Anda di halaman 1dari 9

SISTEM PEMERINTAHAN NEGARA MALAYSIA

Malaysia

Nama resmi: Malaysia


Bahasa resmi: Malaysia (resmi); Inggris; Cina (Kanton, Mandarin, Hokkien,
Hakka, Hainan, Foochow); Tamil; Telugu; Malayalam; Panjabi; Thai.
Ibukota: Kuala Lumpur
Luas wilayah (km2): 329.750 ---- [Populasi Malaysia per 2005 adalah
25.580.000. Bahasa resminya Melayu dan Inggris. Agama yang dianut para
penduduk adalah Islam (60,4%), Buddha (19,2%), Kristen (9,1%), Hindu (6,3%),
Konghucu/Tao/Agama Cina lainnya (2,6%), agama lainnya (2,4%). Komposit

etnisnya Melayu dan asli melayu lainnya (65,1%), Cina (26%), India (7,7%), lainnya
(1,2%).] - Malaysia terletak di 2 wilayah terpisah. Satu di barat di ujung semenanjung
Malaya. Satu di timur yaitu di pulau Kalimantan (Indonesia). Di malaysia barat,
utara berbatasan dengan Thailand, selatan dengan selat Malaka dan Selat Singapura,
barat dengan Selat Malaka, dan timur dengan wilayah laut Cina Selatan. Di Malaysia
timur, utara berbatasan dengan Laut Cina Selatan, selatan dengan Indonesia, barat
dengan Laut Cina Selatan, dan Timur dengan Laut Sulu. Batas darat dengan Brunei
sepanjang 381 km, dengan Indonesia 2004 km, dan dengan Thailand 506 km. Garis
pantai Malaysia adalah 4675 km.

Penduduk: 29.628.392 orang.

Etnis: Melayu 50,4%; Cina 23,7%; asli 11%; India 7,1%; lainnya 7,8%.

Agama: Islam (resmi) 60,4%; Buddha 19,2%; Kristen 9,1%; Hindu 6,3%;
Konfusian; Tao; agama tradisional Cina lainnya 2,6%; lainnya 1,5%; tidak
beragama 0,8%.

Jenis kekuasaan: Monarki Konstitusional

Bentuk negara: Federasi [Malaysia adalah federasi 13 negara bagian. Dalam


konstitusi setiap negara bagian (negeri-negeri), konstitusi Malaysia harus dimuat
terlebih dahulu sebelum konstitusi masing-masing negara bagian. Konstitusi negara
bagian harus mengadopsi konstitusi federal. Ke-13 negara bagian Malaysia adalah:
(1) Johor, (2) Kedah, (3) Kelantan, (4) Melaka, (5) Negeri Sembilan, (6) Pahang, (7)
Perak, (8) Perlis, (9) Pulau Pinang, (10) Sabah, (11) Sarawak, (12) Selangor, dan (13)
Terengganu. Selain itu terdapat 1 wilayah yang merupakan teritori federal yaitu
(Wilayah Persekutuan) yang terdiri atas 3 wilayah pembentuk yaitu (1) Ibukota
Kuala Lumpur, (2) Labuan, dan (3) Putrajaya.]

Sistem
pemerintahan: Parlementer [Malaysia
menganut
sistem
parlementer model Westminster. Kepala negara dipegang oleh Yang Dipertuan
Agong. Ia dipilih setiap 5 tahun oleh sebuah lembaga bernama Conference of Ruler.
Kepala negara berwenang mengangkat Perdana Menteri (PM). PM ini kepala
pemerintahan dan figur dominan dalam pemerintahan negara Malaysia.]

Parlemen: Bikameral(DewanRakyat/House
ofRepresentatives+ DewanNegara/Senate)-[Dewan Rakyat (DR) dipilih
lewat pemilu luber. Partai mayoritas di parlemen memiliki kans besar agar kadernya
diangkat sebagai PM olehYang Dipertuan Agong. PM ini bertanggung jawab kepada
DR. Di pihak lain, Dewan Negara (DN) bermasa tugas 3 tahun. Anggotanya sebagian
dipilih oleh DR, sebagian diangkat oleh Yang Dipertuan Agong berdasarkan nasehat
PM. Tugas DN memonitor kinerja DR. Selain DR dan DN, juga ada lembaga yang
disebutConference of Ruler (CoR). CoR terdiri atas para penguasa (atau keturunan)
dari 9 negara federasi Malaysia. Yang Dipertuan Agong berasal dari salah satu antara
mereka.]
A. Zaman Penjajahan Malaysia
Pemukiman Selat (Bellato Settlements) Koloni Mahokota (Accretia Colony)
Britania dibentuk pada 1826, dan Britania sedikit demi sedikit menyebarkan
pengaruh dan kawalannya kepada seluruh semenanjung. Pemukiman Selat
termasuk Pulau Pinang, Singapura dan Melaka.

