Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN
Okupasi yang diadaptasi dari suatu kata dalam Bahasa Inggris yaitu
occupation umumnya dipandang sebagai berbagai aktivitas yang memiliki
maksud dan tujuan yang unik dalam kehidupan seseorang. Okupasi, yang dalam
Bahasa Indonesia maknanya sepadan dengan pekerjaan, juga merupakan pokok
pada identitas dan kompetensi seseorang, dan yang mempengaruhi bagaimana
seseorang mempergunakan waktunya serta bagaimana ia membuat keputusan.
Bahkan okupasi (occupation) telah didefinisikan oleh Law, Polatajko, Baptiste,
dan Townsend (1997) sebagai berikut:
Activities.....of everyday life, named, organized, and given value and
meaning by individuals and culture. Occupations is everything people do
to occupy themselves, including looking after themselves.....enjoying
life.....and contributing to the social and economic fabric of their
communities.....
Terapi okupasi pertama kali dikembangkan dan diterapkan oleh Philippine
Pinel pada abad ke-19 di sebuah rumah sakit jiwa di Paris. Dengan pekerjaan,
pasien penyakit jiwa akan dapat dikembalikan ke arah hidup yang normal, bahkan
bisa kembali seperti sebelum sakit. Adolf Meyer (1892), seorang psikiater di
Amerika, melakukan upaya secara terstruktur dimana pasien neuro-psikiatrik
diberikan aktivitas yang berguna ternyata menjadi dasar terapi okupasi. Meyer
telah menyusun suatu dasar sistematis penggunaan aktivitas sebagai terapi.
Pada umumnya orang mengetahui tugas Ot adalah memberikan aktivitas
motorik halus padahal area yang dikerjakan OT sangat luas dan sekarang untuk
OT di negara maju seperti Amerika dan Canada sudah menjurus pada bidang sub
spesialis pada area tertentu misalnya khusus pada bidang sensory integration,
memory training, social skills training, dll. Secara umum OT adalah salah satu
profesi kesehatan yang membantu individu dengan gangguan fisik, mental dan
atau sosial dengan menggunakan berbagai macam aktivitas terapeutik yang telah

diprogram dan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi anak untuk
meningkatkan performa anak dalam hal aktivitas yang bersifat produktif baik di
rumah maupun di sekolah seperti ketrampilan menulis, membaca, dll, aktivitas
bantu diri (self care) seperti mandi, berpakaian, makan, minum, memakai sepatu,
dll serta meningkatkan kemampuan bermain (play and leisure) dan interaksi
sosial.
Pengertian aktivitas yang bersifat terapeutik adalah aktivitas yang memang
telah dianalisis secara mendalam sehingga memiliki dampak terapeutik untuk
meningkatkan performa anak dalam 3 area intervensi diatas yaitu area
produktivitas (productivity), ketrampilan bantu diri/merawat dirinya sendiri (self
care) dan aktivitas rekreasi anak yaitu bermain. Ketiga area tersebut adalah
domain yang sangat esensial bagi anak untuk dapat berpartisipasi secara optimal
dalam aktivitas kesehariannya baik di rumah, sekolah dan di masyarakat.
Skizofrenia merupakan suatu sindroma klinis yang ditandai oleh
psikopatologi yang disruptif dan melibatkan aspek kognisi, persepsi dan aspek
lain perilaku. Ekspresi dari manifestasi penyakit ini bervariasi diantara pasien
tetapi efeknya selalu berat dan bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Skizofrenia mengenai segala lapisan kelas dan umumnya muncul pada usia
kurang dari 25 tahun, lalu selanjutnya menetap sepanjang hidup. Meskipun
didiagnosis sebagai penyakit tunggal, skizofrenia mungkin terdiri atas suatu
kumpulan gangguan dengan etiologi beragam, dan bervariasi dalam manifestasi
klinis, respons pengobatan dan perjalanan penyakitnya.
Data epidemiologis menunjukkan bahwa di Amerika Serikat prevalensi
skizofrenia adalah 1%, pada studi lain didapatkan rentang yang tidak jauh berbeda
yaitu 0,6-1,9 %. Skizofrenia ditemukan pada semua lapisan masyarakat dan area
geografis, prevalensi maupun insidensinya secara kasar sama di seluruh dunia.
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan mengatakan bahwa
jumlah penderita gangguan kesehatan jiwa di masyarakat sangat tinggi, yakni satu
dari empat penduduk Indonesia menderita kelainan jiwa rasa cemas, depresi,
stress, penyalahgunaan obat, kenakalan remaja sampai skizofrenia. Di era
globalisasi gangguan kejiwaan meningkat sebagai contoh penderita tidak hanya

dari kalangan kelasa bawah, sekarang kalangan pejabat dan masyarakat lapisan
menengah ke atas juga terkena gangguan jiwa (Sutatminingsih, Raras. 2002).
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RisKesDas) 2007 disebutkan, rata-rata
nasional gangguan mental emosional ringan, seperti cemas dan depresi pada
penduduk berusia 15 tahun ke atas mencapai 11,6%, dengan angka tertinggi
terjadi di Jawa Barat, sebesar 20%. Sedangkan yang mengalami gangguan mental
berat, seperti psikotis, skizofrenia, dan gangguan depresi berat, sebesar 0,46%.
(Anonim, Depkes RI).
Jadi, dengan pekerjaan maka seseorang akan dapat menikmati hidup,
dimana pekerjaan dapat mengalihkan perhatian atau pikiran seseorang dari hal-hal
yang kurang menyenangkan, sehingga menjadi segar kembali untuk memikirkan
hal-hal yang lain. Dengan pekerjaan, seseorang juga akan memberi kontribusi
terhadap struktur sosial dan ekonomi komunitasnya sehingga dia menjadi lebih
nyaman berada ditengah-tengah komunitas itu dan akan memudahkan adaptasi
dengan lingkungannya. Secara fisik, pekerjaan membuat seseorang akan
menggerakkan seluruh otot tubuhnya, sehingga tubuhnya akan tetap sehat. Dari
semua hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa perkerjaan sangat bermanfaat
bagi perkembangan fisik dan jiwa seseorang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Skizofrenia
Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu skizo yang artinya retak atau pecah,
dan frenia yang artinya jiwa, dengan demikian, seseorang yang menderita
skizofrenia adalah seseorang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakkan
kepribadian (Hawari, 2003).
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai
area fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan
menginterpretasikan realitas, merasakan dan menunjukan emosi serta berperilaku
dengan sikap yang tidak dapat diterima secara sosial (Isaacs, 2005).
2.2 Etiologi Skizofrenia
Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etiologi) yang pasti mengapa
seseorang menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak.Ternyata dari
penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal.
Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir antara lain : (Yosep, 2010)

Faktor genetik;

Virus;

Autoantibodi;

Malnutrisi.

Dari penelitian diperoleh gambaran sebagai berikut : (Yosep, 2010)


1) Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang tua 5,6%, saudara
kandung 10,1%; anak-anak 12,8%; dan penduduk secara keseluruhan
0,9%.
2) Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan pada kembar identik
59,20%;

sedangkan

kembar

fraternal

15,2%.

Penelitian

lain

menyebutkan bahwa gangguan pada perkembangan otak janin juga


mempunyai peran bagi timbulnya skizofrenia kelak dikemudian hari.

Gangguan ini muncul, misalnya, karena kekurangan gizi, infeksi,


trauma,

toksin

dan

kelainan

hormonal.

