Anda di halaman 1dari 7

Pemeriksaan Fibrinogen

Hari/tanggal

: Selasa,

I. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan faal hemostasis.
2. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan fibrinogen.
II. Metode
Pemeriksaan APTT dilakukan dengan menggunakan metode fotooptik atau
elektromekanik.
III.Prinsip
Fibrinogen dalam plasma citrat bereaksi dengan reagen trombin akan membentuk
benang fibrin. Waktu terbentuknya benang fibrin dibaca dalam satuan detik, berbanding
terbalik dengan kadar fibrinogen.
IV. Dasar teori
A. Darah
Darah merupakan cairan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan
oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil
metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus maupun bakteri. Darah
sangatlah penting untuk kesehatan di dalam kehidupan. Jika terkena luka bisa menyebabkan
kehilangan darah yang parah. Trombosit menyebabkan darah membeku, menutup luka kecil,
tetapi luka besar perlu dirawat dengan segera untuk mencegah terjadinya kekurangan darah.
Kerusakan pada organ dalam bisa menyebabkan luka dalam yang parah atau hemorrhage.
B. Faktor-Faktor Pembekuan Darah:
1. Fibrinogen: sebuah faktor koagulasi yang tinggi berat molekul protein plasma dan
diubah menjadi fibrin melalui aksi trombin. Kekurangan faktor ini menyebabkan masalah
pembekuan darah afibrinogenemia atau hypofibrinogenemia.
2. Prothrombin: sebuah faktor koagulasi yang merupakan protein plasma dan diubah
menjadi bentuk aktif trombin (faktor IIa) oleh pembelahan dengan mengaktifkan faktor X
(Xa) di jalur umum dari pembekuan. Fibrinogen trombin kemudian memotong ke bentuk
aktif fibrin. Kekurangan faktor menyebabkan hypoprothrombinemia.
3. Jaringan Tromboplastin: koagulasi faktor yang berasal dari beberapa sumber yang
berbeda dalam tubuh, seperti otak dan paru-paru; Jaringan Tromboplastin penting dalam
pembentukan prothrombin ekstrinsik yang mengkonversi prinsip di Jalur koagulasi
ekstrinsik. Disebut juga faktor jaringan.

4. Kalsium: sebuah faktor koagulasi diperlukan dalam berbagai fase pembekuan darah.
5. Proaccelerin: sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan panas, yang
hadir dalam plasma, tetapi tidak dalam serum, dan fungsi baik di intrinsik dan ekstrinsik
koagulasi jalur. Proaccelerin mengkatalisis pembelahan prothrombin trombin yang aktif.
Kekurangan faktor ini, sifat resesif autosomal, mengarah pada kecenderungan berdarah
yang langka yang disebut parahemophilia, dengan berbagai derajat keparahan. Disebut
juga akselerator globulin.
6. Proconvertin: sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan panas serta
berpartisipasi dalam Jalur koagulasi ekstrinsik. Hal ini diaktifkan oleh kontak dengan
kalsium, dan bersama dengan mengaktifkan faktor III itu faktor X. Defisiensi faktor
Proconvertin, yang mungkin herediter (autosomal resesif) atau diperoleh (yang
berhubungan dengan kekurangan vitamin K), hasil dalam kecenderungan perdarahan.
Disebut juga serum prothrombin konversi faktor akselerator dan stabil.
7. Antihemophilic faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan
berpartisipasi dalam jalur intrinsik dari koagulasi, bertindak sebagai kofaktor dalam
aktivasi faktor X. Defisiensi, sebuah resesif terkait-X sifat, penyebab hemofilia A.
Disebut juga antihemophilic globulin dan faktor antihemophilic A.
8. Tromboplastin Plasma komponen, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif
stabil dan terlibat dalam jalur intrinsik dari pembekuan. Setelah aktivasi, diaktifkan
Defisiensi faktor X. hasil di hemofilia B. Disebut juga faktor Natal dan faktor
antihemophilic B.
9. Stuart faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan berpartisipasi
dalam baik intrinsik dan ekstrinsik jalur koagulasi, menyatukan mereka untuk memulai
jalur umum dari pembekuan. Setelah diaktifkan, membentuk kompleks dengan kalsium,
fosfolipid, dan faktor V, yang disebut prothrombinase; hal ini dapat membelah dan
mengaktifkan prothrombin untuk trombin. Kekurangan faktor ini dapat menyebabkan
gangguan koagulasi sistemik. Disebut juga Prower Stuart-faktor. Bentuk yang diaktifkan
disebut juga thrombokinase.
10. Tromboplastin plasma yg di atas, faktor koagulasi yang stabil yang terlibat dalam jalur
intrinsik dari koagulasi; sekali diaktifkan, itu mengaktifkan faktor IX. Lihat juga
kekurangan faktor XI. Disebut juga faktor antihemophilic C.
11. Hageman faktor: faktor koagulasi yang stabil yang diaktifkan oleh kontak dengan kaca
atau permukaan asing lainnya dan memulai jalur intrinsik dari koagulasi dengan
mengaktifkan faktor XI. Kekurangan faktor ini menghasilkan kecenderungan trombosis.
12. Fibrin-faktor yang menstabilkan, sebuah faktor koagulasi yang merubah fibrin monomer
untuk polimer sehingga mereka menjadi stabil dan tidak larut dalam urea, fibrin yang

