Anda di halaman 1dari 22

MALE SEXUAL DYSFUNCTION

DEFINISI
Istilah disfungsi seksual menunjukkan adanya gangguan pada
salah satu atau lebih aspek fungsi seksual (Pangkahila, 2006). Bila
didefinisikan secara luas, disfungsi seksual adalah ketidakmampuan
untuk menikmati secara penuh hubungan seks. Secara khusus, disfungsi
seksual adalah gangguan yang terjadi pada salah satu atau lebih dari
keseluruhan siklus respons seksual yang normal (Elvira, 2006). Sehingga
disfungsi seksual dapat terjadi apabila ada gangguan dari salah satu saja
siklus respon seksual.
Siklus respon seksual, yaitu :(Kolodny, Master, Johnson, 1979)
1)

Fase Perangsangan (Excitement Phase)  Perangsangan terjadi
sebagai hasil dari pacuan yang dapat berbentuk fisik atau psikis.
Kadang fase perangsangan ini berlangsung singkat, segera masuk ke
fase plateau. pada saat yang lain terjadi lambat dan berlangsung
bertahap memerlukan waktu yang lebih lama. Pemacu dapat berasal
dari rangsangan erotik maupun non erotik, seperti

pandangan,

suara, bau, lamunan, pikiran, dan mimpi.
2) Fase Plateau  Pada fase ini, bangkitan seksual mencapai derajat
tertinggi yaitu sebelum mencapai ambang batas yang diperlukan
untuk terjadinya orgasme.
3) Fase Orgasme  Orgasme adalah perasaan kepuasan seks yang
bersifat fisik dan psikologik dalam aktivitas seks sebagai akibat
pelepasan memuncaknya ketegangan seksual (sexual tension) setelah
terjadi fase rangsangan yang memuncak pada fase plateau.
4) Fase Resolusi  Pada fase ini perubahan anatomik dan faal alat
kelamin dan luar alat kelamin yang telah terjadi akan kembali ke
keadaan asal.
Sehingga apabila adanya hambatan atau gangguan pada salah
satu siklus respon seksual diatas dapat menyebabkan terjadinya disfungsi
seksual.
1

ETIOLOGI
Pada dasarnya disfungsi seksual dapat terjadi baik pada pria
ataupun wanita, etiologi disfungsi seksual secara umum dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu:
a) Faktor fisik
Gangguan organik atau fisik dapat terjadi pada organ, bagianbagian badan tertentu atau fisik secara umum. Bagian tubuh yang
sedang terganggu dapat menyebabkan disfungsi seksual dalam berbagai
tingkat. Faktor fisik yang sering mengganggu seks pada usia tua sebagian
karena penyakit-penyakit kronis yang tidak jelas terasa atau tidak
diketahui gejalanya dari luar. Makin tua usia makin banyak orang yang
gagal melakukan koitus atau senggama (Tobing, 2006). Kadang-kadang
penderita merasakannya sebagai gangguan ringan yang tidak perlu
diperiksakan dan sering tidak disadari (Raymond Rosen., et al, 1998).
Dalam Product Monograph Levitra (2003) menyebutkan berbagai
faktor resiko untuk menderita disfungsi seksual sebagai berikut:
 Gangguan vaskuler pembuluh darah, misalnya gangguan arteri
koronaria.
 Penyakit sistemik, antara lain diabetes melitus, hipertensi (HTN),
hiperlipidemia (kelebihan lemak darah).
 Gangguan neurologis seperti pada penyakit stroke, multiple sklerosis.
 Faktor neurogen yakni kerusakan sumsum belakang dan kerusakan
saraf.
 Gangguan

hormonal,

menurunnya

testosteron

dalam

darah

(hipogonadisme) dan hiperprolaktinemia.
 Gangguan anatomi penis seperti penyakit peyronie (penis bengkok).
 Faktor lain seperti prostatektomi, merokok, alkohol, dan obesitas.
Beberapa obat-obatan anti depresan dan psikotropika menurut
penelitian juaga dapat mengakibatkan terjadinya disfungsi seksual,
antara lain: barbiturat, benzodiazepin, selective serotonin seuptake
inhibitors (SSRI), lithium, tricyclic antidepressant (Tobing, 2006).
b) Faktor psikis
2

