Anda di halaman 1dari 86

Konstruksi Beton Pratekan

Ir. Soetoyo

1. PENDAHULUAN
Seperti yang telah diketahui bahwa beton adalah suatu material yang tahan terhadap
tekanan, akan tetapi tidak tahan terhadap tarikan. Sedangkan baja adalah suatu material
yang sangat tahan terhadap tarikan. Dengan mengkombinasikan antara beton dan baja
dimana beton yang menahan tekanan sedangkan tarikan ditahan oleh baja akan menjadi
material yang tahan terhadap tekanan dan tarikan yang dikenal sebagai beton bertulang
( reinforced concrete ). Jadi pada beton bertulang, beton hanya memikul tegangan tekan,
sedangkan tegangan tarik dipikul oleh baja sebagai penulangan ( rebar ). Sehingga pada
beton bertulang, penampang beton tidak dapat efektif 100 % digunakan, karena bagian
yang tertarik tidak diperhitungkan sebagai pemikul tegangan.

bagian tekan

grs. netral
d

bagian tarik
penulangan
b

Gambar 001

Hal ini dapat dilihat pada sketsa gambar


disamping ini. Suatu penampang beton
bertulang dimana penampang beton yang
diperhitungkan untuk memikul tegangan
tekan adalah bagian diatas garis netral
( bagian yang diarsir ), sedangkan bagian
dibawah garis netral adalah bagian tarik
yang tidak diperhitungkan untuk memikul
gaya tarik karena beton tidak tahan terhadap tegangan tarik.

Gaya tarik pada beton bertulang dipikul oleh besi penulangan ( rebar ). Kelemahan lain
dari konstruksi beton bertulang adalah bera t sendiri ( self weight ) yang besar, yaitu
2.400 kg/m3, dapat dibayangkan berapa berat penampang yang tidak diperhitungkan
untuk memikul tegangan ( bagian tarik ). Untuk mengatasi ini pada beton diberi tekanan
awal sebelum beban-beban bekerja, sehingga seluruh penampang beton dalam keadaan
tertekan seluruhnya, inilah yang kemudian disebut beton pratekan atau beton prategang
( prestressed concrete ).
Perbedaan utama antara beton bertulang dan beton pratekan.
Beton bertulang :
Cara bekerja beton bertulang adalah mengkombinasikan antara beton dan baja tulangan
dengan membiarkan kedua material tersebut bekerja sendiri-sendiri, dimana beton bekerja memikul tegangan tekan dan baja penulangan memikul tegangan tarik. Jadi dengan menempatkan penulangan pada tempat yang tepat, beton bertulang dapat sekaligus
memikul baik tegangan tekan maupun tegangan tarik.
Beton pratekan :
Pada beton pratekan, kombinasi antara beton dengan mutu yang tinggi dan baja bermutu
tinggi dikombinasikan dengan cara aktif, sedangan beton bertulang kombinasinya secara
pasif. Cara aktif ini dapat dicapai dengan cara menarik baja dengan menahannya
kebeton, sehingga beton dalam keadaan tertekan. Karena penampang beton sebelum beban bekerja telah dalam kondisi tertekan, maka bila beban bekerja tegangan tarik yang
terjadi dapat di-eliminir oleh tegangan tekan yang telah diberikan pada penampang sebelum beban bekerja.

01

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Keuntungan Beton Prategang
Konstruksi beton prategang ( Prestressed concrete ) mempunyai beberapa keuntungan
bila dibandingkan dengan konstruksi beton bertulang biasa, antara lain :
a. Terhindarnya retak terbuka didaerah tarik, sehingga beton prategang akan lebih
tahan terhadap korosi.
b. Lebih kedap terhadap air, cocok untuk pipa dan tangki air.
c. Karena terbentuknya lawan lendut akibat gaya prategang sebelum beban rencana
bekerja, maka lendutan akhir setelah beban rencana bekerja, akan lebih kecil dari
pada beton bertulang biasa.
d. Penampang struktur akan lebih kecil/langsing, sebab seluruh luas penampang
dipergunakan secara efektif.
e. Jumlah berat baja prategang jauh lebih kecil dari pada jumlah berat besi penulangan
pada konstruksi beton bertulang biasa.
f. Ketahanan geser balok dan ketahanan puntirnya bertambah.
Dengan ini, maka suatu struktur dengan bentangan besar penampangnya akan lebih
langsing, hal ini mengakibatkan Natural Frequency dari struktur berkurang, sehingga
menjadi dinamis instabil akibat beban getaran gempa atau angin, kecuali bila struktur
itu memiliki redaman yang cukup atau kekakuannya ditambah.
Bila ditinjau dari segi ekonomis, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Jumlah voluma beton yang diperlukan lebih kecil.
b. Jumlah baja/besi yang dipergunakan hanya 1/5 1/3 nya.
c. Tetapi biaya awalnya tidak sebanding dengan pengurangan beratnya. Harga baja
dan beton mutu tinggi lebih mahal, selain itu formwork dan penegangan baja prategang perlu tambahan biaya. Perbedaan biaya awal ini akan menjadi lebih kecil, jika
beton prategang yang dibuat adalah beton pracetak dalam jumlah yang besar.
d. Sebaliknya beton prategang hampir-hampir tidak memerlukan biaya pemeliharan,
lebih tahan lama karena tidak adanya retak-retak, berkurangnya beban mati yang diterima pondasi, dapat mempunyai bentang yang lebih besar, dan tinggi penampang
konstruksinya berkurang.
Ada beberapa keuntungan dari beton prategang bila dibandingkan dengan beton bertulang biasa :
1. Karena pada beton prategang dipergunakan material yang bermutu tinggi, baik
beton dan baja prategang, maka voluma material yang dipergunakan lebih kecil bila
dibandingkan dengan beton bertulang biasa untuk beban yang sama.
Menurut pengalaman dengan meningkatkan mutu beton 2x lipat akan menghemat
biaya sekitar 30 %.
2. Pada beton prategang seluruh penampang beton aktif menerima beban, sedangkan
pada beton bertulang biasa hanya penampang yang tidak retak saja yang menerima
beban.
3. Beton pratekan akan lebih ringan atau langsing ( karena volumanya lebih kecil ) sehingga secara estetika akan lebih baik. Untuk bentangan-bentangan yang besar
seperti jembatan dimana pengaruh berat sendiri sangat besar, maka penggunaan
beton prategang akan sangat menguntungkan, karena lebih ringan dapat menghemat
pondasinya.
02

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
4. Karena tidak terjadi retak pada beton prategang, maka baik baja penulangan dan
baja prategang akan lebih terlindungi terhadap bahaya korosi, sehingga akan lebih
cocok untuk struktur yang bertempat didaerah korosif.
5. Lendutan efektif untuk beban jangka panjang dapat terkontrol lebih baik pada beton
prategang penuh maupun prategang sebagian.
2. PRINSIP DASAR BETON PRATEKAN
Beton pratekan dapat didefinisikan sebagai beton yang diberikan tegangan tekan internal sedemikian rupa sehingga dapat meng-eliminir tegangan tarik yang terjadi akibat
beban ekternal sampai suatu batas tertentu.
Ada 3 ( tiga ) konsep yang dapat di pergunakan untuk menjelaskan dan menganalisa
sifat-sifat dasar dari beton pratekan atau prategang :
Konsep Pertama :
Sistem pratekan/prategang untuk mengubah beton yang getas menjadi bahan yang
elastis.
Eugene Freyssinet menggambarkan dengan memberikan tekanan terlebih dahulu ( pratekan ) pada bahan beton yang pada dasarnya getas akan menjadi bahan yang elastis.
Dengan memberikan tekanan ( dengan menarik baja mutu tinggi ), beton yang bersifat
getas dan kuat memikul tekanan, akibat adanya tekanan internal ini dapat memikul tegangan tarik akibat beban eksternal.
Hal ini dapat dijelaskan dengan gambar dibawah ini :

c.g.c

c
Tendon konsentris

F M. c
+
A
I
GARIS NETRAL

=
c

y
M.y/I

F/A

M.c/I

AKIBAT
GAYA PRATEGANG F

AKIBAT
MOMEN EKSTERNAL M

F + M. c
I
A
F - M.c
A
I
AKIBAT
F DAN M

Gambar 002
Akibat diberi gaya tekan ( gaya prategang ) F yang bekerja pada pusat berat penampang
beton akan memberikan tegangan tekan yang merata diseluruh penampang beton
sebaesar F/A, dimana A adalah luas penampang beton tsb.

03

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Akibat beban merata ( termasuk berat sendiri beton ) akan memberikan tegangan tarik
dibawah garis netral dan tegangan tekan diatas garis netral yang besarnya pada serat
terluar penampang adalah :
M .c
I
Dimana : M : momen lentur pada penampang yang ditinjau
c : jarak garis netral ke serat terluar penampang
I : momen inersia penampang.

Tegangan lentur : f =

Kalau kedua tegangan akibat gaya prategang dan tegangan akibat momen lentur ini dijumlahkan, maka tegangan maksimum pada serat terluar penampang adalah :
a.Diatas garis netral :
F
M .c
+
tidak boleh melampaui tegangan hancur beton.
fTotal =
A
I
b. Dibawah garis netral :
fTotal =

F
M .c

0 tidak boleh lebih kecil dari nol.


A
I

Jadi dengan adanya gaya internal tekan ini, maka beton akan dapat memikul beban tarik.

Konsep Kedua :
Sistem Prategang untuk Kombinasi Baja Mutu Tinggi dengan Beton Mutu Tinggi.
Konsep ini hampir sama dengan konsep beton bertulang biasa, yaitu beton prategang
merupakan kombinasi kerja sama antara baja prategang dan beton, dimana beton menahan betan tekan dan baja prategang menahan beban tarik. Hal ini dapat dijelaskan
sebagai berikut :
q

q
C

T
Besi Tulangan

kabel prategang

BETON BERTULANG

BETON PRATEGANG

(B)

(A)

Gambar 003
Pada beton prategang, baja prategang ditarik dengan gaya prategang T yang mana
membentuk suatu kopel momen dengan gaya tekan pada beton C untuk melawan momen akibat beban luar.
Sedangkan pada beton bertulang biasa, besi penulangan menahan gaya tarik T akibat
beban luar, yang juga membentuk kopel momen dengan gaya tekan pada beton C untuk
melawan momen luar akibat beban luar.

04
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Konsep Ketiga :
Sistem Prategang untuk Mencapai Keseimbangan Beban.
Disini menggunakan prategang sebagai suatu usaha untuk membuat keseimbangan
gaya-gaya pada suatu balok. Pada design struktur beton prategang, pengaruh dari prategang dipandang sebagai keseimbangan berat sendiri, sehingga batang yang mengalami
lendutan seperti plat, balok dan gelagar tidak akan mengalami tegangan lentur pada
kondisi pembebanan yang terjadi.
Hal ini dapat dijelaskan sbagai berikut :
Kabel prategang dg.
lintasan parabola
F
h

F
Beban merata
wb

Gambar 004
Suatu balok beton diatas dua perletakan ( simple beam ) yang diberi gaya prategang F
melalui suatu kabel prategang dengan lintasan parabola. Beban akibat gaya prategang
yang terdistribusi secara merata kearah atas dinyatakan :
wb =
Dimana : wb
h
L
F

8.F .h
L2

: beban merata kearah atas, akibat gaya prategang F


: tinggi parabola lintasan kabel prategang.
: bentangan balok.
: gaya prategang.

Jadi beban merata akibat beban ( mengarah kebawah ) diimbangi oleh gaya merata
akibat prategang wb yang mengarah keatas.
Inilah tiga konsep dari beton prategang ( pratekan ), yang nantinya dipergunakan untuk
menganalisa suatu struktur beton prategang.

05
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

3. METHODE PRATEGANGAN
Pada dasarnya ada 2 macam methode pemberian gaya prategang pada beton, yaitu :
3.1. Pratarik ( Pre-Tension Method )
Methode ini baja prategang diberi gaya prategang dulu sebelum beton dicor, oleh
karena itu disebut pretension method.
Adapun prinsip dari Pratarik ini secara singkat adalah sebagai berikut :
KABEL ( TENDON ) PRATEGANG
ABUTMENT

LANDASAN
ANGKER

(A)

BETON DICOR

(B)

TENDON DILEPAS
GAYA PRATEGANG DITRANSFER KE BETON

(C)

Gambar 005
Tahap 1 : Kabel ( Tendon ) prategang ditarik atau diberi gaya prategang kemudian diangker pada suatu abutment tetap ( gambar 005 A ).
Tahap 2 : Beton dicor pada cetakan ( formwork ) dan landasan yang sudah disediakan sedemikian sehingga melingkupi tendon yang sudah diberi gaya prategang dan dibiarkan mengering ( gambar 005 B ).
Tahap 3 : Setelah beton mengering dan cukup umur kuat untuk menerima gaya
prategang, tendon dipotong dan dilepas, sehingga gaya prategang ditransfer ke beton ( gambar 005 C ).
Setelah gaya prategang ditransfer kebeton, balok beton tsb. akan melengkung keatas sebelum menerima beban kerja. Setelah beban kerja bekerja, maka balok beton tsb. akan rata.

06

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
3.2. Pasca tarik ( Post-Tension Method )
Pada methode Pascatarik, beton dicor lebih dahulu, dimana sebelumnya telah disiapkan saluran kabel atau tendon yang disebut duct.
Secara singkat methode ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
BETON DICOR
SALURAN TENDON

(A)

TENDON ( KABEL/BAJA PRATEGANG )


ANGKER

F
(B)

(C)

GROUTING

Gambar 006
Tahap 1 : Dengan cetakan ( formwork ) yang telah disediakan lengkap dengan
saluran/selongsong kabel prategang ( tendon duct ) yang dipasang melengkung sesuai bidang momen balok, beton dicor ( gambar 006 A ).
Tahap 2 : Setelah beton cukup umur dan kuat memikul gaya prategang, tendon
atau kabel prategang dimasukkan dalam selongsong ( tendon duct ),
kemudian ditarik untuk mendapatkan gaya prategang. Methode pemberian gaya prategang ini, salah satu ujung kabel diangker, kemudian
ujung lainnya ditarik ( ditarik dari satu sisi ). Ada pula yang ditarik dikedua sisinya dan diangker secara bersamaan. Setelah diangkur, kemudian saluran di grouting melalui lubang yang telah disediakan.
( Gambar 006 B ).
Tahap 3 : Setelah diangkur, balok beton menjadi tertekan, jadi gaya prategang
telah ditransfer kebeton. Karena tendon dipasang melengkung, maka
akibat gaya prategang tendon memberikan beban merata kebalok yang
arahnya keatas, akibatnya balok melengkung keatas ( gambar 006 C ).

07
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Karena alasan transportasi dari pabrik beton kesite, maka biasanya beton prategang dengan sistem post-tension ini dilaksanakan secara segmental ( balok dibagibagi, misalnya dengan panjang 1 1,5 m ), kemudian pemberian gaya prategang
dilaksanakan disite, setelah balok segmental tsb. dirangkai.

4. TAHAP PEMBEBANAN
Tidak seperti pada perencanaan beton bertulang biasa. pada perencanaan beton prategang ada dua tahap pembebanan yang harus dianalisa. Pada setiap tahap pembebanan
harus selalu diadakan pengecekan atas kondisi pada bagian yang tertekan maupun
bagian yang tertarik untuk setiap penampang.
Dua tahap pembebanan pada beton prategang adalah Tahap Transfer dan Tahap Service
( Layan ).
4.1. Tahap Transfer
Untuk metode pratarik, tahap transfer ini terjadi pada saat angker dilepas dan gaya
prategang direansfer ke beton. Untuk metode pascatarik, tahap transfer ini terjadi
pada saat beton sudah cukup umur dan dilakukan penarikan kabel prategang.
Pada saat ini beban yang bekerja hanya berat sendiri struktur, beban pekerja dan
peralatan, sedangkan beban hidup belum bekerja sepenuhnya, jadi beban yang
bekerja sangat minimum, sementara gaya prategang yang bekerja adalah
maksimum karena belum ada kehilangan gaya prategang.
4.2. Tahap Service
Setelah beton prategang digunakan atau difungsikan sebagai komponen struktur,
maka mulailah masuk ke tahap service, atau tahap layan dari beton prategang
tersebut. Pada tahap ini beban luar seperti live load, angin, gempa dll. mulai
bekerja, sedangkan pada tahap ini semua kehilangan gaya prategang sudah harus
dipertimbangkan didalam analisa strukturnya.
Pada setiap tahap pembebanan pada beton prategang harus selalu dianalisis terhadap
kekuatan, daya layan, lendutan terhadap lendutan ijin,nilai retak terhadap nilai batas
yang di-ijinkan. Perhitungan untuk tegangan dapat dilakukan dengan pendekatan kombinasi pembebanan, konsep kopel internal ( internal couple concept ) atau methode beban penyeimbang ( load balancing method ), yang akan dibahas pada kuliah-kuliah
berikutnya.

5. PERENCANAAN BETON PRATEGANG


Ada 2 (dua) metode perencanaan beton prategang, yaitu :
1. Working stress method ( metode beban kerja )
Prinsip perencanaan disini ialah dengan menghitung tegangan yang terjadi akibat
pembebanan ( tanpa dikalikan dengan faktor beban ) dan membandingkan dengan
tegangan yang di-ijinkan. Tegangan yang di-ijinkan dikalikan dengan suatu faktor
kelebihan tegangan ( overstress factor ) dan jika tegangan yang terjadi lebih kecil
dari tegangan yang di-ijinkan tersebut, maka struktur dinyatakan aman.
08

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

2. Limit state method ( metode beban batas )


Prinsip perencanaan disini didasarkan pada batas-batas tertentu yang dapat dilampaui
oleh suatu sistim struktur. Batas-batas ini ditetapkan terutama terhadap kekuatan,
kemampuan layan, keawetan, ketahanan terhadap beban, api , kelelahan dan persyaratan-persyaratan khusus yang berhubungan dengan penggunaan struktur tersebut.
Dalam menghitung beban rencana maka beban harus dikalikan dengan suatu faktor
beban ( load factor ), sedangkan kapasitas bahan dikalikan dengan suatu faktor
reduksi kekuatan ( reduction factor ).
Tahap batas ( limit state ) adalah suatu batas tidak di-inginkan yang berhubungan dengan kemungkinan kegagalan struktur.
Kombinasi pembebanan untuk Tahap Batas Kekuatan ( Strength Limit State ) adalah :
Berdasarkan SNI 03-2874-2002
1. U = 1,4 D . .. ( 4 )
2. U = 1,2 D + 1,6 L + 0,5 ( A atau R ) . ( 5 )
3. U = 1,2 D + 1,0 L 1,6 W + 0,5 ( A atau R ) ( 6 )
4. U = 0,9 D 1,6 L ... ( 7 )
5. U = 1,2 D + 1,0 L 1,0 E .. ( 8 )
6. U = 0,9 D E . ( 9 )
Dimana : U
D
L
A
R
W
E

=
=
=
=
=
=
=

Kuat perlu
Dead Load ( Beban Mati )
Live Load ( Beban Hidup )
Beban Atap
Beban Air Hujan
Beban Angin
Beban Gempa

Catatan : a. Jika ketahanan terhadap tekanan tanah H diperhitungkan didalam perencanaan, maka pada persamaan 5, 7 dan 9 ditambahkan 1,6 H, kecuali
bila akibat tekanan tanah H akan mengurangi pengaruh beban W dan E,
maka pengaruh tekanan tanah H tidak perlu diperhitungkan.
b. Jika ketahanan terhadap pembebanan akibat berat dan tekanan fluida F
diperhitungkan dalam perencanaan, maka beban fluida 1,4 F harus ditambahkan pada persamaan 4, dan 1,2 F pada persamaan 5.
C . Untuk kombinasi beban ini selanjutnya dapat dipelajari dalam buku code
beton SNI 03 2874 2002
Perencanaan struktur untuk tahap batas kekuatan ( Strength Limit State ), menetapkan
bahwa aksi design ( Ru ) harus lebih kecil dari kapasitas bahan dikalikan dengan suatu
faktor reduksi kekuatan .
Ru Rn

( 5.1 )

Dimana : Ru = aksi desain


Rn = kapasitas bahan
= faktor reduksi
09

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Sehingga untuk aksi design , momen, geser, puntir dan gaya aksial berlaku :
Mu
Vu
Tu
Pu

Mn
Vn
Tn
Pn

Harga-harga Mu, Vu, Tu dan Pu diperoleh dari kombinasi pempebanan yang paling
maksimum, sedangkan Mn, Vn, Tn dan Pn adalah kapasitas penampang terhadap Momen,
Geser, Puntir dan Gaya Aksial.
Faktor Reduksi kekuatan menurut SNI 03 2874 2002 untuk :
Lentur tanpa gaya aksial ..
Aksial tarik dan aksial tarik dengan lentur ..
Aksial tekan dan aksial tekan dengan lentur : tulangan spiral
: tulangan sengkang
Gaya geser dan Puntir ..

