Anda di halaman 1dari 93

ACUTE ABDOMEN

Danang Setia Budi


Rizka Ibonita
Fitra Reziana
Dimas Nugroho K.
William Surya H.
Syarifah Farah Fadillah
Noor Aqilah Binti Saadon

Stase Bedah RSUD Banyumas Oktober 2015

Pendahuluan
Gawat

abdomen: keadaan klinis akibat


kegawatan di rongga perut yang biasanya
timbul mendadak, dengan nyeri sebagai
keluhan utama.
Butuh penanganan segera, seringkali
tindakan bedah.
Ketepatan diagnosis dan penanganannya
bergantung pada anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Peran dokter umum mengenali
permasalahan & persiapan dalam merujuk
pasien.

Jenis nyeri perut


nyeri viseral dan nyeri somatik

a.

Nyeri viseral

Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur


dalam perut.
Peritoneum viserale menyelimuti organ perut, dipersarafi oleh
sistem saraf otonom, tidak peka terhadap rabaan atau
pemotongan.
Tarikan, regangan atau kontraksi berlebih pada otot iskemik
nyeri.
Lokasi diffuse, pasien tidak dapat menunjukkan secara tepat
lokasi nyeri.
Pola nyeri sesuai dengan persarafan embrional organ
Foregut (lambung, duodenum, sistem hepatobilier & pankreas), nyeri
di ulu hati atau epigastrium
Midgut (usus halus, usus besar sampai pertengahan colon
transversum), nyeri di sekitar umbilikus
Hindgut (pertengahan colon transversum sampai colon sigmoid),

Nyeri viseral

Jenis nyeri perut


b.

Nyeri somatik

Rangsangan pada bagian yang


dipersarafi saraf tepi, misal
peritoneum parietalis & luka pada
dinding perut.
Nyeri seperti ditusuk atau disayat,
pasien dapat menunjuk letak nyeri
secara tepat.
Rangsang yang dapat menimbulkan
nyeri : rabaan, tekanan, rangsang
kimiawi, proses radang.
Gesekan visera meradang rangsang
peritoneum nyeri. Gesekan dan
peradangan antara kedua peritoneum
perubahan intensitas nyeri.
Penderita berusaha untuk tidak
bergerak, bernapas dangkal dan
menahan batuk.

Letak nyeri perut


Nyeri

viseral, sesuai dengan asal


organ tersebut pada masa
embrional.
Nyeri somatik, dekat dengan
organ sumber nyeri, relatif
mudah tentukan penyebab.
Nyeri anak prasekolah sulit
ditentukan, karena mereka selalu
menunjuk pada area umbilikus.

Sifat nyeri
Nyeri

alih, terjadi jika suatu


segmen persarafan melayani
lebih dari satu daerah.
Hiperestesia, sering pada
kulit jika ada peradangan
rongga dibawahnya.
Nyeri kontinu, akibat
rangsang peritoneum
parietale, terus menerus, oleh
karena reaksi radang. Otot
dinding perut kontraksi
defans muskuler, refleks
melindungi bagian yang
meradang oleh karena tekanan
setempat

Sifat nyeri
Nyeri

kolik, nyeri
viseral, o/k spasme
otot polos organ
berongga, disebabkan
hambatan pasase
Hipoksia jaringan
nyeri. Kontraksi
berjeda , nyeri hilang
timbul.
Serangan nyeri kumatan
Mual atau muntah

Nyeri

iskemik : sangat
hebat, menetap, dan
tidak menyurut.
Jaringan terancam
nekrosis. Muncul gejala
intoksikasi umum spt
takikardi, kondisi
umum & syok.
Nyeri pindah sesuai
dengan perkembangan
patologi .
Apendisitis
Perforasi ulcus duodenum

ACUTE
APPENDICITIS

Appendicitis
Definisi

Peradangan pada appendix


vermiformis.
Tidak

ada tanda, gejala atau


pemeriksaan diagnostik yang
bisa mengkonfirmasi diagnosis
semua kasus peradangan
appendix, namun 50% dari kasuskasus ini mempunyai gejala
spesifik:
Anoreksia, nyeri periumbilikal diikuti

Anatomi Appendix

Vaskularisasi
a. Appendicularis, cabang dari a. Iliocaecalis, cabang dari A.
Mesentrika superior.
Inervasi

Simpatis berasal dari N. Thoracalis X , parasimpatis : N. Vagus (C.10)

Posisi Appendix

Apendiks memiliki topografi :


Pangkal appendiks terletak pada titik Mc
Burney.
Garis Monroe : Garis antara umbilicus dengan
SIAS dekstra
Titik Mc Burney : 1/3 bagian dari SIAS dekstra

Etiologi
1.

