Anda di halaman 1dari 15

A.

Pengertian
Hiperbilirubin adalah tingginya kadar bilirubin yang terakumulasi dalam darah
dan dengan jaudince atau ikterius yaitu warna kuning pada kulit, sklera dan kuku
(Wong, 2008).

Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum

(hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan juga dapat


menimbulkan ikterus (Smeltzer, 2001). Menurut Mansjoer (2000), hiperbilirubin
adalah ikterus dengan konsentrasi bilirubin serum yang menjurus ke arah
terjadinya kern ikterus atau ensefelopati bilirubin bila kadar bilirubin tidak
terkendalikan.

Hiperbilirubinemia merupakan suatu keadaan kadar bilirubin

serum total yang lebih dari 10 mg % pada minggu pertama yang ditandai dengan
ikterus pada kulit, sklera dan organ lain, keadaan ini mempunyai potensi
menimbulkan kern ikterus. Kern ikterus adalah suatu keadaan kerusakan otak
akibat perlengkatan bilirubin indirek pada otak. (Ilyas, 1994)
Pada neonatus, ikterus dapat menjadi patologi jika:
1. Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama setelah lahir
2. Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5 mg/dl atau lebih setiap 24 jam.
3. Ikterus yang disertai:
a. Berat lahir < 2000 gr
b. Masa gestasi < 36 minggu
c. Asfiksia, hipoksia, sindrom gawat napas pada neonatus
d. Infeksi
e. Trauma lahir pada kepala
f. Hipoglikemia, hiperkarbia
g. Hiperosmolaritas darah
h. Proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi G6PD, atau sepsis).
4. Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia > 8 hari (pada NCB) atau 14
hari (pada NKB).
B. Etiologi
Peningkatan kadar bilirubin yang berlebihan di dalam darah dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:
1. Pembentuka bilirubin berlebihan
2. Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi bilirubin dalam hati
3. Gangguan konjugasi bilirubin
4. Penyakit hemolitik, yaitu meningkatnya kecepatan pemecahan darah merah.
Selain itu, disebut juga dengan ikterus hemolitik
5. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan, misalnya
hipoalbumin atau karena pengaruh obat-obat tertentu.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

6. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau


toksin yang dapat merusak sel hati dan sel darah merah seperti infeksi
toxoplasma, syphilis.
C. Patofisiologi
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan.
Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban
bilirubin pada sel hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila
terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia, memendeknya umur
eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain, atau terdapatnya
peningkatan sirkulasi enterohepatik.
Gangguan ambilan bilirubin plasma juga menimbulkan peningkatan kadar
bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein-Y berkurang atau pada
keadaan protein-Y dan protein-Z terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi
dengan

asidosis

atau

dengan

anoreksia/hipoksia.

Keadaan

lain

yang

memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan


konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronil transferase) atau bayi yang
menderita gangguan eskresi, misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan
saluran empedu intra/ ekstrahepatik.
Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan
tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar
larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologik pada sel otak
pabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi
pada otak ini disebut kernikterus atau ensefalopati biliaris. Pada umumnya
dianggap bahwa kelainan pada susunan saraf pusat tersebut mungkin akan timbul
apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dL. Mudah tidaknya bilirubin
melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pula pada keadaan
neonates sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila
pada bayi terdapat keadaan imaturitas, berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia,
hipoglkemia, dan kelainan susunan saraf pusat yang terjadi karena trauma atau
infeksi (Markum, 1991)

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

D. Pathway
Kerusakan sel darah
merah
Pemecahan hemoglobin
Peningkatan dekstruksi eritrosit (gangguan konjugasi
bilirubin/gangguan transport bilirubin) Hb & eritrosit abnormal
Pemecahan bilirubin
berlebihan
Hepar tidak mampu
melakukan konjungasi
Masuk ke sirkulasi darah
Peningkatan bilirubin
dalam darah
Obstruksi usus

Ikterus pada sclera, kuku


dan kulit

Tinja berwarna
pucat
Kurang pengetahuan

Ansietas

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

Indikasi fototerapi

Sinar dengan intensitas


tinggi

Gangguan integritas
kulit

Resti kurang volume cairan

E. Manifestasi Klinis
A. Tanda dan gejala yang biasanya terjadi pada orang dengan hiperbilirubin
adalah sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Kulit berwarna kuning sampai jingga


Pasien tampak lemah
Nafsu makan berkurang
Reflek hisap kurang
Urine pekat
Perut buncit
Pembesaran hati
Gangguan neurologic
Feses seperti dempul
Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl.
Terdapat ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa.
Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada
bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetik atau infeksi.