:
:
:
:
:

=
=
=
=
=

0,80
0,80
0,70
0,65
0,75

Untuk lebih memahami hal ini agar mempelajari sumbernya, yaitu SNI 0328742002
Desain untuk tahap batas kemampuan layan ( serviceability limit state ) harus diperhitungkan sampai batas lendutan, batas retakan atau batasan-batasan yang lain.
Untuk batas kekuatan lentur ( bending stress limit ), suatu komponen struktur dianalisis
dari tahap awal ( beban layan ) sampai tahap batas ( beban batas/ultimate load ). Sedangkan untuk geser dan puntir , analisis dilakukan pada suatu tahap batas saja, karena
pada geser dan puntir batas dari kedua tahap tersebut tidak sejelas pada analisis lentur.
Karena kekuatan beton prategang sangat tergantung pada tingkat penegangan ( besarnya
gaya prategang ) maka dikenal istilah : Prategang Penuh ( fully prestressed ) dan
Prategang Sebagian ( partially prestressed ).
Untuk komponen-kompenen struktur dari beton prategang penuh, maka komponen tersebut direncanakan untuk tidak mengalami retak pada beban layan, jadi pada komponen
tersebut ditetapkan tegangan tarik yang terjadi = nol ( tt = ts = 0 ).
Dimana : tt : tegangan tarik ijin pada saat transfer gaya prategang
ts : tegangan tarik ijin pada saat servis
Untuk kompomen struktur yang direncanakan sebagai beton prategang sebagian, maka
komponen tersebut dapat didesain untuk mengalami retak pada beban layan dengan
batasan tegangan tarik pada saat layan diperbolehkan maksimum :

ts = 0,50

f c'

( 5.2 )

Dimana : fc : kuat tekan beton


Oleh karena itu konstruksi beton prategang harus didesain sedemikian sehingga
mempunyai kekuatan yang cukup dan mempunyai kemampuan layan yang sesuai kebutuhan. Disamping itu konstruksi harus awet, tahan terhadap api, tahan terhadap kelelahan ( untuk beban yang berulang-ulang dan berubah-ubah ), dan memenuhi persyaratan lain yang berhubungan dengan kegunaannya.

10

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Perhitungan tegangan pada beton prategang harus memperhitungkan hal-hal sbb. :
1. Kondisi pada saat transfer gaya prategang awal dengan beban terbatas ( dead load
dan beban konstruksi ).
2. Kehilangan gaya prategang. Untuk perhitungan awal kehilangan gaya prategang ini
biasanya ditentukan 25 % untuk sistem pratarik ( pre-tension ) dan 20 % untuk sistem
pascatarik ( post-tension ).
3. Pada kondisi servis dengan gaya prategang efektif ( sudah diperhitungkan kehilangan gaya prategangnya ) dan beban maksimum ( beban mati, beban hidup dan pengaruh-pengaruh lain ).
4. Perlu diperhitungkan pengaruh-pengaruh lain yang mempengaruhi struktur beton
prategang seperti adanya pengaruh sekunder pada struktur statis tak tentu, pengaruh P
delta pada gedung bertingkat tinggi, serta perilaku struktur dari awal sampai waktu
yang ditentukan.
Tegangan-tegangan yang di-ijinkan beton untuk struktur lentur SNI 03 2874 2002
A.Tegangan sesaat setelah penyaluran gaya prategang dan sebelum terjadinya kehilangan gaya prategang sebagai fungsi waktu, tidak boleh melampaui :
1. Tegangan tekan serat terluar .. : 0,60 fci
2. Tegangan tarik serat terluar ( kecuali item 1 dan 3 ) . : 0,25

f ci'

3. Tegangan tarik serat terluar diujung struktur diatas tumpuan : 0,50 f ci'
Apabila tegangan melampaui nilai-nilai tersebut diatas, maka harus dipasang tulangan extra ( non prategang atau prategang ) untuk memikul gaya tarik total beton yang
dihitung berdasarkan asumsi penampang penuh sebelum retak.
B. Tegangan pada saat kondisi beban layan ( sesudah memperhitungkan semua kehilangan gaya prategang yang mungkin terjadi ), tidak boleh melampaui :
1. Tegangan tekan serat terluar akibat gaya prategang, beban mati dan
beban hidup tetap .. : 0,45 fc
2. Tegangan tekan serat terluar akibat gaya prategang, beban mati dan
beban hidup total : 0,60 fc
3. Tegangan tarik serat terluar dalam daerah tarik yang pada awalnya
mengalami tekanan .. : 0,50

f c'

Dari uraian-uraian diatas, pada prinsipnya konsep beton prategang dan beton bertulang
biasa adalah sama, yaitu sama-sama dipasangnya tulangan pada daerah-daerah dimana
akan terjadi tegangan tarik. Bedanya pada beton bertulang biasa, tulangan akan memikul tegangan tarik akibat beban, sedangkan pada beton prategang tulangan yang berupa
kabel prategang ( tendon ) ditarik lebih dahulu sebelum bekerjanya beban luar. Penarikan kabel ini menyebabkan tertekannya beton, sehingga beton menjadi mampu menahan
beban yang lebih tinggi sebelum retak.
Pada dasarnya elemen struktur beton prategang akan mengalami keretakan pada beban
yang lebih tinggi dari beban yang dibutuhkan untuk meretakan elemen struktur dari
beton bertulang biasa. Demikian pula dengan lendutan, untuk beton prategang lendutannya relatif lebih kecil dibandingkan dengan beton bertulang biasa, oleh karena itu
konstruksi beton prategang itu banyak dipergunakan untuk bentangan-bentangan yang
panjang.
11

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
6. MATERIAL BETON PRATEGANG
6.1. Beton
Seperti telah di ketahui bahwa beton adalah campuran dari Semen, Agregat
kasar ( split ), Agregat halus ( pasir ), Air dan bahan tambahan yang lain.
Perbandingan berat campuran beton pada umumnya Semen 18 %, Agregat
kasar 44 %, Agregat halus 31 % dan Air 7 %. Setelah beberapa jam campuran
tersebut dituangkan atau dicor pada acuan ( formwork ) yang telah disediakan,
bahan-bahan tersebut akanlangsung mengeras sesuai bentuk acuan ( formwork )
yang telah dibuat. Kekuatan beton ditentukan oleh kuat tekan karakteristik ( fc )
pada usia 28 hari.
Kuat tekan karakteristik adalah tegangan yang melampaui 95 % dari pengukuran kuat tekan uniaksial yang diambil dari tes penekanan contoh ( sample )
beton dengan ukuran kubus 150 x 150 mm, atau silinder dengan diameter 150 mm
dan tinggi 300 mm.
Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai-bagai benda uji ( sample ).
Benda Uji

Perbandingan Kekuatan
1.00
0.95
0.83

Kubus 150 x 150 x 150 mm


Kubus 200 x 200 x 200 mm
Silinder ( Dia. 150 ) x ( H = 300 ) mm

Perbandingan kekuatan tekan beton pada berbagai umur beton ( benda uji ).
3

14

21

28

90

365

0.40

0.65

0.88

0.95

1.00

1.20

1.35

Umur Benda Beton ( hari )


Perbandingan kekuatan

Pada konstruksi beton prategang biasanya dipergunakan beton mutu tinggi dengan kuat tekan fc = 30 40 MPa, hal ini diperlukan untuk menahan tegangan
tekan pada pengangkuran tendon ( baja prategang ) agar tidak terjadi keretakankeretakan.
Kuat tarik beton mempunyai harga yang jauh lebih rendah dari kuat tekannya. SNI
03 2874 2002 menetapkan untuk kuat tarik beton ts = 0,50

f c' sedang-kan

ACI menetapkan ts = 0,60 f c' .


Modulus elastisitas beton E dalam SNI 03 2874 2002 ditetapkan :
Ec = (wc )1,5 x 0,043

f c'

Dimana : Ec : modulus elastisitas beton ( MPa )


wc : berat voluna beton ( kg/m3 )
fc : tegangan tekan beton ( MPa )
Sedangkan untuk beton normal diambil : Ec = 4700

f c' MPa

12
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
6.2. Baja Prategang
Didalam praktek baja prategang ( tendon ) yang dipergunakan ada 3 ( tiga )
macam, yaitu :
a. Kawat tunggal ( wire ).
Kawat tunggal ini biasanya dipergunakan dalam beton prategang dengan
sistem pra-tarik ( pretension method ).
b. Untaian kawat ( strand ).
Untaian kawat ini biasanya dipergunakan dalam beton prategang dengan
sistem pasca-tarik ( post-tension ).
c. Kawat batangan ( bar )
Kawat batangan ini biasanya digunakan untuk beton prategang dengan sistem
pra-tarik ( pretension ).
Selain baja prategang diatas, beton prategang masih memerlukan penulangan
biasa yang tidak diberi gaya prategang, seperti tulangan memanjang, sengkang,
tulangan untuk pengangkuran dan lain-lain.
Tabel Tipikal Baja Prategang
Jenis
Baja Prategang
Kawat Tunggal
( wire )

Untaian Kawat
( strand )

Kawat Batangan
( bar )

Diameter
( mm )

Luas
( mm2)

Beban Putus
( kN )

Tegangan Tarik
( MPa )

3
4
5
7
8
9.3
12.7
15.2
23
26
29
32
38

7.1
12.6
19.6
38.5
50.3
54.7
100
143
415
530
660
804
1140

13.5
22.1
31.4
57.8
70.4
102
184
250
450
570
710
870
1230

1900
1750
1600
1500
1400
1860
1840
1750
1080
1080
1080
1080
1080

Jenis-jenis lain tendon yang sering digunakan untuk beton prategang pada sitem
pre-tension adalah seven-wire strand dan single-wire. Untuk seven-wire ini, satu
bendel kawat teriri dari 7 buah kawat, sedangkan single wire terdiri dari kawat
tunggal.
Sedangkan untuk beton prategang dengan sistem post-tension sering digunakan
tendon monostrand, batang tunggal, multi-wire dan multi-strand. Untuk jenis
post-tension method ini tendon dapat bersifat bonded ( dimana saluran kabel diisi
dengan material grouting ) dan unbonded saluran kabel di-isi dengan minyak
gemuk atau grease. Tujuan utama dari grouting ini adalah untuk :
Melindungi tendon dari korosi
Mengembangkan lekatan antara baja prategang dan beton sekitarnya.

13

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Material grouting ini biasanya terdiri dari campuran semen dan air dengan w/c
ratio 0,5 dan admixe ( water reducing dan expansive agent )
Common Types from CPCI Metric Design Manual
Grade
Tendon Type

Seven - wire
Strand

Prestressing
Wire

Deformed

Prestressing
Bar

Nominal Dimension

MPa

Size
Designation

1860
1860
1860
1860
1760
1550
1720
1620
1760
1080
1030
1100

9
11
13
15
16
5
5
7
7
15
26
26

Diameter
( mm )
9.53
11.13
12.70
15.24
15.47
5.00
5.00
7.00
7.00
15.0
26.5
26.5

1030
1100
1030

32
32
36

32.0
32.0
36.0

f pu

Mass
( kg/m )

Area
( mm2 )
55
74
99
140
148
19.6
19.6
38.5
38.5
177
551
551

0.432
0.582
0.775
1.109
1.173
0.154
0.154
0.302
0.302
1.44
4.48
4.48

804
804
1018

6.53
6.53
8.27

Kabel pratekan yang berupa strand atau untaian kawat


ASTM A 416 Uncoated seven wire stress relieved strand ini ada 2 macam
grade, yaitu :
Grade 250
Tegangan tarik batas minimumnya fpu = 250.000 psi ( 17.250 kg/cm2 )
Grade 270
Tegangan tarik batas minimumnya fpu = 270.000 psi ( 18.600 kg/cm2 )
Grade

250

270

Diameter Nominal
in
0.250
0.313
0.375
0.438
0.500
0.600
0.375
0.438
0.500
0.563
0.600

mm
6.35
7.94
9.53
11.11
12.54
15.24
9.53
11.11
12.54
14.29
15.24

Luas Penampang Nominal


2

in
0.036
0.058
0.080
0.108
0.144
0.216
0.085
0.115
0.153
0.192
0.216

mm
23.22
37.42
51.61
69.68
92.90
139.35
54.85
74.19
98.71
123.87
139.35

Tegangan Tarik Batas f pu


ksi
250
250
250
250
250
250
270
270
270
270
270

MPa
1,725
1,725
1,725
1,725
1,725
1,725
1,860
1,860
1,860
1,860
1,860

Berat jenis tendon 7.850 kg/m3


Modulus elastisitas G 250 maupun G 270 adalah :
E = 27.500.000 psi = 1,925 x 106 kg/cm2

14
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 1 :
Suatu balok beton prategang dengan mutu fc = 45 MPa, bentangan L = 10 m, memikul
beban hidup WL = 350 kg/m. Ukuran balok 20 x 60 cm dan diberi gaya prategang P tepat dipusat titik berat penampang balok, seperti sketsa dibawah ini.

C
5.000

h = 600

W L = 350 kg/m '


x

Titik Kerja Gaya


Prategang
x

5.000
b = 200

L = 10.000

PENAMPANG BALOK

Gambar 007
Hitung gaya prategang efektif yang diperlukan balok tersebut agar mampu memikul
beban hidup WL = 350 kg/m dengan catatan tidak diperbolehkan terjadi tegangan tarik
pada penampang beton.
Penyelesaian :
Properti Penampang : Luas penampang Ac = b x h = 20 x 60 = 1.200 cm2
Momen inersia
I = 112 b x h3 = 112 20 x 603 = 360.000 cm4
Jarak garis netral keserat terluar atas dan bawah :
ya = yb = h = x 60 cm = 30 cm
Beban mati ( berat sendiri balok ) : WD = 0,20 x 0,60 x 1,00 x 2.400 = 288 kg/m
Momen maksimum akibat beban mati :
MD = 18 WD L2 = 18 288 x 102 = 3.600 kgm
Momen maksimum akibat beban hidup :
ML = 18 WL L2 = 18 350 x 102 = 4.375 kgm
Momen maksimum akibat Beban Mati dan Beban Hidup :
Mu = 1,2 MD + 1,6 ML = 1,2 3.600 + 1,6 4.375 = 11.350 kgm
Momen nominal yang dapat dipikul penampang :
Mu
11.350
Mn =
=
= 14.187 kgm

0,80
Syarat tegangan tekan pada beton akibat beban mati dan beban hidup pada saat layan
yang di-ijinkan sesuai dengan SNI 03 2874 2002 ( halaman 11 ) adalah :
Tegangan tekan maksimum : fcu = 0,60 x fc = 0,60 x 450 kg/cm2 = 270 kg/cm2
Tegangan tarik pada soal ini tidak diperkenankan.
Agar hal ini dapat tercapai, maka diagram tegangan balok akibat beban mati, beban
hidup dan gaya prategang harus seperti ganbar 008 dihalaman berikut ini.

15

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Mn .ya
I
Titik Kerja Gaya
Prategang
x

GRS. NETRAL

+
+
Pe /A

PENAMPANG BALOK

Pe Mn .ya
+
A
I

TEG. AKIBAT
GAYA PRESTRESS

=
Mn .yb
I

TEGANGAN TOTAL

TEG. AKIBAT
MOMEN

Gambar 008
Tegangan tarik pada serat bawah balok :
M .y
P
ft = e n b = 0 ( tidak diperkenankan terjadi tarik )
Ac
I

Pe
1.418.700 x30

=0
1.200
360.000
Pe = 1.200 x

1.418.700 x30
= 141.870 kg
360.000

Kontrol tegangan tekan pada serat atas balok :


M n . ya
P
141.870
1.418.700 x30
fca = e +
=
+
Ac
I
1.200
360.000

fca = 118,23 + 118,23 = 236,46 kg/cm2 fcu = 270 kg/cm2 OK


Kesimpulan :
Jadi gaya prategang efektif harus diberikan pada balok agar mampu menahan beban
hidup WL = 350 kg/m adalah :
Pe = 141.870 kg
Gaya prategang efektif adalah gaya prategang setelah diperhitungkan kehilangankehilangan gaya prategang yang akan dibicarakan pada bab-bab berikut ini.

Contoh Soal 2 :
Seperti pada contoh no. 1 diatas, tetapi titik kerja gaya prategang digeser kebawah sejauh
20 cm dari garis netral. Sekarang dengan gaya prategang efektif sebesar Pe = 143.240 kg,
maka hitunglah beban hidup yang dapat dipikul oleh balok prategang tersebut.
Penyelesaian :
Dengan digesernya garis kerja gaya prategang sejauh 20 cm dari garis netral, maka terjadi
eksentrisitas terhadap garis netral sebesar :
e = 20 cm
16

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Me = Pe x e
x
e

Pe

=
-

+
Pe /A

Kabel / Baja
Prategang

Ttk. Kerja Gaya


Prategang

PENAMPANG BALOK

Pe -- Me . ya
Mn.ya
+
A
I
I

Mn .ya
I

Me . ya
I

Me. yb
I

TEG. AKIBAT
GAYA PRESTRESS

Mn .yb
I

TEGANGAN TOTAL

TEG. AKIBAT
MOMEN BEBAN

Gambar 009
Tegangan pada serat bawah :

M .y
M .y
Pe
+ e b n b = 0 ( dalam soal ini tidak boleh terjadi teg. tarik ).
Ac
I
I

ft =

Me = Pe x e = 141.870 x 20 = 2.837.400 kgcm Momen akibat eksentrisitas

ft =

M n x30
141.870
2.837.400 x30
+

=0
1.200
360.000
360.000

118,23 + 236,45

30
Mn = 0
360.000

360.000
= 4.256.160 kgcm
30
Check tegangan tekan pada serat atas balok :
M .y
M .y
P
fca = e e a + n a
Ac
I
I
Mn = ( 118,23 + 236,45 ) x

fca =

141.870 2.837.400 x30


4.256.160 x30

+
1.200
360.000
360.000

fca = 118,23 236,45 + 354,68 = 236,46 kg/cm2 fcu = 270 kg/cm2 OK


Mu = Mn = 0,80 x 4.256.160 = 3.404.928 kgcm = 34.049,28 kgm
Mu = 1,2 MD + 1,6 ML = 34.049,28 kgm
ML =
1

34.049,28 1,2 x3.600


= 18,581 kgm
1,6

WL x L2 = 18.581

8 x18.581
= 1.486 kg/m
10 2
Dari sini kelihatan bahwa dengan memberi eksentrisitas e = 20 cm, maka beban hidup
yang dapat dipikul balok meningkat dari 350 kg/m ( contoh 1 ) menjadi 1.486 kg/m

WL =

17

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

7. KEHILANGAN GAYA PRATEGANG.


Kehilangan gaya prategang itu adalah berkurangnya gaya yang bekerja pada tendon
pada tahap-tahap pembebanan.
Secara umum kehilangan gaya prategang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Immediate Elastic Losses ( Kehilangan Prategang dalam Jangka Pendek )
Ini adalah kehilangan gaya prategang langsung atau segera setelah beton diberi gaya
prategang. Kehilangan gaya prategang secara langsung ini disebabkan oleh :
Perpendekan Elastic Beton ( Elastic shortening )
Kehilangan akibat friksi atau geseran sepanjang kelengkungan dari tendon, ini terjadi pada beton prategang dengan sistem post tension.
Kehilangan pada sistem angkur, antara lain akibat slip diangkur
2. Time dependent Losses
Ini adalah kehilangan gaya prategang akibat dari pengaruh waktu, yang mana hal ini
disebabkan oleh :
Rangkak ( creep ) pada beton.
Susut pada beton.
Relaksasi baja prategang.
Karena banyaknya faktor yang saling terkait, perhitungan kehilangan gaya prategang ( losses ) secara eksak sangat sulit untuk dilaksanakan, sehingga banyak
dilakukan me-toda pendekatan, misalnya metoda lump-sum ( AASHTO ), PCI
method dan ASCE-ACI methods.
7.1. Perpendekan Elastis Beton
Antara sistem pra-tarik dan pasca tarik pengaruh kehilangan gaya prategang akibat
perpendekan elastis beton ini berbeda. Pada sistem pra-tarik perubahan regangan
pada baja prategang yang diakibatkan oleh perpendekan elastis beton adalah sama
dengan regangan beton pada baja prategang tersebut.
1. Sistem Pra-Tarik
Kehilangan tegangan akibat perpendekan elastis ( elastic shortening ) tergantung pada rasio antara modulus elastisitas beton dan tegangan beton dimana
baja prategang terletak.
Ditinjau balok prategegang dengan sistem pra-tarik ( pretension )
Grs. Netral
Pi

Pi
L

1/2 L

1/2 L

Gambar 010
18
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Suatu balok panjang L diberi gaya prategang Pi yang garia kerjanya tepat digaris netral seperti gambar 010 diatas.
Akibat gaya prategang ini balok beton mengalami perpendekan dalam arah
axial ( searah panjang balok ).
Perpendekan balok beton :

L beton =

Pi .L
Ac .Ec

Perpendekan kabel prategang :

L kabel =
Dimana :

Pi
AC
Asp
Ec
Esp

:
:
:
:
:

Pi .L
Asp .Esp

Gaya prategang awal.


