Anda di halaman 1dari 20

GENERAL BUSINESS ENVIRONMENT

PENGARUH LINGKUNGAN EKSTERNAL


TERHADAP PT ASAHIMAS FLAT GLASS TBK
(Dosen Pengampu: Supriyadi, Dr., M.Sc.)

Disusun oleh:
Nurul Wulandari
14/372653/PEK/19512

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ABSTRAK

Kinerja suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh lingkungan internal dan


eksternalnya. Dalam proses menjaga stabilititas perusahaan dari pengaruh
lingkungan yang dinamis, maka perusahaan harus mengetahui dan menganalisa
lingkungan internal maupun eksternalnya tersebut. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai analisis lingkungan eksternal yang mampengaruhi PT
Asahimas Flat Glass Tbk.
PT. Asahimas Flat Glass adalah salah satu perusahaan pabrikan kaca yang
bermain di bisnis global, mereka mengembangkan usaha di berbagai bidang yang
berhubungan dengan kaca. Dan pangsa pasar mereka mencakup Asia, Eropa serta
Amerika. PT. Asahimas saat ini mempunyai tiga pabrik yang berlokasi di Jakarta,
Sidoarjo, dan Cikampek.
Analisis faktor lingkungan eksternal perlu dilakukan oleh perusahaan agar
dapat mempertahankan keberadaannya. Lingkungan eksternal merupakan
lingkungan yang dinamis, sehingga perusahaan dituntut cepat dalam menanggapi
perubahan yang terjadi. Makalah ini menggunakan data sekunder dalam
menganalisa faktor-faktor lingkungan eksternal yang berdampak langsung
terhadap operasional perusahaan.

Kata Kunci: PT Asahimas Flat Glass Tbk, faktor lingkungan eksternal.

I.

Pendahuluan

Keberadaan kaca sebagai bahan bangunan telah dikenal dan digunakan sejak
dibutuhkannya bidang transparan yang mampu menyatukan ruang luar dengan
ruang dalam serta memasukkan unsur pencahayaan alami namun tetap menjaga
kondisi ruang dalam dari pengaruh ruang luar, seperti kanca jendela dan kaca
mobil.
PT Asahimas Flat Glass Tbk. sebagai perintis industri kaca di Indonesia
sejak 1973, telah ikut serta aktif dalam memenuhi kebutuhan di atas sesuai dengan
laju pembangunan di Indonesia. Asal mula berdirinya PT Asahimas Flat Glass
Tbk (AMFG) dalam rangka penanaman modal asing yang dibangun pada 1967.

II.

Profil Perusahaan

Asahi Glass Co. Ltd, produsen kaca terkemuka di dunia didirikan oleh Mr.
Iwasaki Toshiya yang pada akhirnya memutuskan untuk mengambil tantangan
produksi kaca datar domestik di awal 1900.
Setelah Asahi Glass Co. Ltd berhasil mendirikan pabrik di Thailand, Asahi
Glass Co. Ltd mendirikan Asahimas Flat Glass, perusahaan Penanaman Modal
Asing (PMA) bersama dengan PT. Rodamas, yang didirikan oleh pedagang Mr.
Tang Siong Kie. PT Rodamas merupakan komunitas domestik terkemuka
kelompok usaha swasta yang memiliki minat pada produk industri dan konsumen.
Ide untuk menggabungkan keahlian teknis dengan teknologi antara Rodamas dan
Asahi Glass akhirnya menghasilkan pemahaman kokoh terhadap pasar lokal baik
dari segi strategis maupun kemitraan yang membuat Asahimas menjadi pelopor
kaca di negeri ini.
Asahimas memulai produksi manufaktur kaca pada bulan April 1973, dari
kaca bening sederhana yang diproduksi menggunakan Proses Foucault tradisional.
Selanjutnya, lini produksi dengan cepat didiversifikasi untuk memasukkan
produk-produk inovatif seperti kaca khusus, kaca pengaman, kaca reflektif dan
cermin. Pada tahun 1975, perusahaan pertama kali membangun Pabrik Kaca yang
memproduksi barang komersial dan terjamin keamanannya, serta menggunakan
Proses Tempering pada tahun 1976. Pada tahun yang sama, Asahimas juga
membangun tungku kedua untuk kaca lembaran di Jakarta dan memulai produksi

