Anda di halaman 1dari 25

1 | Page

Trichomonas Vaginalis

Trichomonas sp merupakan salah satu flagelata genital pada manusia. Ada 3 spesies
yang sering ditemukan pada manusia, yaitu :
1. Trichomonas hominis
Spesies ini habitatnya ada di usus besar manusia
2. Trichomonas tenax
Spesies ini berada dalam mulut manusia tetapi tidak memiliki arti penting dalam dunia
kedokteran.
3. Trichomonas vaginalis
Spesies ini habitatnya pada daerah genital dan dapat menyebabkan patologi urogrnital
dan sebagai pemicu munculnya penyakit kelamin.

Morfologi
Trichomonas vaginalis tidak memiliki stadium kista tetapi hanya ditemui dalam stadium
tropozoit. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut :
Bentuknya oval atau piriformis. Memiliki 4 buah flagel anterior
Flagel ke-5 menjadi axonema dari membran bergelombang (membrana undulant)
Pada ujung posterior terdapat axonema yang keluar dari badan, yang diduga untuk
melekatkan diri pada jaringan sehingga menimbulkan irritasi.
Memiliki satu buah inti. Perkembangbiakan dengan cara belah pasang.
Siklus hidup
Pada sebagian besar kasus, Trichomonas vaginalis ditransmisikan saat terjadi hubungan
kelamin. Pria sering berperan sebagai pembawa parasit. Parasit ini berada pada saluran
urethra pada pria. Seorang pria yang membawa parasit akan menularkan pada
pasangannya saat terjadi hubungan seksual. Selanjutnya wanita pasangannya tersebut
akan terinfeksi oleh parasit dan berkembang biak di daerah genital. Apabila wanita
tersebut kemudian berhubungan seksual dengan pria lain yang sehat maka akan terjadi
penularan kembali.

2 | Page

Mengamati

proses

penularan

parasit

ini,

maka

kelompok

resiko

tinggi

untuk

mengidap Trichomoniasis adalah para wanita pekerja seks komersial dan pria yang suka
berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks serta semua orang yang memiliki
kebiasaan seks bebas.
Gejala klinis
Pada wanita, Trichominiasis menyebabkan vaginitis (radang vagina) dengan fluor albus
yang berwarna putih seperti cream dan berbuih. Bagian vulva dan cervic bisa mengalami
peradangan.
Pada

pria

jarang

menunjukkan

tanda

yang

jelas,

tetapi

dapat

pula

terjadi uretritis dan prostatitis.

Pencegahan penularan
Kebiasaan melakukan seks bebas ternyata dapat memicu timbulnyaTrichomoniasis,
sehingga upaya pencegahan infeksi lebih dititik beratkan pada perilaku manusia. Hanya
berhubungan

seks

dengan

suami

atau

istri

yang

sah

merupakan

salah

satu alternatif pencegahan infeksi ini. Dengan hanya berhubungan seks terhadap
pasangan yang sah diharapkan dapat menekan penyebaran penularan infeksi parasit ini.
Pada

wanita

pekerja

seks

komersial,

hendaknya

selalu

memeriksakan

diri

secara periodic guna mengetahui infeksi secara dini dan segera melakukan pengobatan
apabila ada gejala dan tanda infeksi. Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi
penyebaran parasit pada pria yang berhubungan dengannya. Pada pria yang suka
berhubungan

seks

dengan

wanita

pekerja

seks

komersial

hendaknya

selalu

menggunakan pelindung (kondom) saat berhubungan.


Namun demikian secara arif kita akan dapat mencegah penularan penyakit ini pada diri
kita masing-masing apabila kita selalu memegang teguh ajaran agama masing-masing,
karena tidak ada satu agamapun yang menganjurkan umatnya melakukan seks bebas.
Diagnosa laboratorium
Diagnosa

laboratorium

dapat

ditegakkan

dengan

melakukan

pemeriksaan

pada sample secret vagina (fluor albus) pada wanita dan secret urethra pada pria.

3 | Page

Secara mikroskopis apabila ditemukan parasit Trichomonas vaginalis maka diagnoas


laboratorium dapat ditegakkan.

Trikomoniasis
Trikomoniasis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh
serangan protozoa parasit Trichomonas vaginalis. Trichomoniasis merupakan infeksi yang biasanya
menyerang saluran genitourinari; uretra adalah tempat infeksi yang paling umum pada laki-laki,
dan vagina adalah tempat infeksi yang paling umum pada wanita. Penggunaan kondom dapat menolong
mencegah penyebaran trikomoniasis.

Insidensi
Trikomoniasis (sering disebut sebagai "trich") adalah penyakit menular seksual paling umum yang dapat
disembuhkan di dunia. Penyakit ini juga salah satu dari tiga infeksi vagina yang paling umum pada wanita.
Menurut perkiraan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diperkirakan ada 7,4 juta kasus
trikomoniasis setiap tahun di Amerika Serikat, dengan lebih dari 180 juta kasus yang dilaporkan worldwide.
Dan jumlah sebenarnya penderita infeksi trikomoniasis mungkin jauh lebih tinggi dari ini-menurut Pusat
Pengendalian Penyakit ''(Center for Disease Control)''. Tes diagnostik yang paling umum digunakan hanya
memiliki tingkat sensitifitas sebesar 60-70%.

[1]

Faktor Resiko
Risiko tertular infeksi Trichomonas vaginalis didasarkan pada jenis aktivitas seksual. Wanita yang terlibat
dalam aktivitas seksual beresiko tinggi berada pada risiko lebih besar terkena infeksi. Faktor risiko untuk
infeksi Trichomonas vaginalis meliputi:
1. Pasangan baru atau multi pasangan
2. Riwayat Infeksi Menular Seksual (IMS)
3. Infeksi Menular Seksual (IMS) yang sedang dialami sekarang
4. Kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi
5. Bertukar seks untuk uang atau obat-obatan

4 | Page

6. Menggunakan obat injeksi


7. Tidak menggunakan kontrasepsi penghalang (misalnya, karena kontrasepsi oral)
Dalam sebuah penelitian bahwa faktor risiko trikomoniasis dipertimbangkan untuk umum, penggunaan
narkoba dalam 30 hari sebelumnya adalah orang yang paling sangat terkait dengan infeksi dan infeksi
dengan kejadian (infeksi baru diamati selama studi)

[2]

Faktor risiko yang paling signifikan adalah aktivitas seksual selama 30 hari sebelumnya (dengan 1 atau
lebih pasangan). Wanita dengan 1 atau lebih pasangan seksual selama 30 hari sebelumnya memiliki 4 kali
lebih mungkin mengalami infeksi Trichomonas vaginalis.

