Anda di halaman 1dari 20

KUALITAS PENGGUNAAN BAJA SEBAGAI KONSTRUKSI

BANGUNAN GEDUNG
(Perencanaan Bangunan Baja Pada Konstruksi Gudang Margomulyo
Permai Surabaya)
M. Adik rudiyanto
(Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil, Universitas Islam
Majaphit)
ABSTRAK
Semakin diperketatnya Undang-Undang Negara akan produksi kayu nasional
membuat material ini semakin langka dijumpai untuk memperoleh kualitas kayu
yang baik dengan harga yang cukup terjangkau. Para rekayasawan pun mulai
mengembangkan pemikiran-pemikiran ekonomisnya dengan membuat solusi
yakni mencari material pengganti kayu dengan bahan lain yang mudah didapat,
dibentuk, dirawat dan dikerjakan tanpa mengabaikan bobot dan kekuatannya
untuk sebuah rangkaian struktur. Maka dipilihlah material untuk menggantikan
kayu sebagai bahan struktur.Pada perencanaan ini dimulai dengan penjelasan
mengenai latar bekang pemilihan material, perumusan tujun perencanaan hingga
lingkup pembahasan, dan diikuti dengan dasar-dasar perencanaan dimana analisa
didasarkan pada peraturan PPBBI dan AISC-LRFD. Dari data awal yang ada,
jarak portal baja dengan bentang 6m. Setelah itu dilakukan perencanaan awal
dengan perhitungan beban-beban dan momen-momen yang bekerja diatap,
kemudian dilanjutkan perhitungan kolom, kemudian dianalisa dengan
menggunakan progam SAP 2000. Setelah didapatkan gaya-gaya dalam yang
bekerja dilakukan perhitungan sambungan. Dari perhitungan profil aman
digunakan gording CNP 125 x 50 x 20 x 3,2,Profil span WF 200 x 150 x 6 x 9 dan
Profil kolom WF 200 x 150 x 6 x 9 terhadap kontrol tegangan tekuk pada dimensi
gording yang didapat ( λx > λy ) untuk tekuk Sbx = 1,025 ≥ 1 dan
Sby = 1
≥1
Kata Kunci : AISC-LRFD , CNP , WF
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan
dan
perkembangan
perekonomian
Negara Indonesia di Era globalisasi
sekarang ini menurun. Seiring
dengan itu pemenuhan kebutuhan
sehari-hari masyarakat semakin
meningkat, membuat para investor
tertarik untuk menanamkan modal
dalam hal pembangunan gedung
dan prasarana lainnya yang dapat
menunjang pengembangan usaha.
Kota Surabaya merupakan
kota terbesar ke-2 di Indonesia

yang memiliki jutaan penduduk
yang
setiap
harinya
harus
memenuhi kebutuhannya, dengan
melihat jumlah penduduk yang
cukup besar maka tidak menutup
kemungkinan
akan
terus
meningkat. Oleh karena itu
perusahaan-perusahaan
yang
bergerak di bidang produksi sangat
membutuhkan
sarana
yang
mengoperasikan
atau
bahkan
mengembangkan usahanya.
Pembangunan
konstruksi
oleh
para
investor
yang
pembangunannya
dipercayakan

kepada para kontraktor, merupakan
salah
satu
upaya
untuk
meningkatkan perekonomian dan
kesejahteraan
masyarakat
Indonesia, khususnya di kota
Surabaya.
Semakin
diperketatnya
Undang-Undang
Negara
akan
produksi kayu nasional membuat
material ini semakin langka
dijumpai
untuk
memperoleh
kualitas kayu yang baik dengan
harga ynag cukup terjangkau.
Para rekayasawan pun
mulai mengembangkan pemikiranpemikiran ekonomisnya dengan
membuat solusi yakni mencari
material pengganti kayu dengan
bahan lain yang mudah didapat,
dibentuk, dirawat, dan dikerjakan
tanpa mengabaikan bobot dan
kekuatan untuk sebuah rangkaian
struktur. Maka dipilihlah material
baja yang dianggap cukup layak
untuk menggantikan kayu sebagai
bahan struktur. Dengan keberadaan
baja sebagai komponen utama
struktur
pembangunan,
maka
penulis tertarik untuk menjadikan
portal struktur baja sebagai objek
perhitungan dalam penyusunan
Tugas Akhir ini.
Perumusan Masalah
Pada
penelitian
ini
membahas masalah perhitungan
Portal
Rangka
Baja
yang
diasumsikan sebagai Portal tunggal
serta pengecekkan penampang
terhadap
tekuk
tanpa
memperhitungkan akibat gaya
gempa. Dan juga akan dibahas
efisiensi dan optimalisasi suatu
bangunan rangka baja dengan
memperhitungkan
jarak
antar
Portal.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian
ini adalah :

