2. Pap smear; Pap smear merupakan kepanjangan dari Papanicolau test.
Tes ini ditemukan oleh Georgios Papanikolaou. Tes ini merupakan tes
yang digunakan untuk melakukan skrening terhadap adanya proses
keganasan (kanker) pada daerah leher rahim (servik). Peralatan yang
digunakan yaitu; spatula/sikat halus, spekulum, kaca benda, dan mikroskop.
Mengapa perlu skrining? Kanker leher rahim merupakan kanker yang paling
sering dijumpai pada wanita setelah kanker payudara. Kanker ini termasuk
penyebab kematian terbanyak akibat kanker.
Secara internasional setiap tahun terdiagnosa 500.000 kasus baru.
Seperti halnya kanker yang lain, deteksi dini merupakan kunci keberhasilan
terapi, semakin awal diketahui, dalam artian masih dalam stadium yang tidak

10

begitu tinggi atau bahkan baru pada tahap displasia atau prekanker, maka
penanganan dan kemungkinan sembuhnya jauh lebih besar. Meskipun
sekarang ini sensitivitas dari pap smear ini ramai diperdebatkan dalam
skrening kanker leher rahim, Pap smear ini merupakan pemeriksaan non
invasif yang cukup spesifik dan sensitif untuk mendeteksi adanya perubahan
pada sel-sel di leher rahim sejak dini, apalagi bila dilakukan secara teratur.
Cervicography dan tes HPV DNA diusulkan sebagai metode alternatif
bagi skrining kanker leher rahim ini, karena kombinasi antara pap smear dan
cervicography atau tes HPV DNA memberikan sensitivitas yang lebih tinggi
dibanding pap smear saja. Pada umumnya seorang wanita disarankan untuk
melakukan pap smear untuk pertama kali kira-kira 3 tahun setelah
melakukan hubungan seksual yang pertama kali. American College of
Obstetricians and Gynecologist (ACOG) merekomendasikan pap smear
dilakukan setiap tahun bagi wanita yang berumur 21-29 tahun, dan setiap 23 tahun sekali bagi wanita yang berumur lebih dari 30 tahun dengan catatan
hasil pap testnya negatif 3 kali berturut-turut.
Namun apabila seorang wanita mempunyai faktor resiko terkena
kanker

leher

rahim

(misalnya

hasil

pap

smear

menunjukkan

prekanker,terkena infeksi HIV, atau pada saat hamil ibu mengkonsumsi


diethylstilbestrol (DES) maka pap smear dilakukan setiap tahun tanpa
memandang umur. Batasan seorang wanita untuk berhenti melakukan pap
smear menurut American Cancer Society (ACS) adalah apabila sudah
berumur 70 tahun dan hasil pap smear negatif 3 kali berturut-turut selama 10
tahun.
3. Sphygmomanometer dan Stetoscope; Untuk mendeteksi hipertensi.
Risiko hipertensi (tekanan darah tinggi) meningkat

seiring

bertambahnya usia, berat badan dan gaya hidup. Tekanan darah tinggi dapat
menyebabkan komplikasi yang cukup parah tanpa ada gejala sebelumnya.
Tekanan darah tinggi juga dapat memicu timbulnya berbagai penyakit seperti
penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Tekanan darah normal adalah
kurang dari 120/80. Tekanan darah cukup tinggi adalah 140/90 atau lebih.
Dan tekanan darah di antara kedua nilai tersebut disebut prehipertensi.
Seberapa sering tekanan darah harus diperiksa tergantung pada seberapa
tinggi nilainya dan apa faktor-faktor risiko lainnya yang dimiliki.

11

4. Photometer; alat untuk memeriksa kadar gula darah melalui tes darah.
Mula-mula darah diambil menggunakan alat khusus yang ditusukkan
ke jari. Darah yang menetes keluar diletakkan pada suatu strip khusus. Strip
tersebut mengandung zat kimia tertentu yang dapat bereaksi dengan zat
gula yang terdapat dalam darah. Setelah beberapa lama, strip tersebut akan
mengering dan menunjukkan warna tertentu. Warna yang dihasilkan
dibandingkan dengan deret (skala) warna yang dapat menunjukkan kadar
glukosa dalam darah tersebut. Tes ini dilakukan sesudah puasa (minimal
selama 10 jam) dan 2 jam sesudah makan.
5. Plano Test; Untuk mendeteksi kehamilan (memeriksa kadar HCG dalam
darah).
6. EKG (Elektrokardiogram); Untuk mendeteksi Penyakit Jantung Koroner.
7. Pita Ukur LILA; Untuk mendeteksi apakah seorang ibu hamil menderita
kekurangan gizi atau tidak dan apakah nantinya akan melahirkan bayi berat
lahir rendah (BBLR) atau tidak.
8. X-ray, pemeriksaan sputum BTA; Untuk mendeteksi penyakit TBC
9. Pemeriksaan fisik Head to Toe; Untuk mendeteksi adanya keadaan
abnormal pada ibu hamil.
10. Rectal toucher; Yang dilakukan oleh dokter untuk mendeteksi adanya
cancer prostat. Tes skrining mampu mendeteksi kanker ini sebelum gejalagejalanya semakin berkembang, sehingga pengobatan/treatmennya menjadi
lebih efektif. Pria dengan resiko tinggi terhadap kanker prostat adalah pria
usia 40 tahunan.
11. Pervasive Developmental Disorders Screening Test PDDST II; PDDST-II
adalah salah satu alat skrening yang telah dikembangkan oleh Siegel B. dari
Pervasive Developmental Disorders Clinic and Laboratory, Amerika Serikat
sejak tahun 1997.
(Bustan, 2000).
Kriteria evaluasi
1. Validitas
Suatu alat (test) skrining yang baik adalah mempunyai tingkat validitas
dan reliabilitas yang tinggi, yaitu mendekati 100%. Validitas adalah kemampuan
dari test penyaringan untuk memisahkan mereka yang benar sakit terhadap yang
sehat. Besarnya kemungkinan untuk mendapatkan setiap individu dalam
keadaan yang sebenarnya (sehat atau sakit). Validitas berguna karena biaya
screening lebih murah daripada test diagnostik. Komponen Validitas diantaranya
adalah:

12

Sensitivitas adalah kemampuan dari test secara benar menempatkan

mereka yang positif betul-betul sakit.


Spesivicitas adalah kemampuan dari test secara benar menempatkan
mereka yang negatif betul-betul tidak sakit.

(Budiarto dan Anggraeni, 2003).


SAKIT

POPULASI

SAKIT,
DIKLASIFIKASI SEBAGAI SEHAT (NEGATIF PALSU)

DIKLASIFIKASI SEBAGAI SAKIT

SEHAT,
DIKLASIFIKASI SEBAGAI SEHAT (POSITIF PALSU)

SAKIT, DIKLASIFIKASI SEBAGAI SAKIT

Gambar 2. 2 Hubungan antara Sensitivitas dan Spesifisitas (kurva atas


menggambarkan distribusi diantara individu sehat, kurva bawah distribusi
diantara individu sakit).
Gambar diatas mengilustrasikan secara skematis interdependensi (saling
ketergantungan) dari sensitifitas dan spesifitas. asumsinya adalah bahwa
diagnosis didasarkan pada suatu variabel terukur yang distribusinya untuk bagian
populasi yang sakit dan sehat berbeda. Individu-individu yang nilainya diatas titik
potong (cut-off point) k dari ukuran diagnosis diklasifikasi sebagai sakit. Bila area
dibawah tiap grafik sama dengan 100%, bagian kiri dari grafik yang diatas sesuai
dengan spesifitas dan bagian kanan dari grafik yang dibawah sesuai dengan
sensitivitas. Bila persyaratan untuk seorang individu diklasifikasi sebagai sakit
diperketat, yaitu bila k digerakkan kekiri, sensitivitas akan berkurang.

13

Besarnya nilai kedua parameter tersebut tentunya ditentukan dengan alat


diagnostik diluar tes penyaringan. Kedua nilai tersebut saling mempengaruhi satu
dengan yang lainnya, yakni bila sensitivitas meningkat, maka spesifisitas akan
menurun, begitu pula sebaliknya. Untuk menentukan batas standar yang
digunakan pada tes penyaringan, harus ditentukan tujuan penyaringan, apakah
mengutamakan semua penderita terjaring termasuk yang tidak menderita,
ataukah mengarah pada mereka yang betul-betul sehat (Budiarto dan Anggraeni,
2003).
Selain kedua nilai tersebut, dalam memilih tes untuk skrining dibutuhkan
juga nilai prediktif

(Predictive Values).