Pada 1867, Inggris menjadi semakin agresif dan mulai meraba-raba


pemimpin malaysia. Akibat perang saudara, terjadi gangguan persatuan di China,
Britania telah dipilih untuk menyelesaikan masalah-masalah penduduk Negeri Selat.
Akhirnya, Perjanjian Pangkor ditandatangani yang mengakibatkan perluasan
kekuasaan Britania
kenegeri-negeri
Melayu
(yaitu Perak, Pahang, Selangor dan Negeri Sembilan yang juga dikenal sebagai
Negeri-negeri Berkutu). Negeri-negeri lain yang dikenali sebagai Negeri-Negeri
Tidak Berkutu lagi ialah Perlis, Kedah, Kelantan, dan Terengganu yang berada di
bawah kuasa Thailand.
Di Borneo pula, Borneo Utara Britania yang dulu berada di bawah
pemerintahan Kesultanan Sulu (sekarang Sabah) ditabalkan sebagai Koloni Kerajaan
Britania,
manakala Sarawak menjadi
milik
keluarga
Brooke.
Akibat
penaklukan Jepang pada Perang Dunia II dan kebangkitan komunis, dukungan
untuk kemerdekaan semakin kuat. Saat Britania menginginkan pembentukan Uni
Malaya setelah berakhirnya perang, masyarakat Melayu bangun menentang dan
menginginkan sistem yang nubie-Melayu, Singapura akhirnya melepaskan diri dari
MALAYSIA dan membentuk negara sendiri. dan meminta sistem kewarganegaraan
tunggal (berbanding dwiwarganegara, yang mengizinkan kaum pendatang mendapat
status warganegara Malaya dan negara asal mereka).
B. Selepas Perang
Persekutuan yang baru diwujudkan di bawah nama Malaysia pada 16
September 1964 melalui
Sarawak. Kesultanan
Brunei yang
pada
mulanya
menyatakan hasrat untuk menyertai Malaysia menarik diri akibat tentangan
sebahagian masyarakat Brunei. Pada awal terbentuknya Malaysia, banyak masalah
yang
terjadi
misalnya
dengan Indonesia ("Konfrontasi"),
dan
tuntutan
oleh Filipina terhadap Sabah. Selain itu, pada 1965, Singapura menarik diri daripada
Malaysia dan kemudian terjadinya kerusuhan etnis pada 1969.
C. Sistem Pemerintahan Malaysia
Malaysia merupakan Negara yang berbentuk federasi. Dimana Malaysia
terdiri dari tiga belas negara bagian dan tiga wilayah persekutuan yaitu persekutuan
Kuala Lumpur, Labuan Island dan Putrajaya sebagai wilayah administratif federal.
Setiap Negara bagian memiliki majelis, dan pemerintah negara bagian dipimpin oleh
kepala menteri (chief minister) dimana kepala menteri di tiap Negara bagian
diangkat oleh majelis Negara bagian.
Dalam Negara federal seperti Malaysia maka ada kekuasaan federal dan ada
kekuasaan Negara bagian. Soal-soal yang menyangkut negara dalam keseluruhannya
diserahkan kepada kekuasaan federal. Dalam hal tertentu misalnya mengadakan
perjanjian internasional atau mencetak uang, pemerintah federal bebas dari Negara
bagian dan dalam bidang itu pemerintah federal mempunyai kekusaan yang
tertinggi. Tetapi, untuk soal yang menyangkut Negara bagian belaka dan tidak
termasuk kepentingan nasional, diserahkan kepada kekuasaan Negara-negara
bagian. Jadi, dalam soal-soal semacam itu pemerintah Negara bagian bebas dari
pemerintah federal misalnya, soal kebudayaan, kesehatan pendidikan.

