P. 1
Human Papilloma Virus Adalah Virus Double Stranded Dna Circular Yang Termasuk Dalam Golongae Tryyyyyyyyyy

Human Papilloma Virus Adalah Virus Double Stranded Dna Circular Yang Termasuk Dalam Golongae Tryyyyyyyyyy

|Views: 573|Likes:
Dipublikasikan oleh gyrdaarlina

More info:

Published by: gyrdaarlina on Apr 10, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2012

pdf

text

original

Human Papilloma Virus adalah virus double stranded DNAcircular yang termasuk dalam golongan Papilomaviridae.

Dengan mikroskop elektron virus HPV berbentukikosahedral dengan ukuran 55 nm, memiliki 72 kapsomer dan 2 protein kapsid yaituL1 dan L2. Virus DNA ini dapat bersifat mutagen. Infeksi virus HPV telahdibuktikan menjadi penyebab lesi pra kanker, kondiloma akuminatum,dan kanker. MeskipunHPV pada umumnya menyerang wanita tetapi virus ini juga mempunyai peranan dalamtimbulnya kanker pada anus, vulva, vagina, penis dan beberapa kanker orofaring.

Human Papilloma Virus Human Papilloma Virus adalah virus double stranded DNAcircular yang termasuk dalam golongan Papilomaviridae. Dengan mikroskop elektron virus HPV berbentukikosahedral dengan ukuran 55 nm, memiliki 72 kapsomer dan 2 protein kapsid yaituL1 dan L2. Virus DNA ini dapat bersifat mutagen. Infeksi virus HPV telahdibuktikan menjadi penyebab lesi pra kanker, kondiloma akuminatum,dan kanker. MeskipunHPV pada umumnya menyerang wanita tetapi virus ini juga mempunyai peranan dalamtimbulnya kanker pada anus, vulva, vagina, penis dan beberapa kanker orofaring. Terdapat 138 strain HPV yang sudah diidentifikasi, 30diantaranya dapat ditularkan lewat hubungan seksual. HPV ditularkan melalui kontak seksual (umur 15hingga 49 tahun), tapi tidak seorang dokterpun dapat memperkirakan kapaninfeksi itu terjadi. Kebanyakan infeksi HPV juga dapat mengalami remisi setelahbeberapa tahun. Beberapa diantaranya akan menetap tanpa atau dengan menyebabkanabnormaitas pada sel. Beberapatipe HPV bersifat virus risiko rendah karena jarang menyebabkan kanker. Sedangkantipe yang lain bersifat virus risiko tinggi. Baik tipe risiko tinggi maupuntipe risiko rendah dapat menyebabkan pertumbuhan yang abnormal pada sel tetapisecara umum hanya HPV tipe risiko tinggi yang dapat memicu kanker. Virus HPVrisiko tinggi yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual adalah tipe 16,18,31,33,35,39,45,51,52,56,58,59,68,69, dan mungkin masih terdapat beberapatipe lain. Di Indonesia tipe virus yang menyebabkan kanker adalah tipe 16,18,52dan 45. Penelitian epidemiologi tentang kanker serviks dan peyebaran jenisvirusnya masih sedikit. Tipevirus risiko tinggi biasanya menimbulkan lesi rata dan tak terlihatdibandingkan tipe risiko rendah yang menimbulan pertumbuhan seperti jenggerayam pada tipe HPV 6 dan 11 atau dikenal sebagai kondiloma akuminatum. Perludicatat mayoritas virus HPV risiko tinggi dapat mengalami remisi secaraspontan. Peremuan dan penelitian kasus kontrol dan Kohort bersama denganpemeriksaan laboratorium terhadap infeksi HPV onkogenik memperlihatkan bahwainfeksi persisten terhadap tipe HPV risiko tinggi merupakan penyebab pentingkanker serviks. Penyebab terbanyak kanker serviks adalah tipe 16 dan 18. Tipe16 memberikan kontribusi sebesar lebih dari 60% sedangkan tipe 18 sekitar 10%. Tipe45 dan 31 memberikan kontribusi 10%. Hal ini sesuai dengan yang