1) Untuk
mengetahui
cara
perhitungan Portal Rangka Baja
dan cara perhitungan mendesain
penampang yang aman.
2) Untuk mengevaluasi penampang
terhadap bahaya tekuk.
3) Untuk mengetahui salah satu
cara dan teknis membuat
efisiensi suatu bangunan portal
baja.
PEMBAHASAN
Semua jenis – jenis baja
sedikit banyak dapat ditempa
dan disepuh, sedangkan untuk
baja lunak pada tegangan yang
jauh dibawah kekuatan tarik
atau batas patah σB, yaitu apa
yang dinamakan batas lumer
atau tegangan lumer σV, terjadi
suatu keadaan yang aneh,
dimana perubahan bentuk
selalu berjalan terus beberapa
waktu,
dengan
tidak
memperbesar beban yang ada.
Sifat – sifat baja
bergantumg sekali pada zat
arang, semakin bertambah
kadar ini, semakin naik
tegangan patah dan regangan
menurut persen yang terjadi
pada sebuah batang percobaan
yang dibebani dengan tarikan,
yaitu apa yang dinamakan
rengangan patah menjadi lebih
kecil.
Persentase yang sangat
kecil dari unsur – unsur lainnya
yang dapat mempengaruhi sifat
–sifat baja dengan kuat sekali.
Untuk membeda – bedakannya
jenis – jenis baja itu diberi
nomor yang sesuai dengan
tegangan patah yang dijamin
dan yang terendah pada
percobaan tarik yang normal,
tetapi untuk setiap jenis baja
juga ditentukan suatui σBmaks.

besarnya sama dengan tegangan dasar.85  Untuk elemen baja yang mengalami kombinasi tegangan normal dan gesar. y Minimum u (MPa) (MPa) (%) BJ 34 340 210 22 BJ 37 370 240 20 BJ 41 410 250 18 BJ 50 500 290 16 BJ 55 550 410 13 2 MPa = 1 Kg/cm MPa = mega pascal (satuan sistem internasional) Untuk elemen-elemen baja yang tebalnya lebih dari 40 mm.000 sampai 30000 ksi atau 193.5. berikut: Tabel II. Berdasarkan Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI). beban bangunan. maka tegangan ideal yang terjadi tidak boleh melebihi tegangan dasar. nilai modulus elastisitas baja adalah 2. Tegangan normal yang diijinkan untuk pembeban tetap. Tabel Tegangan Leleh Dan Dasar Baja Tegangan Tegangan Pereganga Jenis baja putus leleh n minimum.000 sampai 207.58 kali tegangan dasar. i   I =  2  3 2 Untuk pembebanan sementara (akibat berat sendiri.1 x 106 kg/cm2 atau 2. besarnya tegangan dasar baja dapat dinaikkan sebesar 30%.1 x 105 Mpa.000 ksi 20.3  Konstanta-konstanta pada konstruksi baja adalah sebagai berikut: Modul Elastisitas (E) Modul elastisitas untuk semua baja (yang secara relatif tidak tergantung dari kuat lelehnya) adalah 28. beban/gaya gempa dan angin.000 Mpa.  sem = 1. besarnya sama dengan 0.  = 0. Tegangan geser yang diijinkan untuk pembebanan tetap. tetapi kurang dari 100 mm. Minimum.000 Mpa. Nilai untuk desain lazimnya diambil sebesar 29.Kekuatan maupun Tegangan leleh dan tegangan tegangan yang dapat dasar dari berbagai macam baja dikerahkan oleh baja bangunan adalah sebagai tergantung dari mutu baja. Tegangan dasar baja biasanya menggunakan persamaan  = σℓ/1. harga-harga dalam tabel harus dikurangi 10%. Modul Geser (G) Modus geser setiap bahan elastis dihitung berdasarkan formula : E G= 21    .

81 x 106 kg/cm2 atau 0. Koefesien ekspansi baja dapat diambil sebesar 12 x 10-6 peroC.3 untuk baja. berat . yang berfungsi untuk mendukung bidang atap. 3) Rencana diagonal rangka kudakuda 1) 2) 3) 4) Gording Gording merupakan gelagar yang sejajar dengan sumbu konstruksi kap. - Tegangan leleh (σℓ) Tegangan leleh ditentukan berdasarkan mutu baja. Rencana Kap Portal dan Kemiringan Atap Sebelum membuat sebuah konstruksi Kap Portal kita harus terlebih dahulu merencanakannya. nilai modulus geser (tergelincir) baja adalah 0. e) Penyambung gording. Berat jenis baja umumnya adalah sebesar 7. panjanglap angan Jlhlap= cos xjarakgording Menghitung berat beban-beban yaitu berat sendiri.850 t/m3.000 Mpa. Dengan menggunakan μ = 0. yang sama dengan 490 pcf atau 7. Berdasarkan Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI).81 x 105 Mpa.75 kN/m3. Sifat-sifat yang penting Sifat-sifat ini termasuk masa jenis baja. f) Rencana ikatan angin. 2) Gading-gading kap Gading-gading kap ialah rangka batang ruang yang dibentuk oleh rangka kudakuda. Menentukan jarak portal. Untuk merencankan gording diperlukan langkah-langkah berikut : Menentukan jarak gording. atau dalam berat satuan nilai untuk baja sama dengan 490 pcf atau 76.85. Koefesien Ekspansi (α) Koefesien ekspansi adalah koefesien pemuaian linier. Untuk itu kita harus mengetahui terlebih dahulu bagian-bagian dari Kap Portal tersebut yaitu : 1) Rangka kuda-kuda Rangka kuda-kuda ialah konstruksi rangka batang rata yang merupakan pemikul utama konstruksi atap. seng dan lain-lain.3 maka akan memberikan G = 11.000 ksi atau 77. 2) Rencana jarak portal rangka kuda-kuda Merencanakan: d) Dimensi gording. c) Keadaan lokasi bangunan.Dimana μ = perbandingan poisson yang diambil sebesar 0. Adapun langkah-langkah merencanakan kap portal adalah: 1) Rencana bentuk rangka kudakuda dan kemiringan atap Dasar-dasar pertimbangannya : a) Jenis atap yang akan digunakan. ikatan-ikatan angin dan gording untuk memikul atap. b) Fungsi bangunan. Mengetahui jumlah lapangan. 3) Konstruksi atap Konstuksi atap ialah konstruksi gading-gading kap termasuk penutup atap misalnya genteng.

