Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN RESMI

KIMIA ORGANIK III


A. JUDUL

: ISOLASI MINYAK JAHE DARI RIMPANG JAHE

B. HARI/TGL PERCOBAAN:
MULAI PERCOBAAN : Rabu, 15 Oktober 2014 Pukul 09.40
SELESAI PERCOBAAN: Rabu, 15 Oktober 2014 Pukul 13.00
C. TUJUAN PERCOBAAN :
1. Dapat memilih peralatan yang dibutuhkan sesuai dengan percobaan.
2. Dapat memilih bahan-bahan yang dibutuhkan sesuai percobaan.
3. Dapat mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan cara yang tepat.
D. KAJIAN TEORI
Jahe dalam bahasa latin dikenal dengan nama Zingiber officinale merupakan suku
temu-temuan atau Zingiberaceae. Jahe merupakan tumbuhan dengan batang semu, tangkai
halus dan dilengkapi dengan bulu mikro. Akar jahe membentuk umbi dan lazim dikenal
dengan rimpang jahe atau rhizoma. Rhizhoma ini merupakan tempat jahe menyimpan
cadangan makanan hasil metabolisme. Rimpang jahe mengandung beberapa zat aktif, antara
lain zingiberen, kamfena, lemonin, zingiberol,dan oleorosin yang terbagi atas gingerol,
shagol, resin, zingiberin dan lain-lain. Secara umu, aroma khas pada jahe disebabkan oleh
kandungan minyak atsirinya sedangkan rasa pedasnya bersumber pada oleoresinnya.
Minyak atsiri merupakan minyak dari tanaman yang komponennya secara umum
mudah menguap sehingga banyak yang menyebut minyak terbang. Minyak atsiri disebut juga
etherial oil atau minyak eteris karena bersifat sepeti eter. Dalam bahasa internasional biasa
disebut essential oil (minyak essen) karena bersifat khas sebagai pemberi aroma/bau (esen).
Definisi ini dimaksudkan untuk membedakan minyak lemak dengan minyak atsiri yang
berbeda tanaman penghasilnya. Minyak atsiri dapat diisolasi dari bagian-bagian tumbuhan
seperti: batang, kulit, buah, daun atau bunga, namun jumlahnya hanya sebagian kecil saja,
yaitu 1-3%. Minyak atsiri memiliki beberapa sifat,diantaranya :
1. Dapat didestilasi.
2. Tidak meninggalkan noda.
3. Tidak tersabunkan.
4. Tidak tengik.
1

5. Tidak mengandung asam.


6. Memiliki bau khas.
7. Tidak larut dalam pelarut air, larut dalam eter, kloroform, dan pelarut organik lain.
8. Sebagian komponen kandungan minyak mudah menguap.
9. Dapat membentuk kristal.
Minyak atsiri yang terdapat pada tanaman jahe didapatkan dengan
metode ekstraksi dan distilasi/penyulingan. Senyawa-senyawa oleoresin
yang terdapat didalam ampas jahe diperkirakan bersifat nonpolar. Maka
untuk mengekstrak senyawa oleoresin tersebut diperlukan pelarut yang
bersifat nonpolar seperti n-hexana, etilenklorida, petroleum eter, aseton
dan sebagainya.
Komponen utama minyak atsiri adalah terpena dan turunan terpena yang mengandung
atom oksigen. Terpenoid merupakan senyawa yang berada pada jumlah cukup besar pada
tanaman. Biosintesis terpenoid berasal dari molekul isoprena dan kerangka karbonnya
dibentuk oleh dua atau lebih satuan C5.