Luas penampang balok beton.
Luas penampang kabel prategang.
Modulus elastisitas beton.
Modulus elastisitas kabel prategang.

L beton = L kabel
Pi .L
=
Ac .Ec

Pi .L
As .E s

E sp Pi
Esp
Pi
x
=n
=

Asp
Ec Ac
Ec

Pi
P
P
= n i Kehilangan tegangan pada kabel : i
Asp
Asp
Ac
fp = n . fc

( 7.1.1 )

Prosentase kehilangan prategang :


ES =

f p
fp

x 100 % fp =

p
Asp

Dimana : fp = kehilangan prategang


fc = tegangan beton ditempat baja prategang.
n
= ratio antara modulus elastisitas baja prategang dan modulus elastisitas beton.
ES = prosentase kehilangan prategang akibat.
P
= gaya prategang
fp
= prategang.
19

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Jika gaya prategang ditransfer ke beton, maka beton akan memendek ( perpendekan elastis ) dan di-ikuti dengan perpendekan baja prategang yang
mengikuti perpendekan beton tersebut. Dengan adanya perpendekan baja
prategang maka akan menyebabkan terjadinya kehilangan tegangan yang ada
pada baja prategang tersebut.
Tegangan pada beton akibat gaya prategang awal ( Pi ) adalah :

Pi
Ac + n. Asp

fc =

Jika luas penampang kabel diperhitungkan

Sehingga kehilangan gaya prategang akibat perpendekan elastis dapat dirumuskan sebagai berikut :

n.Pi
Ac + n. Asp

fp =

( 7.1.2 )

Prosentase kehilangan prategang :


ES =

f p
fp

Dimana : fp
Pi
Ac
Asp
n

x 100 %
=
=
=
=
=

kehilangan prategang
gaya prategang awal
luas penampang beton
luas penampang baja prategang
ratio antara modulus elastisitas baja ( Esp ) dan modulus
elastisitas beton pada saat transfer gaya ( ECi )
ES = prosentase kehilangan prategang akibat perpendekan elastis

Jika kabel prategang dipasang eksentris seperti gambar 011 dibawah ini :

cgc

Tendon

+
b

Pi
Ac

P i . e. y
I

Penampang
Beton

Tegangan
akibat Pi

Tegangan
akibat Pi.e

Gambar 011

20

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Dari persamaan ( 7.1.1 ) diatas kehilangan gaya prategang adalah :


ES = n fc
Dimana : fc adalah tegangan beton akibat gaya prategang Pi dilevel ( posisi )
kabel prategang. Jadi dalam hal ini besarnya tegangan beton pada level kabel
prategang adalah :

fc =

Pi
P .e. y
+ i
Ac
I

P P .e. y

fp = n i + i
I
Ac

( 7.1.3 )

Dimana : e = eksentrisitet gaya prategang terhadap cgc


I = momen inersia penampang
y = jarak dari serat dimana tegangan beton fc diukur dari cgc.
disini kebetulan y = e

Contoh Soal 3 :
Suatu balok pratekan dengan sistem pratarik ( pretension method ) ukuran 25/60 cm.
Dipasang kabel prategang dengan lintasan ( trace ) lurus dan eksentrisitas 10 cm dari
garis netral ( cgc ). Gaya prategang awal Pi = 30 ton, sedangkan mutu beton K 350
dan mutu kabel prategang G 270 dengan modu-lus elastisitas Esp = 2,03 x 106 kg/cm2.
Luas penampang kabel atau baja prategang Asp = 376 mm2.
Hitunglah kehilangan prategang akibat perpendekan elastis beton.
Penyelesaian :

Pi

cgc

Pi

Kabel Prategang

e
b
L

Gambar 012
Properti penampang beton :
Ac = b x h = 25 x 60 = 1.500 cm2
I = 112 b x h3 = 112 25 x 603 = 450.000 cm4
Mutu beton K 350 ( PBI 71 Contoh benda uji kubus 15 x 15 x 15 cm )
Jadi : fc = 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm2 ( benda uji silinder )

21

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Modulus elastisitas beton : Ec = 4.700

f c ' = 4.700

29,05 = 25.332 MPa

Ec = 253.320 kg/cm2
2.030.000
= 8
253.320
Tegangan tekan beton pada level ( posisi ) kabel prategang :
P
P .e. y
30.000 30.000 x10 x10
fc = i + i
=
+
Ac
I
1.500
450.000
n=

fc = 20 + 6,67 = 26,67 kg/cm2


Kehilangan prategangan akibat perpendekan elastis :
fp = n . fc = 8 x 26,67 = 213,36 kg/cm2
Jadi prosentase kehilangan prategangan :
213,36
ES =
x 100 % = 2,67 %
30.000
3,76

2. Sistem Pasca Tarik ( Post Tension )


Pada methode post tension ( pasca tarik ) yang hanya menggunakan kabel
tunggal tidak ada kehilangan prategang akibat perpendekan elastis beton, karena gaya prategang di-ukur setelah perpendekan elastis beton terjadi. Jika kabel
prategang menggunakan lebih dari satu kabel, maka kehilangan gaya
prategang ditentukan oleh kabel yang pertama ditarik dan memakai harga
setengahnya untuk mendapatkan harga rata-rata semua kabel.
Kehilangan gaya prategang pada methode post tension dapat ditentukan
dengan persamaan sebagai berikut :
fp = fc =
Dimana : fp
fc
Pi
Ac

=
=
=
=

n.Pi
Ac

( 7.1.4 )

kehilangan prategangan
tegangan pd penampang beton pada level baja prategang.
gaya prategang awal
luas penampang beton
E
n = sp
Ec

Es = modulus elastisitas kabel/baja prategang


Ec = modulus Elastisitas beton
Atau secara praktis untuk beton prategang dengan methode pasca
tarik kehi-langan gaya prategang dapat dihitung dengan persamaan :

fp = 0,5

ES
fc
EC

( 7.1.5 )
22

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Dimana : fp = kehilangan prategangan


fc = tegangan pada penampang beton pada level baja
prategang.
Es = modulus elastisitas kabel/baja prategang
Ec = modulus elastisitas beton

Contoh Soal 4
Suatu balok prategang dengan sistem pasca tarik ( post tension ) ukuran
penampang 400 x 600 mm. Kabel prategang terdiri dari 4 bh kabel prategang
yang dipasang secara sentris dengan lintasan lurus dengan luas penampang
kabel masing-masing Asp = 195 mm2. Kabel prategang ditarik satu persatu
dengan tegangan sebesar 1.035 N/mm2.
Modulus elastisitas beton Ec = 33.000 N/mm2 dan modulus elastisitas kabel
prategang Esp = 200.000 N/mm2.
Hitunglah kehilangan prategang akibat perpendekan elastis beton.
Penyelesaian :
Luas penampang beton Ac = 400 x 600 = 240.000 mm2
Esp
200.000
= 6,06
n=
=
Ec
33.000
Kehilangan prategang pada kabel 1
Ini disebabkan oleh gaya prategang pada ketiga kabel lainnya
Gaya prategang pada ke 3 kabel :
Pi = 3 x Asp x fpi = 3 x 195 x 1.035 = 605.475 N
Kehilangan prategang pada kabel 1 dapat dihitung dengan persa-maan ( 7.1.4 )
fp1 =

n.Pi
6,06 x605.475
=
= 15,29 N/mm2
Ac
240.000

Kehilangan prategang tendon 2


Kehilangan gaya prategang pada tendon 2 ini diakibat gaya prategang pada
kedua kabel pratengan yang ditarik kemudian.
Dengan cara yang sama seperti diatas dapat dihitung gaya prategang pada ke 2
tendon yang akan ditarik setelah tendon ke 2, yaitu :
Pi = 2 x 195 x 1.035 = 403.650 N
Kehilangan prategang pada kabel 2 :
fp2 =

6,06 x 403.650
= 10,19 N/mm2
240.000

23

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Kehilangan prategang tendon 3


Gaya prategang pada kabel ke 4 ( yang terakhir ditarik )
Pi = 1 x 195 x 1.035 = 201.825 N
fsp3 =

6,06 x 201.825
= 5,10 N/mm2
240.000

Kehilangan prategang tendon 4


Pada kabel yang ditarik terakhir tidak terjadi kehilangan prategang akibat
perpendekan elastis beton.
Jadi kehilangan gaya prategang rata-rata :
fp =

15,29 + 10,19 + 5,10 + 0


= 7,64 N/mm2
4

Jadi prosentase kehilangan prategang :


ES =

f p

f pi

x 100 % =

7,64
x 100 % = 0,74 %
1.035

Kehilangan gaya prategang rata-rata ini mendekati nya kehilangan gaya prategang pada tendon ke 1, yaitu :
x fp1 = x 15,29 = 7,65 N/mm2
Kalau dihitung dengan menggunakan persamaan ( 7.1.5 ), sebagai berikut.
Gaya prategang total Pi = 4 x 195 x 1.035 = 807.300 N
Jadi : fc =

Pi
807.300
=
= 3,36 N/mm2
AC
240.000

Jadi : fp = 0,5 x

ES
x fc = 0,5 x 6,06 x 3,36 = 10,18 MPa
EC

Presentase kehilangan prategangan : ES =

10,18
x 100 % = 0,98 %
1.035

Jika dibandingkan dengan hasil diatas, ternyata lebih besar.

24

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Contoh Soal 5 :
Suatu balok prategang dengan sistem Post Tension ukuran balok 30 x 60 cm
mutu beton K 350. Kabel prategang dengan mutu G 270 terdiri dari 3 buah
kabel dengan trace lurus dan dipasang dengan eksentrisitas e = 20 cm dari cgc.
Diameter kabel prategang 1/2, dan modulus elastisitas baja prategang
adalah Es = 2,00 x 106 kg/cm2.
Kabel ditarik satu persatu dengan prategangan awal sebesar 13.230 kg/cm2.
Hitunglah prosentasi kehilangan prategangan.
Penyelesaian :

0.600

Mutu beton K 350, jadi :


fc = 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm2
Properti penampang :
0.200

cgc

2
3

Kabel prategang
0.300

Ac = 30 x 60 = 1.800 cm2
I = 112 30 x 603 = 540.000 cm4
Ec = 4.700

29,05 = 25.332 MPa

Ec = 253.320 kg/cm2
n=

Es
2.000.000
= 7,90
=
Ec
253.320

Gambar 013
Sesuai dengan tabel dihalaman 14 diktat ini, maka untuk mutu G 270 dan
1/2 As = 98,71 mm2 ( untuk satu kabel )
Gaya pratekan awal ( untuk 1 kabel ) :
Pi = fpi x As = 13.230 x 0,9871 = 13.059 kg

Tegangan beton pada level/lokasi kabel :


P
P .e. y
13.059 13.059 x 20 x 20
fc = i + i
=
+
Ac
I
1.800
540.000

fc = 7,26 + 9,67 = 16,93 kg/cm2


Kabel no. 1 ditarik dan di-angkur
Tidak ada kehilangan prategangan akibat perpendekan elastis beton
Kabel no. 2 ditarik dan di-angkur
Kehilangan prategang pada kabel 1
fp1,2 = n . fc = 7,90 x 16,93 = 133,75 kg/cm2
Kehilangan prategang pada kabel 2 tidak ada.

25

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Kabel no. 3 ditarik dan di-angkur


Kehilangan prategang pada kabel 1
fp1,3 = n . fc = 7,90 x 16,93 = 133,75 kg/cm2
Kehilangan prategangan pada kabel 2
fp2,3 = n . fc = 7,90 x 16,93 = 133,75 kg/cm2
Pada kabel 3 tidak ada kehilangan prategangan akibat perpendekan elastis.
Total kehilangan prategangan :
Kabel no. 1 = 2 x 133,75 = 267,50 kg/cm2
Kabel no. 2
= 133,75 kg/cm2
Kabel no. 3
=
0,00 kg/cm2
Total = 401,25 kg/cm2
Kehilangan prategang rata-rata :
fsp = 13 x 401,25 = 133,75 kg/cm2
Prosentase kehilangan prategang :

ES =

. f sp

f pi

x 100 % =

133,75
x 100 % = 1,01 %
13.230

Dapat pula penyelesaian dilakukan langsung dengan persamaan ( 7.1.5 )


Gaya prategang awal total adalah :
Pi = 3 x Asp x fpi = 3 x 0,9871 x 13.230 = 39.178 kg
Tegangan beton akibat Pi pada posisi/level kabel prategang :

fci =

Pi
P .e. y
39.178 39.178 x 20 x 20
i
=
+
= 50,79 kg/cm2
Ac
I
1.800
540.000

Kehilangan prategang :
E
fp = 0,50 x s fc = 0,50 x 7.90 x 50,79 = 200,62 kg/cm2
Ec
Prosentase kehilangan prategang :
f p
200,62
ES =
x 100 % =
x 100 % = 1,52 %
f pi
13.230
Kesimpulan : Sama dengan pada contoh soal 4, kalau kehilangan prategangan
dihitung dengan persamaan ( 7.1.5 ) hasilnya akan selalu lebih besar.

26

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Sistim Pasca Tarik dengan kabel yang lintasannya melengkung
Pada umumnya pada konstruksi beton prategang dengan sistem pasca tarik ( post
tension method ) lintasan kabel prategangnya tidak lurus akan tetapi melengkung
seperti pada gambar 014 dibawah ini.

1
1

A
Kabel 3

/2 L

/2 L

SECTION D
f C rata2

f CA

eb

cgc

Kabel 2

ea
h

Kabel 1

b
SECTION A & B

f CD

Teg. Beton pd saat kabel ditarik

Gambar 014
Pada saat kabel 1 ditarik dan diangkur tidak terjadi kehilangan prategang.
Pada saat kabel 2 ditarik, terjadi kehilangan gaya prategang pada :
Kabel 1 akibat gaya prategang pada kabel 2.
Tegangan beton pada level kabel 1 akibat gaya prategang pada kabel 2

P .e .e
Pi
i b b
Ac
I

Ditengah bentang ( D ) :

fCD1 =

Ditumpuan ( A )

fCA1 =

P
P .e .(ea )
Pi
+ i b
= i
Ac
I
Ac

Ditumpuan A eksentrisitas kabel 2 eb = 0 cm


Tegangan beton akibat gaya prategang pada posisi kabel 1 rata-rata :

fc1 = [ fCA1 +

( fCD1 fCA1 ) ] karena lintasan kabel Parabola.

Sehingga kehilangan prategang pada kabel 1 :


fp1,2 = n fc1
Dimana : Pi
= gaya prategang awal pada kabel 2
eb
= eksentisitas kabel 1 dan 2 ditengah-tengah bentangan
ea
= eksentrisitas kabel 1 ditumpuan A atau B
fCD1 = tegangan beton pada level kabel 1 akibat gaya prategang pada kabel 2 ditengah-tengah bentangan.
fCA1 = tegangan beton pada level kabel 1 akibat gaya prategang pada kabel 2 ditumpuan A.
fc1
= tegangan beton rata-rata pada level kabel 1 akibat gaya
prategang dikabel 2.
fp1,2 = kehilangan prategang kabel 1 akibat gaya pratekan pada
kabel 2.
27

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Kabel 2 tidak ada kehilangan prategang, akibat gaya prategang pada kabel 2.
Pada saat kabel 3 ditarik dan diangkur, terjadi kehilangan prategang pada :
Kabel 1 akibat gaya prategang pada kabel 3
Dengan cara yang sama seperti dijelaskan diatas :
Sehingga kehilangan prategang pada kabel 1 :
fp1,3 = n fc1
Kabel 2 akibat gaya prategang pada kabel 3
Tegangan beton pada level kabel 2 akibat gaya prategang pada kabel 3.
Ditengah bentang ( D ) :

fCD2 =

P .e .e
Pi
i b b
Ac
I

Ditumpuan ( A )

fCA2 =

Pi
Eksetrisitas kabel 2 ditumpuan 0
Ac

Tegangan beton akibat gaya prategang pada posisi kabel 2 rata-rata :

fc2 = [ fCA2 +

( fCD2 fCA2 ) ]

karena lintasan kabel Parabola.

Sehingga kehilangan prategang pada kabel 2 :


fp2,3 = n fc2
Kabel 3 tidak ada kehilangan prategangan akibat gaya prategang pada kabel 3
Jadi total kehilangan prategang adalah :
fp = fp1,2 + fp1,3 + fp2,3
Dimana : fp = kehilangan prategang total.
fp1,2 = kehilangan prategang pada kabel 1 akibat gaya prategang
pada kabel 2.
fp1,3 = kehilangan prategang pada kabel 1 akibat gaya prategang
pada kabel 3.
fp2,3 = kehilangan prategang pada kabel 2 akibat gaya prategang
pada kabel 3.