memungkinkan untuk membentuk pembekuan darah. Kekurangan faktor ini memberikan


kecenderungan seseorang hemorrhagic. Disebut juga fibrinase dan protransglutaminase.
Bentuk yang diaktifkan juga disebut transglutaminase.
C. Fibrinogen
Fibrinogen adalah protein yang ditemukan dalam plasma darah yang memainkan peran
penting dalam pembekuan darah. Fibrinogen adalah glikoprotein dengan berat molekul
hingga mencapai 340.000 dalton. Fibrinogen ini disintesis di hati yaitu sekitar 1,7 - 5 g/hari
dan oleh sel megakariosit. Di dalam plasma darah yang kadarnya kira-kira 200-400 mg/dl.
Waktu paruh yang dibutuhkan fibrinogen adalah sekitar 3-5 hari. Fibrinogen tersusun atas 6
rantai, yaitu : 2 rantai A, 2 rantai B dan 2 rantai . Trombin (FIIa) memecah molekul
fibrinogen menjadi 2 fibrinopeptide A (FPA) dari rantai A dan 2 fibrinopeptide B (FPB) dari
rantai B. Fibrin monomer yang diperoleh dari hasil reaksi ini kemudian berlekatan
membentuk fibrin, kemudian distabilkan oleh faktor XIII-a. Pada tahap pertama saat proses
stabilisasi terdiri atas ikatan dua rantai dari dua fibrin monomer. Ikatan ini merupakan
ikatan yang berasal dari D-Dimer dan produk dari hasil degradasi fibrin spesifik. Fibrinogen
ini juga dapat didegradasi oleh plasmin.
Fibrinogen merupakan reaksi akut protein yang kadarnya akan bertambah pada keadaan
tertentu fisiologis dan keadaan inflamasi lainnya jika terjadi luka. Fibrinogen merupakan
protein terbesar yang ada di dalam plasma darah. hal tersebut menyebabkan jika terjadi
peningkatan kadar fibrinogen akan berdampak pada viksositas darah yang kemudian akan
mengubah tingkat rheology dalam darah. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa kadar
fibrinogen yang ada di dalam plasma darah akan menjadi predictor dari penyakit
kardiovaskular.

D. Nomanklatur Fibrinogen
Didalam plasma darah terdapat paling sedikit 16 zat prokoagulan, yang juga disebut
dengan faktor koagulasi. Hampir semua faktor koagulan disentesa didalam hati, walaupun
sebagian kecil disintesa di monosit, sel endothelial dan megakariosit. Pada tahun 1958
International Committee for Standarization of the Nomenclatur of the Blood Clothing Factor
memberikan penamaan terhadap plasma koagulan dengan angka romawi berdasarkan urutan

