Anda di halaman 1dari 15

MODULE I

REGIONAL RESOURCE ECONOMICS


SUPERVISED PRACTICUM 1

ANALISIS KINERJA PEREKONOMIAN KAWASAN


SEBAGIAN PROVINSI JAMBI

Lecturer
Ayutia Nurwita, S.E.,M.T.

By :
Wahyu Widiyatmoko (14/370741/PMU/8199)

GEO-INFORMATION FOR SPATIAL PLANNING AND RISK MANAGEMENT


GRADUATE SCHOOL GADJAH MADA UNIVERSITY
YOGYAKARTA
2015

1. Analisis Laju Pertumbuhan Kawasan dan Antar Bagian Kawasan


Analisis pertumbuhan ekonomi digunakan untuk mengetahui kenaikan produksi riil yang
dihasilkan oleh suatu daerah. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah menggunakan
data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) harga kosntan dan bukan menggunakan
harga berlaku. PDRB harga konstan meningkat disebabkan oleh peningkatan produksi riil
bukan kenaikan harga. PDRB harga berlaku tidak digunakan karena PDRB harga berlaku
meningkat disebabkan oleh peningkatan produksi dan harga.
Terdapat 2 metode untuk menghitung pertumbuhan ekonomi, yaitu menggunakan metode
sederhana dan metode end to end.
Metode sederhana
(1,) =

1
100%
1

PBRBt
= PDRB tahun tertentu
PDRB(t-1) = PDRB satu tahun sebelumnya
Metode end to end
1

= [

] 1 100%
0

tn = tahun akhir observasi


t0 = tahun awal observasi
n = jumlah observasi
a. Analisis Laju Pertumbuhan Kawasan
Tabel 1. PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan 2009-2012
Tahun
2009
2010
2011
2012

PDRB Kawasan
Pertumbuhan Ekonomi
(Miliar Rupiah)
Kawasan (%)
8876.58
9524.80
7.30
10241.80
7.53
10999.68
7.40

PDRB kawasan pada tahun 2009-2012 selalu menunjukkan adanya peningkatan, hal ini
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kawasan selalu bernilai positif. Pertumbuhan
ekonomi kawasan juga menunjukkan nilai yang cukup besar, yaitu pertumbuhan selalu
diatas 7% melebihi pertumbuhan ekonomi rata-rata nasional. Kenaikan PDRB kawasan
tidaklah konstan, melainkan dinamis sesuai dengan keadaan ekonomi kawasan pada
tahun tersebut. Dari gambar 1, dapat dilihat bahwa, walaupun PDRB selalu meningkat,
akan tetapi laju kenaikan tidaklah sama. Pada tahun 2010-2011 laju pertumbuhan

mengalami kenaikan, akan tetapi pada periode 2011-2012 laju pertumbuhan mengalami
penurunan. Walaupun mengalami penurunan, angka pertumbuhan ekonomi masih diatas
7% pada periode 2011-2012. Angka pertumbuhan ekonomi kawasan pada table 1
dihitung menggunakan metode sederhana.

Gambar 1. Grafik PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Tahun 2009-2012

b. Analisis Laju Pertumbuhan Antar Bagian Kawasan


Analisis laju pertumbuhan antar kawasan dihitung menggunakan metode end to end.
Kawasan yang menjadi objek analisis terdiri atas 6 Kabupaten, yaitu Merangin,
Sorolangun, Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tanjung Jabung
Barat. PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi setiap kabupaten disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. PDRB Setiap Kabupaten Per Tahun 2009-2012
PDRB (Miliar Rupiah)
Kabupaten
Merangin
Sorolangun
Batanghari
Muaro Jambi
Tanjung Jabung Timur
Tanjung Jabung Barat
Kawasan

2009

2010

1097.54
1139.44
1124.40
1117.66
2271.69
2125.85
8876.58

1183.70
1231.63
1192.42
1242.11
2402.97
2271.97
9524.80

2011

2012

1266.79
1339.99
1286.56
1331.27
2566.99
2450.20
10241.80

1348.81
1444.75
1378.01
1431.72
2758.00
2638.39
10999.68

Rerata
PDRB

Rerata
Pertumbuhan
Ekonomi (%)

