Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan adalah suatu rangkaian usaha terencana yang dilakukan
secara sadar oleh masyarakat dan pemerintah untuk mengubah keadaan yang
kurang baik menjadi lebih baik.Dalam mencapai tujuan pembangunan tersebut,
salah satu permasalahan yang pelik dan kompleks yang selalu dihadapi oleh
negara maju maupun berkembang adalah masalah lingkungan hidup dan
kependudukan. Permasalahan kependudukan yang selalu dihadapi oleh negara
maju maupun berkembang adalah masalah over populasi, angka kelahiran dan
kematian

bayi

yang

tinggi,

urbanisasi,

pengangguran,

ketidakmerataan

penyebaran penduduk yang semakin kompleks akan mengimbas kepada segmen


terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu kelestarian lingkungan hidup.
Dalam menghadapi semakin menurunnya kualitas lingkungan sebagai
akibat pertumbuhan penduduk, maka sikap good governance yaitu adanya sikap
bersama antara pemerintah dan masyarakat yang benar-benar peduli terhadap
keseimbangan antara pertumbuhan penduduk berikut segala dimensinya dengan
kelestarian lingkungan.perlu digalakkan. Sebaliknya memberikan perlindungan
terhadap pemegang HPH yang melakukan penebangan hutan tanpa aturan, membackup para pengusaha dengan kategori jelek dalam penanganan limbah
industrinya adalah bentuk dari praktek bad governance, patut dihindari.
A. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan penduduk dan lingkungan ?
2. Bagaimana kerusakan yang terjadi pada aspek pertanian dan kehutanan ?
3. Bagaimana dampak permasalahan penduduk di Indonesia terhadap
lingkungan ?
4. Apakah pengaruh kepadatan populasi manusia terhadap lingkungan ?
5. Apakah dampak pertumbuhan penduduk terhadap perekonomian ?

BAB II

PEMBAHASAN
A. Penduduk dan Lingkungan
Masalah kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup merupakan dua
permasalahan yang kini sedang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya maupun
negara-negara lainnya di dunia umumnya. Brown (1992:265-280), menyatakan
bahwa masalah lingkungan hidup dan kependudukan yaitu masalah pencemaran
lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs eksploitasi terhadap sumbersumber alam, serta berbagai fenomena degradasi ekologis semakin hari semakin
menujukkan peningkatan yang signifikan.
Hal ini terjadi menurut Soemarwoto (1991:1), karena lingkungan (alam) tidak
mampu lagi memberikan apa-apa kepada kita. Pada saat yang sama meningkatnya
konsumsi yang disebabkan oleh membengkaknya jumlah penduduk yang pada
akhirnya akan berpengaruh pada semakin berkurangnya produktifitas sumber daya
alam.
Menurut Wijono (1998:5) kondisi sebagaimana digambarkan tersebut dapat
diibaratkan seperti lilin, pertumbuhan penduduk yang cepat akan membakar lilin
dari kedua ujungnya. Konsekwensinya adalah berubahnya salah satu atau
beberapa komponen dalam ekosistem, mengakibatkan perubahan pada interaksi
komponen-komponen itu, sehingga struktur organisasi dan sifat-sifat fungsional
ekosistem akan berubah pula. Dalam perspektif historis tentang kependudukan
dan dampak lingkungan Derek Lewlyn dan Jones (dalam Alfi, 1990:22) mereka
menyimpulkan bahwa sebenarnya keseimbangan ekologi itu tidak kekal. Kota
Sidney yang dulunya sangat asri dengan tatanan lingkungan kota yang nyaman,
tetapi mulai periode 80-an, semuanya telah berubah menjadi tidak nyaman lagi.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut menandakan bahwa perkembangan
penduduk sedikit banyak akan mempengaruhi lingkungan hidup baik fisik
maupun non fisik.
Dari kenyataan sejarah menurut Derek Lewlyn dan Jones, sebenarnya krisis
lingkungan hidup yang terjadi pada masyarakat modern ini sebagai dari peledakan
penduduk dan kemajuan teknologi modern, sudah dimulai ratusan tahun
2

lalu.Berdasarkan hal ini maka dapat dikatakan bahwa perkembangan penduduk


dunia dilihat dari perspektif sejarah sebenarnya mempunyai tiga tahapan transisi
yang biasa diistilahkan dengan konsep Demographis Transition. Tiga transisi itu
adalah:
1. pra-transition;
2. transition;
3. post transition.
Dijelaskan lebih lanjut oleh Derek Lewlyn dan Jones, bahwa dalam
masyarakat pra-transition, tingkat kematian dan tingkat kelahiran sama tinggi.
Pada

