Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Penyakit Parkinson adalah suatu kelainan degeneratif sistem saraf pusat yang
sering merusak motor penderita itu keterampilan, ucapan, dan fungsi lainnya.
Penyakit Parkinson mempengaruhi gerakan (gejala motorik). Gejala lainnya termasuk
gangguan suasana hati, perilaku, berpikir, dan sensasi (nonmotor gejala). Gejalagejala penyakit Parkinson hasil dari aktivitas sangat berkurang dari neuron
dopaminergik, yang terutama di daerah pars compacta dari nigra substantia. Ulasan
depresi estimasi kejadian di mana saja dari 20-80% dari kasus. PD tidak dianggap
sebagai penyakit yang fatal dengan sendirinya, namun berkembang seiring dengan
waktu.1
Menurut WHO (2005) Penyakit Parkinson adalah gangguan neurodegenerative
progresif kronis onset berbahaya, ditandai dengan dengan adanya didominasi motorik
simtomatologi (bradikinesia, tremor istirahat, kekakuan, dan gangguan postural). Hal
ini juga terkait dengan keragaman gejala non-motor, yang bersama-sama dengan
gejala akhir-onset bermotor (seperti ketidakstabilan postural dan jatuh, kekakuan
gaya berjalan, berbicara dan kesulitan menelan).2
Secara keseluruhan, parkinson merupakan suatu kelainan saraf yang bersifat
progresif dan dipengaruhi oleh usia pasien dan faktor yang mempengaruhi keadaan
pasien terutama mengenai penggunaan obat yang berdampak pada pembetukan
radikal bebas MAO.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Parkinson
Parkinsons disease (PD) adalah penyakit kelainan sistem gerak neurodegeneratif
yang progresif ditandai dengan hilangnya saraf nigrostriatal dopaminergic,
dengan manifestasi klinis berupa resting tremor, akinesia/bradykinesia, postural
instabilitas, rigiditas dan kesulitan dalam berjalan atau sering disebut dengan
TRAP.2
Bagian Parkinsonism yg secara patologis ditandai degenerasi ganglia basalis
terutama di substansia nigra pars compacta (SNC), disertai adanya inklusi
sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies).
2.2 Etiologi Parkinson
Idiopatik
Faktor risiko multifaktorial :
o Usia : usia meningkat, jarang < 30 th
o Rasial : kulit putih > asia & afrika
o Genetik
Lingkungan :
o Toksin : 1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6-tetrahydropyridine (MPTP), dll
o Herbisida & pestisida
o Infeksi
Cedera kranioserebral
Stress emosional
2.3 Klasifikasi Parkinson
Idiopatik (Primer) :
o PD
o Juvenile Parkinsonism
Simtomatik (Sekunder) :
o Infeksi & pasca Infeksi
o Pasca ensefalitis (ensefalitis letargika), slow virus
o Toksin : MPTP, CO, Mn, Mg, CS2, metanol, etanol, sianida
o Obat : neuroleptik, antiemetik, reserpin, tetrabenazine, alfa metil dopa,
lithium, flunarizin, sinarizin
2

o Vaskuler : multi infark serebral


o Trauma kranioserebral (pugilistic encephalopathy)
o Lain-lain : hipoparatiroid, hipotiroid, degenerasi hepatoserebral, tumor
otak, siringomielia
Parkinsonism Plus (Multiple System Degeneration)
Penyakit Heredodegeneratif
2.4 Patofisiologi Parkinson
Secara keseluruhan proses pergerakan diatur secara seimbang baik itu dari
eksitatorik dan inhibitorik. Jalur direct pallidonigral striatomedial di aktivasi oleh
glutaminergic dari cortex sensorimotorik dan oleh dopaminergic nigral (pars
compacta). Aktivasi jalur direct menghambat medial pallidum yang akan
menghambat nukleus ventrolateral dan ventroanterior di thalamus. Hasilnya
sistem

