Anda di halaman 1dari 5

EFEK PERUBAHAN UKURAN DIAMETER HEADER

KNALPOT TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR DAN


AKSELERASI PADA SEPEDA MOTOR 4 TAK

ABSTRAK
Oleh: Aji Pranoto1
1

Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin IST AKPRIND


Yogyakarta Email pranoto_aji@yahoo.co.id

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek


perubahan ukuran diameter header knalpot terhadap
konsumsi bahan bakar dan akselerasi kendaraan pada motor
4 tak dengan silinder tunggal kapasitas silinder 110 cc.
Populasi penelitian ini adalah semua sepeda motor
dengan silinder tunggal kapasitas volume silinder 100 cc
sampai dengan 110 cc proses kerja 4 tak. Sedangkan
sampel yang digunakan adalah sepeda motor merk Suzuki
type Smash, karena sesuai dengan populasi yang digunakan.
Data diambil dengan cara merubah-rubah diameter header
knalpot dengan ukuran 20 mm, 24 mm dan 26 mm dengan
panjang header knalpot dikontrol sama. Instrument yang
dipakai ada 2 macam yaitu untuk mengambil data konsumsi
bahan bakar digunakan gelas ukur, tachometer, stopwatch.
Pengukuran untuk mengambil data dilakukan 4 kali dengan
waktu 1 menit pada tiap-tiap diameter header knalpot.
Sedangkan untuk mengambil data akselerasi digunakan alat
stopwatch dan meteran. Pengukuran untuk mengabil data
dilakukan 4 kali dengan jarak lintasan 400 meter.
Sedangkan hasil pengumpulan data dianalisa dengan
menggunakan teknik analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada diameter
header knalpot ketiga ukuran diameter header knalpot
diatas terdapat efek perubahan diameter header knalpot
terhadap konsumsi bahan bakar, dimana semakin besar
diameter header knalpot semakin boros pemakaian bahan
bakar. Sedangkan semakin kecil diameter semakin hemat
pemakaian bahan bakar. Efek diameter header knalpot
terhadap akselerasi kendaraan didapatkan bahwa untuk
diameter header knalpot yang kecil dan besar memberikan
efek buruk pada akselerasi kendaraan, dan terdapat ukuran
tertentu pada diameter header knalpot yang memberikan
efek akselerasi yang baik yaitu diameter header 24 mm.
Kata kunci: Diameter header knalpot, Konsumsi bahan
bakar,Akselerasi
A. PENDAHULUAN
Banyak cara untuk meningkatkan tenaga, akselerasi
dan menghemat konsumsi bahan bakar pada kendaraan.
Pada dasarnya tenaga yang besar akan mempengaruhi
kecepatan dan akselerasi pada suatu kendaraan. Selama ini
banyak yang melakukan modifikasi untuk meningkatkan
tenaga motor diantaranya memperbesar volume silinder,
mempertinggi kompresi, memperbanyak semprotan bahan
bakar, mempertinggi tinggi angkat nok dan lain-lain yang
semua itu banyak resiko dan biaya yang tidak sedikit.
Resiko yang akan terjadi bahan bakar akan boros,
komponen tidak terjamin keawetannya, knocking/detonasi

