Anda di halaman 1dari 21

BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT DUSTIRA / FAKULTAS KEDOKTERAN UNJANI


CIMAHI
Nama penderita : Ny. Surayah
Ruangan : IX
No.cat. Med : 258486
Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 53 tahun

Jabatan /pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam
Bangsa : Indonesia

Nama & alamat keluarga : Terusan pasir koja rt 05 rw 07 Bandung

Dikirim oleh

: keluarga

Tgl. Dirawat : 04-08-20012

Jam

: 14.55

Tgl. Diperiksa (Co-ass) : 06-08-2012


Tgl. Keluar

Jam :

Penderita Meninggal :

Jam :

sembuh/perbaikan/pulang paksa/lain-lain

Diagnosa/diagnosa kerja
Dokter

: Anemia ec susp Gastritis Erosiva + Febris

Co-Ass

: Anemia ec Gastritis Erosiva

ANAMNESA (Autoanamnesa dan heteroanamnesa)


KELUHAN UTAMA

: Lemah Badan

ANAMNESA KHUSUS

(Autoanamnesa)

Lemah badan dirasakan sejak 6 hari yang lalu. Keluhan lemah badan dirasakan timbul
mendadak setelah menempuh perjalanan jauh. Dan sepanjang perjalanan selama 9 jam pasien
tidak mengkonsumsi makan apapun kecuali air mineral. Keluhan lemah badan dirasakan
terus-menerus sepanjang hari dan semakin memberat.
Keluhan lemah badan disertai dengan kepala terasa pusing. Pusing dirasakan nyutnyutan. Pasien memiliki keluhan nafsu makan yang menurun sejak tahun 2009. Makan satu
sampai dua kali sehari dengan menu makanan biasanya nasi, tahu, tempe dan sayur. Pasien
sangat jarang memakan daging-dagingan merah karena pasien merasakan pusing setelah
memakan daging tersebut. Pasien juga mengeluhkan adanya penurunan berat badan , tetapi
pasien tidak tahu pasti kapan mulai terjadinya penurunan berat badan.

Pasien juga mengeluhkan adanya rambut rontok yang banyak ketika menyisir rambut,
dan kulit yang terasa kering, serta bibir pecah-pecah.
Keluhan tidak disertai dengan adanya demam, batuk-batuk lama, berkeringat pada
malam hari. Keluhan tidak disertai rasa lapar , rasa haus, banyak minum dan sering kencing.
Keluhan tidak disertai dengan adanya bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk,
mimisan dan perdarahan gusi yang sulit berhenti yang timbul baik spontan ataupun oleh
karena sikat gigi, keluhan juga tidak disertai dengan nyeri pada tulang-tulang terutama pada
dada dan sendi-sendi. Keluhan tidak disertai dengan mata kuning, buang air kecil seperti teh
pekat, buang air besar seperti dempul, perut membesar.
Pasien memiliki kebiasaan makan cuka dan suka makan makanan pedas. Pasien
mengeluh lemah badan pertama kali pada tahun 2009 dan dirawat di rumah sakit karena
perdarahan usus. Pasien telah dirawat sebanyak 5 kali dan telah menerima transfusi darah
sebanyak 7 kali dengan keluhan yang sama. Pada tahun 2009, dilakukan endoskopi pada
pasien dan ditemukan adanya perdarahan pada lambung pasien.
Pasien merasa BAB menjadi berwarna hitam sejak mengkonsumsi obat penambah
darah dari dokter.
a. Keluhan keadaaan umum
Panas badan
: Tidak ada
Tidur
: Tidak ada
Edema
: Tidak ada
Ikterus
: Tidak ada
Haus
: Tidak ada
Nafsu makan
: ada
Berat badan
: ada
b. Keluhan organ kepala
Penglihatan
: Tidak ada
Hidung
: Tidak ada
Lidah
: Tidak ada
Gangguan menelan : Tidak ada
Pendengaran
: Tidak ada
Mulut
: ada
Gigi
: Tidak ada
Suara
: Tidak ada
c. Keluhan organ di leher
Rasa sesak di leher : Tidak ada
Pembesaran kelenjar : Tidak ada
Kaku kuduk
: Tidak ada
d. Keluhan organ di thorax
Sesak napas
: Tidak ada
Nyeri dada
: Tidak ada