28

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 6
Suatu konstruksi balok beton prategang dengan bentangan L = 10 m dan ukuran balok
b = 20 cm , h = 50 cm. Mutu beton K 350, sedangkan baja prategang mutu G 270 dan
methode prategang menggunakan pasca tarik ( post tension ). Tiap kabel terdiri dari 2
strand 1/2.
Lintasan ( trace ) kabel parabola, dengan posisi kabel sebagai berikut :
Ditengah-tengah bentangan
Kabel 1 dari serat/sisi bawah balok 15 cm
Kabel 2 dari serat/sisi bawah balok 10 cm
Kabel 3 dari serat/sisi bawah balok 5 cm
Ditumpuan balok
Kabel 1 dari serat/sisi bawah balok 35 cm
Kabel 2 dari serat/sisi bawah balok 25 cm
Kabel 3 dari serat/sisi bawah balok 5 cm
Hitunglah % ( presentase ) kehilangan prategang pada masing-masing kabel bila kabel
distressing secara bergantian mulai dari kabel 1,2 dan 3
Penyelesaian :

Kabel 1
Kabel 2
Kabel 3
cgc

C
1/2 L = 5.000

1/2 L = 5.000

1
2

1
2
3

SECTION C

SECTION A & B
Gambar 015

Luas penampang beton : Ac = b x h = 20 x 50 = 1.000 cm2


Momen inersia

I =

1
12

b h3 =

1
12

20 x 503 = 208.333 cm4


29

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Mutu beton K 350 fc = 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm2
Modulus elastisitas beton Ec = 4.700

f c ' = 4.700

29,05 = 25.332 MPa

Setiap kabel terdiri dari 2 strand 1/2, dari tabel halaman 14 untuk Grade 270 luas
penampang 1 ( satu ) kabel 98,71 mm2.
Jadi luas penampang kabel : Asp = 2 x 0,9871 = 1,974 cm2
Tegangan tarik batas untuk Grade 270 fpu = 18.600 kg/cm2
Sesuai dengan SNI 03 2847 2002 pasal 20.5 dan SNI T 12 2004 pasal 4.4.3.2 maka
tegangan tarik maksimum pada saat pengangkuran 0,70 x fpu
Jadi prategangan awal yang dapat diberikan pada kabel :
fp = 0,70 x 18.600 = 13.020 kg/cm2
Pi = Asp x fp = 1,974 x 13.020 = 25.701 kg
n=

Esp
Ec

2.000.000
= 7,9
253.320

Kabel 1 ditarik/distressing
Tidak ada kehilangan prategang pada kabel 1
Kabel 2 ditarik/distressing
Kehilangan prategang pada kabel 1
Ditengah bentang ( Titik C )
Tegangan beton pada level kabel 1 ditengah-tengah bentang ( Titik C )
fC1,2 =

Pi
P .e . y
25.701 25.701x(25 10) x(25 15)
i 2 1 =
= 44,21 kg/cm2

Ac
I
1.000
208.333

Ditumpuan A
Tegangan beton pada level kabel 1 ditumpuan A

fA1,2 =

Pi
P .e . y
25.701 25.701x(0) x(35 25)
+ i 2 1 =
+
= 24,70 kg/cm2
Ac
I
1.000
208.333

Tegangan beton rata-rata : fc1,2 = fA1,2 +

fc1,2 = 24,70 +

3
2

( fC1,2 fA1,2 )
3

( 44,21 24,70 ) = 37,71 kg/cm2

Kehilangan prategang pada kabel 1 akibat stressing kabel 2 :


fp1,2 = n x fc1,2 = 7,9 x 37,71 = 297,91 kg/cm2

Kehilangan prategang pada kabel 2


Tidak ada kehilangan prategang pada kabel 2 akibat stressing pada kabel 2
Kabel 3 ditarik/distressing
Kehilangan prategang pada kabel 1
Ditengah bentang ( Titik C )
fC1,3 =

Pi
P .e . y
25.701 25.701x(25 5) x(25 15)
- i 3 1 =
= 50,37 kg/cm2
Ac
I
1.000
208.333
30

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Ditumpuan A

P .e . y
Pi
25.701 25.701x(25 5) x(35 25)
i 3 1 =
= 1,03 kg/cm2

Ac
I
1.000
208.333

fA1,3 =

Tegangan beton rata-rata : fc1,3 = fA1,3 +

fc1,3 = 1,03 +

3
3

( fC1,3 fA1,3 )
( 50,37 1,03 ) = 33,92 kg/cm2

Kehilangan prategangan pada kabel 1 akibat stressing kabel 3


fp1,3 = n . fc1,3 = 7,9 x 33,92 = 267,97 kg/cm2

Kehilangan prategang pada kabel 2


Ditengah bentang ( Titik C )
fC2,3 =

Pi
P .e . y
25.701 25.701x(25 5) x(25 10)
+ i 3 2 =
= 62,71 kg/cm2
+
Ac
I
1.000
208.333

Ditumpuan A

fA2,3 =

Pi
Ac

Pi .e3 . y2
25.701 25.701x(25 5)(0)
+
= 25,70 kg/cm2
=
I
1.000
28.333

Tegangan beton rata-rata : fc2,3 = fA2,3 +

fc2,3 = 25,70 +

3
2

( fC2,3 fA2,3 )
3

( 62,71 25,70 ) = 50,37 kg/cm2

Kehilangan prategangan pada kabel 2 akibat stressing kabel 3


fp2,3 = n . fc2,3 = 7,9 x 50,37 = 397,92 kg/cm2

Kehilangan prategang pada kabel 3


Tidak ada kehilangan prategang pada kabel 3 akibat stressing pada kabel 3
Jadi total kehilangan prategang pada masing-masing kabel :
Kabel 1 : fp1 = fp1,2 + fp1,3 = 297,91 + 267,97 = 565,88 kg/cm2
Kabel 2 : fp2 = 397,92 kg/cm2
Kabel 3 : fp3 = 0
Prosentase kehilangan prategang :
ES1 =
ES2 =

f p1

fp
f p 2

fp

x 100 % =

x 100 % =

565,88
x 100 % = 4,35 %
13.020
397,92
x 100 % = 3,06 %
13.020

31

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
7.2. Geseran ( Friksi ) sepanjang kelengkungan
Pada struktur beton prategang dengan tendon yang dipasang melengkung ada gesekan antara sistem penarik ( jacking ) dan angkur, sehingga tegangan yang ada pada tendon atau kabel prategang sehungga akan lebih kecil dari pada bacaan pada alat
baca tegangan ( pressure gauge ).
Kehilangan prategang akibat gesekan pada tendon akan sangat dipengaruhi oleh :
 Efek gerakan/goyangan dari selongsong ( wobble ) kabel prategang, untuk
itu dipergunakan koefisien wobble K .
 Kelengkungan tendon/kabel prategang, untuk itu digunakan koefisien
geseran .
Untuk tendon type 7 wire strand pada selongsong yang fleksibel, harga koefisien
wobble K = 0,0016 ~ 0.0066 dan koefisien kelengkungan = 0,15 0,25
Kita tinjau gambar 016 dibawah ini.

Ujung pendongkrakan

P1
1

P1

P2

P1

P1

P2
Tekanan Normal Akibat
Gaya Prategang

Kehilangan Gaya Prategang


Akibat Gesekan P1

Gambar 016
Kehilangan Gaya Prategang total akibat geseran disepanjang tendon yang dipasang
melengkung sepanjang titik 1 dan 2 adalah :
P1 P2 = P1 =
Jadi :

P1 P2 = P1

L
R

( 7.2.1 )

L
R

Untuk pengaruh gerakan/goyangan selongsong ( wobble ) seperti yang telah


dijelaskan di-atas, disubstitusikan : K L = . pada persamaan ( 7.2.1 ), sehingga
didapat :
P1 P2 = K L P1

( 7.2.2 )

32

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Persamaan ( 7.2.1 ) adalah kehilangan gaya prategang akibat geseran disepanjang


tendon, sedangkan peramaan ( 7.2.2 ) adalah kehilangan gaya prategang akibat pengaruh gerakan/goyangan dari selongsong kabel prategang ( cable duct ).
Jadi kehilangan gaya prategang total sepanjang kabel akibat lenkungan kabel
adalah :
P1 P2 = K L P1 P1

P1 P2
=KL
P1
Dimana :

P1
P2
L

=
=
=
=
=
=

( 7.2.3 )

gaya prategang dititik 1


gaya prategang dititik 2
panjang kabel prategang dari titik 1 ke titik 2
sudut pada tendon
koefisien geseran
koefisien wobble

Tabel koefisien Wobble ( K ) dan Koefisien Friksi ( )


Jenis Baja

Koef. Wobble

Koef. Friksi

Prategang

K ( 1/m )

Tendon Kawat

0,0033 0,0049

()
0,15 - 0,25

0.0003 0,0020

0,08 - 0,30

Batang Kekuatan
Tinggi

Tendon tanpa
Lekatan

Strand 7 Kawat

0,0016 0,0066

0,15 0,25

Mastic

Tendon Kawat

0,0033 0,0066

0,05 0,15

Coated

Strand 7 Kawat

0,0033 0,0066

0,05 0,15

Pre
greassed

Tendon Kawat

0,0010 0,0066

0,05 0,15

Strand 7 Kawat

0,0010 0,0066

0,05 0,15

Menurut SNI 03 2874 2002 kehilangan gaya prategang akibat geseran pada
tendon post tension ( pasca tarik ) harus dihitung dengan rumus :
Ps = Px e ( K Lx + )

( 7.2.4 )

Jika nilai ( K Lx + ) < 0,3 maka kehilangan gaya prategang akibat geseran
pada tendon dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini :
Ps = Px ( 1 + K Lx + )

( 7.2.5 )

Dimana : Ps = gaya prategang diujung angkur


Px = gaya prategang pada titik yang ditinjau.
K = koefisien wobble

33
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Lx
e

=
=
=
=

koefisien geseran akibat kelengkungan kabel.


sudut kemiringan tendon
panjang tendon dari angkur sampai titik yang ditinjau.
2,7183

Koefisien friksi tendon pasca tarik untuk persamaan ( 7.2.4 ) dan ( 7.2.5 ) dapat
digunakan Tabel Koefisien Wobble dan Koefisien Friksi diatas.
Sedangkan menurut ACI 318, kehilangan gaya prategang akibat gesekan pada
tendon dapat dihitung dengan persamaan :
Ps = Px . e ( t + p Lpa )

( 7.2.6 )

Dimana : Ps =
Px =
Lpa =
t =

gaya prategang di-ujung angkur


gaya prategang pada titik yang ditinjau
jarak dari tendon yang ditarik
jumlah nilai absolut pada semua deviasi angular dari tendon sepanjang Lpa dalam radian.
p = deviasi angular atau dalam wobble, nilainya tergantung
pada diameter selongsong ( ds ).
Untuk sbenelongsong berisi strand & mempunyai diameter
dalam :
ds 50 mm
0,016 p 0,024
50 mm < ds 90 mm
0,012 p 0,016
90 mm < ds 140 mm 0,008 p 0,012
Selongsong metal datar 0,016 p 0,024
Batang yang diberi gemuk ( greased ) dan dibungkus
p = 0,008
= koefisien geseran akibat kelengkungan, dengan nilai :
0,2 untuk strand dengan selongsong besi yang mengkilap
dan dilapisi zinc.
0,15 untuk strand yang diberi gemuk dan dibungkus.
0,5 untuk strand pada selongsong beton yan tidak dibentuk ( unlined ).

34

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

0.60

0.60

Contoh Soal 7
Suatu komponen struktur beton prategang dengan bentangan 18,30 m diberi gaya
prategangan dengan kabel/tendon yang dipasang melengkung seperti gambar dibawah ini.

B
5.35

C
3.80

3.80

5.35

18.30

Tentukan kehilangan gaya prategang total akibat geseran pada tendon, jika
koefisien geseran = 0,4 dan koefisien wobble K = 0,0026 per m.
Penyelesaian :
Segmen A B ( Tendon lurus )
Tegangan dititik A : PA = 1,0
L = 5,35 m K L = 0,0026 x 5,35 = 0,014
PB PA
= K L = 0,014
PA
Kehilangan gaya prategang :
PB 1 = 0,014
Tegangan dititik B : PB = 1 0,014 = 0,986
Segmen B C ( Tendon melengkung )
L = 2 x 3,80 = 7,60 m
0,60
1 =
= 0,066 = 2 x 1 = 2 x 0,066 = 0,132
5,35 + 3,80

PC PB
= KL
PB
Kehilangan gaya prategang :
PC PB = ( K L + ) x PB
= ( 0,0026 x 7,60 + 0,4 x 0,132 ) x 0,986 = 0,072
Tegangan dititik C : PC = PB 0,072 = 0,986 0,072 = 0,914

35

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Segmen C D ( Tendon lurus )


L = 5,35 m K L = 0,0026 x 5,35 = 0,014
PD PC
= KL = 0,014
PC
Kehilangan gaya prategang :
PD PC = 0,014 x 0,914 = 0,013
Tegangan dititik D : PD = 0,914 0,013 = 0,901
Jadi kehilangan prategang total dari titik A sampai dengan titik D :
PA PD = 1 0,901 = 0,099 atau

PA PD
0,099
x 100 % =
x 100 % = 9,9 %
PA
1
Cara penyelesaian diatas dihitung segmen per segmen, tetapi dapat pula dihitung
sekaligus seperti dibawah ini :
L = 5,35 + 3,80 + 3,80 + 5,35 = 18,3 m
= 0,132 ( sudah dihitung diatas )
Dengan menggunakan persamaan ( 7.2.3 )
PD PA
= K L = 0,0026 x 18,3 0,4 x 0,132 = 0,10 atau 10 %
PA

36
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

TENDON : 10 1/2" STRAND

0,2794

R = 103,504

Contoh Soal 8
Suatu balok beton prategang pasca tarik dengan bentangan L = 15,20 m. Tendon
terdiri dari 10 Baja ASTM A 416 Grade 270 ( lihat tabel halaman 14 ). Lintasan kabel berbentuk lingkaran R = 42 m dan eksentrisitas ditengah tengah bentangan
e = 27,94 cm, seperti sketsa dibawah ini.
Gaya prategang awal Pi = 1.378 kN

Pi

Pi

cgc

C
B

A
1/2 L = 7,600

1/2 L = 7,600

Hitunglah kehilangan prategang akibat gesekan tendon


Penyelesaian :
Asp = 10 x 98,71 = 987,1 mm2
Prategang awal : fi =

Pi
1.378.000
= 1.396 MPa
=
Asp
987,1

1 x15, 20
L
= 2 arc sin 2
= 8,4217 derajat
R
103,504
8,4217
8,4217
=
x2=
x 2 = 0,1470 rad
360
360

= 2 x arc sin

Dari tabel pada halaman 33 dapat diambil


Koefisien wobble K = 0,0066
Koefisien friksi
= 0,20
Sehingga kehilangan prategang akibat friksi sepanjang tendon :
fPS = fpi ( + K L ) = 1.396 ( 0,20 x 0,1470 + 0,0066 x 15,2 = 181,09 Mpa
Prosentase kehilangan prategang :
f PS
181,09
x 100 % =
x 100 % = 12,97 %
f pi
1.396

37

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
7.3. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Slip di Pengangkuran
Hal ini terjadi pada saat baja/kabel prategang dilepas dari mesin penarik ( dongkrak )
kemudian kabel ditahan oleh baji dipengangkuran dan gaya prategang ditransfer dari
mesin penarik ke angkur. Besarnya slip pada pengankuran ini tergantung pada type
baji dan tegangan pada kabel prategang ( tendon ). Slip dipengangkuran itu rata-rata
biasanya mencapai 2,5 mm.
Besarnya Perpanjangan Total Tendon :
fC
L
ES

L=

( 7.3.1 a )

Kehilangan gaya prategang akibat slip :


Dimana : ANC:
L :
fc :
ES :
L :
Srata2 :

ANC =

S Rata Rata
x 100 %
L

( 7.3.1 b )

prosentasi kehilangan gaya prategang akibat slip diangkur.


deformasi pada angkur
tegangan pada beton
modulus elastisitas baja/kabel prategang
panjang kabel.
harga rata-rata slip diangkur

Kehilangan gaya prategang akibat pemindahan gaya dapat digambarkan seperti


gambar diagram dibawah ini :
P

Ps
Px - Ps

B
Ps(X)

1/2

Ps
ges
e

Px A

L
1/2 X
X

Diagram kehilangan Tegangan


Gambar 017
Garis ABC adalah tegangan pada baja prategang ( tendon ) sebelum pengangkuran
dilaksanakan. Garis DB adalah tegangan pada tendon setelah pengangkuran tendon
dilaksanakan.
38

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Disepanjang bentangan L terjadi penurunan tegangan pada ujung pengangkuran dan
gaya geser berubah arah pada suatu titik yang berjarak X dari ujung pengangkuran.
Karena besarnya gaya geser yang berbalik arah ini tergantung pada koefisien geseran
yang sama dengan koefisien geseran awal, maka kemiringan garis DB akan sama
dengan garis AB akan tetapi arahnya berlawanan.
Perpendekan total tendon sampai X adalah sama dengan panjang penyetelan angker
( anchorage set ) d, sehingga kehilangan tegangan pada ujung penarikan kabel dapat
dituliskan sebagai berikut :
P s = 2 Ep

d
X

( 7.3.2 )

Dimana : Ps : Gaya prategang pada ujung angkur


Ps = Px . e ( + K Lx )
Px : Tegangan pada baja prategang pada ujung pengangkuran.
L : Panjang bentang, atau jarak yang ditentukan sepanjang kabel
( dengan asumsi kabel ditarik dari satu sisi saja ).
K : Koefisien wobble
: Koefisien geseran tendon
Lx : Panjang tendon dari angkur sampai titik yang ditinjau.
d : Penyetelan angkur ( Anchorage Set )
Ep : Modulus Elastisitas Baja Prategang
Nilai X tergantung dari tegangan pada tendon akibat gaya penarikan tendon Px dan
karateristik gesekan dari tendon ( ) yang didapat pada tabel 7.3. dibawah ini :
Tabel 7.3. Nilai dan X untuk Berbagai Profil Tendon ( Naaman, 1982 )

Linear

X jika kurang dari L

= K X

Ps
Ps

X=

Ep d
K Px

Ps

2a

Parabolis

Melingkar

+ K X

Gambar

Profil Tendon

+K

X=

X =

+K

Ep d

(2 a/b +K ) Px
2

Ep d
( /R + K ) P x

Px

=
z

Bentuk Lain

( ZL ) P1

X=

Ep d
( Z/L )

L
X

Kehilangan tegangan sepanjang L :

Z = Px P s ( L )
39

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 9
Tentukan kehilangan tegangan akibat slip pada angkur, jika panjang tendon L = 3 m,
tegangan beton pada penampang fc = 1.035 N/mm2. Modulus elastisitas baja prategang Es = 200.000 N/mm2 dan harga rata-rata slip adalah 2,5 mm.
Penyelesaian :
Perpanjangan kabel tendon total :
f
1.035
L= C L=
x 3.000 = 15,53 mm
ES
200.000
Jadi prosentase kehilangan gaya prategang akibat slip diangkur :
2,5
x 100 % = 16,10 %
ANC =
15,53
Contoh Soal 10
Suatu balok prategang sistem post-tension dengan lintasan kabel parabolis seperti
gambar sketsa dibawah ini.

0.45

TENDON PARABOLIK

7,50

7,50

Tegangan tendon pada ujung pengangkuran Px = 1.200 N/mm2 . Modulus elastisitas


baja prategang Ep = 195.000 MPa, koefisien wobble K = 0,0025/m, koefisien geseran
tendon = 0,15 / rad. Jika anchorage set d = 5,0 mm, maka :
a. Tentukan nilai X dan gaya prategang pada ujung angkur ( Ps )
b. Tentukan nilai tegangan di pengangkuran.
c. Gambar diagram tegangan sebelum dan sesudah pengangkuran.
Penyelesaian :
Pada gambar diatas dapat diketahui : a = 0,45 m dan b = 7,50 m
Penyetelan angkur ( anchorage set ) : d = 5,00 mm = 0,005 m
Dari tabel 7.3 untuk untuk profil tendon parabolik diperoleh :
=

2 .a
2 x0,15 x0,45
+K=
+ 0,0025 = 0,0049
2
b
7,50 2

Px = 1.200 N/mm2 = 1,2 x 109 N/m2


Ep = 195.000 N/mm2 = 1,95 x 1011 N/m2

40
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Dari tabel 7.3 diatas, untuk profil tendon parabolik diperoleh
X=

E p .d
2 .a

2 + K .PX
b

E p .d

.PX

1,95 x1011 x0,005


= 12,88 m
0,0049 x1,2 x109

Dari persamaan 7.3.2, diperoleh :


Gaya prategang di ujung angkur :
PS = 2 Ep

d
0,005
= 151,4 MPa
= 2 x 1,95 x 1011 x
X
12,88

Px Ps = 1.200 151,4 = 1.048,6 MPa

A
Ps = 151,4

P x = 1.200

Px - Ps = 1.048,6

Ps

Ps ( X )

1/2 Ps

Ges
e

Z = 151,4 MPa
r

X = 12,88 m

L = 15 m

X
2

Diagram diatas adalah diagram kehilangan tegangan akibat slip diangkur pada saat
pemindahan ( transfer ) gaya prategang.

41

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
7.4. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Creep ( Rangkak )
Kehilangan Gaya Prategang yang diakibatkan oleh Creep ( Rangkak ) dari beton ini
merupakan salah satu kehilangan gaya prategang yang tergantung pada waktu ( time
dependent loss of stress ) yang diakibatkan oleh proses penuaan dari beton selama
pemakaian.
Ada 2 cara dalam menghitung kehilangan gaya prategang akibat creep ( rangkak )
beton ini, yaitu :
7.4.1.

Dengan methode regangan rangkak batas.


Besarnya kehilangan tegangan pada baja prategang akibat creep ( rangkak )
dapat ditentukan dengan persamaan :
fCR = ce . fc . Es
Dimana : fCR
ce
fc
Es

7.4.2.

:
:
:
:

( 7.4.1 )

Kehilangan tegangan akibat creep ( rangkak )


Regangan elastis
Tegangan beton pada posisi baja prategang.
Modulus elastisitas baja prategang.

Dengan mothode koefisien rangkak


Besarnya kehilangan tegangan pada baja prategang akibat creep ( rangkak )
dapat ditentukan dengan persamaan :
f CR = cr . Es =

cr
ce

fc
E
Es = fc s = fc n
Ec
Ec
cr = . ce = .
n=

Dimana :
cr
ce
Ec
Es
fc
n

:
:
:
:
:
:
:

( 7.4.2 )

fc
Ec

Es
Ec

koefisien rangkak
regangan akibat rangkak
regangan elastis
modulus elastisitas beton
modulus elastisitas baja prategang
tegangan beton pada posisi/level baja prategang
angka ratio modular

Creep ( Rangkak ) pada beton ini terjadi karena deformasi akibat adanya tegangan pada beton sebagai fungsi dari waktu. Pada struktur beton prategang
creep ( rangkak ) mengakibatkan berkurangnya tegangan pada penampang.