(ngelitik) pada mesin, kerusakan komponen yang bergerak


serta kerusakan-kerusakan lain yang dapat terjadi sewaktuwaktu dengan modifikasi yang salah.
Secara sederhana dan ini banyak orang mengabaikan
cara meningkatkan tenaga mesin, torsi, akselerasi dan
menghemat konsumsi bahan bakar adalah masalah saluran
gas buang. Bila ditelusuri lebih jauh tentang saluran gas
buang (knalpot) banyak bermanfaat terutama untuk
meningkatkan tenaga mesin dan kecepatan kendaraan serta
menghemat bahan bakar. Menurut A Graham Bell (1981)
dalam bukunya Four stroke tuning dikatakan bahwa dengan
memasang saluran gas buang jenis tertentu akan dapat
meningkatkan tenaga mesin sampai 30% dan menambah irit
bahan bakar sebesar 20%. Sementara itu Goodheart
Willcox (1972) desain knalpot yang tidak diperhitungkan
dengan baik dapat mempengaruhi penurunan tenaga mesin
sampai 4 hp. Bosch (1996) dalam bukunya Automotive
Handbook
aliran gas buang tergantung dari luas
penampang, densitas (kerapatan), diameter dalam,
kecepatan aliran dan panjangnya. Thomas Krist (1990)
dalam bukunya Mekanika Fluida Gas mengatakan bahwa
penurunan tekanan pembuangan di dalam knalpot saat
melakukan langkah buang berakibat penurunan kerugian
daya mesin antara 12-13%. Sedangkan
Ibnu Sambodo
(1997), Wawan Cakra (2008) dalam penelitiannya
mengatakan bahwa desain saluran gas buang harus
disesuaikan dengan volume silinder, jumlah silinder dan
karakter sirkuit kendaraan.
Pada konstruksi knalpot terdapat dua saluran utama
yaitu header dan muffler. Header adalah komponen bagian
depan knalpot yang langsung berhubungan dengan kepala
silinder yang berfungsi untuk menjaga tekanan
pembuangan, sedangkan muffler terdapat dibagian
belakang knalpot yang berfungsi untuk mereduksi suara
yang dikeluarkan saat pembuangan. Konstruksi header
untuk mesin 4 tak dan 2 tak sangat berbeda karena
menyangkut masalah proses kerja mesin itu sendiri.
Sedangkan header sendiri merupakan saluran gas buang
yang berfungsi untuk menahan dan menyalurkan tekanan
pembakaran saat terjadi pembuangan.
Ukuran diameter header yang salah akan berakibat
menurunnya tenaga mesin, torsi, akselerasi dan boros
konsumsi bahan bakar. Bila ukuran pipa header terlalu kecil
maka akan membuat aliran gas buang sulit keluar sehingga
akan terjadi back pressure (tekanan balik), yang pada
akhirnya akan menyebabkan gas buang yang harusnya
terbuang malah akan masuk lagi kedalam silinder. Apabila
gas buang masuk ke silinder akan berakibat campuran
bahan bakar didalam silinder tercampur dengan gas bekas
pembakaran yang pada akhirnya berakibat tidak sempurna
pembakaran dan kerusakan mesin. Sedangkan apabila
diameter header terlalu besar akan berakibat penurunan
tekanan saat pembuangan, seperti dijelaskan di depan
bahwa penurunan tekanan akan berakibat penurunan daya
mesin. Dari sini sudah jelas bahwa terdapat hubungan
matematis antara besarnya diameter header knalpot
terhadap tenaga mesin, torsi dan konsumsi bahan bakar.
Namun demikian kajian tentang ukuran diameter yang
sesuai sampai saat ini masih belum banyak diteliti. Padahal

hal ini bila ditemukan akan berakibat pada efisiensi pada


kendaraan dimana tenaga dan torsi yang dihasilkan akan
besar serta bahan bakar akan hemat.
Efek antara diameter header knalpot dengan naiknya
tenaga mesin dan keiritan bahan bakar sangat perlu untuk
dikaji karena dapat dipergunakan untuk keperluan optimasi
dalam meningkatkan tenaga mesin. Optimasi disini
maksudnya adalah mencari kondisi yang maksimal antara
diameter header knalpot, agar diperoleh tenaga mesin, torsi
dan keiritan bahan bakar yang baik. Sedangkan untuk
mendapatkan suatu konstruksi yang ideal pada suatu
knalpot/saluran gas buang terutama pada headernya (pipa
saluran) perlu diadakan eksperiment sejauh mana
pengaruhnya terhadap tenaga mesin. Pengaturan diameter
header (pipa saluran) suatu knalpot pada kendaraan sangat
berpengaruh terhadap aliran gas buang. Oleh karena itu
masalah ini harus segera dikaji untuk diketahui jawabannya
sehingga model-model modifikasi yang sekarang lagi
banyak dapat diketahui efek yang ditimbulkannya pada
mesin kendaraannya.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka masalah
yang akan dipecahkan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Seberapa besar pengaruh efek besarnya diameter header
knalpot terhadap akselerasi kendaraan pada sepeda
motor 4 tak.
2. seberapa besar pengaruh efek diameter header knalpot
terhadap konsumsi pada sepeda motor 4 tak.
Efek diameter header yang dimaksud adalah ukuranukuran diameter header knalpot berbagai variasi ukuran
yang akan diujicobakan untuk dapat mengkaji data
pengaruhnya terhadap tenaga mesin, akselerasi dan
konsumsi bahan bakar.