komersial pada tahun 1977. Pada tahun 1981, Asahimas memperkenalkan


teknologi baru di Float Glass, tungku ketiganya di Jakarta, merupakan teknologi
Float pertama Perusahaan. Sementara itu, Asahimas menutup tunggu keduanya
yang menggunakan Proses Foucault pada tahun 1983. Pada tahun 1985 Asahimas
juga mulai pembangunan Tungku keempat (Float line kedua) di pabrik Surabaya,
yang kemudian memulai produksi komersial pada tahun 1987. Perusahaan
kemudian membangun tungku kelima (Float Line ketiga) dan tungku keenam
(Float line keempat) pada tahun 1990 dan 1996, yang mulai beroperasi secara
komersial pada tahun 1993 dan 1997. Tungku-tungku resmi berlokasi di Jakarta,
sedangkan yang terakhir berada di Surabaya.
1985 merupakan tahun yang penting dalam pembangunan produksi kaca
pengaman melalui teknologi laminating kaca pengaman baru. Sebagai tindak
lanjut dari teknologi baru ini, Asahimas memulai konstruksi saluran produksi
laminating kaca baru pada tahun 1994, bersamaan dengan proses penutupan
tungku pertama yang masih menggunakan Proses Foucault. Selama tahun 1997,
Asahimas mulai fase pertama dalam perkembangan pabrik kaca pengaman di
Bukit Indah Industrial Park, Cikampek, Jawa Barat, yang kemudian memulai
produksi komersial pada tahun 1999.
Asahimas mempunyai kapasitas produksi terpasang sebesar 570.000 ton
yang secara signifikan untuk kaca lembaran, 4.500.000 meter persegi untuk kaca
pengaman dan 2.400.000 meter persegi untuk cermin. Kapasitas tersebut
menunjukkan eksistensi Asahimas sebagai produsen kaca terbesar di Indonesia
dan di Asia Tenggara.

III.

Pembahasan

Dalam menjalankan operasinya, terdapat 13 faktor eksternal yang mempengaruhi


kinerja perusahaan antara lain Economic Development, Regional Economy,
Monetary & Fiscal Policies, Industry and Sectoral Policies, Domestic Politics
Environment,

Governmental

Environment,

Demographical

Environment,

Information Technology, Processing Technology, Social Environment, Cultural


Environment, dan Natural Environment.

Dari ke-13 faktor eksternal tersebut, terdapat 4 faktor yang berpengaruh


signifikan terhadap kinerja PT Asahimas Flat Glass Tbk, yaitu Economic
Development, Regional Economy, Governmental Environment, dan Processing
Technology. Pertama, Economic Development menandakan jika pertumbuhan
ekonomi suatu negara meningkat, maka konsumsi masyarakat akan kaca pun akan
meningkat karena banyak permintaan akan perumahan, gedung, mobil, dan
sebagainya. Kedua, secara tidak langsung Economic Development berpengaruh
terhadap Regional Economy, mempengaruhi upah tenaga kerja, semakin tinggi
perekonomian suatu daerah, semakin besar upahnya. Ketiga, Governmental
Environment terkait harga energi yaitu Natural Gas dan Listrik. Terakhir,
Processing Technology PT Asahimas Flat Glass itu sendiri, perusahaan perlu
melakukan improvement dalam proses produksi agar pemakaian energi seminim
mungkin dengan kualitas sebaik mungkin serta perlu menghasilkan produk baru
yang kompetitif agar tidak bisa disusul pesaing.

III.1. Economic Development


Indonesia mempunyai visi menjadi negara maju dan sejahtera dengan indikator
PDB sekitar USD 4,3 Triliun dan menjadi negara dengan PDB terbesar ke-9 di
dunia. Untuk mewujudkan visi tersebut maka pada tanggal 20 Mei 2011
diterbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2011 tentang
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)
2011-2025. MP3EI merupakan program pemerintah untuk mempercepat
pertumbuhan ekonomi wilayah Indonesia yang dilakukan berdasarkan potensi dan
keunggulan masing-masing wilayah yang tersebar di seluruh Indonesia.
Untuk mencapai visi 2015, maka tema pembangunan masing-masing
koridor ekonomi dalam percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi adalah
sebagai berikut:
1. Koridor Ekonomi Sumatera memiliki tema pembangunan sebagai Sentra
Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional;
2. Koridor Ekonomi Jawa memiliki tema pembangunan sebagai Pendorong
Industri dan Jasa Nasional;