dipublikasikandalam Lancet Oncology bulan April 2005. Kanker serviks yang disebabkan HPVumumnya berjenis karsioma sel skuamosa. Kemungkinanseorang wanita terpapar dengan infeksi HPV selama kehidupan seksualnya mencapai70%. Sedangkan faktor risiko yang dapat mempermudah terjadi karsinoma selskuamosa adalah hubungan seksual diri, pasangan seksual yang banyak, merokok,dan pemakaian kontrasepsi oral. Penelitianyang dilakukan di laboratonium memperlihatkan HPV memiliki selubung proteinyang dikenal dengan kapsid mayor L1 dan minor L2 serta memproduksi protein yangdikenal sebagai protein E1, E2 ES, E6, dan E7. Protein E1 dan E2 berperan dalamproses replikasi. Sementara protein HPV ES mungkin berikatan dengan reseptorPDGF, E6 akan mempengaruhi protein p53, dan E7 dengan protein RB. Protein RB,dan p53 ada pada semua manusia dan berfungsi mencegah pertumbuhan sel secaraberlebihan. Adanya infeksi HPV yang tidak dapat diatasi oleh tubuh akan menjadipemicu terjadinya pertumbuhan sel abnormal. Dalam hal ini terjadi mutagenesispada sel. Peneliti menggunakan jalur ini untuk melakukan interupsi prosespertumbuhan. Adanya antigen virus seperti struktur protein kapsid L1, L2,onkoprotein E6 dan E7 menjadi salah satu dasar dibuatnya vaksin HPV. Walaupunsukar untuk didefinisikan dengan tepat adanya respon imun alami menjadi sangatpenting dan terdapatnya kelemahan pada sistem imunitas seluler berkorelasidengan peningkatan penyakit dan kanker. Vaksin Vaksin adalah zat yang terbuat dari bagian virus atau kumanyang tujuannya untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit tertentu.Isu tentang dapat dibuatnya vaksin untuk HPV sudah mulai di publikasikan pada majalahFrontiers in Bioscience di awal tahun 2003. Kebanyakanvaksin profilaktik merupakan partikel protein mirip virus (VLP) yang dibuatdari struktur protein yang dikenal sebagai L1. Penelitian klinis fase Imemperlihatkan tingkat keamanan dan respon imun yang dihasilkan cukup baik,tetapi data tentang efektivitasnya masih terbatas. Yang dimaksud denganefektivitas vaksin adalah kemampuan vaksin ini untuk mencegah kanker biladiberikan pada manusia. Percobaan tentang efektivitas vaksin sampai saat masihterus dievaluasi termasuk pem�buatan vaksin yang berasal peptida E6 dan E7,gabungan beberapa protein lain, plasmid DNA tak berkapsul, dan vaksin virusrekombinan. Penelitiandi lnggris pada tahun 2003 menyatakan rekombinan partikel protein vaksin miripvirus (VLP) HPV dapat ditoleransi dengan baik dan dapat mencegah dengansempurna (mendekati 100%) serangkaian infeksi virus HPV tipe 16. Sementara itupeneliti lain menyimpulkan seluruh vaksin yang sudah dibuat cukup aman dandapat ditoleransi baik oleh tubuh manusia. Data-data pendahuluan yang ada jugamengindikasi bahwa vaksin tersebut secara klinis sangat efektif.