1992). trauma hubungan seksual. Tetapi apapun etiologinya. yang juga disebut impoten adalah kondisi ketidakmampuan yang menetap bagi seorang pria untuk mencapai atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan.Faktor psikoseksual ialah semua faktor kejiwaan yang terganggu dalam diri penderita. b. 2006). anxietas (kecemasan) yang menyebabkan disfungsi seksual. mulai dari definisi sampai terapi yang diberikan . 2001. Etiologi Timbulnya disfungsi ereksi disebabkan oleh berbagai faktor ( psikogen. KLASIFIKASI Berikut akan dijelaskan lebih terperinci dan spesifik berdasarkan klasifikasinya. nerogen. Gangguan ini mencakup gangguan jiwa misalnya depresi. dan keluarga tidak harmonis (Susilo. Masalah psikis meliputi perasaan bersalah. et al. Sedang disfungsi ereksi sekunder berarti sebelumnya pernah berhasil melakukan hubungan seksual. 1992. Basson. (Purnomo. R. Pada orang yang masih muda. seringkali 3 . kurangnya pengetahuan tentang seks. Disfungsi seksual pria yang dapat menimbulkan disfungsi seksual pada wanita juga ( Abdelmassih. 1. Disfungsi Ereksi a. kavernosal & penyakit sistemik). Definisi Disfungsi ereksi atau Erectile Dysfunction (ED). 2007) Disfungsi ereksi disebut primer bila sejak semula ereksi yang cukup unutuk melakukan hubungan seksual tidak pernah tercapai. sebagian besar disfungsi seksual disebabkan faktor psikoseksual. Richard. 2006). Pangkahila. 2006. Kondisi fisik terutama organ-organnya masih kuat dan normal sehingga jarang sekali menyebabkan terjadinya disfungsi seksual (Tobing. arterial. penderita akan mengalami problema psikis.. 2000). yang selanjutnya akan memperburuk fungsi seksualnya. 1994. tetapi kemudian gagal karena sesuatu sebab yang mengganggu ereksinya (Pangkahila.

prostatektomi Lain-lain : lansia. untuk memudahkan berbagai penyebabnya maka dibentuk singkatan IMPOTEN (Purnomo. 2007).  Organik : penyakit vaskuler oklusif. pada dasarnya DE dapat disebabkan oleh faktor fisik dan faktor psikis. DM. tumor hipofisi. riset menunjukkan bahwa impotensi organik lebih sring terjadi diabndingkan impotensi psikogenik. hipogonadisme disetai defisiensi testosteron dan hipo- hipertiroidisme). CVA. obat-obatan ( alkohol. penyakit endokrin (DM. penyebab disfungsi ereksi mencakup masalah psikogenik maupun organik. Meskipun begitu. cedera korda spinalis. Parkinsonisme). GGK. preparat psikoaktif. keletihan. rokok. dan faktor iatrogenik. faktor neurogenik. Faktor psikis meliputi semua faktor yang menghambat reaksi seksual terhadap rangsangan seksual yang 4 . depresi. konflik RT. cedera. trauma pada pelvis / area genital. sirosis. penyakit pemb darah perifer Venogenik : kegagalan mekanisme veno-oklusif (karena perubahan anatomis & degeneratif) Fraktur pelvis. 2007) Inflamasi Mekanis Psikogenik Oklusif vaskuler Trauma Ekstra faktor Neurogenik        Prostatitis Penyakit Peyronie Ansietas. sirosis hepar. hiperlipidemia. faktor vaskulogenik. dan tekanan budaya untuk melakukan tindakan seksual. cedera otak. depresi. Tabes Dorsalis Kelainan pada saraf perifer : DM & defisiensi vitamin Menurut brunner & sudart (2002). Sedangkan menurut (Pangkahila. kelainan neurologis (neuropati. abtikolinergik) dan penyalahgunaan obat. leukimia). trauma penis Iatrogenik : pembedahan pada daerah pelvis. perasaan bersalah & norma agama Arteriogenik : HTN.disebabkan oleh beberapa faktor secara bersamaan. gagal ginjal kronis. yaitu :  Psikogenik : ansietas. Parkinson Kelainan pada medula spinalis : tumor. kondisi hematologis (penyakit Hodgkin. Penyebab fisik dapat dikelompokkan menjadi faktor hormonal. priapismus aliran darah Kelainan pada otak : tumor. epilepsi.

faktor psikis hampir selalu muncul dan menyertainya Menurut (Purnomo. terdapat 3 tipe ereksi.psikogenik : b/d ansietas. tidak tergantung situasi. 1) Anamnesa  F. dan 1/3 dari populasi ini sering melaporkan beberap keluhan yang sama. yaitu :  Ereksi refleksogenik  terjadi dengan adanya rangsangan pada organ genitalia berupa rangsangan raba  Ereksi psikogenik  terjadi dengan adanya rangsangan seksual yang berasal dari otak berupa rangsanga audio. Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan terhadap klien dengan disfungsi ereksi meliputi eavaluasi riwayat seksual. perasaan bersalah. refleks bulbo-kavernosus & reflek patologik lainnya. evaluasi medik dan evaluasi psikologik. kemampuan ereksi ↓ / hilang pada siang hari.organik : timbulnya gradual (perlahan-lahan). yaitu :  Penurunan frekuensi ereksi  Ketidakmampuan pencapaian ereksi yang keras  Detumescence (menghilangnya ereksi) dengan cepat d. cedera kepala / spinal  selanjutnya dilakukan pemriksaan sensitifitas regio genital & perineum. tekanan & norma agama. katakutan. situasional. ereksi pada pagi hari tidak terlalu keras. evaluasi ini bertujuan untuk menentukan diagnosa pasti klien menderita disfungsi ereksi atau disfungsi seksual lainnya (Purnomo.neurologi : DM. Walaupun penyebab dasarnya adalah faktor fisik. Manifestasi klinis Insiden disfungsi ereksi sering terjadi pada kaum pria dengan usia >40 th (25% . dan bersamaan dengan fase REM (Rapid Eye Movement) c. 2007). visual atau fantasi  Ereksi nokturnal  ereksi yang terjadi pada saat tidur. timbul mendadak/setelah peristiwa khusus.  F. 2007).  F. alkoholisme.50%).diterima. 5 .