3. Koridor Ekonomi Kalimantan memiliki tema pembangunan sebagai Pusat


Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang & Lumbung Energi Nasional;
4. Koridor Ekonomi Sulawesi memiliki tema pembangunan sebagai Pusat
Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan
Pertambangan Nasional;
5. Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara memiliki tema pembangunan sebagai
Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional;
6. Koridor Ekonomi Papua-Kepulauan Maluku memiliki tema pembangunan
sebagai Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi, dan Pertambangan
Nasional.
Dengan diterapkannya koridor ekonomi yang tertuang di dalam MP3EI
ini, secara keseluruhan, PDB Indonesia akan bertumbuh lebih cepat dan lebih
luas, baik untuk daerah di dalam koridor, maupun untuk daerah di luar koridor.
Human Development Index (HDI) merupakan indikator yang menunjukkan
seberapa baik pembangunan manusia di suatu negara. Produk pembangunan yang
ingin dicapai dengan HDI adalah:
1. Health and longevity, sebagai pengukur kesehatan dan nutrisi. Umur panjang
diukur dengan rata-rata harapan hidup (dalam tahun) dari tingkat kelahiran,
dihitung dengan mengasumsikan bahwa seorang bayi lahir dalam satu tahun
tertentu akan mengalami tingkat kematian ketika dari tiap kelompok umur.
2. Education, pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jumlah
orang dewasa yang dapat membaca dan rata-rata tahun lama sekolah.
3. Living standard (dipengaruhi oleh GDP per kapita), aspek ini jelas mengukur
tentang taraf ekonomi masyarakat.
Sehingga HDI bisa menjadi indikator suatu negara masuk dalam golongan negara
maju, berkembang, atau miskin. Kondisi inilah yang dilihat oleh para investor
dalam mempertimbangkan penanaman modalnya, terutama investor asing.
Berdasarkan Human Development Report 2013 oleh United Nations Development
Programme (UNDP) menunjukkan bahwa Indonesia memiliki nilai HDI sebesar
0,684. Nilai ini membuat Indonesia berada pada posisi 108 dari 187 negara di
dunia dengan kategori medium human development. Di bawah ini dapat dilihat
kecenderungan HDI Indonesia antara tahun 1980 hingga 2013.

Tabel 1. Kecenderungan HDI Indonesia 1980 2013

Sumber: UNDP tahun 2013


HDI Indonesia mengalami peningkatan sebesar 45,3% dari 0,471 pada
tahun 1980 menjadi 0,684 tahun 2013 atau dengan rata-rata peningkatan 1,14%
tiap tahunnya. Perkembangan HDI dari tahun ke tahun ini menunjukkan
kecenderungan yang positif. Kondisi ini menunjukkan kesejahteraan masyarakat
Indonesia yang semakin baik. Daya beli masyarakat pun semakin tinggi sehingga
membuat industri tumbuh pesat dan hal ini menjadi pertimbangan para investor
untuk menanamkan modal.
Life expectancy at birth menunjukkan pergerakan yang positif. Hal ini
merupakan indikator lamanya hidup dan merupakan indikator kesehatan.
Meningkatnya indikator ini menandakan perbaikan kualitas kesehatan penduduk
Indonesia dan kesejahteraannya. Masyarakat mulai sadar akan hidup sehat,
menjaga lingkungan tempat tinggalnya, serta mudahnya kases ke layanan
kesehatan.
Indikator rata-rata lama sekolah menggambarkan rata-rata jumlah tahun
yang dijalani oleh penduduk usia 15 tahun ke atas untuk menempuh semua jenis
pendidikan formal. Dari tabel di atas terlihat peningkatan. Namun masih banyak
tantangan yang dihadapi oleh Indonesia di bidang pendidikan yakni masih
terdapat anak-anak yang putus sekolah, minimnya jumlah perguruan tinggi, dan
masih banyaknya fasilitas gedung sekolah yang rusak. Hal ini perlu mendapat
perhatian lebih dari pemerintah agar peningkatan angka tersebut diiringi dengan
peningkatan kualitas.
Kemudian dari tabel di atas, GNI per kapita Indonesia pun meningkat dari
tahun 1980 hingga 2013. Hal ini menunjukkan adanya perbaikan taraf hidup
masyarakat Indonesia. Namun, hal ini pun belum merata di seluruh wilayah
Indonesia, terkadang masih terfokus di satu wilayah seperti Jawa. MP3EI dapat
5

membantu pemerintah meratakan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah


Indonesia dengan kelebihan masing-masing wilayah.
Penggunaan HDI sebagai salah satu indikator pembangunan/pertumbuhan
ekonomi mempunyai kelebihan yaitu HDI dapat dapat menunjukkan prestasi suatu
Negara dalam meningkatkan kapabilitas manusianya dalam bentuk rangking,
sehingga dapat dibandingkan antara negara satu dengan negara yang lain. Namun
HDI ini pun mempunyai kelemahan karena index ini terdiri dari 3 komponen
sebagai ukuran yakni tingkat harapan hidup, pengetahuan, dan real GDP sehingga
index ini tidak dapat menunjukkan korelasi antara komponen satu dengan yang
lain.
Kecenderungan

HDI

Indonesia

yang

menunjukkan

tren

positif

memperlihatkan perekonomian Indonesia yang sedang berkembang dengan baik.