Obstruksi (80%)
Sumbatan dalam lumen, jenisnya : fecolith,
corpus alienum, telur parasit, parasit.
Bengkokan/tekukan appendix (kinking), krn
mesoappendix yg pendek & adhesi sekitarnya.
Pembesaran folikel limfoid appendix di tunika
submukosa
Stenosis obliterasi appendix

2.

Infeksi hematogen 10-20% kasus,


penyebaran secara hematogen

Patofisiologi

Patofisiologi
1. Appendisitis akut
fokal
2. Appendicitis
supuratif
3. Appendisitis
gangrenosa,perforasi
, peritonitis umum

Diagnosis
1.

Anamnesa
Nyeri visceral dirasakan di seluruh
perut (epigastrium & regio umbilical)
Tahap lanjut nyeri somatik dirasakan
di RLQ (McBurney point)
Anoreksia, mual & muntah (aktivasi
vagus)
Obstipasi
Febris (komplikasi infeksi akut)

PEMERIKSAAN FISIK
Status

generalis
Tampak kesakitan, membungkuk,
memegang RLQ
Demam

Inspeksi

- tidak ditemukan gambaran spesifik.


- kembung sering terlihat pada komplikasi
perforasi
- penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat
pada masaa atau abses periapendikuler
- tampak perut kanan bawah tertinggal pada
pernafasan

Auskultasi
sering normal
- peristaltik dapat hilang karena ileus
paralitik pada peritonitis generalisata akibat
apendisitis perforata pada keadaan lanjut
-

Perkusi

- terdapat nyeri ketok


- pekak hati hilang apabila terjadi peritonitis
Palpasi

- Nyeri tekan McBurney (+), rebound


tenderness (+), defens muskular (+),

Pemeriksaan Fisik
Psoas

sign (+)
Obturator sign (+)
Rectal touche: NT (+) pada arah
jam 9-12

CLINICAL PRESENTATION

Psoas
sign

Rovsing sign

Pemeriksaan Penunjang
1.

Laboratorium
Hb, Hct dbn, AL ,pergeseran ke kiri, LED (pd appendisitis
infiltrat)

2.

Foto polos abdomen


App. Akut tidak banyak membantu
Gambaran yg mungkin ditemukan:
Fekalith di RLQ sesuai dgn lokasi appendix
Kalau peradangan luas + infiltrat bag. Kanan bawah kolaps

3.

USG
Byk digunakan utk dx app. Akut/ app. Dgn abses
App. Meradang tampak sbg lumen tubuler, diameter >6 mm,
peristaltik (-) pd penampakan longitudinal, & gambaran target pd
penampakan transversal

4.

CT-scan

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Pemeriksaan

Imaging :

Foto polos abdomen


10-15 % dapat memperlihatkan adanya
calcified appendicolith pada apendisitis
akut

Appendicogram
Tampak gambaran appendiks yang tidak
terlumuri kontrast setelah pemberian
barium enema. Sensitivitas dan
spesifisitas rendah.

USG
Sensitivitas 85 % spesifisitas 90 %
Operator dependant

Pemeriksaan Penunjang
1.

Laparoskopi
Dpt berfungsi sbg alat dx dan terapi

2.

