Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA

PENENTUAN KONSTANTA KECEPATAN REAKSI


SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013
MODUL
PEMBIMBING

: PENENTUAN KONSTANTA KECEPATAN REAKSI


: Dra. ARI MARLINA, M.Si.

PEMBUATAN

: 28 NOVEMBER 2013

PENYERAHAN

: 4 DESEMBER 2013
OLEH

KELOMPOK
SHOFIYA WARDAH N
SIFA FUZI AWALLIYAH
SITI NURJANAH
KELAS

: 7
131411026
131411027
131411028
: 1A

PROGRAM STUDI

DIPLOMA III TEKNIK

KIMIA
JURUSAN TEKNIK

KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2013

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK


MODUL PRAKTIKUM
NAMA PEMBIMBING
NAMA MAHASISWA

: PENENTUAN KONSTANTA KECEPATAN REAKSI


: Dra. ARI MARLINA, M.Si.
: SHOFIYA WARDAH NABILAH
SIFA FUZI AWALLIYAH
SITI NURJANAH
TANGGAL PRAKTEK
: 28 NOVEMBER 2013
TANGGAL PENYERAHAN : 4 DESEMBER 2013
1. Tujuan Percobaan
Setelah melakukan kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu :
Memahami proses reaksi yang terjadi (reaksi antara H2O2 dengan HI).

Melakukan titrasi dengan baik dan benar.


Menentukan konstanta kecepatan reaksi.

2. Dasar Teori
2.1 Kecepatan Reaksi dan Pengukuran
Kecepatan reaksi kimia dapat diungkapkan sebagai perbandingan
perubahan konsentrasi pereaksi atau produk terhadap waktu. Hal ini analog
dengan kecepatan mobil, yaitu perubahan posisi (jarak yang ditempuh) dibagi
dengan waktu. Pada reaksi kimia, kecepatan dinyatakan dalam mol per liter per
detik,
Untuk penyederhanaan
maka kecepatan reaksi kimia
diberi simbol v, kecepatan
reaksi

kimia

ditentukan

dengan mengukur kecepatan


perubahan

konsentrasi

pereaksi atau produk. Hal ini


paling

mudah

dengan
konsentrasi

dilakukan
menentukan

setiap

interval

waktu tertentu. Contoh reaksi paling sederhana adalah reaksi yang melibatkan
hanya satu jenis pereaksi dan membentuk produk tunggal. Contohnya adalah
reaksi konversi siklopropena menjadi propilen,
Secara umum, untuk reaksi dengan stoikiometri, bila reaksi terjadi, mulamula produk (B) belum ada. Bersamaan dengan berjalannya waktu maka
konsentrasi B akan naik dan A akan turun. Pada titik dekat awal reaksi,
konsentrasi A berkurang dan B bertambah dengan cepat. Setelah reaksi
berlangsung lama, perubahan konsentrasi adalah kecil yang berarti kecepatannya
kecil. Perilaku ini terjadi untuk semua jenis reaksi kimia. Jika pereaksi berkurang
maka kecepatan reaksi berangsur-angsur turun.
Pada reaksi kompleks, tidak sesederhana AB, maka kecepatan
pembentukan produk dan pengurangan pereaksi tidak selalu sama tetapi
tergantung pada koefisian reaksi. Contohnya, reaksi
N2 + 3H2 2NH3
maka koefisien reaksi menjelaskan bahwa untuk setiap molekul N 2 bereaksi
dengan 3 molekul H2. Ini berarti bahwa hidrogen berkurang tiga kali lebih cepat