[2]

Gejala Klinis
1.Trikomoniasis pada wanita
Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronik. Pada kasus akut terlihat
sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak
(malodorous), dan berbusa. Dinding vagina tampak kemerahan dan sembab. Kadang-kadang
terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang tampak sebagai granulasi berwarna
merah dan dikenal sebagai "strawberry appearance" dan disertai gejala dispareunia, perdarahan
pascacoitus, dan perdarahan intermenstrual. Bila sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada
lipat paha atau di sekitar genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula
terjadi uretritis, Bartholinitis, skenitis, dan sistisis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus
yang kronik gejala lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa. [3]
2.Trikomoniasis pada laki-laki
Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang preputium, vesikula
seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih ringan dibandingkan dengan
wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore, misalnya disuria, poliuria, dan sekret
uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang
halus. Pada bentuk kronik gejalanya tidak khas yaitu gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh
pada pagi hari. [3]

Tes dan Pemeriksaan Laboratorium


Diagnosis dibuat dengan langsung mengamati trichomonas melalui mikroskop (''Trichomonas
vaginalis'' terlalu kecil untuk dilihat dengan mata telanjang).Trichomonas berbentuk buah pir dan
memiliki flagela beberapa (ekor whiplike) pada salah satu ujungnya.

5 | Page

1.

Tes laboratorium hanya dilakukan jika dokter mencurigai trikomoniasis sebagai


kemungkinan diagnosis.

2.

Dalam beberapa kasus, dokter mungkin harus mengirim sampel ke laboratorium, dan
hasilnya mungkin tidak segera datang.

3.

Dokter akan mengumpulkan spesimen selama pemeriksaan panggul.

4.

Dokter memasukkan spekulum ke dalam vagina dan kemudian menggunakan aplikator


kapas-tipped untuk mengumpulkan sampel.

5.

Sampel tersebut kemudian ditempatkan ke slide mikroskop dan dikirim ke laboratorium


untuk dianalisis.

6.

Trichomonas terlihat jarang selama pengujian urin.

Pengobatan
Biasanya antibiotik oral disebut metronidazole (Flagyl) diberikan untuk mengobati trikomoniasis. Sebelum
mengkonsumsi obat ini, sangat penting untuk memberitahu dokter Anda jika ada kemungkinan bahwa
Anda hamil, karena obat tersebut dapat membahayakan bayi.
Pasangan Anda juga harus diobati pada saat yang sama untuk mencegah infeksi ulang dan penyebaran
lebih lanjut penyakit. Selain itu, orang yang sedang dirawat karena trikomoniasis harus menghindari seks
sampai pengobatan mereka dan mitra seksualnya lengkap dan tidak memiliki gejala. Ini penting jika Anda
merasa lebih baik

TRIKOMONIASIS
A. Definisi

6 | Page

Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkanTrichomonas


vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang traktus
urogenitalis bagian bawah pada wanita maupun pria, namun pada pria perannya sebagai
penyebab penyakit masih diragukan.(4)
B. Etiologi
Penyebab trikomoniasis ialah Trichomonas vaginalis yang merupakan satusatunya spesies Trichomonas yang bersifat patogen pada manusia dan dapat dijumpai
pada traktus urogenital.(4) Pertama kali ditemukan oleh Donne pada tahun 1836(1,4), dan
untuk waktu yang lama sejak ditemukannya dianggap sebagai komensal.(4)
Trichomonas vaginalis merupakan flagelata berbentuk filiformis, berukuran 15-18
mikron, mempunyai 4 flagela, dan bergerak seperti gelombang.(1) Mempunyai membran
undulans yang pendek, tidak mencapai dari setengah badannya. Pada sediaan basah
mudah terlihat karena gerakan yang terhentak-hentak. Membentuk koloni trofozoit pada
permukaan sel epitel vagina dan uretra pada wanita; uretra, kelenjar prostat dan vesikula
seminalis pada pria.(4)
Parasit ini berkembang biak secara belah pasang memanjang dan dapat hidup
dalam suasana pH 5-7,5. Pada suhu 50C akan mati dalam beberapa menit, tetapi pada
suhu 0C dapat bertahan sampai 5 hari.(1) Cepat mati bila mengering, terkena sinar
matahari, dan terpapar air selama 35-40 menit.(4)
Ada dua spesies lainnya yang dapat ditemukan pada manusia, yaituTrichomonas
tenax yang hidup di rongga mulut dan Pentatrichomonas hominisyang hidup dalam
kolon, yang pada umumnya tidak menimbulkan penyakit.(1,4)
C. Patogenesis
Trichomonas vaginalis mampu menimbulkan peradangan pada dinding saluran
urogenital dengan cara invasi sampai mencapai jaringan epitel dan subepitel. Masa tunas
rata-rata 4 hari sampai 3 minggu. Pada kasus yang lanjut terdapat bagian-bagian dengan
jaringan granulasi yang jelas. Nekrosis dapat ditemukan di lapisan subepitel yang
menjalar sampai di permukaan epitel. Di dalam vagina dan uretra parasit hidup dari sisasisa sel, kuman-kuman, dan benda lain yang terdapat dalam sekret.(1)
D. Gejala Klinis
1. Trikomoniasis Pada Wanita

7 | Page

Gejala klinis trikomoniasis pada wanita tidak merupakan parameter diagnostik


yang dapat dipercaya. Masa tunas sulit untuk dipastikan, tetapi diperkirakan berkisar
antara 3-28 hari.(4)
Pada wanita sering tidak menunjukkan keluhan maupun gejala sama sekali.
Bila ada keluhan biasanya berupa duh tubuh vaginal yang banyak dan berbau.
Biasanya penderita datang dengan keluhan gatal pada daerah kemaluan dan gejala
keputihan.(4) Dari data-data yang dikumpulkan oleh Wolner-Hanssen (1989) dan Rein
(1989) yang terdapat pada tabel 1, ternyata hanya 50-70% penderita yang mengeluh
adanya duh tubuh vaginal, sehingga pernyataan bahwa trikomoniasis pada wanita
harus selalu disertai duh tubuh vaginal merupakan hal yang tidak benar.(4)
Tabel 1. Prevalensi keluhan dan gejala klinis penderita wanita dengan trikomoniasis.(4)
Keluhan dan gejala
Keluhan :
1.