42

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Untuk struktur dengan lekatan yang baik antara tendon dan beton ( bonded
members ) kehilangan tegangan akibat rangkak dapat diperhitungkan dengan persamaan :
fCR = Kcr
Dimana :

Es
( fci fcd )
Ec

( 7.4.3 )

fCR : kehilangan prategang akibat creep ( rangkak )


Kcr
: koefisien rangkak, yang besarnya :
 pratarik ( pretension )
: 2,0
 pasca tarik ( post-tension ) : 1,6
Es
: modulus elastisitas baja prategang
Ec
: modulus elastisitas beton
fci
: tegangan beton pada
posisi/level
baja prategang
sesaat
setelah transfer gaya prategang.
fcd : tegangan beton pada pusat berat tendon akibat beban
mati ( dead load ).

Untuk struktur dimana tidak terjadi lekatan yang baik antara tendon dan beton ( unbonded members ), besarnya kehilangan gaya prategang dapat ditentukan dengan persamaan :
fCR = Kcr

Es
fcp
Ec

( 7.4.4 )

Dimana : fcp : tegangan tekan beton rata-rata pada pusat berat tendon
Kcr : koefisien rangkak, yang besarnya :
 pratarik ( pretension )
: 2,0
 pasca tarik ( post-tension ) : 1,6
Es : modulus elastisitas baja prategang
Ec : modulus elastisitas beton

43

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Contoh Soal 11
Suatu balok beton prategang dimensi 250 x 400 mm dengan lintasan tendon berbentuk
parabola. Sketsa penampang balok ditengah-tengah bentangan seperti gambar dibawah
ini.

200

Modulus elastisitas beton :


Ec = 33.330 MPa

75

200

TENDON 5 Dia 12,7 mm

250

Modulus elastisitas baja prategang :


Es = 200.000 MPa
Tendon terdiri dari 5 buah kawat,
masing-masing dg. Diameter 12,7 mm
Posisi tendon ditengah-tengah bentang
seperti gambar disamping.

Tegangan tarik pada tendon akibat gaya prategang awal fi = 1.200 N/mm2. Regangan
elastis ce = 35 x 10 6 dan kosfisien rangkak = 1,6 maka :
Hitunglah kehilangan gaya prategang akibat creep ( rangkak ) dengan cara regangan
rangkak batas dan dengan cara koefisien rangkak.
Penyelesaian :
Perhitungan section properties penampang
Luas penampang beton : Ac = 250 x 400 = 100.000 mm2
Momen inersia
: I = 112 250 x 4003 = 1,33 x 109 mm4
Section Modulus
: W = 1 6 250 x 4002 = 6,67 x 106 mm3
Eksentrisitas tendon
: e = x 400 75 = 125 mm
Luas penampang total kabel prategang : Ap = 5 x 12,72 = 633,4 mm2
Gaya prategang awal :
Pi = Ap x fi = 633,4 x 1.200 = 760.080 N
Jadi tegangan beton ditengah-tengah bentangan balok
P
P .e. y
760.080
760.080 x125 x125
fc = i + i
=
+
= 7,60 + 8,93 = 16,53 N/mm2
Ac
I
100.000
1,33 x10 9
Perhitungan dengan regangan rangkak batas
Dari persamaan ( 7.4.1 ), kehilangan tegangan pada baja prategang :
fCR = ce . fc . Es = 35 x 10-6 x 16,53 x 200.000 = 115,71 N/mm2
Jadi prosentase kehilangan prategang terhadap tegangan awal tendon :
CR =

f CR
115,71
x 100 % =
x 100 % = 9,64 %
fi
1.200

44

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Perhitungan dengan koefisien rangkak


Dari persamaan ( 7.4.2 ) diatas, kehilangan tegangan pada baja prategang :
Es
200.000
= 1,6 x 16,53 x
= 158,70 N/mm2
Ec
33.330
Jadi prosentase kehilangan tegangan pada baja prategang :
fCR = fc

CR =

f CR
158,70
x 100 % =
fi
1.200

x 100 % = 13,23 %

Contoh 12
Suatu simple beam prategang dengan sistem post tension bentangan 19,80 m.
Dimensi penampang ditengah-tengah bentangan seperti sketsa dibawah ini.

400

100

600

TENDON PRATEGANG

Beban mati ( Dead Load ) : 6,9 kN/m


dan beban mati tambahan : 10,6 kN/m
Balok tersebut diberi gaya prategang
sebesar 2.758 kN.
Modulus elastisitas baja prategang :
Es = 189.750 N/mm2
Modulus elastisitas beton :
Ec = 30.290 N/mm2

Tegangan tarik batas ( ultime tensile stress ) kabel prategang fpu = 1.862 N/mm2
Kosfisien rangkak ( creep coefficient ) Kcr = 1,6
Hitunglah prosentase kehilangan tegangan pada baja pratrgang akibat rangkak.
Penyelesaian :
Section Properties :
A = 400 x 600 = 240.000 mm2
I = 112 x 400 x 6003 = 7,20 x 109 mm4
W =

x 400 x 6002 = 24 x 106 mm3

Eksentrisitas tendon ditengh bentang : e = x 600 100 = 200 mm


Kita ambil tegangan awal kabel prategang 75 % dari tegangan tarik batas prategang,
jadi :
fsi = 75 % x fpu = 75 % x 1.862 = 1.396,50 N/mm2
Momen akibat beban mati ( dead load ) :
Mg = 18 x 6,9 x 19,802 = 338,13 kNm
Momen akibat beban mati tambahan :
Ms = 18 x 11,6 x 19,802 = 568,46 kNm
45

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Tegangan beton pada pusat baja prategang ( tendon ) akibat gaya prategang :
TEKAN

P.e
W

Mg
W
TARIK

TEKAN

100

P
P.e 2
fcp =
+
A
W .y
fcp =

P/A

TEKAN

TARIK

600

neutral axis

M g. e
W. y

P.e
W.y

DIAGRAM TEGANGAN

DIAGRAM TEGANGAN

AKIBAT GAYA PRATEGANG

AKIBAT DEAD LOAD

lihat diagram tegangan diatas.

2.758
2.758 x 200 2
+
= 1,15 x 10-2 + 1,53 x 10-2 = 2,68 x 10-2 kN/mm2
240.000
24 x10 6 x300

fcp = 26,8 N/mm2 ( tegangan tekan )


Tegangan beton pada pusat tendon akibat beban mati ( Dead Load )
fg =

M g .e
W .y

338.130 x 200
= 9,39 x 10-3 kN/mm2 = 9,4 N/mm2 ( tegangan tarik )
6
24 x10 x300

Jadi tegangan beton di pusat tendon pada saat transfer gaya prategang :
fci = fcp fg = 26,8 9,4 = 17,4 N/mm2
Tegangan beton di pusat tendon akibat beban mati tambahan :
fcd =

M S .e
( ingat rumusnya sama dengan untuk Mg )
W .y

fcd =

568.458 x 200
= 1,58 x 10-2 kN/mm2 = 15,80 N/mm2
6
24 x10 x300

Kehilangan tegangan pada tendon akibat rangkak dapat dihitung dengan persamaan
( 7.4.3 ), diperoleh :
fCR = Kcr

Es
189.750
( fci fcd ) = 1,6
( 17,40 15,80 ) = 16,04 N/mm2
Ec
30,290

Jadi presentase kehilangan tegangan pada tendon adalah:


CR =

f CR
16,04
x 100 % =
x 100 % = 1,15 %
f si
1.396,50
46

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

7.5. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Penyusutan Beton


Seperti telah dipelajari dalam Beton Teknologi, penyusutan beton dipengaruhi oleh :
 Rasio antara voluma beton dan luas permukaan beton.
 Kelembaban relatif waktu antara akhir pengecoran dan pemberian gaya
prategang.
Kehilangan tegangan akibat penyusutan beton dapat dihitung dengan persamaan :
fSH = cs . Es

( 7.5.1 )

Dimana : fSH : kehilangan tegangan akibat penyusutan beton


Es : modulus elastisitas baja prategang
cs : regangan susut sisa total beton
Untuk pra-tarik ( pre-tension )
cs = 300 x 10-6
Untuk pasca tarik ( post-tension )
cs =

200 x10 6
log10 (t + 2)

( 7.5.1a )

Dimana t adalah usia beton ( hari ) pada waktu transfer gaya


Kehilangan tegangan akibat penyusutan beton dapat pula dihitung dengan persamaan
fSH = sh . Ksh . Es

( 7.5.2 )

Dimana : fSH : Kehilangan tegangan pada tendon akibat penyusutan beton


Es
: Modulus elastisitas baja prategang
sh
: Susut efektif yang dapat dicari dari persamaan berikut ini :
V

sh = 8,2 x 10-6 1 0,06 ( 100 RH )


S

V
S
RH
Ksh

:
:
:
:

( 7.5.3 )

Volune beton dari suatu komponen struktur beton prategang


Luas permukaan dari komponen struktur.beton prategang
Kelembaban udara relatif
Koefisien penyusutan, harganya ditentukan terhadap waktu antara
Akhir pengecoran dan saat pemberian gaya prategang, dan dapat diPergunakan angka-angka dalam tabel dibawah ini.
Tabel Koefisien Susut Ksh

Selisih waktu antara pengeciran dan


Prategangan ( hari )
Ksh

10

20

30

60

0.92

0.85

0.80

0.77

0.73

0.64

0.58

0.45

47

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 13
Suatu komponen struktur berupa balok beton prategang. Gaya prategangan diberikan
setelah 48 jam setelah pengecoran beton. Kelembaban udara relatif 75 % dan ratio
voluma terhadap luas permukaan V/S = 3. Tegangan tarik batas ( ultimate tensile
stress ) baja prategang fpu = 1.862 N/mm2 dan modulus elastisitas baja prategang
adalah Es = 189.750 N/mm2
Hitunglah prosentase kehilangan gaya prategang akibat penyusutan beton :
Penyelesaian :
Gaya prategang diberikan 48 jam setelah pengecoran atau 2 hari setelah pengecoran,
jadi menurut persamaan ( 7.5.1a ) diatas, diperoleh :
Regangan susut sisa total :
200 x10 6
t = 2 hari
log10 (t + 2)

cs =

200 x10 6
cs =
= 0,00033
log10 (2 + 2)
Jadi kehilangan tegangan pada baja prategang akibat penyusutan beton dapat dihitung
dengan persamaan ( 7.5.1 ) sebagai berikut :
f SH = cs x Es = 0,00033 x 189.750 = 62,62 N/mm2
Kita ambil tegangan awal baja prategang 75 % dari tegangan batas kabel prategang,
jadi, tegangan awal :
fsi = 75 % x fpu = 75 % x 1.862 = 1.396,5 N/mm2
Jadi prosentase kehilangan tegangan pada baja prategang akibat penyusutan beton
adalah :
SH =

f SH
62,62
x 100 % =
x 100 % = 4,48 %
f si
1.396,5

Sekarang dicoba dengan menggunakan persamaan ( 7.5.2 )


Penyusuan efektif dihitung dengan persamaan ( 7.5.3 ), diperoleh :
V

sh = 8,2 x 10-6 1 0,06 ( 100 RH )


S

-6
sh = 8,2 x 10 ( 1 0,06 x 3 ) ( 100 75 ) = 1,68 x 10-4
Dari tabel koefisien susut ( Ksh ) untuk pemberian gaya prategang setelah 2 hari diperoleh : Ksh = 0,885 ( dengan interpolasi linear ), sehingga kehilangan tegangan
pada baja prategang adalah :
fSH = sh . Ksh . Es = 1,68 x 10-4 x 0,885 x 189.750 = 28,21 N/mm2
Jadi prosentase kehilangan gaya prategang :
f
28,21
SH = SH x 100 % =
x 100 % = 2,02 %
f si
1.396,5

48

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

7.6. Kehilangan Gaya Prategang Akibat Relaksasi Baja Prategang


Relaksasi baja prategang terjadi pada baja prategang dengan perpanjangan tetap
selama suatu periode yang mengalami pengurangan gaya prategang. Pengurangan
gaya prategang ini akan tergantung pada lamanya waktu berjalan dan rasio antara
prategang awal ( fpi ) dan prategang akhir ( fpy ).
Besarnya kehilangan tegangan pada baja prategang akibat relaksasi baja prategang
dapat dihitung dengan persamaan dibawah ini :
fCE = C [ Kre J ( fSH + fCR + fES) ]

( 7.6.1 )

Dimana : fCE : Kehilangan tegangan akibat relaksasi baja prategang


C
: Faktor Relaksasi yang besarnya tergantung pada jenis kawat/
baja prategang.
Kre : Koefisien relaksasi, harganya berkisar 41 ~ 138 N/mm2
J
: Faktor waktu, harganya berkisar antara 0,05 ~ 0,15
fSH : Kehilangan tegangan akibat penyusutan beton.
fCR : Kehilangan tegangan akibat rangkak ( creep ) beton
fES : Kehilangan tegangan akibat perpendekan elastis
Kehilangan tegangan akibat relaksasi terhadap prosentase nilai prategangan awal
dapat pula ditentukan dengan persamaan berikut ini :
2 xECS

RE = R 1

f
pi

Dimana : RE :
R :
ECS :
fpi

( 7.6.2 )

Kehilangan tegangan akibat relaksasi baja prategang


Relaksasi yang direncanakan ( % )
Kehilangan tegangan akibat rangkak ditambah akibat
penyusutan.
Tegangan pada tendon sesaat setelah pemindahan gaya
gaya prategang.

49

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

8. TATA LETAK KABEL ( TENDON ) PRATEGANG


Tegangan tarik pada serat beton yang terjauh dari garis netral akibat beban layan tidak
boleh melebihi nilai maksimum yang di-ijinkan oleh peraturan yang ada, seperti pada
SNI 03 2847 2002 menetapkan :
Tegangan tarik serat terluar akibat beban layan

f c ' ( lihat halaman 10 )

Oleh karena itu perlu ditentukan daerah batas pada penampang beton, dimana pada
daerah tersebut gaya prategang dapat diterapkan pada penampang tanpa menyebabkan
terjadinya tegangan tarik pada serat beton.

TENDON

c.g.c

ct

cb

b
x
Gambar 018
Tegangan pada serat beton paling atas pada gambar 018 diatas :
fct =
Dimana : fct
e
Ac
Ic
ct
cb
P

:
:
:
:
:
:
:

P.e.ct
P
+
( 8.1 )
Ac
Ic

tegangan pada serat beton paling atas.


eksentrisitas kabel prategang.
luas penampang beton.
momen inersia penampang beton.
jarak serat beton paling atas ke garis berat ( cgc )
jarak serat beton paling bawah ke garis berat ( cgc )
gaya prategang

Seperti telah diketahui didalam ilmu mekanika teknik :


r=

Ic
Ac

r : jari-jari inersia

Ic = r2 . Ac Kalau disubstitusikan kedalam persamaan ( 8.1 ) didapat


fct =

P.e.c
e.c
P
P
+ 2 t =
1 + 2t
Ac
r . Ac
Ac
r

Jika tegangan pada serat paling atas beton harus nol, maka batas besarnya eksentrisitas
dapat dihitung sebagai berikut :
50

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

P e.ct
P
0. maka :
1 r = 0
Ac
r
Ac
1-

e.ct
r2
=
0

e
=
r2
ct

Jadi batas paling bawah letak kabel prategang agar tidak terjadi tegangan tarik pada
serat paling atas beton adalah :
r2
ct

kb =

.. ( 8.2 )

Tegangan pada serat beton paling bawah :


fcb =

P.e.cb
P.e.c
P e.c
P
P

=
2 b = 1 + 2b
Ac
Ic
Ac
r . Ac
Ac
r

Tegangan pada serat beton paling bawah harus sama dengan nol :
e.cb
=0
r2

1+

-e=

r2
tanda minus berarti posisi e diatas cgc
cb

Jadi batas paling atas letak babel prategang agar tidak terjadi tegangan tarik pada serat
paling bawah beton adalah :
r2
cb

kt =

...( 8.3 )

Untuk penampang persegi dengan lebar b dan tinggi h, maka :


r2 =

I
=
A

bh 3
=
bh

1
12

Jadi : kt = kb =
Inti ( Kern )

/ b

16

ct
h

kt
kb

cb

1
12

.h 2
=
1 .h
2

1
12

h2 ct = cb = h
1

Dengan cara yang sama batas kiri dan kanan dapat ditentukan yaitu sebesar 1/6 b
Selama gaya tekan pada beton C akibat prategangan
berada didalam inti ( kern ) tidak akan terjadi tegangan
tarik pada serat beton terluar.

Gambar 019
51

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

8.1. Daerah batas eksentrisitas disepanjang bentangan


Eksentrisitas rencana dari tendon ( baja prategang ) harus sedemikian rupa , sehingga
tegangan tarik yang timbul pada serat penampang pada titik-titik kontrol sepanjang
bentang balok sangat terbatas ( tidak melampaui peraturan yang ditetapkan ) atau
sama sekali tidak ada ( nol ).
Jika : MD : momen akibat Dead Load ( beban mati ) dan
MT : momen total akibat Dead Load dan Live Load ( beban hidup )
Sedangkan lengan momen antara garis pusat tekan ( C line) dan garis tendon ( cgs )
akibat MD adalah amin, maka :
MD
Pi

amin =

Ini terjadi pada saat transfer gaya prategang.

Nilai ini menunjukan jarak maksimum dibawah batas bawah ( kern ) dimana cgs harus ditempatkan agar C line tidak jatuh dibawah garis terendah kern.
C Line

Kalau ini dilakukan tegangan tarik pada serat teratas tidak terjadi.
Sehingga batas ekstrim bawah :

cgc
kb

C
cgs

a min

Pi

eb

eb = amin + kb

Gambar 020
Lengan momen akibat MT adalah amaks, sehingga :
amaks =

MT
Ini terjadi pada saat layan.
PE

Ini menunjukkan jarak minimum dibawah batas teratas daerah kern, dimana cgs harus
ditempatkan agar C line tidak jatuh diatas garis teratas daerah kern.
C Line

Kalau ini dilakukan, maka tegangan


tarik pada serat terbawah tidak akan
terjadi .
Sehingga batas eksentrisitas atas :

C
kt

cgc

a maks
et
cgs

et = amakx - kt

PE

Gambar 021
Tegangan tarik dengan nilai tertentu, biasanya di-ijinkan oleh beberapa peraturan
yang ada, baik pada saat transfer maupun pada kondisi beban layan. Jika ini
diperhitungkan, maka cgs dapat ditempatkan sedikit diluar batas eb dan et.
52

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
9. PERENCANAAN UNTUK KEKUATAN LENTUR dan DAKTILITAS
Analisa penampang akibat lentur pada bagian-bagian diatas berdasarkan theori elastis.
Berdasarkan SNI 03 2874 2002 pasal 20.7 kekuatan lentur penampang beton
prategang dapat dihitung dengan methode kekuatan batas seperti pada peremcanaan
beton bertulang biasa.
Dalam perhitungan kekuatan, tegangan pada tendon prategang diambil sebesar fps,
seba-gai gantinga fy, dimana fps adalah tegangan pada tendon prategang pada saat
tercapainya kekuatan nominal penampang.
Nilai fps dapat dihitung dengan methoda kompatibilitas regangan. Sebagai alternatif
jika tegangan efektif ( setelah kehilangan prategangan ) fse 0,5 fpu, maka fps dapat
dihitung sebagai berikut :
a. Untuk tendon dengan lekatan penuh ( bounded )
p
fps = fpu 1
1

f pu
d
+
( ')
p
fc ' d p

( 9.1 )

Dimana : fps = tegangan pada tendon pada saat penampang mencapai kuat nominalnya ( MPa ).
fpu = kuat tarik tendon prategang yang disyaratkan ( MPa ).
fse = tegangan efektif pada baja prategang ( tendon ) sesudah memperhitungkan total kehilangan prategang yang terjadi ( MPa ).
p = suatu faktor yang memperhitungkan tipe tendon prategang
f py
untuk
0,80 p = 0,55
f pu
untuk
untuk

f py
f pu
f py
f pu

0,85 p = 0,40
0,90 p = 0,28

fpy = kuat leleh tendon prategang ( MPa )


1 = suatu faktor yang besarnya sesuai SNI 03 2875 - 2002 pasal
12.2, dimana :
Untuk fc 30 MPa
1 = 0,85
Untuk 30 < fc< 55 MPa 1 = 0,85 0,008 ( fc - 30 )
Untuk fc 55
1 = 0,65
fc = kuat tekan beton ( MPa ).
d = tinggi effektif penampang ( jarak dari serat tekan terjauh dari garis netral kepusat tulangan tarik non prategang ).
dp = jarak dari serat tekan terjauh kepusat tendon prategang

53

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

p = ratio penulangan prategang, p =

Aps
b.d p

Aps = luas penampang baja prategang.


b = lebar efektif flens tekan dari komponen struktur.
. f y
A
=
= s
fc '
b.d

'. f y

fc '

As '
b.d

As = luas penulangan tarik non prategang


As = luas penulangan tekan non prategang
Jika dalam menghitung fps pengaruh tulangan tekan non prategang diperhitungkan, maka suku :

f pu d

( ') 0,17 dan d 0,15 dp


+
p
f c ' dp

b. Untuk tendon tanpa lekatan


Dengan ratio antara bentangan dan tinggi komponen 35

fps = fse + 70 +

fc '
fy atau fse + 400
700. p

( 9.2 )

Dengan ratio antara bentangan dan tinggi komponen > 35

fps = fse + 70 +

fc '
fy atau fse + 200
300. p

( 9.3 )

Untuk menjamin terjadinya leleh pada tulangan non prategang, maka SNI
membatasi indeks tulangan sebagai berikut
1. Untuk komponen struktur dengan tulangan prategang saja :

p 0,36 1 p = p

f ps
fc '

( 9.4 )

2. Untuk komponen struktur dengan tulangan prategang, tulangan tarik dan tulangan tekan non prategang :

p + ( - )

d
0,36 1
dp

( 9.5.)