Histopatologi
Gold standard utk dx appendisitis
akut

MANAGEMENT
Nonsurgical

Treatment:

Antibiotic
Analgesics
Surgical

Treatment

MANAJEMEN
Sebelum operasi
Observasi
o

o
o

Dilakukan dalam 8-12 jam setelah timbulnya


keluhan dikarenakan tanda dan gejala apendisitis
seringkali belum jelas.
Pasien diminta melakukan tirah baring dan
dipuasakan.
Pemeriksaan abdomen dan rectal serta
pemeriksaan darah (lekosit dan hitung jenis)
diulang secara periodik.
Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk
mencari kemungkinan adanya penyulit lain.

Manajemen Operasi
dpt dicapai melalui insisi McBurney
Laparotomi appendisitis akut + penyulit peritonitis
Lapisan kulit yg dibuka pada appendektomi:
Appendektomi

1. Kutis
2. Subkutis
3. Fascia Scarpa
4. Fascia Camper
5. Aponeurosis MOE
6. MOI
7. M. transversus
8. Fascia transversalis
9. Pre peritoneum
10.Peritoneum

Komplikasi
Gangren

appendicitis general
peritonitis, periappendicular
infiltrat/phlegmon/mass &
periappendicular abscess
Phlebitis v. portae
Abscess hepar multiple
Sepsis
Menjadi appendisitis kronis
Perforasi

Operasi
Appendiktomi cito
appendicitis akut, abses, dan perforasi
Appendiktomi

elektif

appendisitis kronis
Konservatif

kemudian operasi
elektif appendisitis infiltrat

Diagnosis Banding
GIT

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Gastroenteritis
Ileitis terminale
Tifoid
Divertikulitis meckel
Intususepsi
Konstipasi

Obsgyn

1.
2.
3.
4.

KET
Salpingitis akut
PID
Torsio kista ovarium

Urologi

1. Ureterolithiasis (dextra)
2. cystitis

Peritonitis

Definisi
Peritonitis

adalah suatu kumpulan


gejala akibat iritasi peritoneum yang
disebabkan oleh bakteri, kimiawi, atau
darah.

Patofisiologi

PERITONITIS PRIMER

Kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum


peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam
abdomen.
Faktor Risiko: sirosis hepatis, renal failure, peritoneal
dialysis, dll.
Contoh: Peritonitis TB, Peritonitis uremicum,
Spontaneus bacterial peritonitis.
Pemeriksaan Fisik

Distensi, peristaltik melemah

Nyeri difus dengan muscular guarding.


Pemeriksaan CBC

Leukositosis
Radiologi

Pneumoperitoneum (-)
Pengecatan Gram pada cairan dari paracentesis

Monomikroba (+)
Prinsip terapi

Jarang ditangani dengan pembedahan, atasi


penyebabnya.

PERITONITIS SEKUNDER

Iritasi berasal dari suatu inflamasi akut atau perforasi traktus gastrointestinal atau
traktus urinarius.

Luka/ penetrasi langsung

Perforasi organ intraabdominal

Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal


Derajat

Ringan: perforasi appendix,perforasi gastroduodenal, salphingitis akut. Angka


mortalitas 10%.

Sedang: perforasi diverticulitis, perforasi usus halus non vascular, kolesistitis


gangrenosa, multiple trauma. Angka mortalitas 20%.

Berat: Perforasi usus besar, cidera iskemi usus halus, pankreatitis akut
nekrotikan, komplikasi pasca operasi. Angka mortalitas 20-80%.

PERITONITIS SEKUNDER

Pemeriksaan Fisik
Peritoneal Sign
Defense muscular
Reflek spasme otot untuk
proteksi
Pekak hepar menghilang
Akumulasi udara pada
infradiaframa dan suprahepatic
Inspeksi: Perut distensi
Akumulasi gas dan dilatasi lumen
intestine.

Auskultasi: Peristaltik lemah bahkan


menghilang
Inflamasi intestine paralitik

Perkusi: hipertimpani , pekak hepar


menghilang

Palpasi: nyeri tekan (difuse atau


terlokalisir pada organ yang

PERITONITIS SEKUNDER

Pemeriksaan CBC
Leukositosis
Radiologi
Pneumoperitoneum (+)
Pre peritoneal fat menipis
Prinsip terapi
Laparotomi eksplorasi untuk menemukan
penyebabnya.
Debridemen jaringan nekrotik/terinfeksi
dan debris-debris.
Pemberian antibiotik untuk kuman aerob
dan anaerob.