Sepertisudah diketahui HPV mempunyai dua kapsid protein yaitu L1 dan L2. L1 bersifatmayor dan L2 bersifat minor. Pembuatan vaksin dengan protein L1 saja sudahmencakup keduanya sehingga dapat melawan terjadinya infeksi virus HPV secarakeseluruhan. Penelitianakhir-akhir ini memperlihatkan vaksin partikel mirip virus monovalenmemperlihatkan efektivitas dalam mencegah neoplasi intraepitelial serviks(CIN). Data ini dapat memperkirakan bahwa vaksin mempunyai potensi mengurangikanker serviks di seluruh dunia. PenelitianDiane M.Harper dkk yang dipublikasi di majalah Lancet 2004, menunjukanefektivitas penggunaan VLP HPV 16 dan 18 secanr efektif dapat melawan infeksiHPV tipe 16 dan 18.Vaksin yang dibuat juga mempunyai imunogenitas yang tinggi,toleransi yang baik dan aman. Penelitian yang dilakukan secara acak pada 1.113 wanita yangberumur antara 15 - 25 tahun di Amerika Utara dan Brazil pada mereka yangmen�dapat 3 dosis vaksin dengan formula adjuvant AS04 atau placebo, yangdiberikan pada bulan ke-0, ke-1 dan ke-6. Dan penelitian ini didapatkan efektivitas mencegah terjadinya infeksiHPV mencapai 91,6%, dan mengatasi infeksi persisten 100%. Saat ini penelitiansudah mencakup pada usia yang lebih tua yaitu 26-55 tahun dan memperlihatkantingkat keamanan yang baik dan reaksi imunogenisitas yang cukup tinggi. Skrining Meskipun vaksin pencegah kanker serviks telah ditemukantetapi itu hanya efektif pada virus tipe risiko rendah 6 dan 11 yangmenyebabkan kondiloma akuminatum dan virus tipe risiko ting�gi 16 dan 18 yangmenyebabkan kanker serviks. Beberapavaksin mungkin dapat membangkitkan reaksi imunitas untuk tipe 45 dan 31. Vaksintidak akan efektif untuk tipe virus yang lain dan juga tidak efektif bagimereka yang telah terinfeksi virus HPV tipe 6,11 dan 16,18 sehingga masihdiperlukan skrining. Melakukan skrining pada banyak orang memerlukan biaya yangmahal. Untuk meningkatkan efektivitas skrining ada 3 cara yang dianjurkanyaitu: a) Meningkatkan interval skrining pada wanita yang sudah melakukanskrining berulang dan hasilnya normal; b) Menggunakan metoda baru dalammemproses hasil sitologi seperti metoda sitologi dengan basis cair; c) Melakukantes DNA HPV tipe risiko tinggi. Konseling Sebelummemberikan vaksin perlu ditenangkan terlebih dahulu manfaat pemberian, efeksamping, dan efektivitas. Perlu diketahui vaksinasi ini hanya untuk pencegahandan bukan untuk pengobatan. Vaksinasi bila diberikan pada mereka yang sudahmendapat infeksi atau lesi prakanker hasilnya kurang efektif. Berikut adalah resume guidelines yang dapat dipakai sebagaipatokan pemberian vaksin HPV:

VaksinVPV dibuat dari kapsid protein L1 sehingga vaksin tidak menyebabkan viremia. Efeksamping yang paling sering terjadi adalah nyeri di tempat suntikan. Hal itudisebabkan oleh zat tambahan yang terdapat di dalam vaksin. Zat tambahan inidiperlukan untuk meningkatkan reaksi imunitas. HPVditularkan melalui kontak kulit yang biasa terjadi saat hubungan seksual. Vaksindapat diberikan pada kelompok umur 10 hingga 55 tahun. Vaksinasipada pria sampai saat ini masih tidak diperlukan karena tidak cost effective. Vaksinasidapat diberikan minimal oleh perawat terlatih. Pemeriksaanidentifikasi DNA (Hibrid capture) tidak diperlukan sebelum vaksinasi. Vaksindiberikan 3 dosis pada bulan 0,1 dan bulan ke6. Penelitianyang ada saat ini hingga 5,5 tahun belum diperlukan boster. Vaksinjuga dapat diberikan pada wanita dengan penyakit yang mengganggu imunitas(immunosupresi). Wanitadengan riwayat terinfeksi HPV atau lesi prakanker dapat diberikan meskipunefektivitasnya lebih rendah. Vaksinbelum direkomendasikan bagi wanita hamil