Bentuk pemerintahan Malaysia adalah monarki konstitusional, yaitu berupa


Negara kerajaan yang diatur oleh konstitusional. Dimana kepala negaranya
merupakan seorang raja yang disebut dengan Yang di-Pertuan Agong (Raja
Malaysia). Yang di-Pertuan Agong dipilih dari dan oleh sembilan Sultan NegeriNegeri Malaya, untuk menjabat selama lima tahun secara bergiliran; empat
pemimpin negeri lainnya, yang bergelar Gubernur, tidak turut serta di dalam
pemilihan.
Sistem pemerintahan yang dianut oleh Malaysia adalah system parlementer.
Sistem parlementer yang dipakai oleh Malaysia bermodelkan sistem parlementer
Westminster, yang merupakan warisan Penguasa Kolonial Britania. Tetapi apabila
melihat prakteknya , kekuasaan lebih terpusat di eksekutif daripada di legislatif, dan
judikatif diperlemah oleh tekanan berkelanjutan dari pemerintah selama zaman
Mahathir, kekuasaan judikatif itu dibagikan antara pemerintah persekutuan dan
pemerintah negara bagian. Dalam system pemerintahan Malaysia yang menjadi
kepala pemerintahan adalah seorang perdana menteri.
Sistem politik Malaysia dapat dikatakan demokrasi, hal ini dapat dilihat dari
adanya pembagian kekuasaan dan adanya pelaksanaan pemilu meskipun kalau
dilihat lebih dalam tidak begitu demokratis karena tidak jurdil. Di Malaysia, seperti
kebanyakan Negara lainnya kekuasaan Negara terdiri dari badan eksekutif, legislatif,
dan yudikatif.
Kekuasaan eksekutif dilaksanakan oleh kabinet yang dipimpin oleh perdana
menteri; konstitusi Malaysia menetapkan bahwa perdana menteri haruslah anggota
dewan rendah (Dewan Rakyat), yang direstui Yang di-Pertuan Agong dan mendapat
dukungan majoritas di dalam parlemen. Kabinet dipilih dari para anggota Dewan
Rakyat dan Dewan Negara dan bertanggung jawab kepada badan itu.; sedangkan
kabinet merupakan anggota parlemen yang dipilih dari Dewan Rakyat atau Dewan
Negara.
Dalam kekuasaan legislatif Malaysia memiliki sistem bikameral yang terdiri
dari Senat (Dewan Negara) dan House of Representatives (Dewan Rakyat). Senat
menguasai 70 kursi di parlemen sementara HoR menguasai 219 kursi. 44 anggota
Senat ditunjuk oleh pemimpin tertinggi sementara 26 lainnya ditunjuk oleh badan
pembuat UU di negara bagian. Anggota HoR dipilih melalui popular vote untuk
masa jabatan selama 5 tahun.
Dalam hal kekuasaan Yudikatif, sistem hukum di Malaysia berdasar pada
hukum Inggris dan kebanyakan UU serta konstitusi diadaptasi dari hukum India. Di
Malaysia terdapat Federal Court, Court of Appeals, High Courts, Session's Courts,
Magistrate's courts dan Juvenile Courts. Hakim Pengadilan Federal ditunjuk oleh
pemimpin tertinggi dengan nasehat PM. Pemerintah federal memiliki kekuasaan
atas hubungan luar negeri, pertahanan, keamanan dalam negeri, keadilan,
kewarganegaraan federal, urusan keuangan, urusan perdagangan, industri,
komunikasi serta transportasi dan beberapa urusan lain.
.Pemilihan umum parlemen Malaysia dilakukan paling sedikit lima tahun
sekali. Pemilih terdaftar berusia 21 tahun ke atas dapat memberikan suaranya
kepada calon anggota Dewan Rakyat dan calon anggota dewan legislatif negara
bagian juga. Di beberapa negara bagian, Voting tidak diwajibkan. Malaysia
menganut sistem multipartai. Seperti Indonesia, banyak sekali partai politik di
Malaysia, sekitar 33 parpol. Namun, berbeda dengan Indonesia, pemilu hanya