1224.21
1288.95
1245.35
1280.69
2499.91
2371.60
9910.72

Dari ke 6 kabupaten yang menjadi objek analisis, semua kabupaten menunjukkan


pertumbuhan ekonomi yang positif, hal ini menunjukkan bahwa PDRB setiap kabupaten
terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. PDRB terbesar yang terdapat pada
kawasan ini adalah PDRB Kabupaten Tanjung Jabung Timur.Nilai PDRB ini 2 kali lipat

7.11
8.23
7.01
8.60
6.68
7.47
7.41

dari PDRB Kabupaten Merangin yang mempunyai PDRB terkecil diantara 6 kabupaten.
Perbandingan besarnya PDRB setiap kabupaten dapat dilihar pada gambar 2. Kabupaten
Merangin, Sorolangun, Batanghari dan Muaro Jambi memiliki PDRB yang hampir sama
besarnya. Sedangkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur
memiliki PDRB yang jauh lebih besar dibandingkan 4 kabupaten yang lain.

Gambar 2. Grafik Rata-Rata PDRB Setiap Kabupaten Per Tahun 2009-2012 (Miliar
Rupiah)

Gambar 3. Grafik Rata-Rata Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Tahun 2009-2012 (%)


Laju pertumbuhan ekonomi juga berbeda setiap kabupaten. Kabupaten yang memiliki
PDRB yang besar belum tentu memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dari
hasil perhitungan, laju pertumbuhan kawasan memiliki angka 7,41%. Terdapat 3
kabupaten yang memiliki laju pertumbuhan dibawah laju pertumbuhan kawasan, yaitu

Kabupaten Merangin, Batanghari, dan Tanjung Jabung Timur. Laju pertumbuhan


terendah adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur dimana memiliki nilai PDRB terbesar
di kawasan. Laju pertumbuhan tertinggi adalah Kabupaten Muaro Jambi.
Tabel 3. Rata-Rata PDRB Setiap Kabupaten Per Sektor Tahun 2009-2012 (Miliar Rupiah)
Lapangan Usaha/Industrial Origin

Tanjung
Jabung
Timur

Tanjung
Jabung
Barat

Kawasan

469.74

691.08

602.30

3265.69

95.23

235.50

947.61

318.57

1826.48

153.30

188.73

240.74

688.24

1374.74

2.09

2.72

3.08

11.90

30.70

86.04

47.00

44.94

33.71

33.71

361.24

204.71

196.24

289.73

194.07

369.95

398.13

1652.82

59.38

75.40

37.30

40.21

94.66

82.59

389.53

50.03

63.93

30.61

27.33

33.53

42.78

248.20

124.18

74.87

205.86

77.48

86.83

193.39

762.60

1224.21

1288.95

1245.35

1280.69

2499.91

2371.60

9910.72

Merangin

Sorolangun

Batanghari

520.81

597.52

384.25

92.34

137.24

50.37

53.36

6.57

4.36

Konstruksi

115.84

Perdagangan, Hotel & Restoran

Pertanian, Peternakan, Kehutanan &


Perikanan
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih

Pengangkutan & Komunikasi


Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan
Jasa-jasa
Produk Domestik Bruto

Muaro
Jambi

Jika dilihat dari PDRB tiap sector, PDRB kawasan paling besar disumbang oleh sektor
pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini juga menjadi penyumbang
utama PDRB dari setiap kabupaten kecuali Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dimana
sektor terbesar penyumbang PDRB adalah pertambangan & penggalian dan Kabupaten
Tanjung Jabung Barat dimana sektor terbesar penyumbang PDRB adalah industri
pengolahan. Penyumbang terkecil PDRB kawasan adalah sektor listrik, gas, dan air
bersih. Nilai sektor ini jauh lebih kecil dari nilai sektor yang lain. Sektor ini juga menjadi
penyumbang terkecil PDRB setiap kabupaten di kawasan. .
Tabel 4. Rata-Rata Pertumbuhan Ekonomi Setiap Kabupaten Per Sektor Tahun 2009-2012 (%)
Tanjung
Jabung
Timur