thalamocortical

akan

meningkatkan

inisiasi

dan

bergerak

dan

memfasilitasinya. Jalur indirect berada pada saraf putamen yang mengandung


gamma aminobutyric acid (GABA) dan sebagian kecil enkephalin. Bagian striatal
memiliki efek inhibitorik pada pallidum lateral yang tidak akan menghambat
nukleus subthalmus dengan melepaskan GABA sehingga meningkatkan eksitasi
pada traktus subthalmus ke medial pallidum dan substansia nigra pars reticulata.
Hasilnya inhibisi thalamus yang menyebabkan penurunan thalamocortical input
.Dinyatakan kembali, peningkatan konduksi melalui jalur tidak langsung
mengarah ke hypokinesia (dengan meningkatkan penghambatan pallidothalamic),
sedangkan peningkatan konduksi melalui hasil jalur langsung dalam hiperkinesia
(dengan mengurangi hambatan pallidothalamic). Jalur langsung dianggap oleh
Marsden dan Obeso memfasilitasi gerakan kortikal diinisiasi jalur tidak langsung
seperti menekan pola motorik yang bertentangan dan yang tidak diinginkan. Pada
penyakit Parkinson, misalnya, hilangnya masukan dopaminergik dari substansia
nigra mengurangi aktivitas dijalur langsung dan meningkatkan di jalur tidak
langsung sehingga menyebabkan meningkatnya penghambatan inti thalamic dan
mengurangi eksitasi sistem motorik kortikal.
Penyakit parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang progresif yang
disebabkan oleh banyak sebab, salah satunya MPTP (1-methyl-4-phenyl-1,2,3,6tetrahydropyridine) merupakan senyawa racun yang ada dalam tubuh manusia

terutama apabila mengonsumsi meperidine, senyawa ini akan mudah berikatan


dengan monoamine oxidase (MAO) yang merupakan radikal bebas yang merusak
saraf.
Wawasan lebih lanjut ke penyakit Parkinson telah ada dari penemuan bahwa
dapat diproduksi oleh manusia dan primata berupa toksin 1-metil-4-fenil-1,2,3,6tetrahydropyridine (MPTP). Racun ini ditemukan secara tidak sengaja pada
pecandu narkoba yang diberikan sendiri berupa analog dari meperidine. Toksin
mengikat dengan afinitas tinggi dengan monoamine oxidase (MAO), suatu enzim
yang mengubah extraneural ke metabolit-pyridinium beracun. Toksin ini terikat
dengan melanin di dopaminergik neuron nigral dalam jumlah yang cukup untuk
menghancurkan sel-sel, mungkin dengan cara mengganggu fungsi mitokondria.
Dalam monyet yang dibuat parkinsonian oleh administrasi MPTP, studi
elektrofisiologi telah ditampilkan peningkatan aktivitas dalam globus pallidus
medial dan penurunan aktivitas di globus pallidus lateral, seperti yang
diperkirakan dari model yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini terjadi karena
kehilangan diferensial aktivitas neuron dopaminergik striatal yang proyek untuk
masing-masing bagian ini pallidum tersebut. Hasil akhirnya adalah peningkatan
penghambatan neuron talamokortikal. Hal ini, bagaimanapun, sulit untuk
menjelaskan mengapa lesi pallidal medial tidak secara teratur menyebabkan
parkinson, seperti yang ditunjukkan oleh Bhatia dan Marsden. Mungkin karena
ketidakseimbangan halus antara sirkuit pallidal medial dan lateral yang ada pada
penyakit Parkinson tidak direproduksi. Kehalusan ini mungkin juga menjelaskan
mengapa luka kasar seperti infark, perdarahan, dan tumor jarang menghasilkan
sindrom parkinsonian lengkap tremor, bradikinesia, kekakuan dan tanpa
kelumpuhan atau perubahan refleks.

2.5 Diagnosis Parkinson


Manifestasi klinis parkinson adalah sebagai berikut :
Parkinsonism
Sindroma yg ditandai :
Tremor waktu istirahat
Rigiditas
Akinesia/Bradikinesia
Refleks postural menghilang
Tremor :
- Laten
- Tremor saat istirahat
- Tremor yg bertahan saat istirahat
- Tremor saat gerak, disamping tremor istirahat
Rigiditas
Akinesia/Bradikinesia :
- Kedipan mata kurang
- Wajah seperti topeng
- Hipofonia (suara kecil)
- Liur menetes
- Akathisia/takhikinesia (gerakan cepat yg tak terkontrol)
- Mikrografia : tulisan semakin mengecil
- Gait : langkah kecil-kecil
- Kegelisahan motorik (sulit duduk atau berdiri)
Refleks postural menghilang
Gambaran motorik lain :
- Distonia
- Distonia pagi hari biasanya pada ibu jari
- Hemidistonia
- Rasa kaku
- Sulit memulai gerak
- Rasa kaku saat berjalan & berputar mengikuti garis
- Rasa kaku pada berbagai kegiatan lain (bicara : palilalia & menulis)
- Suara monoton
- Oculogyric crises spasm : berupa elevasi mata atau kombinasi elevasi
mata & kepala
Kriteria diagnosis Parkinson berdasarkan kriteria HUGHES
POSSIBLE
Terdapat salah 1 dari gejala utama : TRAP
PROBABLE
Kombinasi 2 gejala utama (termasuk kegagalan refleks postural), atau
1 dari 3 gejala pertama yg tidak simetris (2 dari 4 tanda motorik)
DEFINITE