Gambar 1. Reaksi biosintesis terpenoid


2

Terpenoid yang terkandung dalam minyak atsiri menimbulkan bau harum atau bau
khas dari tanaman. Secara ekonomi senyawa tersebut penting karena dapat digunakan
sebagai bahan wewangian alam dan juga untuk rempah-rempah serta sebagai senyawa yang
menimbulkan cita rasa tertentu dalam industri makanan. Secara kimia, terpena minyak atsiri
digolongkan menjadi dua bagian yaitu monoterpena (10 atom C) dan seskuiterpena (15 atom
C). Beberapa contoh monoterpena antara lain geraniol, limonena, kamfor, mentol, dan lainlain. Yang termasuk seskuiterpena minyak atsiri antara lain -bisabolen, kariofilen,
santonin, dan lain-lain. Selain terpena, minyak atsiri juga banyak mengandung senyawa
turunan benzena seperti eugenol, koumarin, sinamaldehid, dan lain-lain. Pada beberapa
tumbuhan, didapatkan minyak atsiri yang mengandung atom belerang dan atom nitrogen.
Oleoresin merupakan campuran senyawa minyak atsiri dan resin yang diperoleh
dengan cara ekstraksi. Oleoresin terbagi atas gingerol, shagol, resin, zingiberin (zingeron)
Umumnya oleoresin ini berbentuk cair, pasta ataupun padatan tergantung dari komponen
senyawa yang terkandung. oleoresin berfungsi sebagai bahan baku flavor, disamping sebagai
bahan pengawet alami. Di dunia industri, oleoresin digunakan sebagai bahan baku obat,
kosmetik, parfum, pengalengan daging, fresh drink dan masih banyak lagi.
Oleoresin jahe mengandung lemak, lilin, karbohidrat, vitamin dan mineral. Oleoresin
memberikan kepedasan aroma yang berkisar antara 4- 7% dan sangat berpotensi sebagai
antioksidan. Proses pengolahan terutama yang menggunakan pemanasan ternyata akan
menurunkan kadar [6]-gingerol. Hasil penelitian Puengphian dan Sirichote (2008),
menunjukkan bahwa jahe segar (kadar air 94%), 17%-nya mempunyai kandungan [6]gingerol 21,15 mg/g. Adanya pengeringan pada suhu 55 2 C selama 11 jam menghasilkan
kadar air 11,54 0,29% dengan kadar [6]-gingerol 18,81 mg/g.

Gambar 2. Gingerol

Gambar 3. Shogaol

Gambar 4. Zingeron
Minyak jahe merupakan salah satu minyak atsiri yang dapat diisolasi dari rimpang
jahe 1,5-3,0% dari berat jahe kering. Minyak jahe digunakan sebagai campuran pembuatan
kosmetik, bahan penyedap masakan, dan sebagai obat. Senyawa penyusun minyak jahe terdiri
dari -kurkumina, -zingeberena,

-saskuipellandrena. Minyak atsiri merupakan


3

minyak dari tanaman yang komponennya secara umum mudah menguap sehingga banyak
yang menyebut minyak terbang. Minyak atsiri disebut juga etherial oil karena bersifat seperti
eter. Dalam bahasa internasional disebut essential oil karena bersifat khas sebagai pemberi
aroma / bau.
Ada tiga cara umum untuk mengambil komponen atsiri dari tumbuhan : Distilasi,
Ekstrasi dengan pelarut dan pengaliran udara atau aerasi (Robinson,1995). Minyak atsiri
biasanya terdapat pada kelenjar minyak tanaman. Menurut Guenther, proses pelepasan
minyak atsiri pada distilasi bagian tanaman didasarkan pada proses hidrodifusi yaitu difusi
minyak atsiri dan air panas melalui membran tanaman. Distilasi pada
tekanan rendah dan suhu rendah memungkinkan terjadinya penguraian
oleh enzim, sehingga menimbulkan perubahan kandungan jaringan.
Cara isolasi lain adalah dengan ekstrasi menggunakan suatu pelarut
organik. Beberapa minyak atsiri yang berbobot molekul rendah terlalu
mudah larut dalam air untuk diekstraksi dengan pelarut organik secara
efisien. Pelarut organik yang efisien misalnya n-heksana merupakan
jenis pelarut organik berfungsi untuk mengekstraksi lemak atau untuk
melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih
(Mahmudi, 1997). Untuk mengekstraksi lemak (lipid) menggunakan
alat yang bernama soxhlet. Soxhlet merupakan suatu peralatan yang
digunakan untuk mengekstrak suatu bahan dengan pelarutan yang
berulang-ulang menggunakan pelarut yang sesuai. Proses ini akan terus berulang dengan
sendirinya di dalam alat terutama dalam peralatan soxhlet yang digunakan untuk ekstraksi
lipida (Wirakusumah,2007).