Napas berbunyi
Batuk
Jantung berdebar

: Tidak ada
: Tidakada
: Tidak ada

e. Keluhan organ di perut


Nyeri lokal
: Tidak ada
Nyeri tekan
: ada
Nyeri seluruh perut : Tidak ada
Nyeri berhubungan dengan ;
Makanan
: Tidak ada
b.a.b
: Tidak ada
haid
: Tidak ada
Perasaan tumor perut : Tidak ada
Muntah-muntah
: Tidak ada
Diare
: Tidak ada
Obstipasi
: Tidak ada
Tenesmi ad ani
: Tidak ada
Perubahan dlm b.a.b : ada
Perubahan dlm b.a.k : Tidak Ada
Perubahan dlm haid : Tidak ada
f. Keluhan tangan dan kaki
Rasa kaku
: Tidak Ada
Rasa lelah
: Tidak Ada
Nyeri otot/sendi : TudakAda
Kesemutan/baal-baal: Tidak ada
2

Patah tulang
: Tidak ada
Nyeri belakang sendi lutut: Tidak ada
Nyeri tekan
: Tidak ada
Luka/bekas luka : tidak ada
Bengkak
: Tidak ada
ANAMNESA TAMBAHAN
a. Gizi : kualitas
: kurang
kwantitas
: Cukup
b. Penyakit menular : Tidak ada
c. Penyakit turunan : Tidak ada
d. Ketagihan
: Tidak ada
e. Penyakit venerik : Tidak ada

g. Keluhan-keluhan lain
Kulit

: ada

Ketiak
: Tidak ada
Keluhan kel. limfe : Tidak ada
Keluhan kel. Endokrin ;
Haid
: tidak ada
D.M
: tidak ada
Tiroid
: Tidak ada
lain-lain
: Tidak ada

B. STATUS PRAESEN
I. KESAN UMUM
a. Keadaan Umum
Kesadarannya
Watak
Kesan sakitnya
Pergerakan
Tidur
Tinggi badan
Berat Badan
Bentuk badan
Keadaan gizi
Gizi kulit
Gizi otot
Umur yang ditaksir
Kulit

: Composmentis
: Kooperatif
: Sakit sedang
: Tidak Terbatas
: Telentang dengan satu bantal
: 155 cm
: 40 kg
: astenikus
: Cukup
: Cukup
: Cukup
: Sesuai
: Turgor kembali cepat,petekie(-) ekimosis (-) purpura(-)
kering

b. Keadaan sirkulasi
Tekanan darah kanan
Tekanan darah kiri
Nadi kanan
Nadi kiri
Suhu
Sianosis
Keringat dingin

: 110/70 mmHg
: 110/70 mmHg
: 88x/menit, regular, equal, isi cukup
: 88x/menit, regular, equal, isi cukup
: 36,8C
: Tidak ada
: Tidak ada

c. Keadaan pernafasan
Tipe
Frekwensi
Corak
Hawa/bau napas
Bunyi nafas

: torakoabdominal
: 22 x/ menit
: Normal
: Normal
: Tidak ada kelainan

PEMERIKSAAN KHUSUS
a. Kepala
1.
Tengkorak
Inspeksi
Palpasi
2.
Muka
Inspeksi
Palpasi
3.
Mata
Letak
Kelopak Mata

: Simetris
: Tidak ada kelainan
: Simetris, ikterik tidak ada
: Tidak ada kelainan
: Simetris
: Tidak ada kelainan

4.

5.

6.

7.

Kornea
Refleks Kornea
Pupil
Reaksi Konvergensi
Lensa mata
Sklera
Konjungtiva
Iris
Pergerakan
Reaksi Cahaya
Visus
Funduskopi
Telinga
Inspeksi
Palpasi
Pendengaran
Hidung
Inspeksi
Sumbatan
Ingus
Bibir
Sianosis
Kheilitis
Stomatitis angularis
Rhagaden
Perleche
Gigi dan gusi
8 7 6 5 4 xxx |
8 7 6 5 4 3 2 1 |

: Tidak ada kelainan


:+/+
: Bulat, isokor
:+/+
: Tidak ada kelainan
: Ikterik - / : Anemis + / +
: Tidak ada kelainan
: Normal ke segala arah
: Direk + / +, Indirek +/+
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Tidak dilakukan pemeriksaan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak ada
: ada
: Tidak ada
: Tidak ada
x xx4 5 6 7 8
1 23456 7 8