Tidak ada

2.

Duh tubuh (discharge)

Prevalensi (%)
9 56
50 75
10 67

Berbau
23 82
Menimbulkan iritasi/gatal
10 50
3.

Dispareunia

4.

Disuria

5.

Perasaan tidak enak pada perut bawah

Gejala :
1.

Tidak ada

2.

Eritema vulva yang difus

3.

Duh tubuh berlebihan, kuning, hijau

30 50
5 12
15
10 37
5 42

berbusa

8 50

4.

Inflamasi dinding vagina

20 75

5.

Strawberry cervix

12

Pengamatan langsung
45
Pengamatan dengan kolposkop

8 | Page

Yang diserang terutama dinding vagina, dapat bersifat akut maupun kronis.
(1)

Pada kasus akut terlihat sekret vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan,

kuning-hijau, berbau tidak enak (malodorous), dan berbusa. (1,4) Duh tubuh yang
banyak sering menimbulkan keluhan gatal dan perih pada vulva serta kulit sekitarnya.
(4)

Dinding vagina dan labium tampak kemerahan dan sembab serta terasa nyeri.

(1,4)

Sedangkan pada vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-abses

kecil dan maserasi yang disebabkan oleh fermen proteolitik dalam duh tubuh.
(4)

Kadang-kadang juga terbentuk abses kecil pada dinding vagina dan serviks, yang

tampak granulasi berwarna merah dan dikenal sebagai strawberry appearance, yang
menurut Fouts et al, hal ini hanya ditemukan pada 2% kasus trikomoniasis. (4)Keluhan
lain yang mungkin terjadi adalah dispareunia, perdarahan pascakoitus, dan perdarahan
intermenstrual.(1,4) Bila sekret banyak yang keluar dapat timbul iritasi pada lipat paha
atau di sekitar genitalia eksterna. Selain vaginitis dapat pula terjadi uretritis,
Bartholinitis, skenitis, dan sistitis yang pada umumnya tanpa keluhan. Pada kasus
yang kronik gejalanya lebih ringan dan sekret vagina biasanya tidak berbusa.(1,4)
Polakisuria dan disuria biasanya merupakan keluhan pertama pada infeksi traktus urinarius
bagian bawah yang simptomatik. Dua puluh lima persen penderita mengalami infeksi pada
uretra.(4)
2. Trikomoniasis Pada Pria
Seperti pada wanita spektrum klinik trikomoniasis pada pria sangat luas, mulai
dari tanpa gejala sampai pada uretritis yang hebat dengan komplikasi prostatitis. Masa
inkubasi biasanya tidak melebihi 10 hari.(4)
Pada laki-laki yang diserang terutama uretra, kelenjar prostat, kadang-kadang
preputium, vesikula seminalis, dan epididimis. Pada umumnya gambaran klinis lebih
ringan dibandingkan dengan wanita. Bentuk akut gejalanya mirip uretritis nongonore,
misalnya disuria, poliuria, dan sekret uretra mukoid atau mukopurulen. Urin biasanya
jernih, tetapi kadang-kadang ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik gejalanya
tidak khas; gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.(1)
E. Diagnosis
Diagnosis

kurang

tepat

bila

hanya

berdasarkan

gambaran

klinis,

karenaTrichomonas vaginalis dalam saluran urogenital tidak selalu menimbulkan gejala


atau keluhan. Uretritis dan vaginitis dapat disebabkan bermacam-macam sebab, karena itu
perlu diagnosis etiologik untuk menentukan penyebabnya.(1,4)

9 | Page

Diagnosis trikomoniasis ditegakkan setelah ditemukannya T. vaginalispada


sediaan langsung (sediaan basah) atau pada biakan duh tubuh penderita.(4)
Diagnosis pada pria menjadi lebih sulit lagi, karena infeksi ditandai oleh jumlah
kuman yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan wanita. Uretritis non gonore (UNG)
yang disebabkan oleh T. vaginalis tidak dapat dibedakan secara klinis dari UNG oleh
penyebab yang lain.(4)
Respon terhadap pengobatan dapat menunjang diagnosis. UNG yang gagal diobati
dengan rejimen yang efektif terhadap C. trachomatis dan U. urealyticum, namun respon
terhadap pengobatan dengan metronidazol, menunjang diagnosis trikomoniasis.(4)
Untuk mendiagnosis trikomoniasis dapat dipakai beberapa cara, misalnya
pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan hapus, dan pembiakan. Sediaan basah
dicampur dengan garam faal dan dapat dilihat pergerakan aktif parasit. Pada pembiakan
dapat digunakan bermacam-macam pembenihan yang mengandung serum.(1)
F. Pemeriksaan Laboratorium
Cara pengambilan spesimen pada wanita, yaitu spesimen berupa hapusan forniks
posterior dan anterior yang diambil dengan lidi kapas atau sengkelit steril. Hendaknya
spekulum yang dipakai jangan memakai pelumas. Pada pria, spesimen yang diambil
dengan mengerok (scraping) dinding uretra secara hari-hati dengan menggunakan
sengkelit steril. Pengambilan spesimen sebaiknya dilakukan sebelum kencing pertama.(4)
Bila parasit tidak ditemukan, maka dilakukan pengambilan spesimen berupa
sedimen dari 20 cc pertama urin pertama pagi-pagi. Spesimen tersebut, terutama yang
diambil setelah masase prostat dapat menghasilkan 15% hasil positif pada kasus-kasus
yang tidak terdiagnosis dengan pemeriksaan spesimen uretra. Pada spesimen tersebut
dilakukan pemeriksaan :(4)
1. Sediaan Langsung (Sediaan Basah)
Lidi kapas dicelupkan ke dalam 1 cc garam fisiologis, dikocok. Satu tetes
larutan tersebut diteteskan pada gelas objek, kemudian ditutup dengan kaca penutup.
Spesimen pada ujung sengkelit dimasukkan pada satu tetes garam fisiologis yang
telah diletakkan pada kaca objek.
Sebelum diamati sediaan dipanaskan sebentar dengan hati-hati, untuk
meningkatkan pergerakan T. vaginalis. Pada pemeriksaan diperhatikan pula jumlah
leukosit.