B.
F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan bilirubin serum
a. Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6 mg/dl antara 2-4
hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10 mg/dl tidak fisiologis.
b. Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara
5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14 mg/dl tidak
fisiologis.
2. Pemeriksaan radiologi
C. Bertujuan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma
kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma.
3. Ultrasonografi
D. Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra
hepatik
4. Biopsy hati
E. Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar
seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatik dengan intra hepatic.
Selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hepatis,
dan hepatoma.
5. Peritoneoskopi
F. Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat dokumentasi untuk
perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
6. Laparatomi
G. Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi
untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini.
H.
STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

G. Penatalaksaan Medis
1. Tindakan Umum
a. Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil.
b. Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru
lahir yang dapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi.
c. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai
dengan kebutuhan bayi baru lahir.
d. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.
2. Tindakan khusus
a. Fototerapi
I. Dilakukan apabila telah ditegakkan bahwa klien positif terkena
hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam
kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto.
b. Pemberian Fenobarbital
J. Mempercepat konjugasi dan mempermudah

ekskresi.

Namun

pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic


dan pernapasan baik pada ibu maupun bayi.
c. Terapi transfusi tukar
K. Dengan memberikan albumin agar mempercepat keluarnya bilirubin
dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga lebih mudah dikeluarkan dan
dapat menurunkan kadar bilirubin yang berlebihan tersebut
d. Menyusui bayi dengan ASI
e. Terapi sinar matahari
f. Tindak lanjut terhadap semua bayi yang menderita hiperbilirubin yaitu
dengan evaluasi berkala terhadap pertumbuhan, perkembangan dan
pendengaran serta fisioterapi dengan rehabilitasi terhadap gejala sisa.
L.
H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas Klien
M.
Meliputi nama bayi atau nama Ibu, jenis kelamin, umur, alamat,
agama, golongan darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
2) Keluhan Utama
N.
Pada umumnya keluhan utama pada kasus hiperbilirubin yaitu
ditemukan ikterus pada sclera, kuku dan kulit.
3) Riwayat Kehamilan
O.
Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat obat
yang meningkatkan ikterus, seperti: salisilat sulkaturosic oxitosin yang
dapat mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus.
4) Riwayat Persalinan

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

P.

Pembantu persalinan (dukun, bidan, dokter). Lahir prematur /

kurang bulan, riwayat trauma persalinan.


5) Riwayat Post natal
Q.
Adanya kelainan darah tapi kadar bilirubin meningkat kulit
bayi tampak kuning.
6) Riwayat Kesehatan Keluarga
R.
Seperti ketidakcocokan darah ibu dan anak, gangguan saluran
cerna dan hati ( hepatitis )
7) Pengetahuan Keluarga
S.
Pemahaman orangtua pada bayi yang ikterus
2. Kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
T. Pada umumnya bayi malas minum ( reflek menghisap dan menelan
lemah) sehingga BB bayi mengalami penurunan.
U.
V.
b. Eliminasi
W. Biasanya bayi mengalami diare, urin mengalami perubahan warna
gelap dan tinja berwarna pucat.
c. Istirahat
X. Bayi tampak cengeng dan mudah terbangun.
d. Aktifitas
Y. Bayi biasanya mengalami penurunan aktivitas, letargi, hipototonus dan
mudah terusik.
e. Personal hygiene
Z. Kebutuhan personal hygiene bayi oleh keluarga terutama ibu.
f. Pemeriksaan Fisik
g. Keadaan umum:
AA. Diharapkan dalam keadaan compos mentis, namun biasanya keadaan
umum bayi lemah. Pengukuran antropometri antara lain lingkar kepala,
lingkar dada, lingkar lengan TB dan BB.
3. Pemeriksaan Fisik (head to toe)
a. Kepala
AB. Tidak ada gangguan yaitu, simetris, tidak ada penonjolan, tidak ada
nyeri kepala.
b. Muka
AC.
Tidak ada perubahan fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi,
simetris, tak edema.
c. Mata
AD.
Sklera mata kuning (ikterik) kadang-kadang terjadi kerusakan
retina
d. Hidung
AE.
Tidak/ada pernafasan cuping hidung.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

e. Telinga
AF. Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau
f.
g.
h.
i.