pada klien disfungsi ereksi psikogenik menunjukan ereksi nokturnal yang normal sedangkan 6 . pada saat pre & pasca injeksi obat intrakavernosa PGE-1.00 – 11.9 . operasi bypass koroner.6 positif ED arteriogenik. Dilakukan pada saat sebelum & setelah induksi ereksi. untuk tujuan operasi pintas (bypass). 2) Pemeriksaan laboratorium  Tes faal ginjal  Elektrolit  Gula darah  Testosteron bebas (sampel darah diambil jam 08. pembendingan denyut nadi & TD sistol pada brachialis dengan penis (sistol penis dibagi sistol lengan)  PBI (Penile-Brachial Index) : normalnya PBI >0.  USG Doppler  Mengukur arterial peak systolik & laju end diastolik. Pemreiksaaan ini dilakukan jika ada kecurigaan kebocoran vena pada sistem kevernosa. F. tapi bila PBI < 0.  Arteriografi penis / pudenda  Untuk mengidentifikasi lokasi kelainan arteri. operasi radikal prostatektomi. arteriogenik : riwayat kelainan vaskuler (kludikasio intermitten).00)  Sex hormon binding globulin (SHBG)  LH / FSH (luteinizing hormone / folicle stimulating hormone)  Prolaktin  PSA  Tes faal thyroid  Profile lipid 3) Pencintraan  Kavernosografi / kavernosometri  Untuk mendapatkan pencintraan & sekaligus mengukur aliran darah penis setelah injeksi kontras & induksi ereksi artifisia. 4) Uji Diagnostik Khusus  NPT / Nocturnal Penile Tumescence  Untuk mengetahui adanya ereksi nokturnal pada saat tidur.

klien disfungsi ereksi organik mennjukkan kelainan pada ereksi nokturnal. hidung tersumbat. Kecuali tadalafil yang efektifitasnya dipengaruhi oleh konsumsi lemak (kontraindikasi). muka merah. atau alprostadil (prostaglandin PGE 1) e. dengan efek samping : nyeri kepala. Penatalaksanaan medis Terapi yang diberikan harus sesuai dengan penyebab utama terjadinya disfungsi ereksi. Vardenafil & Tadalafil. Berikut terapi yang dapat diberikan : 1) Lini pertama (tanpa invasif) o Pemberian medikamentosa per oral Obat yang diberikan adalah golongan inhibitor enzim Fosfodiesterase-5 (PDE-5) & apomorfin sublingual. dispepsia & gangguan penglihatan. Obat yang sering dipakai : papaverin kombinasi fentolamin. tapi menggunakan seutas pita yang dilingkarkan pada penis dengan menghitung perpanjangna pita pada esok harinya. o Uji perangko (stamp test)  klien dianjurkan melingkarkan beberapa perangko (yang satu dengan lainnya masih berhub melalui perforator) pada penis menjelang tidur. rigiditas penuh. Jika tidak ada yang tepisah maka tidak tejadi ereksi nokturnal. 3 jenis inhibitor PDE-5 yaitu Sildenafil. setelah penyuntikan dinilai rigiditas penis mulai dari tidak ada respon hingga terjadi papaverin.  Injeksi Intrakavernosa dengan obat vasoaktif  Pemeriksaan ini juga bertujuan untuk terapi pada beberapa jenis disfungsi. kemudian pada pagi hari dihitung berapa jumlah perangko yang terpisah. namun hal ini sangat sulit karen asering mencakup beberapa penyebab. Obat ini mampu ↑ rigiditas penis sehingga cukup untuk penetrasi ke vagina lebih lama. o Uji snap gauge  metodenya saam seperti uji perangko. 7 . Obat ini bersifat vasodilator arteri / arteriol pada korpus kavernosum.