Penelitian

mutakhir

menyebutkan bahwa meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia


tidak akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang disebut
epigenetik faktor. Skizofrenia muncul bila terjadi interaksi antara
abnormal gen dengan : (Yosep, 2010)
a. Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat menganggu
perkembangan otak janin;
b. Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan infeksi selama
kehamilan;
c. Komplikasi kandungan; dan
d. Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada trimester
kehamilan.
Seseorang yang sudah mempunyai faktor epigenetik tersebut, bila mengalami
stresor psikososial dalam kehidupannya, maka risikonya lebih besar untuk
menderita skizofrenia dari pada orang yang tidak ada faktor epigenetik
sebelumnya. (Yosep, 2010)
2.3 Penegakkan diagnosis
Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ-III, adalah sebagai berikut
(Maslim, 2003).:
-

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya
dua gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):
a. thought echo, yaitu isi pikiran dirinya sendiri yang berulang
atau bergema dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran
ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda atau
thought insertion or withdrawal yang merupakan isi yang
asing dan luar masuk ke dalam pikirannya (insertion) atau isi
pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal); dan thought broadcasting, yaitu isi pikiranya
tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya;

b. delusion

of

control,

adalah

waham

tentang

dirinya

dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar atau


delusion of passivitiy merupaka waham tentang dirinya tidak
berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang
dirinya

diartikan

secara

tubuh/anggota

gerak

penginderaan

khusus),

atau
atau

jelas
ke

merujuk
pikiran,

delusional

kepergerakan

tindakan,

atau

perceptionyang

merupakan pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang


bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau
mukjizat.
c. Halusinasi auditorik yang didefinisikan dalam 3 kondisi
dibawah ini:

Suara halusinasi yang berkomentar secara terus


menerus terhadap perilaku pasien, atau

Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka


sendiri (diantara berbagai suara yang berbicara), atau

Jenis suara halusinasi lain yang berasal dan salah satu


bagian tubuh.

d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya


setempat dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya
perihal keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan
kemampuan di atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan
cuaca, atau berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain).
e. Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada
secara jelas :

Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila


disertai baik oleh waham yang mengambang maupun yang
setengah berbentuk tanpa kandungan afektif yang jelas,
ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama
berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;

Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami


sisipan (interpolation), yang berkibat inkoherensi atau
pembicaraan yang tidak relevan, atau neologisme;

Perilaku

katatonik,

(excitement),

posisi

seperti
tubuh

keadaan
tertentu

gaduh-gelisah

(posturing),

atau

fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor;

Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara


yang jarang, dan respon emosional yang menumpul atau
tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri
dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial; tetapi
harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh
depresi atau medikasi neuroleptika;

e. Adanya gejala-gejala khas di atas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase
nonpsikotik (prodromal)
f. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam
mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku
pribadi (personal behaviour), bermanifestasi sebagai hilangnya
minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam
diri sendiri (self-absorbed attitude), dan penarikan diri secara sosial.
Adapun kriteria diagnosis skizofrenia menurut DSM IV adalah (Tomb, 2003):

Berlangsung minimal dalam enam bulan

Penurunan

fungsi

yang

cukup

bermakna

di bidang

pekerjaan,

hubungan interpersonal, dan fungsi dalam mendukung diri sendiri

Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selama


berlangsungnya sebagian dari periode tersebut

Tidak ditemui dengan gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif,


gangguan mood mayor, autisme, atau gangguan organik.

2.4 Jenis-jenis skizofrenia


Kraepelin

membagi

skizofrenia

menjadi

beberapa

jenis.

Penderita

digolongkan ke dalam salah satu jenis menurut gejala utama yang terdapat
padanya. Akan tetapi batas-batas golongan-golongan ini tidak jelas, gejala-gejala
dapat berganti-ganti atau mungkin seorang penderita tidak dapat digolongkan ke
dalam salah satu jenis. Pembagiannya sebagai berikut :(Maramis, 2009). Gejala
klinis skizofrenia secara umum dan menyeluruh telah diuraikan di muka, dalam
PPDGJ III skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang mempunyai
spesifikasi masing-masing, yang kriterianya di dominasi dengan hal-hal sebagai
berikut :
Skizofrenia paranoid
Skizofrenia paranoid agak berlainan dari jenis-jenis yang lain dalam jalannya
penyakit.

Skizofrenia

hebefrenik

dan

katatonik

sering

lama

kelamaan

menunjukkan gejala-gejala skizofrenia simplex, atau gejala-gejala hebefrenik dan


katatonik bercampuran. Skizofrenia paranoid memiliki perkembangan gejala yang
konstan. Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer, disertai dengan
waham-waham sekunder dan halusinasi. Pemeriksaan secara lebih teliti juga
didapatkan gangguan proses pikir, gangguan afek, dan emosi.
Jenis skizofrenia ini sering mulai sesudah umur 30 tahun. Permulaannya
mungkin subakut, tetapi mungkin juga akut. Kepribadian penderita sebelum sakit
sering dapat digolongkan skizoid, mudah tersinggung, suka menyendiri dan
kurang percaya pada orang lain.Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia
paranoid dapat didiganosis apabila terdapat butir-butir berikut :

Memenuhi kriteria diagnostik skizofrenia


Sebagai tambahan :
o Halusinasi dan atau waham harus menonjol :
Suara-suara halusinasi satu atau lebih yang
saling berkomentar tentang diri pasien, yang
mengancam pasien atau memberi perintah, atau

tanpa

bentuk

verbal

berupa

bunyi

pluit,

mendengung, atau bunyi tawa.


Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau
bersifat seksual, atau lain-lain perasaan tubuh
halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang

menonjol.
Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi
waham dikendalikan (delusion of control),
dipengaruhi

(delusion

of

influence),

atau

Passivity

(delusion

of

passivity),

dan

keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,


adalah yang paling khas.
o Gangguan
afektif,
dorongan

kehendak

dan

pembicaraan, serta gejalakatatonik secara relatif tidak


nyata / tidak menonjol.
Pasien skizofrenik paranoid memiliki karakteristik berupa preokupasi satu
atau lebih delusi atau sering berhalusinasi. Biasanya gejala pertama kali muncul
pada usia lebih tua daripada pasien skizofrenik hebefrenik atau katatonik.
Kekuatan ego pada pasien skizofrenia paranoid cenderung lebih besar dari pasien
katatonik dan hebefrenik. Pasien skizofrenik paranoid menunjukkan regresi yang
lambat dari kemampuan mentalnya, respon emosional, dan perilakunya
dibandingkan tipe skizofrenik lain.
Pasien skizofrenik paranoid biasanya bersikap tegang, pencuriga, berhatihati, dan tak ramah.Mereka juga dapat bersifat bermusuhan atau agresif.Pasien
skizofrenik paranoid kadang-kadang dapat menempatkan diri mereka secara
adekuat didalam situasi sosial.Kecerdasan mereka tidak terpengaruhi oleh
gangguan psikosis mereka dan cenderung tetap intak.

Skizofrenia Hebefrenik

Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa


remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang mencolok adalah gangguan proses
berpikir, gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality.
Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanakkanakan sering terdapat pada skizofrenia heberfenik. Waham dan halusinasi
banyak sekali.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia hebefrenik dapat didiganosis
apabila terdapat butir-butir berikut Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Diagnosis hebefrenikbiasanya ditegakkan pada usia remaja atau dewasa


muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun)..

Untuk diagnosis hebefrenik yang menyakinkan umumnya diperlukan


pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan
bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :
o Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan,
serta mannerisme; ada kecenderungan untuk selalu menyendiri
(solitary), dan perilaku menunjukkan hampa tujuan dan hampa
perasaan;
o Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate),
sering disertai oleh cekikikan (giggling) atau perasaan puas diri
(self-satisfied), senyum sendirir (self-absorbed smiling), atau oleh
sikap, tinggi hati (lofty manner), tertawa menyeringai (grimaces),
mannerisme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondrial, dan ungkapan kata yang diulang-ulang (reiterated
phrases);
o Proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak
menentu (rambling) serta inkoheren.
o Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses
pikir umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada
tetapi biasanya tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusions
and hallucinations). Dorongan kehendak (drive) dan yang
bertujuan (determination) hilang serta sasaran ditinggalkan,

sehingga perilaku penderita memperlihatkan ciri khas, yaitu


perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of
purpose). Adanya suatu preokupasi yang dangkal dan bersifat
dibuat-buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya,
makin mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien.
Menurut DSM-IV skizofrenia disebut sebagai skizofrenia tipe terdisorganisasi.
Skizofrenia Katatonik
Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun, dan biasanya akut serta
sering didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik
atau stupor katatonik. Stupor katatonik yaitu penderita tidak menunjukkan
perhatian sama sekali terhadap lingkungannya. Gejala paling penting adalah
gejala psikomotor seperti:
1. Mutisme, kadang-kadang dengan mata tertutup
2. Muka tanpa mimik, seperti topeng
3. Stupor, penderita tidak bergerak sama sekali untuk waktu yang lama, beberapa
hari, bahkan kadang sampai beberapa bulan.
4. Bila diganti posisinya penderita menentang : negativisme
5. Makanan ditolak, air ludah tidak ditelan sehingga berkumpul dalam mulut dan
meleleh keluar, air seni dan feses ditahan
6. Terdapat grimas dan katalepsi
Secara tiba-tiba atau pelan-pelan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan
mulai berbicara dan bergerak. Gaduh gelisah katatonik adalah terdapat
hiperaktivitas motorik, tetapi tidak disertai dengan emosi yang semestinya dan
tidak dipengaruhi rangsangan dari luar.
Penderita terus berbicara atau bergerak saja, menunjukan stereotipi,
manerisme, grimas dan neologisme, tidak dapat tidur, tidak makan dan minum
sehingga mungkin terjadi dehidrasi atau kolaps dan kadang-kadang kematian
(karena kehabisan tenaga dan terlebih bila terdapat juga penyakit lain seperti
jantung, paru, dan sebagainya)

Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila


terdapat butir-butir berikut :

Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia.

Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran
klinisnya :
o Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan
dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak
berbicara):
o Gaduh gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan,
yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal)
o Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil
dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau
aneh);
o Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif
terhadap semua perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau
pergerakkan kearah yang berlawanan);
o Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan
upaya menggerakkan dirinya);
o Fleksibilitas cerea / waxy flexibility (mempertahankan anggota
gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan
o Gejala-gejala lain seperti command automatism (kepatuhan
secara otomatis terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata
serta kalimat-kalimat.
o Pada pasien yang tidak komunikatif dengan manifestasi perilaku
dari gangguan katatonik, diagnosis skizofrenia mungkin harus
ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya
gejala-gejala lain.
o Penting untuk diperhatikan bahwa gejala-gejala katatonik bukan
petunjuk diagnostik untuk skizofrenia. Gejala katatonik dapat

dicetuskan oleh penyakit otak, gangguan metabolik, atau alkohol


dan obat-obatan, serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif.
Pasien dengan skizofrenia katatonik biasanya bermanifestasi salah satu
dari dua bentuk skizofrenia katatonik, yaitu stupor katatonik dan excited
katatatonik. Pada katatonik stupor, pasien akan terlihat diam dalam postur tertentu
(postur berdoa, membentuk bola), tidak melakukan gerakan spontan, hampir tidak
bereaksi sama sekali dengan lingkungan sekitar bahkan pada saat defekasi
maupun buang air kecil, air liur biasanya mengalir dari ujung mulut pasien karena
tidak ada gerakan mulut, bila diberi makan melalui mulut akan tetap berada di
rongga mulut karena tidak adanya gerakan mengunyah, pasien tidak berbicara
berhari-hari, bila anggota badan pasien dicoba digerakkan pasien seperti lilin
mengikuti posisi yang dibentuk, kemudian secara perlahan kembali lagi ke posisi
awal. Bisa juga didapati pasien menyendiri di sudut ruangan dalam posisi berdoa
dan berguman sangat halus berulang-ulang.
Pasien dengan excited katatonik, melakukan gerakan yang tanpa tujuan,
stereotipik dengan impulsivitas yang ekstrim. Pasien berteriak, meraung,
membenturkan sisi badannya berulang ulang, melompat, mondar mandir maju
mundur.Pasien dapat menyerang orang disekitarnya secara tiba-tiba tanpa alasan
lalu kembali ke sudut ruangan, pasien biasanya meneriakka kata atau frase yang
aneh berulang-ulang dengan suara yang keras, meraung, atau berceramah seperti
pemuka agama atau pejabat.Pasien hampir tidak pernah berinteraksi dengan
lingkungan sekitar, biasanya asik sendiri dengan kegiatannya di sudut ruangan,
atau di kolong tempat tidurnya.
Walaupun pasien skizofrenia katatonik hanya memunculkan salah satu dari
kedua diatas, pada kebanyakan kasus gejala tersebut bisa bergantian pada pasien
yang dalam waktu dan frekuensi yang tidak dapat diprediksi.Seorang pasien
dengan stupor katatonik dapat secara tiba-tiba berteriak, meloncat dari tempat
tidurnya, lalu membantingkan badannya ke dinding, dan akhirnya dalam waktu
kurang dari satu jam kemudian kembali lagi ke posisi stupornya.
Selama stupor atau excited katatonik, pasien skizofrenik memerlukan
pengawasan yang ketat untuk menghindari pasien melukai dirinya sendiri atau

orang lain. Perawatan medis mungkin ddiperlukan karena adanya malnutrisi,


kelelahan, hiperpireksia, atau cedera yang disebabkan oleh dirinya sendiri.
Skizofrenia Simplex
Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala utama pada jenis
simplex adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses
berpikir biasanya sulit ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.
Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali. Permulaan gejala mungkin penderita
mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan.
Berdasarkan PPDGJ III, maka skizofrenia katatonik dapat didiganosis apabila
terdapat butir-butir berikut :

Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara meyakinkan karena


tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan
dan progresif dari :
o Gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa
didahului riwayat halusinasi, waham, atau manifestasi lain dari
episode psikotik, dandisertai dengan perubahan-perubahan
perilaku pribadi yang bermakna, bermanifestasi sebagai
kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat sesuatu, tanpa
tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.
o Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan
subtipe skizofrenia lainnya.

Skizofrenia

simpleks

sering

timbul

pertama

kali

pada

masa

pubertas.Gejala utama pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan


kemunduran kemauan. Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan.
Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.Jenis ini timbulnya perlahan-lahan
sekali.Pada permulaan mungkin penderita mulai kurang memperhatikan
keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia makin mundur
dalam pekerjaan atau pelajaran dan akhirnya menjadi pengangguran, dan bila
tidak ada orang yang menolongnya ia mungkin akan menjadi pengemis, pelacur,
atau penjahat.

Skizofrenia residual
Jenis ini adalah keadaan kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya
satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala
negatif yang lebuh menonjol. Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor,
penurunan aktivitas, penumpula afek, pasif dan tidak ada inisiatif, kemiskinan
pembicaraan, ekspresi nonverbal yang menurun, serta buruknya perawatan diri
dan fungsi sosial.
Untuk suatu diagnosis yang meyakinkan, persyaratan berikut ini harus
dipenuhi semua :

Gejala

negative

dari

skizofrenia

yang

menonjol

misalnya

perlambatan psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul,


sikap pasif dan ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi
pembicaraan, komunikasi non-verbal yang buruk seperti dalam
ekspresi muka, kontak mata, modulasi suara, dan posisi tubuh,
perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk;

Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa


lampau yang memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofenia;

Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana


intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan
halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul sindrom
negative dari skizofrenia;

Tidak terdapat dementia atau penyakit / gangguan otak organik lain,


depresi kronis atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan
disabilitas negative tersebut.

Menurut DSM IV, tipe residual ditandai oleh bukti-bukti yang terus menerus
adanya gangguan skizofrenik, tanpa adanya kumpulan lengkap gejala aktif atau
gejala yang cukup untuk memenuhi tipe lain skizofrenia.Penumpulan emosional,
penarikan social, perilaku eksentrik, pikiran yang tidak logis, dan pengenduran
asosiasi ringan adalah sering ditemukan pada tipe residual.Jika waham atau

halusinasi ditemukan maka hal tersebut tidak menonjol dan tidak disertai afek
yang kuat.
Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated).
Seringkali pasien yang jelas skizofrenik tidak dapat dengan mudah
dimasukkan kedalam salah satu tipe.PPDGJ mengklasifikasikan pasien tersebut
sebagai tipe tidak terinci. Kriteria diagnostic menurut PPDGJ III yaitu:

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid,


hebefrenik, atau katatonik.

Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi


pasca skizofrenia.

