Anda di halaman 1dari 6

BAB V

LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA II


KESETIMBANGAN CAIR-CAIR

I.

TUJUAN
1. Mendapatkan data LLE sistem biner kresol (1) + metanol (2) isobarik pada
tekanan atmosfer.
2. Menghitung koefisien aktifitas dari masing-masing komponen yang terlibat dan
membandingkan data yang diperoleh dengan model-model aktifitas koefisien Van
Laar dan Two-Suffix Margules.

II.

DASAR TEORI
1. Kesetimbangan Cair Cair
Perubahan suhu (T), tekanan (P), konsentrasi (C), dan entalpi (H)
selama

proses pemisahan dapat dianalisa berdasarkan konsep kesetimbangan

termodinamik. Korelasi fase menurut kaidah fase Gibbs:


F=C P + 2
dengan:
F = variabel intensive/bebas
C = jumlah spesies atau komponen dalam sistem
P = jumlah fase dalam sistem
Contoh :
a. Kesetimbangan, cair (air) uap air
C = 1, P = 2 (cair dan uap), maka F = 1
Hanya satu variabel dapat diubah bebas, jika dipilih tekanan tertentu
maka suhu keseimbangan akan tertentu atau sebaliknya, jika dipilih suhu
tertentu maka tekanan keseimbangan akan tertentu.
b. Campuran biner (Metanol air) dalam kesetimbangan uap cair
C = 2 (metanol = 1; air = 1), P = 2 (cair dan uap), maka F = 2
Jadi untuk komposisi (konsentrasi) dan tekanan keseimbangan tertentu, maka
suhu keseimbangan akan tertentu pula. Untuk komposisi (konsentrasi) dan
suhu keseimbangan tertentu, maka tekanan keseimbangan akan tertentu
pula.

Jika

dipilih

suhu

dan

tekanan keseimbangan tertentu, maka

konsentrasi keseimbangan akan tertentu pula.

Gambar V. 1. Proses kesetimbangan cair-cair


Persetujuan bersama lambang yang digunakan (lambang ini bisa berbeda
untuk pustaka yang lain) :
A = zat yang terlarut, zat yang terdistribusi (Solute)
B = pelarut I, pelarut umpan mula-mula (Diluent)
C = pelarut II, separating agent (Solvent)
Fase yang kaya diluent disebut rafinat, sedangkan fase yang kaya solvent
disebut

ekstrak.

Hubungan

keseimbangan

antara

konsentrasi-konsentrasi

komponen di fase ekstrak dan rafinat dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk
kurva.

Gambar V. 2. Kurva kesetimbangan cair-cair


R E ; R, E akan terletak pada garis lurus RE melalui m
Garis RE = garis seimbang = tie line = equilibrium line
E (ekstrak) banyak komponen (solvent)
R (ra finat) banyak komponen (diluent)
Disini juga berlaku persamaan:
Neraca massa total R + E = m
Neraca massa komponen solut RxR + ExE = mZm
Dan hubungan keseimbangan antara komposisi komponen di fase ekstrak dan
rafinat.
Kurva keseimbangan di atas berlaku untuk suhu tetap. Pada suhu isoterm yang
lain, T1, T2, T3, ... dan seterusnya, maka bentuk kurvanya dapat berubah,

sehingga daerah heterogennya dapat menyempit atau bertambah luas. Selanjutnya


suhu ekstraksi perlu diplih sehingga daerah heterogennya cukup luas.

Gambar V. 3. Kurva kesetimbangan cair-cair pada tiap temperature


Daerah di bawah kurva merupakan daerah heterogen (2 fasa)
Daerah di atas kurva merupakan daerah homogen (1 fasa)
Data seimbang suatu sistem campuran pada suhu tertentu (T) dapat digambarkan
dengan berbagai cara, yaitu :
a. Koordinat siku-siku

