Anda di halaman 1dari 26

EPIFISIOLISIS

Adriel Handi
11-2009-031

Epifisiolisis

adalah fraktur pada anak-anak yang


melibatkan lempeng pertumbuhan.

Fraktur

biasanya berjalan melintang melalui lapisan


hipertrofik atau lapisan kapur pada lempeng
pertumbuhan

Bila

fraktur melintasi lapisan reproduksi maka dapat


berakibat penulangan prematur pada bagian yang
mengalami cedera dan menyebabkan gangguan
pertumbuhan tulang

Klasifikasi

yang paling banyak digunakan adalah


Salter dan Harris

Definisi
Growth

plate atau fisis adalah


lempeng kartilago yang terletak
di antar epifisis (pusat
penulangan sekunder) dan
metafisis
Bagian ini juga menjadi satu titik
kelemahan dari semua struktur
tulang terhadap trauma mekanik
Secara histologik terdiri dari 4
lapisan, yaitu:

Resting zone: Lapisan teratas


yang terdiri dari sel-sel
germinal yang datar dan
merupakan tempan
penyimpanan bahan-bahan
Hypertrophic zone: Sel-sel di
metabolik yang akan
area ini cenderung
digunakan nantinya.
membengkak dan berubah
menjadi lebih katabolik. Sel
mempersiapkan matriks untuk
mengalami kalsifikasi dan
berubah menjadi tulang. Area
ini menjadi letak terlemah
Calcified
Secara
secarazone:
mekanis.
metabolik, matriks menyebar
untuk deposisi garam kalsium,
dan membentuk osteoid. Di
daerah yang dekat metafisis,
cabang-cabang pembuluh
darah kecil menjalar ke lapisan
basal dari lempeng fisis.

Proliferating zone: Sel-sel di


area ini secara aktif bereplikasi
dan tumbuh menjadi lempeng.
Sel-sel tersebut disebut seperi
tumpukan lempeng. Pada area
ini, sel-selnya menggunakan
bahan metabolik yang
sebelumnya disimpan untuk
perjalanan mereka ke metafisis.

Bagian-bagian
dari
tulang
Epifisis (ujung tulang)
Fisis adalah daerah
merupakan tempat
immatur
pertumbuhan tulang
menempelnya tendon
dan mempengaruhi
kestabilan sendi.

selama masa
pertumbuhan.

Metafisis merupakan
bagian yang melebar
dari tulang panjang
antara epifisis dan
diafisis
Diafisis adalah bagian
utama dari tulang
panjang yang
memberikan struktural
tulang

PATOFISIOLOGI
Sel

tulang rawan tumbuh dari


epiphysis menuju metafisis, yang
kemudian terjadi degeneratif,
fragmentasi dan mengalami
hipertrofi
Fragmentasi sel kemudian
termineralisasi. Ini merupakan
zona pengerasan sementara
yang membentuk pembatas
metafiseal, dan bukan tulang
rawan

PATOFISIOLOGI
Neovaskularisasi

terjadi dari
metafisis menuju epifisisis. Sel
endotelial berubah menjadi
osteoablast dan menggunakan
puing-puing sel yang mengalami
degeneratif untuk membentuk
tulang muda primer

Daerah

piringan epifiseal
merupakan bagian tulang rawan

PATOFISIOLOGI
Fraktur

yang melibatkan piringan epifiseal


tidak memberikan banyak efek terhadap
pertumbuhan longitudinal karena berjalan
melintang melalui lapisan hipertrofik.

Fraktur

melintasi lapisan sel reproduksi


pada lempeng dapat mengakibatkan
penulangan prematur pada bagian yang
mengalami cedera dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan tulang

KLASIFIKASI
Klasifikasi

fraktur piringan epifiseal Salter-Haris


berdasarkan pada mekanisme fraktur dan juga
hubungan garis patahan terhadap sel tumbuh
piringan epifiseal

Dibagi
1
2
3
4
5

menjadi 5 tipe.
S- Separation
A- Above
L- Lower
T- Through
R- Raised

Tipe I (Slipped/
Separation)
Terdapat pemisahan total epiphysis sepanjang tulang
tanpa patah tulang, sel piringan epifiseal yang tumbuh
masih melekat pada epiphysis.
Lebih umum terjadi pada bayi yang baru lahir ( dari
luka kelahiran ) dan pada anak-anak yang masih muda
dimana piringan epifiseal masih relatif tebal
Prognosis baik, biasanya hanya dengan closed
reduction, ORIF dapat dilakukan jika stabilitas tidak
tercapai atau tidak terjamin

Tipe II ( Above)
Garis pemisah patah tulang memanjang sepanjang
piringan epiphyseal hingga jarak tertentu dan kemudian
keluar melalui bagian metaphysis sehingga
mengakibatkan fragmentasi metaphyseal berbentuk
triangular
Biasanya terjadi pada anak-anak yang lebih besar
dimana piringan epiphyseal relatif tipis
Fraktur tipe 2 ini adalah fraktur yang paling sering terjadi
(75%).

Tipe III (Lower)


Patah tulang tipe 3 ini adalah intra-articular,
memanjang dari permukaan sambungan hingga bagian
dalam piringan epifiseal dan kemudian sepanjang
piringan tersebut hingga sekelilingnya.
Biasanya terbatas pada epifisis tibia distal
Sering memerlukan ORIF untuk memastikan
realignment anatomis.