B. KAJIAN PUSTAKA DAN METODE


1. Proses Kerja Mesin dan Diagram Katup Pada Mesin
4 Tak
Motor atau mesin adalah suatu alat yang berfungsi
untuk merubah energi panas menjadi energi gerak.
Energi panas itu berasal dari proses pembakaran yang
ada di dalam mesin. Untuk melakukan proses
pembakaran, mesin harus melakukan empat tahap atau
langkah, baik 4 tak maupun 2 tak. Ke-empat langkah
itu adalah sperti gambar dibawah ini:

Gambar 01. Prinsip Kerja Motor 4 Langkah (Bosch:


1996, 375)

Pada motor 4 langkah ada diagram pembukaan dan


penutupan katup. Waktu pembukaan dan penutupan
katup isap dan katup buang dapat dilihat seperti gambar
di bawah ini.
KATUP MASUK
TERBUKA 12

TMA

KATUP BUANG
TERTUTUP 13
LANGKAH HISAP

LANGKAH KOMPRESI

LANGKAH BUANG
LANGKAH PEMBAKARAN
KATUP MASUK
TERTUTUP 44

TMB

KATUP BUANG
TERBUKA 51

Gb 02. Diagram Katup Pada Motor 4 tak


(Pedoman Service Suzuki Smash: 2002)
Hasil kerja katup tersebut terdapat overlap katup.
Overlap katup adalah kondisi katup masuk dan katup
buang sama-sama dalam keadaan terbuka. Overlap
katup pada motor 4 langkah pada dasarnya sama dengan
langkah pembilasan pada motor 2 langkah. Fungsi
overlap katup ini adalah untuk membersihkan sisa-sisa
pembakaran agar ruangan di dalam silinder terisi gas
baru secara homogen.
Langkah pembilasan yang kurang baik diakibatkan
oleh kurang lancarnya gas buang yang keluar. Hal
tersebut menyebabkan gas buang yang seharusnya
keluar dari dalam silinder akan masuk lagi dan ini yang
disebut dengan tekanan balik. Akibatnya campuran
bahan bakar yang terjadi di dalam silinder tidak akan
homogen, dimana gas baru tercampur dengan sisa gas
buang sehinggga atom-atom dan partikel yang
tercampur menjadi tidak sempurna lagi yang
menyebabkan tenaga mesin menjadi turun.
2. Gelombang Tekanan Gas Buang dan Kerugian Daya
Mesin
Gelombang tekanan yang dimaksud di sini adalah
perubahan tekanan suara tiba-tiba dalam instalansi
dimana kecepatan aliran berubah mendadak yang
disebabkan oleh pemasukan aliran udara dengan cepat
(Thomas Krist: 159). Frekuensi gelombang tekanan
ditentukan oleh panjang dan ukuran besar diameter dan
halusnya pipa gas buang sampai daerah ekspansi
pertamanya. Penting sekali menentukan daerah dan
panjang pipa agar gelombang tekanan negatif sampai
pada lubang pengeluaran selama periode terakhir dari
langkah pengeluaran untuk menyedot sisa gas buang.
Sifat gelombang tekanan ini sama dengan
gelombang suara yang merambat pada sebuah pipa.
Kecepatan rambat gelombang tersebut ditentukan oleh
temperature dan tekanan gas yang terbuang.
Kecepatannya sekitar 510,54 m/det pada gas panas