cara ini paling efektif diabndingkan dengan cara lain. batang protesis dapat ditegakkan & dibengkokkan sesuai kebutuhan o Protesis penis inflatable  jika diinginkan ereksi. 2007) a. Ejakulasi Premature  Definisi 8 . Alpostradil (sintesis PGE-1) & papaverin : mampu ↑ siklik AMP dalam korpora penis. darah ke dalam sinusoid sehingga selanjutnya dipasang karet penjerat untuk mempertahan volume darah dalam sinusoid. ereksi berkepanjangan  menimbulkan priapismus o Pemberian obat PGE-1 per uretram yang dimasukkan kedalam intrauretra melalui aplikator. tetapi biatanya sangan mahal. o Protesis penis noninflatable  terbuat dari silikon. fentolsmin. 2) Lini kedua (invasif minimal) o Dilakukan dengan injeksi obat vasoaktif secara intra kavernosa. cairan yang berada di dalam reservoir dipompakan kedalam batang silinder 2. jenis obat yang diberikanyaitu : papaverin. Caverject / MUSE (Medicate Urethral System for Erection) disemprotkan & segera dipijat agar obat meresap. Efek samping : fibrosis pada bekas suntikan. Efek samping : nyeri penis. sehingga otot polos pada arteri penis relaksasi yang menimbulkan ereksi. 3) Lini ketiga (lebih invasif / operasi) Dilakukan operasi pemasangan prostesis penis. prostaglandin E1 atau dikombinasikan. priapismus & eritem amukosa uretra. gangguan faal hepar. nyeri saat ereksi. Efek sampingnya : penis menjadi dingin & memar. Gangguan ejakulasi (Pangkahila.o Pemakaian alat vakum penis Alat ini berfungsi memberikan tekanan negatif pada penis yang memungkinkan pengaliran terjadio ereksi.

2) Ejakulasi prematur sekunder  Sebelumnya klien masih mampu ejakulasi normal. dan pemeriksaan fisik 2) Pengukuran skor  menentukan berat ringannya kondisi o Intravaginal latency time (IELT). namun diduga ada kaitannya dengan faktor psikologis & faktor biologis.2002) Ejakulasi prematur atau ejekulasi dini adalah salah satu disfungsi seksual pada pria dengan ejakulasi yang selalu atau hampir terjadi sebelum atau ±1 menit saat penetrasi penis kedalam vagina. psikologis  Ansietas. (Brunner and Suddarth’s . disfungsi sensitifitas reseptor 5-hidroksi-triptamin (5-HT) & hiperereksitabilitas refleks ejakulasi  Pemeriksaan diagnostik 1) Anamnesa : kaji riwayat lengkap penyakit klien. riwayat seksual. yaitu waktu antara saat penetrasi vagina hingga ejakulasi. terdapat 2 jenis ejakulasi prematur yaitu : 1) Ejakulasi prematur primer Dirasakan sejak pertama kali berhub seksual & akan dialami sseumur hidup. yaitu : 1) F. Jika IELT <2menit dapat diduga ejakulasi prematur 9 . Penyebab pasti dari ejakulasi prematur masih belum dapat ditemukan. Ejakulasi terjadi sangat cepat <1-2 menit sebelum / saat penetrasi dalam vagina. prevalensi ejakulasi premature tidah ada kaitanya dengan faktor usia. biologis  Hipersensitifitas penis. tapi secara perlahan-lahan atau mendadak mengalami ejakulasi dini. & frekuensi hubungan seksual yang sangat jarang 2) F. tapi tidak secepat seperti ejakulasi prematur primer. Waktu untuk mencapai ejakulasi memendek.Ejakulasi prematur terjadi ketika pria tidak dapat secara sadar mengontrol refleks ejakulasi & sekali terangsang pria kan langsung mencapai orgasme sebelum / segera setelah penetrasi kedalam vagina. pengalaman seksualitas yang dini. Menurut waktu terjadinya.  Etiologi Tidak seperti disfungsi ereksi.

setelah itu memakai kondom guna menghindari penyerapan obat oleh vagina. Efek samping : mulut kering.2002) Ejakulasi retrograd adalah masuknnya cairan semen kedalam kandung kemih pada saat ejakulasi. Keadaan ini 10 . Yang kemudian dimodifikasi menjadi tehnik memeras penis pada area glans penis (oleh Masters & Johson). 1) Behavioural Manuver stop-start yang dikembangkan oleh Seman. Ejakulasi retrograd  Definisi Ejakulasi lambat adalah penghambatan involunter refleks ejakulasi. saertraline (25- 200mg/hari) dan fluoxetine (10-60mg/hari). atau penyakit lainnya tersbeut harus diobati terlebih dahulu atau dilakukan terapi bersamaan dengan pengobatan ejekulasi prematur. (Brunner and Suddarth’s . b. penglihatan kabur dan kesulitan miksi. Karena dapat menyebabkan kehilangan sensitifitas rabaan pada vagina. jel atau semprot pada penis 20-30menit sebelum berhub seksual. sedasi.o  Skor kepuasan seksual pasangannya Penatalaksanaan medis Sebelum pemberian terapi ejakulasi prematur. Berbagai respon mencakup ejakulasi okasinal melalui hub seksual atau stimulasi mandiri/ ketidakmampuan komplit untuk ejakulasi dibawah semua kondisi. Keberhasilannya cukup baik sekitar 50-60%. maka diperlukan kepastian bahwa klien tidak memiliki penyakit genital lainnya. yaitu menghambat rasa akan ejakulasi dengan cara menghentikan-menulai lagi rangsangan seksual secara berulang. 2) farmakologi Penggunaan obat topikal lidokain prilokai 5% dalam bentuk krim. begitu juga pada penis dalam waktu pemberian 30-45 menit sebelum berhub seksual. Inhibitor SSRI adalah pilihan pertama dalam pengobatan ejakulasi premaur : paroxetine (20-40mg/hari). akibat dari ketidakmampuan leher kandung kemih untuk berkontraksi dengan sempurna.