1. Kondiloma akuminata dapat dihilangkan dengan podofilin atau dikauter tetapi virus penyebab tetap hidup selamanya di dalam tubuh Anda. Kadangkala setelah pertumbuhan tersebut dihilangkan, suatu saat akan tumbuh kembali. Nyatanya banyak penderita yang tidak mengalami pertumbuhan kembali setelah jaringan tersebut diangkat dan ini tergantung pada daya tahan tubuh seseorang. 2. Belum tentu. Tetapi jika telah tumbuh kembali tanpa diobati dan Anda hamil kembali maka pertumbuhan ini akan cepat membesar akibat pengaruh hormon. 3. Hingga saat ini belum ada obat yang paling efektif dapat menyembuhkan kondiloma secara tuntas. 4. Jika dibiarkan maka pertumbuhan ini akan membesar terutama pada saat kehamilan. Pertumbuhan ini sangat rapuh dan pada saat bersalin, maka pertumbuhan ini akan patah sehingga terjadi perdarahan dan si bayi dapat terinfeksi virus HPV.

Sekitar 90% dari kondiloma acuminata berkaitan dengan HPV tipe 6 dan 11. These 2 types are the least likely to have a neoplastic potential. 2 jenis ini adalah yang paling cenderung memiliki potensi neoplastik. Risk for neoplastic conversion has been determined to be moderate (types 33, 35, 39, 40, 43, 45, 51-56, 58) or high (types 16, 18), 1 with many other isolated types. Risiko untuk neoplastik konversi telah bertekad untuk menjadi moderat (tipe 33, 35, 39, 40, 43, 45, 51-56, 58) atau tinggi (tipe 16, 18), 1 dengan banyak jenis terpencil lainnya. The picture is complicated by proven coexistence of many of these types in the same patient (10-15% of patients), the lack of adequate information on the oncogenic potential of many other types, and ongoing identification of additional HPV-related clinical pathology. Gambar rumit oleh ko-eksistensi terbukti dari banyak jenis pasien yang sama (10-15% dari pasien), kurangnya informasi yang memadai mengenai potensi onkogenik banyak jenis lain, dan terus-menerus identifikasi tambahan yang berkaitan dengan HPV patologi klinis. For example, bowenoid papulosis , seborrheic keratoses , and Buschke-Löwenstein tumors have been linked to HPV infections though they were previously a part of the differential diagnosis of condyloma acuminata. Sebagai contoh, bowenoid papulosis, seborrheic keratoses, dan tumor Buschke-Lowenstein telah dikaitkan dengan infeksi HPV meskipun mereka sebelumnya merupakan bagian dari diagnosis diferensial kondiloma acuminata. Bowenoid papulosis consists of rough papular eruptions attributed to HPV and is considered to be a carcinoma in situ. Bowenoid papulosis terdiri dari papular kasar letusan disebabkan HPV dan dianggap menjadi karsinoma in situ. The eruptions can be red, brown, or flesh colored. Letusan dapat merah, cokelat, atau daging berwarna. They may regress or become invasive. Mereka mungkin mundur atau menjadi invasif. Seborrheic keratoses previously were considered a benign skin manifestation. Keratoses Seborrheic sebelumnya dianggap manifestasi kulit jinak. HPV has been linked to rough plaques indicative of this disease. HPV telah dikaitkan dengan kasar plak menunjukkan penyakit ini. It has both an infectious and an oncogenic potential. Hal ini baik yang menular dan potensi onkogenik. Finally, Buschke-Löwenstein tumor (ie, giant condyloma) is a fungating, locally invasive, low-grade cancer attributed to HPV. Akhirnya, Buschke-Lowenstein tumor (yaitu, raksasa kondiloma) adalah fungating, lokal invasif, kanker tingkat rendah dikaitkan dengan HPV.

