Anda di halaman 1dari 2

PENTINGNYA PENERAPAN IKLIM MEMBACA YANG KONDUSIF DALAM

MEMBENTUK KARAKTER SISWA SMK YANG TANGGUH


Oleh : Yoza Fitriadi

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu bagian dari institusi
pendidikan tingkat menengah yang ada di Indonesia. Pendidikan kejuruan atau vokasi yang
ada pada SMK tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan manusia yang cerdas (kognitive)
dan berkarakter mulia (attitude) namun juga harus memiliki keterampilan (skill), yakni
manusia dengan karakter kerja keras, berinovasi tinggi dan memiliki daya saing yang baik.
Karakter kerja ini meliputi nilai-nilai dasar kerja yang meliputi aspek intrapersonal
dan interpersonal kerja. Kualitas intrapersonal bersumber dari lubuk hati manusia yang
dimensi-dimensinya meliputi rasa keingintahuan tinggi, disiplin, kejujuran, tanggung jawab,
kerja keras, motivasi kerja, inisiatif, berjiwa kewirausahaan dan sebagainya. Sedangkan
ketrampilan interpersonal lebih mengedepankan pada jiwa sosial seperti sikap hormat pada
orang lain, kerjasama, adaptasi, kepemimpinan, demokratis, cinta sesama dan lain-lain.
Dengan artian SMK akan berupaya untuk mempersiapkan lulusannya memiliki etos kerja,
baik sebagai pekerja (pegawai), bekerja sendiri (wirausaha), maupun sebagai orang yang
mempekerjakan orang lain nantinya.
Karakter siswa yang kuat dan tangguh ini tentunya membutuhkan berbagai upaya
untuk mengembangkannya. Lingkungan sekolah haruslah menjadi tempat yang representatif
dalam mendukung pembentukan karakter tersebut. Salah satunya adalah dengan menciptakan
iklim membaca yang kondusif di sekolah.
Buku adalah jendela dunia. Sebuah ungkapan yang mungkin tak asing lagi bagi
kita. Slogan singkat namun syarat akan makna yang menggambarkan pentingnya membaca
buku untuk dapat meningkatkan wawasan pengetahuan seseorang. Parameter kualitas sumber
daya manusia suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas pendidikannya. Pendidikan tanpa
membaca diibaratkan seperti raga tanpa roh. Oleh sebab itu, minat dan budaya baca
berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan suatu bangsa.
Namun amat disayangkan, budaya membaca para pelajar Idnonesia seakan-akan telah
memudar. Berdasarkan hasil survei lembaga PBB yang bergerak di bidang pendidikan
(UNESCO) pada tahun 2012 lalu menunjukkan bahwa Indonesia memiliki minat baca
masyarakat yang sangat rendah. Rendahnya minat baca ini dibuktikan dengan indeks
membaca masyarakat Indonesia yang hanya sekitar 0,001. Hal ini mengandung makna dari
seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi.

Sebenarnya, budaya dan minat baca siswa ini dapat dibina dan dipupuk di sekolah.
Iklim membaca yang kondusif di lingkungan sekolah dapat menjadi wahana representatif
guna mendukung upaya menumbuhkan budaya baca siswa. Tentunya hal ini diharapkan dapat
menumbuhkan karakter siswa yang baik dalam perkembangan mereka di usia produktif.
Diperlukan upaya komprehensif yang harus diterapkan untuk menumbuhkan budaya
dan minat baca siswa tersebut, diantaranya adalah dengan membiasakan para siswa
menjadikan buku sebagai teman di berbagai keadaan. Pemberian motivasi ekstra juga dapat
disampaikan dengan misalnya membuat pengumuman atau baliho di sekitar sekolah yang
memuat ajakan membaca, seperti Baca Buku, Buka Dunia, Kami Malu bila Malas
Membaca dan sejenisnya. Motivasi ini akan mengena pada diri siswa bila mereka
menemukan sosok yang bisa menjadi teladan. Kepala sekolah, guru, dan pegawai sekolah
dapat menjadi pelopor yang mengawali gerakan gemar membaca di sekolahnya.
Selain memotivasi, guru juga harus mampu mengatur dan mengelola semua kegiatan
membaca anak didik dengan mendinamiskan seluruh sumber bacaan ada. Guru juga dapat
memberikan petunjuk-petunjuk untuk menciptakan suasana psikologis yang kondusif dengan
cara memberikan tugas membaca bagi siswanya. Siswa ditugaskan untuk mencari referensi
yang dianggap relevan untuk materi pembelajaran dan praktikum yang sedang dilakukan,
membacanya kemudian membuat resensi dari hasil bacaan yang ia peroleh.
Selain itu tentu juga harus didukung dengan tersedianya fasilitas perpustakaan yang
memadai di sekolah tersebut. Apalagi bila ditunjang dengan tersedianya akses perpustakaan
digital yang akan memudahkan para siswa SMK untuk mencari bacaan yang tepat untuk
kepentingan daya jelajah berfikirnya di dunia maya. Hal ini sangat bermanfaat terutama saat
siswa tersebut sedang melaksanakan praktek kerja industri atau magang yang mengharuskan
mereka lebih mandiri dalam mengikuti proses pembelajaran di dunia indsutri atau usaha.
Iklim membaca yang kondusif di sekolah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan
budaya baca disertai dengan minat baca siswa. Sehingga diharapkan akan menjadi modal
penting dalam menghasilkan siswa SMK yang berkarakter tangguh dan kuat untuk
mewujudkan insan Indonesia yang cerdas dan kompetetitif di masa yang akan datang.

Biodata Singkat:
Yoza Fitriadi. Lahir di kota Curup, 26 April 1990. Pernah menamatkan bangku perkuliahan
di Pendidikan Kimia Universitas Bengkulu tahun 2011. Saat ini bekerja sebagai guru di salah
satu SMK di kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Untuk kepentingan silaturahmi,
dapat dihubungi di 085268182541, facebook Yoza Fitriadi atau email muhzafhie@gmail.com