PERITONITIS TERSIER

Biasa terjadi pada pasien dengan immunocompromised. Mikroba yang biasa


terlibat Enterococcus faecalis and faecium, Staphylococcus epidermidis,
Candida albicans, and Pseudomonas aeruginosa dan biasanya polimikroba.
Respon terhadap antibiotik rendah.
Radiologi

Pada CT Scan tampak adanya abses intraabdomen


Prinsip terapi

Drainase abses hingga

Cavitas abses kolaps

Produk < 10-20 ml/ 24jam

Tidak ada bukti kontaminasi yg sedang berlangsung

Klinis pasien membaik

Antibiotik untuk bakteri aerob dan anaerob selama 3-7 hari

Diagnostic
Approach

Initiate Supportive Therapy and


Consider Empiric Antibiotic

Tatalaksana Sebelum
Rujuk
Resusitasi

cairan, jika terdapat tanda syok.


Oksigenasi, pada pasien syok bisa terjadi
tachypneu.
Kateter urin untuk monitor urin output.
Dekompresi dengan pemasangan NGT.
Medikamentosa
Antibiotik
Analgetik
Antipiretik
Pasien

dengan kecurigaan peritonitis tetapi


tanda tidak khas bisa dilakukan foto abdomen
3 posisi untuk penegakkan diagnosis.

Ileus

ILEUS
DEFINISI
Setiap

kondisi yang mengganggu


propulsi normal dan pasase dari
isi usus .
Dapat melibatkan usus halus ,
usus besar atau keduanya seperti
pada ileus umum

KLASIFIKASI
BERDASARKAN

:
Sebab obstruksi : mekanik dan
fungsional
Durasi obstruksi : akut dan kronis
Besarnya obstruksi : parsial dan
kompleta
Tipe obstruksi : simpel dan
kompleks (closed loop and
strangulasi)

ILEUS MEKANIK
Terdapat

sumbatan dari lumen intestinal yang


disebabkan oleh :
1. Intramural : kongenital-tumor-hematoma-inflamasi
2. Extramural : adhesi-volvulus-hernia abscess-hematoma
3. Obstruksi lumen: batu-mekonium-impaksi benda
asing(feses-cacing-barium)

Obstruksi

mekanik bisa terjadi sebagian atau parsial


(lumen menyempit, tetapi masih dapat dilewati
feses) atau terjadi secara total atau kompleta
(obstruksi lumen total) yang diklasifikasikan menjadi :
A. obstruksi simpel (tanpa gangguan vaskularisasi)
B. closed loop ( kedua ujung usus terobstruksi, contoh :
volvulus)
C. Obstruksi strangulasi

ILEUS FUNGSIONAL
Obstruksi tersebut terjadi secara sekunder dari
faktor penyebab yaitu paralisis atau dismotilitas
dari peristaltik usus.
Postoperative ileus merupakan bentuk obstruksi
yang tersering.
Postoperative ileus berkorelasi dengan derajat
trauma dan tipe operasinya.
Segmen yang berbeda dari GIT mengalami masa
penyembuhan yang berbeda setelah manipulasi
dan trauma :
1. Usus halus pulih dalam hitungan jam setelah operasi
2. Lambung membutuhkan waktu 24-48 jam
3. Colon 3-5 hari post op.

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi ileus belum dimengerti sepenuhnya
Distensi usus , menurunnya absorbsi,
hipersekresi intralumial dan perubahan
motilitas terjadi dalam ileus karena adanya
reaksi inflamasi intramural.
Menyebabkan menurunnya aliran darah
karena perubahan-[erubahan tersebut
Data terbaru menunjukkan bahwa produksi
mucosal yaitu reactive oxygen metabolite yang
merangsang motilitas dan permeabilitas usus ,
dapat menjadi mediator yang penting dari
perubahan yang terlihat dalam simple bowel
obstruction.

ETIOLOGI
Mechanical bowel obstruction:
A. Small bowel obstruction:
1.
2.
3.
4.
5.