Hal ini ditandai dengan daya beli masyarakat yang semakin tinggi sehingga
kegiatan industri tumbuh untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kondisi ini
perlu direspon oleh industri kaca seperti Asahimas.

III.2. Regional Economy


Prospek usaha di bidang kaca lembaran dan kaca otomotif akan terus tumbuh.
Pertumbuhan tersebut tergantung pada kebijakan pemerintah dan kebijakan
ekonomi nasional, seperti kebijakan harga energi (gas dan listrik), kebijakan suku
bunga dari Bank Indonesia yang akan berpengaruh pada pembiayaan KPR dan
kredit kendaraan bermotor. Pertumbuhan sektor properti diharapkan terus
meningkat seiring dengan masih tumbuhnya permintaan atas perumahan, hunian
vertikal dan perkantoran. Sedangkan untuk prospek segmen kaca otomotif,
permintaan akan tetap tumbuh. Peluncuran beberapa jenis mobil baru diharapkan
akan memberikan kontribusi positif pada permintaan kaca otomotif.
PT Asahimas Flat Glass memiliki 3 pabrik di Indonesia, yaitu di Jakarta,
Sidoarjo, dan Cikampek. Pemilihan lokasi pabrik ini disebabkan oleh beberapa
hal, antara lain pendapatan domestik regional bruto (PDRB), pembangunan
Rumah Siap Huni (RSH), dan perkembangan jumlah kendaraan bermotor di
Indonesia.

Tabel 1. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) DKI Jakarta, Jawa Barat,
dan Jawa Timur (Miliar Rupiah), 2010-2013
Provinsi

2010

2011

2012

2013

31. DKI Jakarta

861992.09

982533.60

1103692.66

1255925.78

32. Jawa Barat

771593.86

862234.65

949761.26

1070177.14

33. Jawa Tengah

444666.01

498763.82

556483.73

623749.62

34. DI Yogyakarta

45625.59

51785.15

57031.75

63690.32

778564.24

884502.65

1001200.74

1136326.87

35. Jawa Timur

Sumber: bps.go.id

PDRB pada ketiga lokasi pabrik mengalami peningkatan dari tahun ke


tahun. Hal ini mencerminkan kemampuan produksi dan tingkat pendapatan
masyarakat ini. Secara teori apabila terjadi kenaikan pendapatan idividu maka
akan

mendorong

kenaikan

konsumsi

dari

individu

tersebut

sehingga

bertambahnya pembayaran pajak yang merupakan salah satu sumber penerimaan


pendapatan asli daerah. Sehingga secara signifikan peningkatan PDRB
menyebabkan kenaikan pendapatan asli suatu daerah. Hal ini menentukan arah
kebijakan

pembangunan

daerah

sehingga

Pemerintah

Daerah

selalu

memperhitungkan sektor-sektor potensial yang mampu mendorong produktivitas


masyarakat dalam meningkatkan pendapatan per kapita penduduk.
Tabel 2. Rencana dan Realisasi Pembangunan Rumah Siap Huni (RSH) oleh
Perumnas (unit), 2012
2012
Provinsi

Rencana

Realisasi

RSS +

RS>27/

RSH

Apartemen

Jumlah

RSS +

RS>27/

RSH

Apartemen

Jumlah

DKI Jakarta

1 641

1 641

1 044

1 044

Jawa Barat

1 063

832

1 895

299

762

1 061

32

32

32

32

Jawa Tengah

596

514

1 110

442

450

892

DI Yogyakarta

140

140

163

163

Jawa Timur

433

1 494

1 927

465

1 325

1 790

5 652

7 636

13 288

3 969

6 586

10 555

Banten

Indonesia

Sumber: Perum Perumnas

Pada tahun 2012, hamper 37% pembangunan rumah siap huni di Indonesia
terjadi di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Hal ini menunjukkan adanya
potensi bagi industri kaca, dalam hal ini Asahimas, untuk mendukung
pembangunan tersebut. Sejalan dengan didirikannya PT Asahimas di DKI Jakarta,
Jawa Barat, dan Jawa Timur, tentu akan mempermudah penyaluran kebutuhan
kaca untuk pembangunan rumah siap huni pada tahun-tahun yang akan datang,
yang tentunya akan lebih banyak pembangunannya.
Tabel 3. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor di Indonesia, 2007 2012
Tahun