Depresi Pasca-Skizofrenia
Diagnosis harus ditegakkan hanya kalau :

Pasien telah menderita skizofrenia (yang memenuhi kriteria diagnosis


umum skizzofrenia) selama 12 bulan terakhir ini;

Beberapa gejala skizofrenia masih tetap ada (tetapi tidak lagi mendominasi
gambaran klinisnya); dan

Gejala-gejala depresif menonjol dan menganggu, memenuhi paling sedikit


kriteria untuk episode depresif, dan telah ada dalam kurun waktu paling
sedikit 2 minggu.

Apabila pasien tidak lagi menunjukkan gejala skizofrenia diagnosis


menjadi episode depresif. Bila gejala skizofrenia diagnosis masih jelas dan
menonjol, diagnosis harus tetap salah satu dari subtipe skizofrenia yang
sesuai.

Skizofrenia lainnya

Bouffe Delirante (acute delusional psychosis)


Konsep diagnosis skizofrenia dengan gejala akut yang kurang dari 3 bulan,
kriteria diagnosisnya sama dengan DSM-IV-TR. 40% dari pasien yang

didiagnosa dengan bouffe delirante akan progresif dan akhirnya


diklasifikasikan sebagai pasien skizofren

Oneiroid
Pasien dengan keadaan terperangkap dalam dunia mimpi, biasanya
mengalami disorientasi waktu dan tempat.Istilah oneiroid digunakan pada
pasien

yang

terperangkap

dalam

pengalaman

halusinasinya

dan

mengesampingkan keterlibatan dunia nyata.

Early onset schizophrenia


Skizofrenia yang gejalanya muncul pada usia anak-anak. Perlu dibedakan
dengan retardasi mental dan autisme

Late onset schizophrenia


Skizofrenia yang terjadi pada usia lanjut (>45 tahun). Lebih sering terjadi
pada wanita dan pasien-pasien dengan gejala paranoid.

A. Pengertian Terapi Okupasi


Pekerjaan atau okupasi sejak dulu kala telah dikenal sebagai
sesuatu untuk mempertahankan hidup atau survival, dan juga diketahui
sebagai

sumber

kesenangan.

Dengan

bekerja

seseorang

akan

menggunakan otot-otot dan pikirannya, misalnya dengan melakukan


permainan (game), latihan gerak badan, kerajinan tangan dan lain-lain, di
mana hal ini akan memengaruhi kesehatannya juga.
Pada tahun 2600 SM orang-orang di Cina berpendapat bahwa
penyakit timbul karena ketidakaktifan organ tubuh. Socrates dan Plato
(400 SM) mempercayai adanya hubungan yang erat antara tubuh dengan
jiwa. Hypoocrates selalu menganjurkan pasiennya untuk melakukan
latihan gerak badan sebagai salah satu cara pengobat pasiennya. Di Mesir
dan Yunani (2000 SM) dijelaskan bahwa rekreasi dan permainan adalah
salah suatu media terapi yang ampuh, misalnya menari, bermain musik,
bermain boneka untuk anak-anak, dan bermain bola. Pekerjaan diketahui
sangat bermanfaat bagi perkembangan jiwa maupun fisik manusia.

Socrates berkata bahwa seseorang harus membiasakan dini dengan


selalu bekerja secara sadar dan jangan bermalas-malasan. Pekerjaan dapat
juga digunakan sebagi pengalihan perhatian atau pikiran sehingga menjadi
segar kembali untuk memikirkan hal-hal yang lain. Dengan okupasi/
pekerjaan, pasien jiwa akan dikembalikan ke arah hidup yang normal dan
dapat meningkatkan minatnya sekaligus memelihara dan mempraktikkan
keahlian yang dimilikinya sebelum sakit sehingga dia akan tetap sebagai
seseorang yang produktif.
Pada tahun 1982, Adolf Meyer melaporkan bahwa penggunaan
waktu dengan baik yaitu dengan melakukan aktivitas yang berguna
ternyata merupakan suatu dasar terapi pasien neuripsikiatrik. Meyer adalah
seorang psikiater. lstrinya adalah seorang pekerja sosial dan mulai
menyusun suatu dasar yang sistematis tentang penggunaan aktivitas
sebagai program terapi pasien jiwa. Masih banyak lagi ahli-ahli terkenal
yang berjasa dalam pengembangan okupasiterapi sebagai salah satu terapi
khususnya untuk pasien mental. Risetpun masih tetap dilakukan guna lebih
mengefektitkan penggunaan okupasiterapi untuk terapi pasien mental.
Terapi

okupasi

berasal

dan

kata

Occupational

Therapy.

Occupational berarti suatu pekerjaan, therapy berarti pengobatan. Jadi,


Terapi Okupasi adalah perpaduan antara seni dan ilmu pengetahuan untuk
mengarahkan penderita kepada aktivitas selektif, agar kesehatan dapat
ditingkatkan dan dipertahankan, serta mencegah kecacatan melalui
kegiatan dan kesibukan kerja untuk pendenita cacat mental maupun fisik.
(American

Occupational

Therapist

Association).

Tenapis

okupasi

membantu individu yang mengalami gangguan dalam fungsi motorik,


sensorik, kognitif juga fungsi sosial yang menyebabkan individu tersebut
mengalami hambatan dalam melakukan aktivitas perawatan diri, aktivitas
produktivitas, dan dalam aktivitas untuk mengisi waktu luang. Tujuan dan
pelatihan Terapi okupasi itu sendiri adalah untuk mengembalikan fungsi
penderita semaksimal mungkin, dan kondisi abnormal ke normal yang
dikerahkan pada kecacatan fisik maupun mental, dengan memberikan

aktivitas yang terencana dengan memperhatikan kondisi penderita


sehingga penderita diharapkan dapat mandiri di dalam keluarga maupun
masyarakat.
Intervensi yang diberikan menggunakan modalitas aktivitas yang
tdah dianalisis dan diadaptasi yang kemudian diprogramkan untuk anak
sesuai dengan kebutuhan khususnya. Secara garis besar intenvensi
difokuskan pada hal-hal berikut.
1. Kemampuan (abilities)
a. Keseimbangan dan reaksi postur (balance and postural
reactions).
b. Peregangan otot dan kekuatan otot (muscle tone and muscle
strength).
c. Kesadaran anggota tubuh (body awareness).
d. Kemampuan keterampilan motorik halus (fine motor skill)
seperti memegang/melepas, keterampilan manipulasi gerak
jari, misal penggunaan pensil, gunting, keterampilan
menulis, dan lain-lain.
e. Kemampuan keterampilan motorik kasar (gross motor shill)
seperti lari, lompat, naik-turun tangga jongkok jalan dan
lain-lain.
f. Mengenal bentuk, mengingat bentuk (visual perception).
g. Merespon stimuli, membedakan input sensori (sensory
integration).
h. Perilaku termasuk level kesadaran, atensi, problem solving
skill, dan lain- lain
2. Keterampilan (skill)
a. AktivitaS sehari-hari (activity daily living) seperti makan,
minum, berpakaian mandi, dan lain-lain.
b. Pre-academic skill.
c. Keterampilafl sosial.

d. Keterampilan bermain.

3. Faktor Lingkungan
a.

Lingkungan fisik.

b.

Situasi keluarga.

c.

Dukungan dan komunitas.


4. Okupasi Terapis sebagai Konsultan
Okupasi terapis sebagai konsultan pada area berikut ini:
a. Program intervensi awal.
b. Pengaturan rumah, sekolah, dan area bermain.
c. Lingkungan dan adaptasi mainan atau media belajar.
d. Alat bantu.
e. Strategi perilaku.
Untuk mencapai tujuan tersebut di dalam terapi okupasi
memiliki dua prinsip kerja, yaitu sebagai berikut.
a.

Supportive Occupatinal Therapy, yaitu menolong penderita


untuk menghilangkan dan perasaan cemas, takut, dan
memotivasi penderita untuk lebih giat didalam melakukan
latihan.

b.