10 | P a g e

2. Sediaan Tidak Langsung


Bila pada sediaan langsung tidak ditemukan kuman penyebab, maka dilakukan
biakan pada media Feinberg atau Kupferberg. Biakan diperlukan pada pemeriksaan
kasus-kasus asimtomatik. Enam puluh persen spesimen yang diambil dari uretra pria
dengan trikomoniasis akan menghasilkan biakan positif.
Dikemukan bahwa hasil positif pada pemeriksaan sediaan basah pada wanita berkisar antara
40-80%, sedangkan biakan berkisar antara 95%. Biakan 10-15% lebih sensitif dari sediaan
basah. Berdasarkan hal tersebut biakan masih tetap merupakan pemeriksaan yang dianjurkan
untuk menunjang diagnosis trikomoniasis.(4)
Tabel 2. Prevalensi hasil pemeriksaan laboratorium pada penderita trikomoniasis.(4)
Jenis pemeriksaan
pH > 4,5

Prevalensi (%)
66 91

Sniff test positif

75

Sediaan basah

75

Leukosit meningkat

40 80

Trichomonas dengan pergerakan khas

89 90

Fluorescent antibody

<1

Pengecatan

60

Gram

50

Acridine orange

56 70

Giemsa
Pap smear
G. Diagnosis Banding
Diagnosis banding trikomoniasis adalah kandidosis vulvovaginalis, vaginosis
bakterialis, infeksi gonokokus, infeksi genital nonspesifik (I.G.N.S).(1,2,11)
1. Kandidosis Vulvovaginalis

11 | P a g e

Disebabkan oleh Candida albicans. Keluhan utama adalah gatal di daerah


vulva. Pada keadaan yang sangat berat dapat pula timbul panas, nyeri sesudah miksi
dan dispareunia.(1) Flour albus pada kandidosis berwarna kekuningan. Tanda yang
khas adalah disertai gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna putih
kekuningan(1,11)
2. Vaginosis Bakterialis
Disebabkan oleh Gardnerella vaginalis. Wanita akan mengeluh adanya duh
tubuh dari vagina yang ringan atau sedang dan berbau tidak enak (amis), yang
dinyatakan oleh penderita sebagai satu-satunya gejala yang tidak menyenangkan. Bau
lebih menusuk setelah senggama dan mengakibatkan darah menstruasi berbau
abnormal. Iritasi daerah vagina atau sekitar vagina, sepertiga akan menyebabkan gatal
dan rasa terbakar dan seperlima timbul kemerahan dan edema pada vulva. Nyeri
abdomen, dispareunia, atau nyeri waktu kencing jarang terjadi.(1)
Pada pemeriksaan sangat khas, dengan adanya duh tubuh vagina yang
bertambah, warna abu-abu homogen, viskositas rendah atau normal, berbau dan
jarang berbusa. Duh tubuh melekat pada dinding vagina dan terlihat sebagai lapisan
tipis atau kilauan yang difus, pH sekret vagina antara 4,5-5,5. Gejala peradangan
umum tidak ada. Terdapat eritema pada vagina atau vulva atau petekie pada dinding
vagina. Pada sediaan basah sekret vagina terlihat tidak ada atau sedikit leukosit, sel
epitel banyak, dan adanya kokobasil sehingga batas sel tidak jelas, disebut clue
cells yang patognomonik.(1)
3. Infeksi Gonokokus
Sesudah lewat masa tunas 3-5 hari, penderita mengeluh nyeri dan panas pada
waktu kencing. Kemudian keluar nanah yang berwarna putih susu dari uretra dan
muara uretra membengkak, merah dan ektropion. Pada wanita portio uteri merah,
edema dengan sekret mukopurulen dan dapat timbul flour albus.(2,11)
H. Penatalaksanaan
Pengobatan

dapat

diberikan

secara

topikal

atau

sistemik. (1) Pengobatan

trikomoniasis harus diberikan kepada penderita yang menunjukkan gejala maupun yang
tidak.(4)
1. Topikal
a. Bahan cairan berupa irigasi, misalnya hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam
laktat 4%.

12 | P a g e

b. Bahan berupa supositoria, bubuk yang bersifat trikomoniasidal.


c. Jel dan krim, yang berisi zat trikomoniasidal.
2. Sistemik (oral)
Obat yang sering digunakan tergolong derivat nitromidazol seperti:(1,2,4)
a. Metronidazol : dosis tunggal 2 gram atau 3 x 500 mg/hari, selama 7 hari.
b. Nimorazol : dosis tunggal 2 gram.
c. Tinidazol : dosis tunggal 2 gram.
d. Omidazol : dosis tunggal 1,5 gram.
Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta
parasit tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.(4)
Pada waktu pengobatan perlu beberapa anjuran pada penderita:(1,11)
a. Pemeriksaan dan pengobatan terhadap pasangan seksual untuk mencegah jangan
terjadi infeksi pingpong.
b. Jangan melakukan hubungan seksual selama pengobatan dan sebelum dinyatakan
sembuh.
c. Hindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.
3. Pengobatan Pada Kehamilan
Kehamilan pada trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian
metronidazol. Sehubungan telah banyak bukti-bukti yang menunjukkan adanya kaitan
antara infeksi T. vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya, maka
metronidazol dapat diberikan dengan dosis efektif yang paling rendah pada trimester
kedua dan ketiga.(4)
4. Infeksi Pada Neonatus
Bayi

dengan

trikomoniasis

simtomatik

atau

dengan

kolonisasi T.