Tekanan tiup angin minimum 25 kg/m2. Tekanan tiup untuk lokasi di laut atau tepi laut (sampai jauh 5 km dari pantai) minimum 40 kg/m2. dimana V 16 adalah kecepatan angin Beban angin dibedakan atas 2 jenis yaitu dating (positif) dan beban angin hisap (negatif). Karena rumusan koefisien beban angin yang diberikan pada struktur kuda- .pekerja.Beban angin ditentukan dengan anggapan adanya tekanan positif dan tekanan negatif (isap) yang bekerja tegak lurus bidang yang ditinjau.berat gording . Apabila sudut yang dibentuk lebih besar dari 200 maka beban angin adalah datang. Beban-Beban pada Portal Kap Dalam menentukan bentuk dan ukuran-ukuran bagian-bagian suatu konstruksi baja. Beban angin menjadi hisap berdasarkan sudut yang dibentuk antara kolom dan kuda-kuda bangunan (sisi atap). beban mati yang diperhitungkan antara lain: berat kuda-kuda sendiri . Beban angin datang adalah beban angin yang searah dengan gravitasi bumi sedangkan angin hisap adalah beban angin yang berlawanan dengan gravitasi bumi. mur dan lainlain Beban hidup/berguna/bergerak/tidak tetap Beban hidup/berguna/bergerak/tidak tetap adalah semua muatan tidak tetap. kita harus menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku di Indonesia dan ketentuan-ketentuan yang memberi perintah. 5) Kontrol lendutan. susut dan lain-lain. beban-beban yang diambil dan teganggan-teganggan yang diijinkan. Dalam perencanaan kuda-kuda type “Castellated Beam”ini.berat atap. Beban suatu konstruksi bangunan dapat dibedakan dalam: Beban Mati/tetap Beban mati/tetap adalah semua beban yang berasal dari berat bangunan atau unsur bangunan termasuk segala unsur tambahan yang merupakan satu kesatuan dengannya. sedangkan sudut yang dibentuk lebih kecil dari 200 maka beban angin yang terjadi adalah hisap. Untuk daerah-daerah dekat laut dan dimana kecepatan-kecepatan angin munkin menghasilkan tekanan tiup yang lebih besar dari pada yang ditentukan dengan menggunakan rumus: 2  P = (kg/cm2). beban angin dan berat lainnya. antara lain mengenai pengerjaan bahan. gempa dan pengaruh khusus yang misalnya selisih suhu.berat trackstang / sagrod . baut. kecuali muatan angin. Besarnya tekanan ini diperoleh dengan mengalikan koefisien angin dengan tekanan tiup dari angin.berat penyambung seperti plat sambungan.berat bracing / ikatan angin . dan .

kuda adalah 0.02α – 04.4. Stabilitas Blok Yang Dibebani Lentur Balok-balok yang Penampangnya Tidak Berubah Bentuk Yang dimaksud dengan balok-balok yang penampangnya tidak berubah bentuk adalh balok-balok yang memenuhi syarat-syarat: h/tb  75 dan L/h  1. Dilain pihak dengan adanya desak aksial menjadikan batang tersebut berperilaku sebagai kolom. Untuk keadaan yang tidak memungkinkan mengabaikan baik momen lentur maupun gaya aksial. Sehingga struktur tersebut dianggap sebagai balok atau sebagai batang tekan atau tarik. .25 b/ts dimana: h = tinggi balok b = lebar sayap tb = tebal badan ts = tebal sayap L = jarak antara dua titik dimana tepi tertekan dari balok itu ditahan terhadap kemungkinan terjadinya lendutan kesamping. maka dalam perencanaan haruslah diperhitungkan. baik itu berupa tarik aksial. maka perencanaan balok kolom berdasarkan pada PPBBI 1984. Selain itu untuk beban angin hisap suadah mendapatkan faktor reduksi seperti rumusan yang diatas. dimana harga jarijari kelembaman = iytepi. maka dalam perhitungannya sering di abaikan. Akibat momen lentur batang tersebut akan berperilaku sebagai balok. dan 5 dalam PPBBI 1984 yang harus dicari dengan cara mengambil tekuk sama panjang dengan bentang sayap tertekan yang tidak ditahan terhadap goyangangan pada arah tegak lurus badan. 1 A΄= Asayap + Abadan 6 Balok Kolom Pada dasarnya setiap batang dalam suatu struktur mengalami momen lentur dengan gaya aksial. Balok-Balok yang Penampangnya Berubah Bentuk a) Pada balok yang tidak memenihi syarat tersebut pada poin 1 (satu) diatas tegangan tekan terbesar pada sayap harus memenuhi : tekanmax    adalah angka tekuk menurut tabel 2. Suatu batang yang menderita beban tekan aksial dan momen lentur bersamaan inilah yang dinamakan balok kolom. b) Yang dimaksud tepi tertekan adalah sayap dan 1/3 tinggi badan yang tertekan (untuk penampang simetris menjadi 1/6 tinggi badan). 3 . Sesuai dengan peraturan yang ada di Indonesia. Adapun cara yang digunakan dalam perencanaan ini adalah berdasarkan persamaan interaksi terhadap tegangan ijin. Namun demikian apabila salah satu dari momen lentur atau gaya aksial itu relatif kecil dibandingkan dengan lainnya.