Pathophysiology Patofisiologi
Cells of the basal layer of the epidermis are invaded by human papillomavirus (HPV). Sel-sel dari lapisan basal epidermis diserang oleh human papillomavirus (HPV). These penetrate through skin and cause mucosal microabrasions. Tersebut menembus kulit dan menyebabkan mukosa microabrasions. A latent viral phase begins with no signs or symptoms and can last from a month to several years. Sebuah virus fase laten dimulai tanpa tanda-tanda atau gejala dan dapat berlangsung dari satu bulan untuk beberapa tahun. Following latency, production of viral DNA, capsids, and particles begins. Setelah latency, produksi DNA virus, capsids, dan partikel dimulai. Host cells become infected and develop the morphologic atypical koilocytosis of condyloma acuminata. Sel inang

terinfeksi dan mengembangkan morfologi koilocytosis atipikal dari kondiloma acuminata. The most commonly affected areas are the penis, vulva, vagina, cervix, perineum, and perianal area. Yang paling sering daerah yang terkena dampak adalah penis, vulva, vagina, leher rahim, perineum, dan daerah perianal. Uncommon mucosal lesions in the oropharynx, larynx, and trachea have been reported. Lesi mukosa jarang di oropharynx, laring, dan trakea telah dilaporkan. HPV-6 even has been reported in other uncommon areas (eg, extremities). HPV-6 bahkan telah dilaporkan di daerah umum lainnya (misalnya, kaki). Multiple simultaneous lesions are common and may involve subclinical states as welldifferentiated anatomic sites. Multiple lesi Common simultan dan bisa melibatkan negara subklinis juga anatomi yang membedakan situs. Subclinical infections have been established to carry both an infectious and oncogenic potential. Infeksi subklinis telah dibentuk untuk membawa baik yang menular dan potensi onkogenik. Consider sexual abuse as a possible underlying problem in pediatric patients; 2 however, keep in mind that infection by direct manual contact or indirectly by fomites rarely may occur. Pertimbangkan pelecehan seksual sebagai masalah mendasar mungkin pediatrik pasien; 2 Namun, perlu diingat bahwa infeksi melalui kontak manual langsung atau tidak langsung oleh fomites jarang dapat terjadi. Finally, passage through an infected vaginal canal at birth may cause respiratory lesions in infants. 2 Akhirnya, perjalanan melalui saluran vagina yang terinfeksi pada saat lahir dapat menyebabkan lesi pernafasan pada bayi. 2

Frequency Frekuensi
United States Amerika Serikat Annual incidence of condyloma acuminatum is 1%. Tahunan insiden kondiloma acuminatum adalah 1%. It is considered the most common sexually transmitted disease (STD). Hal ini dianggap sebagai yang paling umum penyakit menular seksual (PMS). Prevalence has been reported to exceed 50%. Prevalensi telah dilaporkan melebihi 50%. Highest prevalence and risk is among young adults in the third decade and in older teenagers. Prevalensi dan resiko tertinggi adalah di kalangan orang dewasa muda di dekade ketiga dan remaja yang lebih tua. A 4-fold or more increase in prevalence has been reported in the last 2 decades. A 4 kali lipat atau lebih peningkatan prevalensi telah dilaporkan dalam 2 dekade terakhir. International Internasional International prevalence has been reported variably. Prevalensi internasional telah dilaporkan bervariasi. Available data from England, Panama, Italy, the Netherlands, and other developed and underdeveloped countries report HPV infections to be at least as common as in the US. Data yang tersedia dari Inggris, Panama, Italia, Belanda, dan

negara-negara maju dan tertinggal melaporkan infeksi HPV paling sedikit yang biasa seperti di Amerika Serikat.