54
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

3. Untuk penampang bersayap

pw + ( w w )
Dinama :

d
0,36 1
dp

( 9.6 )

pw, w, w adalah indeks tulangan untuk penampang yang


mempunyai flens, dihitung sebagai p, dan dengan b sebesar lebar badan.

9.1. Proses Desain Penampang


Dalam desain komponen struktur prategang terhadap lentur , harus bisa menjamin
agar batasan tegangan ijin tidak dilanggar ( dilampaui ), defleksi atau lendutan yang
terjadi masih dalam batasan yang di-ijinkan dan kompomen struktur mempunyai
kekuatan yang cukup.
Kita lihat penampang beton prategang seperti dibawah ini :
'cu = 0,003

dp

Grs. Netral
Grs. Berat

Ap

As

C's

fs'

f ps
fy

C'c

Tp

Z p = d p - a /2

As

's

Z s = d - 1/2 a

d'
'

0,85 fc'

d - d'

Ts

Gambar 022
Dari keseimbangan :
Cs + Cc = Tp + Ts
Dimana : Cs = As x fs
Cc = 0,85 fc a b
Tp = Ap x fps
Ts = As x fy
Keseimbangan momen terhadap garis berat ( titik berat ) :

h a
Mn = Cc + Cs
2 2

h
h
h

d ' + Ts d + Tp d p
2
2
2

( 9.1.1 )

55

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Bila penulangan tekan diabaikan :
Momen luar hanya ditahan oleh tulangan tarik dan baja pratekan :
Mn = Ts . Zs + Tp . Zp
Mn = Ts ( d a ) + Tp ( dp a )
Dimana : Ts ( d a ) : momen nominal yang dipikul tulangan tarik
Tp ( dp a ) : momen nominal yang dipikul baja prategang
Prosentasi pratekan :

Tp (d p 12 a)
T p (d p 12 a ) + Ts (d 12 a )

100 %

Bila merupakan Prategang Penuh ( tulangan non prategang tidak diperhitungkan ),


momen nominal hanya dipikul oleh baja prategang
Mn = Tp ( dp a )

Contoh Soal 14 :
Suatu balok beton prategang dengan penampang berbentuk I dengan system Bonded Pre
stressing Tendon Mutu kabel prategang sesuai ASTM A 416 grade 270 sedangkan mutu
beton K 350. Jumlah kabel 1, jumlah kawat untaian 18 1/2 dalam kabel. Loss of
prestress 15 %. Bentangan balok 18 m, sedangkan posisi kabel ditengah-tengah bentang
berjarak 10 cm dari serat bawah penampang. Dimensi penampang seperti pada sketsa
dibawah ini, dan tulangan biasa ( non prategang ) tidak diperhitungkan.
Hitunglah momen batas yang dapat dipikul oleh penampang.

175

TENDON

550

150

175

TENDON

C
A

9.000

450

9.000

100

POTONGAN C

Penyelesaian :
Mutu kabel G 270 Tegangan tarik batas fpu = 18.900 kg/cm2
Luas penampang kabel : Ap = 18 bh x 98,71 mm2 = 1.777 mm2
Tegangan tarik yg di-ijinkan pada tendon :

fs = fi = 0,70 x fpu = 0,70 x 18.900 = 13.230 kg/cm2


Kehilangan tegangan ( loss of prestress ) 15 %, maka :
Tegangan tarik efektif tendon : fse = 0,85 fi = 0,85 x 13.230 = 11.245,50 kg/cm2

56

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Mutu Beton K 350 fc = 0,83 x 350 = 290,5 kg/cm2 = 29,05 MPa 30 MPa 1 =0,85
Perhitungan Tegangan Tarik Nominal Kabel Prategang :
Karena tegangan efektif : fse = 11.245,50 kg/cm2 > 0,5 fpu = 0,5 x 18.900 = 9.450 kg/cm2,
maka tegangan nominal dapat dihitung dg. persamaan ( 9.1 ) SNI 03 2874 2002
Karena : fpy = 0,85 fpu p = 0,4
dp = ( 17,5 + 55 + 17,5 ) 10 = 80 cm
Rasio kabel prategang :
Ap
17,77
p =
=
= 0,00494
bxd p
45 x80
Persamaam ( 9.1 ) SNI 03 2874 2002 diatas :

p
fps = fpu 1

f pu
d
+

'
)
p

fc ' d p

0,4
18.900
= 16.041,45 kg/cm2
fps = 18.900 1
0,00494

290,5
0,85
Check apakah under reinforcement
Sesuai SNI 03 2874 2002 Pasal 20.8 mengenai batasan penulangan ( termasuk baja
prategang ), maka :
f ps
p = p .
< 0,36 1 Persamaan ( 9.4 ) halaman 63 diatas.
fc '
0,00494

16.041,45
< 0,36 x 0,85
290,5

0,273 < 0,306 OK


Menentukan Momen Batas :
Anggap garis neutral memotong flens, seperti gambar dibawah ini
GRS. NETRAL
0,85 f'c

d p -- 1/2 a

550

GRS. BERAT
150
P

175

dp

175

450

Gaya Tarik pd. Tendon :


P = Aps . fps
P = 17,77 x 16.041,45 = 285.056,57 kg
Gaya Tekan pd. Beton :
C = 0,85 . fc . a . b
C = 0,85 x 290,5 x a x 45
C = 11.111,63 a kg
Karena keseimbangan, maka : C = P

450

57

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

11.111,63 a = 285.056,57 a =
c=

285.056,57
= 25,65 cm
11.111,63

25,65
= 30,18 cm > hf = 17,50 cm
0,85

Jadi ternyata letak garis netral dibawah flens, ini berarti balok I murni
Sehingga asumsi diatas tidak benar.
GRS. NETRAL
b- bw
2

0,85 f'c

b- bw
2

0,85 f'c

0,85 f'c

bw
C1

C2

hf

175

450

bw

150

d p - 1/ 2 a

d p - 1/ 2 h f

GRS. BERAT

550

dp

175

P1

450

P2

Menentukan posisi garis neutral :


Dari keseimbangan gaya : C = P
C1 + C2 = P
0,85 fc hf ( b bw ) + 0,85 fc a bw = Aps . fps
0,85 x 290,5 x 17,5 x ( 45 15 ) + 0,85 x 290,5 x a x 15 = 17,77 x 16.041,45
129.635,63 + 3.703,88 a = 285.056,57
a=
c=

285.056,57 129.635,63
= 41,96 cm
3.703,88

41,96
= 49,36 cm OK Penampang I murni
0,85

Momen nominal yang dapat dipikul :


C1 = 0,85 fc hf ( b bw ) = 0,85 x 290,5 x 17,5 x ( 45 15 ) = 129.635,63 kg
C2 = 0,85 fc a bw = 0,85 x 290,5 x 41,96 x 15 = 155.414,60 kg
Mn = C1 ( dp hf ) + C2 ( dp a )
= 129.635,63 x ( 80 17,5 ) + 155.414,60 x ( 80 41,96 )
= 9.236.538,64 + 9.172.569,69 = 18.409.108,33 kgcm
Momen batas yang dapat dipikul penampang :
Mu = Mn = 0,80 x 18.409.108,33 = 14.727.286,67 kgcm = 147.272,87 kgm

58

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
BALOK KOMPOSIT
Didalam praktek dilapangan, pada umumnya balok beton prategang ( precast )
dikombinasikan dengan plat ( konstruksi lantai ) yang dicor setempat, sehingga kombinasi
plat dan balok merupakan suatu konstruksi komposit.
Balok prategangnya pada umumnya berbentuk I. Setelah balok prategang dipasang pada
posisinya, kemudian form work untuk plat dipasang seperti pada gambar dibawah ini.
PLAT LANTAI BETON
PENULANGAN PLAT
PAPAN FORM WORK
STEK

RANGKA FORM WORK


B

BALOK PRATEGANG
PRECAST

Gambar 023
Setelah rangka dan papan formwork terpasang, kemudian penulangan plat lantai dipasang
sesuai gambar perencanaan. Setelah penulangan selesai dipasang baru pengecoran lantai
dilaksanakan. Didalam skesa gambar diatas tidak diperlukan perancah ( penopang ) untuk
memikul pelat lantai yang akan dicor, tetapi memanfaatkan balok prategang yang telah dipasang lebih dahulu untuk menopang formwork. Untuk menahan geseran horisontal antara
balok prategang dan pelat beton pada balok prategang dipasang stek-stek yang akan berfungsi sebagai shear connector.
PLAT LANTAI BETON
PENULANGAN PLAT
PAPAN FORM WORK
STEK

BALOK PRATEGANG
PRECAST

TIANG PERANCAH

Gambar 024
Pada gambar 025 diatas, formwork dan balok prategang precast disangga oleh tiang-tiang
perancah untuk pelaksanaan pengecoran plat lantai. Perancah dan formwork baru dibongkar setelah pelat beton cukup kuat untuk memikul beban.
59

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Pada kedua methode diatas perlakuan beban pada balok prategang precast sangat berbeda,
yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
Methode tanpa perancah :
1. Pada saat transfer gaya prategang : Konstruksi belum berlaku sebagai komposit
Beban yang harus dipikul balok : a. Berat sendiri balok ( g )
b. Gaya prategang awal ( Pi )
2. Pada saat pengecoran plat sampai curing : Konstruksi belum berlaku sebagai komposit
Beban yang harus dipikul balok : a. Berat sendiri balok ( g )
b. Berat sendiri plat cor setempat ( gc )
c. Berat formwork ( gfw )
d. Gaya prategang efektif ( PE )
c. Beban-beban lain ( beban konstruksi ) yang diperkirakan terjadi pada saat pelaksanaan pengecoran ( gk ).
3. Pada saat layan : Konstruksi berlaku sebagai komposit
Beban yang harus dipikul balok : a. Berat sendiri balok ( g )
b. Berat sendiri plat cor setempat ( gc )
c. Beban finishing seperti keramik ( gedung ), lapisan perkerasan asphalt ( untuk jembatan ).
d. Beban hidup ( gL ).
Catatan :
Tegangan-tegangan yang diperhitungkan sebagai balok komposit hanya akibat :
Beban mati tambahan seperti finishing dan Beban Hidup
Methode dengan perancah :
1. Pada saat transfer gaya prategang : Konstruksi belum berlaku sebagai komposit
Tegangan yang terjadi akibat : a. Berat sendiri balok ( g ).
b. Gaya prategang awal ( Pi ).
2. Pada saat pengecoran plat sampai curing : Konstruksi belum berlaku segabai komposit
Karena disangga perancah praktis balok tidak memikul beban.
Sama seperti diatas, pada tahap 1 dan 2 konstruksi belum bersifat sebagai komposit.
3. Pada saat layan : Konstruksi bersifat komposit
Tegangan yang terjadi akibat : a. Berat sendiri balok ( g ).
b. Berat pelat beton ( gc ).
c. Beban mati tambahan seperti finishing ( gfs )
d. Gaya prategang efektif ( PE ).
e. Beban hidup ( gL ).
Catatan :
Tegangan-tegangan yang diperhitungkan sebagai balok komposit adalah akibat :
Berat plat cor setempat, Beban mati tambahan ( finishing ) dan Beban Hidup.
60

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Pada saat bekerja sebagai balok komposit ( composite action ) lebar flens ( pelat ) efektif
dapat ditentukan sebagai berikut :
BE

BE
tf

Bo

Bo

Bo

Gambar 025

SNI 03 2847 2002


Balok Tengah : BE L }
BE Bo } ambil yang terkecil
BE 8 tf }
Balok Tepi

BE

1
12

BE Bo + b } ambil yang terkecil


BE 6 tf
}

Properti Penampang Komposite :


Balok prategang komposit diasumsikan elastis pada beban kerja, sehingga akibat momen
lentur distribusi regangannya linear sepanjang penampang. Karena disini ada 2 ( dua ) macam material yang berbeda yang disatukan yang mempunyai harga modulus elastisitas
yang berbeda, maka tegangan yang berbeda akan terjadi pada regangan yang sama. Untuk
mengatasi perbedaan ini, salah satu elemen ditransformasikan kedalam elemen fiktif yang
mempunyai harga modulus elastisitas yang sama.
Seperti gambar 026 diatas untuk balok tengah, pelat dengan tebal tf dan lebar BE ditransformasikan menjadi penampang ekuivalen dengan tebal/tinggi tf dan lebar transformasi BTR,
dimana :
E
BTR = BE Pelat = BE . nc
E Balok
Dimana : BTR
BE
EPelat
EBalok
nc

: Lebar penampang transformasi.


: Lebar efektif
: Modulus Elastisitas Pelat
: Modulus Elastisitas Balok
: Rasio modulus elastisitas pelat dan modulus elastisitas balok.

61

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 15
Suatu konstruksi jembatan komposit diatas 2 tumpuan ( simple beam ) dengan bentangan
L = 25 m, dan jarak antara balok induk B = 1,85 m seperti gambar dibawah .
LAPISAN ASPAL
TEBAL RATA-RATA 7,5 cm
PLAT BETON 20 cm
COR SETEMPAT
6.250
BESI SANDARAN 3 ''
TIANG SANDARAN

6.250

0.300

C
L

DIAFRAGMA
COR SETEMPAT
BALOK INDUK BETON
PRATEGANG PRECAST
PONDASI SUMURAN
2 300 cm,
KEDALAMAN = 200 cm

25.000

POTONGAN MEMANJANG
1.000
LAPISAN ASPAL
TEBAL RATA-RATA 7,5 cm

0.150

7.000

0.150

1.000
PLAT BETON 20 cm
COR SETEMPAT

CL

DIAFRAGMA
COR SETEMPAT

1.150 1.850

1.850

1.850

1.850 1.150

BALOK INDUK BETON


PRATEGANG PRECAST

POTONGAN MELINTANG

Gambar 026
Mutu Beton

: Balok Prategang Precast K 450


Pelat dan diafragma yang dicor setempat K 225
Baja Prategang : ASTM A 416 Grade 270
Kehilangan gaya prategang total 15 %
Pembebanan : RSNI T 02 2005 ( Standard Pembebanan untuk Jembatan ).
Rencanakan : Balok Jembatan tersebut dan tentukan posisi serta kabel prategangnya untuk
ditengah-tengah bentangan, jika pada saat pelaksanaan pengecoran pelat
lantai jembatan tidak dipergunakan perancah untuk penyokong (unpropped).

Penyelesaian :
Perhitungan modulus elastisitas beton :
Balok beton prategang precast : K 450 fc = 0,83 x 450 = 373,50 kg/cm2
wc = 2.500 kg/m3 ( untuk beton prategang )
EBalok = 0,043 wc1,5

f c ' MPa

EBalok = 0,043 2.5001,5


EBalok = 328.491 kg/cm

37,35 = 32.849,12 MPa


2

62

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Pelat Beton cor setempat : K 225 fc = 0,83 x 225 = 186,75 kg/cm2
Wc = 2.400 kg/m3 ( untuk beton normal )
EPelat = 0,043 wc1,5

f c ' = 0,043 2.4001,5

EPelat = 21.848,20 MPa = 218.482 kg/cm


Ratio modulus elastisitas : nc =

18,675

E Pelat
218.482
=
= 0,665
E Balok
328.491

Perhitungan Live Load :


Sesuai RSNI T 02 2005 beban hidup untuk balok jembatan ( Beban D ) seperti skesa
dibawah ini :
BEBAN GARIS ( BGT )

p kN/m
ARAH LALU LINTAS
q kPa

BEBAN MERATA

JUR
LA

( BTR )

Gambar 027
Lebar lajur ditetapkan 2,75 m
1. Beban merata (BTR) :
Untuk bentangan L 30 m q = 9 kPa = 900 kg/m2
900
Beban per m lebar jembatan q =
= 327,27 kg/m
2,75
Beban hidup merata per m panjang balok induk tengah
qL = 327,27 x B = 327,27 x 1,85 = 605,45 kg/m
2. Beban garis (BTG) :
Intensitas beban garis ditetapkan p = 4,9 kN/m = 4.900 kg/m
Beban titik untuk balok induk tengah : PL = B x p = 1,85 x 4.900 = 9.065 kg
Faktor Beban Dinamis ( FBD ) :
Sesuai pasal 6,6 RSNI T 02 2005 besarnya FBD untuk L 50 m adalah 40 %
Jadi momen total akibat beban hidup ditengah-tengah bentangan :
ML = 18 x qL x L2 + ( 1 + FBD ) x x PL x L
ML =

x 605,45 x 252 + ( 1 + 0,40 ) x x 9.065 x 25 = 126.619,53 kgm

63

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Estimate Penampang :

Yp

15

1
2

7.5

35

17
yt

125

105

Xp

Xp

grs. berat prefab.