Nilai prediktif

adalah besarnya

kemungkinan dengan menggunakan nilai sensitivitas dan spesivitas serta


prevalensi dengan proporsi penduduk yang menderita. Nilai prediktif value
terbagi menjadi dua, yaitu:

Nilai Prediktif Positif (NPP)


Nilai Prediktif Positif (NPP) atau Predictive Positive Value (PPV) adalah
porsentase dari mereka dengan hasil tes positive yang benar benar sakit,
artinya mereka dengan tes positif juga menderita penyakit, sedangkan nilai
prediktif negatif artinya mereka yang dinyatakan negatif juga ternyata tidak
menderita penyakit.
Rumus:
NPP = PS / (PS + PP)

Nilai Prediktif Negatif (NPN)


Nilai Prediktif Negatif (NPN) atau Negative Prediktive Value (NPV) adalah
porsentase dari mereka dengan hasil tes negatif yang benar benar tidak sakit,
sangat dipengaruhi oleh besarnya prevalensi penyakit dalam masyarakat
dengan ketentuan, makin tinggi prevalensi penyakit dalam masyarakat, makin
tinggi pula nilai prediktif positif dan sebaiknya.
Rumus:
NPN = NS / (NS + NP)

Tabel 2. 1 Hasil Skrining

14

Sebuah program skrining yang efektif akan menggunakan pemeriksaan


yang mampu membedakan antara individu yang sakit dan yang sehat. Hal ini
dikenal sebagai validitas skrining. Untuk mengukur uji validitas, digunakan hasil
skrining dibandingkan dengan baku emas (gold standard) dari pemeriksaan yang
dilakukan. Hasil dari uji validitas adalah didapatkannya nilai sensitivitas dan
spesifisitas. Berikut ini gambar yang menunjukkan perhitungan sensitivitas dan
spesifisitas dalam skrining.

Gambar 2. 3 Perhitungan Validitas Uji Skrining

Gambar 2. 4 Contoh Perhitungan Spesifisitas Sensitivitas

15

Gambar 2. 5 Contoh Perhitungan Spesifisitas


(Budiarto dan Anggraeni, 2003).
2. Reliabilitas
Jika tes yang dilakukan secara kontinyu menunjukan hasil yang
konsisten, maka dapat dikatakan reliable. Variabilitas ini dipengaruhi oleh
beberapa factor :
1. Variabilitas yang dapat ditimbulkan oleh:
a. Stabilitas reagen
b. Stabilitas alat ukur yang digunakan
Stabilitas reagen dan alat ukur sangat penting karena makin stabil
reagen dan alat ukur, makin konsisten hasil pemeriksaan. Oleh karena itu,
sebelum digunakan hendaknya kedua hasil tersebut ditera dan diuji ulang
ketepatannya.
2. Variabilitas orang yang diperiksa. Kondisi fisik, psikis, stadium penyakit atau
status penyakit dalam masa tunas. Misalnya: lelah, kurang tidur, marah,
sedih, gembira, penyakit yang berat, dan penyakit yang sedang bertunas.
3.

Umumnya variasi ini sulit untuk diukur terutama faktor psikis.


Variabilitas pemeriksa. Variasi pemeriksa dapat berupa:
a. Variasi interna, merupakan variasi yang terjadi pada hasil pemeriksaan
yang dilakukan secara berulang-ulang oleh orang yang sama.
b. Variasi eksterna ialah variasi yang terjadi bila satu sediaan dilakukan
pemeriksaan oleh beberapa orang.
Upaya untuk mengurangi berbagai variasi diatas dapat dilakukan dengan
mengadakan:
1. Standarisasi reagen dan alat ukur.
2. Latihan intensif pemeriksa.
3. Penentuan criteria yang jelas.

16

4. Penerangan kepada orang yang diperiksa.


5. Pemeriksaan dilakukan dengan cepat.
3. Yield
Yield merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai
hasil dari skrining. Hasil ini dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut (Budiarto,
1.
2.
3.
4.

2003):
Sensitivitas alat skrining.
Prevelansi penyakit yang tidak tampak.
Skrining yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.
Kesadaran masyarakat.
Bila alat yang digunakan untuk skrining mempunyai sensitivitas yang
rendah, akan dihasilkan sedikit negatif semu yang berarti sedikit pula penderita
yang tidak terdiagnosis. Hal ini dikatakan bahwa skrining dengan yield yang
rendah. Sebaliknya, bila alat yang digunakan mempunyai sensitivitas yang tinggi,
akan menghasilkan yield yang tinggi. Jadi, sensitivitas alat dan yield mempunyai
korelasi yang positif. Makin tinggi prevelensi penyakit tanpa gejala yang terdapat
di masyarakat akan meningkatkan yield, terutama pada penyakit kronis seperti
TBC, karsinoma, hipertensi, dan diabetes mellitus. Bagi penyakit-penyakit yang
jarang dilakukan skrining akan mendapatkan yield yang tinggi karena banyaknya
penyakit tanpa gejala yang terdapat di masyarakat. Sebaliknya jika suatu
penyakit telah dilakukan skrining sebelumnya maka yield akan rendah karena
banyak penyakit tanpa gejala yang telah didiagnosis. Kesadaran yang tinggi
terhadap masalah kesehatan masyarakat akan meningkatkan pastisipasi dalam
uji skrining sehingga kemungkinan banyak penyakit tanpa gejala yang dapat
terdeteksi dengan demikian yield akan meningkat.
Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan saat ingin melakukan
kegiatan skrining yaitu:
1. Penyakit atau kondisi yang sedang diskrining harus merupakan masalah
medis utama.
2. Pengobatan yang dapat diterima harus tersedia untuk individu berpenyakit
yang terungkap saat proses skrining dilakukan.
3. Harus tersedia akses kefasilitasan dan pelayanan perawatan kesehatan
untuk diagnosis dan pengobatan lanjut penyakit yang ditemukan.
4. Penyakit harus memiliki perjalanan yang dapat dikenali dengan keadaan
awal dan selanjutnya dapat diidentifikasi.
5. Harus tersedia tes atau pemeriksaan yang tepat dan efektif untuk penyakit.
6. Tes dan proses uji harus dapat diterima oleh masyarakat umum.

17

7. Riwayat alami penyakit atau kondisi harus cukup dipahami termasuk fase
regular dan perjalanan penyakit dengan periode awal yang dapat
diidentifikasi melalui uji.
8. Kebijakan, prosedur, dan tingkatan uji harus ditentukan untuk menentukan
siapa yang harus dirujuk untuk pemeriksaan, diagnosis, dan tindakan lebih
lanjut.
9. Proses harus cukup sederhana sehingga sebagian besar kelompok mau
berpartisipasi.
10. Screening jangan dijadikan kegiatan yang sesekali saja, tetapi harus
dilakukan dalam proses yang teratus dan berkelanjutan.
11. Alat untuk penanganan.
12. Waktu pelaksanaan tersedia.
13. Pengaplikasian tepat.
14. Mendapat pengobatan segera.
15. Alat diagnosis tersedia.
Ada tiga macam sumber terjadinya penyimpangan pada saat skrining,
yaitu:
1. Lead Time Bias adalah interval waktu antara keadaan dapat dideteksi dengan
uji skrining dan saat umumnya keadaan dapat dideteksi melalui keluhan
adanya gejala awal. Deteksi melalui skiring terjadi pada umumnya lebih awal
diandingkan pada saat diagnosis dapat dilakukan, tanpa menunda saat
kejadian terjadi. Dengan penemuan kasus melalui skrining seolah-olah
memperpanjang interval antara waktu diagnosis dapat dibuat sampai
kematian terjadi.
2. Lengt Bias. Kasus yang terdeteksi melalui program skrining cenderung
memiliki tahap presimptomatik atau subklinik lebih panjang dibandingkan
dengan mereka yang ditemukan diantara periode penyaringan karena upaya
pribadi.
3. Patient Self-selection Bias yaitu individu-individu yang berperan dalam proses
penyaringan pasti memiliki karakteristik yang berbeda dengan mereka yang
tidak. Karakteristik tersebut mungkin berpengaruh kepada kelangsungan
hidup.
(Budiarto, 2003).
2.5 Skrinning ISPA
2.5.1Pengertian ISPA
Infeksi

Saluran

Pernapasan Akut

(ISPA)

adalah

infeksi

saluran

pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14

18

hari. ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran pernapasan
bagian atas dan bagian bawah. ISPA dapat menimbulkan gejala ringan (batuk,
pilek), gejala sedang (sesak, wheezing) bahkan sampai gejala yang berat
(sianosis, pernapasan cuping hidung). ISPA yang berat jika mengenai jaringan
paru-paru dapat menyebabkan tejadinya pneumonia. Pneumonia merupakan
penyakit infeksi penyebab kematian nomor satu pada balita (Riskesdas, 2013).
Penyakit ISPA merupakan salah satu penyakit pernafasan terberat dan
terbanyak menimbulkan akibat dan kematian (Gouzali, 2011). ISPA merupakan
salah satu penyakit pernafasan terberat dimana penderita yang terkena
serangan infeksi ini sangat menderita, apa lagi bila udara lembab, dingin atau
cuaca terlalu panas. (Saydam, 2011)
Dari kedua pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penyakit
infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) adalah, infeksi yang menyerang saluran
pernafasan atas yang disebabkan oleh bakteri dan virus serta akibat adanya
penurunan kekebalan tubuh penderita akibat populasi udara yang di hirup.
1) Faktor-faktor terjadinya ISPA
Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor
lingkungan, faktor individu anak, serta faktor perilaku.
a. Faktor lingkungan
1. Pencemaran udara dalam rumah
Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk
memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme
pertahanan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini
dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur
terletak didalm rumah, bersatu dengan kamar tidur, ruang tempat bayi
dan anak balita bermain. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi dan
anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya
sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Hasil penelitian
diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara, diantaranya
ada peningkatan resiko bronchitis, pneumonia pada anak-anak yang
tinggal di daerah lebih terpolusi, dimana efek ini terjadi pada kelompok
umur 9 bulan dan 6-10 tahun. (Maryunani, 2010).
2. Ventilasi rumah