Mortality/Morbidity Mortalitas / Morbiditas

Mortality is secondary to malignant transformation to carcinoma in both males and females. Kematian adalah sekunder untuk transformasi ganas karsinoma pada kedua laki-laki dan perempuan. This oncogenic potential has been reported to triple the risk of genitourinary cancer among infected males. Potensi onkogenik ini telah dilaporkan ke tiga kali lipat risiko kanker Genitourinary antara laki-laki yang terinfeksi. Fortunately, this is rare with HPV types 6 and 11, which are the most commonly isolated viruses. Untungnya, ini jarang terjadi dengan HPV tipe 6 dan 11, yang merupakan virus yang paling sering terisolasi. HPV infection appears to be more common and worse in patients with various types of immunologic deficiencies. Infeksi HPV tampaknya lebih umum dan lebih buruk pada pasien dengan berbagai jenis kekebalan kekurangan. Recurrence rates, size, discomfort, and risk of oncologic progression are highest among those patients. Kekambuhan tarif, ukuran, ketidaknyamanan, dan risiko perkembangan oncologic tertinggi di antara pasien. Secondary infection is uncommon. Infeksi sekunder jarang terjadi. Latent illness often becomes active during pregnancy. Penyakit laten sering menjadi aktif selama kehamilan. Vulvar condyloma acuminata may interfere with parturition. Kondiloma vulva acuminata dapat mengganggu proses kelahiran. Trauma then may occur, producing crusting or erythema. Trauma itu mungkin terjadi, menghasilkan pengerasan kulit atau eritema. Bleeding has been reported in large lesions that can occur during pregnancy. Pendarahan dilaporkan terjadi pada lesi besar yang dapat terjadi selama kehamilan. In males, bleeding has been reported due to flat warts of the penile urethral meatus, usually associated with HPV-16. Pada laki-laki, perdarahan telah dilaporkan karena kutil datar dari meatus uretra penis, biasanya berhubungan dengan HPV-16. Lesions may lead to disfigurement of area(s) involved. Lesi dapat mengakibatkan cacat daerah (s) yang terlibat. Finally, acute urethral obstruction in women also may occur. Akhirnya, obstruksi uretra akut pada wanita juga dapat terjadi.

Sex Sex
• •

Both sexes are susceptible to infection. Kedua jenis kelamin yang rentan terhadap infeksi. Overt disease may be more common in men (reported in 75% of patients); however, infection may be more prevalent in women. Penyakit nyata mungkin lebih umum pada laki-laki (dilaporkan dalam 75% dari pasien), tetapi infeksi mungkin lebih umum pada wanita.

Age Usia

Prevalence is greatest in persons aged 17-33 years, with incidence peaking in persons aged 20-24 years. Prevalensi orang terbesar dalam usia 17-33 tahun, dengan insiden memuncak orang usia 20-24 tahun.

Clinical Klinis
History Sejarah

• •

• • •

Smoking, oral contraceptives, multiple sexual partners, and early coital age are risk factors for acquiring condyloma acuminata. Merokok, kontrasepsi oral, beberapa mitra seksual, dan awal usia coital faktor risiko untuk memperoleh kondiloma acuminata. Generally, two thirds of individuals who have sexual contact with a partner with condyloma acuminata develop lesions within 3 months. Secara umum, dua pertiga dari individu yang memiliki kontak seksual dengan pasangan dengan mengembangkan lesi kondiloma acuminata dalam waktu 3 bulan. The chief complaint usually is one of painless bumps, pruritus, or discharge. Keluhan utama biasanya adalah salah satu dari rasa sakit benjolan, pruritus, atau pelepasan. o Involvement of more than 1 area is common. Keterlibatan lebih dari 1 area umum. o History of multiple lesions, rather than 1 isolated wart, is common. Sejarah beberapa lesi, bukan dari 1 terisolasi kutil, adalah umum. Oral, laryngeal, or tracheal mucosal lesions (rare) presumably are transferred by oral-genital contact. Lisan, laringeus, atau lesi mukosa trachea (jarang) mungkin akan ditransfer oleh kontak oral-genital. History of anal intercourse in both males and females warrants a thorough search for perianal lesions. Sejarah hubungan seks anal pada laki-laki dan perempuan menjamin menyeluruh mencari lesi perianal. Rarely, urethral bleeding or urinary obstruction may be the presenting complaint when the wart involves the meatus. Jarang, uretra perdarahan atau obstruksi kemih mungkin keluhan yang diajukan ketika kutil melibatkan meatus. The patient's history may indicate presence of previous or other current STDs. Sejarah pasien mungkin menunjukkan adanya arus lain sebelumnya atau PMS. Coital bleeding may occur. Coital perdarahan dapat terjadi. Vaginal bleeding during pregnancy may be due to condyloma eruptions. Perdarahan vagina selama kehamilan mungkin disebabkan oleh letusan kondiloma. Latent illness may become active, particularly with pregnancy and immunosuppression. Penyakit laten menjadi aktif, terutama dengan kehamilan dan imunosupresi. Lesions may regress spontaneously, remain the same, or progress. Lesi mungkin mundur secara spontan, tetap sama, atau kemajuan. Pruritus may be present. Pruritus mungkin hadir. Discharge may be a complaint. Discharge mungkin keluhan.

