Anda di halaman 1dari 16

I.

SEKILAS PEMAHAMAN SENI BUDAYA


I.1 Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan menurut pandangan antropolog adalah keseluruhan sistem gagasan,

tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik
diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1980: 193-239). Serupa dengan gagasan
Honingmann yang membedakan tiga gejala kebudayaan yaitu ideas, aktivities, dan artifacts,
Koentjaraningrat (1980:200) membedakan tiga wujud kebudayaan yang ia sebut: pertama,
wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide, gagasan, nilai, norma dan peraturan; kedua,
wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks tindakan berpola oleh manusia dalam masyarakat;
dan ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia. Budaya merupakan
keseluruhan yang kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum,
adat, dan kemampuan lain dan kebiasaan yang dicapai oleh individu sebagai anggota
masyarakat (E. B. Taylor). Dalam setiap

makna dan setiap jiwa, kebudayaan menurut

Williams adalah hal-hal yang dialami dalam hidup sehari-hari (Barker, 2005:50).
Dari pandangan antropologi, biasanya melihat kebudayaan sebagai unsur yang
terintegrasi. Keseluruhan unsur-unsur tersebut disebut unsur-unsur kebudayaan universal,
artinya berbagai macam unsur itu ada dan bisa didapatkan di dalam semua kebudayaan di
dunia. Dari berbagai unsur kebudayaan tersebut dapat dipilh-pilahkan menjadi tujuh unsur
yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, organisosial, sistem peralatan (teknologi), sistem mata
pencaharian, sistem kepercayaan, dan kesenian.
1.2 Pengertian Seni
Seni pada masa lampau selalu dihubung-hubungkan dengan tiga hal yaitu keindahan,
kebaikan, dan kebenaran. Hal tersebut juga pernah dihubungkan dengan pendapat filsuf
Jerman yang bernama Alexander Baumgarten yang membedakan tiga kesempurnaan di dunia

yaitu kebenaran, keindahan dan kebaikan (Soedarso, 1998). Keindahan berada dalam
cakupan tangkapan inderawi, kebaikan melalui penangkapan moral atau hati nurani, dan
kebenaran ditangkap melalui rasio. Karena seni berhubungan dengan olah rasa dan olah
pikiran maka seni sering dijadikan lencana bagi kebenaran moral dan etika kebaikan pada
umumnya. Oleh karenanya menurut pandangan teori seni klasik menyatakan bahwa seni
harus indah, baik, dan benar. Berdasarkan teori mimesis Plato dan Aristoteles kesenian adalah
suatu usaha untuk menyalin alam ke dalam berbagai macam bentuk.
Menurut Ki Hajar Dewantara seni adalah segala perbuatan manusia yang timbul dari
hidup perasaannya dan bersifat indah, sehingga dapat menggerakan perasaan jiwa manusia
(Soedarso, 1998). Sebagai produk keindahan yang dihasilkan manusia menurut teori ini seni
selalu bersangkut paut dengan keindahan. Dengan demikian seni adalah berbagai cara untuk
mengkomunikasikan sesuatu. Keistimewaan seni dalam ekspresivitas, memperhalus dan
memperluas komunikasi menjadi suatu persentuhan rasa yang akrab dengan menularkan
kesan dan pengalaman subyektif, yaitu kesan dan pengalaman seniman kepada penonton atau
pengamat.
Kesenian sebagai unsur kebudayaan tidak hanya dilihat sebagai hasil ciptaan, suatu
hasil karya manusia, tetapi dalam hal ini lebih dipandang sebagai suatu simbol, lambang yaitu
mengatakan sesuatu tentang sesuatu jadi berhadapan dengan makna pesan yang perlu
diresapkan. Sebagaimana dinyatakan Langer (1957: 31-33) seni sebagai abstraksi bentukbentuk simbolik dari macam-macam perasaan manusia dapat diungkapkan dengan berbagai
media. Simbol seni semata-mata tidak dimaksudkan untuk merepresentasikan realitas
obyektif atau fakta, melainkan realitas subyektif atau subyektivitas si seniman, sehingga
bentuk simbolis yang dihasilkan mempunyai ciri-ciri yang khas, Langer menyebutnya
sebagai forma atau bentuk yang hidup (living form). Berkat ekspresi tersebut, simbol seni
tidak tinggal diam, beku atau bisu tetapi berbicara kepada orang lain (Sudiardja, 1983: 77-

80). Simbol seni dengan demikian satu dan padu. Ia tidak hanya menyampaikan makna untuk
dimengerti, tetapi lebih kepada pesan untuk diresapkan. Terhadap makna, orang hanya
dapat mengerti atau tidak mengerti tetapi terhadap pesan terutama dalam seni orang dapat
tersentuh secara mendalam dan intensif.
II.