Setelah diperoleh minyak atsiri, kemudian ditambahkan

Natrium Sulfat anhidrat ke dalam gelas beker yang berisi minyak atsiri. Penambahan ini
bertujuan untuk mengikat air yang masih bercampur dengan minyak atsiri sehingga diperoleh
minyak atsiri yang murni. Secara teori Indeks bias minyak atsiri adalah 1,4850-1,4920
dengan kadar air 86% dalam jahe segar.

E. ALAT DAN BAHAN

1. Alat
alat

jumlah

Satu set alat ekstraksi soxhlet

Evaporator

Kompor listrik

Gelas ukur 100 ml

Gelas ukur 10 ml

Kaca arloji

Gelas kimia 100 ml

Corong pisah

pengaduk

2. Bahan
a. Natrium sulfat anhidrat (Na2SO4)
b. Jahe kering 15 g
c. Hexane
d. Jahe basah

F. ALUR KERJA
1. Persiapan Sampel
Rimpang Jahe
Dibersihkan dari kotoran yang melekat
Dikeringkan (cukup diangin-anginkan) pada suhu ruang
Digiling
Serbuk jahe
2. Penentuan Kadar air jahe

Jahe segar
- Ditimbang 1 gr

Berat awal
Dioven pada suhu 1100C selama 5 menit
Ditimbang kembali
Dicatat beratnya
Berat akhir

Diulangi sampai berat konstan

3. isolasi minyak jahe


a. cara modern
100 ml n-hexane pro-analisi

15 gram serbuk jahe

Dimasukkan kedalam alat soxhlet


Dimasukkan ke labu ekstraktor yang berisi dua buah batu didih

Dilakukan ekstraksi sampai pelarut tidak berwarna

Ekstrak
Diuapkan dengan evaporator
Larutan terpisah

Pelarut

Minyak jahe
- Dipekatkan dengan cara

diuapkan
Ditambah Na2SO4 anhidrous
Disaring
Residu

Minyak jahe
- Dihitung rendemen
- Ditentukan indeks
biasnya
Hasil pengamatan

b. cara tradisional
100 ml n-hexane pro-

15 gram serbuk jahe

analisi
- Dimasukkan
kedalam alat
soxhlet

- Dimasukkan ke labu
ekstraktor yang
berisi dua buah
batu didih

- Dilakukan ekstraksi sampai


pelarut tidak berwarna
Ekstrak
- Ditunggu samapi cairan jatuh ke labu
ekstrak
- Alat soxhlet dibuka
- Sampel diambil
- Alat dikembalikan spt semula
- Pelarut dalam labu ekstraktor diuapkan
sampai memenuhi alat soxhlet
- Volume dijaga agar tidak jatuh ke bawah

Pelarut

ekstrak
- Dipekatkan dengan cara
diuapkan
Ditambah Na2SO4 anhidrous
Disaring
Residu

Minyak jahe
- Dihitung rendemen
- Ditentukan indeks
biasnya
Hasil pengamatan

G. Hasil Pengamatan
No

Jenis Kegiatan
Persiapan Sampel
Rimpang
jahe
-

Dibersihkan dari kotoran yang


melekat
Dikeringkan
Diayak

Hasil
-Serbuk jahe : warna
coklat
-Serbuk jahe mempunyai
berat 15,321 gram dan
berwarna coklat