19

Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan


udara ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis.
Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut mensuplai udara
bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum
bagi pernafasan, membebaskan udara ruangan dari bau-bauan, asap
ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran
udara, mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang,
mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan,
mengeluarkan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi
tubuh, kondisi, evaporasi ataupun keadaan eksternal, mendisfungsikan
suhu udara secara merata. (Maryunani, 2010).
3. Kepadatan hunian rumah
Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor
polusi dalam rumah yang telah ada. Penelitian menunjukkan ada
hubungan

bermakna

antara

kepadatan

dan

kematian

dari

bronkopneumonia pada bayi, tetapi disebutkan bahwa polusi udara,


tingkat sosial, dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor
ini. (Maryunani,2010).
b. Faktor individu anak
1. Umur anak
Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit
pernafasan oleh virus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan
tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6-12
tahun. (Maryunani, 2010).
2. Berat badan lahir
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan
fisik dan mental pada masa balita. Bayi dengan berat badan lahir
rendah (BBLR) mempunyai resiko kematian yang lebih besar
dibandingkan dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulanbulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan
kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi,
terutama pneumonia dan sakit saluran pernafasan lainnya. Penelitian
menunjukan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan
dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasam dan

20

hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status


pekerjaan, pendapatan, pendidikan. Data ini mengingatkan bahwa
anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami
rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernafasan, tetapi
mengalami lebih berat infeksinya. (Maryunani, 2010).
3. Status gizi
Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang
penting untuk terjadinya ISPA. Beberapa penelitian telah membuktikan
tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru, sehingga
anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Disamping
itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan
infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak
terhadap infeksi. Balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan
tubuh yang kurang. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita
tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi.
Pada keadaan gizi kurang, balita lebih mudah terserang ISPA berat
bahkan serangannya lebih lama. (Maryunani, 2010).
4. Vitamin A
Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan
kapsul 200.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan
empat tahun. Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan
sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah
sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96,6% pada
kelompok kasus dan 93,5% pada kelompok kontrol. Pemberian vitamin
A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan
peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada
dalam nilai yang cukup tinggi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap
bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya,
niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit
penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat.
(Maryunani, 2010).
5. Status Imunisasi
Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan
mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi

21

campak. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang
berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi
seperti difteri, pertusis, campak, maka peningkatan cakupan imunisasi
akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. Untuk
mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA, diupayakan
imunisasi lengkap. Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi
lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkembangan
penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. (Maryunani, 2010).
c. Faktor perilaku
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit
ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktik penanganan ISPA
di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga
lainnya. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang
berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga, satu dengan lainnya
saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota
keluarga mempunyai masalah kesehatan, maka akan berpengaruh
terhadap anggota keluarga lainnya. (Maryunani, 2010).
2.5.2Etiologi
Jumlah penderita infeksi pernafasan akut kebanyakan pada anak. Etiologi
dan infeksinnya mempengaruhi umur anak, musim, kondisi tempat tinggal, dan
masalah kesehatan yang ada.
1. Agen penginfeksi
System pernapasan

menjadi

terpengaruh

oleh

bermacam-macam

organism terinfeksi. Banyak infeksi disebabkan oleh virus, terutama respiratory


synctial virus (RSV). Agen lain melakukan serangan pertama atau kedua
melibatkan grup A B-Hemolytic streptococcus, staphylococci, haemophilus
influenza, chalaydia trachomatis, mycoplasma, dan pneumococci.
2. Umur
Infeksi meningkat pada umur 3-6 bulan, pada waktu ini antara hilangnya
antibodi keibuan danproduksi antibodi bayi itu sendiri. Sisa infeksi dari virus
berkelanjutan pada waktu balita dan prasekolah. Pada waktu anak-anak berumur
5 tahun, infeksi pernafasan yang disebabkan oleh virus akan berkurang
frekuensinya,tetapi pengaruh infeksi mycoplasma pneumonia dan grup A-BHemolytic streptococcus akan meningkat. Jumlah jaringan limfa meningkat

22

seluruhnya pada masa anak-anak dan diketahui berulang-ulang meningkatkan


kekebalan pada anak yang sedang tumbuh dewasa. Beberapa agen virus
membuat sakit ringan pada anak yang lebih tua tetapi menyebabkan sakit yang
hebat disistem pernafasan bagian bawah atau batuk asma pada balita.
3. Ukuran
Ukuran anatomi mempengaruhi respon infeksi system pernafasan.
Diameter saluran pernafasan terlalu kecil pada anak-anak akan menjadi sasaran
radang selaput lendir dan peningkatan produksi sekresi. Disamping itu jarak
antara struktur dalam system yang pendek pada anak-anak, walaupun
organisme bergerak dengan cepat ke bawah system pernafasan yang mencakup
secara luas. Pembuluh Eustachius relative pendek dan terbuka pada anak kecil
dan anak muda yang membuat pathogen mudah untuk masuk ketelinga bagian
tengah.
4. Daya tahan
Kemampuan untuk menahan organisme penyerang dipengaruhi banyak
faktor. Kekurangan system kekebalan pada anak beresiko terinfeksi. Kondisi lain
yang mengurangi daya tahan tubuh adalah malnutrisi, anemia, kelelahan dan
tubuh yang menakutkan. Kondisi yang melemahkan pertahanan pada system
pernafasan dan cenderung yang menginfeksi melibatkan alergi seperti alergi
rhinitis, asma, kelainan jantung yang disebabkan tersumbatnya paru-paru, dan
cystic fibrosis. Partisipasi hari perawatan, khususnya jika pelaku perokok, juga
meningkat kemungkinan terinfeksi.
5. Variasi musim
Banyaknya pathogen pada system pernafasan yang muncul dalam wabah
selama bulan musim semi dan dingin , tetapi infeksi mycoplasma sering muncul
berkaitan dengan asma (seperti asma bronchitis ) frekuensi banyak muncul
selama cuaca dingin. Musim dingin dan semi adalah tipe Musim RSV.
(Rahmawati, 2012).
2.5.3Tanda dan Gejala ISPA
Menurut Widoyono (2008:155), seorang anak yang menderita ISPA bisa
menunjukan bermacam-macam tanda dan gejala, seperti batuk, bersin, serak
sakit tenggorokan, sakit telinga, keluar cairan dari telinga, sesak nafas,
pernafasan yang cepat, nafas yang berbunyi, penarikan dada ke dalam, bisa
juga mual, muntah, tidak mau makan, badan lemah dan sebagainya.
a. Tanda dan Gejala ISPA ringan
Tanda dan gejala untuk ISPA ringan antara lain batuk, pilek, suara serak,

23

dengan atau tanpa panas atau demam. Tanda yang lainnya adalah keluarnya
cairan dari telinga yang lebih dari dua minggu, tanpa rasa sakit pada telinga.
b. Tanda dan Gejala ISPA sedang
Tanda dan gejala ISPA sedang meliputi tanda dan gejala pada ISPA
ringan ditambah satu atau lebih tanda dan gejala seperti pernafasan yang lebih
cepat (lebih dari 50 kali per menit), wheezing (nafas menciut-ciut), dan panas
39oC atau lebih. Tanda dan gejala lainnya antara lain sakit telinga,
keluarnya cairan dari telinga yang belum lebih dari dua minggu, sakit campak.
c. Tanda dan Gejala ISPA berat
Tanda dan gejala ISPA berat meliputi tanda dan gejala ISPA ringan atau
sedang ditambah satu atau lebih tanda dan gejala seperti penarikan dada ke
dalam pada saat menarik nafas yang merupakan tanda utama ISPA berat,
stridor, dan tidak mampu atau tidak mau makan. Selain itu tanda dan gejala
dapat disertai kulit kebiru-biruan
hidung

(sianosis),

nafas

cuping hidung

(cuping

ikut bergerak kembang kempis waktu bernafas), kejang, dehidrasi,

kesadaran menurun, terdapatnya membran (selaput) diferti.