(Graham Bell:17). Disamping gelombang tekanan yang


mempengaruhi dalam aliran gas buang tersebut ada
beberapa komponen yang sangat berpengaruh terhadap
aliran gas buang, diantaranya adalah volume gas, dan
penurunan tekanan.
3. Efek antara Diameter Header Knalpot dengan Daya
Mesin dan Konsumsi Bahan Bakar
Pada saluran pembungan kendaraan, gas yang
keluar akan mengalami hambatan-hambatan. Semakin
besar diameter header knalpot tersebut maka akan
semakin besar pula hambatan yang akan terjadi.
Demikian juga kalau diameter header tersebut terlalu
kecil maka akan terjadi tekanan balik (back pressure)
yang menyebabkan gas sisa pembakaran masuk lagi ke
ruang bakar yang pada akhirnya mempengaruhi efisiensi
volumetric mesin sehingga tenaga mesin menurun.
Adanya hambatan dan tekanan balik ini akan
menyebabkan aliran gas buang tidak lancar. Akibatnya
akan mempengaruhi hilangnya tekanan total yang akan
keluar pada waktu proses pembakaran. Keadaan yang
demikian ini akan menyebabkan kondisi proses
pembuangan yang lambat dan tidak stabil karena
gesekan yang terlalu besar. Selanjutnya akan berakibat
terjadinya penurunan pada tenaga mesin.
Berdasarkan kerangka berpikir di atas dapat diduga
bahwa besarnya diameter header knalpot berpengaruh
terhadap tenaga mesin.
Dalam hal ini kalau
diameternya kecil maka tenaga mesin akan turun karena
terjadi tekanan balik demikian juga jika diameternya
terlalau besar maka akan menyebabkan kerugian
tekanan. Berdasarkan pernyataan tersebut penelitian ini
dilakukan untuk memperoleh diameter optimal dari
header knalpot yang dapat mempengaruhi tenaga mesin.
Kendaraan
yang
menggunakan
knalpot
berdiameter header besar dan atau terlalu kecil selain
menjadikan tenaga mesin turun juga akan menyebabkan
pemakaian bahan bakar yang boros. Hal ini disebabkan
pada saat katup overlap yang mana seharusnya gas sisa
pembakaran keluar dengan lancer maka akan terjadi
hambatan. Sehingga sisa gas buang yang seharusnya
keluar akan tetap berada di dalam silinder. Kalau hal ini
terjadi maka campuran udara dan bahan bakar di dalam
silinder tidak akan tercampur dengan baik, sisa gas yang
seharusnya keluar akan ikut campur dengan gas baru
sehingga dapat diduga tenaga mesin turun dan
pemakaian bahan bakar akan boros.
Bahan bakar boros ini diakibatkan karena
campuran yang seharusnya homogen tidak terjadi
sehingga pembakaran tidak mecapai titik maksimal.
Kalau ini dibiarkan akan mengakibatkan konsumsi
bahan bakar yang sangat boros. Kerangka berfikir di
atas dapat ditarik kesimpulan bahwa semakin kecil
diameter akan menyebabkan konsumsi bahan bakar
boros karena tekanan balik dan semakin besar diameter
akan mengakibatkan kerugian tekanan yang pada
akhirnya konsumsi bahan bakar akan boros juga. Jadi
terdapat diameter tertentu yang paling optimal yang
mempengaruhi konsumsi bahan bakar.