Serbuk jahe

Penentuan Kadar Air Jahe

-Berat awal sebelum

segar

Berat

22

- Indeks bias minyak


atsiri yang terkandung
gram.
pada rimpang jahe
-Berat akhir :
adalah 1,4850-1,4920
1. 0,446 gram
- Secara teori rendemen
2. 0,339 gram
minyak atsiri (minyak
3. 0,332 gram
jahe) adalah 1-3% dari
-Diperoleh berat konstan
berat asalnya (jahe
sebesar 0,372 gram.
kering) dengan kadar
Kadar airnya 63,92 %
air dari jahe segar
adalah 86%
dioven adalah 1,031

Jahe
Ditimbang 1
gram

awal
- Dioven 1100C selama
5 menit
- Dicatat beratnya

Berat

3.

akhir
100 ml pelarut

15 gr

n-heksana pro

serbuk jahe

analisis

Dugaan/ Reaksi
-Pelarut yang
digunakan adalah nhexane yang bersifat
non-polar karena
kandungan senyawa
oleorensi yang terdapat
pada minyak jahe
bersifat non-polar. Hal
ini sesuai dengan sifat
laruatan like dissolve
like.

- n-heksana tidak berwarna

Kesimpulan
Isolasi minyak jahe dari
rimpang jahe dapat
dilakukan dengan cara
ekstraksi tradisional
dengan pelarut n-hexane
pro analisis yang
menghasilkan minyak
jahe sebesar 0,110 g dari
15,231 g dengan
rendemen sebesar
0,718% dan indeks bias
1,508525 serta kadar
airnya 63,92%.
Pada percobaan ini
rendemen yang
diperoleh tidak sesuai
dengan teori
dimungkinkan karena
sampel masih ada yang
berupa serat (kasar) dan
sampel tidak begitu
kering sehingga proses
ekstraksi kurang
berjalan secara
sempurna. Selain itu
kadar air yang diperoleh

Dimasukkan ke
Labu ekstrator
Berisi batu
didih
Ekstraks
i

Pelaru
t

Dimasukk
an ke
Alat
soxhlet

Diekstrasi sampai cairan


pelarut
Tidak berwarna

Ditunggu sampai cairan jatuh


ke labu
Ekstraktor
Alat soxhlet dibuka
Sampel diambil
Alat dikembalikan seperti
semula
Pelarut dalam labu ekstraktor
diuapkan sampai memenuhi
alat soxhlet
Volume dijaga agar pelarut
tidak jatuh ke bawah
Ekstr
ak

Pelaru

Ekstr

ak

- setelah diekstrak
berwarna kuning (+).
- Cairan jatuh ke labu
ekstraktor sebanyak 55
kali.
- Setelah dipekatkan,
berwarna coklat
kekuningan.
- Sisa pelarut n-heksana
adalah 58 ml.
- Ketika ditambah natrium
sulfat, natrium sulfat
tersebut larut.
- Setelah didekantasi,
berwarna coklat
kekuningan beratnya
sebesar 0,11 gram.
- Randemen minyak jahe
0,718 %
- Indeks bias minyak jahe
1,508525. Dengan suhu
pengukuran 32oC

juga masih jauh dari


kadar air secara teori,
hal ini dimungkinkan
karena proses
pengovenan yang
kurang berjalan
sempurna karena ketika
pemanasan berlangsung
oven sering dibuka.

Residu

Dipekatkan
dengan cara
diuapkan
Ditambahkan
Natrium Sulfat
Anhidrat
Minyak
jahe
-