Physical Fisik

• •

Single or multiple papular eruptions may be observed. Satu atau beberapa letusan papular dapat diamati. o Eruptions may appear pearly, filiform, fungating, cauliflower, or plaquelike. Letusan mungkin tampak seperti mutiara, filiform, fungating, kembang kol, atau plaquelike. o They can be quite smooth (particularly on penile shaft), verrucous, or lobulated. Mereka dapat menjadi sangat halus (terutama di batang penis), verrucous, atau lobulated. o Eruptions may seem harmless or may have a disturbing appearance. Letusan mungkin tampak tidak berbahaya atau mungkin memiliki penampilan yang mengganggu. Carefully search for simultaneously involved multiple sites. Hati-hati mencari beberapa situs terlibat secara simultan. Eruptions' color may be the same as the skin, or they may exhibit erythema or hyperpigmentation. Letusan "mungkin warna sama dengan kulit, atau mereka mungkin menunjukkan eritema atau hiperpigmentasi. Check for irregularity in shape, form, or color suggestive of melanoma or malignancy. Memeriksa ketidakberesan dalam bentuk, bentuk, atau warna sugestif melanoma atau keganasan. Propensity has been established for penile glans and shaft in men and for vulvovaginal and cervical areas in women. Kecenderungan telah ditetapkan untuk kelenjar dan batang penis pada laki-laki dan untuk Vulvovaginal dan daerah leher rahim pada wanita. o In contrast to early reports, presence of external condyloma acuminata in both men and women warrants a thorough search for cervical or urethral lesions. Berbeda dengan laporan awal, kehadiran acuminata kondiloma eksternal baik pada pria maupun wanita menjamin menyeluruh mencari uretra serviks atau lesi. o Such internal lesions have been found in more than one half of females with external lesions. Seperti lesi internal telah ditemukan di lebih dari satu setengah perempuan dengan lesi eksternal. o One report indicates that infected males have a 20% chance of having subclinical urethral lesions. Satu laporan menunjukkan bahwa laki-laki yang terinfeksi memiliki 20% kemungkinan memiliki uretra lesi subklinis. o More than 50% of female patients with external lesions have been found to have negative Papanicolaou (Pap) tests but tested positive for HPV infection using in situ hybridization. Lebih dari 50% dari pasien wanita dengan lesi eksternal telah ditemukan untuk memiliki Papanicolaou negatif (Pap) tes tapi dinyatakan positif infeksi HPV menggunakan hibridisasi in situ. Urethral meatus and mucosal lesions can occur. Urethral meatus dan lesi mukosa dapat terjadi. o Some are subclinical. Ada yang subklinis. o Hair or the inner aspect of uncircumcised foreskin hides some lesions. Rambut atau aspek batin disunat kulup menyembunyikan beberapa lesi.

Search for evidence of other STDs (eg, ulcerations, adenopathy, vesicles, discharge). Mencari bukti PMS lainnya (misalnya, ulcerations, adenopathy, vesikula, cairan). Look for perianal lesions, particularly in patients with history or risk of immunosuppression or anal intercourse. Cari lesi perianal, terutama pada pasien dengan sejarah atau risiko imunosupresi atau anal seks.

Causes Penyebab

Several of the epidermotropic human papillomaviruses (HPVs) cause condyloma acuminata. Epidermotropic beberapa papillomaviruses manusia (HPV) menyebabkan kondiloma acuminata. HPV types 6 and 11 most commonly are isolated, but many of the more than 60 types of HPV potentially cause condyloma. HPV tipe 6 dan 11 paling sering terisolasi, tapi banyak dari lebih dari 60 jenis HPV berpotensi menyebabkan kondiloma. Male sexual partners of women with cervical intraepithelial neoplasia often have infections with the same viral type. Mitra seksual laki-laki perempuan dengan intraepithelial neoplasia serviks sering infeksi virus dengan tipe yang sama.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->