SENI KARAWITAN
Seni Karawitan adalah musik tradisional Indonesia baik vokal maupun instrumental yang

berlaras pelog atau selendro. Seni Karawitan dapat dibedakan menjadi dua yaitu seni karawitan vokal
dan seni karawitan instrumental. Seni karawitan vokal medianya suara manusia lazim disebut
tembang, sedangkan seni karawitan instrumental medianya alat bunyi-bunyian lazim disebut gamelan.

Seni karawitan terutama gamelan berkembang sangat pesat di Bali. Dari segi ragam
ansambelnya tak kurang dari 38 perangkat gamelan kini tersebar di seluruh Pulau Dewata.
Hampir setiap banjar memiliki sedikitnya satu barung gamelan. Fungsi utama dari masingmasing gamelan tersebut adalah untuk mendukung kegiatan upacara agama dan upacara adat
bagi masyarakat setempat. Kini dengan gencarnya industri pariwisata sebagian masyarakat,
telah mengembangkan fungsi sekunder gamelan yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan
hidup sekelompok masyarakat, terutama seni gamelan yang memiliki peran menopang
kegiatan seni turistik.
Jika dirunut berdasarkan penggolongannya seni karawitan terutama gamelan Bali
diklasifikasikan ke dalam tiga klasifikasi yaitu: gamelan tua, gamelan madia dan gamelan
baru (Rembang, 1983). Klasifikasi ini didasarkan atas seberapa besar dominasi fungsi dan
kedudukan kendang dalam sebuah ansambel. Walaupun kriteria formal yang dijadikan
landasan penggolongan belum sahih benar, namun setidaknya gambaran umum tentang
eksistensi karawitan Bali dapat dijelaskan berdasarkan klasifikasi berikut. Kelompok gamelan
tua pada umumnya tidak menggunakan kendang atau fungsi kendangnya tidak dominan
diklasifikasikan ke dalam golongan tua. Termasuk dalam klasifikasi ini adalah gamelan

Gambang, Caruk, Selonding, Gender Wayang, Gong Bheri, Gong Luang dan Angklung
Klentangan. Kelompok gamelan madia sudah mulai menggunakan kendang sebagai
pengendali dalam penyajian reportoar digolongkan ke dalam golongan madia. Termasuk
dalam kategori ini adalah Gamelan Gambuh, Gong Bebonangan, Semara Pagulingan,
Pelegongan, Joged Pingitan, Bebarongan, Gong Gede, Gamelan Pearjaan dan Batel.
Kelompok gamelan baru adalah gamelan-gamelan yang menempatkan fungsi kendang telah
berperan dominan. Sebagai tonggaknya adalah muncul sejak awal abad XX hingga sekarang.
Termasuk dalam klasifikasi ini adalah Gong Kebyar, Gamelan Jegog, Kendang Mabarung,
Joged Bumbung, Gamelan Salukat, Gamelan Bumbang (1982), Adi Merdangga (1984),
Genta Pinara Pitu (1985), Gamelan Terompong Beruk, Bala Ganjur, Tektekan, Bumbung
Gebyog, Grumbyungan, Gamelan Genggong, Gamelan Janger, Angklung Kebyar, Kembang
Kirang, Gamelan Tambur, Gong Suling, Gong Samara Dahana (1992), Gong Gede Saih Pitu
(2002), Gamelan Manika Santi (2006), dan Gamelan Siwa Nada (2010).
Tingginya tingkat inovasi seniman Bali telah memperkaya khazanah gamelan Bali dari
waktu ke waktu. Gamelan-gamelan tersebut, di samping memiliki kedudukan yang strategis
secara fungsional baik dalam kaitannya dengan fungsi wali (sakral), bebali (semi sakral) dan
balih-balihan (sekuler) juga dimanfaatkan sebagai media, wahana kreativitas bagi anggota
masyarakat pendukungnya. Itulah sebabnya seni karawitan Bali dapat menunjang segala
aktivitas kehidupan budaya masyarakatnya, seperti kegiatan ritual, adat, sosial, hari-hari
besar kenegaraan, pawai, lomba, termasuk dalam menunjang kegiatan bidang pariwisata dan
kepentingan politik bagi parpol dan ormas (kampanye, demonstrasi, dan atraksi pemilukada
lainnya).
Bali sudah sejak dulu dijuluki sebagai Pulau Kesenian. Hal ini tentu tidak terlepas dari
potensi kesenian Bali yang begitu variatif dan bercita rasa tinggi. Dalam kaitan dengan seni
pertunjukan, seni karawitan memiliki fungsi strategis untuk mendukung kehidupan seni-seni

