Anda di halaman 1dari 7

PERENCANAAN ALTERNATIF STRUKTUR BETON BERTULANG GEDUNG

DEKANAT FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
BERDASARKAN SNI 1726 – 2012
M. Ridho Arroniri, Ari Wibowo, Retno Anggraini
Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya
Jalan Mayjen Haryono 167, Malang 65145, Indonesia
Email: arroniri77@gmail.com
ABSTRAK
Hampir semua gedung tinggi yang ada di Universitas Brawijaya direncanakan dengan struktur
beton bertulang. Karena dalam pelaksanaan lebih mudah tanpa banyak memerlukan tenaga
ahli khusus. Namun, perencanaan struktur beton bertulang harus sesuai dengan kaidah
peraturan standard yang berlaku. Untuk saat ini, telah ditetapkan SNI 1726-2012 tentang Tata
Cara Ketahanan Gampa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung. Peraturan SNI
(Standard Nasional Indonesia) ini adalah revisi dari peraturan sebelumnya, yaitu SNI 031726-2002. Dengan demikian, maka SNI 1726-2012 ini membatalkan dan menggantikan SNI
03-1726-2002. Dalam peraturan yang baru, terdapat perubahan yang mendasar yaitu ruang
lingkup yang diperluas dan juga penggunaan peta-peta yang baru. Tujuannya tidak lain adalah
untuk mendapatkan desain alternatif gedung tahan gempa dengan acuan peraturan yang baru.
Perbedaan yang paling mendasar pada perturan gempa SNI 03-1726-2002 dengan SNI 17262012 adalah pada nilai base shear. Gaya geser dasar yang terjadi pada tiap lantai berdasarkan
SNI 03-1726-2002 lebih kecil dibandingkan dengan SNI 1726-2012. Lebih kurang tiga kali
lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan berdasarkan peraturan gempa terbaru, yaitu SNI
1726-2012. Hal ini terjadi dikarenakan koefisien gempa yang digunakan pada peraturan
terbaru lebih besar jika dibandingkan dengan peraturan yang lama. Koefisien k, yang
merupakan eksponen terkait dengan periode struktur. Sehingga, dalam perhitungan analisis
akan didapatkan dimensi ukuran balok kolom yang lebih besar untuk menahan gaya tersebut.
Kata kunci: gempa, beton bertulang, SNI 1726-2012
1. Pendahuluan
Hampir semua gedung tinggi yang ada
di Universitas Brawijaya direncanakan
dengan struktur beton bertulang. Karena
dalam pelaksanaan lebih mudah tanpa
banyak memerlukan tenaga ahli khusus.
Namun, perencanaan struktur beton
bertulang harus sesuai dengan kaidah
peraturan standard yang berlaku.
Untuk saat ini, telah ditetapkan SNI
1726-2012 tentang Tata Cara Ketahanan
Gampa untuk Struktur Bangunan Gedung
dan Non Gedung. Peraturan SNI (Standard
Nasional Indonesia) ini adalah revisi dari
peraturan sebelumnya, yaitu SNI 03-17262002. Dengan demikian, maka SNI 17262012 ini membatalkan dan menggantikan
SNI 03-1726-2002. Dalam peraturan yang
baru, terdapat perubahan yang mendasar
yaitu ruang lingkup yang diperluas dan
juga penggunaan peta-peta yang baru.
Gedung
Dekanat
FT-UB
yang
diresmikan pada tahun 2011 ini, masih

menggunakan peraturan lama, SNI 031726-2002. Untuk itu perlunya penerapan
perencanaan
dengan
mengunakan
peraturan yang terbaru, SNI 1726-2012
sebagai acuan bangunan tahan gempa
dengan
struktur
beton
bertulang.
Perencanaan struktur beton bertulang
dengan menggunakan SNI yang terbaru
akan memiliki kinerja struktur yang lebih
baik, karena bangunan akan bersifat lebih
daktail. (Perceke, 2013).
Penulisan skripsi ini dimaksudkan
untuk memaparkan hasil perencanaan
struktur beton bertulang tahan gempa pada
Gedung
Dekanat
Fakultas
Teknik
Universitas
Brawijaya
Malang
menggunakan Sistem Rangka Pemikul
Momen berdasarkan SNI 1726-2012.
Tujuannya tidak lain adalah untuk
mendapatkan desain alternatif gedung
tahan gempa dengan acuan peraturan yang
baru.