dibandingkan dengan nitrogen. Koefisien NH3 adalah 2, maka kecepatan


pembentukan NH3 adalah 2 kali lebih besar dari kecepatan pengurangan N2.
2.2 Penentuan kecepatan reaksi
Pada titik-x, perubahan konsentrasi adalah (B) dan perubahan waktu
adalah t. Tanda minus (-) menyatakan bahwa konsentrasi A berkurang dengan
waktu, dan tanda minus selalu digunakan untuk menyatakan kecepatan terhadap
pereaksi. Bila range perubahan konsentrasi dan waktu sangat kecil maka dapat
ditulis, Untuk reaksi kompleks seperti reaksi pembentukan NH 2 dari N2 dan H2
maka dapat ditulis, Pada penentuan kecepatan reaksi kimia, maka monitoring
konsentrasi dan teknik pengukuran yang digunakan tergantung pada sifat
pereaksi atau hasil reaksi. Contohnya:
a) Reaksi gas: penentuan perubahan konsentrasi dilakukan dengan pengukuran
perubahan tekanan.
b) Pereaksi dan produk zat berwarna: penentuan perubahan konsentrasi
dilakukan dengan pengukuran intensitas warna.
Contoh reaksi perubahan warna:
Br2(aq) + HCOOH(aq) 2Br- (aq) + 2H+ (aq) + CO2(g)
Molekul brom adalah berwarna coklat. Setelah reaksi berlangsung, warna
secara perlahan hilang. Fenomena ini dapat diamati dengan mata atau dimonitor
secara kuantitatif dengan spektrofotometer sinar tampak. Perubahan warna
setiap selang waktu disebut kecepatan reaksi dan dapat dinyatakan dengan:
Contoh lain reaksi perubahan warna adalah reaksi redoks Zn-Cu2+, gambar 4.5.
Kecepatan reaksi melalui perubahan warna larutan Cu2+ dan pembentukan gas Cl2
masing.
2.3 Hukum Laju
Tidak semua reaksi barjalan dengan kecepatan yang sama. Reaksi ionik
biasanya terjadi seketika. Reaksi lain seperti pencernaan makanan terjadi
sangat lambat. Perbedaan kecepatan ini terutama disebabkan perbedaan sifat
kimia zat pereaksi. Untuk setiap reaksi kimia, selain sifat kimia pereaksi, salah
satu faktor penting pengendali reaksi kimia adalah konsentrasi pereaksi.
Umumnya, bila reaksi telah berlangsung lama maka kecepatannya berangsurangsur turun. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa kecepatan reaksi tergantung
pada konsentrasi zat-zat yang bereaksi. Kecepatan reaksi kimia hampir selalu
berbanding lurus dengan konsentrasi pereaksi dengan pangkat tertentu. Untuk
reaksi,
AB
dapat ditulis,

dengan pangkat n disebut orde reaksi. Bila n=l disebut reaksi orde l. Contoh
reaksi orde 1 adalah dekomposisi siklopropana. Bila n=0 disebut reaksi orde nol.
Pada reaksi orde nol, kecepatan reaksi adalah konstan dan tidak tergantung pada
konsentrasi pereaksi. Salah satu contoh reaksi orde nol adalah dekomposisi
amonia pada permukaan logam Pt atau tungsten. Kecepatan dekomposisi
amonia selalu sama berapapun konsentrasi NH3. Contoh lain adalah reaksi
eliminasi etil alkohol (alkohol) oleh tubuh. Berapapun konsentrasi alkohol di
dalam aliran darah, kecepatan pengeluarannya dari dalam tubuh adalah konstan.
Jadi kecepatannya tidak tergantung pada konsentrasi alkohol.
Satu fakta penting lain yang perlu diketahui adalah bahwa koefisien reaksi tidak
ada hubungannya dengan orde reaksi. Harga n hanya dapat ditentukan dari
percobaan. Hal ini berbeda dengan kesetimbangan kimia, dimana koefisien reaksi
ada hubungannya dengan pangkat konsentrasi pada ungkapan konstanta
kesetimbangan.
Untuk reaksi lebih kompleks,
A + B produk
maka biasanya kecepatan tergantung pada konsentrasi A dan B. Bila konsentrasi A
dan B diperbesar maka kecepatan reaksi meningkat, dan sebanding dengan
perkalian konsentrasi A dan B masing-masing dipangkat dengan bilangan tertentu,
misalnya n dan m. Jadi,
Pada reaksi ini, n dan m adalah orde reaksi terhadap A dan B. Jumlah n dan m
disebut orde reaksi total. Harga n dan m boleh semua bilangan pecahan, negatip
dan nol. Reaksi,
NO2(g) + CO(g) CO2(g) + NO(g)
pada temperatur dibawah 225 C maka,
Jadi kecepatan tidak tergantung pada konsentrasi CO tetapi hanya pada NO 2
pangkat dua. Jadi reaksi adalah orde 2 terhadap NO2 dan orde nol terhadap CO.
Perhatikan bahwa karena koefisien reaksi dengan pangkat NO 2 tidak ada
hubungan karena koefisien reaksi adalah 1 sedangkan orde reaksi adalah 2. Seperti
dijelaskan sebelumnya, orde reaksi ditentukan dari percobaan.
Hubungan proporsionalitas (kesebandingan) dapat diubah menjadi kesamaan
dengan menggunakan konstanta proporsional, misalnya k. Pada kinetika kimia, k
disebut konstanta kecepatan reaksi.
Contohnya, hukum laju reaksi ICl dan H2,
2ICl(g) + H2(g) I2(g) + 2HCl(g)
dan pada 230C persamaan hukum lajunya adalah
Harga k=0,163 Lmol-1det-l, dan ini berlaku hanya pada suhu 230C. Bila
temperaturnya berbeda maka harga k juga berbeda.