diikuti dua kontestan, yaitu parpol yang tergabung dalam Barisan Nasional (BN) dan
parpol yang tergabung dalam Barisan Alternatif(BA).
BN adalah koalisi partai penguasa yang ditulangpunggungi UMNO (United
Malays National Organization), MCA (Malaysian Chinese Association), dan MIC
(Malaysian India Congress), serta sebelas partai pendukung lainnya.Ada pun BA
adalah kumpulan partai oposisi yang dipimpin PAS (Partai Islam se-Malaysia), PKR
(Partai Keadilan Rakyat), DAP (Democratic Action Party), dan16 partai pendukung
lainnya.
Di Malaysia, yang menganut sistem parlementer, pelaksanaan pemilu bisa
disederhanakan sedemikian rupa sehingga memudahkan pemilih dalam
menentukan pilihan. Partai-partai dengan latar belakang ras dan ideologi yang
beragam itu bertarung dalam dua bendera koalisi, yang dijalin sebelum dan sesudah
pemilu,
serta
dilakukan
secara
permanen.
Kerangka konstitusional sistem politik Malaysia memang bersifat demokratis.
Namun, kerangka demokratis itu disertai kontrol otoritarian yang luas untuk
menyumbat oposisi yang efektif. Karena itu, sulit dibayangkan partai pemerintah
bisa kalah. Sejak awal, sistem politik Malaysia merupakan campuran dari
karakteristik responsif dan represif. Sistem pemilu Malaysia juga tidak jurdil. Sistem
dirancang untuk cenderung menguntungkan partai pemerintah sehingga hampir
mustahil ia dapat dikalahkan.
Dalam setiap pemilu, BN selalu memenangkan sekitar 3/5 suara dan
menguasai mayoritas kursi di parlemen. Bahkan, dalam Pemilu 1990 dan 1999,
ketika UMNO dilanda perpecahan serius dan BN dalam tekanan politis yang kuat
oleh
gerakan
reformasi,
oposisi
tetap
kalah.
Dengan demikian, pemilu pada praktiknya tidak bisa mengganti
pemerintahan, tetapi hanya memaksa pemerintah untuk lebih responsif. Pemilu
Malaysia hanyalah casting suara dari ritual rutin empat atau lima tahun sekali untuk
memperbarui sampul legitimasi pemerintahan otoritari. Cara-cara UMNO
memenangkan pemilu masih sama dengan cara hegemonik Golkar pada era Orde
Baru di Indonesia.
Sistem kekuasaan legelatif di Malaysia dibagi antara legeslatur persekutuan
dan legeslatur negeri. Parlemen Bikameral sendiri terdiri dari Dewan Rendah,
Dewan Rakyat-DPR dalam sistem di Indonesia, Dewan Tinggi Senat Dan Dewan
Negara Sebanyak 222 anggota Dean selama 5 tahun. Sementara 70 senator akan
memegang masa jabatan selama 2 tahun dimana 26 orang diantarannya dipilih oleh
13 majelis negeri bagian.
Sementara kekuasaan eksekutifnya dilaksanakan oleh cabinet yang dipimpin
oleh seorang perdana menteri. Dalam Konstitusi Malaysia ditetapkan bahwa perdana
menteri Malaysia haruslah anggota Dewan Rakyat yang kepemimpinannya diresti
oleh yang di Pertuan Agong dan mendapatkan mayoritas di parlemen. Sedangkan
cabinet dipilih dari para anggota Dewan Rakyat dan Dewan Negara yang kemudian
bertanggungjawab kepada badan tersebut.
D. Pemerintah Negara Bagian
Pemerintah Negara bagian dipimpin oleh menteri besar di negerinegeri
Malaysia atau ketua Menteri di Negara bagian yang tidak memiliki monarki lokal,
kemudian di tiap-tiap Negara bagian yang memiliki monarki lokal maka Menteri