Adhesi 60%
Hernia 20%
Neoplasma 5%
Volvulus 5%.
Lain-lain: IBD-cholelithiasis-benda asingintususepsi.

B. Large bowel obstruction :


1.
2.
3.
4.

Cancer 60%.
Diverticular disease 15%.
Volvulus 15%.
Lain-lain : hernia impaksi fesesinflamasi.

Functional bowel obstruction: 3 tipe


A. Vascular occlusion ileus.
B. Spastic ileus. ( intestine terkontraksi dan
tidak ada propulsi) disebabkan oleh:
1. Uremia.
2. Porphyria.
3. Heavy metal poison.

C. Adynamic or inhibition ileus :


1. Post operation sebagian besar setelah abdominal surgery
2. Metabolic causes: DKA- hyponateremia-hypokalemia
hypomagnesaemia.
3. Drugs: morphine TCA-antacid-anticonvulsant.
4. Intra-abdominal inflammationsepsisoccult wound
infection.
5. Pneumoniarenal stoneretroperitoneal hematoma--fracture spine and ribs

GEJALA DAN TANDA


Pasien

dengan ileus biasanya mengalami


sakit perut ringan yang samar-samar dan
kembung . Disertai mual, muntah, dan
nafsu makan yang buruk. Kram perut (-),
flatus (-), BAB (-).
Terdapat distensi abdomen dan timpani,
tergantung dari derajat distensi abdomen
maupun usus. Terdapat nyeri tekan, suara
usus yang hipoaktif maupun sebaliknya
yaitu bunyi usus nada tinggi menandakan
obstruksi. Suara hipoaktif menandakan
hilangnya peristaltik.

RADIOLOGI
Upright CXR with supine and upright
abdominal radiographs:
initial imaging study.
1. CXR :
1. Mendeteksi kondisi extra-abdominal
yang terjadi bersama obstruksi
usus, contoh : pneumonia.
2. Adanya pneumoperitoneum
menandakan perforasi.

2. Abdominal X-RAY
Dilatasi usus halus apabila
diameter usus halus 3 cm, colon
proximal 9 cm dan colon sigmoid
5 cm.
Usus halus yang terdilatasi
cenderung menuju central
portion dari abdomen.
Colon yang terdilatasi
cenderung berada di periferal
abdomen dan ditandai dengan
haustral marking.

3. Contrast studies:
Identifikasi lokasi dan sebab
obstruksi
Membedakan antara
obstruksi pada colon atau
distal small bowel
Membedakan antara ileus
parsial atau obstruksi total.

TATALAKSANA
A. Resusitasi
B. Conservative treatment
1. Riwayat operasi
2. Obstruksi inkompleta
3. Keganasan stage akhir
4. Diagnosis belum pasti
C. Indikasi operasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Peritonitis lokal atau umum


Perforasi
Hernia ireponible
Teraba massa
Virgin abdomen atau belum ada riwayat operasi
Closed loop obstruction
Failure to improve

Ileus

ILEUS

DEFINISI
Setiap

kondisi yang mengganggu


propulsi normal dan pasase dari isi
usus .
Dapat melibatkan usus halus , usus
besar atau keduanya seperti pada
ileus umum

KLASIFIKASI
BERDASARKAN

:
Sebab obstruksi : mekanik dan
fungsional
Durasi obstruksi : akut dan kronis
Besarnya obstruksi : parsial dan
kompleta

IleusTipe obstruksi : simpel dan


kompleks (closed loop and
strangulasi)

ILEUS MEKANIK
Terdapat

sumbatan dari lumen intestinal yang


disebabkan oleh :
1. Intramural : kongenital-tumor-hematoma-inflamasi
2. Extramural : adhesi-volvulus-hernia abscess-hematoma
3. Obstruksi lumen: batu-mekonium-impaksi benda
asing(feses-cacing-barium)

Obstruksi

mekanik bisa terjadi sebagian atau parsial


(lumen menyempit, tetapi masih dapat dilewati feses)
atau terjadi secara total atau kompleta (obstruksi lumen
total) yang diklasifikasikan menjadi :
A. obstruksi simpel (tanpa gangguan vaskularisasi)
B. closed loop ( kedua ujung usus terobstruksi, contoh :
volvulus)
C. Obstruksi strangulasi