sedangkan sumbu lemah ditunjukkan oleh sumbu y. Pembatasan pada kombinasi. 1) Balok-Kolom Melentur searah. sehingga cara interaksi banyak disukai karena hal ini lebih dapat mendekati kenyataan. Salmon et al (1981) dalam bukunya mengelompokkan kemungkinan rusaknya batang yang menderita kombinasi beban aksial dan momen lentur menjadi: Akibat beban tarik aksial dan momen lentur akan rusak pada keadan luluh. tanpa puntiran. 2. Untuk menjamin kekuatan balok-kolom tersebut perlu dipih sedemikian sehingga arah lenturan searah dengan sumbu kuat balok-kolom tersebut. 5. momen lentur dua arah. Sesuai dengan peraturan yang ada di Indonesia. Akibat beban desak aksial dan momen lentur arah sumbu kuat akan rusak karena tekuk torsilateral. misalnya tampang WF akan rusak karena tekuk pada salah satu arah prinsipnya (principal direction). Menggunakan rumus interaksi berdasarkan tegangan ijin. Pada umumnya sumbu kuat tersebut ditunjukkan oleh sumbu x. Menggunakan rumus interaksi berdasarkan tegangan batas. c. 3. Melihat pada banyaknya kemungkinan rusaknya batang akibat kombinasi beban aksial dan momen lentur tampaknya tidak mudah untuk menentukan suatu cara perencanaan yang dapat mencakup seluruh kemungkinan tersebut. adapun cara yang digunakan oleh peraturan lain tidak dibahas. suatu balokkolom hanya akan menerima gaya aksial dan momen lentur. Pembatasan pada tegangan kombinasi biasanya memerlukan stabilitas dan faktor keamanan yang tinggi. dan puntiran (torsi) akan rusak karena kombinasi puntiran dan momen lentur apabila pusat geser tidak pada bidang momen.1. Akiat beban desak aksial dan momen lentur dua arah pada batang tampang dinding tipis terbuka akan rusak karena kombinasi momen lenturan dan puntiran pada tampang puntir lemah. 4. Akibat beban desak aksial dan momen lentur satu arah akan rusak karena tekuk pada arah bidang momen. Tanpa Gaya Lintang Pada keadaan tidak ada gaya lintang. Perencanaan yang digunakan berdasarkan persamaan interaksi terhadap tegangan ijinnya. . Akiat beban desak aksial dan momen lentur dua arah pada batang bertampang puntir kaku. Pada umumnya suatu perencanaan didasarkan pada salah satu dari: a. 6. maka perencanaan balok kolom berdasarkan Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia Untuk Gedung 1987 (PPBBG 1987). Akiat beban desak aksial. b.

Secara umum persamaan interaksinya adalah: K1 N / A K2 M x / Wx + K3 My / Wy   Dengan: K1 = max. bila menyebabkan suatu pelengkungan.6 bila panjang tekuk sebenarnya yang digunakan dalam perhitungan M1/M2 positf. Tanpa Beban Lintang Pada dasarnya perhitungan untuk kolom-balok yang melentur dua arah adalah sama dengan keadaan melentur searah. persyaran interaksi balokkolom secara umum harus memenuhi:  n      n 1 W Dengan:  = Faktor tekuk searah sumbu tekuk N = beban aksial A = luas tampang balok-kolom M= momen kolom searah sumbu yang ditinjau W= tahanan momen searah momen yang ditinjau β = 0. Dengan menganggap bahwa keadan bahan masih elastis. dan K3 = 1 3) Balok –Kolom lentur dan Dibebani Gaya Lintang Balok-kolom yang selain dibebani gaya normal dan momen lentur juga dibebani oleh gaya-gaya melintang harus memenuhi syarat: n y  y M y 2  M Dy  M N  maks   x 2 Dx   A nx  1 ny 1 Wy Untuk ujung-ujung balok kolom harus memenuhi syarat: . kip dihitung berdasarkan pada perhitungan balok yang menderita lentur. faktor tekuk terbesar K2 = βx  nx / n x . Sedangkan pada ujung-ujung kolom beban yang bekerja harus memenuhi persamaan: N/A+M/W Untuk arah sumbu lemah yang tidak dipengaruhi momen lentur harus memenuhi persyaratan kolom biasa yaitu: N/A 2) Balok –Kolom lentur Dua Arah. N = P*/N P* = 2 EI / L2 = 2 EA / (LK / i) 2 = 2 EA /()2 Adapun n merupakan faktor perbandingan antara gaya aksial dengan gaya tekuk Euler yang akan memperbesar momen skunder balok-kolom. maka berlaku superposisi tegangan.1 5  1  kip (8  3M x1 / M x 2 ) Tegangan kip. sehingga terjadi tekuk puntir-lateral (lateral torsional buckling).4 bila panjang tekuk diperhitungkan terhadap jarak antar dukungan β harus  0.1 K3 = βx  ny / n y . Pada ujung-ujung kolom akibat pembebanan harus memenuhi persamaan diatas dengan mengambil K1 = 1.Sesuai dengan PPBBG.6 + 0. K2 = .4 M1/M2 β harus  0. dan negatif bila menyebabkan dua pelengkungan.