X
O

: tanggal
: karies

Perdarahan gusi : tidak ada


Lidah
- Besar
: Normal
- Bentuk
: Tidak ada kelainan
- Pergerakan
: Tidak ada kelainan
- Permukaan
: Mukosa Basah, bersih, anemis +
9. Rongga Mulut
- Hiperemis
: Tidak ada
- Lichen
: Tidak ada
- Aphtea
: Tidak ada
- Bercak
: Tidak ada
10.Rongga leher
- Selaput lendir
: Tidak ada kelainan
- Dinding belakang pharynx : Tidak hiperemis
- Tonsil
: T1 T1 tenang, hiperemis (-)
b. Leher
8.

-Inspeksi
Trachea
Kelenjar Tiroid
Pembesaran vena
Pulsasi vena leher
-Palpasi
Kel. Getah bening
Kelenjar Tiroid
Tumor
Otot leher
Kaku kuduk
3. Tekanan vena jugular
Hepato Jugular refluks
c. Ketiak
-Inspeksi
Rambut ketiak
Tumor
-Palpasi
Kel. Getah bening
Tumor

: Tidak terlihat deviasi


: Tidak terlihat pembesaran
: Tidak ada
: Tidak ada
: Tidak teraba membesar
: Tidak teraba membesar
: Tidak ada
: Tidak ada kelainan
: Tidak ada
: 5 + 2 cm H2O (Normal)
:-

: Tidak ada kelainan


: Tidak ada
: Tidak teraba pembesaran
: Tidak ada

d. Pemeriksaan thorax
Thorax depan
1.
Inspeksi
- Bentuk umum
: Simetris
- Sela iga
: Tidak melebar ,tidak menyempit
- Sudut epigastrium
: <90
- Diameter frontal-sagital : diameter frontal< diameter sagital
- Pergerakan
: Simetris
- Muskulatur
: Tidak ada kelainan
- Kulit
: Kering
- Tumor
: Tidak ada
- Ictus cordis
: Tidak terlihat
- Pulsasi lain
: Tidak ada
- Pelebaran vena
: Tidak ada
2.
Palpasi
- Kulit
: Tidak ada kelainan
- Muskulatur
: Tidak ada kelainan
- Mammae
: Tidak ada kelainan
- Sela iga
: Tidak melebar, tidak menyempit
- Paru
Pergerakan
: Simetris, kanan = kiri
Vocal fremitus
: normal, kanan = kiri
- Ictus cordis

3.

Lokalisasi
Intensitas
Pelebaran
Thrill

: ICS V, 7 cm linea midsternalis sinistra


: kuat angkat
: Tidak ada
: Tidak ada

Perkusi
Paru
Suara perkusi
: Sonor , kanan = kiri
Batas paru hepar : ICS VI linea midclavicularis dekstra
Peranjakan
: 1 sela iga
- Jantung
-

Batas atas
Batas kanan

: ICS II Linea sternalis Sinistra


: ICS IV Linea sternalis dextra

Batas kiri
: ICS V Linea midclavicularis sinistra
4. Auskultasi
- Paru-paru
Kanan
Kiri
Suara pernafasan pokok
: Vesikuler , kanan = kiri
Suara tambahan
: Tidak ada ( Wheezing - / -, Ronkhi - / - )
Vocal resonansi
: normal , kanan = kiri
- Jantung
Irama
: Regular
bunyi jantung pokok
: M1 > M2
P1 < P2
T1 > T2
A1 < A2
A2 > P2
Bunyi jantung tambahan : Tidak ada, murmur (-)
Bising jantung
: Tidak ada
Bising gesek jantung
: Tidak ada
Thorax belakang
1. Inspeksi
- Bentuk
: Simetris
- Pergerakan
: Simetris
- Kulit
: Tidak ada kelainan
- Muskulatur
: Tidak ada kelainan
2. Palpasi
- Muskulatur
: Tidak ada kelainan
- Sela iga
: Tidak melebar, tidak menyempit
- Vocal fremitus
: normal, kanan = kiri
3. Perkusi
kanan
kiri
- Batas bawah
: vertebra Th. X
vertebra Th. XI
- Peranjakan
: 1 sela iga
1 sela iga
4. Auskultasi
kanan kiri
- Suara pernapasan
: Vesikuler , kanan = kiri
- Suara tambahan
: Tidak ada (Wheezing - / -, Ronkhi - / -)
- Vocal resonansi
: normal, kanan = kiri
e. Abdomen
1.
Inspeksi