Type IV (Through)
Patah tulang yang intra-articular, mamanjang dari
permukaan sambungan malalui epifisis memotong
ketebalan piringan epifiseal dan melalui bagian
metaphysis.
Contoh yang paling umum dari fraktur tipe IV ini
adalah patah tulang condyle lateral tulang lengan
bagian atas.

Type V (Raised)

Fraktur yang relatif kurang umum ini diakibatkan oleh


gaya tekan yang keras yang terjadi pada epifisis menuju
ke piringan epifiseal. Tidak ada fraktur yang kelihatan
tetapi lempeng pertumbuhan remuk dan ini mungkin
mengakibatkan terhentinya pertumbuhan. Seperti juga
yang terjadi pada daerah lutut dan pergelangan kaki.

GAMBARAN KLINIK
Fraktur

ini lebih sering ditemukan


pada anak laki-laki daripada anak
perempuan
Biasanya ditemukan pada masa
bayi atau diantara usia 10-12
tahun
Lebih muda si anak lebih kecil
bagian epifisis yang kelihatan
sehingga lebih sukar
menegakkan diagnosis maka

GAMBARAN KLINIK
Tanda-tanda

yang memberi
petunjuk adalah pelebaran dari
celah fisis , ketidaksesuaian sendi
atau miringnya poros epiphysis

Fraktur

tipe IV perlu dilakukan


pemeriksaan ulang sinar X
setelah 4 atau 5 hari.

PENANGANAN Tipe I
Pada

tipe I reduksi tertutup tidak


sulit karena perlekatan periosteal
utuh disekitar lingkarannya dan
kemudian dibebat dengan erat
selama 5-6 minggu

Prognosis

untuk masa yang akan


datang sangat dipengaruhi oleh
suplai darah pada epiphysis

PENANGANAN Tipe II
Pada

tipe II reduksi tertutup


relatif mudah didapatkan begitu
juga dengan perawatannya
karena engsel periosteal utuh
dan potongan metaphysis
terlindung selama reduksi.

Prognosis

selama perkembangan
yang sempurna dengan suplai
darah pada epifisis umunya baik

PENANGANAN Tipe III


Membutuhkan

reduksi anatomis yang sempurna

Kalau

tidak dapat direduksi dengan tepat dengan


manipulasi tertutup, reduksi terbuka biasanya
dibutuhkan segera untuk mengembalikan
permukaan sambungan normal yang sempurna

Tungkai

kemudian dibebat selama 4-6 minggu

Prognosis

untuk pertumbuhan adalah suplai


darah yang baik yang diberikan pada bagian
epifisis yang terpisah.

PENANGANAN Tipe IV
Reduksi

terbuka dan fiksasi internal


dengan kawat Kirschner

Penanganan

tidak hanya untuk


mengembalikan permukaan sambungan
normal tetapi juga untuk mendapatkan
pengembalian posisi piringan epifiseal

Prognosis

untuk pertumbuhan pada tipe


IV ini jelek kecuali jika reduksi sempurna
dicapai dan terjaga.

PENANGANAN Tipe V
Diagnosis

fraktur tipe V sulit untuk


dilakukan karena epiphysis tersebut
biasanya tidak tergeser
Beban ringan harus diabaikan paling
tidak tiga minggu dengan harapan
untuk menjaga tekanan selanjutnya
pada epifiseal.
Prognosis fraktur tipe V kurang
diperhatikan karena gangguan
pertumbuhan hampir tidak terlihat.

PROGNOSIS
Prognosis

tergantung
: I, II,
Prognosis untuk pada
fraktur tipe

III, V umumnya baik.


1. Tipe fraktur.Anak dengan usia yang lebih
muda tipe
padaIVsaat
mengalami
Untuk
prognosis
jelek
2. Usia anak
fraktur
akan mempunyai
kecuali
reduksi
sempurna
dan
Gangguan
suplai
darah pada
Manipulasipertumbuhan
yang
sangat
besar
gangguan
yang
terjaga
berhubungan
dengan
3. Suplai darahepifisis
pada
epiphysis
pada
epiphysis
yang tergeser
lebih
besar.
Fraktur
piringan
epifiseal
prognosis
jelek.
dapat
merusakan
piringan
terbuka
dapat
mengakibatkan
4. Metode reduksi
epifiseal
tersebut
dan oleh
infeksi
yang
pada
akhirnya
akan
karenanya dapat meningkatkan
5. Luka terbuka
ataupiringan
tertutup
merusak
tersebut dan
gangguan
pertumbuhan.
mengakibatkan berhentinya
proses pertumbuhan sebelum
waktunya.

KESIMPULAN
1.

Salter Haris merupakan jenis patah tulang


yang sering terjadi pada anak-anak yaitu patah
tulang yang melibatkan cedera piringan epifiseal.

2.

Fraktur piringan epifiseal Salter Haris


berdasarkan pada mekanisme fraktur dan juga
hubungan garis patahan terhadap sel tumbuh
piringan epifiseal diklasifikasikan dalam 5 type.

3.

Penanganan tipe I dan II dengan reduksi


tertutup, tipe III dengan reduksi terbuka dan tipe
IV dengan reduksi terbuka dan fiksasi internal.

KESIMPULAN
4.

Tipe V diagnosanya sulit


ditegakkan karena epifisis
biasanya tidak bergeser.
Penanganannya dengan
mengurangi tekanan paling tidak
selama tiga minggu.

5.

Prognosis fraktur piringan


epifiseal pada anak tergantung
pada tipe fraktur, usia, suplai

TERIMA KASIH