yang lainnya seperti seni tari palegongan, kekebyaran, pajogedan, bebarongan, dan dramatari
lainnya seperti pagambuhan, petopengan, pearjaan, penyalonarangan, janger, wayang, dan
juga seni pasantian.
Kehidupan seni-seni tersebut umumnya diwadahi dalam sebuah organisasi yang disebut
sekaa, di bawah patronage lembaga tradisional seperti Banjar, Pemaksan, Desa Pakaraman,
Puri dan sebagainya. Kini dalam perkembangannya telah tumbuh berbagai organisasiorganisasi sosial seperti yayasan, sanggar, group, baik yang terdapat di hotel, restauran,
lembaga-lembaga pemerintah seperti instansi-instansi, sekolah, dan perguruan tinggi dan
lembaga penyiaran publik seperti RRI, TVRI, dan TV lokal lainnya yang telah menjadi
pendukung sekaligus pengayom perkembangan seni di masyarakat.
Di Bali umumnya, hampir setiap Banjar memiliki kesenian Tari dan Tabuh terutama
dalam kaitan untuk menunjang kebutuhan pelaksanaan upacara keagamaan. Seni Tari kini
berkembang subur di Bali baik yang tradisi maupun ciptaan-ciptaan baru. Sebagai bagian dari
seni pertunjukan keberadaan seni tari juga sangat berkaitan dengan seni karawitan sebagai
iringannya. Baik untuk mengiringi seni tari yang berlakon seperti dramatari maupun seni tari
yang tidak berlakon. Dalam kaitan ini gamelan sebagai pengiring juga sangat diperlukan
untuk bidang seni tari seperti :

tari yang berlakon dan pelakunya berantawacana seperti drama tari Wayang Wong
diringi dengan gamelan Batel, Arja diringi dengan gamelan Geguntangan,
dramatari Calonarang diringi gamelan Bebarongan, Legong Kraton diringi
gamelan Palegongan, dramatari Gambuh diiringi gamelan Pagambuhan,
dramatari Topeng diiringi gamelan Gong Gede atau Gong Kebyar, Parwa diiringi
gamelan Batel, tari Janger diringi gamelan Batel dipadukan gamelan Gender

Wayang, dan Sendratari diiringi dengan gamelan Gong kebyar atau sering pula

dipadukan dengan Gong Gede dan Semar Pagulingan;


2) tari yang tidak berlakon yang mencakup berbagai jenis seperti: Tari Baris
diirngi Gong Gde, Tari Sanghyang diringi tembang atau musik vokal, Sutri
diringi Gong Kebyar, Tari Rejang diiringi Gong Gde/Kebyar, Tari Joged diiringi
Joged Bumbung, Tari Mageret Pandan dan Tari Mabuang diirngi gamelan
Selonding, Tari Makepung diirngi gamelan Jegog, Tari Godogan diiringi dengan
gamelan Genggong dan tari-tarian lepas diirngi dengan Gamelan Gong Kebyar.
Bagaimanapun keberhasilan penyajian sebuah tarian sangat ditentukan oleh

III.

musik iringan untuk mendukung suasana, aksentuasi dan ekspresi geraknya.


GONG KEBYAR
Gong Kebyar adalah sebuah ansambel gamelan Bali yang dipekirakan muncul tahun

1915 (Mc Phee, 1966: 328) di daerah Bali Utara (Singaraja) tepatnya di desa Jagaraga
(Sawan). Ada pula informasi yang lain bahwa yang memulai tradisi Kebyar I Gst Bagus
Panji di desa Bungkulan.
Istilah kebyar dari kata byar-byar yaitu sinar yang datang secara tiba-tiba. Sesuai
dengan namanya gamelan ini bermakna cepat, tiba-tiba dan keras. Musik yang dihasilkan dari
gamelan ini memang penuh dengan kejutan-kejutan secara tiba-tiba, menghentak secara keras
dengan tempo cepat yang dinamis. Gamelan ini selain untuk menyajikan tabuh-tabuh
instrumental juga untuk mengiringi tari-tarian kekebyaran.
Secara fisik Gamelan Gong Kebyar adalah pengembangan kemudian dari gamelan
Gong Gede dengan pengurangan peranan dan peniadaan beberapa buah instrumennya seperti
peranan Instrumen Terompong dikurangi bahkan dalam beberapa reportoar tidak digunakan
sama sekali. Gangsa jongkok Gong Gde yang berbilah lima dalam Gamelan Kebyar
dikembangkan menjadi 10 bilah dan dirubah menjadi gangsa gantung. Cengceng Kopyak