85   : 40 cm A nX  1 WX n y  1 WX n y  1 Wy . Jarak gording maximal 1.85 X  A nX  1 WX n y  1 WX pada ujung kolom memenuhi syarat: N MX My    A WX Wy harus Pembebanan struktur Material untuk tiang/kolom dan kuda-kuda rangka baja terbuat dari profil IWF 200 x 150 x 6 x 9 Dan material untuk gording terbuat dari profil baja C 125 x 50 x 20 x 2. a) Ketentuan Teknis 1.85 X. Mutu baja Bj 36   = 1600 kg/m2 5. Gudang tertutup 2.Berat : 6 kg Dan C 18o A O B 19 Gambar 3.12 = 2 cos 18 = 613 m .1 Bagian-Bagian Atap 1 AB 1) Panjang AC = 2 cos 18 1 . 4) Balok-Kolom Bergoyang Penyangga Stabilitas Konstrusi Kolom dapat bergoyang apabila apabila portal yang didukungnya bergoyang. Apabila MDX berlawan tanda MDy seperti MDX.30 M 4.3 cm .3. Beban seng gelombang 6 kg/m2 b) Penutup atap dari asbes gelombang : Panjang cm n y :M305 n (V X  N )e X * n M N y X x  X  0. Penutup gudang dari asbes gelombang 3.Lebar  0.Tebal : 0. dengan anggapan kedua ujung kolom berupa sendi. akibat beban melintang yang tegak lurus sumbu y. Balok-kolom selain dibebani oleh gaya normal dan momen lentur juga mengalami goyangan memenuhi syarat: x (V y  N )e y * n n MX N  X  0. sehingga balok pada portal tersebut akan menyalurkan momen tambahan akibat pergoyangan ke kolom penyangga (pen-stabil) konstruksi. Beban angin 10 kg/m2 6.x n  M Dx M y 2  M Dy N   X2   A WX Wy Dimana: MDX adalah momen lapangan terbesar pada kolom akibat beban melintang yang tegak lurus sumbu x.

AB. Beban Hidup Terpusat P = 100 kg 1 MXL = ( P cos  ) L = 4 = 97.26 Gambar 3.2 kg/m Beban atap : 1.5 kg/m = 15. Beban hidup terbagi rata q = ( 40 -0.30( jarak max gording ) 6.3 =  4.84 kg/m 1 MXD = ( q cos  ) L2 = 8 1 (22.45 kg/m . Perhitungan Penbebanan 1) Beban Mati ( D ) Beban gording : = 13.3 x 18 ) 1 MXL = ( q cos  ) L2 = 8 1 ( 34.84 cos 180 ) 22 8 i.tg18 2 = 1.56 20.82 kg/m 1 ( 100 cos 18 ) 2 4  Untuk beban hidup: 2 = 34.tg 2 1 = .26 Sin 18 o = 0. Beban Hidup ( ML ) a.92 8 kg/m L 1 MYL = ( q sin  ) ( ) 2 = 8 3 1 ( 34.76 kg/m Berat alat penggantung  10% = 2.3 =  1.389 m A.6kg/m2 = 142.197 m n = 1.6 kg/m 1 ( 100 cos 18 ) 6 4 1 L MYL = ( P cos  ) = 4 3 = 8.6 cos 18 ) 62 = 147.12.2 Jjarak Gording m = 1.95 m 6.3  ) kg/m = ( 40 – 0.26 x 6 kg/m + = 7.84 cos 180 ) 62 8 L 1 MYD = ( q sin  ) ( ) 2 = 8 3 1 (22.26 5 = 1.8  5buah 1.076 kg/m + qD = 22.26 Cos 18 o = 1.44 8 kg/m b.6 cos 18 ) 22 = 16.2) Panjang OC 3) Jumlah gording 4) Jarak gording 1 .

97 fy 240 dan h 13.72 cm 2400 Ternyata Lb < Lp maka MNX = MPX  termasuk bentang pendek MNX = MPX = Zx – fy = 277 x 2400 = 664. tf .48 0.4 tw 0.95 x 600 4 6 384 2. Akibat beban merata 5 q.6 MC MUX = 1.79 kg/m MUY = 1.48 kg/m MNY = Zx ( 1 flons ) fy 1 = ( .249  1 ok d.93 + 1.L4 4 x L Fx1 = 384 E.w = 0 Angin hisap 0.40 kg/m = ( .beban hidup terpusat yang menentukan.1.800 kg/cm = 66. 0.5 h =  p tw 1680   108 240 bf h  + =  p 2.1x10 x137 = 7. 1. Beban Angin Angin tekan c. 34.Ix = 5 0. 152 ) 2400 4 = 121.500 kg/cm = 1215 kg/m c.36 2.603 cm 5 q sin 18  L  = x   384 E Iy  3  = 4 5 22.228 x0.07 bf  p = 2.tf tw penampang kompak.309  600  x   384 2. Kontrol lendutan profil L Kelendutan ijin f = 180 600 = 180 = 3.1x10 6 x137  3  4 fy1 .9 x1215 : 0. Kontrol lateral buckling Diperhitungkan jarak penahan lateral antara jarak 2 pengikat seng Misal Lb = 68 cm jarak lateral ( jarak 2 pengikat seng ) E Lp = 1.Mny a.tf 170 170    10. 16. bf2 ) fy 4 1 = 43.76 ry fy = 1.76 .33 cm Dicari fx = lendutan terhadap sumbu x-x profil fy = lendutan terhadap sumbu y-y profil e.55 + 16 .2 . Maka : MNX = MNY b.32 2.2   26. c.10 6 = 68.Mnx b. 147.92 = 609.5   5. Kontrol penampang profil bf 7. Persamaan interaksi : 454. cos  .36  1 0.31 27. 310.84 x0.2 MO +1.9 x66.6 .2 .44 Persamaan interaksi = Mux Muy  1 b.tf 2.4 x 40 = 16 kg/m2 Beban angin < beban tetap → tidak diperhitungkan Besarnya Momen Berfaktor ( MU ) MU = 1.9 .