Mobil
Penumpang

Bis

Truk

Sepeda Motor

Jumlah

2007

6877229

1736087

4234236

41955128

54802680

2008

7489852

2059187

4452343

47683681

61685063

2009

7910407

2160973

4452343

52767093

67336644

2010

8891041

2250109

4687789

61078188

76907127

2011

9548866

2254406

4958738

68839341

85601351

2012

10432259

2273821

5286061

76381183

94373324

Sumber : Kantor Kepolisian Republik Indonesia

Peningkatan jumlah produksi kendaraan bermotor dari tahun 2007 hingga


tahun 2012, terutama untuk produksi mobil penumpang, bis, dan truk, membuka
peluang usaha bagi Asahimas yang juga merupakan produsen kaca otomotif.
Dipercaya jumlah produksi ini akan terus meningkat. Lagipula pemilihan lokasi di
daerah Cikampek ini dikarenakan berdekatan dengan lokasi pabrik kaca otomotif
yang dimiliki Perseroan saat ini (anak perusahaan) dan produsen otomotif di
Cikampek, sehingga dapat memperkuat penjualan kaca otomotif.
PDRB, pembangunan rumah siap huni, dan perkembangan jumlah
kendaraan bermotor berdampak positif terhadap kegiatan operasional pabrik
Asahimas yang tersebar di 3 daerah Indonesia. Tentu saja pemilihan lokasi ini
memberikan keuntungan tidak hanya pada Asahimas namun juga untuk
peningkatan PDRB, pemenuhan kebutuhan akan tempat tinggal serta kendaraan
bermotor bagi masyarakat DKI Jakarta, Cikampek (Jawa Barat), dan Sidoarjo
(Jawa Timur) khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya.

III.3. Governmental Environment


Pemerintah merupakan regulator dan provider dalam suatu lingkungan bisnis.
Pemerintah dikatakan sebagai regulator karena mengatur 4 aspek dalam bisnis,
8

yaitu menjaga kompetisi pasar agar tetap sehat, melindungi perjanjian atau
kesepakatan bisnis, melindungi HAKI, serta mengatur proses produksi.
Sedangkan yang dimaksud pemerintah sebagai provider di sini pemerintah
memberikan pelayanan-pelayanan kepada para industri dalam menjalankan
kegiatannya untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.
A. Government as Regulator
Pemerintah menerapkan beberapa aturan untuk industri kaca seperti PT Asahimas
Flat Glass, Tbk. Beberapa aturan tersebut antara lain:
1. Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan Oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT
Perusahaan Listrik Negara
Aturan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8
Tahun 2011 dalam rangka mempertahankan kelangsungan pengusahaan
penyediaan tenaga listrik dan peningkatan mutu pelayanan kepada konsumen,
perlu dilakukan penyesuaian tarif tenaga listrik yang disediakan oleh
Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara.
2. Harga Gas Bumi (Natural Gas)
Harga bahan bakar minyak dan gas bumi diatur dan/atau ditetapkan oleh
Pemerintah. Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 30 Tahun 2009 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor
36 Tahun 2004 Tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi.
3. Persaingan usaha yang sehat dan larangan praktek monopoli
Larangan praktek monopoli ini terdapat pada Undang-undang No. 5 Tahun
1999 yang bertujuan untuk memelihara pasar kompetitif dari pengaruh
kesepakatan

dan

konspirasi

yang

cendrung

mengurangi

dan

atau

menghilangkan persaingan.
PT Asahimas mempunyai kebijakan untuk mematuhi undang-undang
Anti Monopoli yag berlaku dan untuk menghindari persaingan tidak sehat.
Semua transaksi yang dilakukan oleh perusahaan baik itu oleh setiap
komisaris, direktur maupun karyawan harus berdasarkan prinsip persaingan
secara sehat.

4. Lingkungan
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, mencakup aturan-aturan atau batasan untuk meminimalisir
kerusakan lingkungan akibat limbah industri.
Dalam

semua

kegiatan

perusahaan,

termasuk

pengembangan

teknologi, perencanaan, desain, produksi, penjualan dan penanganan produk,


perusahaan berupaya keras untuk melestarikan lingkungan dan melanjutkan
praktek bisnis yang berwawasan lingkungan. Perusahaan mempunyai
kewajiban secara terus menerus untuk menilai dan meningkatkan proses yang
sudah dijalankan yaitu dengan meminimalkan terciptanya limbah dan polusi
yang dihasilkan oleh kegiatan operasional pabrik. Serta mendorong rekan
bisnis untuk melakukan hal yang sama. Selain itu, perusahaan juga
memfokuskan pada upaya pengembangan produk yang bermanfaat.
5. Menghormati Hak Asasi Manusia (HAM)
Hak asasi manusia setiap Warga Negara Indonesia dilindungi oleh UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 dengan salah satu pertimbangan bahwa hak
asasi manusia merupakan hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri
manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi,
dihormati, dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas
oleh siapapun.
Kesadaran Asahimas akan pentingnya menghormati hak asasi para
manusia tertuang dalam peraturan yang berlaku di dalam perusahaan.
Perusahaan menghormati dan menghargai keragaman manusia, tidak
menoleransi kekerasan fisik atau pelecehan dalam bentuk apapun, tidak
menggunakan pekerja anak-anak atau pekerja paksa, serta menjaga informasi
pribadi semua karyawan yang yang bersifat rahasia. Peraturan ini pun
mewajibkan karyawan, direktur, bahkan komisaris untuk menaatinya.