(Widoyono, 2008).
2.5.4Faktor yang Mempengaruhi ISPA
Banyak faktor yang berperan terhadap terjadinya ISPA, baik faktor
intrinsik maupun faktor ekstrinsik. Adapun faktor tersebut adalah sebagai berikut:
a. Faktor Intrinsik
Faktor intrinsik merupakan faktor yang berasal dari dalam tubuh balita itu
sendiri. Faktor intrinsik adalah faktor yang meningkatkan kerentanan pejamu
terhadap kuman. Faktor intrinsik terdiri dari status gizi, status imunisasi balita,
riwayat BBLR, umur balita.
1. Status Gizi
Balita adalah kelompok umur yang rawan gizi dan rawan
penyakit. Kelompok ini merupakan kelompok yang paling sering
menderita

penyakit

akibat

gizi

dalam

jumlah

besar

(Soekidjo

Notoatmodjo, 2007:231). Gizi buruk akan menyebabkan terganggunya


system pertahanan tubuh. Perubahan morfologis yang terjadi pada
jaringan limfoid yang berperan dalam system kekebalan akibat gizi
buruk, menyebabkan pertahanan tubuh menjadi lemah. Rendahnya

24

daya tahan tubuh akibat gizi buruk sangat memudahkan dan


mempercepat berkembangnya bibit penyakit dalam tubuh (Moehji,
2003).
2. Imunisasi Balita
Imunisasi adalah salah satu bentuk intervensi kesehatan yang
sangat efektif dalam upaya penurunan angka kematian bayi dan balita.
Imunisasi merupakan salah satu cara meningkatkan kekebalan tubuh
seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga kelak bila ia
terpajan pada antigen serupa tidak terjadi penyakit. Pemberian vaksin
untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu atau imunisasi adalah
suatu upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit
dengan cara memasukkan kuman atau produk kuman yang telah
dilemahkan atau dimatikan ke dalam tubuh (I.G.N Ranun, 2005).
Imunisasi lengkap perlu diupayakan untuk mengurangi faktor
yang meningkatkan mortalitas ISPA. Campak, pertusis, difteri dan
beberapa penyakit lain dapat meningkatkan risiko ISPA, maka
peningkatan cakupan imunisasi seperti diifteri, pertusis serta campak
akan berperan besar dalam upaya pemberantasan penyakit tersebut.
Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila terserang
penyakit diharapkan perkembangan penyakitnya tidak akan menjadi
lebih berat (Depkes RI, 2009).
3. Riwayat BBLR
Berat badan lahir menentukan pertumbuhan, perkembangan fisik
dan mental pada balita. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR)
mempunyai faktor risiko kematian yang lebih besar dibandingkan
dengan berat badan lahir normal, terutama pada bulan pertama
melahirkan karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna
sehingga lebih mudah terserang penyakit infeksi, terutama pneumonia
dan penyakit saluran pernapasan. Apabila daya tahan terhadap tekanan
dan stress menurun, maka sistem imun dan antibodi berkurang,
sehingga

mudah

terserang

infeksi.

Pada

anak

hal

ini

dapat

mengakibatkan kematian (Almatsier, 2004).


4. Umur Balita
Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk terjadinya

25

ISPA. Oleh sebab itu kejadian ISPA pada bayi dan anak balita akan lebih
tinggi jika dibandingkan dengan orang dewasa. Kejadian ISPA pada bayi
dan balita akan memberikan gambaran klinik yang lebih besar dan jelek,
hal ini disebabkan karena ISPA pada bayi dan balita umumnya
merupakan kejadian infeksi pertama serta belum terbentuknya secara
optimal proses kekebalan secara alamiah. Bayi umur kurang dari 1
tahun mempunyai risiko lebih tinggi terhadap penyakit ISPA. Hal ini
disebabkan imunitas anak kurang dari dua tahun belum baik dan lumen
saluran napasnya masih sempit. Pneumonia pada anak balita sering
disebabkan virus pernapasan dan puncaknya terjadi pada umur 2-3
tahun. Penyebabnya antara lain imunisasi yang kurang lengkap,
pemberian nutrisi yang kurang baik, tidak diberikan ASI eksklusif dan
pajanan terhadap asap dapur, asap rokok, serta penderita pneumonia
lainnya (Misnadiarly, 2008).
b. Faktor Ekstrinsik
Merupakan faktor yang berasal dari luar tubuh, biasanya disebut faktor
lingkungan.

Faktor

ekstrinsik adalah

faktor

yang dapat

meningkatkan

pemaparan dari pejamu terhadap kuman penyebab yang terdiri dari tiga unsur
yaitu biologi, fisik dan sosial ekonomi yang meliputi kondisi fisik rumah, jenis
bahan bakar, ventilasi, kepadatan hunian, care seeking, kebiasaan orang tua
merokok, polusi asap dapur, lokasi dapur, pendidikan ibu, pekerjaan orang tua,
dan pengahasilan keluarga.
Selain kondisi fisik rumah, faktor ekstrinsik yang berpengaruh terhadap
kejadian ISPA pada balita yaitu:
1. Status Ekonomi
Status ekonomi sangat

sulit

dibatasi.

Hubungan

dengan

kesehatan juga kurang nyata yang jelas bahwa kemiskinan erat kaitanya
dengan penyakit, hanya saja sulit dianalisis yang mana sebab dan mana
akibat.

Status

ekonomi

menentukan

kualitas

makanan,

hunian,

kepadatan, gizi, taraf pendidikan, tersedianya fasilitas air bersih,


sanitasi, besar kecilnya keluarga, teknologi dll (Juli Soemirat, 2000).
Tingkat

penghasilan

pelayanan

kesehatan

sering

dihubungkan

maupun

dengan

pencegahan.

pemanfaatan

Seseorang

kurang

memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena tidak

26

cukup uang untuk membeli obat, membayar transport dll (Soekidjo


Notoatmodjo, 2002).
2. Pendidikan
Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan,
sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya dalam masyarakat tempat
dia hidup, proses sosial yakni seseorang dihadapkan pada pengaruh
lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari
sekolah), sehingga ia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan
kemampuan sosial dan kemampun individu yang optimal. Kualitas
pendidikan berbanding lurus dengan penyakit (Ahcmad Munib dkk, 2004).
Dalam Juli Soemirat Slamet (2002), menyatakan bahwa kualitas
pendidikan berbanding lurus dengan pencegahn penyakit. Demikian juga
dengan pendapatan, kesehatn lingkungan dan informasi yang didapat
tentang kesehatan Semakin rendah pendapatan ibu makan semakin
tinggi resiko ISPA pda balita.
3. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah
seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil domain yang terpenting
dalam membentuk tindakan seseorang (Soekidjo Notoatmodjo, 2003).
Pengetahuan kesehatan akan berpengaruh kepada perilaku
sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan
kesehatan. Selanjutnya perilaku kesehatan akan berpengaruh pada
meningkatnya

indikator

kesehatan

masyarakat

sebagai

keluaran

(outcame) pendidikan kesehatan (Soekidjo Notoatmodjo, 2007).


Untuk dapat merubah perilaku masyarakat menjadi perilaku yang
sehat, perlu pendidikan atau penyuluhan kepada masyarakat. Karena
tujuan

pendidikan

kesehatan

adalah

untuk

mengubah

perilaku

masyarakat yang tidak sehat menjadi sehat dan terlindung dari penyakit
(Juli Soemirat, 2009).
4. Pemberian ASI eksklusif
Bayi atau balita yang kekurangan gizi sangat rentan terhadap
penyakit- penyakit infeksi , termasuk diare dan infeksi saluran
pernafasan. Oleh karena itu, pemenuhan gizi bayi memerlukan perhatian

27

yang serius. Gizi bagi bayi yang paling sempurna dan paling murah
adalah Air Susu Ibu (Soekidjo Notoatmodjo, 2007). ASI adalah cairan
hidup yag mengandung zat kekebalan yang akan melindungi bayi dari
berbagai penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur. Bayi ASI
eksklusif akan lebih sehat dan lebih jarang sakit dibandingkan bayi yang
tidak mendapatkan ASI eksklusif (Utami Roesli, 2008).
5. Keberadaan Anggota Keluarga yang Menderita ISPA
Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan ISPA
pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di
keluarga, baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga
lainnya. Keluarga meupakan unit terkecil dari masyarakat yang
berkumpul dan tinggal dalam satu rumah tangga, satu sama lainnya
saling tergantung dan berinteraksi, bila salah satu atau beberapa
anggota keluarganya mempunyai masalah kesehatan, maka akan
berpengaruh terhadap keluarga lainnya, apalagi untuk penyakit menular
sperti ISPA (Depkes RI, 2001).
6. Perilaku
Perilaku

seseorang

atau

masyarakat

tentang

kesehatan

ditentukan oleh pengetahuan, sikap kepercayaan, tradisi, dan sebagian


dari orang tua tau masyarakat yang bersangkutan. Disamping itu
ketersediaan fasilitas kesehatan, sikap dan perilaku para petugas
kesehatan juga dapat memperkuat terbentuknya perilaku (Soekidjo
Notoatmodjo, 2003).
Perilaku sehat adalah pengetahuan, sikap, tindakan, proaktif
untuk memelihara dan mencegah risiko terjadinya penyakit (Depkes RI,
2003). Becker (1979) dalam Notoatmodjo (2007:137) menyatakan
bahwa perilaku kesehatan yaitu hal-hal yang berkaitan dengan
kegiatan/tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya, termasuk tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit,
memilih makanan, sanitasi dan sebagainya. Perilaku kesehatan
mencakup antara lain sebagai berikut:

1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit, yaitu bagaimana


manusia

berespons,

baik

secara

pasif

(mengetahui,

bersikap,

mempersepsi penyakit dan rasa sakit yang ada pada dirinya dan luar

28

dirinya, maupun aktif (tindakan) yang dilakukan sehubungan dengan


penyakit dan sakit tersebut, perilaku terhadap sakit dan penyakit yang
dilakukan manusia, sesuai dengan tingkat- tingkat pencegahan penyakit
antara lain:

a. Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (Health promotion


behavior), misalnya makan makanan bergizi dan olahraga.

b. Perilaku pencegahan penyakit (Health prevention behavior), misalnya


imunisasi untuk pencegahan penyakit.

c. Perilaku pencarian pengobatan (Health seeking behavior), yaitu perilaku


untuk melakukan atau mencari pengobatan, misalnya usaha-usaha
mengobati sendiri penyakitnya atau mencari pengobatan ke fasilitasfasilitas kesehatan modern (puskesmas, rumah sakit) maupun ke
fasilitas kesehatan tradisional (dukun, sinshe).

d. Perilaku pemulihan kesehatan (Health rehabilitation), yaitu perilaku yang


berhubungan dengan usaha-usaha pemulihan kesehatan setelah
sembuh dari suatu penyakit. Misalnya mematuhi anjuran-anjuran dokter
dalam rangka pemulihan kesehatannya.