25 T  462.5 T 462.84 .9. 68. 3 = 15.22. 864 = 777.0.30 tg   6  0.2 . 6 .193 =F F = 8.14 xD 2 > Aq perlu 4 0. L ) 2 1 = .52 kg RL = 100 kg RU = 1.6032  3.90 kg  jumlah beban = 46.2 .5 = 0.qD .2400 = 0.0532 = 57.85Aq T Aq perlu = 6.85.25 kg 6/3  Keseimbangan gaya vertikal (v  0) T sin   231.fy.25 x 3.W = 0.65 3   19.400 N= 864 kg > Ro= 421.053cm F = fx 2  fy 2 = 7.9.65 D > 0.Ac  Ae=0.32   Gaya yang bekerja pada tiap satu gording akibat beban mati 6 q  24.= 3. 6 2 = 68.25 kg = 5 buah Gaya penggantung gording teratas 5 x 66.321 = 1.21 Patah = pu = Øfu.01 240 Vn = 0.A.6 kg > Vu= 421. RD + 1. 100 = 242.4100 = 0.3 Penggantung Gording 1.85.84 kg 6/3 Gambar 3.84 kg Vc = 0. 100 = 86.193  F f.5  Aperlu  fy 0.6 .65 Dipakai baja bulat  16 1 x3.127 = 8.00 sin   0.806  9.14 x D2 > 0. 240 .9.9. Kontrol geser 1 RD = ( .67 tw 6 tw 1100 ( plastis ) fy = 67.4100 462.9 Vn = 0.6 RL 6/3 1100  71.95 .84 sin 18.35 kg Akibat beban hidup p  100 sin 18 = 30.52 + 1.6 .6.22 kg h 70 h <   11.25 T sin 18  231.25 = 231.0.

75 = 353.79 x 0.4 x109.65kg 6 Batang tarik Nu = ( 1.25 x 3.2 D + 1.Kontrol : A perlu = 1 x3.97 R2 = x 27 = 94.75 Mntx = ( 1.71 m Gaya tarik ikatan angin b Nb = 6. besarnya diambil dari perhitungan gording: U = ( 1.33 = 2 = 109.6 L ) 0.2 D + 1.7 x 2 = 1.71kg panjang ikatan angin b = 6 2  32 = 6.6 Nb ) 0.34 kgm Mnty = ( 1.4 0. ( ok ) Kekakuan leleh Nn = 0.71 kg Gaya normal pada gording dan regel atau C = 0.75 = 3885 kg.71 x109.12 600 …………….97 + ( 3 tg 18 ) = 7.09  107.3 .9 x 10 = 27 kg/m h3 = 6.71 N= 0.9 R  R2  R3 = 1 2 18  94.6 L ) 0.75 = 147.14 xD 2 4 = 6.09 2 kg/m q3 = 3 x 0.……( ok ) Kekakuan putus An = 0.….62 = 2 cm2 > Aq perlu…………………… …….75 = 63.4 x 3700 x 0.. ( ok )  jadi batang Ø16 dapat digunakan sebagai ikatan angin Gording sebagai beam kolom Gording ini adalah balok kolom akibat beban D dan L menghasilkan momen lentur.6 L ) 0.9 x 10 = 9 2 kg/m h1 = 6 cm 6 R1 = x 9 = 18 kg 3 3 3 q2 = ( + ) = 0..95 R3 = x 27 = 107.97 cm 6.6 ≥ 671  1.18 kg Pakai batang Ø 16 = fy = 2400 As = 2 cm Kekakuan kolom 1.( ok ) g.4 cm Nn = 1.95 m 7.75 = 84.6 x 122. Beban angin = 10 kg/m2 3 q1 = = 0..9 x 2 2 10 = 27 kg/m h2 = 6 + ( 3 + tg 18 ) = 6.67 Dipakai profil baja C 125 x 50 x 20 x 2.2 D + 1.33 2 kg/m Gaya normal pada gording dan regel untuk C = 0.75 = 1.89 x 0.71  122.14 x 1.65 x 0.9 x 2400 x 2 = 4320….75 = 265.9 = 48.

9  18o -0. AG 3.035 ≥ 1 Sby = 1 =1≥  403.77 Ix = 210 1.82 x 1 = 50.87 2  y2 = 3680425.64  1.8 kg 0. fy 6.10 6 x6.14 2 x2.0 Ix = Iy = Zx= Zy= 6.99 Ix 5.4 = 0 +0.87  1.035 = 473.Mny  b) Gording dianggap batang tidak bergoyang.86 Iy = 21.64 kg -) Lkx = 63 cm → λy = L 63   33.15 kg a) Tekuk arah x = (λx > λy ) Pn = AG.322 5.9 28.38  1    3680425.33 -) Lkx = 600 cm → λx = L 600   103.99 2 X2 = 11528.35 Muy = Mnty – Sby = 50.322  103. AG 3.77 Ncr bx = 2  .65 = 9195.86 Ncr bx = 2  .64 Pakai rumus: Eu 8  Mux Muy     1 c.02 < .0.85 x9195.15  1 Mux = Mntx – Sbx = 457.05  1 Pn 0.322 x2400   33.87 Iy 1.38   0.4 .E.38  1   11528.14 2 x2. Dimana: Cmx Sbx = 1  Nu  1    Ncrbx  Untuk elemen beban transfersal ujungujungnya sederhana cm =1 1 Sbx = =  403.34 x 1.Pn 9 Mnx b.10 6 x6.64 Pu 403.4 -0.As = 6.E.322  33.