4
12.5

4
5

22.5

yb

65

Yp
Gambar 028
Perhitungan Properti Penampang Precast
Bagian

Luas ( cm )

Jarak titik berat

Statis momen thd.

bagian ke serat bawah

Serat bawah ( cm )

262.50

121.25

67.50

115.00

7,762.500

1,785.00

65.00

116,025.000

240.00

15.83

3,799.200

812.50

6.25

5,078.125

Total

3,167.50

yb =

164,492.950

164.492,950
= 51,93 cm
3.167,50
2

Bagian
1
2
3
4
5

Io
1,230
211
1,639,969
1,333
10,579

31,828.125

Luas (cm )
A
262.50
67.50
1,785.00
240.00
812.50

yt = 125 51,93 = 73,07 cm

Jarak ke pusat berat


y ( cm )
69.32
63.07
13.07
36.10
45.68

A.y

I = Io + A y

1,261,381
268,503
304,922
312,770
1,695,413

1,262,611
268,714
1,944,891
314,103
1,705,992

Ixp

5,496,313

64
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Ac = 3.167,50 cm2

Sb =

I xp
yb

5.496.313
= 105.840,80 cm3
51,93

St =

I xp
yt

5.496.313
= 75.219,83 cm3
73,07

Perhitungan Properti Penampang Komposit


Lebar pelat effektif sesuai SNI 03 2847 2002 untuk balok induk tengah :
BE L = x 25 = 6,25 m = 625 cm
BE Bo = 1,85 m = 185 cm
BE 8 tf = 8 x 20 = 160 cm
Diambil yang terkecil : BE = 160 cm
Untuk penampang transformasi : BTR = nc x BE = 0,665 x 160 = 106,4 cm.
B TR = 106,4

20

ytc
yt

125

grs. berat komposit

grs. berat prefab.

ybc

yb

65

Gambar 029

Bagian

Luas Penampang
2

A ( cm )

Jarak kesisi bawah


y ( cm )

Statis momen
3

A . y ( cm )

Pelat

2,128.00

135.00

287,280.00

Balok

3,167.50

51.93

164,488.28

Total

5,295.50

ybc =

451.768,28
= 85,31 cm
5.295,5

451,768.28

ytc = 125 85,31 = 39,69 cm


65

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Luas ( cm )

Jarak ke pusat berat

I ( cm )

y ( cm )

A y

Pelat

2,128.00

49.69

5,254,237

70,933

5,325,170

Balok

3,167.50

33.38

3,529,306

5,496,313

9,025,619

Total

5,295.50

Bagian

S bc =

Io

Ixc ( cm )
4

Io + I

( cm )

Ixc

I xc 14.350.788
=
= 168.219 cm3
ybc
85,31

S tc =

14,350,788

I xc 14.350.788
=
= 361.572 cm3
ytc
39,69

Perhitungan Berat Sendiri pada saat layan :

Berat balok : 0,317 x 1,00 x 2.500


=
Berat pelat : 1,85 x 0,20 x 1,00 x 2.400 =
Berat aspal : 0,075 x 1,85 x 1,00 x 2.240 =

792 kg/m
888 kg/m
311 kg/m

gD = 1.991 kg/m
Dimensi diafragma ( diestimasi ) = 30 x 102,50 cm
Panjang diafragma : l = 1,85 0,17 = 1,68 m
Berat diafragma : PD = 0,30 x 1,025 x 1,68 x 2.400 = 1.239,84 kg
Perhitungan Momen akibat Berat Sendiri :
PD

PD

PD

PD

PD

gD

0.006 L

0.006 L
1/8

1/8

1/4 L

GARIS PENGARUH M c
0.300

6.250

6.250

6.250

6.250

0.300

L = 25.000

Gambar 030
MD = gD { ( x L x L ) 2 x 0,30 x 0,006 L } + PD { 2 x ( 1/8 L ) + L }
MD = 1.991 { ( x 25 x x 25 ) 2 x x 0,30 x 0,006 x 25 }
+ 1.239,84 { 2 x 1/8 x 25 + x 25 }
MD = 155.457,28 + 15.498 = 170.955,28 kgm
MU = MD + ML = 170.955,28 + 126.619,53 = 297.574,81 kgm
Momen nominal penampang pada saat layan :
M
297.574,81
Mn = U =
= 371.968,51 kgm

0,80
66

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Perkiraan Gaya Prategang :
B TR
F ts
20
ytc

TEKAN

c.g.c'

yt

c.g.c
ybc

yb

TARIK
Ap
Fbs

DISTRIBUSI TEGANGAN PADA KONDISI LAYAN

Gambar 031
Sesuai dengan SNI 03 2847 2002 Tegangan yang di-ijinkan pada saat layan :
Tegangan tarik ijin pada serat bawah : Fbs =

fc ' =

373,50 = 9,66 kg/cm2

Tegangan tekan ijin pada serat atas : Fts = 0,60 fc = 0,60 x 373,50 = 224,10 kg/cm2
Kita tetapkan e = 36 cm dari c.g.c
Pada saat komposite ec = ybc (yb e ) = 85,31 ( 51,93 36 ) = 69,38 cm
Tegangan tarik pada sisi bawah :
P xe
M
P
Fbs = E + E c - n
A
S bc
S bc
9,66 =

PE
P x69,38 37.196.851
+ E

3.167,50
168.219
168.219

9,66 = 0,00032 PE + 0,00041 PE 221,12


9,66 + 221,12
PE =
= 316.137 kg
0,00032 + 0,00041
Tegangan tekan pada sisi atas :
P
P x69,38 M n
Fts = E E
+
A
S tc
S tc
224,12 =

PE
P x69,38 37.196.851
E
+
3.167,50
361.572
361.572

224,12 = 0,00032 PE 0,00019 PE + 102,88


224,12 102,88
PE =
= 935.154 kg
0,00032 0,00019
67
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Diambil yang terkecil : PE 316.137 kg
Gaya prategang awal : Pi = 1,15 x 316.137 kg = 363.557 kg
Baja prategang dipakai Grade G 270 fpu = 1.860 MPa = 18.600 kg/cm2
Sesuai SNI T -12 2004 ( Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan )
Prategang maksimum fpmaks = 0,74 x fpu = 0,74 x 18.600 = 13.764 kg/cm2
Luas baja prategang yang diperlukan :
Pi
363.557
Ap-perlu =
=
= 26,41 cm2
f pmaks
13.764
Dipasang 3 buah tendon, masing-masing berisi baja/kawat prategang 9 1/2
Ap = 3 x 9 x 0,9871 = 26,65 cm2
Gaya Prategang Awal Maksimum : Pi = Ap x fpmaks = 26,65 x 13.764 = 366.811 kg

Kontrol Tegangan pada saat Transfer


F ti
TARIK
yt
TEKAN

c.g.c
yb

grs. berat prefab.

TENDON
PRATEGANG

F bi
DISTRIBUSI TEGANGAN SAAT TRANSFER

Gambar 032
Momen luar yang bekerja hanya akibat berat sendiri balok dengan tumpuan diujung-ujung
balok :
MG = 18 792 25,602 = 64.881,64 kgm
Tegangan tekan pada serat bawah :
P
P xe
M
366.811
366.811x36
6.488.164
fbi = i + i
G =
+

105.840,80
A
Sb
Sb
3.167,50
105.840,80

fbi = 115,80 + 124,76 61,30 = 179,26 kg/cm2 0,60 x 373,50 = 224,10 kg/cm2 OK
Tegangan tarik pada serat bagian atas :
P
P xe
M
366.811
366.811x36
6.488.164
fti = i i
+ G =

+
75.219,83
A
St
St
3.167,50
75.219,83
fti = 115,80 175,55 +86,26 = 26,51 kg/cm2 ( tekan ) 224,10 kg/cm2 OK
68

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Kontrol Tegangan Pada Saat Pekerjaan Pelar
Estimasi berat formwork :
150.00
PLAT TEBAL 3,5 cm

2 x 6/12

98.86

6 x 12
6 x 12

6 x 12
2 x 6/12

168.00

185.00
RANGKA FORMWORK SETIAP 0,50 M

Gambar 033
Berat volume kayu : = 750 kg/m
Berat setiap rangka : 2 x 0,06 x 0,12 x 1,50 x 750
= 16,20 kg
2 x 0,06 x 0,12 x 1,68 x 750
=
7,34 kg
2 x 0,06 x 0,12 x 1,00 x 750
= 10,80 kg
1 x 0,06 x 0,12 x 1,90 x 750
= 10,26 kg
Total . = 44,60 kg
Berat formwork per m panjang gelagar :
Rangka formwork : 2 x 44,60
= 89,20 kg/m
Papan : 0,035 x 1,50 x 1,00 x 750 = 39,38 kg/m
Total Formwork . = 128,58 kg/m
3

Dead Load : Berat balok prategang : 0,31675 x 1,00 x 2.500


Berat pelat beton
: 0,20 x 1,85 x 1,00 x 2.500
Berat formwork .
qD

= 791,87 kg/m
= 925,00 kg/m
= 128,58 kg/m
= 1.845,45 kg/m

Live Load : Pada pelaksanaan pengecoran diperhitungkan 75 kg/m2


Beban hidup per m balok qL = 1,85 x 75 = 138,75 kg/m
qL

qD

0.006 L

B
0.006 L

1/4 L

GARIS PENGARUH M c
0.300

0.300
L = 25.000

Gambar 034
69

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Momen akibat Dead Load :
MD = qD { ( L x L ) ( 2 x x 0,30 x 0,006 L ) }
MD = 1.845,45 { ( 25 x 25 ) ( 2 x x 0,30 x 0,006 x 25 ) } = 144.092,74 kgm
Momen akibat Live Load :
ML = qL { L x L } = 138,75 { 25 x 25 } = 10.839,84 kgm
Momen total : MTotal = MD + ML = 144.092,74 + 10.839,84 = 154.932,58 kgm
Pada saat pelaksanaan pekerjaan pelat di-estimate kehilangan gaya prategang sudah
mencapai 25 % dari total kehilangan gaya prategang.
Gaya Prategang : Po = ( 1 0,25 x 0,15 ) x Pi = 0,9625 x 366.811 = 353.056 kg
Dalam tahap ini konstruksi belum sebagai balok komposit, sehingga :
Tegangan pada serat bawah :
P P xe M
353.056 353.056 x36 15.493.258
+

f b = o + o Total =
A
Sb
Sb
3.167,50 105.840,80 105.840,80

fb = 111,46 + 120,09 146,38 = 85,17 kg/cm2 ( Tekan ) 224,10 kg/cm2 OK


Tegangan pada serat atas :
P P xe M
353.056 353.056 x36 15.493.258
f t = o o + Total =

+
A
St
St
3.167,50
75.219,83
75.219,83
ft = 111,46 168,97 +205,97 = 148,46 kg/cm2 ( Tekan ) 224,10 kg/cm2 OK

Kontrol Tegangan pada Saat Layan


B TR
F ts
20
ytc

TEKAN

c.g.c'

yt

c.g.c
yb

ybc

TARIK
Ap
Fbs

DISTRIBUSI TEGANGAN PADA KONDISI LAYAN

Gambar 035
PE = 0,85 x Pi = 0,85 x 366.811 = 311.789 kg
Tegangan pada serat bawah :
P xe
M
P
311.789 311.789 x69,38 37.196.851
f bc = E + E c n =
+

= 5,9 kg/cm2
A
S bc
S bc
3.167,50
168.219
168.219

f tc =

PE PE xec M n
311.789 311.789 x69,38 37.196.851
=

+
= 141,48 kg/cm2

+
A
S tc
S tc
3.167,50
361.572
361.572

Ternyata kedua tekan dan 224,10 kg/cm2 OK


70

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Perhitungan Kekuatan Batas ( Ultimate Design ) untuk Balok Komposit


Perhitungan kekuatan batas untuk balok komposit dapat dilakukan berdasarkan Code ACI
318 maupun SNI 02 2874 2002, dengan mengasumsikan bahwa pemindahan gaya geser horisontal dapat dilakukan dengan baik, sehingga seluruh penampang komposit dapat
diperhitungkan dengan teori kekuatan batas ( ultimate theory ).
Oleh SNI 02 2874 2002, persamaan yang dipergunakan untuk menghitung kekuatan
batas penampang komposit seperti persamaan ( 9.1 ) dihalaman 62, yaitu :

d
f ps = f pu 1 p p pu' + ( ')
fc d p

1
Dimana : fps : tegangan pada tendon saat penampang mencapai kuat nominalnya ( MPa )
fpu : kuat tarik tendon yang disyaratkan ( MPa )
p : suatu faktor bila :
f py
0,80 p = 0,55
f pu
f py
f pu
f py
f pu

0,85 p = 0,40
0,90 p = 0,28

fpy : kuat leleh baja prategang ( MPa )


1 : suatu faktor yang besarnya :
untuk fc 30 MPa
1 = 0,85
30 < fc < 55 MPa 1 = 0,85 0,008 ( fc - 30 )
fc 55 MPa
1 = 0,65
fc : kuat tekan beton ( MPa ).
d : tinggi effekif penampang komposit ( jarak dari serat tekan terjauh dari garis netral komposit kepusat tulangan tarik non prategang ).
dp : jarak dari serat tekan terjauh kepusat tendon prategang.
A
p : ratio penulangan pratekan : p = ps
b.d p
Aps : luas penulangan baja prategang.
b : lebar effektif flens tekan.
. f y
A
=
= s
'
fc
b.d
=

'. f y
f c'

'=

As'
b.d

As : luas penulangan tarik non prategang


As : luas penulangan tekan non prategang
71

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

300

125

300

150

125

2.500

900

100

TENDON

100

600

150

150

Contoh Soal 16
Suatu balok prategang komposite diatas dua tumpuan dengan bentangan L = 16,5 m dan
jarak antar balok B = 2,5 m, seperti sketsa dibawah ini.

300

2.500

Gambar 038
Balok dari beton prategang pracetak dengan fc = 40 MPa, sedangkan plat lantai dicor setempat dengan fc = 35 MPa. Tendon 14 12,7 mm dengan fpu = 1.720 MPa ditempatkan
12,5 cm dari sisi bawah balok pracetak ditengah-tengah bentangan.
Tentukan kekuatan lentur batas dari penampang tersebut.
Penyelesaian :
Luas penampang baja prategang : Ap = 14 x 1,272 = 17,73 cm2
Penentuan lebar efaktif plat lantai
BE L = x 16,5 = 4,125 m
BE B = 2,50 m
BE 16 hf + bf = 16 x 0,15 + 0,30 = 2,70 m
Diambil yang paling kecil : BE = 2,50 m
Mutu beton plat : fc = 35 MPa EPlat = 4.700 35 = 27.805,57 MPa
Mutu beton balok pracetak : fc = 40 Mpa EBalok = 4.700 40 = 29.725,41 MPa
E
27.805,57
= 0,935
n = plat =
Ebalok
29.725,41
Lebar plat penampang transformasi : BTR = n x BE = 0,935 x 2,50 = 2,34 m
0,85 fc'

B TR = 2.340

C
150
a

150
600

GRS. NETRAL
100
T
150

Ap

125
fps

300

PENAMPANG TRANFORMASI

Gambar 039

dp = ( 90 + 15 ) 12,5 = 92,5 cm
Ap
17,73
p =
=
BTR .d p
234 x92,5
p = 0,00082
Karena penampang sudah diTransformasikan ke balok, maka
mutu beton semua disamakan dengan mutu beton balok :
fc = 40 MPa > 30 MPa

1 = 0,85 0,008 ( fc 30 ) = 0,85 0,008 ( 40 30 ) = 0,77


72

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Sesuai dengan SNI T 12 2004 pasal 4.4.3.2.1, untuk semua strand dan tendon baja
fpy = 0,85 fpu p = 0,40
Tegangan tendon pada saat penampang mencapai kuat nominal :
f

d
f ps = f pu 1 p p pu' + ( ')
fc d p

1
Karena baik penulangan tarik maupun penulangan tekan non prategang tidak diperhitungkan untuk memikul beban, maka :
= 0 dan = 0
0,40
1720
f ps = 1720 1
0,00082
= 1.688,49 MPa
40
0,77
T = Ap x fps = 17,73 x 16.884,90 = 299.369,28 kg
Diasumsikan a < tf = 15 cm
C = 0,85 fc BTR a = 0,85 x 400 x 234 x a = 79.560 a kg
Dari keseimbangan gaya :
H = 0 C = T
79.560 a = 299.369,28
299.369,28
= 3,76 cm < tf = 15 cm Asumsi sudah benar
a=
79.560
Lengan momen : Z = dp a = 92,5 x 3,76 = 90,62 cm
Momen nominal penampang :
Mn = T x Z = 299.369,28 x 90,62 = 27.128.844,15 kgcm = 271.288,44 kgm
Jadi kekuatan lentur batas dari penampang :
Mu = . Mn = 0,80 x 271.288,44 = 217.030,75 kgm

73

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Kuat Geser Balok Komposit
Agar terjalin kerjasama yang baik antara balok pracetak dan pelat lantai yang dicor setempat dalam memikul beban, maka gaya geser horisontal antara kedua komponen tersebut harus ditahan oleh Shear connector
Telah diketahui didalam ilmu mekanika teknik, tegangan geser horisontal ( ) akibat gaya
geser V adalah :
V .S
I .b
gaya geser horisontal
gaya geser pada penampang yang ditinjau
statis momen penampang terhadap garis berat
momen inersia penampang
lebar bidang kontak

Dimana :
V
S
I
b

:
:
:
:
:

Sesuai dengan SNI 03 2874 2002


Besarnya tegangan geser horisontal ( ) diperhitungkan sebagai berikut :

=
Dimana :
Vu

b
d

:
:
:
:
:

Dimana : Av

fy

:
:
:
:

Vu
.b.d

gaya geser horisontal


gaya geser terfaktor pada penampang yang ditinjau
faktor reduksi kekuatan ( = 0,85 )
lebar bidang kontak
tinggi balok komposit efektif, diukur dari serat tertekan keluar sampai
kepusat penulangan tarik non prategang.
Kebutuhan tulangan geser dapat dihitung dengan persamaan :
Vu
Av =
. f y .
luas penulangan geser yang diperlukan
faktor reduksi kekuatan ( = 0,85 )
tegangan leleh dari tulangan geser.
kosfisien geser, dimana besarnya :
Untuk beton yang dicor pada balok beton pracetak = 0,10
Untuk beton yang dicor pada metal/baja sheet bergelombang = 0,70

74

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 17
Jika pada contoh soal 16 ( halaman 72 ) dipergunakan besi ulir dengan tegangan leleh
jy = 390 MPa untuk shear connector ( tulangan geser horizontal ), maka rencanakan shear
connectornya.
Penyelesaian :

qu

L = 16,5 m
Gambar 040
Dari perhitungan pada contoh soal 17 didapat momen maksimum yang dapat dipikul oleh
penampang : Mu = 217.030,75 kgm.
Mu =

qu L2

Jadi beban merata ( termasuk berat sendiri ) yang dapat dipikul konstruksi adalah :
8.M
8 x 217.030,75
qu = 2 u =
= 6.377,40 kg
L
16,52
Gaya geser maksimum : Vu = qu L = x 6.377,40 x 16,5 = 52.613,55 kg
Sesuai dengan SNI 03 2874 2002
Vu
.b.d
Dimana : b = 10 cm, diambil tebal webnya karena tulangan geser ( shear connector)
ditanam sampai di webnya, jadi tidak hanya di flens balok.
d = ( 90 + 15 ) 5 = 100 cm, tinggi effektif balok komposit, dihitung dari serat tertekan paling atas kepusat tulangan tarik non prategang, disini jarak pusat tulangan tarik tsb. dari sisi bawah balok diperhitungkan 5 cm.

Tegangan geser horisontal : =

52.613,55
= 61,90 kg/cm2
0,85 x10 x100
Untuk shear connector dicoba dengan D 13

As = 2 x d2 = 2 x 1,32 = 2,65 cm2


Jarak shear connector :
f . A 3.900 x 2,65
= 16,69 cm diambil s = 15 cm
s= y s =
bx
10 x61,90
Jadi shear connector dipakai : D13 15

75

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Perencanaan Balok Komposit
Perencanaan balok komposit dapat dilakukan baik dengan pendekatan theori elastis maupun dengan pendekatan theori kekuatan batas. Bila perencanaan dilakukan dengan pendekatan theori elastis, maka untuk pengecekan kapasitas penampang sebaiknya dilakukan dengan pendekatan theori kekuatan batas, demikian pula sebaliknya.
Design dengan pendekatan theori elastis.
BTR = n . BE

Plat cor ditempat


t
ya

fa

k a c.g.c
kb

h
e

yb

fa

c.g.s
Balok Pracetak

f 'a
c.g.c

f b'

za

Pi

(A)

f b'

(B)

C
Pe

zb

fb

(C)

Gambar 041
Pada gambar 041 diatas suatu struktur komposit terdiri dari balok prategang pracetak dan
plat beton yang dicor ditempat. Pada umumnya mutu beton pracetak lebih tinggi dari mutu
plat beton yang dicor ditempat, sehingga disini ada 2 material dengan modulus elastisitas
yang berbeda bekerja sama dalam memikul beban.
Tahapan-tahapan analisa :
Gambar 041 A
Tahap ini pada saat transfer gaya prategang, jadi tegangan-tegangan yang timbul pada penampang diakibatkan oleh : Gaya prategang awal ( Pi )
Momen akibat berat sendiri balok pracetak ( MG )
Tegangan Tekan pada sisi bawah balok Pracetak
fb =

Pi Pi xe M G

+
A
Sb
Sb

Tanda ( minus ) tekan dan + ( positip ) tarik

Tegangan Tarik pada sisi atas balok Pracetak


fa =

Pi Pi xe M G
+

A
Sa
Sa

Dimana : Pi :
A :
e :
Sa :
Sb :
MG :

gaya prategang awal


luas penampang bruto balok pracetak
eksentrisitas tendon terhadap pusat berat balok pracetak ( c.g.c )
modulus penampang ( section modulus ) atas balok pracetak
modulus penampang ( section modulus ) bawah balok pracetak
momen akibat berat sendiri balok pracetak
I
I
Sa =
dan Sb =
ya
yb

: momen inersia penampang balok pracetak

76
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Disini momen luar MG di-imbangi oleh internal momen kopel Pi x za atau C x za. Selama
posisi C berada dibawah batas kern bawah kb, maka pada serat atas ( sisi atas ) balok
pracetak akan terjadi tegangan tarik. Jika posisi C tepat berada pada batas bawah kern kb
tegangan tarik pada sisi atas = 0. Besarnya lengan kopel momen za tergantung pada besarkecilnya MG. Tegangan tarik pada sisi atas balok pracetak diperbolehkan asal tidak
melampaui tegangan tarik yang di-ijinkan sesuai code atau peraturan yang dipergunakan
untuk perencanaan ( ACI atau SNI ).
Demikian pula untuk tegangan tekan pada sisi bawah balok pracetak fb tidak diperbolehkan melebihi tegangan tekan yang di-ijinkan.