yang berjumlah 6-8 pasang diganti dengan 1 atau 2 set cengceng kecil. Kendang yang
dimainkan dengan panggul kemudian diganti dengan menggunakan pukulan tangan.
Secara konsep Gong Kebyar adalah perpaduan antara rasa musikal Gender Wayang
yang lincah, Gong Gede yang kokoh dan pelegongan yang melodis. Dalam perkembangannya
Gong Kebyar juga mengadopsi berbagai reportoar gamelan Bali lainnya seperti pagambuhan,
leluangan, pejogedan, dan gegambangan.
Gong Kebyar pada masa awal perkembangannya adalah ikon musik Bali modern.
Masyarakat Bali seakan-akan terhipnotis dengan gerak laju perkembangan Gong Kebyar.
Akibatnya banyak jenis gamelan Bali yang dilebur dijadikan Gong Kebyar. Tahun tiga
puluhan, ansambel palegongan, Gong Gde, dan boleh jadi gamelan Bali lainnya banyak
yang menjadi korban, dilebur dijadikan Gong Kebyar.
Munculnya tari Kebyar Legong karya Pan Wandres yang dikembangkan menjadi tari
Teruna Jaya oleh Gde Manik semakin menunjukkan identitas gamelan ini yang cepat dan
dinamis. Kemudian dengan datangnya seorang penari Jauk bernama I Ketut Mario dari
Tabanan berhasil menciptakan tari Kebyar Duduk tahun 1925, dan tari Oleg Tamulilingan
tahun 1952. Tari Kebyar Duduk disebut juga tari Kebyar Terompong, karena sambil duduk
penarinya dengan lincah memainkan instrumen Terompong. Tarian-tarian ini sampai sekarang
masih eksis dan menjadi ikon tarian Kebyar. Selain kedua tarian di atas, dalam
perkembangannya muncul juga beberapa tarian seperti:
1. Tari Margepati (Raja Hutan) yang diciptakan seniman Nyoman Kaler tahun 1942. Ia
2.
3.
4.
5.
6.
7.

juga menciptakan tari Demang Miring, Panji Semirang.


Tarian Wiranata diciptakan oleh Nyoman Ridet.
Tari Nelayan oleh Ketut Merdana (Singaraja) tahun 60-an,
Tari Tenun oleh Wayan Likes tahun 1957.
Tari Tani tahun 1957 oleh Wayan Beratha
Tari Kupu-kupu oleh Wayan Berata tahun 1960-an.
Tari Gabor oleh I Gusti Gde Raka dari Saba Blahbatuh Gianyar tahun 1969.

8. Pada era tahun 80-an muncul beberapa karya tari kreasi baru dengan corak yang agak
berbeda seperti :
9. Manuk Rawa tahun 1981 oleh Wayan Dibia dan Wayan Beratha,
10. Puspawresti Karya I Wayan Dibia dengan I Nyoman Windha (1981),
11. Tari Jaran Teji (1985), Yudhapati dan Cilinaya karya Wayan Dibia tahun 1986.
12. Tari Kijang Kencana dan Srikandi Duta karya I Gusti Agung Ngurah Supartha dan I
Wayan Beratha tahun 1982,
13. Sekaribing karya I Nyoman Suarsa dan Ketut Gde Asnawa (1983),
14. Tari Gopala Nyoman Suarsa dengan I Ketut Gde Asnawa (1983),
15. Jalak Putih tahun 1984 Karya I Gusti Bagus Arsadja.
16. Kembang Pencak karya Nyoman Catra dengan Nyoman Windha)
17. Tahun 1988 muncul tari Cendrawasih karya NLN Swasti Wijaya Bandem bersama
Nym. Windha. Karya bersama lainnya Puspanjali (1989), Sekarjagat (1993), Bebilis
(1983), Saraswati (1994).
18. Tarian Satya Brasta (1989) karya hasil Ujian Sarjana Nyoman Cerita dan I Nyoman
Pasek,
19. Garuda Wisnu Kencana karya Nyoman Cerita dengan Arya Sugiartha dalam rangka
Peksiminas di Bandung 1997.