umumnya

sebagian

negara

berkembang

berada

pada

tingkat

transition.Tahapan transisi dalam pertumbuhan penduduk ini membawa dampak


kepada keseimbangan lingkungan. Artinya bahwa semakin cepat pertumbuhan
penduduk, maka akan membawa akibat kepada tekanan yang kuat terhadap
sumber daya alam. Pertambahan penduduk yang cepat, makin lama makin
meningkat hingga akhirnya memadati muka bumi. Lebih parah lagi sebagaimana
dikemukakan diatas adalah terjadinya bencana yang dapat memusnahkan
kehidupan manusia.
Dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat
dapat

berdampak

kepada

meningkatnya

kepadatan

penduduk,

sehingga

menyebabkan ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh. Menurut


Soemarwoto (1991:230-250) bahwa secara rinci dampak kepadatan penduduk
sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap kelestarian
lingkungan adalah sebagai berikut:
1. Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah domestik.
2. Pertumbuhan penduduk yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi
dan teknologi yang melahirkan industri dan sistem transport modern.
3. Akibat pertambahan penduduk juga mengakibatkan peningkatan kebutuhan
pangan
4. Makin besar jumlah penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber daya.
Berdasarkan pendapat yang kemukakan oleh Soemarwoto, maka tidaklah
berlebihan bahwa dampak kepadatan penduduk terhadap kualitas lingkungan

sangatlah besar.Indonesia sebagai sebuah negara yang jumlah penduduknya sangat


besar juga sedang menghadapi problematika besar tentang masalah kualitas
lingkungan. Masalah yang dihadapi ini akan semakin kompleks karena lajunya
pertumbuhan penduduk tidak bisa ditekan dalam pengertian bahwa secara alamiah
jumlah penduduk dari waktu ke waktu terus bertambah, disamping itu juga tingkat
pencemaran (air dan udara), tekanan terhadap lahan pertanian, rendahnya
kesadaran lingkungan, banyaknya pemilik HPH yang tidak bertanggungjawab,
dan tidak konsistennya Pemerintah dalam menegakkan hukum akan semakin
mempercepat penurunan mutu lingkungan secara makro. Hal ini terjadi menurut
Abdullah

(2002:20)

karena

adanya

perilaku

manusia

yang

tidak

bertanggungjawab dan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.


Akibat yang lebih jauh atas permasalahan tersebut adalah problematika yang
muncul tidak hanya sebatas pada satu sisi kependudukan saja, tetapi juga daya
dukung lingkungan terhadap kelangsungan hidup secara seimbang. Akhirnya
sampai pada satu titik terminologi akan terjadi collapse. Keadaan ini sangat
mungkin terjadi karena daya dukung lingkungan tidak lagi mampu menopang
kebutuhan hidup manusia.Semantara manusia dengan dengan jumlah yang terus
meningkat dari waktu kewaktu membutuhkan ketersediaannya bahan kebutuhan
yang disediakan oleh alam.
Ketidakmampuan alam dalam menyediakan kebutuhan manusia maka pada
gilirannya akan berakibat pada malapetaka. Melihat kondisi yang demikian maka
satu hal yang harus mendapat perhatian adalah bagaimana mengupayakan jalinan
hubungan harmonis antara pemenuhan kebutuhan manusia dengan tetap menjaga
kelestarian lingkungan alam dan diharapkan daya dukung lingkungan tetap
tersedia terutama dalam menopang laju pertumbuhan penduduk yang makin hari
terus mengalami peningkatan.
B.

Kerusakan Pada Aspek Pertanian dan Kehutanan


Kerusakan lingkungan dari aspek pertanian dan kehutanan merupakan dua

sektor yang menonjol. Di bidang pertanian, dengan semakin besar jumlah


penduduk maka kebutuhan akan bahan makanan semakin meningkat. Untuk itu
perlu usaha meningkatkan produksi bahan makanan secara memadai.

Diantaranya dengan melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian.