2. Perilaku

terhadap

seseorang

sistem

terhadap

pelayanan kesehatan

pelayanan

system

kesehatan

pelayanan

adalah

kesehatan,

baik

respon
sistem

modern maupun tradisional. Perilaku ini

menyangkut respon terhadap fasilitas pelayanan, cara pelayanan,


petugas kesehatan dan obat-obatanya.

3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior) yaitu respon seseorang


terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kkehidupan, yang
meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek terhadap makanan
dan unsur-unsur (zat gizi) yang terkandung didalanya, pengolahan
makanan.

4. Perilaku terhadap kesehatan lingkungan (environmental health behavior)


adalah respon seseorang terhadap lingkungan sebagai determinan
kesehatan manusia. Perilaku ini meliputi:

a. Perilaku sehubungan dengan air bersih, termasuk di dalamnya


komponen, manfaat dan pengguanaan air bersih untuk kepentingan
kesehatan.

29

b. Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor, yang menyangkut


segi-segi hygiene, pemeliharaan, teknik dan penggunaannya.

c. Perilaku sehubungan dengan limbah, baik limbah padat maupun limbah


cair. Termasuk didalamnya system pembunagan air limbah yang sehat
serta dampak pembuangan limbah yang tidak baik.

d. Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat, yang meliputi ventilasi,


pencahayaan, lantai dan sebagainya.

e. Perilaku sehubungan dengan pembersihan sarang-sarang nyamuk


(vektor) dan sebagainya.
(Soekidjo Notoatmodjo, 2007).
2.5.5Skrining pada ISPA
Tata cara dalam melakukan skrining pada penderita ISPA adalah hitung
nafas. Penghitungan frekuensi napas harus dilakukan selama 1 menit (60 detik)
penuh. Frekuensi napas bayi umur <2 bulan tidak menentu. Kadang-kadang
napasnya berhenti beberapa detik, diikuti periode napas cepat.
Untuk menyatakan bayi umur kurang dari 2 bulan bernapas cepat perhatikanlah
bahwa:

Apabila hasilnya kurang dari 60 kali per menit, anak tersebut tidak

mengalami napas cepat.


Apabila hasilnya 60 kali per menit atau lebih, tunggulah beberapa menit

dan ulangi penghitungan


Kalau hasil penghitungan kedua masih juga 60 kali per menit atau lebih

berarti napas cepat.


Kalau hasil penghitungan kedua < 60 kali per menit, berarti tidak ada
napas cepat.
Sebelum mencari tanda selanjutnya: tarikan dinding dada bagian bawah

ke dalam, stridor dan wheezing, perhatikan anak itu untuk menentukan saat
menarik dan mengeluarkan napas. Hitung frekuensi napas anak dalam satu
menit untuk menentukan apakah anak bernapas dengan cepat. Terdapat 3 (tiga)
cara yang benar dalam menghitung frekuensi napas:
1) Gunakan timer untuk menghitung frekuensi napas. Caranya:
Tentukan titik dimana Saudara akan melihat gerakan napas anak.
Tekanlah timer dan mulailah menghitung.
Bunyi pertama menunjukkan 30 detik pertama.

30

Setelah terdengar bunyi panjang (bunyi kedua) yang menunjukkan waktu


1 menit (60 detik) penghitungan napas anak selesai.
Tabel 2. 2 Batas Napas Cepat Sesuai Golongan Umur Balita

2) Menggunakan jam tangan yang mempunyai jarum detik. Bisa minta bantuan
orang lain untuk memberi aba-aba setelah 60 detik, sehingga Saudara bisa
sepenuhnya mengamati pernapasan anak. Kalau tidak ada orang lain yang
bisa membantu, buatlah posisi jam sedemikian sehingga Saudara bisa
melihat jarumnya dan sekaligus melihat gerak pernapasan anak.
3) Gunakan jam tangan dengan jarum detik atau jam digital. Hitung pernapasan
sampai ke batas napas cepat (60, 50 atau 40 sesuai umur anak), kemudian
segera melihat jam. Bila pernapasan anak normal, maka Saudara akan
memerlukan waktu menghitung lebih dari satu menit.
(Kemenkes RI, 2010).

31

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Penelitian ini bersifat kualitatif atau metode pengumpulan data yang
bertujuan untuk mengetahui proses dan tatacara yang umumnya dilakukan untuk
melaksanakan kegiatan skrining terutama pada kasus ISPA pada balita kepada
Puskesmas Banjarbaru sebagai salah satu dari puskesmas di daerah Banjarbaru
yang data penderitanya termasuk dalam data rekapitulasi yang ada pada Dinas
Kesehatan daerah Banjarbaru. Design penelitian yang digunakan adalah
wawancara, observasi dan dokumentasi. wawancara merupakan usaha kami
untuk melakukan re-checking atau pembuktian terhadap informasi atau
keterangan yang diperoleh sebelumnya. Observasi yang dilakukan adalah
observasi

kelompok

dimana

pengumpulan

data yang

digunakan untuk

menghimpun data penelitian melalui pengamatan yang dilakukan secara


kelompok terhadap suatu atau beberapa objek sekaligus. dokumentasi
merupakan salah satu metode pengumpulan data kualitatif dengan melihat atau
menganalisis dokumen-dokumen yang dibuat oleh subjek sendiri atau oleh orang
lain tentang subjek.
3.2

Lokasi dan Waktu Penelitian


3.2.1
Jalan
Kelurahan
Kecamatan
Kota
Provinsi

: Rambai Timur No. 1


: Guntung Paikat
: Banjarbaru Selatan
: Banjarbaru
: Kalimantan Selatan

3.2.2 Waktu Penelitian


Waktu penelitian di Puskesmas Banjarbaru pada tanggal 11
Nopember 2015.

32

BAB IV
ISI
4.1

Hasil
Berdasarkan survei oleh Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Kalimantan

Selatan, rata-rata menangani 1.225 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas


(ISPA) selama satu bulan sejak Januari-Agustus 2015. Disebutkan, kasus ISPA
yang ditangani bulan Januari sebanyak 629 kasus, dan mulai melewati angka
1000 pada Februari 1.427 kasus, Maret 1.059 kasus, April 1.549 kasus, Mei
1.026 kasus, Juni 1.479 kasus, Juli 959 kasus, dan Agustus 679 kasus. Berikut
tabel pasien ispa resmi dari data Dinas Kesehatan Banjarbaru;

Tabel 3. 1 Laporan Januari Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun


2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7
8

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA
Pkm BBU
Jumlah

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310
29,793
220,168

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331
2,979
22,017

0
18
8
6
0
15
3
2
52

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th
Bukan
73
165
32
94
0
106
51
63
584

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan

0
1
0
0
2
2
2
7

0
77
111
0
209
80
145
622

Dari data diatas pada bulan Januari penderita Pneumonia usia kurang
dari 4 tahun berjumlah 52, sedangkan penderita bukan Pneumonia usia kurang
dari 4 tahun jauh lebih tinggi yaitu 584 pasien. Penderita Pneumonia diatas 5
tahun berjumlah 7 dan penderita bukan Pneumonia berjumlah 622. Angka
tersebut membuktikan bahwa dibulan Januari sudah terdapat total pasien ISPA
mencapai 1.265 dari total penduduk 220.168 orang.

33

Tabel 3. 2 Laporan Februari Program Pengendalian ISPA kota

Banjarbaru

tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7
8

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA
Pkm BBU
Jumlah

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310
29,793
220,168

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

Bukan

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331
2,979
22,017

0
41
11
15
0
14
6
14
101

0
190
78
162
0
156
82
118
786

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan
0

403
229
131
0
233
175
249
1,420

0
1
0
0
2
2
2
7

Pada bulan Februari penderita Pneumonia pada anak kurang dari 4 tahun
meningkat dua kali lipat menjadi 101, dan penderita bukan Pneumonia juga
meningkat menjadi 786. Penderita Pneumonia berusia diatas 5 tahun berjumlah
sama dengan sebelumnya, sedangkan penderita bukan Pneumonia meningkat
jauh menjadi 1.420 orang. Dalam sebulan, pasien meningkat jauh dengan total
Februari ada 2.314 orang.
Tabel 3. 3 Laporan Maret Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun
2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331