Tarian Kreasi ini semakin menjamur dengan di

masukkannya materi Tari Kreasi yang difestivalkan dalam lomba Gong Kebyar.
Selain Tarian Kebyar muncul juga pengrawit selaku komposer muda setelah generasi
Wayan Beratha, muncul Seniman Nyoman Rembang (gamelan Bumbang), Wayan
Sinthi ( membuat gamelan Manika Santi, dan Siwanada), seperti Nyoman Astita,
Ketut Gde Asnawa, Nyoman Windha, Gst Ngurah Padang, Nyoman Sudarna, I Made
Arnawa, Ketut Tama, yang banyak menciptakan karya-karya karawitan kreasi baru.
Generasi berikutnya adalah Sutama, Widya, Dewa Darmayasa, Japa, Darya, Cater,
Suanditha, Dewa Alit, Sukarya, dan seterusnya.
Selain musik dan

tari-tarian Kebyar, juga dengan Gong Kebyar mampu

mempopulerkan Sendratari (seni, drama, tari) di Bali. Sendratari yang pertama adalah Jaya
Prana digubah oleh Wayan Beratha tahun 1962. Kemudian baru muncul sendratari berikutnya
gubahan Wayan Beratha bersama guru Kokar lainnya. Ramayana tahun 1965, Sendratari

Mayadenawa 1966, Sendratari Rajapala tahun 1967, dan Sendratari ArjunaWiwaha tahun
1970. Setelah itu muncul sendratari Mahabarata garapan Nyoman Jayus di Tanjung Bungkak,
Sendratari Gatut Kaca Sraya oleh Wayan Dibia di Baturiti, dan Sendratari Puputan Margarana
oleh

Nyoman Sumiasa dari Kedisan Singaraja. Era tahun 1980-an ASTI dan Kokar

bergabung menciptakan sendratari Mahabaratha dan Ramayana 7 kanda. Pada masa


berikutnya di samping masing-masing lembaga seni ini telah mampu berkarya secara
mandiri, tiap-tiap kabupaten juga mendapat kesempatan menampilkan sendratari di panggung
besar Arda Candra. Seperti Karangasem dengan Sendratari Tanah Aron, Gianyar dengan
Sendratari Ki Pasung Gerigis, Buleleng dengan Sendratari Ki Barak Panji (perang Jagaraga),
Klungkung dengan Puputan Klungkung, Denpasar dengan Puputan Badung, Negara dengan
Jimbarwana, Bangli dengan Satria Taman Bali, Tabanan dengan Puputan Margarana. Pada
masa-masa berikutnya tampak semangat masyarakat bawah seperti banjar, clen
(warga/soroh), yang turut berpartisipasi dalam PKB, seperti munculnya Sendratari Angkus
Prana Banjar Mukti, Singapadu (2009), Sendratari MGSDT(Mahagotra Sentana Dalem
Tarukan) pada PKB XXXIII tahun 2011.
Gong Kebyar adalah sebuah ansambel yang berlaras pelog lima nada. Laras adalah
tangga nada dalam gamelan Bali, yakni urutan nada-nada dalam satu oktaf. Dalam gamelan
Bali dikenal dua laras yakni laras pelog (mayor) dan laras selendro (minor). Laras pelog
adalah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang terdiri dari lima nada pokok dengan interval
yang tidak sama, sedangkan laras selendro adalah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang
intervalnya hampir sama. Laras pelog lima nada terdapat dalam gamelan Gong Kebyar, Gong
Gede, Bebarongan, Adi Merdangga, Pelegongan, Babonangan. Selain laras pelog lima nada
dalam gamelan Bali juga terdapat gamelan laras pelog tujuh nada seperti terdapat dalam
gamelan Gambang, Gong Luang, Semar Pagulingan, Pagambuhan, Semarandana, Gong Gede