Ujung jepit – sendi  ( jepit  sendi) kc=0.63 Perencanaan Kolom Direncanakan kolom dari IWF 200 x 150 x 6 x 9 dengan ketentuan teknis: 1.25 < c  1.1.84 x 6 ) = 109.l = ( 0.9 x 10 x 6 = 54 kg/m 3) Beban hisap = -0.85 x 1756.85 E 2 x10 5  0.84 x 6 ) + ( ) cos 18 = 151.98 kg .80 x  Lkx 0.194 57.2.61 cm d = 194 mm bf= 150 mm r = 13 mm tw= 6 mm tf = 9 mm a) Kontrol kebutuhan kolom Lk   i Lk  kc.81 c     fy 57.4 ) 10 3.02 .851   E  240  0.8 (28.4 Beban Angin 1) Beban hisap atap = -0. Mutu baja BJ 37  = 240 Mpa A.02  0. Panjang Kolom ( L ) = 6000 mm 2.8 ( q1 atap x jarak antar kuda-kuda ) = 0.0.78 Beban hidup atap= ( 0.30 Pcr =  2 .8 x600   57.14 2.01 cm2 ix = 8.8512 = 479.18 0.58 = 2.286.E. Aq x 2 = 3.4 x 10 x 6 = -24 kg/m 2) Beban tekan kolom = -0.98  2.4 x 10 x 6 = -24 kg kg/m 4) Beban kanopi C = ( 0.10 6.2 1. Kolom WF 150 x 75 x 5 x 7: A= 39.30 cm iy = 3.4 )10 = -0.43  = 1.67.6  0.Gambar 3.56 kg/m c) Beban Atap Beban mati atap = ( qD atap x jarak antar kudaprofil kuda ) + ( ) cos  =( 14 28.65 kg ФPn = 0.65 Pn = Aq fy 2400  149x = 1756.851 ix 8.

180.5 (43.43 kg Pu 3250.1  w 6  .J .76 x 3.76 Iy E fy = 1.139 bf  R : 2.tf 2 x9 R  250 fy  250 240  16.683.262………………. 4 = 49.2.97 kg/cm X2 = 2  x. J   y =  277 x 2.35 : 2.388.10 ).742 cm4 h2 Iw = Iy.FL   Fy  Fr  = 5  2. fy = 277 .800 k c) Kontrol Lateral Bulking Lb = 600 cm Lp = 1.39 < Lb = 600 < LR = 11. 2400 = 664.tf Beban h 150 :   30 tw 5 R  665 fy 665  240  42.26 cm = Fy – Fr = 240 – 70 = 170 Mpa 1 =  (bt ) 3 3 = 1 1 (47.76  6  6  2.Pn 1493.413.41  c.176 b) Kontrol penampang Sayap bf 150   8.6 x =  2 (2.200 277 5.006 ( cm/kg ) LR =  1  2 y  1  1   2 .74.3  3) 3  2 (1.58 6 cm X1 =  E 2 .8) 2 4 = 15.011 x 1179.43 = 2.4  7.2 = 0.= 1493.5  29.113 = 12.10 x80.413.  E. ( ok ) mn = Cb ( mR + (mP + mR ) LR  LB < mP LR  L P .61 2 x10 40 5 FL J = 449.9) 3 3 = 80.76 x10  277   1700   = 11.388.26  Lp = 84.93  Mnx = Zx .74  2 2 = 0. 2.

Aw = 0. Data beban combo 1. Data pembebanan P = 151.9.6 Vu ≤ Øun………………………………… …………( ok ) mP = Zy – fy = 13.6.2 D + 1.4 D 1.8 x 1700 = 150.6 L + 0.8 W P qw2 qw1 = +54 qw2 = -24 Perhitungan Sambungan Kuda-Kuda dan Base Plate .34 Lb < Lp = 1.72 kg w = -0.2 D + 1.mR = Zx ( fy – Fr ) Mnx = Mpx = Zx .5 beban pada strujtur 1.fy.168 mY = Zx – fy = 277 – 250 = 22 Lp = 1.960 x 2400 kg/cm = 664.6 L 1.9.08 = 49.76 Iy E fy 2.800 kg/cm Mu ≤ ØMn Kontrol geser Vu = 8960.0.2 – 240 = 3. fy = 277 = 88.76 x 3.38.6.64 q = 109.6 L + 0.10 5 240 = 84.2 D + 1.5 W 1.2400.0.61 dikontrol menggunakan perhitungan SAP 2000 dengan data beban sebagai berikut: PEMBAHASAN Data Perhitungan dan Setruktur Dari perhitungan beban dan struktur akan P/q P w P w P w P Pw w P/q w w w P w qw1 12 M Gambar 3.351.58 wI = -24 2.89 kg Øun = 0.