vaginalis melewati umur 4 bulan, harus diobati dengan metronidazol 5 mg/kgBB/oral,


3 x sehari selama 5 hari.(4)
I. Prognosis
Umumnya baik,(2) Sembilan puluh lima persen penderita yang diobati sembuh.(11)

13 | P a g e

Bacterial vaginosis
Bacterial vaginosis (BV) or less commonly vaginal bacteriosis[1] is a disease of the vagina caused
by bacteria. According to the U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), risk factors for BV
include douching and having new or multiple sex partners, although it is unclear what role sexual activity
plays in the development of BV.[2][3] BV is caused by an imbalance of naturally occurring bacterial flora and
is often confused withyeast infection (candidiasis) or infection with Trichomonas vaginalis (trichomoniasis),
which are not caused by bacteria.[4][5]

Symptoms and signs


The most common symptom of BV is an abnormal homogeneous off-white vaginal discharge (especially
after vaginal intercourse) that may be accompanied by an unpleasant (usually fishy) smell. [6] This
malodorous discharge coats the walls of the vagina, and is usually without significant irritation, pain, or
erythema (redness), although mild itching can sometimes occur. By contrast, the normal vaginal discharge
will vary in consistency and amount throughout the menstrual cycle and is at its clearest at ovulation about 2 weeks before the period starts. Some practitioners claim that BV can be asymptomatic in almost
half of affected women,[7] though others argue that this is often a misdiagnosis. [8]

Causes
A healthy vagina normally contains many microorganisms; some of the common ones are Lactobacillus
crispatus and Lactobacillus jensenii. Lactobacilli, particularly hydrogen peroxide-producing species, appear
to help prevent other vaginal microorganisms from multiplying to a level where they cause symptoms. The
microorganisms involved in BV are very diverse, but include Gardnerella
vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, and Mycoplasma. A change in normal bacterial flora including the
reduction of Lactobacilli, which may be due to the use of antibiotics or pH imbalance, allows more resistant
bacteria to gain a foothold and multiply.
One of the most direct causes of BV is douching, which alters the vaginal flora and predisposes women to
developing BV.[9][10] Douching is strongly discouraged by the U.S. Department of Health and Human
Service and various medical authorities, for this and other reasons. [9]
Although BV can be associated with sexual activity, there is no clear evidence of sexual transmission.
[11] [12]

It is possible for sexually inactive persons to get infected with bacterial vaginosis. Rather, BV is a

disordering of the chemical and biological balance of the normal flora. Recent research is exploring the link
between sexual partner treatment and eradication of recurrent cases of BV. Pregnant women and women
with sexually transmitted infections are especially at risk for getting this infection.

14 | P a g e

Bacterial vaginosis may sometimes affect women after menopause. A 2005 study by researchers at Ghent
University in Belgium showed that subclinical iron deficiency (anemia) was a strong predictor of bacterial
vaginosis in pregnant women.[13] A longitudinal study published in February 2006 in the American Journal of
Obstetrics and Gynecology showed a link between psychosocial stress and bacterial vaginosis persisted
even when other risk factors were accounted for.[14]

Diagnosis
To make a diagnosis of bacterial vaginosis, a swab from inside the vagina should be obtained. These
swabs should be tested for:

A characteristic "fishy" odor on wet mount. This test, called the whiff test, is performed by adding a
small amount of potassium hydroxide to a microscopic slide containing the vaginal discharge. A
characteristic fishy odor is considered a positive whiff test and is suggestive of bacterial vaginosis.

Loss of acidity. To control bacterial growth, the vagina is normally slightly acidic with a pH of 3.8
4.2. A swab of the discharge is put onto litmus paper to check its acidity. A pH greater than 4.5 is
considered alkaline and is suggestive of bacterial vaginosis.

The presence of clue cells on wet mount. Similar to the whiff test, the test for clue cells is
performed by placing a drop of sodium chloride solution on a slide containing vaginal discharge. If
present, clue cells can be visualized under a microscope. They are so-named because they give a
clue to the reason behind the discharge. These are epithelial cells that are coated with bacteria.

Two positive results in addition to the discharge itself are enough to diagnose BV. If there is no discharge,
then all three criteria are needed.[15][non-primary source needed] Differential diagnosis for bacterial vaginosis includes
the following:[citation needed]

Normal discharge.

Candidiasis (thrush, or a yeast infection).

Trichomoniasis, an infection caused by Trichomonas vaginalis.

In clinical practice
In clinical practice BV is diagnosed using the Amsel criteria: [15]
1. Thin, white, yellow, homogeneous discharge
2. Clue cells on microscopy

15 | P a g e

3. pH of vaginal fluid >4.5


4. Release of a fishy odor on adding alkali10% potassium hydroxide (KOH) solution.
At least three of the four criteria should be present for a confirmed diagnosis. [3]

Gram stain
An alternative is to use a Gram-stained vaginal smear, with the Hay/Ison [16] criteria or the Nugent[17] criteria.
The Hay/Ison criteria are defined as follows: [3]

Grade 1 (Normal): Lactobacillus morphotypes predominate.

Grade 2 (Intermediate): Mixed flora with some Lactobacilli present, but Gardnerella or Mobiluncus
morphotypes also present.

Grade 3 (Bacterial Vaginosis): Predominantly Gardnerella and/or Mobiluncus morphotypes. Few or


absent Lactobacilli. (Hay et al., 1994)

What this technique loses in interobserver reliability, it makes up in ease and speed of use.
The standards for research are the Nugent[17] Criteria. In this scale, a score of 0-10 is generated from
combining three other scores. This method is time consuming and requires trained staff, but it has
high interobserver reliability.[citation needed] The scores are as follows:

03 is considered negative for BV

46 is considered intermediate

7+ is considered indicative of BV.

At least 1020 high power (1000 oil immersion) fields are counted and an average determined.

