Anda di halaman 1dari 4

Dasar Teori

:
Virus adalah parasit intraselular, berukuran sangat kecil yang dapat menginfeksi sel
organisme hidup. Ukuran virus sangat bervariasi, namun ukuran virus jauh lebih kecil
jika dibandingkan dengan bakteri. Virus hanya dapat dilihat dibawah mikroskop elektron
dan tidak dapat dilihat dengan mikroskrop cahaya biasa, kecuali pox virus (Radji, 2010).
Awal tahun penelitian virus, menggunakan binatang atau hewan percobaan harus
dilakukan untuk dapat mengenal virus dan hasil-hasil yang kuantitatif serta cepat, sering
sulit diperoleh. Saat ini, banyak virus telah dapat dibiakan dalam biakan jaringan atau
dalam telur berembrio dengan keadaan lingkungan yang dapat dikendalikan secara ketat.
Walaupun demikian pertumbuhan virus pada hewan percobaan masih tetap
digunakan untuk isolasi primer virus tertentu dan untuk penelitian patogenesis
virus. Virus adalah penyebab infeksi terkecil berdiameter 20-300 nm. Genom virus hanya
mengandung satu macam asam nukleat yaitu RNA/DNA. Asam nukleat virus terbungkus
dalam suatu kulit protein yang dapat dikelilingi oleh selaput yang mengandung lemak.
Seluruh unit infektif disebut virion. Virus hanya bereplikasi dalam sel hidup.
Replikasinya dapat intranuklear atau intrasitoplasmik (Jawetz, 1996).
Virus tidak dapat melakukan sintesis sendiri komponen genetik dan struktural sel
virus karena sangat tergantung pada perangkat replikasi selnya. Proses replikasi virus
menggunakan komponen makromolekular dan energi sel hospes sehingga mengganggu
fungsi sel hospes yang mengakibatkan kerusakan sel hospes dan penyakit infeksi. Efek
sitopatogenik merupakan salah satu kelainan sel hospes yang disebabkan oleh terjadinya
replikasi virus. Efek patogenis yaitu perubahan bentuk sel dan pelepasan dari sel-sel yang
berdekatan atau dari tempat perkembangbiakannya. Paramyxovirus menyebabkan
terbentuknya sel berinti banyak yang sangat besar (giant cell) yang disebut sinsitium.
Sinsitium dapat terdiri dari 4-100 nukleus dalam sitoplasma (Radji, 2010).
Telur ayam berembrio telah lama merupakan sistem yang telah digunakan secara
luas untuk isolasi. Embrio dan membran pendukungnya menyediakan keragaman tipe sel
yang dibutuhkan untuk kultur berbagai tipe virus yang berbeda. Membran kulit telur yang
fibrinous terdapat di bawah kerabang. Membran membatasi seluruh permukaan dalam
telur dan membentuk rongga udara pada sisi tumpul telur. Membran kulit telur bersama
dengan cangkan telur membantu mempertahankan intregitas mikrobiologi dari telur,
sementara terjadinya difusi gas kedalam dan keluar telur. Distribusi gas di dalam telur
1

H5N2. terdapat 5 genera yaitu : Influenzavirus A. manusia. dan burung Influenzavirus B : menginfeksi manusia dan anjing laut Influenzavirus C : menginfeksi manusia dan babi Virus influenza tipe A Virus influenza tipe A dapat menginfeksi manusia. H3N2. mamalia ( Batken virus. H5N8. H9N2. dan beberapa burung lainnya. H5N3. H7N2. Influenzavirus C. Dori kecuali manusia) virus Tiga genera dari virus influenza. sense negative. H2N2. anjing laut. ikan paus. Virus influenza tipe A dibagi dalam beberapa subtype berdasarkan 2 jenis 2 . Family : Orthomyxoviridae Genus Species Influenzavirus A Influenza A virus Serotipe atau Subtipe Hospes H1N1. mamalia.dibantu dengan pembentukan CAM yang sangat vaskuler yang berfungsi sebagai organ respirasi embrio (Senne. babi Salmon atlantic Thogotovirus anemia Thogoto virus Dhori virus nyamuk. Isavirus dan Thogotovirus. H7N3. burung. 1989). H10N7 Influenzavirus B Influenza B virus Manusia. tetapi burung liar adalah hospes alami untuk virus influenza. anjing Influenzavirus C Isavirus Influenza C virus Infeksi virus salmon laut manusia. genom virus adalah RNA. H7N7. H5N9. kuda H5N1. H1N2. burung. Influenzavirus B. kuda. Virus influenza Virus influenza termasuk family Orthomyxoviridae. yang menginfeksi vertebrata adalah sebagai berikut :    Influenzavirus A : penyebab semua pandemic flu manusia. babi. H3N1. H7N1. H3N8. H7N4. babi.