Saih PItu, Genta Pinara Pitu, Manika Santi, dll. Sementara laras selendro terdapat pada
gamelan Angklung, Gender Wayang, Genggong, Joged Bumbung, dll.
Sistem pelarasan gamelan Bali sangat unik, sehingga dikagumi oleh pencinta musik di
Barat. Hal mana tampak dari sistem pelarasan yang menggunakan sistem ngumbang-ngisep
dan jika dimainkan secara bersama-sama menimbulkan getaran suara secara berombak. Hal
tersebut juga yang menyebabkan kenapa dalam gamelan Bali terdapat instrumen yang pada
umum nya selalu dibuat berpasangan (pengumbang x pengisep, lanang x wadon).
Sebagai bentuk ansambel yang lengkap Gong Kebyar terdiri dari 10 buah gangsa
berbilah dengan rincian dua ugal, empat pemade, dan empat kantilan; 2 jegogan, 2 jublag,
dua penyacah, satu tungguh reyong berpencon 12, satu tungguh terompong berpencon 10,
sepasang kendang lanang wadon, satu tungguh kajar, satu tungguh kempli, satu tungguh
kempul, satu tungguh kemong, sepasang Gong lanang-wadon, sepangkon cengceng , 1-3
buah suling, dan satu tungguh rebab.
Jika dilihat dari fungsi instrumennya dapat dibagi tiga kelompok yaitu sebagai
pemangku lagu yaitu instrumen-intrumen yang memagang jalannya lagu seperti kantilan,
pemade, ugal, penyacah, jublag, jegogan, terompong, rebab dan suling; sebagai pemangku
irama yaitu kemong, kempul, kajar, kempli, gong, dan sebagai pemurba irama adalah
kendang bersama-sama dengan cengceng yaitu instrumen yang mengatur cepat lambat, keras
lemah, dan memberhentikan lagu. Selain itu instrumen kolotomik yang memegang ruas-ruas
dan hukum-hukum lagu adalah penyacah, jublag, jegogan, kemong, kempli, kempul, dan
gong.

IV. SEJARAH GAMELAN BALI


a. Gol Tua (Gender Wayang, Selonding, Gambang, Angklung, Gong Luang, Caruk)

b. Gol.

Madya

(Gong

Gede,

Pagambuhan,

Palegongan,

Babarongan,

Joged

Pingitan/Gandrung, Semar Pagulingan)


c. Gol. Baru (Gong Kebyar, Gong Suling, Adi Merdangga, Bumbang, Semarandana, Genta
Pinarapitu, Gong Gede Saih Pitu, Salukat, Balaganjur, Tektekan, Bumbung Gebyog,
Okokan, Batel Ramayana, Manika Santi, Siwanada, Kendang Mabarung, Jegog,
Terompong Beruk, Kembang Kirang, Angklung Kebyar, Geguntangan, Joged Bumbung,
Gamelan Janger, Pereret, Balaganjur Semarandana, Genggong ) dll.

Perkembangan reportoar (klasik, modern, kontemporer)

Reportoar Klasik adalah jenis reportoar yang mana pola-pola lagunya telah diikat
dengan hukum-hukum atau uger-uger tertentu yang tidak boleh dilanggar. Contoh
tabuh-yabuh pegongan klasik seperti tabuh Pisan Pisang Bali, Tabuh Telu Gajah
Nongklang, Tabuh Telu Buaya Mangap, Tabuh Pat Semarandana, Tabuh Pat Jagul,
Tabuh Pat Banda Sura, Tabuh Nem Galang Kangin, Tabuh Kutus Pelayon, dsb. Begitu
pjula pada beberapa asambel lainnya seperti dalam pagambuhan, paarjaan,

dan

palegongan telah memiliki pakem tersendiri. Dalam lagu pegongan strukturnya masih

kuat dengan pola kawitan, pengawak, pengiba, pengisep, pengecet, dan pekaad.
Reportoar Kreasi adalah sebuah reportoar yang beranjak dari pengembangan tradisi
namun telah menunjukkan adanya modifikasi, variasi, baik secara bentuk maupun
isinya. Dalam konteks ini ditekankan pada sikap penggarap yang lebih terbuka dalam
mengekspresikan gagasannya baik dalam penggarapan karawitan instrumental
maupun iringan tari. Beberpa contoh karya tabuh kreasi baru adalah Tabuh Purwa
Pascima, Candra Metu, Kosalia Arini, Palguna Warsa, Swa Buana Paksa Karya
maestro tabuh I Wayan Beratha, Paksi Angelayang karya Nyoman Astita, Wahyu Giri
Suara (87), Candra Baskara (1998) Lekesan (2000), Kuda Mandara Giri (2001), Gelar