10
0
5
20
0
15
11

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th

34

Bukan
85
195
82
190
0
167
98

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan

54

0
0
0
0
3
0

30
229
116
0
303
117

8 Pkm BBU
Jumlah

29,793
220,168

2,979
22,017

11
72

2
5

79
896

205
1,054

Pada bulan Maret penderita Pneumonia dibawah 4 tahun mengalami


penurunan menjadi 72 orang akan tetapi penderita bukan Pneumonia meningkat
menjadi 896 orang. Begitu pula dengan terjadinya penurunan pada pasien
Pneumonia diatas 5 tahun mengalami penurunan menjadi 5, dan penderita
bukan pneumonia menjadi 1.054 orang. Total bulan Maret menjadi 2.027 orang.
Pada bulan Maret pun masih belum terjadi kabut asap, diperkirakan peningkatan
sejak Februari karena cuaca yang berubah-ubah.
Tabel 3. 4 Laporan April Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun
2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

PUSKES
MAS

Jml
Pnddk

1
2
3
4
5
6
7
8

Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA
Pkm BBU
Jumlah

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310
29,793
220,168

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th
Pneumo
Bukan
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331
2,979
22,017

14
24
9
15
1
13
11
19
106

162
180
49
168
206
215
93
83
1,156

ISPA > 5th


Pneumo
Bukan
nia
0

35

0
0
100
1
2
2
1
106

307
119
0
329
339
125
189
1,443

Pada bulan April pasien kembali meningkat. Penderita pneumonia umur


dibawah 4 dan diatas 5 tahun sama-sama mengalami peningkatan. Begitu juga
dengan pasien bukan Pneumonia di kedua kategori tersebut. Total pasien
penderita ISPA pada April menjadi 2.811 orang. Karena kabut asap akibat dari
pembakaran lahan pada bulan April belum terjadi, maka lonjakan pasien masih
terjadi diduga karena perubahan cuaca yang masih tidak menentu. Diduga pula
bahwa lingkungan sekitar menjadi faktor pendukung meningkatnya pasien.

35

Tabel 3. 5 Laporan Mei Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun 2015
dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7
8

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA
Pkm BBU
Jumlah

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310
29,793
220,168

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331
2,979
22,017

5
20
8
13
0
16
9
12
83

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th
Bukan

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan

41

0
0
0
0
3
0
4
7

212
109
68
0
336
78
175
1,019

85
147
61
158
0
213
66
87
817

Di bulan Mei terjadi penurunan angka pasien dengan total 2.026 pasien.
Masih belum terjadi kabut asap akibat dari pembakaran lahan.
Tabel 3. 6 Laporan Juni Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun
2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7
8

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA
Pkm BBU
Jumlah

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310
29,793
220,168

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331
2,979
22,017

3
19
9
12
6
17
8
8
82

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th

36

Bukan
66
146
70
164
198
221
70
93
1,028

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan

17

0
0
0
1
2
1
1
6

351
82
73
343
326
120
161
1,473

Pada bulan Juni pasien ISPA mencapai 2.589 orang. Masih belum terjadi
kabut asap akibat dari pembakaran lahan.
Tabel 3. 7 Laporan Juli Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun
2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7
8

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA
Pkm BBU
Jumlah

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310
29,793
220,168

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331
2,979
22,017

6
38
0
10
0
12
6
5
77

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th
Bukan

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan

21

0
0
0
0
3
5
0
9

384
0
55
0
287
99
104
950

58
155
0
140
0
172
68
60
653

Pada bulan Juli pasien ISPA mencapai 1.689. mengalami penurunan


jumlah pasien yang lumayan pesat .

Tabel 3. 8 Laporan Agustus Program Pengendalian ISPA kota Banjarbaru tahun


2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru (Balita)

N
o

1
2
3
4
5
6
7

PUSKES
MAS
Pkm Sei.
Ulin
Pkm Bjb
Pkm SB
Pkm CPK
Pkm GP
Pkm LU
Pkm LA

Jml
Pnddk

17,421
27,436
19,465
31,035
56,746
24,962
13,310

Jml.
Penddk
Usia
Balita
(10%
peddk)

Pneumo
nia

1,742
2,744
1,947
3,104
5,675
2,496
1,331

0
0
0
20
0
15
10

REALISASI PENEMUAN PENDERITA


ISPA <1-4 th

37

Bukan
0
0
0
204
212
169
75

ISPA > 5th


Pneumo
nia

Bukan

0
0
0
1
3
1

0
0
87
66
280
106

8 Pkm BBU
Jumlah

29,793
220,168

2,979
22,017

7
52

94
754

0
5

136
675

Pada bulan Agustus pasien ISPA berjumlah 1.486 pasien. Meskipun


mengalami penurunan jumlah pasien, tetapi asap sudah mulai muncul di
kawasan Banjarbaru. Ditambah dengan cuaca ekstrim dimana siang hari sangat
terik dan malam hari sangat dingin walaupun tidak ada hujan.
4.2

Pembahasan
Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2012), ISPA masih

merupakan masalah kesehatan mayarakat di Indonesia. Secara nasional


berdasarkan Riskesdas 2007, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor
dua pada balita (13,2%) setelah diare (17,2%) (Kemenkes RI, 2013).
Pneumonia merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka
kematiannya tinggi, tidak saja di negara berkembang tetapi juga di negara maju
seperti Amerika Serikat, Kananda, dan negara-negara Eropa. Pneumonia di
Indonesia, merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler
dan TBC. Faktor sosial ekonomi yang rendah mempertinggi angka kematian.
Pada tahun 2006 di Indonesia, WHO melaporkan sebanyak enam juta anak
meninggal. Sehingga, untuk negara-negara berkembang perlu mewaspadai,
sebab hampir setiap harinya terdapat 300 anak yang meregang nyawa
karenanya (Siswono, 2006)
Sebuah kegiatan skrining dapat mencakup seluruh penduduk (skrining
massal) dan dapat pula mentarget kelompok terpilih untuk mengantisipasi
adanya peningkatan prevalensi dari penyakit yang diskrining (skrining tertarget)
(Bailey et al., 2005). Adapun contoh penggunaan skrining pada kasus sebagai
berikut:
Proses Skrining ISPA pada Balita dan Pengaruh Kabut Asap Terhadap
Peningkatan Jumlah Pasien ISPA di daerah Banjarbaru.
Istilah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) mengandung tiga unsur,
yaitu infeksi saluran pernafasan akut. Infeksi adalah masuknya kuman atau
mikroorganisme ke dalam tubuh manusia dan berkembang biak sehingga dapat
menimbulkan gejala penyakit. Saluran pernafasan adalah organ yang dimulai
dari hidung hingga alveoli beserta organ adneksanya seperti sinus, rongga
telinga dan pleura. Dengan demikian ISPA secara otomatis mencakup saluran
nafas yang dimulai dari hidung termasuk jaringan adneksanya seperti sinus,

38

rongga telinga dan pleura. Infeksi akut adalah infeksi yang berlangsung sampai
dengan 14 hari. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi pada
saluran pernafasan; mulai dari rongga hidung sampai alveoli beserta organ
adneksanya (sinus, rongga telinga dan pleura) yang disebabkan oleh
mikroorganisme yang berlangsung selama 14 hari ditandai dengan batuk pilek,
sakit tenggorokan disertai dengan demam atau tidak (Rasmaliah, 2004).
Pendataan para pasien ISPA di wilayah Banjarbaru dilakukan selama
delapan bulan (Januari sampai Agustus). Dalam penentuan klasifikasi penyakit
dibedakan atas dua kelompok, yaitu kelompok untuk umur 2 bulan kurang dari 5
tahun dan kelompok untuk umur kurang dari 2 bulan. Pada klasifikasi kelompok
umur 2 bulan kurang dari 5 tahun klasifikasi dibagi atas Pneumonia berat,
Pneumonia dan bukan Pneumonia. Sementara pada kelompok umur kurang dari
2 bulan klasifikasi dibagi atas Pneumonia berat dan bukan Pneumonia. Pada
pelaksanaan klasifikasi pasien pada anak usia 2 bulan kurang dari 5 tahun
meliputi infeksi bawah ke dalam (chest indrawing). Sedangkan pada kelompok
umur kurang dari 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya
nafas cepat (fast breathing), dengan kriteria antara lain frekuensi pernafasan
sebanyak 60 kali per menit atau lebih, atau adanya tarikan yang kuat pada
dinding dada bagian bawah ke dalam (severe chest indrawing). Pada klasifikasi
bukan Pneumonia mencakup kelompok penderita balita dengan batuk yang tidak
menunjukkan gejala peningkatan frekuensi nafas dan tidak menunjukkan adanya
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. Dengan demikian klasifikasi bukan
Pneumonia mencakup penyakit-penyakit ISPA lain di luar Pneumonia. Pola
tatalaksana ISPA hanya dimaksudkan untuk tatalaksana penderita Pneumonia
berat, pneumonia dan batuk bukan pneumonia. Sedangkan penyakit ISPA lain
seperti pharyngitis, tonsilitis dan otitis belum termasuk pada cakupan program.
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dikenal sebagai salah satu
penyebab kematian utama pada bayi dan anak balita di negara berkembang.
Sebagian besar penelitian di negara berkembang menunjukkan bahwa 20 35%
kematian anak dan balita disebabkan oleh ISPA. Diperkirakan bahwa 2 5 juta
bayi dan anak balita di berbagai Negara setiap tahun meninggal karena ISPA,
dua per tiga terjadi pada kelompok usia bayi, terutama bayi usia dua bulan
pertama sejak kelahiran. Banyak penyakit yang sebenarnya tidak berbahaya,
tetapi dapat mendatangkan kematian bila didukung oleh keadaan keadaan

