Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


( GANGGUAN RASA NYAMAN NYERI )

Oleh :
Ratna Surya Ningsih (070111b066)

PANUM KEPERAWATAN DASAR


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
STIKES NGUDI WALUYO
UNGARAN
2012

LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN PEMENUHAN RASA NYAMAN NYERI
A Konsep Dasar
I

Definisi.
1

Menurut Keperawatan, Nyeri adalah suatau perasaan yang tidak menyenangkan


yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau
digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (NANDA, 2011).

Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan dengan beberapa
pemeriksaan diagnostik atau pengobatan. Nyeri sangat mengganggu dan
menyulitkan lebih banyak orang dibanding suatu penyakit manapun. Sehingga
seseorang yang mengalami nyeri akan merasa terganggu kenyamanan. Nyeri
didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan
ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).

Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah


sensori subjektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang terkait dengan
kerusakan jaringan aktual maupun potensial atau menggambarkan kondisi
terjadinya kerusakan.

II Klasifikasi nyeri
a

Berdasarkan sumbernya
1

Cutaneus/ superficial, yaitu nyeri yang mengenai kulit atau jaringan


subkutan. Biasanya bersifat burning (seperti terbakar).
Contoh: Terkena ujung pisau atau tergunting

Deep somatic/ nyeri dalam, yaitu nyeri yang muncul dari ligament,
pembuluh darah, tendon dan saraf, nyeri menyebar dan lebih lama daripada
cutaneus.
Contoh: Sprain sendi

isceral (pada organ dalam), stimulasi reseptor nyeri dalam rongga abdomen,
cranium dan thorak. Biasanya terjadi karena spasme otot, ischemia,
regangan jaringan.

Berdasarkan Penyebabnya
1

Fisik : Bisa terjadi karena stimulus.


Contoh: fraktur femur

Psycogenik : Terjadi karena sebab yang kurang jelas/ susah diidentifikasi,


bersumber dari emosi/ psikis dan biasanya tidak disadari.
Contoh: orang yang marah-marah, tiba-tiba merasa nyeri pada dadanya.

Berdasarkan lama/ durasi


1

Nyeri akut
Selang waktunya lebih singkat dengan tandatanda klinis antara lain :
berkeringat banyak, tekanan darah naik, nadi naik, pucat dan dengan respon
pasien, umunya menaggis, teriak atau mengusap daerah yang nyeri.

Nyeri kronik
Mempunyai selang waktu yang lebik lama dan dapat berlangsung lebih dari
enam bulan.
Perbedaan nyeri akut dan nyeri kronis

Nyeri akut
1
2

Nyeri kronik

Lamanya dalam hitungan menit (lamanya 1

Lamanya dalam hitungan bulan (> 6

1 detik sampai kurang dari 6 bulan).

bulan).

Ditandai dengan peningkatan BP, nadi,


dan respirasi.

Respon

pasien:

2
fokus

pada

Fungsi fisiologis bersifat normal.

nyeri,

menyatakan nyeri dengan menangis atau 3

Tidak ada keluhan nyeri.

mengerang.
4

Tingkah laku menggosok bagian yang


nyeri.

Tidak ada aktifitas fisik sebagai


respon terhadap nyeri.

Berdasarkan Tempatnya
1

Pheriperal pain, yakni nyeri yang terasa pada permukaan tubuh,misalnya


pada kulit, mukosa.

Deep pain, yaitu nyeri yang terasa pada permukaan tubuh yang lebih dalam
atau pada organ-organ tubuh visceral.

Refered pain, yakni nyeri dalam yang disebabkan karena penyakit


organ/struktur dalam tubuh yang ditransmisikan kebagian tubuh di daerah
yang berbeda, bukan daerah asal nyeri.

Central pain, yaitu nyeri yang terjadi karena perangsangan pada sistem saraf
pusat, spinal cord, batang otak, talamus dan lain-lain.

Nyeri berdasarkan sifatnya


1

Incidental pain, yaitu nyeri yang timbul sewaktu-waktu lalu menghilang.

Steady pain, yaitu nyeri yang timbul dan menetap serta dirasakan dalam
waktu lama.

Proxymal pain, yaitu nyeri yang dirasakan berintensitas tinggi dan kuat
sekali. Nyeri tersebut biasanya 10-15 menit lalu menghilang kemudian
timbul lagi.