duktus ejakulatorius ektopik dan spina bifida. yaitu dapat kembali normal jika pengguanaan obat dihentikan. yaitu : 1) Kelainan bawaan : ekstrofia buli-buli. 2) Acquired (didapat) : kerusakn / disfungsi mekanisme sfingter interna (leher buli-buli) o Neurologis : cedera korda spinalis. duktus ejakulatorius atau verumontanum). Obat yang diberikan yaitu : 1) Agonis α adrenergik (efedrin sulfat / psudoefedrin)  dapat menaikkan tonus simptetik leher buli-buli 11 .  Manifestasi klinis 1) Klien mengeluh tidak keluar cairan semen (dry ejaculate) dari meatus uretra eksternum pada saat ejakulasi 2) Volume semen sangat sedikit (<1ml) 3) Saat miksi pertama setelah ejakulasi. kerusakan saaf pascaopreasi retroperotoneal o Kerusakan anatomi leher buli-buli pasca reseksi / insisi transuretra (prostat.seringkali terjadi pasca operasi prostatektomi terbuka maupun TURP (9 dari 10 klien) atau pasca insisi leher buli-buli (1-5 dari 10 klien)  Etiologi Ejakulasi etrograd dapat disebkan oleh 2 faktor penyebab. urin berwarna keruh (berisi semen)  Pemeriksaan diagnostik Pemeriksaan mikroskopik urin pasca ejakulasi  ditemukan >10-15 sperma perlapangan pandang besar  Penatalaksanaan medis Terapi yang diberikan hanya berhasil pada klien yang tidak memiliki riwayat operasi buli-buli. dan bertujuan untuk mempertahankan fertilisasinya. neuropati deabetikum. tetapi bersifat temporer. prostatektomi terbuka Pemberian obat penghambat alfa adrenergik untuk BPH juga dapt menimbulkan ejakulasi retrograd (5%).

trikomoniasis. herpes. epididimo-orkitis o Batu pada vesikula seminalis. prostat. buli-buli & ureter o Penyakit menular seksual : gonoroika. Hematosperma a. Merkipun begitu. obstruksi duktus ejakulatorius. seminal vesikulitis. terutama pada pria <40 th & tidak memiliki faktor resiko yang mendukung. striktur uretra o  Divertikulus vesikula seminalis Tumor  Benigna o Kondilomaakuminata 12 . kondisi ini bersifat benigna sehingga dapat sembuh dengan sendirinya. skistosomiasis. Berikut beberapa etiologi yang dapat mencetus terjadinya hematospermia. virus sitomegalo Obstruksi duktus & kista o Dilatasi vesikula seminalis. b. Etiologi Umumnya.2) Imipramine  suatu antidepresan trisiklik yang memiliki aktifats antikolinergik & simpatomimetik 3. uretritis. pemeriksaan lebih spesifik juga perlu dilakukan guna menghindari adanya patologi lainnya. uretra. Definisi Hematospermia / hemospermia adalah ditemukannya darah dalam semen. yaitu : 1) Primer  idiopatik 2) Sekunder :  Inflamasi & infeksi o Prostatitis. kista duktus ejakulastorius. klamidia o  TBC. Keadaan ini sering membuat klien merasa takut & panik karena mengira dirinya telah menderita penyakit kelamin / kanker & sejenisnya.

prostat & testis o Sarcoma vesikula seminalis / prostat o Karsinoma intraduktus o Karsinoma sekunder dari metastasis Trauma iatrogenik o Biopsi prostat. suhu 2) Urinalisis . orkidektomi o Skleroterapi hemoroid o Trauma perineum. Pemeriksaan diagnostik 1) Pemeriksaan fisik  TD. Sirosis hepar o Amiloidosis vesikula seminalis c.o BPH. Manifestasi klinis Hematospermia yang berulang atau menetap . utrikulus prostatikus o Leiomyoma vesikula seminalis  Maligna  o Karsinoma vesikula seminalis. tumor funikulus spermatikus. limfoma.kultur urin. genitelia / pelvis  Faktor sistemik o HTN berat o Hemophilia o Purpura von Wilebrand o Leukemia. & skrining PMS  memperkirakan adanya faktor infeksi & inflamasi dari mikroba / virus lain 3) Pemeriksaan prostat & PSA  mencari kemingkinan adanya keganasan prostat 13 . harus dilakukan pemeriksaa yang lebih teliti dengan gejala : 1) Demam 2) Menggigil 3) Berat badan menurun 4) Nyeri tulang d. Injeksi prostat o Vasektomi.