1.9 D + 1. Adapun data-data mengenai gedung adalah sebagai berikut :  Nama Gedung: Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang  Lokasi: Jalan M. Jadi peraturan SNI 2002 masih dapat digunakan. 0. Metode Penelitian Adapun data perencanaan Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang merupakan gedung perkantoran delapan lantai yang berfungsi sebagai sarana dan prasarana administrasi bagi mahasiswa. Dimensi balok: Dimensi kolom: • B1 = 40/70 K1 = 60/80 • B2 = 20/40 K2 = 40/40 • Balok Ring = 25/35 .0 E Pembebanan yang akan dihitung pada perencanaan gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang secara garis besar adalah sebagai berikut :  Beban mati  Beban hidup  Beban gempa SNI 1726-2012 Pasal 4.5( Lr atau R ) 3. 1.5( Lr atau R ) 5.T. 1. Hasil dan Pembahasan Perencanaan struktur maupun redesign gedung secara keseluruhan harus dimulai dari data gambar baik dengah tata ruang dan instalasinya. dosen.6 L + 0.0W + L + 0.0 W 7.2 D + 1.6 m (termasuk atap)  Mutu beton (f’c): 300 kg/cm2  Mutu baja tulangan polos (fy): 2400 kg/cm2 1.0 E + L 6.5W) 4.2 D + 1.2 menentukan kombinasi beban untuk Gambar 1: Diagram Alir Perencanaan metode ultimit sebagai berikut : 3. Haryono Malang  Fungsi: Perkantoran.  Struktur Gedung: Lantai 1 sampai dengan lantai 8 struktur beton bertulang. sedangkan atap menggunakan struktur rangka baja  Zona Gempa: Zona 4 (Malang)  Jumlah Lantai: 8 Lantai  Tinggi Bangunan: ± 47.6 ( Lr atau R ) + (L atau 0. Acuan perencanaan bangunan gedung struktur beton bertulang yang dipakai sesuai dengan SNI-03-2847-2002 dan tata cara perhitungan struktur tahan gempa mengikuti acuan peraturan gempa SNI-1726-2012. dan karyawan. Peraturan struktur beton bertulang dalam SNI-03-2847-2002 dengan SNI 2847-2013 masih memiliki persamaan dalam perhitungan perencanaan.2.9 D + 1.2 D + 1.2 D + 1.2.4 D 2. 1. 1. 0.

65 Gedung harus diperhitungkan apakah termasuk kategari beraturan atau tidak.93 m (tak beraturan) Memanjang : 15% x 25.47 m < 3. geser tingkat desain gempa di semua tingkat harus ditentukan dengan persamaan pada SNI 1726-2012 Pasal 7. Sehingga dapat dengan tepat memilih metode analisis yang pas. Tabel 1: Rekapitulasi Massa Bangunan Per Lantai: Gambar 4: Lokasi Koordinat Gedung Dekanat FT-UB Perhitungan konfigurasi struktur: 3.65 = 6.28 + 3.8 Gambar 3: Konfigurasi Gedung Melintang : 15% x 23.87 m < 9.go.Perhitungan Spektrum Repons Desain Gambar 2: Denah Balok dan Kolom Perhitungan beban gempa pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang. 3.13 = 3.80 = 3. Kemudian klik peta.28 23. Kemudian gaya gempa horizontal (Vx).6m (tak beraturan) Distribusi gaya gempa Gaya gempa lateral (Fx) yang timbul di semua tingkat harus ditentukan dengan persaaman pada SNI 1726-2012 Pasal 7.id/Aplikasi/desain_spe ktra_indonesia_2011/ dengan cara memasukkan jenis input koordinat tempat yang akan ditinjau.13 Gambar 5: Hasil Spektrum Respon Percepatan 9.3. perhitungan spektrum repons desain menggunakan program yang telah disediakan oleh dinas Pekerjaan Umum(PU): http://puskim.8.4.8.pu.6 25. .