Lactobacillus

Gardnerella / Bacteroides morphotypes

Curved Gram variable rods

morphotypes

average per high powered (1000 oil

average per high

average per high

immersion) field. View multiple fields.

powered (1000 oil

powered (1000 oil

immersion) field. View

immersion) field.

multiple fields (note that this

View multiple fields.

factor is less important


scores of only 02 are

16 | P a g e

possible)

Score 0 for

>30

Score 1 for
1530

Score 2 for

Score 1 for <1 (this is an


average, so results can be >0,

14

Score 0 for 0

Score 0 for 0

Score 1 for <5

Score 2 for 5+

yet <1)

Score 3 for
<1 (this is an
average, so

Score 2 for 14

Score 3 for 530

Score 4 for >30

results can be
>0, yet <1)
Score 4 for

0
A recent study [18] compared the Gram stain using the Nugent criteria and the DNA hybridization test Affirm
VPIII in diagnosing BV. The Affirm VPIII test detected Gardnerella in 107 (93.0%) of 115 vaginal specimens
positive for BV diagnosed by Gram stain. The Affirm VPIII test has a sensitivity of 87.7% and specificity of
96% and may be used for the rapid diagnosis of BV in symptomatic women.

Treatment
Antibiotics
Metronidazole or clindamycin either orally or vaginally are effective treatment.[19] However, there is a high
rate of recurrence.[11]
The usual medical regimen for treatment is the antibiotic Metronidazole (500 mg twice a day, once every 12
hours) for 7 days.[20] A one-time 2g dose is no longer recommended by the CDC because of low efficacy.
Extended release metronidazole is an alternative recommendation.
Alternatively, antibiotics may be applied topically (vaginally). [10]

17 | P a g e

In contrast to some other infectious diseases affecting the female genitals, according to some sources,
treatment of the sexual partners is not necessarily recommended.[21]

Probiotics
In 2009 one Cochrane review did not find probiotics useful in the treatment of BV[22] while another
concluded they were effective when combined with antibiotics.[19]
Other studies have found probiotics to be highly effective (8890% cure rate at 1 month) either alone or in
combination with antibiotics, either taken orally or applied topically (vaginally), and significantly superior to
antibiotics alone.[10][23][24]
Some studies have also found probiotics useful in maintenance therapy, preventing recurrence. One Italian
study found that once-weekly application of probiotics for 6 months almost completely prevented
recurrence at 6 months (96%), and was still effective at 12 months. [10][25]

Epidemiology
It is estimated that 1 in 3 women will develop the condition at some point in their lives

VAGINOSIS BAKTERIAL
Vaginosis Bakterial VB seringkali disebut sebagai vaginal bacteriosis 1 adalah
penyakit pada vagina yang disebabkan oleh bakteri. Oleh CDC-centre of disease
control tidak dimasukkan kedalam golongan IMS-Infeksi Menular Seksual 2 . VB
disebabkan oleh gangguan kesimbangan flora bakteri vagina dan seringkali
dikacaukan dengan infeksi jamur (kandidiasis) atau infeksi trikomonas 3,4
Gejala & Tanda

Gejala utama VB adalah keputihan homogen yang abnormal (terutama pasca


sanggama) dengan bau tidak sedap.5
Cairan keputihan berada di dinding vagina dan tidak disertai iritasi, nyeri atau
eritema.
Tak seperti halnya dengan keputihan vagina normal, keputihan pada VB
jumlahnya bervariasi dan umumnya menghilang sekitar 2 minggu sebelum haid.
Etiologi

18 | P a g e

Pada vagina normal, terdapat sejumlah mikroorganisme ; diantaranya


adalah Lactobacillus crispatus danLactobacillus jensenii.
Laktobasilus adalah spesies penghasil hidrogen peroksidase yang mampu
mencegah pertumbuhan mikroorganisme vagina lain. Mikroorganisme yang
terkait dengan VB sangat beragam dan diantaranya adalahGardnerella
vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, danMycoplasma
Perubahan dalam flora vagina normal antara lain adalah berkurangnya
laktobasilus akibat penggunaan antibiotika atau gangguan keseimbangan pH
sehingga terjadi pertumbuhan berlebihan dari bakteri lain.
Meskipun VB berhubungan dengan aktivitas seksual, tidak ada bukti jelas
mengenai adanya penularan seksual. Pada pasien yang tidak memiliki aktivitas
seksual aktif dapat pula terjadi VB. VB merupakan gangguan keseimbangan
biologi dan kimiawi dari flora normal vagina. Penelitian akhir meneliti hubungan
antara pengobatan pasangan seksual dan eradikasi VB berulang. Ibu hamil dan
wanita dengan IMS memiliki resiko tinggi menderita VB. Kadang-kadang VB
terjadi pada pasien pasca menopause. Anemia defisiensi zat besi merupakan
prediktor kuat adanya VB pada ibu hamil.7
Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis VB harus dilakukan hapusan vagina yang


selanjutnya diperiksa mengenai :
1. Bau khas fishy odor pada preparat basah yang disebut sebagai whiff test
yang dilakukan dengan meneteskan potassium hydroxide-KOH pada microscopic
slide yang sudah ditetesi dengan cairan keputihan.
2. Hilangnya keasaman vagina. Seperti diketahui, bahwa untuk mengendalikan
pertumbuhan bakteri, pH vagina berkisar antara 3.8 4.2. Pemeriksaan dengan
kertas lakmus yang memperlihatkan adanya pH > 5 memperlihatkan terjadinya
VB.
3. Adanya clue cells . Cara pemeriksaan adalah dengan meneteskan larutan
NaCl pada microscop slide yang telah dibubuhi dengan cairan keputihan. Clue
cell adfalah sel epitel yang dikelilingi oleh bakteria

Clue Cell

19 | P a g e

Diagnosa Banding :

Keputihan normal.

Kandidiasis (infeksi jamur).

Trikomoniasis, yang disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.