besar haruslah seorang suku Melayu Muslim kukuasaan politik di Malaysia amat
penting untuk perjuangan suatu isu dan hak. Oleh karena itu kekuasaan memainkan
peranan yang amat penting dalam melakukan perubahan.
E. Proses Pemilihan Yang Di Pertuan Agong
Yang di-Pertuan Agong ialah gelaran rasmi ketua negara Malaysia. Gelaran
rasmi yang penuh adalah Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong. Oleh sebab
Malaysia mengamalkan sistem raja berperlembagaan, peranan Yang di-Pertuan
Agong kebanyakannya hanyalah sebagai istiadat. Perlembagaan menyatakan dengan
jelas bahawa kuasa eksekutif, secara teorinya di bawah kuasa ketua negeri,
dilaksanakan oleh Kabinet atau Jemaah Menteri yang diketuai oleh Perdana
Menteri.
Sejarah Pelantikan Yang Di-Pertuan Agong
Jabatan Yang di-Pertuan Agong diwujudkan hasil daripada Suruhanjaya Reid
yang merangka Perlembagaan Persekutuan.Cadangan jawatan Yang Dipertuan
Agong timbul berikutan tentangan terhadap penubuhan Malayan Union yang dilihat
ingin menghapuskan Institusi Raja-Raja Melayu. Pada Ogos 1957, setelah memilih
gelaran Yang di-Pertuan Agong dan menolak gelaran Yang di-Pertuan Besar yang
dicadangkan sebelum itu, Majlis Raja-Raja telah bersidang untuk mengundi
pemegang takhta yang pertama. Jika menurut tempoh lama memerintah, MajorJeneral Sultan Ibrahim ibni Sultan Abu Bakar (Sultan Johor), yang dilantik menjadi
pada tahun 1895, merupakan sultan yang paling lama memerintah, tetapi baginda
menolak perlantikan tersebut disebabkan telah lanjut usia (ketika itu baginda
berusia 84 tahun). Yang kedua dalam turutan, Sultan Sir Abu Bakar Riayatuddin AlMuadzam Shah ibni Almarhum Sultan Abdullah Al-Mutassim Billah Shah (Sultan
Pahang), yang memerintah pada tahun 1932, tidak mendapat mandat secukupnya
untuk dilantik. Yang lama memerintah seterusnya, Tuanku Abdul Rahman ibni
Almarhum Tuanku Muhammad dari Negeri Sembilan, yang menaiki takhta pada
tahun 1933, kemudiannya telah dilantik.
Ciri yang unik di seluruh dunia dalam sistem pemerintahan beraja Malaysia,
jawatan ini digilirkan setiap lima tahun antara sembilan Pemerintah Negeri Melayu.
Apabila menjawat jawatan Yang di-Pertuan Agong, seorang kerabat diraja akan
dilantik sebagai Pemangku dalam negeri tersebut.
Sistem Penggiliran Jabatan Yang Di-Pertuan Agong
Sistem penggiliran jawatan Yang di-Pertuan Agong setiap lima tahun
dianggap unik. Ini kerana ia menggabungkan tradisi feudal berasaskan keturunan
darah dengan konsep moden berasaskan perlembagaan. Malaysia satu-satunya
negara di dunia yang mengamalkan sistem penggiliran ketua negara. Sistem
penggiliran hanya diberikan kepada Raja-Raja Melayu dari negeri yang dulunya
dikenali Negeri-Negeri Melayu Bersekutu dan Negeri Melayu Tidak Bersekutu.
Negeri Bersekutu terdiri daripada Perak, Negeri Sembilan, Selangor dan Pahang.
Manakala Negeri Melayu tidak bersekutu Perlis, Kedah, Kelantan, Terengganu dan
Johor. Sementara itu Melaka, Pulau Pinang, Sabah dan Sarawak tidak berpeluang
walaupun mereka menganggotai Majlis Raja-Raja.

Selepas kisaran pertama sembilan Yang di-Pertuan Agong (1957-1994), aturan


menurut Pemerintah negeri adalah menurut kisaran yang telah digunakan sebelum
itu, yaitu:
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

1. Negeri Sembilan
Selangor
Perlis
Terengganu
Kedah
Kelantan
Pahang
Johor
Perak

Faktor Pemilihan Yang Di-Pertuan Agong


Pemilihan Yang di-Pertuan Agong berdasarkan kepada sistem giliran yang
telah ditetapkan. Terdapat beberapa faktor yang akan dipertimbangkan oleh Majlis
Raja-Raja melalui undi rahsia bagi menentukan pengganti bagi jawatan Yang diPertuan Agong seterusnya.
Syarat dipilih untuk menjadi Raja:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Kekananan di kalangan Sultan dan Raja


Baginda berkenan untuk menjadi Agong
Tidak mengalami kelemahan atau ketidak upayaan mental
Merupakan Raja yang berada di kedudukan teratas
Mendapat sokongan sekurang-kurangnya lima Raja lain
Dan bukan seseorang yang telah memegang jawatan Yang di-Pertuan Agong selama
dua penggal berturut-turut
Hanya yang terpilih sahaja boleh dipilih yaitu menurut darah keturunan tetapi
di dalamnya itu tersemat dan tersisip peraturan yang bercorak demokrasi moden
yaitu pemilihan secara moden. Keunikan tradisi ini bermula sejak tahun 1957, kuasa
yang dimiliki oleh Yang di-Pertuan Agong mengatasi segala Raja-Raja Melayu
sepanjang tempoh perlantikannya. Jika dibandingkan dengan England, Ratu
Elizabeth II, sistem perlantikan rajanya tidaklah seunik di Malaysia, ini kerana
sistem beraja England datang dari satu keluarga sahaja. Uniknya di Malaysia,
pemilihan ketua negara datang dari kalangan sembilan Sultan yang memerintah
Negeri-negeri Melayu.