Gambar V. 4. Koordinat siku untuk system campuran


Koordinat siku-siku mempunyai bentuk yang lebih sederhana karena
dalam menggambarkan kurva tidak memperhitungkan komposisi diluent.
Bila komposisi solut

dan solven dalam fase tersebut tertentu berarti

komposisi diluent dalam fase tersebut dapat ditentukan (= 1- fraksi


solut-fraksi solven)
b. Diagram (grafik) atas dasar solvent free
Massa zat yang terlarut (solute)
Xa , Ya=
Massa Solute+ Massa Diluent
Xc , Yc=

Massa solvent
Massa Solute+ Massa Diluent
(Amanda, 2015)

Dua fasa cair-cair berada dalam kesetimbangan termodinamik apabila


suhu dan tekanan kedua fasa sama serta potensial kimia masing-masing
komponen di kedua fasa bernilai sama. Dengan demikian pada tekanan dan suhu
tertentu, kriteria kesetimbangan cair-cair dapat dinyatakan sebagai (Prausnitz,
1998):

iI = iII

Dimana i adalah potensial kimia komponen i yang pada esensinya adalah partial
molar Gibbs Free Energy i dan superskrip I dan II masing-masing menyatakan
fasa cair I dan fasa cair II.
Untuk menghitung energi Gibbs, diperlukan potensi kimia komponen
yang berbeda dalam semua fase. Untuk non-elektrolit (organik, air) yang kita
( x s0 1

gunakan murni

), pada suhu T atas dasar fraksi mol (x) sebagai acuan.

Potensi kimia non-elektrolit seperti itu, di sini dilambangkan sebagai pelarut s,


dalam fasa cair l adalah

sI ( p, T , xj) so ,( x ) RT ln a s( x )

Potensial kimia adalah besaran yang tidak mudah dipahami dan sulit untuk
dihubungakan dengan variable-variabel yang mudah diukur seperti suhu, tekanan,
dan komposisi. Untuk mengatasi hal tersebut, Lewis mengemukakan sebuah
konsep yang dikenal sebagai konsep fugasitas. Berdasarkan konsep ini, kesamaan
potensial potensial kimia dapat diartikan sebagai kesamaan fugasitas tanpa
mengurangi arti yang terkandung di dalamnya. (Prausnitz dkk, 1999)

i i 0 RT ln

fi
fi0

Pada fase I, persamaan menjadi:

iI i0 I RT ln

fiI
fi0I

Pada fase II, persamaan menjadi:

iII i0 II RT ln

f i II
f i 0 II

Dengan demikian kriteria kesetimbangan dapat pula dinyatakan sebagai


berikut (Prausnitz dkk, 1999):

f i I f i II

2. Model Termodinamika
a. Persamaan Van Laar
Dalam teori van Laar yang mengarah ke koefisien aktivitasnya yang
didasarkan pada aplikasi dari van der Waals persamaan equation of state,
untuk dua campuran komponen dengan fraksi mol X1 dan X2, dua asumsi
utama yang terlibat, yaitu ini berarti bahwa ketika pencampuran dua
komponen murni tidak ada perubahan volume yang terjadi, dan perubahan
entropi pencampuran adalah sama dengan nilai ideal.
Teori Van Laar terdiri dari tiga tahap sebagai berikut :
1. Ekspansi cairan murni isotermal ke tekanan yang sangat rendah.
2. Pencampuran gas yang ideal dihasilkan (karena tekanan sangat rendah).
3. Kompresi isotermal campuran gas yang ideal.
Van Laar digunakan untuk perumusan kelebihan energi bebas Gibbs
pencampuran dan memperoleh persamaan berikut untuk koefisien aktivitas
komponen (1) dan (2):

A x
ln 1 A12 1 12 1
A21 x 2

A x
ln 2 A21 1 21 2
A12 x1

b. Two Suffix Margules


Persamaan Two Suffix Margules dikembangkan oleh Margules. Ada
beberapa persamaan Margules dimana perbedaan antara satu persamaan
yang lain tergantung pada jumlah akhiran. Persamaan ini

memberikan

gambaran yang baik untuk campuran cairan sederhana yang memiliki


kesamaan volume molar komponen. Persamaan dinyatakan sebagai berikut:

ln 1 x22 A12 2 A21 A12 x1

ln 2 x12 A21 2 A12 A21 x2