Tanjung
Jabung
Barat

Kawasan

12.51

4.34

11.05

6.83

7.02

4.12

11.14

12.41

11.59

19.93

3.68

4.95

3.53

4.10

6.97

9.93

12.64

12.65

54.13

8.44

8.88

17.78

8.90

9.96

6.14

10.71

6.52

12.48

9.12

Perdagangan, Hotel & Restoran

10.48

11.57

9.89

9.48

8.70

6.82

9.49

Pengangkutan & Komunikasi


Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan

12.11

5.13

8.89

6.37

3.70

3.78

6.66

10.14

10.92

7.19

4.44

-8.84

5.62

4.91

Jasa-jasa

4.72

4.50

10.31

7.61

2.79

3.99

5.65

Produk Domestik Bruto

7.11

8.23

7.01

8.60

6.68

7.47

7.41

Lapangan Usaha/Industrial Origin

Merangin

Sorolangun

Batanghari

4.15

4.47

4.48

15.52

19.31

Industri Pengolahan

5.63

Listrik, Gas & Air Bersih


Konstruksi

Pertanian, Peternakan, Kehutanan &


Perikanan
Pertambangan & Penggalian

Muaro
Jambi

Laju pertumbuhan tertinggi di kawasan adalah sektor listrik, gas, dan air bersih. Sektor
ini mengalami laju pertumbuhan yang tinggi karena sektor ini memiliki nilai yang sangat
kecil dibanding dengan sektor lain. Sektor ini berkembang sangat cepat di Kabupaten
Muaro Jambi. Di kabupaten ini, sektor listrik, gas, dan air bersih bertumbuh dengan
kelajuan 54,3 %. Pertumbuhan ekonomi terendah di kawasan adalah sektor keuangan,
real estate, dan jasa perusahaan. Laju pertumbuhan terkecil sektor ini terletak di
Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Di kabupaten ini, sektor keuangan, real estate, dan
jasa keuangan bahkan mengalami pertumbuhan yang negatif, yaitu sebesar -8,84%.

2. Analisis Struktur Ekonomi Kawasan


Analisis struktur ekonomi digunakan untuk mengetahui sumbangan atau peranan masingmasing kegiatan ekonomi atau sector dalam perekonomian kawasan perencanaan secara
keseluruhan dalam suatu tahap tertentu.
=


100%

Tabel 5. PDRB dan Struktur Ekonomi Kawasan Tahun 2009-2012


Lapangan Usaha/Industrial
Origin

PDRB Kawasan (Miliar Rupiah)

Struktur Ekonomi Kawasan (%)

2009

2010

2011

2012

2009

2010

2011

2012

Pertanian, Peternakan,
Kehutanan & Perikanan

2933.94

3166.26

3377.37

3585.17

33.05

33.24

32.98

32.59

Pertambangan & Penggalian

1591.90

1727.32

1910.56

2076.13

17.93

18.13

18.65

18.87

0.94

-0.46

1288.93

1343.30

1388.14

1478.58

14.52

14.10

13.55

13.44

-1.08

25.28

29.00

32.84

35.68

0.28

0.30

0.32

0.32

0.04

319.80

337.17

373.40

414.57

3.60

3.54

3.65

3.77

0.17

1446.93

1568.59

1719.41

1876.34

16.30

16.47

16.79

17.06

0.76

Pengangkutan & Komunikasi


Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan

355.32

378.06

400.33

424.39

4.00

3.97

3.91

3.86

-0.14

219.11

236.58

260.37

276.75

2.47

2.48

2.54

2.52

Jasa-jasa

695.42

738.52

784.39

832.06

7.83

7.75

7.66

7.56

-0.27

8876.58

9524.80

10241.80

10999.68

100.00

100.00

100.00

100.00

0.00

Industri Pengolahan
Listrik, Gas & Air Bersih
Konstruksi
Perdagangan, Hotel & Restoran

Produk Domestik Bruto

Struktur ekonomi kawasan terbesar disumbang oleh sektor pertanian, peternakan,


kehutanan, dan perikanan. Sektor ini menyumbang lebih dari 30% PDRB kawasan pada
tahun 2009-2012. Walaupun sektor ini adalah penyumbang terbesar PDRB, sektor ini
mengalami pergesaran negatif, artinya sektor ini semakin berkurang porsinya setiap tahun
dalam menyumbang PDRB dan digantikan oleh sektor lain, namun nilai pergesaran sangat
kecil. Listrik, gas, dan air bersih adalah sektor terkecil yang menyumbang PDRB kawasan.