Kombinasi 3 dari 4 gejala, atau


2 gejala dgn 1 gejala lain yg tidak simetris (3 tanda kardinal)
Untuk pemeriksaan fisik yang dilakukan untuk penegakan diagnosis parkinson adalah

Tremor test
Mayerson sign
Nervus kranialis
Kesimbangan (Gait, romberg test, ataksia, pull test)
Koordinasi (disidiadokinesis, nose to finger test, heel to knee to toe, disartria,

disgrafia, rebound phenomenon)


Refleks glabellar
Passive movement (rigiditas)

Untuk perjalanan penyakit parkinson menurut kriteria Menurut Hoehn & Yahr

Stadium 1
Gejala & tanda pada 1 sisi
Terdapat gejala yg ringan
Gejala yg mengganggu tapi tidak menimbulkan kecacatan
Tremor pada 1 anggota gerak
Gejala dapat dikenali orang terdekat (teman)

Stadium 2
Gejala bilateral
Kecacatan minimal
Gait terganggu

Stadium 3
Gerak tubuh nyata melambat
Keseimbangan mulai terganggu saat berjalan/berdiri
7

Disfungsi umum sedang

Stadium 4
Gejala > berat
Berjalan hanya utk jarak tertentu
Rigiditas & bradikinesia
Tidak mampu hidup sendiri
Tremor dpt berkurang dibanding stadium sebelumnya

Stadium 5
Stadium kakhektik
Cacat total
Berdiri & berjalan (-)
Perawatan tetap

2.6 Prognosis Parkinson


Prognosis untuk penderita parkinson didapati keadaan yang buruk yang tidak
jarang berakibat kematian dan kecacatan pada pasien, dengan progresifitas berupa
kelumpuhan motorik dan kelainan sistem autonom pada pasien
2.7 Terapi
Antagonis NMDA
o Amantadin 300 mg/hari
Anti kholinergik
o THP 3-15 mg/hari
Dopaminergik
o Carbidopa + Levodopa 10/100 mg, 25/100 mg, 25/250 mg
Dopamin agonis
o Bromocriptine mesylate 5-40 mg/hari
COMT (Catechol-O-Methyl Transferase) Inhibitors
o Entacapone 200 mg/hari
8

MAO-B (Mono Amine Oxidase B) Inhibitors


o Selegiline 10 mg/hari
Antioksidan
o Vit C 500-1000 mg/hari
o Vit A 4000 IU/hari
Beta blocker
o Propranolol 10-30 mg/hari

Algoritma pemberian obat parkinson

BAB III
LAPORAN KASUS
STATUS PASIEN (Simulasi)
A. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn.X

Umur

: 62 Tahun

Alamat

: Bangkinang

Pekerjaan

: PNS

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Menikah

B. ANAMNESIS

: Alloanamnesis/autoanamnesis

I.

Keluhan Utama: Sulit berjalan

II.

Riwayat Penyakit Sekarang:


-

Pasien mengeluhkan sulit untuk berjalan dalam waktu 2 bulan terakhir


ini dan tubuh terasa kaku. Pada awalnya pasien hanya merasakan pada
kaki dan tangan terasa sulit untuk digerakkan yang makin lama makin
terasa berat. Sekarang untuk bangun dari tempat tidur pasien sudah

mengalami kesulitan.
Pasien tidak mengeluhkan adanya sakit kepala, tidak ada mual dan

muntah
Pasien mengalami kesulitan untuk BAB dan BAK, dalam seminggu
ini hanya 2 kali kekamar mandi untuk buang air.

III.