Nyeri berdasarkan intensitasnya


Keterangan :

1-3 : Nyeri ringan, secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan


baik.

4-6 : Nyeri sedang, secara obyektif klien mendesis, dapat


menunjukkan

lokasi

nyeri,

dapat

mendeskripsikannya,

dapat

mengikuti perintah dengan baik.

7-9 : Nyeri berat, secara obyektif klien terkadang tidak dapat


mengikuti perintah tapi masih berrespon terhadap tindakan, dapat
menunjukkan

lokasi nyeri, tidak dapat mendeskrisikannya, tidak

dapat diatasi dengan

alih posisi, nafas panjang dan distraksi.

10 : Nyeri sangat berat, klien sudah tidak mampu lagi.

III

Etiologi
1

Trauma
a

Mekanik
Yaitu nyeri timbul akibat ujung-ujung saraf bebas mengalami kerusakan,
misalnya akibat benturan luka.

Thermis
Adalah nyeri karena ujung saraf reseptor mendapat rangsang akibat panas,
dingin, misal karena api dan air.

Khemis
Adalah nyeri timbul karena zat kimia yang berasal dari asam atau basa kuat.

Elektrik
Nyeri timbul karena pengaruh aliran listrik yang mengenai reseptor rasa nyeri
yang menimbulkan kekejangan otot dan luka bakar.

2 Neoplasma
Jinak dan Ganas
3 Peradangan
Adalah nyeri yang timbul karena kerusakan ujung-ujung saraf reseptor akibat
adanya peradangan atau terjepit oleh pembengkakan, contohnya abses.
4

Gangguan sirkulasi darah

Trauma psikologi

III Faktor Predisposisi


Nyeri dapat timbul akibat kondisi-kondisi seperti dibawah ini:
Stimulasi Kimia (Histamin, bradikinin, prostaglandin, dan bermacam-macam asam),
Pembengkakan Jaringan, Spasmus Otot, Kehamilan, Inflamasi, Keletihan dan Kanker.
IV Patofisiologi
Adanya stimulus yang mengenai tubuh (mekanik, termal, kimia) akan
menyebabkan pelepasan substansi kimia seperti histamin, bradikinin, kalium.
Substansi tersebut menyebabkan nosiseptor bereaksi, apabila nosiseptor mencapai
ambang nyeri, maka akan timbul impuls syaraf yang akan dibawa oleh serabut saraf
perifer. Serabut syaraf perifer yang akan membawa impuls syaraf ada dua jenis, yaitu
serabut A-delta yang bermielinasi dan serabut C yang tidak bermielinasi dan
berukuran sangat kecil serta lambat. impuls syaraf akan di bawa sepanjang serabut
syaraf sampai ke kornus dorsalis medulla spinalis. Impuls syaraf tersebut akan
menyebabkan kornus dorsalis melepaskan neurotrasmiter (substansi P). Substansi P
ini menyebabkan transmisi sinapsis dari saraf perifer ke saraf traktus spinotalamus.
Hal ini memungkinkan impuls nyeri ditransmisikan lebih jauh ke dalam sistem saraf
pusat. Setelah impuls syaraf sampai di otak, otak mengolah impuls syaraf kemudian
akan timbul respon reflek protektif (Potter and Perry,2006)

V Respon Terhadap Nyeri:


1

fisiologis
a

Stimulasi Simpatik: ( nyeri ringan, moderat, dan superficial ).


1

Dilatasi saluran bronchial dan peningkatan respirasi rate.

Peningkatan heart rate.

Vasokontriksi perifer, peningkatan Blood Pessure.

Peningkatan nilai gula darah.

Peningkatan kekuatan otot.

Dilatasi pupil.

Penurunan motilitas GI.

Stimulus Parasimpatik ( nyeri berat dan dalam ).


1

Muka pucat.

Otot mengeras.

Penurunan Heart Rate dan Blood Pressure.

Nafas cepat dan irregular.

Nausea dan Vomitus (Mual & Muntah).

Kelelahan dan Keletihan.

Respon tingkah laku


a

Pernyataan verbal (mengaduh, menangis, sesak napas, mendengkur).

Ekspresi wajah (meringis, menggeletukkan gigi, menggigit bibir)

Gerakan tubuh (gelisah, imobilisasi, ketegangan otot, peningkatan gerakan jari


dan tangan.