39

yang kurang menguntungkan, seperti misalnya pada status gizi buruk, memadai
atau pada keadaan lain.
Seorang anak berumur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan menderita
pneumonia berat apabila dari pemeriksaan ditemukan tarikan dinding dada
bagian

bawah

ke

dalam

(TDDK).Anak

yang

diklasifikasikan

menderita

pneumonia berat harus dirujuk segera ke rumah sakit. Sebelum anak


meninggalkan Puskesmas, petugas kesehatan dianjurkan memberi pengobatan
pra rujukan, (misal atasi demam, wheezing, kejang dan sebagainya).
Sebagian besar anak yang menderita pneumonia tidak akan menderita
pneumonia berat kalau cepat diberi pengobatan yang tepat. Seorang anak
berumur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan menderita pneumonia apabila dari
pemeriksaan:

Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam


Adanya napas cepat:
50 x/menit atau lebih pada anak umur 2 - <12 bulan
40 x/menit atau lebih pada umur 12 bulan - <5 tahun

Penderita pneumonia cukup diberikan pengobatan antibiotik di rumah. Petugas


kemudian harus menasihati ibu untuk memberikan obat sesuai anjuran petugas
kesehatan dan membawa kembali jika keadaan anak bertambah buruk serta
jelaskan cara pemberian antibiotik. Petugas menganjurkan untuk kembali kontrol
dalam 2 hari (48 jam) atau lebih cepat bila keadaan anak:

Pernapasan menjadi cepat atau sesak


Tidak dapat minum
Sakitnya bertambah parah
Sebagian besar penderita batuk-pilek tidak disertai tanda-tanda bahaya

atau tanda-tanda pneumonia (TDDK dan napas cepat). Hal ini berarti anak ini
hanya menderita batuk-pilek dan diklasifikasikan sebagai batuk bukan
pneumonia. Seorang anak berumur 2 bulan - <5 tahun diklasifikasikan
menderita batuk bukan pneumonia apabila dari pemeriksaan:

Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam


Tidak ada napas cepat, frekuensi napas:
Kurang dari 50 x/menit pada anak umur 2 - <12 bulan
Kurang dari 40 x/menit pada umur 12 bulan - <5 tahun

Pengobatan anak yang menderita batuk bukan pneumonia bisa dirawat di


rumah tanpa antibiotik. Jangan berikan antibiotik kepada anak dengan batuk atau

40

pilek tanpa tanda-tanda pneumonia. Sebagian anak dengan batuk pilek bisa juga
mempunyai masalah lain seperti:

Anak dengan batuk akan sembuh sesudah satu atau dua minggu, tetapi
anak dengan batuk kronis (batuk lebih dari 3 minggu) mungkin menderita
TB, asma, batuk rejan atau yang lainlain.
Grafik 3. 1 Grafik penemuan penderita pneumonia per bulan kota
Banjarbaru tahun 2015 dari Dinas Kesehatan kota Banjarbaru

Dari data pada tabel pasien tahun 2015, angka terendah ada pada bulan
Januari yaitu sebanyak 629 kasus dan terbanyak ada pada bulan April sebanyak
1.549 kasus. Pasien cenderung meningkat dari bulan Januari sampai Juni, tetapi
pasien menurun kembali pada Juli dan Agustus yaitu dibawah angka 1000
pasien. Untuk memastikan ada-tidaknya peningkatan jumlah pasien yang
signifikan pada saat terjadi pembakaran hutan, kami melakukan observasi lebih
lanjut di salah satu Puskesmas yang ikut terdata dalam hasil rekapitulasi pasien
ISPA dari Dinas Kesehatan Banjarbaru yaitu Puskesmas Bajarbaru yang
bertempat di Jalan Rambai Timur No. 1 Kelurahan Guntung Paikat, Kecamatan
Banjar Baru Selatan pada Rabu, 11 Nopember 2015.
Berdasarkan hasil pengumpulan data pasien yang berobat di Puskesmas
Banjarbaru, rata-rata menangani 405 pasien setiap bulannya, dengan total 3.245
kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) selama Januari-Agustus 2015.

41

Data tersebut diperoleh dari 7 Kelurahan, yaitu Kemuning, Guntung Paikat,


Loktabat Selatan, Banjarbaru Selatan, Sei. Ulin, Sei. Besar, Guntung Payung,
Landasan Ulin, Liang Anggang, Cempaka. Pengelompokan pederita ISPA dibagi
menjadi Pneumonia, Penumonia berat, dan Batuk bukan Pneumonia.
Pada bulan Januari, penderita Pneumonia pada bayi dan balita mencapai
12 kasus, penderita batuk bukan Pneumonia pada pasien balita juga terbilang
tinggi, yakni 176 kasus, sedangkan penderita ISPA diatas usia 5 tahun sebanyak
367 kasus, sehingga total kunjungan Puskesmas dengan kasus ISPA pada bulan
Januari mencapai 367 kasus. Pada bulan Februari, penderita pneumonia pada
bayi dan balita meningkat menjadi 24 kasus, penderita batuk bukan Pneumonia
pada pasien balita menjadi 206 kasus,dan penderita ISPA bukan Pneumonia
diatas usia 5 tahun mencapai 403 kasus. Total kunjungan Puskesmas menjadi
total 443 kasus. Puncaknya ada pada bulan April, yaitu dengan total kunjungan
puskesmas sebanyak 473 kasus, dengan jumlah pasien Pneumonia pada bayi
dan balita ada 25 kasus, dan penderita batuk bukan Pneumonia pada pasien
balita tertinggi sebanyak 223 kasus.
Berdasarkan keterangan dari Ibu Endah Setiyani,AMK selaku pengelola
P2 ISPA di Puskesmas Banjarbaru, mengenai proses skrining yang dilakukan
untuk kasus ISPA memang tidak sulit, yaitu hanya dengan memperhatikan ritme
pernafasan dari pasien. Berbeda dengan skrining penyakit lain, HIV misalnya.
Pada HIV cenderung tertutup dan luas, juga tergantung dari individu masingmasing. Proses skrining yang dilakukan pada pasien ISPA kategori Pneumonia
hanya dengan memperhatikan kecepatan nafas dari pasien. Jika pasien
mengalami kesulitan bernafas yang parah, maka bisa dikategorikan sebagai
Pneumonia. Akan tetapi, Etiologi dari sebagian besar penyakit jalan napas
bagian atas ini ialah virus dan tidak dibutuhkan terapi antibiotik. ISPA dapat
ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung
kuman yang terhirup oleh orang sehat kesaluran pernapasannya. Debu, panas,
faktor usia, dan faktor kebersihan lingkungan tempat tinggal memiliki pengaruh.
Sekarang sedang terjadi peningkatan penyebaran kabut asap dan tentunya
memiliki pengaruh juga. Menghirup udara yang tercemar setiap hari tentu
bukanlah sesuatu yang baik bagi kesehatan tubuh. Faktor pembakaran lahan

42

yang terjadi akhir-akhir ini merupakan suatu faktor yang memiliki andil besar
dengan meningkatnya penderita ISPA di Banjarbaru.

Udara penuh dengan

partikel dan gas yang dihasilkan dari pembakaran hutan. Partikel dan gas yang
terkandung diantaranya adalah nitrogendioksida, sulfurdioksida, dan ozon yang
terkandung dalam kabut asap. Jika partikel dan gas tersebut terhirup, maka bisa
menyebabkan iritasi di saluran pernapasan. Akibatnya, terjadi pembengkakan
atau peradangan saluran napas yang merangsang produksi dahak. Produksi
dahak normal terjadi, ketika iritasi untuk membersihkan saluran napas ketika
dahak dibuang. Namun, kabut asap yang terjadi berhari-hari dan terus terhirup
membuat produksi dahak berlebihan. Inilah yang kemudian menyebabkan
akumulasi dahak, kuman masuk, dan terjadilah ISPA. Ketika ISPA tidak diatasi
dan terus terpapar kabut asap, kuman akan menyebar ke saluran pernapasan
bawah dan terjadilah pneumonia. Pneumonia ditandai dengan sulit bernapas,
batuk berdahak, hingga demam. Kabut asap juga bisa memperburuk kesehatan
orang-orang yang telah mengidap penyakit kronis. Pada bayi umur 0 hari sangat
dijaga karena masih lemah, setelah seminggu bayi harus diberi imunisasi untuk
pencegahan berbagai penyakit.
Infeksi saluran pernapasan bagian atas terutama yang disebabkan oleh
virus, sering terjadi pada semua golongan masyarakat pada bulan-bulan musim
dingin. Tetapi ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia sering terjadi pada anak
kecil terutama apabila terdapat gizi kurang dan dikombinasi dengan keadaan
lingkungan yang tidak hygienes. Risiko terutama terjadi pada anak-anak karena
meningkatnya kemungkinan infeksi silang, beban immunologisnya terlalu besar
karena dipakai untuk penyakit parasit dan cacing, serta tidak tersedianya atau
berlebihannya pemakaian antibiotik.
Membuat Klasifikasi & Menentukan Tindakan Sesuai Untuk 2 Kelompok
Umur Balita
Membuat klasifikasi berarti membuat sebuah keputusan mengenai
kemungkinan tingkat keparahannya. Klasifikasi merupakan suatu kategori untuk
menentukan tindakan yang akan diambil oleh tenaga kesehatan dan bukan
sebagai diagnosis spesifik penyakit. Klasifikasi ini memungkinkan seseorang
dengan cepat menentukan apakah kasus yang dihadapi adalah suatu penyakit

43

serius atau bukan, apakah perlu dirujuk segera atau tidak. Dalam membuat
klasifikasi harus dibedakan menjadi 2 (dua):

Kelompok umur <2 bulan


Kelompok umur 2 bulan - <5 tahun.