B. Government as Provider
Kewajiban Pemerintah adalah memberikan pelayanan publik yang menjadi hak
setiap warga negara ataupun memberikan pelayanan kepada warga negara yang

10

memenuhi kewajibannya terhadap negara. Bentuk pelayanan publik yang


berkaitan dengan kegiatan organisasi atau perusahaan antara lain:
1. Pelayanan bantuan administratif
Pelayanan ini berupa pemberian izin atau legalitas, pemberian rekomendasi,
serta fasilitas tertentu.
2. Pelayanan bantuan operasional
Membantu operasional suatu perusahaan misal pengujian kelayakan teknis
kendaraan bermotor yang akan digunakan perusahaan sebagai alat distribusi
serta pelayanan dalam hal teknologi dan jasa.
3. Pelayanan bantuan manajemen
Misal, pelayanan bantuan sumber daya manusia berupa proses seleksi
pengadaan tenaga yang tepat kualifikasi. Pelayanan bantuan manajemen
keuangan dengan ahli perencanaan anggaran, akuntansi atau auditor.

III.4. Processing Technology


Teknologi yang digunakan PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG Tbk) dalam
memproduksi lembaran kaca (sheet glass), kaca tempered, modular assembly
window dan kaca laminated adalah teknologi float process dengan lisensi dari
Asahi Glass Co Ltd., Jepang. Disamping menggunakan lisensi dari Jepang, PT
AMFG juga mengadakan kerjasama dengan Glaverbel Societe Anonyme (S.A.)
Belgia untuk mendapatkan lisensi memproduksi dan menjual produk cermin yang
disebut Mirror New Generation (MNG). Perseroan pun memiliki perjanjian
lisensi dengan AGC Flat Glass Europe S.A., Belgia untuk memproduksi dan
menjual produk-produk CVD Coated Glass (CVD CGP).
Konsumen terbesar dari lembaran kaca ini adalah industri jasa konstruksi.
PT Asahimas Flat Glass Tbk merupakan perusahaan pertama di Indonesia yang
memakai teknologi float process dalam memproduksi lembaran kaca. Namun saat
ini seluruh produsen lembaran kaca di Indonesia sudah memakai teknologi ini.
Dengan teknologi ini, permukaan kaca dapat dibuat sangat rata, sejajar dan bebas
distorsi, baik untuk bayangan langsung maupun pantulan. Selain itu juga
menjamin dihasilkannya lembaran kaca yang terang maupun jernih dalam
berbagai tebal dan luasan.

11

Bahan baku seperti pasir kuarsa, soda abu, dolomite, dan lainnya
dimasukkan ke dalam tungku (furnace) dan dibakar dengan menggunakan gas
alam sampai melebur menjadi cairan kaca (molten glass). Kemudian melewati
proses untuk penghilangan gelembung yang dapat menimbulkan defect (cacat
kaca). Molten glass yang bebas gelembung selanjutnya siap untuk menuju bagian
pembentukan yang dinamakan metal bath.
Metal bath berisi cairan timah yang mempunyai berat jenis lebih tinggi
daripada molten glass, sehingga molten glass tersebut tetap mengapung dan
menyebar secara datar dan rata di atas permukaan cairan logam tersebut.
Pembentukan lembaran kaca yang sempurna yaitu datar pada kedua sisi
permukaannya. Lebih jelasnya proses produksi lembaran kaca dapat dilihat pada
bagan di bawah ini:
Raw Materials Preparation

Weighing & Mixing of Raw


Materials
Melting (Furnace)
Glass Forming (Metal Bath)
Glass Annealing (Lehr)
Glass Cutting & Packaging
Quality Conrol & Inspection
Gambar 1. Glass Flow Process
Dari bagan di atas, dapat dijelaskan tahap-tahap proses produksi lembaran
kaca:
1. Weighing & Mixing Raw Materials (Batch Process)
Batch process adalah proses pembuatan adonan kaca atau batch sesuai dengan
order mixing yang diberikan. Bahan baku ditimbang dengan komposisi
tertentu yaitu pasir kuarsa (59%), soda abu (18%), dolomit (19%), dan bahan
pendukung lainnya (3,80%) dan dimasukkan ke dalam pengaduk (mixer).
Dalam pengaduk, bahan baku diberi zat pewarna sesuai dengan warna yang