GAMBARAN KLINIK

Diagnosa VB atas dasar Kriteria Amsel:9


1.
Cairan vagina berwarna putih kekuningan, encer dan homogen
2.
Clue cells pada pemeriksaan mikroskopik
3.
pH vagina >4.5
4.
Whiff Test positif (bau amis timbul setelah pada cairan vagina diteteskan
larutan KOH - potassium hydroxide
Konfirmasi diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 4 kriteria diatas 2
Pengecatan Gram

Alternatif diagnosis adalah dengan melakukan pengecatan gram pada hapusan


vagina dengan kriteria Hay/Ison atau Kriteria Nugent. 10
Kriteria Hay/Ison : (Hay et al., 1994)

Grade 1 (normal) : predominasi dari morfotipe laktobasilus

Grade 2 (intermediate) : Flora campuran dengan sejumlah kecil


laktobasilus dan Gardnerella dan Mobiluncus

Grade 3 (vaginosis bakterial) : predominasi dari Gardnerella dan atau


morfotipe Mobiluncus. Latobasilus minimal atau tak ditemukan
Standard untuk penelitian adalah menggunakan Kriteria Nugent. 11Kriteria ini
menggunakan skoring 0 10

Skore 0 3 , diagnosis VB negatif

Skore 4 6 , intermediate

Skore > 7 , diagnosis VB positif

Penelitian terbaru12 membandingkan antara pengecatan gram dengan kriteria


Nugent dan Hibridisasi DNA Affirm VPIII dalam penegakkan diagnosa VB.
Test Affirm VPIII dapatb mendeteksi 93% sediaan vagina yang positif VB melalui
pemeriksaan pengecatan Gram.
Sensitivitas Affirm VPIII test adalah 87.7% dan spesifisitas nya 96% dan dapat
digunakan untuk penegakkan diagnosa VB secara cepat pada penderita VB.

20 | P a g e

Terapi
Antibiotika

Metronidazole atau clindamycin peroral atau lokal adalah trerapi yang


efektif13 Namun angka kekambuhan juga cukup tinggi 6
Regimen medikamentosa umum adalah Metronidazol 500 mg 2 dd 1 (setiap 12
jam) selama 7 hari14 Dosis tunggal tidak dianjurkan oleh efektivitasnya erendah.
Tidak diperlukan terapi pada pasangan seksual.
Komplikasi
Meningkatnya kepekaan terhadap IMS termasuk infeksi HIV dan komplikasi pada
ibu hamil.
Epidemiologi
Diperkirakan 1 dari 3 wanita terserang dengan VB dalam satu episode kehidupan
mereka

BAKTERIAL VAGINOSIS

Jaringan deskuamaif vagina tersusun dari sel-sel epitelial vagina yang responsif
terhadap perubahan kadar estrogen dan progesteron. Pada wanita usia reproduktif
akan terjadi predominansi sel superfisial pada stimulasi estrogen dan
predominansi sel intermediet pada stimulasi progesteron (ketika fase luteal).
Sedangkan tanpa kehadiran dua hormon tersebut, misalnya pada wanita post
menopausal yang tidak memperoleh terapi hormon, terdapat predominansi sel
parabasal.

Vagina normal mengandung beberapa mikroorganisme (rata rata 6 spesies


bakteri yang berbeda) dengan flora normal yang kebanyakan aerobik, dan yang
paling umum adalah Lactobacillus carispatus danLactobacillus
jensenii. Lactobacilli adalah spesies penghasil hidrogen peroksida, yang dapat

21 | P a g e

mencegah mikroorganisme vaginal lain untuk berkembang dan menimbulkan


penyakit.

Faktor faktor yang mempengaruhi kemampuan bakteri untuk hidup antara lain
pH dan ketersediaan glukosa untuk metabolisme bakteri. pH vagina normal < 4.5,
dimana konsidi asam ini dipertahankan oleh produksi asam laktat berdasar
mekanisme berikut :

1.

Sel epitel vagina terstimulasi estrogen dan menjadi kaya glikogen.

2.

Glikogen kemudian akan dipecah menjadi monosakarida oleh sel epitel.

3.

Monosakarida akan dikonversi menjadi asam laktat baik oleh sel epitel itu sendiri
maupun oleh lactobacilli flora normal vagina.

BAKTERIAL VAGINOSIS

Penyakit ini sebenarnya merupakan suatu keadaan dimana terjadi alterasi


(perubahan) flora normal vagina, yaitu menurunnya jumlah Lactobacillidan
pertumbuhan berlebih dari bakteri anaerob. Mikroorganisme yang terkait dengan
kejadian BV sebenarnya sangat beragam, namun yang biasa dikenal
adalah Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, danMycoplasma.

Berbeda dengan vaginitis non-spesifik yang disebabkan oleh Haemophilus


vaginalis, Corynebacterium vaginale dan Gardnerella vaginalis, serta vaginitis
anaerob yang disebabkan oleh Mobilincus, BV lebih dikarakterisasikan dengan
jumlah sekret vagina yang meningkat dibandingkan dengan inflamasi vagina.

Pada wanita normal dapat ditemukan bakteri anaerob pada < 1 % flora
normalnya, namun pada BV, konsentrasi bakteri anaerob, misalnyaGardnerella
vaginalis atau Mycoplasma hominis bisa mencapai 100 1000 x lipat lebih tinggi
dibanding biassanya.

Faktor yang mencetuskan terjadinya perubahan flora normal tersebut masih


belum diketahui, namun disinyalir bahwa alkalinisasi vagina secara berulang
(misalnya dengan penggunaan douches atau hubungan seksual yang terlalu sering)
memiliki peran. Reduksi Lactobacilli dikatakan juga terkait dengan penggunaan
antibiotik yang irasional. Apabila Lactobacillihilang, maka akan sulit untuk

22 | P a g e

mengembalikan flora vagina ke keadaan normal seperti semula, sehingga


umumnya terjadi BV berulang.

Wanita dengan BV memiliki peningkatan resiko untuk terjadinya PID (pelvic


inflammatory disease), infeksi paska operasi histerektomi, dan sitologi servikal
yang abnormal. Wanita hamil dengan BV memiliki peningkatan resiko untuk
terjadinya kejadian KPD (ketuban pecah dini), persalinan yang prematur,
korioamnionitis, dan endometritis paska operasi sesar.

1 dari 3 wanita dapat mengalami kejadian BV paling tidak sekali selama


hidupnya.

CDC menggolongkan BV ke dalam STD (sexually transmitted disease). Akan


tetapi, walaupun dikatakan terjadi peningkatan prevalensi kejadian BV pada
wanita yang aktif secara seksual dan suka berganti ganti pasangan seksual,
namun belum terdapat bukti jelas bahwa BV dapat ditransmisikan secara seksual
karena BV juga dapat terjadi pada wanita yang belum pernah berhubungan
seksual.