yang pertamakali ditemukan dan didiskripsikan. Maka fibrinogen dapat disebut dengan faktor
I namun seperti biasa kita menyebutnya dengan namanya yaitu fibrinogen.
E. Manifestasi Klinis Fibrinogen
Seperti yang sudah diketahui, fungsi fibrinogen yang sangat penting yaitu pada
hemostasis. Maka kerusakan fibrinogen dapat terjadi secara kuantitafif (jumlah kadar
fibrinogen didalam tubuh yang kurang atau lebih dari normal) maupun secara kualitatif (misal
pada dysfibrinogenemia). Peningkatan kadar fibrinogen dapat berkorelasi dengan
peningkatan resiko terjadinya thrombosis seperti yang dijelaskan pada beberapa penelitian,
meskipun hal ini tidak dapat diterapkan terhadap masing-masing individu. Dengan semakin
berkembangnya penelitian terhadap penyakit-penyakit degeneratif maka semakin banyak
bukti yang menyatakan bahwa fibrinogen mempunyai peran sangat penting dalam
menentukan tingkat keparahan serta prognosa terhadap penyakit yang berhubungan dengan
atherosklerosis misal penyakit jantung dan stroke.
F. Fisiologi Fibrinogen
Beberapa fungsi dan manfaat fibrinogen bagi tubuh manusia:
1. Substrat untuk pembentukan bekuan fibrin.
2. Bekuan fibrin adalah template untuk kedua trombin mengikat dan sistem fibrinolitik.
3. Mengikat trombosit untuk mendukung agregasi platelet.
4. Memiliki peran dalam penyembuhan luka.
5. Keseimbangan antara pembentukan bekuan fibrin dan fibrinolisis menentukan apakah
manifestasi klinis termasuk perdarahan, trombosis, keduanya, atau tidak.
G.Patofisiologi Fibrinogen
Gangguan ataupun kelainan yang dapat terjadi pada fibrinogen terkait oleh beberapa
hal berikut ini:
A. Kelainan kuantitatif
a. bawaan

Afibrinogenemia (jarang, autosomal resesif)

Hipofibrinogenemia
b. Acquired

Hipofibrinogenemia (coagulapathies konsumtif, DIC)

Hiperfibrinogenemia (peradangan, neoplasia)


B. kelainan kualitatif
a. bawaan
Dysfibrinogenemia
Hypodysfibrinogenemia
b. Acquired
penyakit hati
keganasan,
antibodi Antifibrinogen 15; 16

H.Pemeriksaan fibrinogen
Berbagai macam metode pemeriksaan fibrinogen telah banyak digunakan oleh
laboratorium. Beberapa teknik yang berbeda telah digunakan untuk menentukan konsentrasi
fibrinogen dalam plasma. Metode yang dijelaskan oleh Jacobsson pada tahun 1955 telah
sering dianggap sebagai metode referensi, mencerminkan total clottability fibrinogen.
Pemeriksaan fibrinogen dapat dilakukan secara manual (visual), foto optik atau
electro mecanik. Pemeriksaan ini bertujuan menilai terbentuknya bekuan bila di dalam
plasma yang diencerkan ditambahkan dengan thrombin. Waktu pembekuan dari plasma ini
kemudian terdilusi berbanding terbalik dengan kadar jumlah fibrinogen.
Metode imunologi yang termasuk pemeriksaan fibrinogen kuantitaif menggunakan
teknik ELISA. Selain metode yang digunakan untuk menentukan tingkat konsentrasi
fibrinogen plasma yang beragam juga standar kalibrasi yang masih heterogen , menjadikan
perbandingan tingkat fibrinogen yang diperoleh dari beberapa laboratorium berbeda.
V. Alat dan Bahan
Alat
1. Centrifuge
2. Automatic Koagulasi Merck Sysmex Ca 1500
Bahan
1. Plasma Natrium sitrat
VI. Cara kerja
A. Preparasi Sampel
1. Alat dan bahan disiapkan.
2. Label pada tabung vakum diperhatikan apakah telah sesuai dengan form pemeriksaan
3.

pasien.
Sampel darah Natrium Sitrat diperiksa secara mikroskopis meliputi volume sampel,
lisis atau tidak lisis, adanya klot, sampel lipemik atau ikterik.

4. Sampel kemudian dicentrifuge dengan kecepatan 3500 rpm selama 5 menit sehingga

diperoleh plasma natrium sitrat.


B. Pemeriksaan APTT
1. Cara menghidupkan alat Sysmex Ca 1500
a.UPS dipastikan hidup dan bekerja dengan baik.
b. Alat Sysmex Ca 1500 dinyalakan dengan menekan tombol ON yang terdapat di bagian
belakang alat.
c.Ditunggu hingga muncul tanda Start maka alat siap untuk digunakan. Namun bila tanda
Start tidak muncul maka dapat ditekan C9-0.

d. Kemudian dilakukan kontrol pada alat sesuai dengan parameter pemeriksaan yang ada
dan alat dikondisikan pada keadaaan siap digunakan untuk melakukan pemeriksaan.
e.Alat boleh dipergunakan apabila nilai kontrol masuk. Apabila kontrol tidak masuk,
pengerjaan kontrol harus diulang sampai nilainya masuk. Apabila tetap tidak masuk
maka berarti alat perlu dikalibrasi.
2. Cara melakukan pemeriksaan Fibrinogen
a.Setelah sampel plasma natrium sitrat diperoleh, terlebih dahulu dimasukkan identitas
pasien pada monitor alat meliputi nomor ID pasien yang tercantum pada label dan jenis
pemeriksaan yang diinginkan.(Identitas pasien dapat dimasukkan secara manual
maupun dengan sistem barcode)
Secara Manual
o Input data secara manual dilakukan dengan cara mengetik langsung no. ID pasien
pada kolom identitas sampel pada monitor alat, kemudian dicentang jenis
pemeriksaan yang dipilih (Fbg) dan ditekan enter setiap selesai memasukkan
identitas sampel dan jenis pemeriksaan.
o Tombol Start ditekan untuk memulai pemeriksaan.
Sistem Barcode
o Apabila menggunakan sistem barcode, dipastikan terlebih dahulu barcode sampel
terpasang dengan baik pada tabung vacutainer (tidak rusak, tidak tercoret, tidak
miring, tidak basah dan tidak tertumpuk). Tabung yang berisi plasma natrium sitrat
diletakkan pada tempat sampel di alat dengan barcode dihadapkan ke arah
pendeteksi barcode. Kemudian dicentang pemeriksaan yang dipilih (Fbg) pada
monitoralat untuk masing-masing tabung dan ditekan enter untuk tabung
berikutnya. Lalu ditekan Start, maka pendeteksi barcode akan mendeteksi barcode
pada masing-masing tabung pemeriksaan dan akan muncul secara otomatis pada
layar kolom no. ID. identitas dari masing-masing tabung.
b. Setelah itu, akan muncul kolom Select Tube Position dan dipilih :

First Tube apabila cup pemeriksaan pada alat dimulai dari kolom cup kerja pertama.
Continue apabila cup pemeriksaan pada alat tidak dimulai dari kolom cup kerja
pertama.
c. Alat akan mulai bekerja dan pemeriksaan harus dilakukan dalam keadaan alat
tertutup.
d. Ditunggu beberapa menit hingga pemeriksaan selesai dan hasil pemeriksaan akan
keluar berupa print out pada alat.
Catatan

: Analisis harus dilakukan sebelum 2 jam dari waktu pengambilan sampel.

VII. Interpretasi hasil


Nilai rujukan Fibrinogen (coagulation factor I) = 150 -360 mg/dl
= 1.5 3.6 g/L
Nilai Rujukan dari RS.Sanglah 140.0 450.0 mg/dl
VIII. Hasil pengamatan
Identitas Pasien
Nama : Bandem Arista Putra
Jenis Kelamin : Laki laki
Umur : 20 tahun
Jenis sampel : Plasma sitrat
Hasil Fibrinogen : 160 mg/dl
IX. Pembahasan
X. Kesimpulan
XI. Daftar pustaka
Gandasoebrata, R. 2007. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat.
Sacher, Ronald. A. 2004. Tinjauan Hasil Klinis Laboratorium. Jakarta : EGC.
http://labkesehatan.blogspot.co.id/2010/01/fibrinogen.html
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41215/4/Chapter%20II.pdf
http://idpengertian.com/2015/02/pengertian-fibrinogen.html
http://budisma.net/2015/05/fungsi-fibrinogen.html
http://dosenbiologi.com/manusia/fungsi-fibrinogen 2015
http://ellealawiyah.blogspot.co.id/2011/05/makalah-biokimia.html
http://ericandhilaryrose.blogspot.co.id/2014/11/pemeriksaan-fibrinogen.html
http://hawk-indo.blogspot.co.id/2012/03/fungsi-pemeriksaan-laboratorium.html