Fungsional Occupational Therapy, antara lain untuk


pengaturan

posisi

(bagi

anak

Cerebral

Palsy),

meningkatkan kekuatan otot dan daya tahan kerja,


meningkatkan motorik kasar (gross motor) maupun motorik
halus, (fine motor) serta meningkatkan konsentrasi dan
kooordinasi gerak maupun sikap.
B. Pelaksanaan/Dimulainya Terapi Okupasi

Sebaiknya terapi okupasi dilakukan sedini mungkin, sejak


penderita dirujuk oleh dokter. Sebelum penderita mulai latihan, perlu
diberikan evaluasi awal dengan dilakukan observasi dan tes sederhana.
Dalam evaluasi awal ini, hal yang harus diperhatikan adalah catatan medik
dan dokter, macam kecacatan (Cerebral Palsy atau Retradasi Mental),
berat ringannya kecacatan, kecerdasan, kebutuhan dan penderita itu sendiri
dan hal-hal yang harus dijauhi/dihindarkan untuk segi keamanan
penderita.
Evaluasi awal ini sangat berguna untuk menentukan aktivitas yang
akan diberikan, agar sesual dengan kondisi dan kebutuhan penderita itu
sendiri. Aktivitas yang diberikan di bagian terapi okupasi adalah sebagai
berikut.
1.

Aktivitas kehidupan sehari-hari/ADL. Aktivitas mi dibenikan agar


pendenita dapat mandini tanpa tergantung orang lain.

2.

Aktivitas

bermain.

Bermain

mi

diharapkan

untuk

dapat

memperbaiki konsentrasi, koordinasi, motonik serta menumbuhkan


bakat, hobi, minat, serta kesenangan.
3.

Seni dan hasta karya. Untuk membenikan kesempatan pada


penderita dalam mencapai suatu hasil yang maksimal, yang
mengandung unsur-unsur kedewasaan dan kerumah tangga yang
isesuaikan dengan kapasitas penderita.
Terapis di dalam memberikan suatu latihan harus bersikap sabar,

ramah, dan dituntut untuk kreatif, selain itu, tidak kalah pentingnya juga
peran serta onang tua dalam proses latihan. Pada hal ini diharapkan terapis
dapat memberikan masukan-masukan kepada orang tua penderita untuk
berlatih di rumah.

C. Perbedaan Terapi Okupasi dan Rehabilitasi Medis


Terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi
seseorang untuk melaksanakan suatu tugas tertentu yang telah ditentukan
dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat, dan meningkatkan

kemampuan, serta mempermudah belajar keahlian atau fungsi yang


dibutuhkan dalam proses penyesuaian diri dengan lingkungan. Selain itu,
juga untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi dan/atau
memperbaiki ketidaknormalan (kecacatan), serta memelihara atau
meningkatkan derajat kesehatan. Terapi okupasi lebih dititikberatkan pada
pengen kemampuan yang masih ada pada seseorang, kemudian
memelihara atau meningkatkannya sehingga dia mampu mengatasi
masalah-masalah yang diharapkannya.
Terapi okupasi menggunakan okupasi (pekerjaan atau kegiatan)
sebagai media. Tugas pekerjaan atau kegiatan yang dipilihkan adalah
berdasarkan pemilihan terapis disesuaikan dengan tujuan terapis itu
sendiri. Jadi, bukan hanya sekedar kegiatan untuk membuat seseorang
sibuk. Tujuan utama terapi okupasi adalah membentuk seseorang agar
mampu berdiri sendiri tanpa menggantungkan diri pada pertolongan orang
lain. Rehabilitasi adalah suatu usaha yang terkoordinasi yang terdiri atas
usaha medis, sosial, edukasional, dan vokasional, untuk melatih kembali
seseorang untuk mencapai kemampuan fungsional pada taraf setinggi
mungkin. Sementara itu, rehabilitasi medis adalah usaha-usaha yang
dilakukan secara medis khususnya untuk mengurangi invaliditas atau
mencegah memburuknya invaliditas yang ada.
D. Fungsi dan Tujuan Terapi Okupasi
Terapi okupasi adalah terapan medis yang terarah bagi pasien fisik
maupun mental dengan menggunakan aktivitas sebagai media terapi dalam
rangka memulihkan kembali fungsi seseorang sehingga dia dapat mandiri
semaksimal mungkin. Aktivitas tersebut adalah berbagai macam kegiatan
yang direncanakan dan disesuaikan dengan tujuan terapi. Pasien yang
dikirimkan oleh dokter, untuk mendapatkan terapi okupasi adalah dengan
maksud sebagai berikut.
1.

Terapi khusus untuk pasien mental/jiwa.

2.

Menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat


mengembangkan kemampuannya untuk dapat berhubungan
dengan orang lain dan masyarakat sekitarnya.

3.

Membantu dalam melampiaskan gerakan-gerakan emosi secara


wajar dan produktif.

4.

Membantu menemukan kernampuan kerja yang sesuai dengan


bakat dan keadaannya.

5.

Membantu dalam pengumpulan data guna penegakan diagnosis


dan penetapan terapi lainnya.

6.

Terapi

khusus

untuk

mengembalikan

fungsi

fisik,

meningkatkan ruang gerak sendi, kekuatan otot, dan koordinasi


gerakan.
7.

Mengajarkan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti makan,


herpakaian belajar menggunakan fasilitas umum (telepon,
televisi, dan lain-lain), baik dengan maupun tanpa alat bantu,
mandi yang bersih, dan lain-lain.

8.

Membantu pasien untuk menyesuaikan din dengan pekerjaan


rutin di rumahnya dan memberi saran penyederhanaan
(siplifikasi) ruangan maupun letak alat-alat kebutuhan seharihari.

9.

Meningkatkan toleransi kerja, memelihara, dan meningkatkan


kemampuan yang masih ada.

10.

Menyediakan berbagai macam kegiatan untuk dijajaki oleh


pasien sebagai lai dalam pre-cocational training. Berdasarkan
aktivitas ini akan dapat diketahui kemampuan mental dan fisik,
kebiasaan kerja, sosialisasi, minat, potensi dan lainnya dan si
pasien dalam mengarahkannya pada pekerjaan yang tepat
dalam latihan kerja.

11.

Membantu

penderita

untuk

menerima

kenyatan

menggunakan waktu selama masa rawat dengan berguna.

dan

12.

Mengarahkan minat dan hobi agar dapat digunakan setelah


kembali ke keluarga.
Program terapi okupasi adalah bagian dan pelayanan medis untuk

tujuan rehabilitasi total seorang pasien melalui kerja sama dengan petugas
lain di rumah sakit. Dalam pelaksanaan terapi okupasi kelihatannya akan
banyak overlapping dengan terapi lainnya sehingga dibutuhkan adanya
kerja sama yang terkoordinir dan terpadu
E. Peranan Terapi Okupasi / Pekerjaan dalam Pengobatan
Aktivitas dipercayai sebagai jembatan antara batin dan dunia luar.
Melalui aktivitas manusia dihubungkan dengan lingkungan, kemudian
mempelajarinya,

mencoba

keterampilan

atau

pengetahuan,

mengekspresikan perasaan, memenuhi kebutuhan fisik maupun emosi,


mengembangkan kemampuan. dan sebagai alat untuk mencapai tujuan
hidup. Potensi tersebutlah yang digunakan sebagai dasar dalam
pelaksanaan terapi okupasi, baik bagi penderita fisik maupun mental.
Aktivitas dalam terapi okupasi digunakan sebagai media baik
untuk evaluasi, diagnosis. terapi. maupun rehabilitasi. Dengan mengamati
dan mengevaluasi pasien saat mengerjakan suatu aktivitas dan menilai
hasil pekerjaan dapat ditentukan arah terapi dan rehabilitasi selanjutnya
dan pasien tersebut. Penting untuk diingat bahwa aktivitas dalam terapi
okupasi tidak untuk menyembuhkan, tetapi hanya sebagai media. Diskusi
yang terarah setelah penvelesaian suatu aktivitas adalah sangat penting
karena dalarn kesenipatan tersebut terapis dapat mengarahkan pasien dan
pasien dapat belajar mengenal dan mengatasi persoalannya.
Aktivitas yang dilakukan pasien diharapkan dapat menjadi tempat
untuk

berkomunikasi

lehih

balk

dalam

mengekpresikan

dirinya.