12

dikehendaki untuk kaca jenis tertentu. Perencanaan komposisi harus tepat agar
mendapatkan hasil kaca yang baik, maka perlu dilakukan pengawasan
(control) yang baik pula.
2. Melting
Pada proses ini, semua raw material batch (setelah diaduk) bersama cullet
berubah bentuk menjadi leburan kaca (molten glass) dan menyatu bersamasama. Molten glass inilah yang menjadi mother glass atau kaca induk yang
dapat dibentuk ketebalan dan lebarnya sesuai dengan keinginan kita. Proses ini
terjadi di tungku pembakaran (furnace). Jenis tungku di dunia ini bermacammacam, dan di Asahimas, baik Jakarta maupun Sidoarjo, semuanya memakai
jenis tungku Flat Bottom Furnace, dengan dasar tungku yang rata/flat.
3. Glass Forming
Cairan kaca dituang ke permukaan cairan timah yang rata, maka cairan kaca
akan membentuk ketebalan secara alamiah yaitu sekitar 6-7 mm. Timah
dipilih sebagai media pengambang karena mempunyai sifat tidak menempel di
kaca dan lebih beratdaripada kaca, sehingga kaca dapat mrngambang di atas
timah. Dengan sifatnya yang masih elastis, kaca mudah ditarik dan dilebarkan
untuk dibentuk ketebalan dan lebar sesuai yang diinginkan. Penarikan ini
dilakukan oleh deretan roll pada metal bath (Lehr roll).
4. Glass Annealing
Setelah kaca keluar dari metal bath, pasti kaca membutuhkan pendinginan.
Target dari operasi pendinginan kaca adalah kaca tidak pecah, kaca mudah
dipotong, dan kaca tidak ada lengkungan. Oleh karena itu, diperlukan instalasi
pendinginan yang sangat panjang, karena harus menurunkan suhu kaca dari
600C ke suhu kamar secara perlahan.
5. Glass Cutting & Packaging
Tahapan online glass cutting didesain sebagai suatu sistem tersendiri yang
mampu memotong ketebalan atau bentuk apapun. Kemudian lembaranlembaran kaca (sheet glass) yang sudah dipotong-potong disusun menurut
ukuran dan ketebalannya masing-masing dimasukkan ke gudang sebelum
dikirim ke konsumen.

13

6. Quality Control and Inspection


Pada tahap ini dilakukan inspeksi secara visual untuk memeriksa ketebalan,
ukuran, dan tingkat bening atau bersih kaca yang dihasilkan (inspection
booth). Ketelitian dalam tahap ini sangat diperlukan karena hal ini berkaitan
dengan tingkat kepuasan konsumen yang akan memakai kaca. Karena
produksi lembaran kaca banyak digunakan dalam konstruksi dan industri
otomotif maka ketebalan kaca, permukaannya harus rata, sejajar, dan bebas
distorsi mutlak diperlukan.
Faktor-faktor yang berperan dalam tahapan-tahapan di atas untuk
mencapai produk (output) yang baik antara lain peralatan (machines-equipment),
bahan baku (materials), sumber daya manusia (people), metode (system-method),
lingkungan (environment), waktu (time), dan informasi (information).
Faktor tersebut sangat berpengaruh dalam kesuksesan tahapan pembuatan
lembaran kaca, sehingga diperlukan kerjasama SDM dengan faktor yang lain
dengan cara melakukan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, tindakan (Plan,
Do, Check, Action) yang bertujuan untuk menghasilkan kaca berkualitas. Kualitas
kaca dapat berpengaruh terhadap kepuasan konsumen (satisfaction). Proses
teknologi yang diaplikasikan oleh PT Asahimas Flat Glass sudah baik, selain
menggunakan teknologi float process dengan lisensi dari Jepang, Asahimas juga
menggunakan teknologi untuk mendeteksi cacat kaca, yaitu innomess, kaca
setelah pendinginan kemudian dilewatkan pada innomess, kemudian secara
otomatis alat tersebut akan mendeteksi jumlah dan ukuran cacat kaca, jika jumlah
dan ukuran melebihi batas maksimal maka kaca dibuang. Disamping teknologi
yang berupa alat untuk menunjang proses produksinya, Asahimas pun mempunyai
SDM yang kompeten.