Sanga (2007), Mas Kumambang (2010) karya Nyoman Windha. Demikian pula
karya-karya generasi berikutnya seperti Darya, Widia, Subandi, Suandita, dll. Dalam
penataan iringan tari seperti Kidang Kencana, Belibis, Manuk Rawa, Jaran Teji oleh
Wayan Beratha, Cendrawasih, Puspanjali, Sekar Jagat, Iringan Gopala oleh Ktut Gde
Asnawa, Tari Satya Brasta dan Garuda Wisnu Kencana oleh Nyoman Cerita, tari
Puspanjali Sekar Jagat, Gadung Kasturi, Cendrawasih, Belibis,oleh NLN Swasti
Wijaya.
Reportoar kontemporer adalah sebuah karya yang telah mengekspresikan gagasan
baru, yang tidak lagi terikat dengan aturan-aturan tradisi. Orientasi ditekankan pada hasil
penemuan baru dan kosep-konsep secara eksperimental. Dalam karya kontemporer justru
kebaharuan adalah menjadi tantangan utama dalam konsep karyanya. Selain originalitas,
kepekaan kreatif, dan juga ide dan konsep yang ditawarkan. Contoh karya Ketut Gde Asnawa
yang bejudul Kosong, Eka Dasa Rudra (Astita), Sangkep (Windha), Jass Fusion (Windha),
Body Cak (Dibia), Ngelawang (Suteja),
Seniman yang kini masih getol berkarya kontemporer adalah Made Yudana, I Nyoman
Windha, Made Subandi, Agus Teja, Dewa Alit, Arnawa, Gde Arsana, Wayan Sudiarsa (Pacet)
sementara di bidang Tari yang kini masih tekun membidangi dunia konetmporer adalah
Nyoman Sura, Ketut Suteja, Gde Tegeh, dan Gung Rama.

IV.

Fungsi seni
Curt Sachs dalam Word History of the Dance merumuskan ada dua fungsi utama tari

yakni untuk tujuan-tujuan magis dan sebagai tontonan. Gertrude Prokosch (G.P.) Kurath

dalam artikelnya Panorama of Dance Etnology secara rinci mengutarakan ada 14 fungsi tari
dalam kehidupan manusia yaitu: untuk inisiasi kedewasaan, 2) percintaan, 3), persahabatan,
4) perkawinan, 5) pekerjaan, 6) pertanian, 7) perbintangan, 8) perburuan, 9) menirukan
binatang, 10) menirukan perang, 11) penyembuhan, 12) kematian, 13) kerasukan, 14)
lawakan.
Seorang pakar tari dari Indonesia bernama RM. Soedarsono mengelompokan
fungsi seni menjadi tiga yaitu sebagai 1) sebagai sarana ritual, 2) sebagai ungkapan
dan hiburan pribadi, dan 3) sebagai presentasi estetis.
Seorang etnomusikolog bernama Alan P. Merriam menjelaskan ada 9 fungsi musik
etnis yaitu:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Sebagai kenikmatan estetis (pencipta maupun penonton)


Hiburan bagi seluruh warga masyarakat
Komunikasi bagi warga masyarakat yang memahami musik
Representasi simbolis
Respon Fisik
Memperkuat komformitas norma-norma sosial
Pengsahan isntitusi-institusi sosial dan ritual-ritual keagamaan
Sumbangan pada pelestarian dan stabilitas kebudayaan
Sebagai pengikat solidaritas sosial

Proses

modernisasi

melalui

gelombang

arus

pariwisata

tidak

dipungkiri

mengakibatkan terjadinya proses kreativitas kesenian yang mengarah pada proses


komodifikasi. Hal ini terjadi karena ada upaya-upaya untuk mengkemas bentuk kesenian
tertentu untuk pemenuhan kebutuhan seni wisatawan. Akibatnya, komersialisasi dalam
bidang seni tak terhindarkan. Muncul keinginan untuk menyuguhkan potensi kesenian yang
unik dan eksotik. Mengantisipasi desakralisasi dalam bidang kesenian, maka tahun 1971
pemerintah propinsi Bali melalui Listibiya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan
Kebudayaan) telah menetapkan bentuk-bentuk kesenian Bali yang boleh dan tidak boleh
disajikan untuk wisatawan. Keputusan tersebut melahirkan pengklasifikasian kesenian Bali