Gejala dan Tanda

Terdapat sekret vagina berbau seperti ikan, berwarna abu abu atau kuning dan
terutama terdeteksi setelah melakukan hubungan seksual.

Sekret vagina yang berbau tersebut secara tipis melapisi dinding vagina, dan
biasanya tanpa adanya iritasi, nyeri, maupun eritema.

Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis, ambil apusan sekret vagina (vaginal swab). Apusan
tersebut kemudian diuji untuk mencari ada tidaknya :

Bau seperti ikan tes whiff ; meneteskan KOH pada slide mikroskopik yang
sudah diapus oleh sekret vagina kemudian mengobservasi ada tidaknya bau seperti
ikan. Bila terdapat bau maka tes whiff (+).

Hilangnya asiditas (keasaman) dengan menggunakan kertas lakmus ; bila pH


sekret vagina > 4.5 maka sugestif untuk BV.

23 | P a g e

Clue cells pada pemeriksaan mikroskopik.

Pada praktik klinis, diagnosis BV dibuat berdasarkan kriteria Amsel, yaitu :

Sekret vagina yang tipis, berwarna kuning, dan homogen.

Ditemukannya clue cells dalam pemeriksaan mikroskopik.

pH sekret vagina > 4.5

Tes whiff (+)

Apabila terdapat paling sedikit 3 dari 4 kriteria tersebut maka diagnosis BV dapat
ditegakkan.
Tata Laksana
Tujuan dari tata laksana BV adalah inhibisi dari bakteri anaerob menggunakan agen
yang tidak menginhibisi Lactobacilli. Untuk itu dapat digunakan beberapa regimen :

Metronidazole oral 500 mg (2x per hari selama 7 hari)

Metronidazoleegel 0.75 % (1 aplikator ~ 5 gr secara intra vaginal 1 2x per hari


selama 5 hari)

Krim clindamycin 2 % (1 aplikator ~ 5 gr secara intra vaginal sebelum tidur


selama 7 hari)

Clindamycin oral 300 mg (2x per hari selama 7 hari)

Clindamycin ovules 100 mg (1x per hari secara intravaginal sebelum tidur selama
3 hari)

Krim bioadesif clindamycin 2 % 100mg (intra vaginal, dosis tunggal)

Banyak klinisi memilih terapi secara intravaginal untuk mencegah efek samping
sistemik. Terapi pada pasangan seksual pria tidak terbukti memiliki efek untuk
meningkatkan respon terapi sehingga tidak direkomendasikan.

24 | P a g e

CANDIDIASIS VAGINALIS
A.

Pengertian

jamur Candidasp

Kandidiasis Vaginalis adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur, yang terjadi disekitar vagina.
Umumnya menyerang orang-orang yang imunnya lemah. Kandidiasis dapat menyerang wanita
disegala usia, terutama usia pubertas. Keparahannya berbeda antara satu wanita dengan wanita
lain dan dari waktu ke waktu pada wanita yang sama.
Candidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies
candida, biasanya oleh spesies candida albicans dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku,
bronki atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau
meningitis. Nama lain dari candidiasis adalah kandidosis, dermatocandidiasis, bronchomycosis,
mycotic vulvovaginitis, muguet, dan moniliasis.
Istilah candidiasis banyak digunakan di Amerika, sedangkan di Kanada, dan negara-negara di
Eropa seperti Italia, Perancis, dan Inggris menggunakan istilah Kandidosis, konsisten dengan akhiran
osis seperti pada histoplasmosis dan lain-lain.
B.

Penyebab

Kandidiasis Vaginalis disebabkan oleh jamur candida albicans. Selain di vagina dapat menyerang
organ lain yaitu kulit, mukosa oral, bronkus, paru-paru, usus dll. Candida biasanya tidak ditularkan
melalui hubungan seksual.
Kandidiasis vagina lebih sering terjadi terutama karena meningkatnya pemakaian antibiotik,
pil KB, dan obat-obatan lainnya yang menyebabkan perubahan suasana vagina sehingga
memungkinkan pertumbuhan Candida. Kandidiasis vagina sering ditemukan pada wanita hamil atau
wanita dalam siklus menstruasi dan pada penderita kencing manis.
C. Gejala Klinis
1. Mengenai mukosa vulva (labia minora) dan vagina.
2. Bercak putih, kekuningan, heperemia, leukore seperti susu

25 | P a g e
3. pecah, dan gatal hebat.
4. Dapat mengakibatkan infeksi saluran kemih.
D. Diagnosa
Secret encer, berwarna kuning keabu-abuan, berbau amis yang melekat pada daerah vagina.
Selain itu diagnisis dapat ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroscopis menggunakan
sediaan apus dari secret yang dihasilkan vagina.
E.

Patogenesis
Infeksi Kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen maupun eksogen.

a.

Faktor endogen meliputi perubahan fisiologi, umur dan imonologi. Perubahan fisiologi
seperti kehamilan (karena perubahan pH dalam vagina): kegemukan (karena banyak keringat);
debilitas; latrogenik; endokrinopati (gangguan gula darah kulit); penyakit kronik seperti :
tuberculosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk.

Umur contohnya : orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologinya tidak
sempurna. Imunologi contohnya penyakit genetik.
b. Faktor eksogen meliputi : iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan respirasi meningkat,
kebersihan kulit.
F.

Pengobatan

1. Instatin : berupa cream, salep, emulsi.


2. Grup azol : mikonazol 2% berupa cream atau bedak, klotrimazol 1% berupa bedak, larutan dan
cream, tiokonazol, bufonazol, isokonazol, siklopiroksolamin 1% larutan, cream, antimikotin yang
laen yang berspektrum luas.
3. Untuk kandidiasis vaginalis dapat diberiakan kontrimazol 500mg pervaginam dosis tunggal, sistemik
diberikan ketokonazol 2x200mg selam 5 hari atau dengan intrakonazol 2x200mg dosis tunggal atau
dengan flukonazol 150mg dosis tunggal.
4. Intrakonazol : bila dipakai untuk kandidiasis vulvovaginalis dosis orang dewasa 2x100mg sehari,
selama 3 hari.