dapat disebabkan oleh :  Kelainan pembekuan darah ( anemia bulan sabit. proatat. doksisiklin. dapat dibedakan menjadi 2 yaitu : 1) Priapismus primer / idiopatik  dengan prevalensi kejadian 60% 2) Priapismus sekunder. dan akan sembuh max 3bln. Penatalaksanaan medis Terapi yang diberikan tergantung dari penyebab timbulnya hematospermia. leukemia & emboli lemak 14 . duktus ejakulatorius / sisa embrional dapat diaspirasi dengan memakai tuntunan USG / CT fuse et al menyuntikan antikoagulan kedalam vesikulas seminalis dibawah tuntunan TURS pada klien hematospermia. & funikulus spermatikus 5) Colok dubur  menilai ukuran prostat. epididimis. Definisi Priapismus adalah ereksi penis yang berkepanjangan tanpa diikuti dengan hasrat & sering disertai dengan rasa nyeri. Priapismus a. Pemberian obat antifibrinolitik terutama finasterid dapat menyembuhkan hematospermia. yaitu : 1) Infeksi urogenitalia  selama 2 minggu diberikan antimikroba yang dapat menembus barier prostat : fluoroquinolon. Etiologi Berdasarkan etioliologinya. b. trimetoprim / sulfametoksazol. nyeri. konsistensi & kemungkinan teraba nodul e. tetapi hal ini perlu penelitian lebih lanjut 4. fluktuasi. massa testis.4) Pemeriksaan abdomen & genitalia  kaji adanya infeksi / inflamsi pada daerah skrotum serta isinya. 2) Bila ditemukan lesi kistik pada vesikula seminalis. 3) Obstruksi pada duktus ejakulatorius karena kista dapat direseksi transuretra. simetri. Apabila klien dengan kondisi ini tidak ditangan dengan cepat & tepat dapat mengakibatkan kecacatan yang menetap berupa disfungsi ereksi.

akan timbul rasa amat sakit  Setelah 24-48 jam ereksi. &  antihipertensi) Pasca injeksi intrakavernosa dengan zat vasoaktif c. akan terjadi nekrosis otot polos kavernosa  Kondisi penis sangat tegang  Darah kavernosa berwarna hitam  Analisa gas darah  pO2 (<30mmHg) & pCO2 (>80mmHg) 2) Priapismus arterial / high flow  Sering terjadi setelah trauma pada derah perineum  Rasa nyeri ringan sampai sedang  Kondisi penis tidak terlalu tegang  Darah kavernosa berwarna merah  Lebih mudah untuk kembali normal  Analisa gas darah  pO2 (>50mmHg) & pCO2 (<50mmHg) d. psikotropik.  Rauma pada peritonium / genitalia Gangguan neurogen (pada saat menjalani anastesi regional / pada   penderita paraplegia) Penyakit keganasan Pemakaian obat tertentu (alkoholilsme. Pemeriksaan diagnostik 1) anamnesis & pemeriksaan fisik  untuk menemukan etiologi sebenarnya 2) pemeriksaan lokal  ditemukan batang penis yang tegang tanpa diikuti oleh ketegangan pada glans penis 3) USG Doppler  mendeteksi adanya pulsasi arteri kavernosa 4) Analisa gas darah  diambil di intrakavernosa dapat membedakan jenis priapismus e. Manifestasi klinis Berdasarkan hemodinamik. manifestasi yang muncul dapat dibedakan yaitu : 1) Priapismus veno oklusif / low flow  Adanya iskemia / anoksia pada otot polos kavernosa  Setelah 3-4 jam ereksi. Berikut urutan tindakan yang dapat dilakukan : 15 . Penatalaksanaan medis Pada dasarnya terapi priapismus bertujuan untuk secepatnya mengembalikan aliran darah pada korpora kavernosa.

1) Anjurkan klien melakukan lompatan : agar terjadi diversi aliran darah dari kavernosa ke otot gluteus. b. 5) Jalan pintas (shunting) keluar dari korpora kavernosa Tindakan ini perlu dipertimbangkan terutama pada jenis iskemik untuk mencegah timbulnya sindroma kompartemen yang dapat menekan arteria kavernosa & berakibat iskemia korpora kavernosa. Etiologi 16 . aspirasi sebanyak 10-20 ml darah intrakarvanosa. lalu dilakukan instilasi 10-20gr epinefrin / 100-200gr fenilefrin yg dilarutkan dalam 1ml NS @5menit hingga penis mengalami detumesensi. Aspirasi dikerjakan dengan memakai jarum sclap vein no.21 . Definisi Penyakit Peyroni adalah ditemukannya plak / indurasi pada tunika albuginea korpus kavernosum penis sehingga terjagi pembengkokan penis pada saat ereksi penuh. karena bila terlalu lama tidak akan berhasil. Penyakit Peyroni a. 2) Pemberian kompres air dingin : merangsang aktivitas simpatis sehingga memperbaiki aliran darah kavernosa 3) Pemberian hidrasi & anestesi regional 4) Aspirasi & irigasi darah kavernosa Hanya diindikasikan pada priapismus non iskemik atau iskemik yang baru saja terjadi (<24jam) . Yaitu dengan cara :  Pintas korporo-glanular  Pintas korpora-spongiosum (membuat jendela yang menghubungkan korpus spongiosum dengan korpus kaverosum penis  Pintas safeno-kavernosum (membuat anastomosis antara korpus kavernosum dengan vena safena) 5.