nyeri tekan.
Mulut dan Faring
AG.
Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan.
AH.
Leher
AI. Tidak ada penonjolan, reflek menelan ada namun menurun.
AJ.
Sistem Integumen
AK.
Kulit berwarna kuning sampai jingga dan mengelupas.
Thoraks
AL.

Bentuk dada umumnya tidak mengalami gangguan (simetris),

jenis pernapasan biasanya abdomen dan perhatikan ada atau tidak retraksi
dinding dada
AM.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

I. Analisa Data
AN.

AO.

Data

AP.Etiologi

AQ.

Diagnosa
Keperawatan

AR. AS.
1

Data

subjektif:
-

Ibu mengatakan badan


anaknya

kuning

dan

mengelupas
AT.Data objektif:
-

Kulit tampak berwarna

kuning dan mengelupas


Kadar
bilirubin
meningkat (> 10 mg/dl)
AU.

BM. BN.
2

Data

subjektif:
-

Ibu
anaknya

mengatakan
tidak

minum

atau

hanya

sedikit

mau
minum
dari

biasanya
BO.

Data objektif:

Reflex menghisap dan

menelan lemah
BB turun

AV.Pemecahan bilirubin
berlebihan
AW.
AX.
Hepar tidak
mampu melakukan
konjungasi
AY.
AZ.
Masuk ke
sirkulasi darah
BA.
BB.
Peningkatan
bilirubin dalam darah
BC.
BD.
Ikterus pada
sclera, kuku dan kulit
BE.
BF.Indikasi fototerapi
BG.
BH.
Sinar dengan
intensitas tinggi
BI.
BJ. Gangguan integritas kulit
BK.
BP.Indikasi fototerapi
BQ.
BR.
Sinar dengan
intensitas tinggi
BS.
BT.Terjadinya evaporasi
(penguapan air melalui
kulit)
BU.
BV.
Kekurangan
volume cairan
BW.
BX.
BY.
BZ.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

BL.

Gangguan
integritas kulit

CA.

Resiko
tinggi
kekurangan

volume cairan

CB. CC.
3

CE.

Data

subjektif:
-

Ibu mengatakan sangat


takut

dengan

kondisi

Ikterus pada CF. Indikasi


sclera, kukuCG.
dan fototerapi
kulit.
Tinja berwarna
pucat

CH.

Ansietas

anaknya
CD.
-

Data objektif:

Ibu sering menanyakan


perkembangan

kondisi

anaknya
Ibu tampak gelisah

Kurang
pengetahuan
Ansietas

CI.
CJ.
J. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek fototerapi
b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan
evaporasi
c. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan
CK.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

K. Rencana Asuhan Keperawatan


CL.

CM.

CN.

Keperawatan

CQ. CR.
1

Diagnosa

berhubungan

CO.

Intervensi

CP.Rasional

Kriteria Hasil

Gangguan

integritas

Tujuan dan

CS.Tujuan
kulit

dengan

jangka

panjang:
CT.Setelah

efek fototerapi

dilakukan

tindakan keperawatan
selama

3x24

jam,

diharapkan integritas
kulit

dapat
Tujuan jangka

pendek:
CV.

keperawatan

kebersihan

kuit

akan

yang tinggal pada kulit dan kondisi

tindakan
selama

1x24 jam, diharapkan


efek fototerapi dapat
teratasi.
-

kulit.
3. Menjaga

meminimalkan mudahnya bakteri

Setelah

dilakukan

lama pada satu daerah yang dapat


menyebabkan gangguan integritas

dipertahankan.
CU.