Kontak dengan orang lain/ interaksi sosial (menghindari percakapan,


menghindari kontak sosial, penurunan rentang perhatian, fokus pada aktivitas
menghilang.

Respon tubuh
a

Tahap aktivasi (activation)


Dimulai saat pertama individu menerima rangsang nyeri sampai tubuh
bereaksi terhadap nyeri yang meliputi : respon simpato adrenal, respon
muskuler, dan respon emosional.

Respon Simpato Adrenal

Respon Muskuler

Denyut nadi naik.

Tensi otot naik.

Tekanan darah naik.

Otot kaku menggeliat 2

Mudah

Pernapasan naik.

sakit.

tersinggung.

Berkeringat banyak.

Mual dan muntah karena darah 4

Mengambil

mengalir dari otot visral ke otot

tertentu.

Berteriak.
Menangis.

Respon Emosional
1

Gelisah.

3
posisi

Perubahan tingkah
laku.

paru, jantung, dan otot keras.

Imobilitas.

Pucat.

Mengusap

daerah 6

Dilatasi bronchial.

Glikogenolisis.

Pelepasan eritrosit dari limpa.

yang nyeri.

Bergejolak.

Diam.
Kewaspadaan.

10 Dilatasi pupil.

Tahap Pemantulan (rebound).


Nyeri sangat hebat tetapi singkat. Pada tahap ini pula sistem saraf parasimpatis
mengambil alih tugas, sehingga terjadi respon yang berlawanan terhadap tahap
aktivasi.

Tahap adaptasi (adaptation).


Saat nyeri berlangsung lama tubuh mencoba untuk beradaptasi melalui peran
endorthins. Reaksi adaptasi tubuh ini terhadap nyeri dapat berlangsung
beberapa jam atau beberapa hari. Bila nyeri berkepanjangan maka akan
menurunkan sekresi norepineprin sehingga individu merasa tidak berdaya,
tidak berharga dan lesu.

VI Faktor yang mempengaruhi respon nyeri

Adalah Usia, Jenis Kelamin, Kultur, Makna nyeri, Perhatian, Ansietas, Pengalaman
masa lalu, Pola koping, Support keluarga dan social.
VII

Manifestasi Klinis

Gangguam Tidur

Posisi Menghindari Nyeri

Gerakan Menghindari Nyeri

Pucat

Perubahan Nafsu Makan

Respon perilaku terhadap nyeri dapat mencakup:


1

Pernyataan verbal (Mengaduh, Menangis, Sesak Nafas, Mendengkur)

Ekspresi wajah (Meringis, Menggeletukkan gigi, Menggigit bibir)

Gerakan tubuh (Gelisah, Imobilisasi, Ketegangan otot, peningkatan gerakan jari


& tangan)

Kontak dengan orang lain/ interaksi sosial (Menghindari percakapan,


Menghindari kontak sosial, Penurunan rentang perhatian, Fokus pada aktivitas
menghilangkan nyeri)

Individu yang mengalami nyeri dengan awitan mendadak dapat bereaksi sangat
berbeda terhadap nyeri yang berlangsung selama beberapa menit atau menjadi
kronis. Nyeri dapat menyebabkan keletihan dan membuat individu terlalu letih
untuk merintih atau menangis. Pasien dapat tidur, bahkan dengan nyeri hebat.
Pasien dapat tampak rileks dan terlibat dalam aktivitas karena menjadi mahir
dalam mengalihkan perhatian terhadap nyeri.

VIII
1

Penatalaksanaan Nyeri
Pemeriksaan laboratorium Meliputi : pemeriksaan daerah rutin, pemeriksaan
urin rutin, pemeriksaan kimia darah, pemeriksaan serologi.

Pemeriksaan radiagnostik (x-foto tulang belakang, x-foto kepala dsb)

Pemeriksaan penunjang yang lain ultrasonografi, foto rontgen

Farmakologi, terdiri atas:

Pemberian Analgesik non opioids


Termasuk nonsteroidal anti inflamatory drugs ( NSAIDS ), seperti: Aspirin,
acetaminophen, dan ibuprofen. Menurut American Pain Society, obat-obatan
ini bekerja pada saraf perifer di daerah luka dan menurunkan tingkat/ level
inflamasi.