ILEUS FUNGSIONAL
Obstruksi tersebut terjadi secara sekunder
dari faktor penyebab yaitu paralisis atau
dismotilitas dari peristaltik usus.
Postoperative ileus merupakan bentuk
obstruksi yang tersering tergantung
derajat trauma dan tipe operasinya.
Segmen yang berbeda dari GIT mengalami
masa penyembuhan yang berbeda setelah
manipulasi dan trauma :
1. Usus halus pulih dalam hitungan jam setelah
operasi
2. Lambung membutuhkan waktu 24-48 jam
3. Colon 3-5 hari post op.

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi ileus belum dimengerti
sepenuhnya
reaksi inflamasi intramural Distensi
usus, menurunnya absorbsi,
hipersekresi intralumial dan
perubahan motilitas penurunan
blood supply
produksi mucosal (reactive oxygen
metabolite) yang merangsang
motilitas dan permeabilitas usus
mediator simple bowel obstruction.

ETIOLOGI
Ileus mekanik
A. Small bowel obstruction:
1.
2.
3.
4.
5.

Adhesi 60%
Hernia 20%
Neoplasma 5%
Volvulus 5%.
Lain-lain: IBD-cholelithiasis-benda asingintususepsi.

B. Large bowel obstruction :


1.
2.
3.
4.

Cancer 60%.
Diverticular disease 15%.
Volvulus 15%.
Lain-lain : hernia impaksi fesesinflamasi.

Ileus fungsional , 3 tipe :


A. Vascular occlusion ileus.
B. Spastic ileus. ( intestine terkontraksi dan
tidak ada propulsi) disebabkan oleh:
1. Uremia.
2. Porphyria.
3. Heavy metal poison.

C. Adynamic or inhibition ileus :


1. Post operation sebagian besar setelah abdominal surgery
2. Metabolic causes: DKA- hyponateremia-hypokalemia
hypomagnesaemia.
3. Drugs: morphine TCA-antacid-anticonvulsant.
4. Intra-abdominal inflammationsepsisoccult wound
infection.
5. Pneumoniarenal stoneretroperitoneal hematoma--fracture spine and ribs

GEJALA DAN TANDA


Pasien

dengan ileus biasanya mengalami


sakit perut ringan yang samar-samar dan
kembung . Disertai mual, muntah, dan
nafsu makan yang buruk. Kram perut (-),
flatus (-), BAB (-).
Terdapat distensi abdomen dan timpani,
tergantung dari derajat distensi abdomen
maupun usus. Terdapat nyeri tekan, suara
usus yang hipoaktif maupun sebaliknya
yaitu bunyi usus nada tinggi menandakan
obstruksi. Suara hipoaktif menandakan
hilangnya peristaltik.

RADIOLOGI
Upright CXR & supine and upright
abdominal radiographs:
initial imaging study.
1. CXR :
1. Mendeteksi kondisi extra-abdominal
yang terjadi bersama obstruksi
usus, contoh : pneumonia.
2. Adanya pneumoperitoneum
menandakan perforasi.

2. Abdominal X-RAY
Dilatasi usus halus apabila
diameter usus halus 3 cm, colon
proximal 9 cm dan colon sigmoid
5 cm.
Usus halus yang terdilatasi
cenderung menuju central
portion dari abdomen.
Colon yang terdilatasi
cenderung berada di periferal
abdomen dan ditandai dengan
haustral marking.

3. Contrast studies:
Identifikasi lokasi dan sebab
obstruksi
Membedakan antara
obstruksi pada colon atau
distal small bowel
Membedakan antara ileus
parsial atau obstruksi total.