Dihitung
randemen
Ditentukan
indeks bias

Hasil
Pengamatan

H. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Percobaan yang berjudul Isolasi minyak jahe dari rimpang jahe ini bertujuan untuk
memilih peralatan yang dibutuhkan, memilih bahan-bahan yang dibutuhkan serta
mengisolasi minyak jahe dari rimpang jahe dengan cara yang tepat. Pada percobaan ini
untuk memperoleh minyak atsiri yang terdapat dalam rimpang jahe menggunakan
metode ekstraksi, yaitu ekstraksi soxhlet karena sampel yang digunakan berupa padatan.
Pada percobaan ini kami menggunakan cara tradisional untuk memisahan minyak atsiri
(minyak jahe) dengan pelarutnya.
Langkah pertama yang dilakukan adalah persiapan sampel, yaitu dengan cara
membersihkan jahe segar dari kotoran-kotoran yang menempel kemudian diiris tipis-tipis
dan dikering anginkan selama 4 hari pada suhu kamar (30 0C). Hal ini dilakukan
agar zat yang terdapat dalam jahe tidak hilang dalam proses pengeringan. Selanjutnya
jahe yang sudah kering digiling dan diayak sehingga didapatkan serbuk jahe. Namun
karena proses pengayakan yang kurang sempurna sehingga sampel masih sedikit kasar.
Pengayakan bertujuan untuk memperbesar luas permukaan serbuk jahe, serbuk jahe
memiliki luas permukaan yang besar sehingga pelarut lebih mudah untuk melarutkan
komponen jahe.
Selanjutnya dilakukan penentuan kadar air dari jahe segar. Sebanyak 1,031 g jahe
dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 110 0C selama 5 menit. Kemudian ditimbang
didapatkan massanya 0,446 g. Selanjutnya jahe dimasukkan ke dalam oven kembali
untuk mendapatkan massa yang konstan. Pengovenan dilakukan dua kali. Didapatkan
massa pada pengovenan kedua dan ketiga adalah 0,339 g dan 0,332g, dan dirata rata
mendapatkan berat konstan 0,372 g, Sehingga didapatkan persen kadar air jahe 63,92 %.
Hal ini menujukkan bahwa jahe yang kami gunakan sudah kering.
Rumus penentuan kadar air adalah:
kadar air=

berat awalberat konstan


100
berat awal

Selanjutnya dilakukan isolasi minyak jahe dengan cara tradisional. Alat ekstraksi
soxhlet dirangkai. Pemanas yang digunakan adalah heating mantel karena dapat menjaga
suhu pemanasan tetap konstan. Pemanasan berfungsi agar pelarut lebih reaktif (dapat
mengubah pelarut yang berupa cairan menjadi uap). Pelarut yang menguap kemudian
mencair lagi dan jatuh berupa tetesan dikarenakan uap panas pelarut di dinginkan oleh
kondensor yang dialiri oleh air sehingga uap akan mengembun menjadi cairan. Labu
dasar bulat berisi pelarut yaitu n-hexane dan batu didih. Fungsi dari penambahan batu