2.4 Penentuan hukum laju


Salah satu caranya adalah dengan melakukan serangkaian percobaan
dengan konsentrasi awal pereaksi berubah secara teratur. Contohnya reaksi,
A B, dan , maka jika reaksi adalah orde 1 dapat ditulis,
Ini berarti bahwa bila konsentrasi diperbesar 2 kali maka kecepatan juga berubah
2 kali. Jika reaksi adalah orde 2,
maka bila konsentrasi diperbesar dua kali diperoleh bahwa kecepatan reaksi
berubah 4 kali.
2.5 Konsentrasi dan waktu: waktu paruh
Hukum laju menyatakan hubungan antara kecepatan reaksi dengan
konsentrasi pereaksi. Selain hubungan ini, juga dapat diperoleh hubungan lain
yaitu antara konsentrasi dengan waktu. Contohnya, untuk reaksi orde 1,
A produk dengan [A]o adalah konsentrasi mula-mula (pada t=0) dan [A]t
adalah konsentrasi pada waktu t setelah reaksi berlangsung. Bila reaksi orde 2,
dengan maka dapat diturunkan hubungan,
Hal yang sama dapat dilakukan untuk reaksi dengan orde lebih tinggi dan
reaksi kompleks. Satu besaran penting lain, khususnya untuk reaksi orde 1, adalah
waktu-paruh, tl/2, yang didefinisikan dengan waktu yang diperlukan agar
pereaksi berkurang setengah dari konsentrasi sebelumnya. Jadi pada t=tl/2,
Untuk reaksi orde 1, tl/2 hanya tergantung pada k. Jadi harga t 1/2 adalah konstan
selama reaksi berlangsung. Untuk reaksi orde 2, waktu paruh reaksi orde 2
tergantung pada konsentrasi awal. Karena setiap satu waktu paruh konsentrasi
[A]t=1/2[A]o, maka pada waktu paruh pada t=t2 adalah dua kali lebih besar dari
waktu paruh pada t=t1, yaitu:
Hubungan waktu paruh dengan k dan [A]o untuk reaksi dengan orde lebih tinggi
dapat juga diturunkan.

2.6

Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi adalah kecepatan perubahan konsentrasi per satuan

waktu, dapat ditulis dengan dC/dt . Di dalam reaksi kimia, zat-zat kimia dapat
bereaksi dibagi menjadi dua macam yaitu:
- Reaktan adalah zat yang bereaksi
- Produk adalah zat hasil reaksi
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi antara lain konsentrasi,
sifat zat yang bereaksi, suhu dan katalisator.
a. Konsentrasi

Dari berbagai percobaan menunjukkan bahwa makin besar konsentrasi


zat-zat yang bereaksi makin cepat reaksinya berlangsung. Makin besar
konsentrasi makin banyak zat-zat yang bereaksi sehingga makinbesar
kemungkinan terjadinya tumbukan dengan demikian makin besar pula
kemungkinan terjadinya reaksi.
b. Sifat Zat Yang Bereaksi
Sifat mudah sukarnya suatu zat bereaksi akan menentukan kecepatan
-

berlangsungnya reaksi. Secara umum dinyatakan bahwa:


Reaksi antara senyawa ion umumnya berlangsung cepat.
Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antara ion-ion yang
muatannya berlawanan.
Contoh: Ca2+(aq) + CO32+(aq) CaCO3(s)
Reaksi ini berlangsung dengan cepat.
Reaksi antara senyawa kovalen umumnya

berlangsung

lambat.