Penyebab pasti dari Peyroni belum diketahui. 50% prnyakit ini dapat mengalami remisi spontan setelah observasi selama 1th. Manifestasi klinis  Klien mengeluh nyeri  Terjadi angulasi / penis bengkok pada saat ereksi  Nyeri hilang saat tidak ereksi  Kemampuan penetrasi ke vagina berkurang  nyeri d. Dapat dicoba dengan pemberian tamoxifen 20mg 2x sehari selama 6 minggu  jika hasil baik diteruskn selama 6bln. c. Dimana biasanya akibat trauma pada penis saat senggama. Nyeri yang berkepanjangan dpat diberikan vit E 200mg 3x sehari. Untuk mencegah pembentukan fibroblas dpat diberikan colchicine / verapamil. tapi secara histopatologi plak tersebut mirip denngan vaskulitis pada kontraktur Dupuytren yang disebabkan oleh eaksi imunologik. Penatalaksanaan medis 1) Konservatif Tanpa terapi. Pemeriksaan diagnostik  Anamnesa  klien pernah mengalami trauma pada penis yang  berulang saat senggama Pemeriksaan fisik  teraba jaringan keras (fibrus) tunggal ataupun  plak multipel pada tunika albuguinea. Foto polos penis  terlihat kalsifikasi yang sangat jelas pada kasus yang berat e. Obat yang diberikan untuk injeksi topikal pada lesi yaitu :  Verapamil  obat antihipertensi menghambat produksi kolagen  Interferon  protein yang dapat menghancurkan kolagen  Kolagenase  enzim yang dapat menghancurkan kolagen & mungkin menyingkirkan jaringan parut 2) Operasi Operasi dilakukan jika sudah lebih dari 12-18bln tetap terjadi deformitas saat ereksi & rasa nyeri telang hilang pada klien sejak awal 17 .

dorongan seksual hipoaktif merupakan keluhan terbanyak. Pada dasarnya GDS disebabkan oleh faktor fisik dan psikis. perasaan bersalah. Pada usia 40-60 tahun. Jika di antara faktor tersebut ada yang menghambat atau faktor tersebut terganggu. maka akan terjadi GDS (Pangkahila. Jika operasi tidak memuaskan. 2007). 6. stres yang berkepanjangan.  Gangguan eversi seksual  Timbul perasaaan takut pada semua bentuk aktivitas seksual sehingga menimbulkan gangguan. Definisi Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu hormon testosteron. dan pengalaman seksual yang tidak menyenangkan (Pangkahila. 7. berupa:  Dorongan seksual hipoaktif  The Diagnostic and Statistical ManualIV memberi definisi dorongan seksual hipoaktif ialah berkurangnya atau hilangnya fantasi seksual dan dorongan secara persisten atau berulang yang menyebabkan gangguan yang nyata atau kesulitan interpersonal. Disfungsi orgasme (Pangkahila. antara lain adalah kejemuan.timbul penyakit. Definisi 18 . maka klien dapat ditawarrkan pemasangan prostesis penis. 2007) a. 2006). faktor psikis dan pengalaman seksual sebelumnya. diantaranya Nesbitt  melakukan eksisi oval pada konveksitas tunika albuginea & selanjunta defek dijahit dengan benang tidak diserap. Teknik operasi yang dilkukan bermacam-macam. Prevalensi dan manifestasi Diduga lebih dari 15 persen pria dewasa mengalami dorongan seksual hipoaktif. b. kesehatan tubuh. Pasca operasi sering terjadi pemendekan penis. Gangguan Dorongan Seksual (GDS) a.