3 = 7.234 < Td ulir…………………… ……… (ok) 3.5 x db x tp x Ab x Fu = 0.5 kg/cm .Øf = 0.21 pakai ft = 3700 kg/cm .Tu max = Mu.75x0.5 x 3700x 1  x 1. Perhitungan Sambungan Pu mu Dari data sap 2000 diperoleh: Mu = 1154.15 mm misal tc = 1 cm .23 > Tu max……………………… ………….(ok) 2.75 x 0.28 Direncanakan baut Bj 37 Ø12. Kontrol Kekuatan Las T plat = 6 mm A min = 3 mm . Fub…………………… …………….5.2 x 3700 = 1998 kg Pu . plat Bj 37 1.43 kg .6 = 4068.3 = 2. Ab 1 = 0. Fub = 0.86 Ab .5 .707 x 3700 5 90 x10.3 Fub-1.3 x 3700 – 1.22 x 1 4 = 1568.Ft = (1.86 = 3428.Aekp(las sayap) = 0.Geser Vd = 0. Akibat Momen Lentur mu .75 x 0.(ok) 4.Aekf (las badan) = 0.Tumpu Rd = 0.Fuv < Øf = 0.75 x 1 0.Fuv = =923.5 x Fu x  x Ab 4 xm = 0.Td= Ø + ft .707 x 3700 13 90 x10.5 x 1.Vu = n vu .2 x 1.5 x 923. Kuat rencana baut .Y max  y2 = 1154. Kontrol Tarik .a.75 x 0.5 Fux)<Fub = 3700 kg/cm2 = 1.82 x38 2(10 2  16 2  24 2  38 2 = 9.10 mm .82 Pu = 4619.75 x 3700 x  x 4 2 1.5x3700 = 1387.

01 dipakai a = 3 mm tc= 2.2)+0. .2 x 37...mati + b.03 A 22.867 cm2 Fup = Pu 6419.2 cm2 d2 S = bd + 3 = (19.2 ( 2x19..L 1 1 = .4) = 22..75 x0.867 Wf 200x150x6x9 60 Dimensi Plat B = 35 cm L = 60 cm ..28   204.707 ..4) 2 (37.01 = 0..45 kg/cm…………….BL2 6 6 = 732.64 cm2 S = 0...707 = 0.87 p = 28510.82 0..28   40.2(2x37.BL2 .58 + 1.75x0..7 = 8..3 = 0.0.23 n = 9616....W= .5 .2(37.121 mm z = 0.2 ) 3 = 1184..2)+(2x37.4x2/3 ) = 236.24   4......38 p n Tmax =  A w = 13.87 s 236.4)=113....(10)2 2 = 1479.2 ( 2x37.82   0.09 F total < Øfn = 0.39 Tmin = 8. Perhitungan Base Plate = Fup 2  Phm 2 = 40..81 = 15.33 F total = = F total = + Fup 2  Phm 2 = 204.33 akibat Pu => Fpu Pu 4619.6x90x703 F total < 2214.6 x90 x70.A 1(2x19.2 akibat Pu => Phm Mu 1154.2 cm A = 0..64 Fhm = Mu 1154.81 A 113.01 tc A perlu = 0..59.A = B .4)+0.82 F Tc perlu = Fn = 40.L2 2 1 = 33.hidp) m = 1323.707 0.01 Momen plat yang terjadi q = 33.98 s 1184.06 cm3 Gaya-gaya yang bekerja pada dasar kolom dari sap 2000 combo 3 (akibat b.59 kg/m2 x 1 Ukuran base plate 35 x 60 1 m= q...(ok) = b.

untuk tekuk Sbx = Experiment and Analytical 1.738.544. Shiroi.1679. No. C. Japan Cement Association on Very Public Works Research Institute (PWRI). Dimensi gording yang 11. x 150 x 6 x 9 No. H. S. pp. Jakarta Simple about Cement Science. 2003..3 Sudjono. Erlangga. Maruzen Publishing Co. Un published report.025 ≥ 1 dan Sby = 1 ≥ Studies on Oxygen Transport 1. 1993. 2004. and Seki. 1.1.m  Tplate 0.. N. (in Japanese). Quantity ..Profil span WF 200 x Assessment on Factors of Salt 150 x 6 x 9 . Kesimpulan Jurnal Teknil Sipil Institut B. A. C.Salmon. M. and 125 x 50 x 20 x 3..G. Current Issues and New Technology on Salt Attack in Concrete Bridge. didapat dari hasil tekuk ( λx > λy ) Sudjono.5 = 2400. Spain.. Struktur Baja m 6.3 Japanese) 6.S. Structure of Concrete and Its Properties. Hanehara.3 Desain dan Perilaku Jilid 1 wplat t plat Edisi Kedua. Proc.. dengan desain 721. pp.Introduction of Environmental Materials. Simulasi Perhitungan = 1.1. 1997. CANMET/ACI International b. 78-104.S. A.8 cm )( 3 cm Tebal Selimut Beton Minimum terhadap Perubahan Jarak PENUTUP Bangunan dari Garis Pantai. jarak 7m. N. 6. Jarak portal yang paling Conference on Durability of efisien adalah pada Concrete. of 5th digunakan. V-32 DAFTAR PUSTAKA Fushoku-boshoku kyoukai. Tokyo.Profil gording CNP Sakai. (in Tplat. Tokyo.m T plat = Tokyo. 9-17. Journal of JSCE. Volume a. 1993. Yasuda. profil sebagai berikut: . pp. . maka dapat disimpulkan bahwa in Various Cementitious gording aman untuk Materials..13  2  Tplat1. 2000. (in Japanese).2 Matsusima.Profil kolom WF 200 Damage. kesimpulan Teknologi Bandung.