Menentukan tindakan berarti mengambil tindakan pengobatan terhadap infeksi


bakteri yang secara garis besar dibedakan menjadi 3 (tiga) yaitu:

Rujuk segera ke rumah sakit


Beri antibiotik di rumah
Beri perawatan di rumah

Pemilihan pengobatan dengan antibiotik disini lebih bersifat empiris, bukan


berdasarkan diagnosis etiologis.

44

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Skrining merupakan suatu pemeriksaan asimptomatik pada

satu

atau

sekelompok orang untuk mengklasifikasikan mereka dalam kategori yang


diperkirakan mengidap atau tidak mengidap penyakit.
2. Tujuan utama skrining adalah menemukan orang terkena penyakit sedini
mungkin, mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat, membiasakan
masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin, dan mendapatkan
keterangan epodemiologis yang berguna bagi klinis dan peneliti
3. Syarat yang harus diperhatikan dalam proses skrining adalah penyakit yang
dituju harus merupakan masalah kesehatan yang berarti, tersediannya obat yang
potensial, fasilitas dan biaya untuk diagnosis, ditujukan pada penyakit kronis
seperti kanker, adanya suatu nilai standar yang telah disepakati bersama tentang
mereka yang dinyatakan menderita penyakit tersebut.
4. Proses skrining dilakukan dengan mengacu pada kriteria sensitivitas dan
spesifisitas.
5. Contoh penerapan skrining misalnya pada Proses Skrining ISPA pada Balita dan
Pengaruh Kabut Asap Terhadap Peningkatan Jumlah Pasien ISPA di Daerah
Banjarbaru.
4.2 Saran
Langkah termudah adalah menjaga pola hidup bersih dan sehat disekitar
tempat tinggal, biasakan buang sampah di tempatnya agar tidak menjadi sarang
penyakit. Memperbanyak tanaman bunga dan pepohonan, agar udara sekitar
lebih segar dan bebas polusi. Jemur bantal, guling, dan tempat tidur serta
bersihkan debu dari kipas angin maupun pendingin ruangan lain. Serta yang
terpenting adalah mengenakan masker jika berpergian.

45

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2004. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka
Utama.
Anwar, Athena, Ika Dharmayanti. 2014. Pneumonia Pada Anak Balita di
Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Pusat Teknologi
Intervensi Kesehatan Masyarakat Balitbangkes Kemenkes RI.
Balitbang Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta:
Balitbang Kemenkes RI.
Budiarto dan Anggraeni, 2003.Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Bustan. 2000. Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Chandra, Budiman. 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. EGC: Jakarta.
Chandra, Budiman. 2009. Ilmu Kedokteran Pencegahan & Komunitas. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Depkes RI. 2002. Keluarga Sadar Gizi Mewujudkan Keluarga Cerdas dan
Mandiri. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 2002. Pedoman pemberantasan penyalit saluran pernafasan akut.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Depkes

RI.

2002.

Pedoman

Operasional

Program

Departemen Kesehatan RI.


Depkes RI. 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta.

46

Imunisasi.

Jakarta:

Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2010.


Modul Tatalaksana Standar Pneumonia. Jakarta: Kemenkes RI.
Harlan, Johan. 2006. Informatika Kesehatan. Jakarta : Gunadarma.
Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VIII/1999. Peraturan Rumah Sehat.
Maryunani, Anik. 2010. Ilmu Kesehatan Anak Dalam Kebidanan. Jakarta: TIM.
Misnadiarly. 2008. Penyakit Saluran Nafas Atas, Pneumonia. Jakarta: Pustaka
Obor Populer
Moehji, Sjahmien. 2003. Penanggulangan Gizi Buruk. Penerbit Papas Sinar
Sinanti: Jakarta
Morton, Richard, Richard Hebel, dan Robert J. McCarter. 2008. Panduan Studi
Epidemiologi dan Biostatika. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Mubarak, Wahit Iqbal. 2012. Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsep dan Aplikasi
dalam Kebidanan. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Mukono, J. H. 1997. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan
Saluran Pernafasan. Surabaya: Airlangga University Press.
Noor, Nur Nasry. 2008. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoadmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar.
Cetakan kedua. Jakarta: RinekaCipta

Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: RinekaCipta.


Rahajoe N., Supriyatno B., dan Setyanto Budi D., 2012. Buku Ajar Respirologi
Anak, cetakan ketiga. Ikatan Dokter Anak Indonesia.

47

Rasmaliah.

2004.

Infeksi

Saluran

Pernafasan

Akut

(ISPA)

Dan

Penanggulangannya. Http://Usudigital library.com. Diunduh 4 Nopember


2015.
Sari, Marini Pita, Helwiyah Ropi, Siti Yuyun Rahayu Fitri. 2012. Gambaran
Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Pneumonia Ringan Pada Balita di
Rumah di Desa Sayang Kecamatan Jatinangor. Jurnal Ilmu Keperawatan
Universitan Padjajaran.
Saydam, Gouzali. 2011. Memahami Berbagai Penyakit (Penyakit Pernapasan
dan

Gangguan Pencernaan). Bandung: Alfabeta.

Slamet, Juli Soemirat, 2002. Kesehatan Lingkungan. Yogyakarta. Gajah Mada


University Press.
Siswono.

2007.

Kejadian

ISPA

pada

balita.

dari:

http://www.suarapembaruan.com. Diakses tanggal 20 Nopember 2015.


Siswono.

2007.

ISPA

Salah

Satu

Penyebab

Kematian

Balita.

From

http://www.suarapembaruan.com. Diakses pada tanggal 20 Nopember


2015.
Slamet, Juli Soemirat. 2009. Kesehatan Lingkungan. Bandung: Gajah Mada
University Press
Weraman, Pius. 2010. Dasar Surveilans Kesehatan Masyarakat. Jakarta :
Gramata Publishing
Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan Dan
Pemberantasannya. Jakarta: Erlangga.

48

SOAL
1. Cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatutes
atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan
antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin
tidak menderita, merupakan pengertian dari:
a. Surveilans

c. Studi kohor

b. Screening

d. Studi cross section

2. Dibawah ini manakah yang bukan dari tujuan skrining. . .


a. Untuk mencegah meluasnya penyakit dalam masyarakat
b. Pengobatan penyakit secara kuratif
c. Untuk menemukan orang yang terdeteksi menderita suatu penyakit
sedini mungkin sehingga dapat dengan segera memperoleh pengobatan
d. Untuk Mendapatkan keterangan epidemiologis yang berguna bagi klinis
dan peneliti
3. Sasaran penyaringan skrining adalah penyakit-penyakit kronis, kecuali. . .
a. TBC
c. Malaria
b. Hepatitis
d. Gigi berlubang
4. Skrining yang dilakukan untuk satu jenis penyakit disebut. . .
a. Single disease screening
b. Selective screening
c. Multiphasic screening
d. Mass screenin
5. Contoh dari pelaksanaan skrinning diantaranya adalah . . .
a. Plano Test

c. Check Up

b. Terapi

d. Rawat jalan

49

INDEKS
A

Kardiovaskuler 6, 18, 26

Asimptomatik 3, 6, 33
Asimptomatis

5
M

Mortalitas 5, 21

Cystic Fibrosis 19

Morbiditas 5

Care Seeking 22
P
D

Prevalensi 1, 3, 13, 26

Diagnosis 3, 4, 5, 6, 7, 9, 12, 16,

Pap Smear9, 10

17, 27, 33

Plano test 11

Diagnostik 6, 9, 11

Presimptomatik 17

Disease 3, 8
R
F

RSV 18, 19

Frekuensi 5, 27

Reliabilitas 11, 15

Gejala 3, 4, 5, 6, 10, 11, 16, 17, 20,

Subklinik 17

26, 27, 33

Sianosis 20
Stridor 20

I
Imunisasi 20, 21, 22

Infeksi 1, 6, 17, 18, 19, 21, 23, 26,

Validitas 11, 14

27, 32

Variabilitas 15

Inerverensi 5, 21
Y
K

Yield 1

Klinis 4, 5, 7

50

Lampiran
Gambar 1. Foto bersama dengan ibu Puspawati, Amd yang merekomendasikan
untuk wawancara ke Puskesmas Banjarbaru.
Foto diambil pada Jumat, 7 November 2015, 09.00 WITA.

Gambar 2. Setelah wawancara bersama Bapak Taufik Riyadi, SKM. MM dan Ibu
Endah Setiyani, Amk selaku pengelola ISPA di Puskesmas
Banjarbaru.
Foto diambil pada Selasa, 11 November 2015, 11.00 WITA.

Gambar 3. Wawancara mengenai banyaknya anak-anak yang terkena ISPA di kota


Banjarbaru.
Foto diambil pada 11 November 2015, 10.47 WITA.