Kemampuan pasien akan dapat diketahui baik oleh terapi maupun oleh
pasien itu sendiri melalui aktivitas yang dilakukan oleh pasien. Alat-alat
atau bahan-bahan yang digunakan dalan1 melakukan suatu aktivitas,
pasien akan didekatkan dengan kenyataan terutama dalani hal kemampuan
dan kelemahannya. Aktivitas dalam kelompok akan dapat merangsang

terjadinya interaksi di antara anggota yang berguna dalam meningkatkan


sosialisasi dan menilai kemampuan diri masing-masing dalam hal
keefisiensiannya untuk berhubungan dengan orang lain.
Aktivitas yang dilakukan meliputi aktivitas yang digunakan dalam
terapi okupasi di mana sangat dipengaruhi oleh konteks terapi secara
keseluruhan, lingkungan, sumber yang tersedia, dan juga oleh kemampuan
si terapis sendiri (pengetahuan, keterampilan, minat, dan kreativitasnya).
Adapun hal-hal yang mempengaruhi aktivitas dalam terapi okupasi antara
lain sebagai berikut.
1.

Jenis- Jenis aktivitas dalam terapi okupasi adalah sebagai


benikut:

a. Latihan gerak badan


b.

Olahraga

c.

Permainan

d.

Kerajinan tangan.

e.

Kesehatan, kebersihan, dan kerapihan pribadi.

f.

Pekerjaan sehari-hari (aktivitas kehidupan sehari-hari).

g.

Praktik pre-vokasional.

h.

Seni (tari, musik, lukis, drama, dan lain-lain).


i. Rekreasi (tamasya, nonton bioskop/drama, pesta ulang
tahun, dan lain-lain).
j. Diskusi dengan topik tertentu (berita surat kabar, majalah,
televisi, radio atau keadaan lingkungan).
2. Karekteristik aktivitas.
Aktivitas dalam terapi okupasi adalah segala macam
aktivitas yang dapat menyibukkan seseorang secara produktif
yaitu sebagai suatu media untuk belajar dan berkembang,
sekaligus sebagai sumber kepuasaan emosional maupun fisik.
Oleh karena itu setiap aktivitas yang digunakan dalam terapi
okupasi harus mempunyai karekteristik sebagai berikut.

a.

Setiap gerakan harus mempunyai alasan dan tujuan terapi


yang jelas. Jadi bukan hanya sekedar menyibukkan pasien.

b.

Mempunvai arti tertentu hagi pasien, artinva dikenal oleh


atau ada hubungannya dengan pasien.

c.

Pasien harus mengerti tuiuan mengerjakan kegiatan


tersebut,

dan

apa

kegunaannya

terhadap

upaya

penyembuhan penyakitnya.
d.

Harus dapat melihatkan pasien secara aktif walaupun


minimal.

e.

Dapat mencegah lebih beratnya kecacatan atau kondisi


pasien, bahkan harus dapat meningkatkan atau setidaktidaknya memelihara koondisinya.

f.

Harus dapat memberi dorongan agar si pasien mau berlatih


lebih giat sehingga dapat mandiri.

g.

Harus sesuai dengan minat, atau setidaknya tidak dibenci


olehnya.

h.

Harus dapat dimodifikasi untuk tujuan peningkatan atau


penyesuaian dengan dengan kemampuan pasien.

Faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memilih Aktivitas Adalah


Sebagai Berikut:
a.

Apakah bahan yang digunakan merupakan yang mudah


dikontrol, ulet, kasar, kotor, halus, dan sebagainya.

b.

Apakah aktivitas rumit atau tidak.

c.

Apakah perlu dipersiapkan sebelum dilaksanakan.

d.

Cara pemberian instruksi bagaimana.

e.

Bagaimana kira-kira setelah hasil selesai.

f.

Apakah perlu pasien membuat keputusan.

g.

Apakah perlu konsentrasi.

h.

lnteraksi yang mungkin terjadi apakah menguntungkan.

i.

Apakah diperlukan kemampuan berkomunikasi.

j.

Berapa lama dapat diselesaikan.


k.

Apakah dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat


disesuaikan dengan kemampuan dan keterampilan pasien.

3. Analisis aktivitas.
Untuk dapat mengenal karekteristik maupun potensi atau
aktivitas dalam rangka perencanaan terapi, maka aktivitas
tersebut harus dianalisis terlebih dahulu. Hal-hal yang perlu
dianalisis adalah sebagai berikut.
a. Jenis aktivitas.
b. Maksud dan tujuan penggunaan aktivitas tersebut (sesuai
dengan tujuan terapi).
c. Bahan yang digunakan:
1) Khusus atau tidak
2) Karekteristik bahan:
a) mudah ditekuk atau tidak,
b) mudah dikontrol atau tidak,
c) menimbulkan kekotoran atau tidak,
d) 1 atau tidak,
3) Rangsangan yang dapat ditimbulkan:
a) taktil,
b) pendengaran,
c) pembauan,
d) penglihatan,
e) perabaan,
f)

gerakan sendi,

g) dan sebagainya.
4) Warna
5) Macam-macamnya dan namanya

6) Banyaknya
d. Bagian-bagian aktivitas
1)

Banyaknya bagian

2)

Rumit atau sederhana

3)

Apakah membutuhkan pengulangan

4)

Apakah membutuhkan perhitungan matematika


e. Persiapan pelaksanaan:
1) Apakah harus dipersiapkan terlebih dahulu
2) Apakah harus ada contoh atau cukup dengan lisan
3) Apakah bahan telah tersedia atau harus dicani terlebih
dahulu
4) Apakah ruangan untuk melaksanakan harus diatur
f. Pelaksanaan, apakah dalam pelaksanaan tugas ini perlu adanya:
1) Konsentrasi
2) Ketangkasan
3) Rasa sosial di antara pasien
4) Kemampuan mengatasi masalah
5) Kemampuan bekerja sendiri
6) Toleransi terhadap frustasi
7) Kemampuan mengikuti instruksi
8) Kemampuan membuat keputusan
g. Apakah aktivitas tersebut dapat merangsang timbulnya
lnteraksi di antara mereka.
h. Apakah

aktivitas

tersebut

membutuhkan

konsentrasi,

ketangkasan, inisiatif, penilaian, ingatan, komprehensi, dan


lain-lain.
i. Apakah aktivitas tersebut melibatkan imajinasi, kreativitas,
pelampiasan emosi dan lain-lain.
j. Apakah ada kontraindikasi untuk pasien tertentu. Dalam hal ini
harus bertindak hati-hati karena dapat berbahaya bagi pasien
maupun sekelilingnya (misalnya untuk pasien dengan paranoid

sangat riskan memberikan benda tajam).


k. Hal yang penting lagi adalah apakah disukai oleh pasien.

F. Indikasi Terapi Okupasi


1. Seseorang yang kurang berfungsi dalam kehidupannya karena
kesulitan-kesulitan

yang

dihadapi

dalam

pengintegrasian

perkembangan psikososialnya.
2. Kelainan tingkah laku yang terlihat dalam kesulitannya berkomunikasi
dengan orang lain.
3. Tingkah laku tidak wajar dalam mengekpresikan perasaan atau
kebutuhan yang primitif.
4. Ketidakmampuan

mengisiterprestasikan

rangsangan

sehingga

reaksinya terhadap rangsangan tersebut tidak wajar pula


5. Terhentinya seseorang dalam fase pertumbuhan tertentu atau seseorang
yang mengalami kemunduran.
6. Mereka yang lebih mudah mengekspresikan perasaannya melalui suatu
aktivitas daripada dengan percakapan.
7. Mereka yang merasa lebih mudah mempelajari sesuatu dengan cara
mempraktikkannya daripada dengan membayangkan.
8. Pasien cacat tubuh yang mengalami gangguan dalam kepribadiannya.
G. Proses Terapi Okupasi
Dokter yang mengirimkan pasien untuk terapi okupasi akan
menyertakan juga data mengenai pasien herupa diagnosis, masalahnya,
dan juga akan menyatakan apa yang perlu diperbuat dengan pasien
tersehut. Apakah untuk mendapatkan data yang lebih banyak untuk
keperluan diagnosis, terapi, atau rehabilitasi. Setelah pasien berada di unit
terapi okupasi, maka terapis akan bertindak sebagai berikut.