IV. Rekomendasi
Asahimas dapat bekerja sama dengan beberapa industri properti dan otomotif,
seiring dengan permintaan masyarakat akan perumahan dan kendaraan bermotor
seperti mobil. Strategi yang dapat dilakukan Asahimas adalah dengan
meningkatkan kapasitas produksinya. Pembangunan pabrik baru Asahimas di
Cikampek diharapkan dapat meningkatkan keuntungan perusahaan dan dapat

14

memenuhi seluruh permintaan masyarakat Indonesia akan kaca lembaran dan kaca
otomotif.
Membanjirnya produk lembaran kaca (sheet glass) dari Cina perlu
diwaspadai, oleh karena itu Asahimas perlu meningkatkan kualitas kaca yang
diproduksi dan volume ekspornya. Dilihat dari proses produksi yang baik dan
efisien menjadikan Asahimas pioner dalam teknologi ini. Kesiapan dalam
teknologi informasi menambah keunggulan bersaing dalam industri lembaran
kaca (sheet glass). Perlu adanya perbaikan seperti penerapan JIT (Just in Time)
dalam perusahaan dan sistem pendistribusian lembaran kaca (sheet glass) yang
lebih baik.

15

Daftar Pustaka

Arsyad, Lincolin. 2015. Handout Kuliah General Business Environment:


Economic Development. Yogyakarta: Magister Manajemen, Universitas
Gadjah Mada
Badan Pusat Statistik. Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis
tahun 1987-2012. BPS. http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1413
Diakses pada 23 Maret 2015.
Badan Pusat Statistik. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Berlaku

Menurut

Provinsi,

2000-2013

(Miliar

Rupiah).

BPS.

http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1622 Diakses pada 23 Maret


2015.
Badan Pusat Statistik. Rencana dan Realisasi Pembangunan Rumah Siap Huni
(RSH)

oleh

Perum

Perumnas

(unit),

2012.

BPS.

http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/932 Diakses pada 23 Maret


2015.
Hendhratmoyo, Andri. 2004. Laporan Penelitian PT Asahimas Flat Glass Ltd.,
Tbk. Yogyakarta: Magister Manajemen, Universitas Gadjah Mada
Kuswanto, Kapti Rahayu. 2015. Handout Kuliah General Business Environment:
Processing Technology. Yogyakarta: Magister Manajemen, Universitas
Gadjah Mada
Laporan Bank Indonesia. 2013. Bagian II Perekonomian Domestik.
PT Asahimas Flat Glass, Tbk. 2006. Company Profile: IA - AGC. Sidoarjo
Factory
PT

Asahimas

Flat

Glass,

Tbk.

2011.

Company

Profile.

http://www.amfg.co.id/en/company/history.html Diakses pada 14 Maret


2015.
PT

Asahimas

Flat

Glass,

Tbk.

2012.

Tatanan

Perilaku.

http://www.amfg.co.id/assets/report/COD/COCO%20Asahi%20Indonesia
%20(AMS).pdf Dilihat pada 24 Maret 2015.

ii

PT

Asahimas

Flat

Glass,

Tbk.

2014.

Laporan

Tahunan

2014.

http://www.amfg.co.id/report/annual/Laporan%20Tahunan%202014%.pdf
Diakses pada 21 Maret 2015.
Republik Indonesia. 1999. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Lembaran
Negara RI Tahun 1999, No. 33. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 1999. Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak
Asasi Manusia. Lembaran Negara RI Tahun 1999, No. 165. Sekretariat
Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2009. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2009 tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2004 Tentang
Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi. Lembaran Negara RI Tahun
2009, No. 59. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2009. Undang Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lembaran Negara RI
Tahun 2009, No. 140. Sekretariat Negara. Jakarta.
Republik Indonesia. 2011. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun
2011 Tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan Oleh Perusahaan
Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara. Sekretariat Kabinet RI.
Jakarta.
Republik Indonesia. 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
Lembaran Negara RI Tahun 2012, No. 50. Sekretariat Negara. Jakarta.
Rokhmani, Lisa. 2009. Analisis Human Development Index Indonesia (Investasi
Pendidikan

Sebgaai

Daya

Saing

Bangsa).

http://fe.um.ac.id/wp-

content/uploads/2010/03/tulisan-bu-lisa.pdf Diakses pada tanggal 3 April


2015.
Saliem, Handewi P, dkk. 2011. KAJIAN MASTERPLAN PERCEPATAN DAN
PERLUASAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA (MP3EI).
http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/Anjak_2011_4_04.pdf
Diakses padatanggal 5 April 2015.

iii

Syamsuri.

2011.

Jenis

dan

Pola

Pelayanan

Publik..

http://tentangpelayananpublik.blogspot.com/2011_01_01_archive.html
Diakses pada 25 Maret 2015
United Nations Development Programme. 2014. Human Development Report
2014.

http://hdr.undp.org/sites/all/themes/hdr_theme/country-

notes/IDN.pdf Diakses pada tanggal 3 April 2015.

iv