Bentuk
: Datar
Kulit
: Tidak ada kelainan
Otot dinding perut
: Tidak ada kelainan
Pergerakan waktu nafas
: Normal
Pergerakan usus
: Tidak terlihat
Pulsasi
: Tidak ada
2.
Palpasi
- Dinding perut
: Lembut
- Nyeri tekan lokal : ada
X
- Nyeri tekan difus : Tidak ada
X
- Nyeri lepas
: Tidak ada
- Defance muskulair : Tidak ada
- Hepar
: Tidak teraba
Besar
: Konsistensi
: Permukaan
: Tepi
: Nyeri tekan
: NT (-)
- Lien
: Tidak teraba, Ruang Traube tidak terisi
Pembesaran
: Kosistensi
: Permukaan
: Insisura
: Nyeri tekan
: NT (-)
- Tumor/massa
: Tidak teraba
- Ginjal
: Tidak teraba,
Nyeri tekan : - / 3.
Perkusi
Suara perkusi
: Tympani
Ascites
Pekak samping
: Tidak ada
Pekak pindah
: Tidak ada
Fluid wave
: Tidak ada
4.
Auskultasi
- Bising usus
: (+) Normal
- Bruit
: Tidak ada
- Lain lain
: Tidak ada kelainan
f. CVA(Costo vertebral angel)
: Nyeri ketok - / g. Lipat paha
1. Inspeksi
- Tumor
: Tidak ada
- Kel. Getah bening
: Tidak terlihat pembesaran
- Hernia
: Tidak ada
2. Palpasi
- Tumor
: Tidak ada
- Kel. Getah bening
: Tidak teraba pembesaran
- Hernia
: Tidak ada

- Pulsasi A. Femoralis : Ada


3. Auskultasi
- A. Femoralis
: Tidak ada kelainan
h. Genitalia
: Tidak dilakukan pemeriksaan
i. Sacrum
: Tidak dilakukan pemeriksaan
j. Rectum & anus
: Tidak dilakukan pemeriksaan
k. Ekstremitas ( anggota gerak )
atas
bawah
1. Inspeksi
- Bentuk
: Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
- Pergerakan
: Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
- Kulit
: Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
- Otot otot
: Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
- Edema
: Tidak ada
Tidak ada
- Clubbing finger : Tidak ada
- Palmar eritem : Tidak ada
- Spoon nail
: Tidak ada
2. Palpasi
Nyeri tekan
: Tidak ada
Tidak ada
Tumor
: Tidak ada
Tidak ada
Edema (pitting/non pitting) : Tidak ada
Tidak ada
Pulsasi arteri
: Ada
Ada
l. Sendi-sendi
Inspeksi
- Kelainan bentuk
: Tidak ada
- Tanda radang
: Tidak ada
- Lain-lain
: Tidak ada kelainan
Palpasi
- Nyeri tekan
: Tidak ada
- Fluktuasi
: Tidak ada
- Lain-lain
: Tidak ada kelainan
m. Neurologik
Refleks fisiologis
KPR
:+/+
APR
:+/+
Refleks patologis
:-/Rangsang meningen
: Tidak ada
Sensorik
:+/+

A. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
a. DARAH
- Hb
: 3,7 gr/dl
- Leukosit
: 2,3 juta/L
- Eritrosit
: 1,4 juta/L
- Hitung Jenis
Basofil
: Eosinofil
: Neutrofil Batang : Neutrofil Segmen : 25,9 %
Limfosit
: 69,1 %
Monosit
:5%
Plasma
:- MCV = 82,5% (N)
- MCH = 27,0 % (N)
- MCHC = 32,7 % (N)
Gula darah sewaktu =148 mg/dl