Hal ini disebabkan karena untuk berlangsungnya reaksi tersebut dibutuhkan


energi untuk memutuskan ikatan-ikatan kovalen yang terdapat dalam
molekul zat yang bereaksi.
Contoh: CH4(g) + Cl2(g) CH3Cl(g) + HCl(g)
Reaksi ini berjalan lambat reaksinya dapat dipercepat apabila diberi energi
misalnya cahaya matahari.
c. Suhu
Pada umumnya reaksi akan berlangsung lebih cepat bila suhu
dinaikkan. Dengan menaikkan suhu maka energi kinetik molekul-molekul zat
yang bereaksi akan bertambah sehingga akan lebih banyak molekul yang
memiliki energi sama atau lebih besar dari Ea. Dengan demikian lebih banyak
molekul yang dapat mencapai keadaan transisi atau dengan kata lain kecepatan
reaksi menjadi lebih besar. Secara matematis hubungan antara nilai tetapan
laju

reaksi

(k)

terhadap

suhu

dinyatakan

oleh

formulasi

ARRHENIUS:
k = A . e-E/RT, dimana:
k : tetapan laju reaksi
A: tetapan Arrhenius yang harganya khas untuk setiap reaksi
E : energi pengaktifan
R : tetapan gas universal = 0.0821.atm/molK = 8.314 joule/molK
T : suhu reaksi (K)
d. Katalisator
Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan
maksud memperbesar kecepatan reaksi. Katalis terkadang ikut terlibat dalam

reaksi tetapi tidak mengalami perubahan kimiawi yang permanen, dengan kata
lain pada akhir reaksi katalis akan dijumpai kembali dalam bentuk dan jumlah
yang sama seperti sebelum reaksi. Fungsi katalis adalah memperbesar
kecepatan reaksinya (mempercepat reaksi) dengan jalan memperkecil energi
pengaktifan suatu reaksi dan dibentuknya tahap-tahap reaksi yang baru.
Dengan menurunnya energi pengaktifan maka pada suhu yang sama reaksi
dapat berlangsung lebih cepat. Kecepatan reaksi dapat ditinjau dari segi
reaktan maupun produk. Artinya lambing C pada dC/dt dapat dipilih untuk
reaktan atau produk. Hanya harus diingat bahwa selama reaksi berjalan
konsentrasi reaktan selalu berkurang sedangkan konsentrasi produk selalu
bertambah, sehingga kecepatan reaksinya adalah :
(-dC)/dt untuk reaktan
dC/dt untuk produk
Secara umum kecepatan reaksi searah dapat ditulis sebagai berikut :

Reaksi hidrolisis sukrosa pada dasarnya termasuk ke dalam reaksi orde dua
C12H21O11 + H2O C6H12O6 + C6H8O6
Karena konsentrasi air konstan maka :
(-d[C12H21O11])/dt = k [H2O] [C12H21O11] = k1[C12H21O11]
Maka reaksi hidrolisa sukrosa dapat digolongkan ke dalam reaksi orde satu:
ln [C12H21O11]0/[C12H21O11]t = k1t a
tau k1 = 1/t ln [C12H21O11]0/[C12H21O11]t
Untuk mencari k1 dari persamaan tersebut perlu diketahui konsentrasi
sukrosa mula-mula dan konsentrasi sukrosa pada waktu t. pada umumnya
konsentrasi reaktandapat ditentukan dengan jalan tittrasi, tetapi untuk
menitrasi campuran sukrosa, glukosa dan fruktosa adalah sangat sukar. Karena
itu untuk mengetahui konsentrasi sukrosa dipakai cara polarimetri. Hal ini
berdasarkan pemutaran bidang polarisasi, dimana sukrosa memutar bidang
polarisasi kanan, glukosa memutar bidang polarisasi kiri yang lebih kuat.
Larutan sukrosa murni memutar bidang polarisasi kanan. Kalau hidrolisis
sudah berjalan, maka glukosa dan fruktosa akan terbentuk, sehingga
pemutaran bidang polarisasi ke kanan akan diperkecil. Pada akhir reaksi,
dimana sukrosa habis, larutan menjadi memutar bidang polarisasi kekiri.