METODE
Penelitian ini pada prinsipnya adalah penelitian
eksperimen dimana ingin melihat efek yang
ditimbulkan pada masing-masing variabel. Variabel
yang dimaksud adalah besarnya diamater header
knalpot merupakan variable bebas sedangkan
akselerasi kendaraan dan konsumsi bahan bakar
variabel terikat. Untuk menjaring data penelitian
tersebut dilakukan pengambilan dan pengujian
terhadap sampel yang digunakan. Dari data hasil
pengujian akan diketahui ukuran diameter yang akan
memberikan efek paling bagus terhadap akselerasi
mesin dan jumlah konsumsi bahan bakar. Penyajian
data dilakukan dengan menggunakan grafik dan ratarata dari tiap-tiap data yang diambil.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalah menggunakan analisis deskriptif kualitatif
dilengkapi dengan tabel, histogram. Perhitungan dalam
analisis data menghasilkan nilai pencapaian yang
selanjutnya diinterprestasikan dengan kalimat yang
bersifat kualitatif. Proses perhitungan nilai dilakukan
dengan membandinkan antara perolehan variable yang
diubah dengan diameter standart pada kendaraan
tersebut.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Efek perubahan ukuran diamater header knalpot
terhadap Konsumsi Bahan Bakar
Grafik Putaran mesin vs konsumsi
bahan bakar
20

24

26
12,3 12,5

5,1 5,2

13,5

7,15 7,3 7,45

1200

4000

8000

Grafik putaran mesin vs konsumsi bahan bakar

15
10
5
0
1200

4000
20

24

8000
26

2. Efek perubahan ukuran diamater header knalpot


terhadap akselerasi kendaraan

waktu tempuh (detik)

Grafik diameter header knalpot vs akselerasi


12,6
12,5
12,4
12,3
12,2
12,1
12
11,9
11,8

Rerata

20

12,2

12,3

12,25

12,25

24

12,1

12,15

12,05

12,1

26

12,5

12,4

12,45

12,45

Grafik diamater header knalpot vs akselerasi

waktu tempuh (detik)

Pada grafik di atas dapat diketahui bahwa pada


putaran 1200 Rpm, dimana merupakan putaran stasioner
didapatkan hasil bahwa untuk diamater knalpot yang
berdiamater 22 mm mendapatkan hasil rerata pada
pemakaian konsumsi bahan bakar yaitu sebesar 5 ml
tiap menitnya, diameter 24 mm mendapatkan hasil 5,1
ml tiap menit dan 26 mm mendapatkan hasil 5,2 ml
sedangkan diameter knalpot standart didapatkan hasil 4
ml tiap menitnya. Bila dibandingkan dengan standartnya
didapatkan hasil yang lebih boros bahan bakarnya. Dan
bila melihat 3 ukuran header knalpot diatas maka
ukuran diameter yang paling hemat mengkonsumsi
bahan bakar yaitu sebesar 20 mm dan yang paling
boros yaitu 26 mm.
Pada putaran 4000 Rpm, dimana merupakan putaran
sedang didapatkan hasil bahwa untuk diamater knalpot
yang berdiamater 22 mm mendapatkan hasil rerata pada
pemakaian konsumsi bahan bakar yaitu sebesar 7,15 ml
tiap menitnya, diameter 24 mm mendapatkan hasil 7,3
ml tiap menit dan 26 mm mendapatkan hasil 7,45 ml
sedangkan diameter knalpot standart didapatkan hasil
6,04 ml tiap menitnya. Bila dibandingkan dengan
standartnya didapatkan hasil yang lebih boros bahan
bakarnya. Dan bila melihat 3 ukuran header knalpot
diatas maka ukuran diameter yang paling hemat
mengkonsumsi bahan bakar yaitu sebesar 20 mm dan
yang paling boros yaitu 26 mm.
Pada putaran 8000 Rpm, dimana merupakan putaran
tinggi didapatkan hasil bahwa untuk diamater knalpot
yang berdiamater 22 mm mendapatkan hasil rerata pada
pemakaian konsumsi bahan bakar yaitu sebesar 12,3 ml
tiap menitnya, diameter 24 mm mendapatkan hasil 12,5
ml tiap menit dan 26 mm mendapatkan hasil 13,5 ml
sedangkan diameter knalpot standart didapatkan hasil
10,5 ml tiap menitnya. Bila dibandingkan dengan
standartnya didapatkan hasil yang lebih boros bahan
bakarnya. Dan bila melihat 3 ukuran header knalpot
diatas maka ukuran diameter yang paling hemat
mengkonsumsi bahan bakar yaitu sebesar 20 mm dan
yang paling boros yaitu 26 mm.
Ketiga ukuran diameter header knalpot diatas
terdapat efek perubahan diameter header knalpot
terhadap konsumsi bahan bakar, dimana semakin besar
diameter header knalpot semakin boros pemakaian
bahan bakar. Sedangkan semakin kecil diameter
semakin hemat pemakaian bahan bakar.