0.05

Nilainya sangat kecil bila dibandingkan dengan sektor lain. Sektor ini juga mengalami
pergeseran sektor yang sangat kecil. Pada umumnya, pergeseran struktur ekonomi di
kawasan adalah sangat kecil atau bahkan hampir tidak mengalami perubahan dari tahun
2009-2012. Pergeseran struktur ekonomi yang paling terlihat adalah industri pengolahan
yang menunjukkan tren negatif. Grafik pergeseran struktur ekonomi dapat dilihat pada
Gambar 4.

Gambar 4. Pergeseran Struktur Ekonomi Kawasan Tahun 2009-2012

Tabel 6. Struktur Ekonomi Kabupaten-Kabupaten Tahun 2009-2012 (%)


Tanjung
Jabung Timur

Tanjung
Jabung Barat

36.68

27.64

25.40

7.65

18.39

37.91

13.43

4.14

12.31

14.74

9.63

29.02

0.54

0.34

0.17

0.21

0.12

0.50

9.46

6.68

3.77

3.51

1.35

1.42

16.72

15.22

23.26

15.15

14.80

16.79

4.85

5.85

2.99

3.14

3.79

3.48

4.09

4.96

2.46

2.13

1.34

1.80

Lapangan Usaha/Industrial Origin

Merangin

Sorolangun

Batanghari

Pertanian, Peternakan, Kehutanan


& Perikanan

42.54

46.36

30.85

Pertambangan & Penggalian

7.54

10.65

Industri Pengolahan

4.11

Listrik, Gas & Air Bersih


Konstruksi/Contruction
Perdagangan, Hotel & Restoran
Pengangkutan & Komunikasi
Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan
Jasa-jasa
Produk Domestik Bruto

Muaro
Jambi

10.14

5.81

16.53

6.05

3.47

8.15

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

100.00

Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan
menjadi sektor penyumbang terbesar dalam PDRB hampir di setiap kabupaten. Sektor ini
menyumbang 46,36% terhadap total PDRB di Kabupaten Sorolangun. Sedangkan sektor
penggalian dan pertambangan menyumbang 37,91% terhadap total PDRB di Kabupaten
Tanjung Jabung Timur. Sedangkan sektor industri pengolahan menyumbang 29,02%
terhadap total PDRB di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Sektor listrik, gas, dan air bersih
adalah penyumbang terkecil terhadap total PDRB di semua kabupaten. Sektor ini hanya
menyumbang kurang dari 1% PDRB setiap kabupaten. Secara lebih jelas, grafik struktur
ekonomi setiap kabupaten dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Grafik Struktur Ekonomi Kabupaten-Kabupaten Tahun 2009-2012

3. Analisis Struktur Keruangan Ekonomi Kawasan


Analisis pola keruangan ekonomi wilayah digunakan untuk mengetahui sumbangan atau
peranan masing-masing bagian wilayah dalam perekonomian kawasan perencanaan secara
keseluruhan dalam suatu tahap tertentu. Secara umum PDRB kabupaten diurutkan dari yang
memiliki PDRB terbesar adalah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat,
Sorolangun, Muaro Jambi, Batanghari, dan Merangin. Peringkat PDRB kabupaten di
kawasan dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Grafik Rangking PDRB Kawasan


Pada Tabel 7 disajikan data tentang peranan masing-masing kabupaten dalam menyumbang
PDRB tiap sektor yang ada di kawasan. Pola keruangan ekonomi dapat menyajikan
informasi tentang daerah mana yang menyumbang PDRB terbesar pada sektor tertentu di
kawasan. PDRB sektor pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan tertinggi terletak di
Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sektor pertambangan dan penggalian juga terletak di
Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan persentase lebih dari 50%. Sektor industri
pengolahan tertinggi terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan persentase lebih
dari 50%. Hampir semua PDRB sektor tertinggi terletak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat
dan Tanjung Jabung Timur, karena kedua kabupaten ini memiliki PDRB tertinggi di
kawasan, kecuali PDRB sektor konstruksi tertinggi terletak di Kabupaten Merangin dan
sektor keuangan, real estate, dan jasa peusahaan terletak di Kabupaten Sorolangun.
Tabel 7. Pola Keruangan Ekonomi Kawasan 2009-2012 (%)
Lapangan Usaha/Industrial Origin
Pertanian, Peternakan, Kehutanan
& Perikanan