Definisi Dispareunia berarti hubungan seksual yang menimbulkan rasa sakit pada kelamin atau sekitar kelamin. putus asa / bahkan menghindari hub seksual. Dispareunia (Pangkahila. dan kejemuan terhadap pasangan. Walaupun dapat mencapai orgasme. KOMPLIKASI Keadaan disfungsi seksual ini dapat menyebabkan danpak psikologis yang tidak baik jika klien tidak mendapatkan terapi yang tepat. Ini berarti terjadi penularan infeksi melalui hubungan seksual yang terasa sakit itu. Pria yang mengalami hambatan orgasme tetap dapat ereksi dan ejakulasi. Penyebab dan manifestasi Hambatan orgasme dapat disebabkan oleh penyebab fisik yaitu penyakit SSP seperti multiple sklerosis. yang pasti ejakulasi dini mengakibatkan  hubungan seksual berlangsung tidak harmonis. dan lumbal sympathectomy. perasaan takut menghamili. b. parkinson. Penyebab dan manifestasi Salah satu penyebab dispareunia ini adalah infeksi pada kelamin. 19 . diantaranya sedih. Pada pria. Penyebab psikis yaitu kecemasan. 2007) a. Diantaranya yaitu :  Mau berat atau ringan.Disfungsi orgasme adalah terhambatnya atau tidak tercapainya orgasme yang bersifat persisten atau berulang setelah memasuki fase rangsangan (excitement phase) selama melakukan aktivitas seksual. tapi sensasi erotiknya tidak dirasakan. b. dispareunia hampir pasti disebabkan oleh penyakit atau gangguan fisik berupa peradangan atau infeksi pada penis. atau kelenjar prostat dan kelenjar kelamin lainnya. saluran kencing. buah pelir. 8. kecewa. pria yang mengalami ejakulasi dini juga merasa sangat kecewa karena tidak mampu memberikan kepuasan seksual kepada pasangannya.

rendah diri. 2007) PATOFISIOLOGI (terlampir) BAB III PENUTUP KESIMPULAN & SARAN Disfungsi seksual baik yang terjadi pada pria ataupun wanita dapat dapat mengganggu keharmonisan kehidupan seksual dan kualitas hidup. Pada kenyataannya tidak mudah untuk mendiagnosa masalah disfungsi seksual. dan malu terhadap pasangannya. Kekecewaan yang muncul selanjutnya dapat berubah menjadi kejengkelan disertai perasaan takut setiap akan melakukan hubungan seksual. reaksi yang muncul adalah perasaan takut atau khawatir setiap akan melakukan hubungan seksual. tidak puas. oleh karena itu perlu penatalaksanaan yang baik dan ilmiah. dan akhirnya mengalami disfungsi seksual  seperti hilangnya gairah seksual. marah. Pria yang mengalami ejakulasi dini sering mengalami stres. Dalam waktu lama dapat terjadi disfungsi ereksi. 20 . Pasangannya tentu kecewa. (Wibowo. serta perbedaan persepsi antara pasien dan dokter terhadap apa yang diceritakan pasien. Lebih jauh. Perasaan ini justru akan semakin memperburuk keadaan ejakulasi dini. Diantara yang paling sering terjadi adalah pasien tidak dapat mengutarakan masalahnya semua kepada dokter. 1999). jengkel. maka pada akhirnya pria itu dapat mengalami disfungsi  ereksi. Akibat lebih jauh dapat berupa hilangnya dorongan seksual dan dispareunia (rasa nyeri yang terjadi saat bersetubuh). Kalau keadaan ini terus berlangsung. Wanita yang mempunyai pasangan mengalami ejakulasi dini pada umumnya tidak dapat mencapai orgasme karena hubungan seksual segera berakhir. tidak percaya diri. (Doenges.

sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan yang tepat pula. Mitos Seks Pun Mleingkupi Kehamilan. B. Siti Candra. Tobing. DAFTAR PUSTAKA Pangkahila. Yogyakarta: Penerbit ANDI. maka perlu dilakukan dual sex theraphy. begitu juga sebaliknya. 2006: 5.7. 2006 . Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Jakarta. 1987). 21 . Balai Penerbit FKUI. sehingga diperlukan diagnosa yang holistik untuk mengetahui secara tepat etiologi dari disfungsi seksual yang terjadi. Oleh karena masalah disfungsi seksual melibatkan kedua belah pihak yaitu pria dan wanita. Baik itu dilakukan sendiri oleh seorang dokter ataupun dua orang dokter dengan wawancara keluhan terpisah (Barry. Hodges. Dasar-dasar Urologi. Brunner and Suddarth’s (2002). 9. (Edisi kedelapan). hal 153-156. Edisi Kedua. dimana masalah disfungsi seksual pada pria dapat menimbulkan disfungsi seksual ataupun stres pada wanita. tetapi hanya sedikit yang peduli (Philips. 2000). CV Sagung Seto. 2006. 2007. Disfungsi Seksual. 2009. Kumpulan Makalah Psikoterapi. Windhu. FENOMENA DISFUNGSI EREKSI : Penderita Cenderung Menutup Diri. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terapi atau penanganan disfungsi seksual pada kenyataanya tidak mudah dilakukan.Banyak pasien dengan disfungsi seksual membutuhkan konseling seksual dan terapi. pdf Elvira SD. Jakarta : EGC. pdf Purnomo BB.

Rencana Asuhan keperawatan Edisi 3. Jakarta: EGC Wibowo S. 22 . Disfungsi Ereksi. 51-53. Yogyakarta. V. Setiadji. Elizabeth J. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.Corwin. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI – Press). 83-87. Hlm. 35-39. 2007. 2009. 2006. Gofir A. Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Pustaka Cendekia Press. 1999. 57-59. Sutarmo. Doenges. Marilynn E. Neurofisiologi Ereksi.