Beban Atap  Nodal Load 4000 kg 4. Gempa Arah Y 6.9. Beban Hidup  Plate Load 250 kg/m2  Plate Load 100 kg/m2 3. Beban Mati  Selfweight  Uniform Load 1000 kg/m  Floor Load 130 kg/m2 2.1. Input data Load and Definition StaadPro Hasil analisis StaadPro 1. gaya geser maupun aksial.Tabel 2: Perhitungan Gaya Geser Fi Dan Vi Per Lantai Analisis StaadPro Gambar StaadPro 6: Struktur Tabel 3: Partisipasi Terkombinasi Struktur Gedung Massa pada Perhitungan analisis dengan program StaadPro digunakan untuk mencari nilai momen. Nilainya harus lebih besar dari 90% Gambar 7: Diagram Momen Ragam . Gempa Arah X  Response Spectra X 5. Response Spectra Y Partisipasi massa ragam terkombinasi harus dihitung sesuai SNI 1726-2012 Pasal 7.

150 Ring 250 350 2102.03 1.94 2 D . Mulai dari dimensi dan jumlah tulangan yang dibutuhkan.16 7.25 30.94 350 3769.60 Ø10 .73 4 D .200 Balok X1 Tulangan Tekan (cm²) 6 D .9 350 4711.16 7.25 30.97 2 D . Berikut merupakan rekapitulasi desain penulangan balok dan kolom.08 0.Gambar 8: Diagram Gaya Aksial Gambar 9: Diagram Gaya Geser Dari hasil perhitungan analisis StaadPro diperoleh momen.94 Tabel 5: Rekapitulasi Tulangan Lapangan Balok b (mm) B1 400 B2 200 Ring 250 Balok h Muz As' As Tulangan (mm) (kgm) (cm²) (cm²) Tarik (cm²) 700 125968.668 Ø12 . Tabel 4: Rekapitulasi Tulangan Tumpuan Balok b (mm) B1 400 B2 200 Ring 250 Balok h Muz As' As Tulangan (mm) (kgm) (cm²) (cm²) Tarik (cm²) 700 157460.62 132.52 6.523 B2 200 400 33863.16 3.11 4.38 137 400 32645.4 2 D .16 12 D .38 137 400 26116.84 1.16 3.08 25.37 4 D .94 Tabel 6: Rekapitulasi Tulangan Geser Balok B1 b (mm) 400 h (mm) 700 Vu (kg) 76344.01 6 D .78 125.16 7.89 8.16 7.65 1.16 11.613 Ø10 .13 5.97 Tulangan Tekan (cm²) 6 D .91 26.4 4 D .58 12 D .97 . gaya aksial dan gaya geser untuk menghitung desain balok dan kolom.16 3.82 4 D .

