Anda di halaman 1dari 5

I.

KEMATIAN AKIBAT ASFIKSIA MEKANIK
Asfiksia adalah suatu keadaan dimana terjadi kekurangan suplai oksigen yang berat pada
tubuh sehingga akan meningkatkan ketidakmampuan tubuh untuk bernapas secara normal.
Etiologi asfiksia adalah alamiah: misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernafasan
seperti laringitis difteri, atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti fibrosis paru;
mekanik: misalnya trauma yang mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak,
pneumothoraks bilateral, sumbatan pada saluran nafas da sebagainya. Kejadian ini sering
dijumpai pada keadaan gantung diri, tenggelam, pencekikan, dan pembekapan; keracunan:
bahan yang menimbulkan depresi pusat pernafasan misalnya barbiturat, narkotika.

Pemeriksaan Jenazah
Pada pemeriksaan luar jenazah dapat ditemukan sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan
kuku. Pembendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi jantung kanan merupakan
tanda klasik pada kematian akibat asfiksia. Warna lebam mayat merah kebiruan gelap dan
terbentuk lebih cepat. Terdapat busa halus pada hidung dan mulut yang timbul akibat
peningkatan aktivitas pernapasan pada fase 1 yang disertai sekresi selaput lendir saluran
napas bagian atas. Keluar masuknya udara yang cepat dalam saluran sempit akan
menimbulkan busa yang kadang-kadang bercampur darah akibat pecahnya kapiler.
Gambaran perbendungan pada mata berupa pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan
palpbra yang terjadi pada fase 2.
Pemeriksaan Bedah Jenazah

Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer akibat fibrinolisin darah yang


meningkat pasca mati.
Busa halus dalam saluran pernapasan
Perbendungan dalam sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh sehingga menjadi


lebih berat, berwarna gelap dan pada pengirisan mengeluarkan darah
Edema paru
Ptekieae yang ditemukan di mukosa usus halus, epikardium pada bagian belakang
jantung, supleura viseralis paru, kulit kepala sebelah dalam.

Tenggelam

Beberapa istilah drowning :  Wet drowning : Pada keadaan ini cairan masuk kedalam saluran pernapasan setelah  korban tenggelam. karena seringkali mayat ditemukan sudah dalam keadaan membusuk. Tenggelam biasanya didefinisikan sebagai kematian akibat mati lemas ( asfiksia ) disebabkan masuknya cairan kedalam saluran pernapasan. Keadaan sekitar individu penting. Hal penting yang perlu ditentukan pada pemeriksaan adalah : . danau atau kolam renang. Immersion syndrome : korban tiba-tiba meninggal setelah tenggelam dalam air dingin akibat refleks vagal. Sebenarnya istilah tenggelam harus pula mencangkup proses yang terjadi akibat terbenamnya korban dalam air yang menyebabkan kehilangan kesadaran dan mengancam jiwa.Diagnosis kematian akibat tenggelam kadang-kadang sulit ditegakkan. sungai. Secondary drowning : Terjadi gejala beberapa hari setelah korban tenggelam dan  korban meninggal akibat komplikasi. perlu pula diingat bahwa mungkin korban sudah meninggal sebelum masuk ke dalamair. Mekanisme kematian pada korban tenggelam      Asfiksia akibat spasme laring Asfiksia akibat gagging dan choking Refleks vagal Fibrilasi ventrikel ( dalam air tawar ) Edema pulmoner ( dalam air asin ) Pada pemeriksaan mayat akibat tenggelam. Pada mayat yang ditemukan terbenam dalam air. Alkohol dan makan terlalu banyak dapat menyebabkan faktor pencetus. akan tetapi bisa saja terbenam dalam kubangan atau selokan dengan hanya muka yang berada dibawah permukaan air. pemeriksaan dilakukan seteliti mungkin agar mekanisme kematian dapat ditentukan. Dry drowning : Pada keadaan ini cairan tidak masuk ke dalam saluran pernapasan  akibat spasme laring. Tenggelam tidak hanya terbatas pada di dalam air dalam seperti laut. bila tidak dijumpai tanda yang khas baik pada pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam.

4. ditemukan kadar alkohol tinggi dapat menjelaskan bahwa korban sedang dalam keracunan alkohol pada saat masuk ke dalam air. Pada mayat yang segar. untuk mengetahui apakah korban masih hidup atau sudah meninggal pada saat tenggelam. perlukaan pada vertebra servikalis dan medula spinalis dapat ditemukan. keracunan dan kekerasan lainnya. alkohol atau obat-obatan dapat ditemukan pada pemeriksaan luar atau melalui bedah jenazah. Menetukan identitas korban Identitas korban ditentukan dengan memeriksa antara lain :  Pakaian dan benda-benda milik korban  Warna dan distribusi rambut dan identitas lain  Kelainan atau deformitas dan jaringan parut  Sidik jari  Pemeriksaan gigi  Teknik identifiksi lain 2. 6. Faktor – faktor yang berperan pada proses kematian Faktor-faktor yang berperan pada proses kematian. Pada kecelakaan di kolam renang. Apakah ada penyulit alamiah lainnya yang mempercepat kematian . dapat diketahui dari hasil pemeriksaan :  Metode yang memuaskan untuk mengetahui apakah orang masih hidup saat  tenggealm ialah pemeriksaan diatom Untuk menentukan diagnosis. misalnya kekerasan. 5. Benda asing dalam paru dan saluran pernapasan dapat mempunyai nilai yang menentukan pada mayat yang terbenam selama beberapa waktu dan mulai  membusuk. maka pemeriksaan diatom dari air tempat korban ditemukan dapat membantu menentukan apakah korban tenggelam di tempat itu atau di tempat lain. Tempat korban pertama kali tenggelam Bila kematian korban berhubungan dengan masuknya cairan kedalam saluran pernapasan. Pada beberapa kasus. 3. Apakah korban masih hidup sebelum tenggelam Pada mayat yang masih segar.1. Penyebab kematian yang sebenarnya dan jenis drowning Pada mayat yang segar. Demikian pula dengan isi lambung dan usus. gambaran pasca mati dapat menunjukkan jenis drowning dan juga penyebab kematian lain seperti penyakit. dapat dibandingkan kadar elektrolit magnesium darah  dari bilik jantung kiri dan kanan. benturan ante morte pada tubuh bagian atas. misalnya memar pada muka. adanya air dalam lambung dan alveoli secara fisik dan kimia yang sifatnya sama dengan air tempat korban tenggelam mempunyai nilai yang  bermakna.