10

RESUME
Seorang perempuan berumur 53 tahun, ibu rumah tangga, sudah menikah, datang ke
RS Dustira dengan keluhan utama lemah badan.
Pada anamnesis lebih lanjut didapatkan :
Keluhan lemah badan disertai dengan kepala terasa pusing. Pusing dirasakan
nyut-nyutan. Pasien memiliki keluhan nafsu makan yang menurun. Makan satu sampai
dua kali sehari dengan menu makanan biasanya nasi, tahu, tempe dan sayur. Pasien
sangat jarang memakan daging-dagingan merah karena pasien merasakan pusing setelah
memakan daging tersebut. Pasien juga mengeluhkan adanya penurunan berat badan,
tetapi pasien tidak tahu pasti kapan mulai terjadinya penurunan berat badan. Pasien
dirawat pertamaa kali dengankeluhan yang sama pada tahun 2009
ada pemeriksaan fisik lebih lanjut didapatkan:
Keadaan umum : Kesadaran
: Composmentis
Kesan sakit
: Tampak sakit sedang
Vital sign
: Tekanan darah
: 110 / 70 mmHg
Nadi
: 88 x / menit reguler, equal, isi cukup.
Pernapasan
: 22x / menit
Suhu
: 36,8 oC
Sianosis
: Tidak ada
Keringat dingin : Tidak ada
Mata : anemis +/+
Telinga ;tidak ada kelainan
Hidung : Tidak ada keainan
Gigi dan mulut :Tidak ada kelainan
Thorax : bentuk dan gerak simetris
Paru : VBS kanan=kiri
Jantung : BJ I BJ II MR
Abdomen :
nyeri tekan lokal ulu hati dan perut kiri atas
Hati dan limpa tidak teraba
Kulit :kering
Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan :
Hb : 3,7 gr/dl
Eritrosit normokrom normositer
IV.

V.
VI.

DIAGNOSIS DIFERENSIAL
-Anemia e.c gastritis erosiva
-Anemia defisiensi besi
DIAGNOSIS KERJA
Anemia e.c gastritis erosiva
USUL PEMERIKSAAN

11

-Darah rutin (Hb, Ht, Leukosit)


-endoskopi
VII.

PENGOBATAN
Non farmakologis :

Tirah baring

Farmakologi : Transfusi PRC 2 labu


Omeprazol 2x1 mg
Ciproloxacin 2x 200 mg

VIII. PROGNOSIS
Quo ad vitam
: dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam

TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN
Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang mengandung
elektrolit. Peranannya sebagai medium pertukaran antara sel sel yang terfiksasi dalam
tubuh dan lingkungan luar serta memiliki sifat-sifat protektif terhadap organisme sebagai
suatu keseluruhan dan khususnya terhadap darah sendiri.

12

Komponen cair darah yang disebut plasma terdiri dari 91% sampai 92% air yang
berperan sebagai medium transport, dan 7% sampai 9% terdiri dari zat padat itu adalah
protein-protein seperti albumin, globulin, fibrinogen; unsure anorganik berupa natrium,
kalsium, kalium, fosfor, besi dan iodium; unsure organic berupa zat-zat nitrogen
nonprotein, urea, asam urat, xantin, kreatinin, asam amino, lemak netral, fosfolipid,
kolesterol, glukosa, dan berbagai enzim seperti amylase, protease, dan lipase. Setelah
fibrinogen dan factor-faktor pembekuan dihilangkan dari plasma, tinggal serum dibagian
atasnya. Walaupun semua unsure memainkan peranan penting dalam homeostatis, tetapi
protein plasma sering terlibat dalam discrasia darah. Dari tiga jenis utama protein serum,
albumin yang dibentuk dalam hati merupakan 53% dari seluruh protein serum. Peran
utama albumin adalah mempertahankan volume darah dengan menjadi tekanan osmotic
koloid, pH dan keseimbangan elektrolit, serta transport ion-ion logam, asam lemak,
steroid, hormone dan obat-obatan. Globulin merupakan 43 % dari protein serum yang
dibentuk didalam hati dan jaringan limfoid. Globulin bertanggung jawab atas
pembentukan antibody dan protrombin. Fibrinogen, yang jumlahnya hanya 4% penting
untuk pembekuan darah.
Unsur seluler darah terdiri dari sel darah merah ( eritrosit ), beberapa jenis sel
darah putih ( leukosit ), dan pecahan sel yang disebut trombosit. Fungsi sel darah merah
adalah mengangkut dan melakukan pertukaran O2 dan CO2, sedangkan sel darah putih
adalah untuk mengatasi infeksi dan trobosit untuk homeostatis.
mempunyai

umur

terbatas,

pembentukan

optimal

yang

Karena sel-sel ini

konstan perlu untuk

mempertahankan jumlah yang dipelukan untuk memenuhi kebutuhan jaringan.