dimana:
a0 = sudut putar mula-mula
at = sudut putar pada waktu t
a= sudut putar akhir
3. Skema kerja
A. Penentuan ekivalen H2O2 dengan tiosulfat
a.

b.

10 ml H2O2
3%
TITRASI , KmnO4
0,1 N
2 gr KI + 20 ml
aquades
TITRASI , Na2S2O3
0,1 N

100 ml , H2SO4 2N

H2SO4 pekat 1
ml , 10 ml
KmnO4 0,1 N

B. Penentuan kecepatan reaksi


5 ml H2O2 3% + 100 ml
aquades
500 ml aquades, 30 ml H2SO4 2 N , 3 ml lar.kanji, 1,5 gr
KI , 2 ml tiosulfat

4. Data Percobaan Pengadukan dan perhitungan waktu hingga


Penentuan ekivalen
H2O2 biru
dengan tiosulfat
warna
Titrasi 10mL H2O2 dengan KMnO4 0,1 N
= 20,95 mL (rata-rata)
Titrasi 10mL KMnO4 dengan Na2S2O3 0,1N = 12,65 mL (rata-rata)
Penentuan Kecepatan Reaksi
N
O
1
2
3
4
5
6
7
8

Na2S2O3 (b) mL

t (detik)

2
4
6
8
10
12
14
16

164
249
336
447
503
604
701
794

2 ml
tiosulfat
( biru )

9
10

18
20

892
992

5. Perhitungan
a. Penentuan Ekivalen H2O2 dengan Tiosulfat
10 mL H2O2 0,3 %
10 mL KMnO4

=> x
=> y

1 mL KMnO4

=>

x mL KMnO4

=>

Y
10
XY
10
XY
10

= 20,95 mL KMnO4
= 12,65 mL tiosulfat
12,65
= 1,265 mL tiosulfat
10

20,95 12,65
10

= 26,5 mL tiosulfat

20,95 12,65
10

= 26,5 mL tiosulfat

10 mL H2O2 0,3 %

=>

10 mL H2O2 3 %

=> x.y = 20,95 12,65 = 265,02 mL tiosulfat

b. Penentuan Kecepatan Reaksi


a

XY
2

20,95 12,65
2

= 132,5 mL
= 2 ml

t (detik)

164
249
336
447
503
604
701
794
892
992

Na2S2O3
( b ml)

2
4
6
8
10
12
14
16
18
20

a-b (ml)

130,5
128,5
126,5
124,5
122,5
120,5
118,5
116,5
114,5
112,5

a
ab

1,02
1,03
1,05
1,06
1,08
1,10
1,12
1,14
1,16
1,17

Ln
a
ab

0,02
0,03
0,05
0,06
0,08
0,10
0,12
0,14
0,16
0,17

1
K= t

. Ln

a
ab
0,0001219
0,0001204
0,00015
0,00013
0,00016
0,00017
0,0001712
0,0001763
0,00017994
0,0001714
0,0001551

6. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, Setelah praktikum dilakukan dan data diolah
didapatkan grafik garis lurus. Jika grafik itu berupa garis lurus, maka reaksi itu adalah
reaksi orde pertama dan konstanta ( k ) dapat diperoleh dari kemiringannya ( yang
akan sama dengan k ). Secara teori konsentrasi reaktan akan berkurang secara
eksponensial terhadap waktu dengan laju yang ditentukan oleh k. Adapun factor yang
menentukan kelajuan reaksi kimia adalah sifat pereaksi, konsentrasi pereaksi, suhu
dan katalisator.
Dalam perhitungan yang telah dilakukan didapatkan nilai k yang berbeda dari
perhitungan secara teoritis dan dari grafik. Nilai k berdasarkan perhitungan teoritis
didapat sebesar 5,9 x 10-4/s tapi berdasarkan tan dari kedua grafik yang di buat di
dapat k = 7,2 x 10-4/s. Perbedaan ini terjadi karena adanya kerancuan atau kesalahan
yang terjadi dalam kinetic work ( praktikum yang bertujuan untuk mengetahui laju
reaksi, konstanta dsb. ). Maka demi menghindari kesalahan tersebut praktikan harus
tahu mengenai reaktan yang di gunakan dan produk yang akan dihasilkan, juga harus
tahu jika ada hasil sampingan. Peralatan yang digunakan praktikan pun harus bersih.
Untuk mendapatkan hasil yang benar sebaiknya praktikan melakukan
percobaan berulang kali demi mendapatkan data yang seakurat akuratnya. Data
yang didapat dari awal hingga pertengahan percobaan/praktikum bisa saja berbanding
terbalik ketika praktikum hampir selesai. Karena banyaknya sumber kesalahan itu lah
konstanta reaksi yang di dapat sering kurang akurat.

7. KESIMPULAN
Melalui praktikum kali ini, kami dapat memahami proses reaksi yang terjadi, yaitu:

Reaksi 1
H2O2 + 3H2SO4 + 2KMnO4 2MnSO4 + K2SO4 + 4H2O + 3O2
Reaksi 2
10 KI + 8 H2SO4 + 2KMnO4 2MnSO4 + 8H2O + 5 I2 + 6 K2SO4
Reaksi 3
H2O2 + H2SO4 + KI K2SO4 + I2 + 2H2O
2S2O32- + I2 2I- + S4O62Pada larutan yang mempunyai keasaman yang tinggi atau konsentrasi iodide
yang tinggi, akan diperoleh kecepatan reaksi yang lebih besar. Kepekatan indicator

kanji terhadap iod sangat diperlukan, dimana kanji dengan iod akan bereaksi
membentuk senyawa kompleks yang berwaarna biru, karena adanya adsorpsi iod oleh
koloid kanji. Besarnya adsorpsi larutan kanji terhadap iod dipengaruhi oleh
konsentrasi iodide yang tersedia. Dengan demikian timbulnya warna biru bukan
hanya ditentukan oleh konsentrasi iod melainkan juga karena adanya iodide.
Pertanyaan
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang dimaksud dengan kecepatan reaksi?


Apa satuan konstanta kecepatan reaksi untuk reaksi tingkat -1?
Tuliskan reaksi yang terjadi secara lengkap.
Berapa konsentrasi H2O2 yang digunakan?
Apa kegunaan Asam Sulfat dalam percobaan ini?

Jawaban:
1. Jumlah mol reaktan per satuan volume bereaksi dalam satuan waktu tertentu.
2. detik-1
3. Reaksi 1
H2O2 + 3H2SO4 + 2KMnO4 2MnSO4 + K2SO4 + 4H2O + 3O2
Reaksi 2
10 KI + 8 H2SO4 + 2KMnO4 2MnSO4 + 8H2O + 5 I2 + 6 K2SO4
Reaksi 3
H2O2 + H2SO4 + KI K2SO4 + I2 + 2H2O
2S2O32- + I2 2I- + S4O624. - Pengenceran pertama
%1.V1 = %2.V2
0,03 % . 10 ml = %2 . 100 ml
0,03 % . 10 ml / 100 ml = 0,003 % = %2
- Pengenceran kedua
%1.V1 = %2.V2
0,03 % . 5 ml = %2 . 100 ml
0,03 % . 5 ml / 100 ml = 0,0015 % = %2
5. Sebagai pemberi suasana asam juga sebagai katalisator.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ngatin, Agustinus & Marlina, Ari. 2013. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika Program
Studi D3 Teknik Kimia dan Teknik Kimia Produksi Bersih Semester 1. Bandung.
2. http://imc.kimia.undip.ac.id/mata-kuliah/kimia-dasar-ii/bab-4-kinetika-reaksikimia/html.
3. http://theonalle.blogspot.com/2010/12/konstanta-kecepatan-reaksi.html.
4. perpustakaancyber.blogspot.com