ada kemungkinan masih dapat hidup bila upaya resusitasi berhasil. kalau seluruh tubuh terbenam dalam air.  Mata setengah terbuka atau tertutup. telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput yang disebabkan karena imbibisi cairan kedalam kutis dan biasanya membutuhkan waktu yang lama  Cadaveric spasme. dan jumlah serta sifat cairan yang dihisap masuk ke dalam saluran pernapasan. Dalam periode ini bila korban dikeluarkan dari air. berarti kematian terjadi seketika akibat spasme glotis yang menyebabkan cairan tidak dapat masuk. Faktor lain adalah  keadaan hipersensitivitas dan kadang-kadang keracunan alkohol. .  Kutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh terutama pada ekstremitas akibat kontraksi otot erektor pili yang dapat terjadi karena rangsang dinginnya air. keadaan kesehatan. Korban tenggelam akan menelan air dalam jumlah yang makin lama makin banyak. reaksi perorangan yang bersangkutan. Gambaran kutis anserina kadangkala dapat juga akibat rigor mortis pada otot tersebut  Washer woman’s hand. Pemeriksaan luar jenazah  Mayat dalam keadaan basah. kematian terjadi dengan cepat. Bila tidak ditemukan air dalam paru-paru dan lambung. lutut dan kaki akibat gesekan dengan benda-benda di dalam air. Beberapa korban yang terjun dengan kaki terlebih dahulu menyebabkan cairan dengan mudah masuk kedalam hidung. Waktu yang dibutuhkan untuk terbenam dapat bervariasi tergantung dari keadaan sekeliling korban.  Busa halus pada hidung dan mulut. jari tangan. maka perlu ditentukan apakah kematiannya disebabkan karena air masuk ke dalam saluran pernapasan. hal ini mungkin disebabkan oleh sudden cardiac arrest yang terjadi pada waktu cairan melalui saluran pernapasan bagian atas. Pada immersion. kadang-kadang berdarah. Puncak kepala mungkin saja terbentur dengan dasar waktu terbenam. Bila sudah ditentukan bahwa korban masih hidup pada waktu masuk kedalam air. mungkin berlumuran pasir. keadaan masing-masing korban. lumpur dan benda-benda asilng lainnya yang terdapat dalam air. merupakan tanda intravital yang terjadi pada waktu korban berusaha menyelamatkan diri dengan memegang apa saja seperti rumput atau benda-benda yang terdapat dalam air. kemudian menjadi tidak sadar dalam waktu 2 – 12 menit.  Luka-luka lecet pada siku. jarang terdapat perdarahan atau perbendungan.

masukkan ke dalam labu Kjedal dan tambahkan asam sulfat pekat sampai jaringan paru terendam. lumpur dan sebagainya yang mungkin belum terdapat pada usus halus.  Lambung dapat sangat membesar. maka cairan bersama diatom akan masuk ke dalam saluran pernapasan atau pencernaan. air sumur dan udara. Bila tenggelam di air tawar.  Otak. dinginkan dan cairan dipusing. seperti balon lebih berat.Pemeriksaan bedah jenaah  Busa halus dan benda asing ( pasir.  Ptekiesedikit sekali karena kapiler terjepit diantara septum intra alveolar. berisi air. Keadaan ini terutama terjadi pada kasus tenggelam di laut.  Pemeriksaan destruksi pada paru Ambil jaringan perifer paru sebanyak 100 gram. Sedangkan pada tenggelam di air asin sebaliknya. diamkan lebih kurang setengah hari agar jaringan hancur. Bila seseorang mati karena tenggelam. Diatom ini dapat dijumpai dalam air tawar. berat jenis dan kadar elektrolit dalam darah jantung kiri lebih rendah dibandingkan jantung kanan. Mungkin terdapat bercak-bercak perdarahan yang disebut sebagai bercak paltauf akibat robeknya penyekat alveoli. ginjal. Pada pengirisan banyak keluar cairan. Pemeriksaan laboratorium  Pemeriksaan Diatom Alga bersel satu dengan dinding terdiri dari silikat yang tahan panas dan asam kuat.  Pemeriksaan darah jantung Pemeriksaan berat jenis dan elektrolit pada darah yang berasal bilik jantung kanan dan kiri. Kemudian dipanaskan dalam lemari asam sambil diteteskan asam nitrat pekat sampai terbentuk cairan yang jernih. sampai menutupi kandung jantung. kemudian akan masuk ke dalam aliran darah melalui kerusakan dinding kapiler pada saat korban masih hidup.  Dapat juga ditemukan paru-paru yang “biasa” karena cairan tidak masuk ke dalam paru-paru atau cairan sudah masuk ke dalam aliran darah. air sungai. tumbuh-tumbuhan air ) dalam saluran pernapasan  Paru-paru membesar. hatimdan limpa mengalami pembendungan. . air laut.