Riwayat Penyakit Dahulu:


-

Pasien juga mengeluhkan tangannya sering bergetar sendiri sudah 1


tahun terakhir, Pasien juga mengeluhkan suaranya terdengar sangat
kecil, dan sulit tidur selama 3 bulan terakhir ini. Pasien juga

10

mengatakan sulit untuk menulis sehingga mengganggu pekerjaan


pasien di kantor.
IV.

Riwayat Penyakit Keluarga:


-

V.

Ayah pernah mengalami parkinson

Riwayat Pribadi dan Sosial:


- Pekerjaan
: PNS
- Pola makan : 1 bulan terakhir pasien makannya sedikit dan tidak
teratur

C. PEMERIKSAAN FISIK
I.

Pemeriksaan Umum
Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Komposmentis

GCS

: E4M6V5

Tinggi badan

: 165

Berat badan

: 56 kg

Tanda Vital
-

Tekanan darah

: 130/80 mmHg

Irama Jantung

: 80 x/menit, reguler

Frekuensi nadi

: 80 x/menit, reguler.

Frekuensi Pernafasan : 18 x/menit

Suhu

: 36.7 oC

Rambut

: Beruban, tidak mudah dicabut

Kelenjar Getah Bening


-

Leher

: Tidak ada pembesaran

Aksila

: tidak ada pembesaran

Inguinal

: tidak ada pembesaran

Kepala
Mata

: Sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-, refleks pupil +/+

Hidung

: Sekret (-), deviasi septum (-).

11

Mulut

: Bibir kering (-).

Telinga: kelainan kongenital (-), keluar cairan dari telinga (-)


Leher

: spasme otot-otot leher (-), spasme otot bahu (-), nyeri (-)

Thoraks
a. Paru-paru
Inspeksi

: Gerakan dinding dada simetris, bentuk dada normal.

Palpasi

: Gerak dinding dada simetris

Perkusi

: Sonor pada seluruh lapang paru.

Auskultasi : vesikuler +/+, Ronkhi -/-, wheezing -/b. Jantung


Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi

:Ictus cordis teraba di linea midclavicularis

Perkusi

sinistra.

Batas jantung kanan: SIC IV linea parasternalis dekstra.

Batas jantung kiri : SIC V 1 jari lateral linea midclavicula sinistra.

Auskultasi : Bunyi jantung I & II reguler, gallop (-), Murmur (-)


Abdomen
Inspeksi

: Bentuk datar, distensi (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal.

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), tidak ada pembesaran hepar dan lien

Perkusi

: Timpani.

Ekstremitas

II.

Superior

: Akral hangat, CRT < 2 detik, edema -/-, kelemahan +/-

Inferior

: Akral hangat, CRT < 2 detik, edema -/-, kelemahan +/-

Status Neurologis
A. Tanda Rangsang Selaput Otak:
Kaku Kuduk

: Negatif

Brudzinski I

: Negatif

12

Brudzinski II

: Negatif

Kernig Sign

: Negatif

B. Tanda Peningkatan Tekanan intrakranial:


Pupil

: Isokor

Refleks cahaya

: +/+

C. Pemeriksaan Saraf Kranial:


N.I (N. Olfactorius)
Penciuman
Subyektif

Kanan
Normal

Kiri
Normal

Obyektif dengan bahan

Normal

Normal

Kanan
Normal
Normal
Normal
Normal

Kiri
normal
normal
normal
normal

N.II (N. Optikus)


Penglihatan
Tajam penglihatan
Lapang pandang
Melihat warna
Funduskopi
N.III (N. Okulomotorius)
Bola mata
Ptosis
Gerakan bulbus
Strabismus
Nistagmus
Ekso/Endophtalmus
Pupil :

Kanan
Normal
Tidak ada
Normal
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Kiri
Normal
Tidak ada
Normal
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Bentuk

Normal

Normal

Refleks cahaya

Positif

Positif

Rrefleks akomodasi
Refleks konvergensi

Normal

Normal

Normal

Normal

13

N. IV (N. Trochlearis)
Gerakan mata ke bawah

Kanan
Normal

Kiri
Normal

Sikap bulbus

Normal

Normal

Tidak ada

Tidak ada

Diplopia

N. V (N. Trigeminus)
Kanan

Kiri

Motorik :

Membuka mulut

Normal

Normal

Menggerakkan rahang

Normal

Normal

Menggigit

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Mengunyah
Sensorik :