F. SENARAI YANG DIPERTUAN AGONG


Yang di-pertuan agong yang pertama,
Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman ibni Al-Marhum Tuanku Muhammad
Memerintah dari 31 Ogos 1957 hingga 1 April 1960
Yang di-pertuan agong yang kedua,
Al-Marhum Tuanku Hisamuddin Alam Shah Ibni Al-Marhum Sultan Alaiddin
Sulaiman
Shah

Memerintah dari 14 April 1960 hingga 1 September 1960


Yang di-pertuan agong yang ketiga
Al-Marhum Tuanku Syed Putra ibni Al-Marhum Syed Hassan Jamalullail

Memerintah dari 21 September 1960 hingga 20 September 1965


Yang di-pertuan agong yang keempat
Al-Marhum Tuanku Ismail Nasiruddin Shah ibni Al-Marhum Sultan Zainal Abidin
Memerintah dari 21 September 1965 hingga 20 September 1970
Yang di-pertuan agong yang kelima
Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia Al-Sultan Almu`tasimu Billahi Muhibbuddin
Tuanku Alhaj Abdul Halim Mu`adzam Shah ibni Al-Marhum Sultan Badlishah
Memerintah dari 21 September 1970 hingga 20 September 1975
Yang di-pertuan agong yang keenam
Al-Marhum
Tengku
Yahya
Petra
ibni
Al-Marhum
Sultan
Ibrahim

Memerintah dari 21 September 1975 hingga 29 Mac 1979


Yang di-pertuan agong yang ketujuh
Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia Sultan Haji Ahmad Shah Al-Musta`in Billah ibni
Al-Marhum Sultan Abu Bakar Ri`Ayatuddin Al-Mu`adzam Shah.
Memerintah dari 26 April 1979 hingga 25 April 1984
Yang di-pertuan agong yang kelapan
Duli Yang Maha Mulia Baginda Sultan Iskandar ibni Al-Marhum Sultan Ismail
Memerintah dari 26 April 1984 hingga 25 April 1989
Yang di-pertuan agong yang kesembilan
Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Azlan Muhibbuddin Shah ibni Almarhum
Sultan Yusuf Izzuddin Shah Ghafarullahu-lah
Memerintah dari 26 April1989 hingga 25 April 1994
Yang di-pertuan agong yang kesepuluh
Duli Yang Maha Mulia Tuanku Ja`afar ibni Al-Marhum Tuanku Abdul Rahman
Memerintah dari 26 April 1994 hingga 25 April 1999
Yang di-pertuan agong yang kesebelas
Al-Marhum Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah Alhaj ibni Al-Marhum Sultan
Hisamuddin Alam Shah Alhaj.
Memerintah dari 26 April1999 hingga 21 November 2001
Yang di-pertuan agong yang keduabelas
Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Tuanku Syed Sirajuddin Ibni AlMarhum Tuanku Syed Putra Jamalullail
Tarikh dilantik menjadi Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong pada 13
Disember 2001

Yang di-pertuan agong yang ketigabelas


Seri Paduka Baginda Yang Di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan
Zainal Abidin Ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah
Tarikh dilantik menjadi Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong pada 13hb.
Disember 2006 .
Yang di-pertuan agong yang keempat belas
Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia Al-Sultan Almu`tasimu Billahi Muhibbuddin
Tuanku Alhaj Abdul Halim Mu`adzam Shah ibni Al-Marhum Sultan Badlishah
Tarikh dilantik menjadi Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong pada 13hb.
Disember 2011.
G. Proses Pemilihan Perdana Menteri Malaysia
Perdana Menteri Malaysia adalah kepala pemerintahan Malaysia. Perdana
Menteri dipilih Yang di-Pertuan Agong, Raja Malaysia, dari antara
anggota parlemen yang mendapat dukungan mayoritas dari parlemen. Biasanya
pemimpin partai politik terkuat dalam parlemen (Dewan Rakyat) yang dipilih
menjadi perdana menteri. Sejak kemerdekaannya pada tahun 1957, Perdana Menteri
semuanya berasal dari UMNO (United Malays National Organisation: Organisasi
Nasional Melayu Bersatu), partai terbesar dalamBarisan Nasional (dikenal
sebagai Parti Perikatan hingga 1969)