Namun tidak seperti virus Tipe A. Teknik ini sudah digunakan secara luas pada laboratorium penelitian dan produk vaksin. Inokulasi telur berembrio Sebelum teknik kultur sel berkembang. yaitu H1N1.protein yang terdapat pada permukaan virus. Terdapat 16 subtypes HA atau H (H1-H16) dan 9 subtype NA atau N (N1-N9). misalnya H1N2 adalah virus influenza tipe A yang mempunyai jenis protein HA1 dan protein NA2. banyak virus digandakan dengan telur ayam berembrio. Terdapat 16 jenis subtype HA. Subtipe – subtype tersebut ditetapkan ketika dilakukan analisis filogenetik terhadap nukleotida dan penetapan urutan gen-gen HA dan NA melalui cara deduksi asam amino. Virus influenza tipe C tidak digolongkan ke dalam subtype. Hanya beberapa virus flu tipe A yang umumnya saat ini menyerang manusia. tetapi tidak dapat menyebabkan pandemi. hal ini memungkinkan terjadinya beberapa kombinasi protein diantara HA dan NA. H3N2. sehingga keragaman genetiknya sangat sedikit. Virus influenza B bermutasi lebih lambat dari virus influenza A. virus influenza tipe B tidak diklasifikasikan berdasar sub-tipe. Virus influenza tipe B Virus influenza tipe B umumnya ditemukan di manusia. dan berbagai kombinasi dari kedua jenis protein ini dapat ditemukan. Telur ayam berembrio adalah salah satu 3 . Virus influenza tipe B menginfeksi manusia dan anjing laut. misalnya H7N7 dan H3N8 yang menyebabkan penyakit flu pada kuda. Sampai sekarang teknik ini masih digunakan untuk menumbuhkan virus influenza dengan hasil yang baik. Virus influenza tipe C Virus influenza tipe C menginfeksi manusia dan babi. Sehingga virus Avian Influenza H5N1 adalah virus influenza tipe A yang mempunyai protein HA5 dan NA1. Subtype virus influenza tipe A dinamakan berdasar jenis protein HA dan NA. Sedangkan beberapa sub-tipe umumnya terdapat pada hewan. Protein tersebut adalah hemaglutinin ( HA atau HI) dan neuraminidase. HIN2. Virus influenza tipe C menyebabkan sakit ringan pada manusia dan tidak menyebabkan epidemic atau pandemi. Walaupun virus tipe B ini dapat menyebabkan epidemic.

4 . Distribusi gas di dalam telur dibantu dengan pembentukan CAM yang sangat bervaskuler yang berfungsi sebagai organ respirasi embrio. Embrio melekat pada kantong kuning telur yang berlokasi kira0kira ditengah telur dan menyuplai kebutuhan nutrisi untuk perkembangan embrio. Telur ayam yang subur atau berembrio yang telah dinokulasikan selama 5 sampai 12 hari dapat diinokulasikan melalui kulitnya secara aseptic. Murah.metode yang paling ekonomis dan mudah untuk kultivasi berbagai macam virus. Membrane membatasi seluruh permukaan dalam telur dan membentuk rongga udara pada sisi tumpul telur. Membrane kulit telur bersama dengan cangkang telur membantu mempertahankan integritas mikrobiologi dari telur. Untuk mencegah masuknya bakteri. Lubang dapat ditutup dengan lilin paraffin dan telurnya diinkubasikan pada 36°C selama jangka waktu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan virus. membrane membentuk ruangan yang relative besar disebut kantong alantois yang mengandung 5-10 ml cairan allantoic. Telur berembrio telah digunakan secara luas terutama untuk pembiakkan virus influenza. Selama pembentukan. Embrio secara langsung dikelilingi oleh membrane amnion yang membentuk kantong amnion yang berisi 1-2 ml cairan amnion. telur bebek dengan syarat telur-telur tersebut berembrio. sementara terjadinya difusi gas ke dalam dan keluar telur. mudah didapat Struktur telur embrio Langsung dibawah cangkang telur terdapat membrane kulit telur yang fibrinous. Pembentukan membrane ini terjadi berdekatan dengan membrane telur sepanjang telur. maka lapisan lilin diluar didnding telur hanya boleh dilap. Telur berembrio yang dapat digunakan adalah telur ayam negeri. Belum ada perkembangan fungsi imunologis c. Steril b. telur berembrio mempunyai beberapa kelebihan : a. tidak boleh dicuci dengan sabun. telur ayam kampong. Dibandingkan dengan hewan percobaan.