menjadi tiga golongan yakni jenis kesenian wali (sakral), bebali (semi sakral), dan balihbalihan (sekuler). Kesenian sakral sangat ditabukan untuk dipertunjukkan sebagai konsumsi
wisatawan. Untuk memenuhi tuntutan wisatawan akan seni yang eksotik maka oleh seniman
Bali dilakukan upaya pengkemasan seni turistik. Kemasan seni wisata ini tidak melanggar
prosedur seni sakral, karena dalam proses penciptaannya memang jauh dari atribut yang sarat
dengan makna-makna simbolis. Untuk membedakan dengan seni sakral, ada lima ciri seni
wisata yang dikemukakan oleh Soedarsono (1999:3) yaitu; (1) tiruan dari aslinya; (2) singkat,
padat atau bentuk mini dari aslinya; (3) penuh variasi; (4) ditanggalkan nilai-nilai sakral,
magis, serta simbolisnya; dan (5) murah harganya. Jadi untuk membedakan seni sakral dan
seni profan juga dapat diamati dari proses penciptaannya. Sebuah barong atau rangda yang
akan disakralkan dalam proses penciptaannya memerlukan berbagai sarana upacara (sesajen)
dari sejak perencanaan menentukan pohon kayu yang akan dijadikan tapel (topeng), sampai
proses sakralisasi (mingetin, ngepel, napak, melaspas, pasupati dan ngerehang/mintonin).
Sementara produk kemasan seni wisata tanpa melalui proses yang rumit. Bahan dasar kayu
dapat dibeli di mana saja. Untuk memulai proses pengerjaan tidak memerlukan sarana
upacara khusus. Namun dari segi produk tidak jarang sepintas kelihatan sama dengan produk
benda-benda sakral. Hal ini terjadi karena memang produk kemasan wisata mengimitasi
produk sakral sebelumnya hanya simbol-simbol sakralnya telah distorsi untuk memenuhi
kebutuhan seni turistik yang dapat dimanfaatkan masyarakat setempat.
Dilihat dari proses kemasan seni yang demikian, terkait seni pertunjukan wisata maka
muncul beberapa istilah, yang oleh J. Maquet disebut sebagai art by destination (seni yang
ditujukan bagi masyarakat setempat), tourist art (seni wisata/turistik), art of acculturation
(seni akulturasi) atau pseudo tradisonal art (seni pseudo-tradisional), art by metamorphosis
(seni yang telah mengalami perubahan bentuk) (Soedarsono,1999:3)

Dampak dari kemasan seni wisata adalah semakin berkembangnya kesenian tertentu yang
dulunya sangat ditabukan untuk umum. Ini berarti seni sakral yang dulunya hanya hidup
dalam sebuah komunitas kini telah semakin eksis dan berkembang pesat dengan fungsi yang
semakin berkembang pula. Sebagai contoh gamelan Selonding yang sangat disakralkan,
dulunya hanya hidup dan berkembang di daerah Karangasem, kini telah tersebar luas tidak
hanya di Bali tetapi juga sampai ke luar negeri. Demikian pula fungsi awalnya untuk
mendukung upacara ritual kini telah difungsikan juga untuk olah kreativitas dalam bidang
musik kreasi baru bahkan kontemporer.
Begitu kuatnya tradisi musik instrumental yang tersebar sampai ke pelosok-pelosok desa,
secara tidak langsung telah memberikan apresiasi terhadap seni suara berlaras pelog atau
selendro. Implikasinya, nada-nada yang didengar dalam gamelan ternyata juga menjadi
tangga nada yang digunakan dalam seni olah vokal. Habitus seperti ini sedikit tidak
berpengaruh terhadap proses pembelajaran penguasaan tembang secara lebih mudah.
Logikanya, orang yang telah memiliki sensitivitas titi laras tentu akan lebih mudah untuk
menguasai reportoar lagu.

Refrensi
Aryasa, IWM. 1983. Pengetahuan Karawitan Bali.Jakarta: Depdikbud. Dirjen. Dikdasmen.,
Dirdikmenjur.
Collin McPhee, 1966. Music in Bali.Yale University Press.
Dibia, I Wayan. 1997. Selayang Pandang Seni Pertunjukan. Denpasar:

Soedarso. 1998. Seni dan Keindahan dalam Pidato Ilmiah Pengukuhan Jabatan Guru Besar
Tetap pada Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, 30 Mei 1998.
Sudiardja, A. 1983. Susanne K. Langer Pendekatan Baru dalam Estetika, dalam
M.Sastrapratedja (ed). Manusia Multi Dimensional:Sebuah Renungan Filsafat. Jakarta:
PT Gramedia.

Anda mungkin juga menyukai