12,6
12,4
20
12,2

24

12

26

11,8
1

Rerata

Pengambilan data pada saat pengukuran


akselerasi dilakukan dengan mengukur panjang lintasan
sepanjang 200 meter. Supaya tidak terjadi bias pada
hasil penelitian maka pengendara sepeda motor diambil
satu orang. Data diambil dari kendaraan diam
(kecepatan nol) sampai menempuh jarak 200 meter
membutuhkan waktu berapa dan Alat penunjang untuk
pengambilan data yaitu stopwatch untuk mengukur
waktu tempuh, sedang kecepatan maksimal tidak
diambil (diabaikan).
Pengukuran akselerasi yang ditunjukkan pada
grafik diatas dapat dilihat bahwa untuk diamater header
knalpot 20 mm akselerasi kendaraan didapat waktu ratarata sebesar 12,25 detik, diameter 24 mm didapat hasil
engukuran sebesar 12,10 detik lebih cepat 0,15 detik
dari diameter header 20 mm dan lebih cepat 0,35 dari
diameter 26 mm, diameter header knalpot 26 mm
didapat hasil pengukuran sebesar 12,45 detik lebih
lambat 0,20 detik dari ukuran header 20 mm dan 0,35
detik dari ukuran header 24 mm. Sedangkan knalpot
standart yang mempuyai diameter header 22 mm
didapat hasil akselerasi rata-rata sebesar 13,10 detik.
PEMBAHASAN
Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa perubahan
diameter header knalpot dapat memberikan efek pada
konsumsi bahan bakar, hal ini dapat dilihat dari data yang
sudah dicantumkan diatas. Diameter header knalpot yang
kecil memberikan efek konsumsi bahan bakar yang lebih
hemat pada tiap menitnya dan pemakian bahan bakar
akan lebih meningkat seiring dengan putaran mesin.
Diameter header knalpot yang besar memberikan efek
pada konsumsi bahan bakar yang semakin boros dan ini
terjadi pada tiap putaran mesin baik stasioner, kecepatan
sedang dan tinggi.
Borosnya pemakian bahan bakar yang terjadi pada
diameter header knalpot yang besar ini diakibatkan karena
pada saat langkah penbilasan tidak terjadi efek tekanan
balik (back pressure), sehingga ada sebagian bahan bakar
yang seharusnya masuk ke dalam silnder ikut keluar
bersamaan dengan langkah buang. Apabila dalam proses
pembilasan tidak terdapat tekanan balik hal ini akan
berakibat pada hilangnya bahan bakar yang seharusnya
terbakar menjadi hilang dan menyebabkan konsumsi
bahan bakar menjadi borors.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan


ukuran diamater header knalpot malah memberikan efek
buruk pada pemakian konsumsi bahan bakar. Seperti
sudah diuraikan pada kajian teori bahwa semakin besar
diameter header knalpot maka semakin besar pula
penurunan tekanan, penurunan tekanan ini memberikan
efek pada tekanan balik pada gelombang gas buang, bila
penurunan tekanan besar maka tidak akan memberikan
efek tekanan balik senhingga berakibat pada konsumsi
bahan bakar semakin boros.
Dengan demikian dapat diambil suatu kesimpulan
bahwa semakin besar diameter header knalpot maka
semakin rendah tekanan pada gelombang gas buang dan
semakin rendah tekanan gelombang gas buang maka efek
tekanan balik (back pressure) menjadi kecil, kecilnya efek
tekanan balik akan mengakibatkan bahan bakar yang
seharusnya masuk kedalam silinder menjadi terbuang
pada saat langkah pembilasan ikut pada gas buang,
hilangnnya bahan bakar yang seharusnya masuk
kesilinder akan berakibat borosnya bahan bakar.
Apabila diameter header semakin kecil juga
mengaibatkan boros bahan bakar hal ini dapat dilihat dari
tabel data dimana semakin kecil diameter header akan
mengaibatkan kurang lancarnya aliran gas buang sehingga
akan berakibat pada efek tekanan baik yang besar,
tekanan balik yang besar akan mengaibatkan gas buang
yang seharusnya tebuang kembali lagi kesilinder sehingga
akan mempengaruhi pembakaran, campuran bahan bakar
yang tercemar berakibat pada tidak homogen sehingga
bahan bakar menjadi boros.
Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa perubahan
diameter header knalpot dapat memberikan efek pada
akselerasi kendaraan, hal ini dapat dilihat dari data yang
sudah dicantumkan diatas. Diameter header knalpot yang
kecil dan yang paling besar memberikan efek akselerasi
yang lambat. Sedangkan knalpot standartnya memberikan
efek akselerasi lebih lambat.
Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa
diameter header knalpot yang kecil dan besar memberikan
efek buruk pada akselerasi kendaraan, dan terdapat
ukuran tertentu pada diameter header knalpot yang
memberikan efek akselerasi yang baik yaitu diameter
header 24 mm. Hal ini kalau sejalan dengan pendapat
(Thomas Krist ; 1990) bahwa penurunan tekanan pada
gelombang suara pada suatu pipa dipengaruhi oleh
panjang pipa dan diameter pipa. Semakin besar diameter
pipa semakin besar penurunan tekanan sehingga akan
mengakibatkan hilangnya tekanan pada langkah
pembilasan yang berakibat pada penurunan akselerasi
kendaraan.
Diameter header semakin kecil juga mengaibatkan
akselerasi lambat hal ini dapat dilihat dari tabel data
dimana semakin kecil diameter header akan mengaibatkan
kurang lancarnya aliran gas buang sehingga akan
berakibat pada efek tekanan baik yang besar, tekanan
balik yang besar akan mengaibatkan gas buang yang
seharusnya tebuang kembali lagi kesilinder sehingga akan
mempengaruhi pembakaran, campuran bahan bakar yang

tercemar
berakibat pada tidak homogen sehingga
akselerasi menjadi lambat.
D. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dibahas secara
mendalam didepan, maka penelitian ini menyimpulkan
sebagai berikut
1. Terdapat efek yang nyata antara besarnya diameter
header knalpot dengan konsumsi bahan bakar
dimana semakin besar diamater header knalpot
semakin banyak konsumsi bahan bakar yang
diperlukan (boros)
2. Besarnya diameter header knalpot terhadap
akselerasi kendaraan memberikan efek yang tidak
linier dimana diameter header yang kecil akselerasi
kendaraan menjadi lambat demikian juga pada
diameter header yang besar. Pada kecepatan
akselerasi kendaraan terdapat ukuran diameter
header tertentu yang memberikan hasil terbaik yaitu
ukuran diameter 24 mm.
DAFTAR PUSTAKA
A Graham Bell, 1981, Four Stroke Tuning.
Maitland New South Wales
Bosch, 1996, Automotive Handboo,. Robert
Bosch gmbH, Stuttgart.
Faisal S. Dasuki, 1977, Honda Motor Bakar
Bensin,. PT. Astra International Inc.
Jakarta
Goodheart-Willcox,
1972,
Automotive
encyclopedia,. South Holland, Illinois
Ibnu Sambodo, , 2008, Rancangan Desain Knalpot
Pada Motor Road Race, Hasil Penelitian,
Yogyakarta.
Nakoela Soenarta and Shoichi Furuhama, 1985,
Motor Serba Guna, PT. Pradnya
Paramitha. Jakarta
Thomas Krist, 1992, Mekanika Fluida. Erlangga.
Jakarta
---------------, 1993, Majalah Motor dan Mobil no
IX/9-22 Agustus 1993. Jakarta