Semoga dengan adanya kajian skripsi penggunaan peraturan gempa terbaru pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini dapat menjadi solusi dalam pemilihan metode desain gedung bertingkat tinggi tahan gempa. No. Pada perencanaan alternatif Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang ini dilakukan perubahan desain gedung. Jakarta: Kementrian Pekerjaan Umum. yang merupakan eksponen terkait dengan periode struktur. Kesimpulan dan Saran Dari hasil perhitungan dan pembahasan. Arifin.D38 8 . yaitu SNI 1726-2012.D38 Geser (Ø-10) 100 200 harus tetap memperhatikan peraturanperaturan yang berlaku agar dapat diperoleh hasil yang dapat. Gaya geser dasar yang terjadi pada tiap lantai berdasarkan SNI 03-1726-2002 lebih kecil dibandingkan dengan SNI 1726-2012. Perubahan denah dengan menghilangkan desain struktur ruang lobi pada lantai 1 dan ruang auditorium pada lantai 2. Badan Standarisasi Nasional. 2003. Vol. Tata Cara Perhitungan Beton Bertulang . dari hasil yang diperoleh tersebut Tulangan longitudinal As As' 8 . Namun. Standar Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Bangunan Gedung. 1. HR Muhammad Surabaya) dengan Special Moment Resisting Frame. karena kesalahan input data akan berakibat hasil yang fatal. Badan Standardisasi Nasional. SNI 03-1726-2002. Hal ini terjadi dikarenakan koefisien gempa yang digunakan pada peraturan terbaru lebih besar jika dibandingkan dengan peraturan yang lama.978 600 800 269094. 2010. dalam perhitungan analisis akan didapatkan dimensi ukuran balok kolom yang lebih besar untuk menahan gaya tersebut. 2002. Daftar Pustaka Anonim. Perubahan terhadap dimensi elemen struktur balok dan kolom. Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 Sebagai Acuan Dasar Perencanaan Dan Perancangan Infra Struktur Tahan Gempa. 5. Selain itu. Jurnal Neuron. Selain itu. Koefisien k.Tabel 7: Rekapitulasi Tulangan Kolom Kolom K1 K2 Muz kgm 39313. Badan Standardisasi Nasional. para perencana harus lebih teliti dalam memasukkan data dalam program analisis. Perencanaan struktur gedung portal 3D. 2012.97 36914. tidak dilakukan peniadaan kolom pada lantai 2 untuk menghindari terjadinya bahaya soft-storey. 2. Hal ini bertujuan agar mengurangi proses perhitungan yang dikaji dan dianggap perlu. 2002. Perbedaan yang paling mendasar pada perturan gempa SNI 03-1726-2002 dengan SNI 1726-2012 adalah pada nilai base shear. didapatkan kesimpulan sebagai berikut: 1.2 22357.D38 4 . Kedepannya juga mampu menambah wawasan sudut pandang bagi para akademisi dunia teknik sipil untuk lebih dalam lagi menggali ilmu struktur beton bertulang tahan gempa. 3.D38 4 . Sehingga.67 Pu Vu Dimensi kg kg b (mm) h(mm) 456331. Halim Sakti Jl. Study Perencanaan Struktur Gedung Lantai Tinggi (Kantor PT. Lebih kurang tiga kali lebih kecil dibandingkan dengan perhitungan berdasarkan peraturan gempa terbaru. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum. mampu menghasilkan gaya-gaya dalam yang terjadi akibat pembebanan secara langsung dengan asumsi sesuai lapangan. Jakarta: Kementrian Pekerjaan Umum.48 400 400 4. SNI 1726-2012.919 100341. Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung.

2012. 1998. Gideon H. Menyongsong Era Bangunan Tinggi dan Bentang Panjang. Bandung: Penerbit ITB. B. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum. Jakarta: Seminar HAKI. 2012. SNI 28472013. 2013. 1993. Jakarta: Erlangga.pu. Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum. Bandung: PT Refika Aditama. Dewobroto.untuk Bangunan Gedung. 2011. S. Studi Komparasi Desain Bangunan Tahan Gempa dengan Menggunakan SNI 03-1726-2002 dan RSNI 03-1726-201x. USA: International Code Council. Panduan Sistem Bangunan Tinggi. 2011. Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Comparison of Structural Performance of Dual Renforced Concrete Building System Designed By Using Indonesian Earthquake Resistance for Building 2002 (SNI 03-17262002) And Indonesian Earthquake Resistance for Building And Other Structures 2012 (SNI 03-17262012). R. Widodo. ASCE7-98. Bambang dan Supriatna. dan Fanella. Inc. Perceka.go.id/Aplikasi/desain_spe ktra_indonesia_2011/ (diakses 26 Mei 2015 pukul 10. Jakarta: Erlangga. et. Perencanaan Bangunan Tahan Gempa. W. E. Bambang. dan Kusuma. Seismologi Teknik & Rekayasa Kegempaan. Budiono. Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar (alih bahasa Bambang Suryoatmono). 2003. Konsep SNI Gempa 1726-201x.K.al. Nawy. SNI 032847-2002. Dasar-Dasar Perencanaan Beton Bertulang. Budiono. Yogyakarta: Seminar Atmajaya. 2005. Jimmy S. http://puskim. 2013. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ghosh. Pawirodikromo. W. Tular. Badan Standarisasi Nasional. Wiryanto.C. Lucky. 1984. David A. Seismic and Wind Design of Concrete Buildings (2000 IBC. ACI 318-99). G. Proceeding the 6th Civil Engineering Conference in Asia Region: Embracing the Future through Sustainability ISBN 978602-8605-08-3. Vis. Bandung: Yayasan Lembaga Pendidikan Masalah Bangunan. .00 WIB) Juwana.