Merangin

Sorolangun

Batanghari

Muaro
Jambi

Tanjung
Jabung
Timur

Tanjung
Jabung
Barat

Kawasan

15.95

18.30

11.77

14.38

21.16

18.44

100.00

Pertambangan & Penggalian

5.06

7.51

5.21

12.89

51.88

17.44

100.00

Industri Pengolahan

3.66

3.88

11.15

13.73

17.51

50.06

100.00

Listrik, Gas & Air Bersih

21.39

14.19

6.79

8.85

10.02

38.76

100.00

Konstruksi

32.07

23.82

13.01

12.44

9.33

9.33

100.00

Perdagangan, Hotel & Restoran

12.39

11.87

17.53

11.74

22.38

24.09

100.00

Pengangkutan & Komunikasi


Keuangan, Real Estat & Jasa
Perusahaan

15.24

19.36

9.57

10.32

24.30

21.20

100.00

20.16

25.76

12.33

11.01

13.51

17.24

100.00

Jasa-jasa

16.28

9.82

26.99

10.16

11.39

25.36

100.00

Produk Domestik Bruto

12.35

13.01

12.57

12.92

25.22

23.93

100.00

Gambar 7. Pola Keruangan Ekonomi Kawasan Tahun 2009-2012

4. PDRB Per Kapita


PDRB Per Kapita digunakan untuk mengetahui tingkat kemakmuran rata-rata penduduk.
=

Tabel 8. PDRB Per Kapita Setiap Kabupaten Tahun 2011-2012


Kabupaten
Merangin
Sorolangun
Batanghari
Muaro Jambi
Tanjung Jabung
Timur
Tanjung Jabung
Barat
Kawasan

PDRB (Miliar Rupiah)


2011
2012
1266.79
1348.81
1339.99
1444.75
1286.56
1378.01
1331.27
1431.72

Jumlah Penduduk
2011
2012
341563 350062
252421 259963
247386 252731
351553 363994

2011
3,708,803
5,308,552
5,200,618
3,786,826

PDRB Per Kapita


2012
Pertumbuhan
3,853,060
3.89
5,557,522
4.69
5,452,477
4.84
3,933,362
3.87

2566.99

2758.00

210420

211057 12,199,363 13,067,560

7.12

2450.20

2638.39

285731

293594

8,575,198

8,986,526

4.80

10999.68 1689074 1731401

6,063,559

6,353,052

4.77

10241.80

Tabel 8 menunjukkan bahwa PDRB per kapita tertinggi terletak di Kabupaten Tanjung
Jabung Timur. Hal ini dikarenakan kabupaten ini memiliki PDRB yang tinggi, sedangkan
jumlah penduduknya paling kecil diantara kabupaten yang lain. Kabupaten ini juga memiliki
laju pertumbuhan PDRB per kapita tertinggi di kawasan. Kabupaten Merangin memiliki
PDRB per kapita terendah dikarenakan kabupaten ini memiliki PDRB terendah juga
memiliki jumlah penduduk yang cukup besar dibandingkan jumlah penduduk kabupaten
lain. Peringkat PDRB per kapita setiap kabupaten disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8. Grafik Peringkat PDRB Per Kapita Antar Kabupaten Tahun 2012

5. Disparitas Pendapatan Antar Wilayah


a. Tipologi Klassen
Metode ini menggambarkan klasifikasi ekonomi wilayah berdasarkan laju pertumbuhan
ekonomi daerah dan tingkat PDRB per Kapita. Terdapat 4 karakteristik pola dan struktur
pertumbuhan ekonomi daerah: rapid growth region, retarted region, growing region,
relative backward region.
Tabel 9. Rata-rata Pertumbuhan dan Pendapatan Perkapita setiap Kabupaten Tahun
2009-2012
Kabupaten
Merangin
Sorolangun
Batanghari
Muaro Jambi
Tanjung Jabung Timur
Tanjung Jabung Barat
Kawasan