Analgesik opioids
Analgesik opioids termasuk opium derivate, seperti morfin dan kodein.
Obat-obat ini bekerja dengan cara mengubah mood, perhatian, perasaan
pasien menjadi lebih baik, dan lebih nyaman walaupun terdapat nyeri.

cAnalgesik adjuvant.
Analgesik adjuvant adalah terapi pengobatan selain menggunakan analgesic,
tetapi dapat mengurangi tipe-tipe nyeri kronik. Contohnya Diazepam
(Valium) yang dapat menggunakan rasa nyeri pada saat terjadi spasme otot
membantu bisa tidur nyenyak.

Non Farmakologi, terdiri atas:


a

Pemeriksaan fisik

Inspeksi di area nyeri, palpasi dengan menekan secara pelan dan sistematik,
raba daerah nyeri yang paling ringan dulu, observasi respon klien, kaji
adanya peningkatan atau penurunan hipersensitifitas dan fungsi nervus I
VII.
b

Pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan motorik : dengan menggunakan refleks patella

Pemeriksaan sensorik : rasa raba, sakit, suhu, getar

Pemeriksaan ROM

Dapat dilakukan untuk memperkirakan derajat nyeri, ada tidak penyebab nyeri
f

Melakukan pengukuran skala nyeri (1-10)

Cutaneous Stimulation

Yang termasuk cutaneous stimulation adalah Pemijatan/massage, Kompres


panas/ dingin, Asupressure dan Contralateral Stimulation
h

Immobilisasi
Biasanya korban tidur di splint yang biasanya diterapkan pada saat
kontraktur atau terjadi ketidakseimbangan otot. Splint ini harus diubah
posisinya tiap 30 menit untuk mencegah terjadinya penyakit baru seperti
dicubitus.

TENS
Transcutaneous electrice nerve stimulation (TENS) adalah noninvasive,
teknik control nyeri nonalgesic untuk klien dengan nyeri akut ataupun
kronik.

Akupuntur
Akupuntur telah diterapkan di China dan mendapat perhatian tinggi dari
Amerika Utara. Biasanya digunakan untuk nyeri akut.

Placebo
Placebo adalah salah satu bentuk treatment seperti medikasi atau tindakan
keperawatan ya ng menghasilkan efek pada klien, bahwa tindakan yang
dilakukan atau yang diberikan perawat dapat menyembuhkan penyakit.

Distraksi
Menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan pada hal hal lain. Contoh
dari distraksi adalah pada saat klien dipindahkan dari ruang bedah mungkin
tidak merasakan nyeri saat melihat pertandingan sepak bola di televisi, tapi
nyeri akan dirasakan lagi pada saat pertandingan itu sudah selesai.

m Hypnosis
Hypnosis digunakan untuk memfokuskan konsentrasi dan
meminimalisirdistraksi.

Relaksasi
Macam-macam teknik relaksasi : meditasi, yoga, dan latihan relaksasi
progresif. Teknik ini tidak dilakukan pada pasien yang nyeri akut karena
ketidakmampuan berkonsentrasi. Latihan relaksasi progresif mencakup
latihan control nafas, kontraksi, dan relaksasi otot.

Pemijatan
Tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan otot, Meningakatkan
relaksasi fisik dan psiklogis serta Meningkatkan peredaran darah yang
dipijat.

Kompres
Yaitu dengan cara menggunakan kompres dengan air hangat.

IX Asuhan Keperawatan
A Pengkajian Fokus
1

Identitas pasien dan penanggung jawab (nama, umur, jenis kelamin,


pekerjaan, alamat, dan lain-lain)

Riwayat Keperawatan :
a

Keluhan Utama

Adalah keluhan yang dirasakan pasien pada saat pengkajian. Pasien dapat
datang hanya dengan keluhan nyeri akibat trauma. Pada umumnya
keluhan utama adalah rasa nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik
tergantung dan lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang
lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:

Provoking Incident : apakah ada peristiwa yang menjadi yang


menjadi faktor presipitasi nyeri.

Quality of Pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau


digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau
menusuk atau seperti teriris pisau.

Region : apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit menjalar atau
menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.

Scale of Pain : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa
berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa
sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.

Time : berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah


buruk pada malam hari atau siang hari.