Pembentukan ini yang dinamakan hematopoiesis, terjadi dalam sumsum tulang
tengkorak, vertebrae, pelvis, sternum, iga-iga, dan epifisis proksimal tulang-tulang
panjang. Bila kebutuhan meningkat seperti pada perdarahan atau penghancuran sel,
pembentukan dapat timbul lagi dalam seluruh tulang panjang seperti halnya pada anakanak
ERITROPOIESIS
Bagian dari hemopoesis dimana eritropoiesis merupakan proses pembentukan sel
darah merah .

13

Dalam keadaan normal eritropoiesis pada orang dewasa terutama terjadi didalam
sumsum tulang pipih, tulang vertebrae, dan pada bagian proximal tulang panjang. System
eritrosit menempati 20%-30% bagian jaringan sumsum tulang yang aktif membentuk sel
darah. Apabila tidak ada gangguan 20% sel sumsum tulang yang aktif membentuk sel
darah seri eritrosit dan jumlah retikulosit sumsum tulang sama besarnya dengan sel
eristrosit yang berinti. Sel darah merah berinti dalam sumsum tulang terdapat dalam
stroma dalam sumsum tulang lainnya diluar jaringan sinusoid. Pada tingkat retikulosit
muda, eritrosit ini telah kehilangan sifat melekatnya pada massa sumsum tulang lainnya
sehingga mudah masuk dalam aliran darah dan masuk kedalam pembuluh darah.
ERITROPOIESIS EXTRAMEDULER
Apabila terjadi gangguan pada sumsum tulang, misalnya akibat adanya metastase
penyakit ganas atau penyakit fibrosis sumsum tulang, eritropoiesis akan terjadi pada
jaringa extrameduler seperti hati, limpa, dan jaringan lemek para spinal. Proses
eritropoiesis extrameduler hasilnya tidak seefektif eritropoiesis intra meduler terlihat dari
adanya anisositosis, poikilositosis, dan sel-sel eritrosit muda dalam darah tepi.
PERAN HORMON ERITROPOIETIN
Laju eritropoiesis diatur oleh hormone eritropoietin yang diproduksi di ginjal dan
ada yang berpendapat juga diproduksi di hati. Produksi eritropoietin sendiri dirangsang
oleh keadaan hipoksia. Kekurangan oksigen akan menyebabkan sensor oksigen pada sel
tertentu di ginjal meningkatkan produksi hormone eritropoietin yang akan bekerja pada
sel induk.
Hormone androgen akan meningkatkan aktivitas dan meningkatkan potensi
eritropoietin terhadap sel induk, sehingga hal ini dipakai sebagai salah satu alasan
mengapa pada pria kadar sel darah merah lebih banyakdari pada wanita.

METABOLISME BESI DAN PEMBENTUKAN HEMOGLOBIN


Gangguan pemasukan besi kedalam sel eritrosit berinti akan mengakibatkan
pembentukan eritrosit dengan sitoplasma yang sempit ( mikrositik ) dan kadar
hemoglobin yang rendah ( hipokrom ). Gangguan produksi globin ini akan berakibat