didih adalah untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh
bagian larutan dan untuk menghindari titik lewat didih. Pori-pori yang ada dalam batu
didih membantu penangkapan udara pada larutan dan melepaskannya ke permukaan
larutan, hal ini akan menyebabkan timbulnya gelembung-gelembung kecil pada batu
didih.
Soxhlet berisi sampel, yaitu serbuk rimpang jahe yang dibungkus oleh kertas
saring. Tujuan dimasukkan ke dalam kertas saring agar serbuk jahe dapat terekstrak
dengan baik sehingga akan diperoleh minyak jahe. Kondensor berfungsi untuk
mendinginkan uap yang panas. Aliran air dalam kondensor dialirkan dari bawah agar
alirannya lebih lama dan proses pendinginannya lebih optimal.
Untuk cara tradisional serbuk jahe ditimbang sebanyak 15,321 g dan digulung
dalam kertas saring. Sampel ini dimasukkan ke dalam alat ekstraksi soxhlet. Pada labu
ekstraktor dimasukkan 100 ml n-hexana. n-Hexana berfungsi sebagai pelarut. Pelarut
yang dipilih untuk proses ekstraksi merupakan pelarut yang mudah menguap, sehingga
nantinya akan mudah dipisahkan dengan minyak jahe dengan perbedaan suhu. n-hexane
memiliki titik didih lebih kecil dibandingan minyak atsiri (minyak jahe) yaitu 69o C
sedangkan minyak atsiri adalah 140-180oC.
Selanjutnya ektraksi dilakukan, cairan jatuh ke dalam labu sebanyak 55 kali.
Semakin banyak jumlah cairan yang jatuh menunjukkan luas permukaan jahe semakin
kecil sehingga dibutuhkan waktu lebih lama untuk bereaksi. Pada ekstraksi ini diperoleh
ekstrak yang berwarna kuning. Kemudian alat soxlet di lepas untuk mengambil serbuk
jahe, lalu alat di pasang lagi. Serbuk jahe di ambil supaya pelarut dapat dipisahkan jika
serbuk jahe tidak diambil maka pelarut akan mengekstrak terus serbuk jahe. Kemudian
larutan dilakukan proses ekstraksi kembali untuk menguapkan pelarutnya. Pelarut yang
tertampung dalam soxlet merupakan larutan tidak berwarna yang selanjutnya di ambil
untuk dipisahkan. Pelarut tersebut diambil dan dituang dalam gelas ukur 100 ml.
Kemudian proses estraksi dilanjutkan sampai pelarut sudah tidak naik lagi. Sehingga
didapatkan pelarut n-hexana yang tertampung sebanyak 58 ml.
Ekstrak yang terdapat di dalam labu ekstrakstor berwarna coklat kekuningan yang
selanjutnya didinginkan, lalu ditambahkan Na2SO4 anhidrous untuk mengikat air yang
masih terdapat dalam minyak jahe. Minyak jahe kemudian didekantasi, filtrat yang
dihasilkan ditimbang, dan didapatkan berat minyak jahe sebesar 0,110 g dengan
rendemen 0,718%.

rendemen=

berat minyak
100
berat a wal

Selanjutnya minyak jahe diuji indeks biasnya. Didapatkan indeks biasnya


1,508525, indeks bias minyak jahe secara teori adalah 1,4850-1,4920. Dengan
diperolehnya indeks bias yang tidak terlalu jauh, membuktikan bahwa ekstrak yang
diperoleh tersebut benar-benar minyak jahe. Sedangkan indeks bias heksana secara teori
1,351235. Perbedaan indeks bias antara hasil ekstraksi dengan pelarut membuktikan
bahwa minyak jahe hasil ekstraksi sudah murni dan tidak mengandung pelarut lagi.
I. DISKUSI
Pada percobaan kami, rendemen yang diperoleh sangat kecil yaitu 0,718% dari
berat jahe kering sebesar 15,321 g. Hal ini tidak sesuai dengan rendemen secara teori
yang seharusnya 1-3% dari berat awalnya. Hal ini dikarenakan sampel yang tidak benarbenar halus, masih terdapat serat yang kasar sehingga proses ekstraksi tidak dapat
berjalan sempurna dalam mengekstrak minyak jahe. Selain itu sampel yang belum benarbenar kering sehingga dalam proses ekstraksi dibutuhkan waktu yang lebih lama dan
kurang sempurna dan dimungkinkan saat proses pengeringan sampel terkontaminasi oleh
pengotor sehingga ekstraksi kurang berjalan sempurna.
Selain itu, kadar air yang diperoleh pada percobaan ini berbeda dari kadar air
secara teor, hal ini dikarenakan proses pengovenan yang kurang berjalan sempurna
karena saat pengeringan berlangsung oven sering dibuka sehingga jahe tidak benar-benar
kering secara sempurna.
J. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan dapat disimpulakan bahwa:


1 Minyak Jahe dapat diisolasi dengan metode ekstraksi pelarut tradisional.
2 Jenis pelarut yang sesuai untuk ekstraksi pada isolasi minyak jahe adalah n-hexsane
3
4
5

karena titik didih n-hexsane lebih rendah daripada titik didih minyak atsiri/jahe.
Rendeman minyak jahe dari cara tradisional adalah 0,718%.
Indeks bias jahe adalah 1,508525.
Kadar air jahe segar sebesar 63,92%.

K. DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Chairil,dkk. 1996. Pengantar Praktikum Kimia Organik. Jakarta : Departemen
Pendidikan Dan Kebudayaan.
Hernani dan Winarti, Christina. Tanpa Tahun. Kandungan Bahan Aktif Jahe dan
Pemanfaatannya dalam Bidang Kesehatan. Bogor : Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Pascapanen Pertanian
Lansida.2011.Apakah Minyak Atsiri Itu. http://lansida.blogspot.com/2012/06/apakah-minyakatsiri-itu.html, (diakses pada 10 Oktober 2014).
Mahmudi M.1997. Penurunan Kadar Limbah Sintesis Asam Phospat Menggunakan Cara
Ekstraksi Cair-Cair dengan Solven Campuran Isopropanol dan n-Heksane.Semarang:
Universitas Diponegoro.
Polleras, Daniel.2002. Experimental Organic Chemistry.New York: John Willey dan Seny Inc
Alright.
Tim Dosen Kimia Organik.2014.Penuntun Praktikum Kimia Organik.Surabaya: Universitas
Negeri Surabaya.
Wirakusumah. 2007. Kadar Lemak. Jakarta : Penyebar Swadaya.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Jelaskan secara singkat prinsip kerja ekstraksi soxhlet yang digunakan dalam percobaan
ini!
Jawaban:
Prinsip kerja ekstraksi soxhlet adalah penggunaan pelarut yang memiliki titik didih yang
lebih rendah sehingga akan menguap lebih dahulu dan ekstrak akan tetap tinggal dalam
labu.
2. Bilamana pemisahan pelarut menggunakan alat evaporator? Berikan alasan!
Jawaban:
Pemisahan pelarut menggunakan alat evaporator apabila pelarut yang digunakan adalah
bersifat mudah menguap, karena prinsip kerja dari evaporator adalah dengan cara
menguapkan pelarut.
3. Berdasarkan hasil rendemen minyak atsiri yang diperoleh, apakah cara pengeringan dan
penghalusan serbuk jahe berpengaruh pada hasil? Jelaskan!
Jawaban:
Cara pengeringan dan penghalusan serbuk jahe dapat berpengaruh terhadap hasil
rendemen minyak atsiri, karena apabila dilakukan dengan menggunakan suhu tinggi
(matahari langsung) akan merusak kandungan yan terdapat dalam minyak jahe, karena
sifat minyak yang dapat menguap dan jika jahe dihaluskan menjadi serbuk, jahe yang
halus akan memiliki luas permukaan yang besar, sehingga pelarut lebih cepat untuk
melarutkan komponen minyak jahe.
4. Apa fungsi Na2SO4 dalam percobaan ini !
Jawaban:
Fungsi Na2SO4 digunakan untuk menyerap molekul-molekul air yang dimungkinkan
tertinggal dan masih bercampur dalam minyak jahe.
5. Sebutkan minimal lima senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri jahe dan tuliskan
rumus strukturnya!

Shogaol
Gingerol

Zingeron

Geraniol

Borneol

LAMPIRAN PERHITUNGAN
A. Penentuan Kadar Air
Berat awal

: 1,031 g

Berat konstan : 0,372 g

kadar air=

berat awalberat konstan


100
berat awal

1,031 g0,372 g
100
1,031 g
63,92

B. Rendemen
Berat awal

: 15,321 g

Berat minyak : 0,110 g


Rendemen=

berat minyak
100
berat awal

0,110 g
100
15,321 g
63,92

LAMPIRAN FOTO

Gambar 1. Serbuk jahe

Gambar 3. Jahe setelah dioven

gambar 2. Jahe segar

Gambar 4. Proses ekstraksi

Gambar 5. Hasil ekstraksi

Gambar 6. Proses ekstraksi tradisional

gambar 7. Minyak jahe

Anda mungkin juga menyukai