Riwayat Penyakit atau keluhan sekarang

Pengkajian riwayat pasien saat ini meliputi alasan pasien yang


menyebabkan terjadi keluhan/gangguan rasa nyaman: nyeri akut pada
klien.
c

Riwayat penyakit dahulu

Pengkajian riwayat penyakit di masa lalu yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan
rasa nyaman: nyeri akut.
3

Riwayat penyakit keluarga

Pengkajian riwayat penyakit keluarga, misalnya tentang ada atau tidaknya riwayat alergi,
stroke, penyakit jantung, diabetes melitus.
4

Pengkajian Fungsional :
a

Persepsi terhadap Manajement kesehatan

Meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol yang bisa
mengganggu keseimbangannya dan apakah klien melakukan olahraga
atau tidak.
b

Pola aktivitas dan latihan

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan


klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh
orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien
terutama pekerjaan klien
c

Pola Istirahat dan Tidur

Pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan


tidur, dan kesulitan tidur serta penggunaan obat tidur.
d

Pola Nutrisi-Metabolik

Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan penyebab


masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi dari nutrisi
yang tidak adekuat terutama kalsium atau protein dan terpapar sinar
matahari

yang

kurang

merupakan

faktor

predisposisi

masalah

muskuloskeletalterutama pada lansia. Selain itu juga obesitas juga


menghambat degenerasi dan mobilitas klien.
e

Pola Eliminasi

Kaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi fekal.
Sedangkan pada pola eliminasi urin dikaji frekuensi, kepekatannya,
warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan
atau tidak.
f

Pola kognitif-perseptual

Klien berisiko rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas


secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan
body image)
g

Pola konsep diri

Klien mempunyai identitas diri yang dianutnya, baik di dalam keluarga dan
saudara juga di dalam masyarakat. Apa yang diinginkannya menjadi
konsep diri dalam hidupnya.
h

Pola Koping

Mekanisme atau cara yang dilakukan klien dalam mengatasi berbagai


masalah dalam hidupnya, baik koping konstruktif maupun koping
destrukitf.
i

Pola seksual-reproduksi

Meliputi aktivitas seksual klien dan pola reproduksinya meliputi


perencanaan untuk mempunyai anak atau keturunan dan keputusan untuk
menikah dan mempunyai anak berapa.

Pola peran-berhubungan

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena
klien harus menjalani rawat inap.
k

Pola nilai-kepercayaan

Terkait agama dan kepercayaan yang dianut klien, serta usaha klien untuk
tetap melakukan aktivitas spiritualnya selama sehat maupun sakit.
5

Pengkajian primer
a

Airways

Bagaimana jalan nafasnya ?

Apakah klien bisa berbicara secara secara bebas ?

Adakah sumbatan jalan nafasnya (darah, lendir, makanan, sputum) ?

Breathing

Bagaimana frekuensi pernafasan, teratur atau tidak, kedalamannya


bagaimana ?

Adakah sesak nafas,bagaimana bunyi nafasnya ?

Apakah menggunakan otot tambahan ?

Apakah ada reflek batuk ?

Circulation

Bagaimana nadi klien, frekuensi, teratur atau tidak, lemah atau kuat
?

Berapa tekanan darahnya ?

Akral dingin atau hangat ?

capillary refillnya < 3 detik atau > 3 detik, warna kulit bagaimana,
produksi urin juga bagaimana ?

Pengkajian sekunder (Pemeriksaan fisik)


Pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan
perkusi. Fokus pemeriksaan ditujukan kepada daerah yang mengalami
gangguan.

Pemeriksaan

pemeriksaan head to toe.

meliputi

kesadaran,

tanda-tanda

vital

dan

Data Penunjang

Pemeriksaan yang dilakukan untuk mendukung ditegakkannya diagnosa medis maupun


diagnosa keperawatan selama klien dirawat di pelayanan kesehatan yang akan memberikan
informasi yang jelas terkait kelainan yang ada pada klien.
B Analisa Data
No.
1.