14

selain memiliki morfologi khusus juga terbentuknya eritrosit yang dikenal sebagai target
sel.
Perubahan morfologi sel yang terjadi selama proses differensiasi sel pronormoblas
sampai eritrosit matang dapat dikelompokan kedalam tiga kelompok :
1. Ukuran sel semakin kecil akibat mengecilnya inti sel.
2. inti sel menjadi semakin padat dan akhirnya dikeluarkan pada tingkatan
eritrroblass asidofilik
3. dalm sitoplasma dibentuk hemoglobin yang diikuti dengan hilangnya RNA dari
dalam sitoplasma sel
Hemoglobin dibentuk dalam sitoplasma sel sampai dengan stadium retikulosit.
Setelah itu sel dikeluarkan, hilang juga RNA dari dalam sitoplasma , sehingga sel darah
merah tersebut tidak dapat dibentuk protein lagi, begitu juga enzim yang sebelumnya
terdapat dalam sel darah merah dan protein membrane sel.
Hemoglobin terdiri dari empat ikatan globin dan empat ikatan haem yang masingmasing memiliki satu atom Fe. Di dalam 1 ml packed red cells terdapat lebih kurang 1
mg Fe.
Zat besi terlibat dalam susunan luas reaksi biokimiawi, karena itu penting bagi
semua kehidupan. Jika digabungkan dengan porfirin, besi akan membentuk heme,
kelompok prostetik bagi banyak protein seperti hemoglobin, yang mengikat oksigen
secara reversible, dan sitokrom yang penting untuk reaksi oksidasi reduksi.
Absorpsi zat besi terutama terjadi di duodenum dan jejunum bagian atas. Garam
besi inoganik berada dalam dua status valensi yaiutu ferro dan ferri. Sebagian besar zat
besi dari makanan terdiri dari garam ferri yang membentuk komplekferri oksihidroksida
yang tidak larut yang muncul pada pH fisiologik. Absorpsi dibantu oleh keasaman
lambung, yang menjaga zat besi ferri dalam bentuk yang dapat larut. Biasanya sekitar
10% dari 10 sampai 20 mg zat besi yang dimakan setiap hari dari diet rata-rata diabsorsi
oleh mekanisme yang tidak dikenali secara baik.
TRANSPORT DAN PENYIMPANAN ZAT BESI.
Walaupun sudah dilakukan penyelidikan yang teliti secara terus menerus,
mekanisme yang tepat yang menyebabkan translokasi zat besi bias melewati sawar epitel
di usus halus tidak diketahui. Kelebihan zat besi disimpan dalam tubuh sebagai ferritin

15

atau hemosiderin. Zat besi dalam ferritin ditutupi dalam selubung protein, apoferitin,
yang dapat mengikat ferro dan mengoksidasinya menjadi ferri yang disimpan dalam inti
zat besi. Zat besi menstimulasi mensintesa apoferritin. Sejalan dengan waktu, ferritin
ditelan oleh lisosom dan dikatabolisasi menjadi hemosidein, campuran non spesifik dari
dari protein yang terdegradasi sebagian, lipid dan zat besi.

DEFINISI ANEMIA
Anemia secara fungsional didefinisikan sebagai penurunan jumlah massa eritrosit
sehingga tidak dapat memenuhi fungsinya untuk membawa oksigen dalam jumlah yang
cukup ke jaringan perifer (penurunan oxygen carrying capacity).
Secara praktis anemia ditujukkan oleh penurunan kadar hemoglobin , kemudian
hemotokrit.Tapi, dalam keadaan tertentu ketiga parameter tersebut tidak sejalan dengan
massa eritrosit seperti pada keadaan dehidrasi, perdarahan akut dan kehamilan.
Anemia merupakan gejala dari suatu penyakit dasar. Dalam diagnosis harus
disertai oleh penyakit dasar yang terkadang tersembunyi.

KRITERIA ANEMIA
Parameter yang paling umum dipakai untuk menunjukkan penurunan massa
eritrosit adalah kadar hemoglobin, lalu disusuloleh hemotokrit dan hitumg eritrosit.
Ketiga parameter tersebut saling bersesuaian.
Angka normal dari hemoglobin sangat bervariasi tergantung pada umur, jenis
kelamin, ketinggian tempat tinggal, dan adanya kehamilan
Hemoglobin paling rendahuntuk laki-laki adalah 14 gr/dl dan 12 gr/dluntuk
perempuan

PREVALENSI ANEMIA
Anemia merupakan kelainan yang paling sering dijumpai di klinik maupun
lapangan. Sekitar 30 % penduduk dunia menderita anemia.