Rata-rata Pertumbuhan
(%/Tahun)
7.11
8.23
7.01

Rata-rata Pendapatan
Per Kapita (Rp)
3,718,213
5,272,262
5,159,950

8.60
6.68
7.47
7.41

3,723,667
11,899,861
8,504,553
6,011,728

Tabel 9 menunjukkan bahwa terdapat beberapa kabupaten yang memiliki laju pertumbuhan
dan PDRB per kapita melebihi kawasan. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10.Tipologi Klassen untuk Kabupaten-Kabupaten di Kawasan Tahun 2009-2012
Pendapatan/kapita (Y)
Laju

Y1 > Y2

Y1 < Y2

Pertumbuhan (R)

R1 > R2

R1 < R2

Daerah maju dan tumbuh


Daerah berkembang cepat
cepat (rapid growth region) (growing region)
Tanjung Jabung Barat

Sorolangun
Muaro Jambi

Daerah maju tetapi tertekan


(retarted region)

Daerah relative tertinggal


(relative backward region)

Tanjung Jabung Timur

Merangin
Batanghari

R1 = Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten


R2 = Laju Pertumbuhan PDRB Kawasan
Y1 = PDRB per Kapita Kabupaten rata-rata
Y2 = PDRB per Kapita Kawasan rata-rata

Gambar 9. Hasil Tipologi Klassen untuk Kabupaten-Kabupaten di Kawasan Tahun 20092012

Klasifikasi disparitas menggunakan metode ini berdasarkan laju pertumbuhan dan PDRB
per kapita kawasan. Jika terdapat salah satu kabupaten di kawasan yang memiliki PDRB
per kapita yang sangat tinggi, jauh dari kabupaten yang lain, maka akan mempengaruhi
rata-rata PDRB per kapita dan laju pertumbuhannya. Hal ini akan menyebabkan
kabupaten di kawasan yang memiliki PDRB kecil dan laju pertumbuhan yang rendah
akan menjadi daerah tertinggal. Sehingga analisis disparitas wilayah dengan
menggunakan metode ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi kabupaten yang
menjadi bagian dari suatu kawasan. Dalam hal ini, kawasan yang menjadi objek analisis
memiliki 2 kabupaten yang memiliki PDRB jauh diatas rata-rata, yaitu Kabupaten
Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, sehingga mempengaruhi klasifikasi
daerah yang berada di kawasan. Hal ini menunjukkan jika terdapat kabupaten yang
tergolong daerah maju dan tumbuh cepat namun juga terdapat daerah yang relatif
tertinggal pada suatu kawasan, maka kawasan tersebut memiliki ketimpangan antar
bagian wilayah yang cukup tinggi.

Gambar 10. Pola Perkembangan Ekonomi Antar Bagian Kawasan Tahun 2009-2010

b. Index Williamson
Index Williamson merupakan koefisien persebaran (coefficient of variation) dari rata-rata
nilai sebaran dihitung berdasarkan estimasi dari nilai-nilai PDRB dan penduduk daerahdaerah yang berada pada lingkup wilayah yang dikaji dan dianalisa. Angka indeks
Williamson (IW) berkisar antara 0 sampai dengan 1.
IW < 4 artinya tingkat ketimpangan rendah
0,4 < IW < 0,5 artinya tingkat ketimpangan moderat
IW > 0,5 artinya tingkat ketimpangan tinggi
Rumus Indeks Williamson:
2
( )
=

fi adalah jumlah penduduk kabupaten i


n adalah jumlah penduduk kawasan
yi adalah PDRB per kapita kabupaten i
Y adalah PDRB per kapita rata-rata kawasan
Tabel 11. Indeks Williamson Kawasan Tahun 2009-2012
Tahun
2009
2010
2011
2012

IW
0.8385
0.8400
0.8400
0.8403

Gambar 11. Grafik Indeks Williamson Tahun 2009-2012

Indeks Williamson di kawasan berkisar pada angka 0,84 artinya antar bagian kawasan
memiliki ketimpangan yang tinggi. Gambar 11 juga menunjukkan bahwa indeks
Williamson di kawasan terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Kenaikan nilai
indeks Williamson menunjukkan bahwa ketimpangan antar bagian kawasan semakin
besar dari tahun ke tahun. Perlu adanya peran pemerintah untuk dalam mengurangi
ketimpangan antar bagian kawasan. PDRB daerah tertinggal perlu di tingkatkan agar
ketimpangan antar kabupaten dapat dikurangi.