Tgl.
1605-12

Data
Data Subjektif :
Pasien mengatakan merasakan sakit dan
nyeri pada bagian post operasi di anusnya
yang mengalami hemoroid.
P : Klien mengatakan sakit dan nyeri di
bagian post operasi bag. anusnya yang
mengalami hemoroid. Menjadi lebih buruk
apabila bergerak.
Q : Nyeri yang dirasakan seperti di tusuktusuk.
R : Nyeri tidak menjalar ke bagian tubuh
lain, nyeri tekan (+).
S : Skala nyeri 8.
T : Nyeri yang dirasakan terus menerus.
Klien mengatakan masih nyeri dan terlihat
menahan nyeri.
Data Objektif :

Problem
Gangguan

Etilogi
Luka

rasa nyaman operasi


nyeri

post

Keadaan

umum (cukup),

nyeri skala 8,
kesadaran (compos mentis),
klien terlihat menahan meringis menahan
nyeri, nyeri tekan (+).
Tekanan darah: 110/70 mmHg, Nadi: 82
x/menit, Suhu: 36,4oC, RR :20 x/menit.

C Diagnosa Keperawatan
1

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d dengan luka post operasi

D Intervensi Keperawatan

Gangguan rasa nyaman nyeri b/d dengan luka post operasi, trauma jaringan
yang ditandai dengan keluhan nyeri, wajah klien meringis, perilaku berhatihati, yeri yang dirasakan seperti di tusuk-tusuk, Nyeri dirasakan terus
menerus, Tekanan darah: 110/70 mmHg, Nadi: 82 x/menit, Suhu: 36,4oC,
RR :20 x/menit.

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan


kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dan nyeri dapat berkurang satu atau dua
tingkat dari sebelumnya dengan

Kriteri Hasil : Pasien menyatakan nyeri berkurang dari 8 sampai 7 atau 6


dan nyeri dapat dikontrol, ekspresi wajah tenang/ rileks, klien menunjukkan
penggunaan tekhnik relaksasi.

Intervensi keperawatan

Kaji nyeri secara komprehensif yang meliputi : lokasi, karakteristik,


durasi, frekuensi, kualitas,

intensitas/beratnya

nyeri,

dan

faktor

presipitasi.
Rasional : Pengkajian secara komprehensif dapat memberikan kecepatan,
dan keefektifan dalam penanganan nyeri.
b

Observasi isyarat non verbal dari ketidak nyamanan klien, khususnya


ketidakmampuan untuk komunikasi secara efektif.

Rasional : Agar dapat selalu memberikan kenyamanan bagi klien.


c

Kaji pengalaman individu terhadap nyeri

Rasional : Setiap

individu mempunyai respon yang berbeda terhadap

nyeri sesuai pengalaman, hal tersebut membantu proses penyembuhan.


d

Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi untuk mengatasi nyeri


(ex. relaksasi, massase dan tekhnik distraksi)

Rasional : Teknik non farmakologi dapat membantu mengatasi nyeri.


e

Motivasi penggunaan tehnik distraksi, contoh nafas dalam

Rasional : Meningkatkan relaksasi, dan dapat meningkatkan kemampuan


koping, mengurangi nyeri.
f

Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan, perubahan posisi

Rasional : meningkatkan sirkulasi umum, memberikan rasa nyaman


g

Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu


ruangan, pencahayaan, kebisingan.

Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat mengurangi rasa nyeri.


h

Evaluasi keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri

Rasional : Keefektifan manajemen nyeri non famakologi akan menurunkan


penggunaan analgesik yang berlebihan.
i

Monitor

kenyamanan

klien

terhadap

manajeme

nyeri

non

farmakologis
Rasional : Mengetahui keefektifan teknik non farmakologis untuk
mengatasi nyeri.
j

Kolaborasi pemberian obat analgesik

Rasional : mungkin dibutuhkan untuk penghilangan nyeri/ketidaknyamanan.


k

Libatkan keluarga untuk mengurangi nyeri

Rasional : Kehadiran keluarga akan memberi kenyamanan pada klien.

DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika.
Carpenito, L.J. 1997. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul Chayatin. 2008. Kebutuhan Dasar Manusia Teori dan
Aplikasi dalam Praktik. Jakarta: EGC.
NANDA. 009. Nursing Diagnoses : Definition and Classification 2009-2011. NANDA
International. Philadelphia.
Peace, Evelyn c. 1992. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka utama.
Potter, Patricia. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, Praktek,
Edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer dan Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Tamsuri, A. (2007). Konsep dan Penatalaksanaan Nyeri. Jakarta : EGC.
Wartonah. 2003. Kebutuhan dasar manusia dan proses keperwatan. Jakarta: Salemba
Medika.