16

ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI ANEMIA


KLASIFIKASI ANEMIA MENURUT ETIOPATOGENESIS
A.Anemia karenagangguan pembentukan eritrosit dalam sumsum tulang
1.Kekurangan Bahan Essensial pembentuk eritrosit
-Anemia Defisiensi Besi
-Anemia defisiensi Asam Folat
-Anemia Defisiensi Vitamin B12
2.Ganngguan penggunaan besi
-anemia akibat penyakit kronik
-anemia sideroblastik
3.Kerusakan sumsum tulang
-Anemia aplastik
-Anemia mielopsitik
-Anemia pada keganasan hematologi
-Anemia diseritropoetik
-Anemia pada sindrom mielodisplastik
Anemiaakibat kekuranganeritropoetin
B.Anemia akibat hemoragi
1.Anemia pasca perdarahan akut
2.Anemia akibat perdarahan kronik
C.Anemia Hemolitik
1.Anemia Hemolitik intrakospuskular
-Membranopati
-Enzimopati
-Hemoglobinopati
2.Anemia Hemolitik ekstrakospuskular
-Anemia Hemolitik Autoimun
-Anemia Hemolitik Mikroangiopati
D. Anemia dengan penyebab tidak diketahui

17

KLASIFIKASI ANEMIA BERDASARKAN MORFOLOGI DAN ETIOLOGI


1.Anemia hipokrom Mikrositer
-Anemia defisiensi Besi
-Thalasemia Mayor
-Anemia akibat penyakit kronik
-Anemia sideroblastik
2.Anemia normokrom normositer
-Anemia pasca perdarahan akut
-Anemia aplastik
-Anemia hemolitik didapat
-Anemia akibat penyakit kronik
-Anemia pada gagal ginjal kronik
-Anemia pada sindrom mielodisplastik
-Anemia pada keganasan
3.Anemia makrositer
-Anemia defisiensi asam folat
-Anemia defisiensi B12
-Anemia pada penyakit hati kronik
-Anemia hipotiroidsme
-Anemia pada sindrom mielodisplastik

GEJALA UMUM ANEMIA


Gejala-gejala umum pada anemia
-Hb<7 gr/dl
-rasa lemah
-rasa lesu
-rasa cepat lelah
-telinga mendenging
-mata berkunang-kunang
-kaki terasa dingin

18

-sesak nafas
-dyspepsia
Pada pemeriksaan :
-pucat pada daerah konjungtiva, mukosa mulut, telapak tangan, jaringan dibawah kuku
GEJALA KHUSUS ANEMIA
-Anemiadefisiensi besi :disfagia,atrofi papil lidah,stomatitis angularis,spoon nail
-anemia megaloblastik :glositis, gangguan neurologik pada defisiensi vitamin B12
-Anemia hemolitik :ikterus,splenomegali,hepatomegali
-Anemia aplastik : perdarahan dan tanda-tanda infeksi
GEJALA PENYAKIT DASAR
-cacing tambang=sakit perut,pembengkakan, dan warna kuning pada telpak tangan.
PEMERIKSAAN UNTUK MENDIAGNOSIS ANEMIA
-Pemeriksaan Laboratorium
Screening Test
Pemeriksaan darah seri anemia
Pemeriksaan sumsum tulang
-Pemeriksaan khusus
Anemia defisiensi besi : serum iron, TIBC, saturasi transferin,protoporfirin
eritrosit,feritin serum
Anemia megaloblastik : folat serum vitamin B12 serum,tes supresi deoksiuridin
Anemia hemolitik

; bilirubin serum,tes coomb,elektroforesis hemoglobin

Aanemia aplastik

:biopsi sumsum tulang

PENDEKATAN DIAGNOSIS
Tahap-tahap dalam diagnosis anemia
-menentukan adanya anemia
-menentukan jenis anemia

19

-menentukan etiologi dan penyakit dasar anemia


-menentukan ada atau tidaknya penyakit penyerta
PENDEKATAN TERAPI
-Pengobatan berdasarkan diagnosis definitif yang telah ditegakkan terlebih dahulu
-pengobatan poada indikasi yang jelas
Pengobatan anemia dapat berupa
-Terapi pada keadaan darurat
-Terapi suportif
-Terapi yang khas
-Terapi kausal
Transfusi pada keadaan anemian pasca perdarahan akut dengan tanda gangguan
hemodinamik (PRC)

DAFTAR PUSTAKA
1. Kasper ,et all.HARRISONS PRINCIPLES OF INTERNAL MEDICINE, edisi 16.
New york : McGraw-Hill Companies Inc,2005

20

2. Sudoyo, Aru W.et all.BUKU AJAR ILMU PENYAKIT DALAM jilid III., edisi
IV.Jakarta : Pusat penerbitan Departemen ilmu penyakit dalam Fakultas
kedokteran Universitas Indonesia,2006.

21

Anda mungkin juga menyukai