1. Observasi keadaan kulit 1. Keadaan kulit merupakan indikasi


2. Ubah posisi setiap 2 jam
gangguan integritas kulit. Kulit
3. Jaga
kebersihan
dan
kering dan mengelupas merupakan
kelembaban kulit dengan
gangguan terhadap integritas kulit.
menggunakan sabun yang
2. Mengganti
posisi
akan
lembut
meminimalkan tekanan yang terlalu

Kriteria hasil:
Kulit tidak kering
Tidak bersisik atau

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

kulit yang terlalu kering akan


mempermudah
pengelupasan
integritas kulit.
CW.
CX.

11

terjadinya
dan

kerusakan

CY. CZ.
2

Resiko

kekurangan

mengelupas
- Elastisitas normal
DA.
Tujuan jangka
1. Observasi tanda-tanda vital klien
1. Kekurangan cairan dapat ditandai

tinggi
volume

cairan

berhubungan

dengan

peningkatan

panjang:

terutama suhu
2. Observasi penurunan turgor kulit 2.
DB.
Setelah
3. Berikan intake cairan peroral atau
dilakukan
tindakan
parental
keperawatan selama
4. Monitor
output
diantaranya
3.
3x24 jam, diharapkan jumlah urine, warna dan BAB

evaporasi

pemenuhan

cairan

tubuh adekuat.
DC.

Tujuan jangka

pendek:
DD.

keperawatan

adanya

cairan

berlebihan/dehidrasi.
Pemberian intake cairan peroral ata
parental

membantu

memenuhi

kebutuhan cairan tubuh


4. Memantau jumlah cairan
keluar
cairan

tindakan
selama

1x24 jam, diharapkan


evaporasi

yang

berlebihan

dapat

teratasi.
DE.

kehilangan

serta

yang

mengatur

keseimbangan intake dan output

Setelah

dilakukan

dengan peningkatan suhu tubuh.


Turgor kulit > 2dtk menunjukkan

Kriteria hasil:

Membran

mukosa

lembab
Turgor kulit bagus

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

12

Keseimbangan intake
dan haluaran dengan
urine

normal

dalam

konsentrasi jumlah.
DF.
DG.
DH. DI. Ansietas berhubungan
DJ. Tujuan
jangka
1. Kaji
3

dengan
pengetahuan

kurang

panjang:
DK.

pengetahuan

keluarga
1. Mengetahui pemahaman keluarga

tentang penyakit dan kondisi yang akan

Setelah

dialami oleh anak


2. Berikan informasi tentang proses
dilakukan
tindakan
penyakit, gejala yang muncul,
keperawatan selama
tindakan serta efek samping dari
2.
1x24 jam, diharapkan
tindakan yang dilakukan
cemas keluarga dapat
teratasi.

DL.

Tujuan jangka

penyakit

penyakit,

yang

serta

efek

tindakan

yang

dari

Ibu memahami proses


penyakit serta terapi
yang dilakukan.
13

tentang

gejala

samping

1x1 jam, diharapkan

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

keluarga

tindakan

selam

tentang

perkembangan

muncul,

tindakan

keperawatan

penjelasan

kondisi anak.
Pemahaman
proses

mempermudah

dan

kecemasan.

Setelah

dilakukan

memberikan

dilakukan

pendek:
DM.

membantu

dapat

mengurangi

DN.
-

Kriteria hasil:

Ibu mengungkapkan
pemahaman terhadap
proses penyakit serta
tindakan

yang

dilakukan
Ibu tampak tenang

DO.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

14

DP.
DR.

Daftar Pustaka
DQ.

Ilyas, Jumarni, dkk. 1994. Asuhan Keperawatan Perinatal. Jakarta:

EGC.
DS.

Mansjoer et al. 2000. Kapita Selekta Kedokteran - Ed 3 - Jilid 2.

DT.

Jakarta: Media Aesculapius


Markum et al. 1991. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 1.

DU.

Jakarta. FKUI
Princes, S. A. 2005.

DV.

Proses Penyakit - Ed 6 - Vol 2. Jakarta: EGC


Smeltzer, C. S & Bare, B. G. 2001. Keperawatan Medikal Bedah -

DW.

Ed 8 - Vol 2. Jakarta: EGC


Wong et al. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik - Ed 6 - Vol 1. Jakarta:

Patofisiologi: Konsep Klinis dan Proses-

EGC
DX.
DY.

STIKes INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG