Anda di halaman 1dari 8

PENANGANAN BAHAN

INFEKSIUS

OLEH :

MARISSAH THAMRIN (P071434013049)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN D III ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2013/2014

melalui kesempatan ini. Sehingga nantinya dapat berguna bagi masyarakat pada umumnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran di masyarakat. sesuai dengan rencana yang nantinya dapat dipergunakan sebagai pedoman. Denpasar. maka melalui kesempatan ini. penulis sangat mengharapkan saran-sarannya guna dapat menyempurnakan isi dari makalah ini. Makalah ini diharapkan dapat berguna bagi para pembaca. dan dukungan dari berbagai pihak. Namun di balik itu mengingat masih banyak kelemahan dan kekurangan yang ada pada makalah ini. bantuan.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak memperoleh bimbingan. Dengan segala kerendahan hati. pengarahan. 14 Desember 2013 Penulis . penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang ikut memberikan masukan dan saran dalam rangka perampungan penulisan makalah ini.

2 Saran DAFTAR PUSTAKA .2 Pengertian Limbah BAB II PENUTUP 2.1 Kesimpulan 2.DAFTAR ISI BAB I PEMBAHASAN 1.1 Pengertian Bahan Infeksius 1.

virus. Oleh karena itu perlu diberi label yang jelas sebagai resiko tinggi. Penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus. gangren. 1. walaupun sebenarnya definisinya lebih luas. atau patogen. Limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular. pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik. darah dan cairan tubuh. dan viroid. dan bersifat pilang membahayakan inang. Contoh limbah jenis tersebut ialah perban atau . Patogen mengganggu fungsi normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik. parasit. anggota badan. Limbah jaringan tubuh meliputi organ. Limbah ini mungkin berbahaya dan mengakibatkan resiko tinggi infeksi kuman dan populasi umum dan staf Rumah Sakit. Limbah Klinik Limbah dihasilkan selama pelayanan pasien secara rutin pembedahan dan di unitunit resiko tinggi. menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak diri. Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut: Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif). patogen umumnya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik. Bahan infeksius adalah bahan yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit infeksi atau penyakit menular. prion. fungi. Secara umum. yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. A.2 Pengertian Limbah Limbah (waste) adalah sesuatu yang tidak dipakai. Jenis-jenis limbah Jenis-jenis limbah rumah sakit meliputi bagian sebagai berikut ini: 1. tidak digunakan. Sedangkan FKM-UI mendefinisikan limbah/sampah ialah benda bahan padat yang terjadi karena berhubungan dengan aktifitas manusia yang tidak dipakai lagi. bakteria atau parasit). mencakup bakteri. Salah satu contoh bahan infeksius dilaboratorium adalah limbah laboratorium.Bab I PEMBAHASAN 1.1 Pengertian Bahan Infeksius Infeksi adalah kolonalisasi yang dilakukan oleh spesies asing terhadap organisme inang. dan bahkan kematian. 1986). bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Limbah sitotoksik adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan. yang pada akhirnya merugikan inang. tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang. Organisme penginfeksi. tak disenangi dan dibuang dengan cara saniter kecuali buangan dari tubuh manusia (Kusnoputranto. biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi. kehilangan organ tubuh.

Bangsal harus memiliki dua macam tempat limbah dengan dua warna. Pemisahan Limbah a. sehingga limbah dapat dipisah-pisahkan ditempat sumbernya. Berikut adalah beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam merumuskan kebijakan kodifikasi dengan warna yang menyangkut hal-hal berikut: 1. dan pengolahan (treatment).pembungkus yang kotor. 3. 2. penggunaan kembali (reuse) dengan sterilisasi lebih dulu. Limbah Bukan Klinik Limbah ini meliputi kertas-kertas pembungkus atau kantong dan plastik yang tidak berkontak dengan cairan badan. a. Limbah Patologi Limbah ini juga dianggap beresiko tinggi dan sebaiknya diautoclaf sebelum keluar dari unit patologi. pembuangan secara aman perlu diatur dengan baik. Limbah harus dipisahkan dari sumbernya b. limbah tersebut cukup merepotkan karena memerlukan tempat yang besar untuk mengangkut dan membuangnya. biasanya berupa alat-alat tulis dianggap sebagai limbah bukan klinik c. Meskipun tidak menimbulkan resiko sakit. yakni berupa pengurangan (reduce) dalam volume. jarum-jarum dan semprit bekas. Penanganan Limbah Penganan limbah yang diutamakan adalah sterilisasi. Pengelolaan Limbah . cairan badan. Tempat limbah diseluruh rumah sakit harus memiliki warna yang sesuai. 4. satu untuk limbah klinik dan yang lain untuk bukan klinik b. anggota badan yang diamputasi. daur ulang (recycle). Limbah Radioaktif Walaupun limbah ini tidak menimbulkan persoalan pengendalian infeksi di rumah sakit. Semua limbah yang keluar dari unit patologi harus dianggap sebagai limbah klinik dan perlu dinyatakan aman sebelum dibuang. Penyimpanan Limbah Dibeberapa Negara kantung plastik cukup mahal sehingga sebagai gantinya dapat digunkanan kantung kertas yang tahan bocor(dibuat secara lokal sehingga dapat diperloleh dengan mudah)kantung kertas ini dapat ditempeli dengan strip berwarna. Pemberian kode warna yang berbeda untuk masing-masing sangat membantu pengelolaan limbah tersebut. Limbah tersebut harus diberi label biohazard. Perlu digunakan kantung plastik dengan warna-warna yang berbeda yang menunjukkan kemana kantong plastik harus diangkut untuk insinerasi atau dibuang. 2. Semua limbah beresiko tinggi hendaknya diberi label jelas c. kemudian ditempatkan ditong dengan kode warna dibangsal dan unit-unit lain. kantung urine dan produk darah. 3. B. Semua limbah dari kantor.

sehingga jika dibawa mengayun menjauhi badan limbah tidak tercecer keluar dan diletakkan ditempat tertentu untuk dikumpulkan. Selain itu. semua limbah infeksi harus diolah dengan cara desinfeksi. d. dekontaminasi. Jika tidak mungkin harus ditimbun dengan kapur dan ditanam limbah dapur sebaiknya dibuang pada hari yang sama sehingga tidak sampai membusuk.a. Bahan tersebut tidak dirusak dengan sempurna. sehingga . Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi pengolahan limbah. dan plastic. b. Limbah bagian bukan klinik misalnya dibawa kekompaktor. c. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Kemudian diikiat bagian atasnya dan diberik label yang jelas. limbah bagian Klinik dibawa keinsenerator. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas. alat insenerasi dengan ruang bakar tunggal tidak memuaskan untuk menangani bahan infeksi. Kantung harus diangkut dengan memegang lehernya. Pengangkutan Limbah Kantung limbah dipisahkan dan sekaligus dipisahkan menurut kode warnanya. 4. limbah bukan klinik dapat dibuang ditempat penimbunan sampah (Land-fill site). sebelum atau sesudah di autoklav dengan membakar limbah tersebut dalam alat insenerasi (insenerator). Pembuangan Limbah Setelah dimanfaatkan dengan konpaktor. Kantung harus disimpan pada kotak-kotak yang kedap terhadap kutu dan hewan perusak sebelum diangkut ketempat pembuangan. insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Namun. 5. jika perlu(misalnya bila ada kebocoran kantung limbah) dibersihkan dengan menggunakan larutan klorin. Pengangkutan dengan kendaraan khusus (mungkin ada kerjasama dengan dinas pekerja umum) kendaraan yang digunakan untuk mengangkut limbah tersebut sebaiknya dikosongkan dan dibersihkan setiap hari. Metode insinerasi digunakan untuk membuang limbah laboratorium ( cair atau padat ). dan insinerasi. Kantung-kantung dengan warna harus dibuang jika telah terisi 2/3 bagian. mayat hewan percobaan. insinerasi memerlukan lahan yang relatif kecil. Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Petugas pengumpul limbah harus memastikan kantung-kantung dengan warna yang sama telah dijadikan satu dan dikirimkan ketempat yang sesuai. sterilisasi. insenerasi bahan infeksi dapat digunakan sebagai pengganti autoklav hanya jika alat insenerasi berada dibawah pengawasan laboratorium dan dilengkapi dengan alat pengontrol suhu dan ruangan bakar sekunder.

S. ada beberapa model ruang bakar yang baik tetapi yang ideal adalah yang memungkinkan suhu pada ruang bakar yang pertama paling sedikit 800° C dan pada ruang bakar kedua 1000°C. limbah klinik dapat ditimbun dengan kapur dan ditanam. d. misalnya kantung plastik tidak perlu ikut ditimbun.5 meter dibawah permukaan tanah e.asap yang keluar dari cerobongnya mencemari atmosfer dengan mikroorganisme dan zat kimia toksik.1Kesimpulan . b. bahan untuk insenerasi.S. Langkah-langkah pengapuran (Liming) tersebut meliputi sebagai berikut: a. Oleh karenanya limbah yang ditimbun dengan kapur ini dibungkus kertas. bahan yang tidak dapat dicerna secara biologi (nonbiodegradable). 1995). Jika fasilitas insinerasi tidak tersedia. harus dikemas dalam kantong plastic. c. bahkan bila harus diautoklav dulu. dengan kedalaman sekitar 2. Semua petugas harus menggunakan pakaian pelindung yang memadai.5 detik. Limbah-limbah tajam harus ditanam. Menggali lubang. waktu retensi gas pada ruang bakar kedua sebaiknya paling edikit 0. imunisasi terhadap hepatitis B sangat dianjurkan dan catatan mengenai imunisasi tersebut sebaiknya tersimpan dibagian kesehatan kerja (Moersidik. BAB II PENUTUP 2. petugas pelaksana insenerasi harus menerima instruksi yang benar tentang jenis bahan dan pengendalian suhu.5 meter Tebarkan limbah klinik didasar lubang samapi setinggi 75 cm Tambahkan lapisan kapur Lapisan limbah yang ditimbun lapisan kapur masih bisa ditambahkan sampai ketinggian 0. Akhirnya lubang tersebut harus ditutup dengan tanah Perlu diingat. Semua petugas yang menangani limbah klinik perlu dilatih secara memadai dan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan jika mengalami inokulasi atau kontaminasi badan.

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. 2. Online. Haryoto. http://www.2 Saran 1. 2009. Jakarta Penanganaan Bahan Infeksius. Cara Penanganan Limbah Infeksius 1) Pemisahan Limbah 2) Penyimpanan Limbah 3) Pengelolaan Limbah 4) Pengangkutan Limbah 5) Pembuangan Limbah 2. Pengertian bahan infeksius dan limbah infeksius oleh seorang analis kesehatan 2. ’Teknologi Pengolahan Limbah Medis. Penyakit infeksi adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus.isomwebs.1. Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut: Limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif). 2000. 3. UI. bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan). Bahan infeksius adalah bahan yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit infeksi atau penyakit menular. Jakarta ____________. Diakses tanggal 14 Desember 2013 Zaenab.net/201304/makalah-tentang-kasus-penanganan-bahan-infeksius/ . bakteria atau parasit). 1986. Seorang analis kesehatan mampu melakukan penanganan terhadap bahan infeksius khususnya limbah infeksius Daftar Pustaka Kusnoputranto. Departemen P&K. Kesehatan Lingkungan. Kesehatan Lingkungan. Limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular. Makassar .