Divisi Optalmika

Refleks kornea

Sensibilitas

Divisi Maksila

Refleks masseter

Sensibilitas

Divisi Mandibula

Sensibilitas

N. VI (N. Abduscen)
Gerakan mata lateral
Sikap bulbus
Diplopia

Kanan
Normal
Normal
Tidak ada

Kiri
Normal
Normal
Tidak ada

14

N. VII (N. Facialis)


Raut wajah
Sekresi air mata

Kanan
Simetris
Normal

Kiri
Simetris
Normal

Fisura palpebral

Normal

Normal

Menggerakkan dahi

Normal

Normal

Menutup mata

Normal

Normal

Mencibir/bersiul

Normal

Normal

Memperlihatkan gigi

Normal

Normal

Sensasi lidah 2/3 depan

Normal

Normal

Hiperakusis

Negatif

Negatif

Suara berbisik

Kanan
Normal

Kiri
Normal

Detik arloji

Normal

Normal

Rinne test

Normal

Normal

Scwabach test

Normal

Normal

Webber test :

Normal

Normal

N. VIII (N. Vestibulocochlearis)

Memanjang

Memendek
Nistagmus :

Pendular

Tidak ada

Tidak ada

Vertikal

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

tidak ada

Siklikal
Pengaruh posisi kepala
N. IX (N. Glossopharingeus)

Kanan

Kiri

15

Sensasi
belakang
Refleks
reflek

lidah

1/3

Normal

Normal

muntah/Gag

Normal

Normal

Arkus faring

Kanan
Normal

Kiri
Normal

Uvula

Normal

Normal

Menelan

Normal

Normal

Artikulasi

Tidak dinilai

Tidak dinilai

Suara

Hipofonia

Hipofonia

Nadi

80 x/menit

80 x/menit

Menoleh ke kanan

Kanan
Normal

Kiri
Normal

Menoleh ke kiri

Normal

Normal

Mengangkat bahu ke
kanan
Mengangkat bahu ke kiri

Normal

Normal

Normal

Normal

N. X (N. Vagus)

N. XI (N. Assesorius)

N. XII (N. Hipoglossus)


Kanan
Normal

Kiri
Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Fasikulasi

Normal

Normal

Atrofi

Normal

Normal

Kedudukan lidah di
dalam
Kedudukan lidah
dijulurkan
Tremor

16

D. Pemeriksaan Kesimbangan
Tandem walking
Romberg test
Ataksia
Pull test/ Retropulsion

Kurang
Kurang
Positif
Positif

E. Pemeriksaan Koordinasi
Supinasi-pronasi
Tes jari-hidung
Tes hidung-hidung
Rebound

Lambat
Lambat
Lambat

Disatria
Disgrafia
Meyerson Sign

Positif
Positif
Positif

Positif

phenomen
Tes tumit-lutut

Lambat

F. Pemeriksaan Fungsi Motorik


A. Berdiri dan Berjalan
Gerakan spontan

Tremor
Atetosis
Mioklonik
Khorea

Ekstremitas
Gerakan
Kekuatan
Trofi
Tonus

Kanan
Tidak dinilai

Kiri
Tidak dinilai

Positif
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Positif
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Superior
Kanan
Kiri
Normal
Normal

Inferior
Kanan
Kiri
Normal
Normal

5
Normotrofi
Normotonus

5
5
Normotrofi N Normotrofi
Normotonus Normotonus

G. Pemeriksaan Sensibilitas
Sensibilitas taktil

Normal

Sensibilitas nyeri

Normal

5
Normotrofi
Normotonu
s

17

Sensibilitas termis

Normal

Sensibilitas kortikal

Normal

Stereognosis

Normal

Pengenalan 2 titik

Normal

Pengenalan rabaan

Normal

H. Sistem Refleks
Refleks Fisiologis
Kornea
Berbangkis
Laring
Masseter
Biseps
Triseps
APR
KPR
Bulbokavernosus
Kremaster
Sfingter
Refleks Patologis
Lengan
Hoffman-Tromner
Tungkai
Babinski
Chaddoks
Oppenheim
Gordon
Schaeffer
Klonus kaki
3.