Gambar 041 B
Tahap ini sesaat setelah transfer gaya prategang selesai, jadi pada tahap ini kehilangan gaya
prategang sudah harus diperhitungkan. Tegangan-tegangan yang timbul pada balok pracetak diakibatkan oleh : Gaya prategang efektif ( Pe )
Momen akibat berat sendiri balok pracetak ( MG )
Tegangan Tekan pada sisi bawah balok Pracetak
Pe Pe .e M G

+
A
Sb
Sb

fb =

Tegangan Tarik pada sisi atas balok Pracetak


fa =

Pe Pe .e M G
+

A
Sa
Sa

Gambar 041 C
Tahap pekerjaan plat lantai yang dicor setempat. Disini pekerjaan plat diperhitungkan
tanpa perancah, jadi disini belum terjadi composite action.
Tegangan pada balok pracetak yang diakibatkan oleh momen akibat berat plat yang dicor
ditempat ( MP ) adalah :
Tegangan Tarik pada sisi bawah balok Pracetak :
fb =

MP
Sb

Tegangan Tekan pada sisi atas balok Pracetak :


fa =

MP
Sa

Dimana : Mp : momen akibat berat plat yang dicor ditempat.


Catatan :
Disini berat formwork tidak diperhitungkan karena tegangan-tegangan ini akan dijumlahkan dan dikontrol terhadap tegangan yang di-ijinkan secara total pada saat layan dimana
pada saat tersebut formwork sudah dibongkar. Tetapi bila berai formwork tersebut cukup
signifikan perlu dikontrol tersendiri pada saat setelah tahap pengecoran selesai apakah tegangan pada balok pracetak ada yang melebihi tegangan yang di-ijinkan.
77

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
BTR = n . BE

ya'

yb'

t
k' a
'

kb

e'

f 'a

- f'

ze
Pe

+
+

Balok Pracetak

Cu

c.g.c'
c.g.c
c.g.s

0,85 fc'

f 'a

Plat cor ditempat

fb

fb

(D)

(E)

Pe
f ps

(F)

Gambar 042

Gambar 042 D
Pada tahapan ini konstruksi sudah berfungsi sebagai struktur komposit. Tegangan tegangan yang timbul pada balok komposit akibat beban mati tambahan ( finishing dll ) dan beban
hidup adalah :
Tegangan Tarik pada serat bawah Balok Komposit :
fb =

MS
Sb'

Tegangan Tekan pada serat atas Balok Komposit :


fa =

MS
S a'

Dimana : MS : momen pada balok komposit akibat beban mati tambahan ( finishing lantai,
plafond yang digantung dibawah lantai dll ) dan momen akibat beban hidup
maksimum.
Sa : modulus penampang ( section modulus ) atas balok komposit.
Sb : modulus penampang ( secion modulus ) bawah balok komposit.
S a =

Ic
I
dan Sb = c
ya '
yb '

Ic : momen inersia penampang balok komposit


Catatan : Untuk pengecoran plat lantai dengan penyokong ( perancah ), maka tahap gambar 041 C ditiadakan, dan langsung kegambar 042 D dengan MS adalah momen
akibat berat plat yang dicor setempat + beban mati tambahan ( finising dll ) +
beban hidup maksimum.

Gambar 042 E
Diagram tegangan disini merupakan resultante tegangan-tegangan pada gambar 041 B +
gambar 041 C + gambar 042 D, jadi :
Tegangan Tarik pada serat bawah balok komposit :
fb =

Pe Pe .e M G M P M S

+
+
+
A
Sb
Sb
Sb
Sb '

(I)

78

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Tegangan Tekan pada serat atas balok Komposit
fa =

MS
( II ) tegangan tekan pada permukaan atas plat
Sa '

Tegangan Tekan pada serat atas balok Pracetak


f=

Pe Pe .e M G M P M S ( ya 't )
+

A Sa
Sa
Sa
Ic

( III )

Dari ketiga persamaan diatas I, II, III dikontrol agar tegangan yang terjadi fb, fa dan f
tidak melampaui tegangan yang di-ijinkan oleh code ( ACI dan SNI ) yang dipergunakan
dalam desain.
Untuk pengecoran plat yang menggunakan penyokong atau perancah, persamaan menjadi :
Tegangan Tarik pada serat bawah balok Pracetak
Pe Pe .e M G M S
fb =

+
+
(A)
A
Sb
Sb
Sb '
Tegangan Tekan pada serat atas balok Komposit
M
fa = S ( B )
Sa '
Tegangan Tekan pada serat atas balok Prategang
P P .e M
M ( y 't )
f= e + e G S a
(C)
A Sa
Sa
Ic
Dalam hal ini MS adalah momen yang diakibatkan oleh berat pelat lantai dengan finishingnya dan beban hidup diatas pelat lantai.
Sama seperti pada pengecoran yang tanpa perancah diatas, dari ketiga persamaan A, B dan
C dikontrol agar tegangan yang terjadi fb, fa dan f tidak melampaui tegangan yang diijinkan oleh code ( ACI atau SNI ) yang dipergunakan dalam desain.

Gambar 042 F
Diagram tegangan dengan methode kekuatan batas untuk mengontrol kapasitas balok
dalam memikul momen.
Tegangan pada baja prategang saat balok mencapai kuat nominalnya ( fps ) dapat dihitung
dengan rumus ( 9.1 ) pada halaman 62 diatas. Dengan luas penampang baja prategang yang
dipasang ( Ap ) dapat dihitung :
Pe = AP x fps
Diasumsikan a t dimana t = tebal plat yang dicor ditempat
Jadi : C = 0,85 fc BTR a
Ap . f ps
H = 0 C = Pe a =
0,85. f c '.BTR
Bila : a t Asumsi betul Z = dp + t a Mn = Pe x Z Mu = Mn
Bila : a > t Asumsi salah, dihitung sebagai balok T murni (lihat contoh-contoh diatas)

79

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Contoh Soal 19
Suatu jembatan simple beam dengan bentangan L = 25 m, jarak antara balok induk
prategang pracetak B = 1,80 m. Plat lantai yang dicor ditempat tanpa perancah tebalnya
adalah t = 25 cm, sedangkan lapisan perkerasan aspal tebal rata-rata 7 cm, sketsa seperti
gambar dibawah ini.
Mutu balok pracetak K 500 dengan berat
wc = 2.500 kg/m3.

LAPISAN ASPHALT
PLAT DICOR SETEMPAT

0.25

Mutu plat yang dicor ditempat K 250 dengan berat wc = 2.400 kg/m3.
h

Baja prategang dipergunakan :


ASTM A 416 Grade 270
fpu = 1.860 MPa
Kehilangan gaya prategang total 15 %

BALOK PRACETAK

1.80

Gambar 043

0.25

0.15

1. Rencanakan dengan pendekatan theori elastis balok pracetak tersebut, gaya prategang
yang diperlukan, ukuran baja prategangnya dan posisi tendon untuk ditengah-tengah
bentangan balok.
2. Bila untuk penulangan geser dipergunakan besi ulir dengan fy = 3.900 kg/cm2, rencanakan shear connectornya.
3. Kontrol kapasitas balok pracetak tsb. dengan pendekatan theori kekuatan batas.
Penyelesaian :
Estimasi penampang balok pracetak :
0.60

Bagian

Luas ( cm2 )
A

Jarak kesisi bawah


y ( cm )

Statis M omen
A xy

A
B

ya

B
C

1.35

c.g.c
0.20

D
0.35

yb

900.00

127.50

114,750.00

200.00

116.67

23,334.00

1,900.00

72.50

137,750.00

200.00

28.33

5,666.00

1,500.00

12.50

18,750.00

Jumlah

4,700.00

300,250.00

0.25

0.60

Luas penampang balok pracetak A = 4.700 cm2


Gambar 044

yb =

300.250,00
= 63,88 cm
4.700,00

dan

ya = 135 63,88 = 71,12 cm

80

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Io ( cm4 )

Bagian

Luas ( cm2 )

Jarak ke c.g.c

I ( cm4 )

y ( cm )

Io + A . y 2

16,875.00

900.00

63.62

3,659,628.96

1,111.11

200.00

52.79

558,467.93

1,428,958.30

1,900.00

8.62

1,570,136.66

1,111.11

200.00

35.55

253,871.61

78,125.00

1,500.00

51.38

4,037,981.60

4,700.00

Jumlah

10,080,086.76
10,080,087.00

Sa =

I
10.080.087
=
= 141.734 cm3
ya
71,12

Sb =

I 10.080.087
=
= 157.797 cm3
yb
63,88

Perhitungan lebar efektive plat ( BE )


BE L = x 25 = 6,25 m
}
BE B = 1,80 m
} diambil BE = 1,80 m
BE 16 t + bf = 16 x 0,25 + 0,60 = 4,60 m }
Plat K 250 fc = 0,83 x 250 = 207,5 kg/cm2 = 20,75 MPa
Ept = 0,043 wc1,5

f c ' = 0,043 ( 2.400 )1,5

20,75 = 23.030 MPa

Balok K 500 fc = 0,83 x 500 = 415 kg/cm2 = 41,50 MPa


Eblk = 0,043 wc1,5
n=

f c ' = 0,043 ( 2.500 )1,5

41,50 = 34.626 MPa

E pt
23.030
=
= 0,665 Btr = n BE = 0,665 x 1,80 = 1,196 m 1,20 m
Eblk
34.626

0.25

PLAT COR DITEMPAT


B tr = 1.20

y'a
ya

c.g.c'

Bagian

1.35

c.g.c
y'b

yb

Luas ( cm2 ) Jarak kesisi bawah


y ( cm )

M omen
A.y

Plat

3,000.00

147.50

442,500.00

Balok

4,700.00

63.88

300,236.00

Jumlah

7,700.00

742,736.00

BALOK PRACETAK

Gambar 045
yb =

742.736,00
= 96,46 cm
7.700,00

ya = ( 135 + 25 ) 96,46 = 63,54 cm

81

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo

Io ( cm4 )

Bagian

Jarak ke c.g.c'
y ( cm2 )

Ic = Io + A y 2
( cm4 )

156,250.00

3,000.00

51.04

7,971,494.80

10,080,086.76

4,700.00

32.58

15,068,931.84

Plat
Balok

Luas ( cm2 )

7,700.00

Jumlah

23,040,426.64
23,040,427.00

S a =

Ic
23.040.427
=
= 362.613 cm3
ya '
63,54

Sb =

Ic
23.040.427
=
= 238.860 cm3
yb '
96,46

Perhitungan Beban Mati ( Dead Load )


Berat sendiri ( self weight ) balok pracetak :
gblk = A x 1,00 x wc = 0,47 x 1,00 x 2.500 = 1.175 kg/m
MG = 18 gblk L2 = 18 1.175 252 = 91.796,875 kgm = 9.179.687 kgcm
Berat plat lantai yang dicor ditempat :
gpl = t x B x 1,00 x wc = 0,25 x 1,80 x 1,00 x 2.400 = 1.080 kg/m
MP = 18 gpl L2 = 18 1.080 252 = 84.375 kgm = 8.437.500 kgcm
Berat lapisan asphalt :
gasp = t x B x 1,00 x aspal = 0,07 x 1,80 x 1,00 x 2.240 = 282,24 kg/m
Masp = 18 gasp L2 = 18 282,24 252 = 22.050 kgm
Perhitungan Beban Hidup ( Live Load )
a. Beban Merata
Untuk L 30 m q = 900 kg/m2
Beban merata per m panjang balok pracetak : gL = 1,80 x 900 = 1.620 kg/m
b. Beban Garis
p = 4.900 kg/m lebar jembatan
Beban titik pada balok pracetak : P = 1,80 x 4.900 = 8.820 kg
Faktor beban dinamis ( FBD ) untuk L 50 m FBD = 40 %
Jadi : ML =
ML =

gL L2 + ( 1 + FBD ) x x P x L
1.620 252 + ( 1 + 0,40 ) x x 8.820 x 25 = 203.737,50 kgm

MS = Masp + ML = 22.050 + 203.737,50 = 225.787,50 kgm = 22.578.750 kgcm


Resume Momen akibat beban :
Akibat berat sendiri balok pracetak : MG = 9.179.687 kgcm
Akibat plat cor ditempat
: MP = 8.437.500 kgcm
Akibat beban pada plat
: MS = 22.578.750 kgcm
Dari ketiga beban ini, karena pengecoran plat tanpa perancah, maka aksi komposit baru
terjadi pada MS.

82

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
0.25

PLAT COR DITEMPAT


B tr = 1.20

y'a
ya

c.g.c'

1.35

c.g.c

e = yb do = 63,88 15 = 48,88 cm

20

y'b

yb

25
do

Dicoba untuk ditengah-tengah bentangan


posisi tendon do = 15 cm dari sisi bawah
balok pracetak.
Jadi eksentrisitas :

35

BALOK PRACETAK

Ap
60

Gambar 046
1. Tegangan Tarik Total pada serat bawah balok pracetak :
fb =

PE PE .e M G M P M S

+
+
+
Fts
A
Sb
Sb
Sb
Sb '

Sesuai dengan SNI 03 2847 2002 tegangan tarik yang di-ijinkan pada saat service
atau layan : Fts = f c ' = 1 2 41,50 = 3,22 1 MPa = 32,21 kg/cm2

PE
P .48,88 9.179.687 8.437.500 22.578.750
E
+
+
+
= 32,21
4.700 157.797
157.797
157.797
238.860

0,000213 PE 0,000310 PE + 58,17 + 53,47 + 94,53 = 32,21


0,000523 PE = 58,17 + 53,47 + 94,53 32,21
58,17 + 53,47 + 94,53 32,21
PE =
= 332.619,50 kg
0,000523
Tegangan Tekan Total pada serat atas balok pracetak :
fa =

PE PE .e M G M P M S .( ya 't )
+

A
Sa
Sa
Sa
Ic

fa =

332.619,50 332.619,50 x 48,88 9.179.687 8.437.500


+

4.700
141.784
141.784
141.784

22.578.750 x(63,54 25,00 )


23.040.427
fa = 70,77 + 114,67 64,74 59,51 37,77 = 118,12 kg/cm2 ( tekan )
Sesuai SNI 03 2847 2002 tegangan tekan ijin pada saat service adalah :
Fcs = 0,60 x fc = 0,60 x 415 = 249 kg/cm2
fa = 118,12 kg/cm2 < Fcs = 249 kg/cm2 OK

83

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Kontrol tegangan tekan pada sisi atas plat :
22.578.750
M
fa = S =
= 62,27 kg/cm2 Fcs = 249 kg/cm2 OK
Sa '
362.613
Kehingan gaya prategang total 15 %
Pi = 1,15 x PE = 1,15 x 332.619,50 = 382.512,42 kg
fpy = 0,85 x fpu = 0,85 x 1.860 = 1.581 MPa = 15.810 kg/cm2
P
382.512,42
Ap-perlu = i =
= 24,19 cm2
f py
15.810
Dipakai kawat 1,25 cm Ap-tunggal = 1,252 = 1,227 cm2
A
24,19
= 19,71 20 buah
Jadi diperlukan : np = p perlu =
Ap tunggal
1,227
Dipasang 2 tendon @ berisi 10 1,25
Gaya prategang awal maksimum yang dapat diberikan :
Pi-mak = fpy x Ap-terpasang = 15.810 x 20 x 1,227 = 387.977 kg
Tegangan Tarik pada sisi atas balok pracetak pada saat transfer
fa =

Pi mak P i mak xe M G
+

A
Sa
Sa

387.977 387.977 x 48,88 9.179.687


+

4.700
141.784
141.784
= 82,55 + 133,75 64,74 = 13,54 kg/cm2 ( tekan )
Jadi tidak terjadi tarikan disisi atas, dan tegangan tekan yang terjadi Fci OK
Dimana : Fci = tegangan tekan ijin pada saat transfer = 0,60 x 415 = 249 kg/cm2
=

Tegangan Tekan pada sisi bawah balok pracetak pada saat transfer
fb =

Pi mak Pi mak xe M G

+
A
Sb
Sb

387.977 387.977 x 48,88 9.179.687

+
4.700
157.797
157.797
= 82,55 120,18 + 58,17 = 144,56 kg/cm2 ( tekan ) < Fci = 249 kg/cm2, OK
Kesimpulan : Design penampang, Gaya Prategang dan Baja Prategang telah OK
=

2. Perencanaan Shear Connector


PL
qT

A
L = 25 m

qT = gblk + gpl + gasp + gL


B qT = 1.175 + 1.080 + 282,24 + 1.620
qT = 4.157,24 kg/m
PL = 8.820 kg
Faktor Beban Dinamis ( FBD ) = 40 %

1,00
Grs. Pengaruh Reaksi A

84
online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
Gaya geser maksimum :
Vu = x 1,00 x L x qT + ( 1 + FBD ) x PL
Vu = x 1,00 x 25 x 4.157,24 + ( 1 + 0,40 ) x 8.820 = 64.313,50 kg
Sesuai dengan SNI 03 2874 2002
Vu
.b.d
Dimana : b = 20 cm, diambil tebalnya web, karena shear connector-nya ditanam
di-webnya
d = tinggi effektif balok komposit, dihitung dari serat tertekan paling
atas kepusat tulangan tarik non prategang.
Jarak pusat tulangan tarik non prategang dari sisi bawah balok pracetak 7,5 cm.
Tegangan geser horisontal : =

d = 135 + 25 7,5 = 152,50 cm


faktor reduksi untuk geser 0,85
Vu
64.313,50
=
= 24,81 kg/cm2
.b.d 0,85 x 20 x152,5

Untuk shear connector dicoba dengan D 13


As = 2 x d2 = 2 x 1,32 = 2,65 cm2
Jarak shear connector :
f . A 3.900 x 2,65
= 20,82 cm diambil s = 20 cm
s= y s =
bx
20 x 24,81
Jadi shear connector dipakai : 2 D13 20
0.25

PLAT COR DITEMPAT


0,85 f'c

B tr = 1.20

t
2 13 - 20
ya

ya'

c.g.c'
Z

1.35

c.g.c
20
yb

y'b

e
25

15

35
fps

BALOK PRACETAK

2 Tendon @ 10 12.5
60

TEGANGAN THEORI KEKUATAN BATAS

Gambar 047

85

online_sty@yahoo.com

Konstruksi Beton Pratekan


Ir. Soetoyo
3. Kontrol Kapasitas Penampang
Kapasitas penampang dikontrol dengan pendekatan theori kekuatan batas
Tegangan tendon pada saat penampang mencapai kekuatan nominal, dapat dihitung
dengan rumus dari SNI 03 2874 - 2002

d
f ps = f pu 1 p p pu' + ( ')
fc d p

1
Untuk : fpy = 0,85 fpu p = 0,40
fc = 415 kg/cm2 = 41,50 MPa 30 MPa
1 = 0,85 0,008 ( fc - 30 ) = 0,85 0,008 ( 41,50 30 ) = 0,758
Ap
Ap = Ap-terpasang = 20 x 1,227 = 24,54 cm2
p =
BTR .d p
dp = 135 + 25 15 = 145 cm
24,54
= 0,001394
120 x145
Karena baik penulangan tarik maupun penulangan tekan non prategang tidak diperhitungkan untuk memikul beban, maka : = 0 dan = 0
p =

0,40
1.860
2
fps = 1.8601
0,001394
= 1.798,66 MPa = 17.987 kg/cm
41,50
0,758
T = Ap x fps = 24,54 x 17.987 = 441.401 kg
Di-asumsikan a t = 25 cm C = 0,85 fc Btr a = 0,85 x 415 x 120 a
H = 0 C = T
0,85 x 415 x 120 a = 441.401
a=

441.401
= 10,43 cm < t = 25 cm OK
0,85 x 415 x120

Lengan momen Z = 135 + 25 15 x 10,43 = 139,8 cm = 1,398 m


Mn = T x z = 441.401 x 1,398 = 617.078 kgm
Momen maksimum yang dapat dipikul penampang :
Mu = Mn = 0,80 x 617.078 = 493.662 kgm
Aktual momen yang harus dipikul :
Maktual = MG + MP + MS
Maktual = 91.796,87 + 84.375 + 225.787,50 = 401.959,37 kgm < Mu OK

86

online_sty@yahoo.com