Coiled

spring
appearance

Herring

bone
appearance

Multiple

Air-fluid
Levels
(Step
Ladder Sign)

String

of
Beads Sign

TATALAKSANA
A. Resusitasi
B. Konservatif
1. Riwayat operasi
2. Obstruksi inkompleta
3. Keganasan stage akhir
4. Diagnosis belum pasti
C. Indikasi operasi

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Peritonitis lokal atau umum


Perforasi
Hernia ireponible
Teraba massa
Closed loop obstruction
Failure to improve

Internal Bleeding

Perdarahan
trauma abdomen trauma
pada organ padat (hati & limpa)
Darah dalam cavum abdomen
rangsangan peritoneum & nyeri
anemia dan syok hemoragik
Perdarahan pada rongga usus
kondisi gawat, butuh tindakan operasi
segera
Akibat

Varises esofagus, tukak lambung atau


duodenum, kolitis ulcerativa, dan
divertikulitis kolon

Trauma lien dan ginjal

Trauma hepar

Perdarahan oleh trauma


Terdapat

3 regio abdomen :
rongga peritoneal, rongga
retroperitoneal, dan rongga
pelvis. Rongga pelvis : rongga
peritoneal dan retroperitoneal
Abnormalitas hemodinamik dan
trauma tumpul multipel cari
perdarahan intraabdominal
atau kontaminasi dari saluran
cerna px FAST dan DPL
Tanpa abnormalitas
hemodinamik contrastenhanced CT
Pasien dengan luka penetrans,
disertai hipotensi, peritonitis
atau eviseserasi laparatomi
segera

Luka

tembak menembus
rongga peritoneum atau
area visera retroperitoneum
pd px fisik & x-ray
laparotomi emergensi
Pasien luka dinding depan,
penetrasi fascia atau
peritoneum, asimptomatik
px fisik serial atau DPL
Luka tusuk flank,
asimptomatik evaluasi
px fisik serial atau contrastenhanced CT
Laparotomi dan laparoskopi
eksplorasi

FAST
Focused

assessment sonography in
trauma adalah salah satu dari 2 px
paling cepat untuk identifikasi
perdarahan atau potensi cedera organ
berongga.
Deteksi hemoperitoneum
Perlengkapan spesifik + dokter terlatih ,
senstivitas, spesifisitas dan akurasi
sebanding DPL dan CT abdomen
Penyulit : obesitas, udara subkutan,
riwayat operasi abdomen sebelumnya

FAST
Morrisons

pouch (hepato-renal space)

trauma.org

Rosens Emergency Medicine, 7th ed. 2009

FAST
Perisplenic

view

trauma.org

Rosens Emergency Medicine, 7th ed. 2009

FAST

Retrovesicle

(Pouch of Douglas)

Pericardium

(subxiphoid)

trauma.org

Rosens Emergency Medicine, 7th ed. 2009

DPL
Diagnostic

Algoritma Trauma Abdomen

Pengelolaan
Pengembalian

fungsi vital & optimasi


oksigenasi dan perfusi jaringan
Kenali segera sumber perdarahan
Mengungkap mekanisme cedera
Px fisik awal teliti, diulang dengan interval
reguler
Manuver dx sesuai keperluan, lakukan
sesingkat mungkin
Kecurigaan tinggi utk cedera vaskular dan
retroperitoneal yang samar
Pengenalan dini pasien yang perlu intervensi
bedah dan laparotomi segera

Prinsip Managemen
Akut Abdomen

1.
2.
3.
4.
5.

Puasa
Dekompresi lambung dengan
pemasangan NGT
Rehidrasi dengan pemasangan infus
Pemasangan Kateter
Pemeriksaan laboratorium

Darah rutin
Amilase, lipase
Na, K
Ureum, Kreatinin
GDS

Lanjutan
6.

Rontgen
Foto 2 posisi: BNO tegak dan BNO
datar, atau LLD dan BNO Datar
Foto 3 posisi: BNO tegak, LLD, BNO
datar

7.

Operasi: Laparotomi

Indikasi Tindakan Bedah

Pemeriksaan radiologi:
Pneumoperitonium
Distensi usus berat
Ekstravasasi bahan kontras
Tumor disertai demam tinggi
Oklusi vena / arteri mesenterika

Pemeriksaan endoskopi :
Perforasi saluran cerna
Perdarahan saluran cerna

Hasil parasentesis/laparoskopi
Darah segar, empedu, pus, isi usus, atau urin

TERIMA KASIH