Fungsi Otonom
Miksi
Defekasi
Sekresi keringat

4. Fungsi Luhur
Kesadaran

Kanan
Kiri
Normal
Normal
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Normal
Normal
Normal
Normal
+2
+2
+2
+2
+2
+2
+2
+2
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Tidak dinilai
Kanan

Kiri

Negatif

Negatif

Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

: Retensi urin
: Konstipasi
: Normal

Tanda Demensia
18

Reaksi bicara
Fungsi intelek
Reaksi emosi

Nomal
Normal
Normal

Reflek glabella
Reflek snout
Reflek menghisap
Reflek memegang
Refleks palmomental

Positif
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

19

D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Laboratorium:
- Darah Rutin
Radiologi:
- PET
E. MASALAH

Tangan dan kaki terasa kaku


Tangan gemetar
Hipophonia
Jalan lambat
anoreksia
diskoordinasi

Diagnosis

Diagnosis Klinis

: Parkinson

Diagnosis Topik

: Substansia nigra pars compacta (ganglia basalis)

Diagnosis Etiologi

: insufficient dopamin

Diagnosis Sekunder : Tidak ada pengobatan

F. PEMECAHAN MASALAH
Terapi Umum
-

Senam

Terapi Khusus
-

Levodopa dan carbidopa (sinemet) 25/100 mg 3x1

Nonfarmakologi
-

Fisioterapi (stretching, strengthenin, dan keseimbangan tubuh)

20

BAB IV
PEMBAHASAN
Tn. X mengalami keluhan berupa kekakuan pada anggota gerak dan tremor
yang merupakan tanda kardinal dari penyakit parkinson. Kekakuan anggota
gerak tersebut disebabkan terjadinya inhibisi pada sistem thalamus-cortical yang
mengatur sistem ekstrapiramidal pasien. Kekakuan yang terjadi pada
parkinsonism ini merupakan akibat dari defisiensi dopamin. Selain itu pasien
juga mengalami keadaan agrafia, hiposmia dan hipotonia yang juga disebabkan
keadaan rigidita yang buruk pada pasien.
Selain masalah motorik pasien juga mengalami masalah kesulitan buang air
(BAB dan BAK) disebabkan adanya masalah pada sistem otonom berupa inhibisi
pada sistem urinari pada pasien sehingga pasien sulit untuk buang air. Biasanya
apabila sudah dilakukan pemberian obat untuk parkinson keadaan tersebut akan
membaik.
Pada pasien didapati riwayat keluarga yaitu ayah yang juga mengalami
parkinson sebelumnya sehingga bisa dikaitkan dengan teori genetik yang
berkaitan dengan kejadian parkinson pada pasien. Untuk kejadian parkinson
berdasarkan genetik berkaitan dengan gen PARK 1,2,6 dan 8, yang sampai
sekarang belum bisa dipastikan kaitannya.
Pemberian obat pada Tn. X berupa Levodopa dan carbidopa (sinemet)
25/100 mg 3x1 merupakan Dopaminergik yang berfungsi untuk meningkatkan
kadar dopamine di otak. Di sesuaikan dengan algoritma pemberian obat
parkinson.

21

BAB V
KESIMPULAN
Parkinson merupakan penyakit neurodegeneratif yang progresif yang memiliki
tanda berupa tremor, bradikinesia, rigiditas dan postural instability. Selain 4 tanda
kardinal diatas juga didapati gejala yang menyertai penderita baik itu yang motorik
dan non motorik. Untuk prognosi pada pasien dengan parkinson memiliki prognosis
yang cukup buruk yang bisa berakibat kekematian pada pasien maupun kelumpuhan
permanen.
Untuk pengobatan pasien lebih diutamakan berupa agonis dopamin, anti kolinergik
dan COMT inhibitor, yang berfungsi untuk meningkatkan dopamin pada ganglian
basalis karena rata-rata kejadian parkinson disebabkan oleh insuffisiensi dari
dopamin.

22

DAFTAR PUSTAKA
1. Sunaryati,T. Penyakit parkinson. Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya
Kusuma. Surabaya. 2008
2. Montalcini, Rita L. Neurigical disorder public health challange. USA : WHO.
2005
3. Thomas, B. Parkinson diseases. Cornell University. USA. 2007
4. Ropper, AH. Adams dan victor Princple of neurology. Edisi ke 8.
McGraw-Hill. 2005

USA.

5. Suwono, W. Diagnosis topik neurologis DUUS. Jakarta : EGC. 2010


6. Lumbantobing S.M. Neurologi Klinik, Pemeriksaan Fisik dan Mental. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Balai Penerbit UI. 2008.

23