1. Koleksi data. Data biasa didapatkan dan kartu rujukan atau


status pasien yang disertakan ketika pertama kali pasien
mengunjungi unit terapi okupasional. Jika dengan mengadakan
wawancara dengan pasien atan keluarganya, atau dengan
mengadakan kunjungan rumah. Data mi diperlukan untuk
menyusun rencana terapi bagi pasien. Proses mi dapat
berlangsung beberapa hari sesuai dengan kebutuhan.
2. Analisis data dan identifikasi masalah. Dan data yang
terkumpul dapat ditarik suatu kesimpulan sementara tentang
masalah dan/atau kesulitan pasien. Hal ini dapat berupa
masalah di lingkungan keluarga atau pasien itu sendiri.
3. Penentuan tujuan. Dan masalah dan latar belakang pasien,
maka dapat disusun daftar tujuan terapi sesuai dengan
pnioritas, baik jangka pendek maupun jangka panjangnya.
4. Penentuan aktivitas. Setelah tujuan terapi ditetapkan maka
dipilihlah aktivitas yang dapat mencapai tujuan terapi tersebut.
Dalam

proses

mi

pasien

dapat

diikutsertakan

dalam

menentukan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan sehingga


pasien merasa ikut bertanggung jawab atas kelancaran
pelaksanaannya. Dalam hal mi harus diingat bahwa aktivitas
tersebut tidak akan menyembuhkan penyakit, tetapi hanya
sebagai media untuk dapat mengerti masalahnya dan mencoba
mengatasinya dengan bimbingan terapis. Pasien juga harus
diberitahu alasan-alasan mengapa dia harus mengerjakan
aktivitas tersebut sehingga dia sadar dan diharapkan akan
mengerjakannya dengan aktif.
5. Evaluasi. Evaluasi harus dilaksanakan secara teratur dan
terencana sesuai dengan tujuan terapi. Hal ini perlu agar dapat
menyesuaikan program terapi selanjutnya sesuai dengan
perkembangan pasien yang ada. Hasil evaluasi yang didapatkan
dapat dipergunakan unutk merencanakan hal-hal mengenai

penyesualan jenis aktivitas yang akan diberikan. Namun, dalam


hal tertentu penyesuaian aktivitas dapat dilakukan setelah
beberapa waktu melihat bahwa tidak ada kemajuan atau kurang
efektif terhadap pasien.
Hal-hal yang perlu dievaluasi antara lain adalah sebagai berikut:
1

Kemampuan membuat keputusan.


a. Tingkah laku selama bekerja.
b. Kesadaran adanya orang lain yang bekerja bersama dia
dan yang mempunyai kebutuhan sendiri.
c. Kerjasama.
d. Cara memperlihatkan emosi (spontan, wajar, jelas, dan
lain-lam).
e. Inisiatif dan tanggung jawab.
f. Kemampuan untuk diajak atau mengajak berunding.
g. Menyatakan perasaan tanpa agresi.
h. Kompetisi tanpa permusuhan.
i. Menerima kritik dan atasan atau teman sekerja.
j. Kemampuan menyatakan pendapat sendiri dan apakah
bertanggung jawab atas pendapatnya tersebut.
k. Menyadari keadaan dirinya dan menerimanya.
l. Wajar dalam penampilan.
m. Orientasi tempat, waktu, situasi, dan orang lain.
n. Kemampuan menerima instruksi dan mengingatnya.
o. Kemampuan bekerja tanpa terus-menerus diawasi
p. Kerapian bekerja.
q. Kemampuan merencanakan suatu pekerjaan.
r. Toleransi terhadap frustasi.
s. Lambat atau cepat.

H. Pelaksanaan

1. Metode terapi okupasi dapat dilakukan baik secara individual, maupun


berkelompok, tergantung dan keadaan pasien, tujuan terapi, dan lainlain.Metode individual dilakukan untuk:
a. pasien baru yang bertujuan untuk mendapatkan lebih banyak
informasi dan sekaligus untuk evaluasi pasien;
b. pasien yang beluni dapat atau mampu untuk berinteraksi dengan
cukup baik di dalam suatu kelompok sehingga dianggap akan
mengganggu kelancaran suatu kelompok bila dia dimasukkan
dalam kelompok tersebut.
c. pasien wang sedang menjalani latihan kerja dengan tujuan agar
terapis dapat niengevaluasi pasien lebih efektif.
2. Metode kelompok dilakukan untuk: pasien lama atas dasar seleksi
dengan masalah atau hampir bersamaan, atau dalam melakukan suatu
aktivitas untuk tujuan tertentu bagi beberapa pasien sekaligus.
Sebelum memulai suatu kegiatan baik secara individual maupun
kelompok, maka terapis harus mempersiapkan terlebih dahulu segala
sesuatunya yang menyangkut pelaksanaan kegiatan tersebut. Pasien
juga perlu dipersiapkan dengan cara memperkenalkan kegiatan dan
menjelaskan tujuan pelaksanaan kegiatan tersebut sehingga dia atau
mereka lebih mengerti dan berusaha untuk ikut aktif. Jumlah anggota
dalam suatu kelompok disesuaikan dengan jenis aktivitas yang akan
dilakukan, dan kemampuan terapis mengawasi.
3. Waktu. Okupasiterapi dilakukan antara 1-2 jam setiap sesi balk yang
individu maupun kelompok setiap hari, dua kali atau tiga kali
seminggu tergantung tujuan terapi, tersedianva tenaga dan fasilitas,
dan sebagainya. Sesi ini dibagi menjadi dua bagian yaitu jam untuk
menyelesaikan kegiatan-kegiatan dan 1-1 jam untuk diskusi. Dalam
diskusi ini dibicarakan mengenai pelaksanaan kegiatan tersebut, antara
lain kesulitan yang dihadapi, kesan mengarahkan diskusi tersebut
kearah yang sesuai dengan tujuan terapi.
4. Terminasi.

Keikutsertaan

seseorang

pasien

dalam

kegiatan

okupasiterapi dapat dasar bahwa pasien:


a. Dianggap telah mampu mengatasi persolannya
b. Dianggap tidak akan berkembang lagi
c. Dianggap perlu mengikuti program lainnya sebelum okupasiterapi
BAB III
PEMBAHASAN
Terapi Okupasi pada Pasien dengan Skizofrenia
Terapi okupasi juga dapat merupakan bagian dari rehabilitasi medik untuk
pasien-pasien dengan penyakit fisik maupun gangguan mental. Disini, terapi
okupasi merupakan terapi medik yang terarah dengan menggunakan aktivitas
sebagai media terapi, dalam rangka memulihkan kembali fungsi seseorang
sehingga mampu mandiri semaksimal mungkin.
Pada pasien-pasien dengan gangguan jiwa, aktivitas dalam terapi okupasi
biasanya dilakukan untuk membantu dalam mendiagnosis, terapi, evaluasi,
maupun rehabilitasi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati pasien saat
mengerjakan suatu aktivitas, saat berinteraksi dengan kelompoknya, dan dengan
menilai hasil pekerjaannya. Dalam pengamatan tersebut dapat dikumpulkan datadata yang berguna untuk mendukung ke arah suatu diagnosis tertentu serta
menetapkan terapi lainnya. Manfaat terapi didapat dengan membantu dalam
melepaskan dorongan-dorongan emosional secara wajar dan produktif. Dengan
memberikan terapi okupasi secara periodik maka akan dapat dilakukan evaluasi
terhadap hasil pengobatan. Sedangkan tujuan rehabilitasi diperoleh dengan
menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat mengembangkan
kemampuannya untuk dapat berhubungan dengan orang lain dan masyarakat
sekitar. Disamping itu juga dapat membantu menemukan kemampuan kerja yang
sesuai dengan bakat dan keadaannya.
Sebagaimana telah dipahami, bahwa pada sebagian penderita gangguan
skizofrenia digambarkan memiliki perjalanan penyakit yang kronis dan disertai

