Anda di halaman 1dari 3

Nomor Dokumen :

STANDAR OPERASIONAL
PROSEDUR (SOP)
TATA KELOLA VAKSIN DI
PUSKESMAS

Tanggal Terbit :
Nomor Revisi :
Halaman: 1/3

PUSKESMAS
NGALIYAN
Dibuat oleh :

Sinta Tri Ciptarini, S.Ked


H2A011042
DEFINISI

TUJUAN
PETUGAS

Disetujui oleh :
Petugas Tata Kelola Vaksin

Disahkan oleh :
Kepala Puskesmas Ngaliyan

Puji Rahayu Am. Keb


dr. Wahidah Nofridalia, M.Kes
NIP : 196602251990032005
NIP : 19611151989032006
Vaksin adalah bahan antigenik yang digunakan untuk
menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga
dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh
organisme
Sebagai acuan dalam pengelolaan vaksin
Bidan yang bertugas sebagai pengelola vaksin
1. Vaksin

PERALATAN

PROSEDUR

2. Lemari es khusus
3. Vaksin carrier dengan cold pack
4. Pengukur suhu lemari es
5. Indikator suhu lemari es
6. Dokumen pencatatan pengelolaan vaksin
Penyimpanan vaksin:
1. Vaksin di simpan di lemari es pada suhu 20 -80C
2. Susunan dus vaksin dalam lemari es diberi jarak antara 2
jari untuk pertukaran udara
3. Vaksin FS (Frezee Sensitive = DPT,HB,DT,TT)
diletakkan jauh dengan bagian paling dingin dalam
lemari es (evaporator). Vaksin HS (Heat Sensitive =
Polio, Campak, BCG) diletakkan dekat dengan
evaporator.
4. Lemari es dibuka seminimal mungkin setiap harinya
untuk menjaga stabilitas suhu penyimpanan.
5. Suhu dipantau setiap hari (pagi dan siang) dan dicatat
pada grafik suhu lemari es
6. Melakukan pemeliharaan lemari es 2 minggu sekali

Prosedur Pengeluaran vaksin dan pelarut dari lemari es


1. Menententukan seberapa banyak vial vaksin yang
dibutuhkan untuk pelayanan sebelum membuka lemari
es
2. Mencatat suhu di dalam lemari es
3. Memiilih dan mengeluarkan vaksin sesuai ketentuan
yang telah ditetapkan untuk alat pemantau botol vaksin
(VVM) dan tanggal kedaluarsa
Prosedur permintaan vaksin untuk pelayanan di klinik KIA,
Posyandu, dan unit terkait
1. Mengajukan permohonan resmi permintaan vaksin
kepada petugas pengelola vaksin Puskemas
2. Vaksin yang diminta harus sesuai dengan kebutuhan
sasaran
3. Vaksin dibawa dengan menggunakan vaksin carrier atau
cold box yang diisi cool pack dengan jumlah yang sesuai
Prosedur permintaan vaksin dari Puskesmas ke DKK
1. Mengajukan permohonan resmi permintaan vaksin dari
Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kota
2. Permintaan vaksin mempertimbangkan stok vaksin bulan
sebelumnya dan daya tampung penyimpanan vaksin
Prosedur Penerimaan Vaksin dari DKK ke Puskesmas
1. Penerimaan vaksin dilakukan dengan cara diantar oleh
DKK atau diambil oleh puskesmas
2. Distribusi vaksin menggunakan cold box atau vaksin
carrier yang disertai dengan cool pack
3. Disertai dengan dokumen pengiriman berupa Surat Bukti
Barang Keluar (SBBK) dan Vaccine Arrival report
(VAR)
4. Pada setiap cold box atau vaksin carrier disertai dengan
indikator pembekuan
5. Vaksin yang diterima masuk ke gudang obat Puskesmas
6. Pengelola gudang obat menyerahkan tanggung jawab
pengelolaan vaksin kepada petugas pengelola vaksin
Prosedur pemeriksaan keamanan vaksin
1. Memeriksa label vaksin dan pelarut. Jika label tidak ada,
vaksin atau pelarut tidak boleh digunakan.
2. Memeriksa alat pemantau botol vaksin (VVM)
3. Memeriksa tanggal kadaluarsa
4. Memeriksa alat pemantau suhu beku dalam lemari es.
Jika indikator menunjukkan adanya pembekuan atau
diperkirakan vaksin yang sensitif beku (vaksin-vaksin
DTP, DT, TT, HepB, DTP-HepB ) telah membeku,
sebaiknya dillakukan tes kocok.

Pemeliharaan cold chain atau sistem rantai dingin vaksin


selama pelaksanaan imunisasi
1. Selama pelayanan imunisasi, vaksin dan pelarut harus
disimpan dalam vaccine carrier dengan menggunakan
cold pack, agar suhu tetap terjaga pada temperature 20-80
C dan vaksin yang sensitive terhadap pembekuan tidak
beku
2. Hindari vaccine carrier yang berisi vaccine dari cahaya
matahari langsung
3. Sebelum sasaran datang vaksin dan pelarut harus
tersimpan dalam vaccine carrier yang tertutup rapat
4. Jangan membuka vaccine atau melarutkan vaccine bila
belum ada sasaran datang
5. Pada saat pelarutan, suhu pelarut dan vaksin harus sama
6. Petugas imunisasi tidak diperbolehkan membuka vial
baru sebelum vial lama habis
7. Bila sasaran belum datang, vaksin yang sudah dilarutkan
harus dilindungi dari cahaya matahari dan suhu luar,
seharusnya dengan cara diletakkan di lubang busa yang
terdapat diatas vaksin carrier
8. Dalam setiap vaccine carrier sebaiknya terdapat empat
cool pack
9. Bila vaksin yang sudah dilarutkan sudah habis, pelarutan
selanjutnya dilakukan bila telah ada anak yang hendak
diimunisasi.

UNIT TERKAIT

REFERENSI

Prosedur Pelaporan
1. Pelaporan pengelolaan vaksin dilakukan satu bulan
sekali
2. Pelaporan vaksin dibuat per item vaksin
3. Rekapitulasi data dilakukan setiap tanggal 25
4. Laporan pengelolaan vaksin disetuji oleh Kepala
Puskesmas Ngaliyan dan diajukan ke Dinas Kesehatan
Kota Semarang
1. Klinik MTBS
2. Klinik KIA/KB
3. Dinas Kesehatan
4. Posyandu
5. Puskesmas Pembantu (Pustu)
6. Bidan Praktek Mandiri (BPM)
7. Rumah Sakit Permata Medika
1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
42 Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Imunisasi
2. Wawancara kebiasaan tata kelola vaksin dari pengelola
vaksin dan Kepala Puskemas