dengan terjadinya deteriorasi dari taraf fungsi sebelumnya. Deteriorasi atau


kemunduran tersebut mungkin sudah dimulai sejak fase prodromal selama
berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebelum onset penyakit, yang
mencakup terdapatnya keruntuhan taraf fungsi dalam bidang pekerjaan, aktivitas
sosial (pergaulan sosial), serta penelantaran penampilan pribadi dan perawatan
diri.
Pada penderita dengan skizofrenia sering terdapat beberapa gejala secara
bersama-sama seperti gangguan bentuk dan isi pikiran, arus pikiran, persepsi,
afek, serta gangguan pada perilaku yang dapat bermanifestasi sebagai perilaku
katatonik maupun gejala-gejala negatif. Pada penderita skizofrenia dengan gejalagejala negatif seperti sikap apatis, pembicaraan yang terhenti, dan respon
emosional yang menumpul atau tidak wajar biasanya akan mengakibatkan
penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja sosial. Selain itu bisa
juga terjadi suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan dari beberapa aspek perilaku seseorang yang bermanifestasi sebagai
hilangnya minat, tak bertujuan, sikap malas, sikap berdiam diri (self-absorbed
attitude) dan penarikan diri secara sosial.
Telah pula diyakini bahwa cara yang paling efisien dalam penanganan
pasien dengan skizofrenia adalah melalui kombinasi psikofarmakologi dan
intervensi psikososial seperti psikoterapi, terapi keluarga, dan terapi okupasi. Hal
ini telah dibuktikan setidaknya dari sebuah penelitian mengenai terapi okupasi
pada pasien dengan skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan (treatmentresistant schizophrenia) yang dilakukan oleh Buchain dkk. di Sao Paulo, Brazil.
Penelitian yang dipublikasikan tahun 2002 ini menggunakan rancangan
penelitian acak terkontrol (randomized controlled trial) dengan melibatkan 26
orang pasien skizofrenia yang resisten terhadap pengobatan, yang kemudian
diikuti dan dievaluasi selama 6 bulan. Secara acak, mereka terbagi menjadi 2
kelompok, yaitu kelompok penelitian dan kelompok kontrol. Kelompok penelitian
menerima penanganan psikofarmakologi dengan Clozapine yang disertai dengan
sesi terapi okupasi, sedangkan kelompok kontrol hanya menerima Clozapine.
Untuk mengevaluasi hasil akhirnya digunakan skala Interactive Observation in

Occupational Therapy (EIOTO). Pada penelitian tersebut didapatkan bahwa


intervensi terapi okupasi ternyata efektif sepanjang periode observasi, terutama
setelah memasuki bulan ke-4 hingga akhir penelitian. Sehingga disimpulkan
bahwa kombinasi Clozapine dan terapi okupasi tampaknya lebih efektif
dibandingkan hanya Clozapine saja pada pasien dengan skizofrenia yang resisten
pengobatan.

BAB IV
PENUTUP
Terapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni pengarahan partisipasi seseorang
untuk melaksanakan suatu tugas tertentu yang telah ditentukan dengan maksud
untuk

memperbaiki,

memperkuat

dan

meningkatkan

kemampuan,

dan

mempermudah mempelajari keahlian atau fungsi yang dibutuhkan dalam proses


penyesuaian diri dengan lingkungan. Juga untuk meningkatkan produktivitas,
mengurangi dan atau memperbaiki ketidak normalan (kecacatan), dan memelihara
atau meningkatkan derajat kesehatan
Pelaksanaan/Dimulainya Terapi Okupasi, sebaiknya dilakukan sedini
mungkin, sejak penderita dirujuk oleh dokter. Sebelum penderita mulai latihan,
perlu diberikan evaluasi awal dengan dilakukan observasi dan tes sederhana.
Tujuan terapi okupasi:
1. Terapi khusus untuk pasien mental/jiwa.
2. Menciptakan suatu kondisi tertentu sehingga pasien dapat
mengembangkan kemampuannya untuk dapat berhubungan
dengan orang lain dan masyarakat sekitarnya.
3. Membantu dalam melampiaskan gerakan-gerakan emosi secara
wajar dan produktif.
4. Membantu menemukan kernampuan kerja yang sesuai dengan
bakat dan keadaannya.
5. Membantu dalam pengumpulan data guna penegakan diagnosis
dan penetapan terapi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Andreasen, N,C., Carpenter, M.T., Kane, J.M.,Lasser, R.A.,Marder, S.R.,
Weinberger, D.R. 2005. Remission in Schizophrenia: Proposed Criteria
and Rationale for Consensus. Am J Psychiatry. 162:441449.
2. Durand, V. Mark, & Barlow, David H. (2006). Psikologi Abnormal. Edisi
Keempat. Jilid Pertama. Jogjakarta : Pustaka Pelajar
3. Jenkins, J.H.,Garcia, J.I.R., Chang, C.L., Young, J.S., Lopez, S.R. 2006.
FamilySupport Predicts Psychiatric Medication Usage Among Mexican
AmericanIndividuals with Schizophrenia. Social Psyciatry and
Psychiatric Epidemology,41. 624-631.
4. Kaplan H.I, Sadok B.J. Sinopsis Psikiatri, Edisi ketujuh, Jilid I, Binarupa
Aksara, Jakarta, 1997 : 777-83
5. Kaplan H.I, Sadok B.J. Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat, Cetakan I, Widya
Medika, Jakarta, 1998 : 227-229
6. Kaplan H.I, Sadok B.J. Comprensive Textbook Of Psychiatry, William &
Walkins. 5th Edition, USA, 1998 : 128
7. Maramis, W. F. (2009). Ilmu Kedokteran Jiwa edisi 2. Surabaya: Pusat
penerbitan dan percetakan.
8. Maslim R, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkasan dari
PPGDJ-III, Jakarta, 2001 : 65
9. Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2005).
Psikologi Abnormal. Edisi Kelima. Jilid Pertama. Jakarta : Penerbit
Erlangga

10. Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa (PPDGJ III),


Direktorat Kesehatan Jiwa Departemen Kesehatan Republik Indonesia,
1993.
11. Occupational therapy practice framework: Domain and process, In
American Journal of Occupational Therapy, vol. 56(6), 2002; p609-639

12. Budiman A, Siahaan H B; Okupasiterapi, Dalam Makalah Pelatihan Terapi


Keluarga dan Terapi Relaksasi, Ciloto, 1993; hal. 1-9.

13. Departemen Kesehatan RI. Direktorat Jenderal Pelayanan Medik;


Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham, Dalam Pedoman
Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III, Jakarta,
Departemen Kesehatan RI, Cetakan I, 1993; hal. 103-136.

14. Buchain P C, et all; Randomized controlled trial of occupational therapy in


patients with treatment-resistant schizophrenia, In Rev Bras Psiquiatr, vol.
25(1), 2003; p26-30.

REFERAT
TERAPI OKUPASI PADA PASIEN SKIZOFRENIA

Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Kepanitraan Klinik


di Bagian Psikiatri

oleh :
Meilisa Sri Suzana , S.Ked
H1AP10026

Pembimbing :
dr. Lucy M. Bangun, SpKJ

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN PSIKIATRI


RSKJ SOEPRAPTO PROV BENGKULU
UNIVERSITAS BENGKULU
2016
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Terapi Okupasi
Pada Pasien Skizofrenia ini dengan baik dan selesai tepat waktu. Penulisan
referat ini bertujuan untuk memenuhi sebagian syarat kelulusan kepaniteraan
klinik Psikiatri di RSKJ Soeprapto Prov Bengkulu.
Selesainya referat ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga
pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan referat ini hingga selesai, terutama
kepada dr. Lucy M. Bangun, SpKJ , selaku dokter pembimbing dan konsulen
psikiatri di RSKJ Soeprapto Prov Bengkulu yang telah membimbing dan
memberikan masukan dalam penyusunan referat ini. Penulis juga ingin
mengucapkan terima kasih kepada teman-teman sejawat serta pihak-pihak lain
yang telah membantu dalam penyusunan referat ini yang namanya tidak dapat
disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari bahwa Referat ini belum sempurna, oleh sebab itu
penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua
pihak demi kesempurnaan referat ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan semoga referat ini dapat
bermanfaat serta menjadi bahan masukan bagi dunia pendidikan.

Penulis,

Meilisa Sri Suzana, S.Ked


H1AP10026