Penggunaan teknologi modern seperti benih unggul, sistem irigasi, pupuk dan
berbagai bahan kimia lainnya untuk memberantas hama, secara nyata telah
memberikan kontribusi yang besar dalam meningkatkan produksi pertanian.
Revolusi hijau yang pernah mengantarkan Indonesia ke arah swasembada pangan
pada tahun 1984 adalah bukti betapa ampuhnya teknologi modern dalam
meningkatkan produksi pertanian terutama bahan makanan secara nasional.
Secara kuantitas, Wijono (1998), menyatakan bahwa revolusi hijau telah
memberikan berkah yang sangat besar terhadap kemampuan penyediaan bahan
pangan secara nasional.
Selanjutnya dalam rangkaian perkembangan hasil dari pemakaian pupuk dalam
revolusi hijau, ternyata menyimpan bom waktu yaitu akibat dari pemakaian pupuk
yang terlalu berlebihan telah menyebabkan tercemarnya lingkungan perairan dan
sungai, hal ini karena berbagai jenis pupuk yang dipakai tersebut ternyata dapat
menyebabkan tumbuhnya gulma air. Di samping itu ada beberapa jenis insektisida
(golongan organokhlorin) merupakan ancaman terbesar terhadap kualitas air
(Wijono, 1998). Ternyata sejak diperlakukannya revolusi hijau pada tahun 1960an, dengan penggunaan bahan kimia yang sangat berlebihan telah menyebabkan
kematian ribuan petani.Dengan demikian pemakaian atau penggunaan bahanbahan kimia yang sangat besar telah menyebabkan menurunnya kualitas
lingkungan yang berakibat kepada menurunnya derajat kesehatan masyarakat.
Selanjutnya dijelaskan oleh Jones (1993) bahwa sektor kehutanan telah
mengalami satu delematika yang tajam.Satu sisi hutan merupakan sumber daya
alam yang harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat (walaupun dalam
prakteknya, justru hanya untuk kepentingan kelompok orang), semantara disisi
lain, pemerintah mempunyai kewajiban untuk tetap menjaga dan memelihara
kelestarian hutan dengan segala isinya.Akan tetapi dalam keadaan seperti ini
ternyata terjadi tarik menarik, dimana akhirnya kepentingan ekonomi dapat
mengalahkan kepentingan ekologi.Pertumbuhan penduduk yang cepat juga
memberikan andil besar dalam kerusakan hutan.Terjadinya konversi lahan hutan
dijadikan sebagai lahan perumahan, pertanian dan proyek-proyek industri adalah

wujud dari pertambahan penduduk yang signifikan.Sehingga dapat dikatakan


bahwa tekanan penduduk baik tekanan yang berasal dari dalam maupun yang
berasal dari luar ternayata telah menyebabkan terjadinya konversi lahan.Tekanan
dari luar dapat dilihat dari dampak kepadatan penduduk yang mengakibatkan
tekanan kuat terhadap lahan pertanian.Akibatnya upaya melakukan perambahan
hutan sebagai satu-satunya alternatif pemenuhan lahan pertanian mereka lakukan,
tanpa memperdulikan dampak dari kelestariannya .
C. Dampak Permaslahan Pwnduduk di Indonesia Terhadap Lingkungan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan dan keragaman
alam serta budaya yang luar biasa. Sebagaimana kita ketahui bersama, Indonesia
merupakan negara dengan nomor urut keempat dalam besarnya jumlah penduduk
setelah China, India, dan Amerika Serikat.
Lonjakan penduduk yang sangat tinggi atau baby booming di Indonesia akan
berdampak sangat luas, termasuk juga dampak bagi ekologi atau lingkungan
hidup. Hal itu dapat mengganggu keseimbangan, bahkan merusak ekosistem yang
ada. Dampak lonjakan penduduk di Indonesia terhadap lingkungan hayati, sudah
dapat kita lihat sejak tahun 2001, laporan Bank Dunia menyebutkan, bahwa luas
hutan mangrove di Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan, dari
4,25 juta hektar pada tahun 1982, menjadi 3,24 juta hektar pada tahun 1987 dan
menjadi hanya 2,06 juta hektar pada tahun 1995. Di sektor kehutanan telah terjadi
deforestasi yang meningkat dalam decade ini.Bank Dunia (2003) dan Departemen
Kehutanan melaporkan tingkat deforestasi di Indonesia telah mencapai lebih dari
dua juta hektar per tahun. Apabila tingkat kehilangan hutan ini tetap 2 juta hektar
per tahun, maka 48 tahun ke depan, seluruh wilayah Indonesia akan menjadi
gurun pasir yang gundul dan panas. Lautan di Indonesia juga mengalami
kerusakan terumbu karang. Data dari Bank Dunia bahwa saat ini sekitar 41%
terumbu karang dalam keadaan rusak parah, 29% rusak, 25% lumayan baik, dan
hanya 5% yang masih dalamkeadaan alami. Sekitar 50% hutan bakau di Sulawesi
telah hilang (sebagian besar menjadi tambak udang).Beberapa kawasan juga
mengalami pencemaran.Ini terjadi di kawasan-kawasan yang sibuk dengan

kegiatan pelayaran, atau perairan yang bersinggungan dengan kota-kota besar,


seperti perairan teluk Jakarta dan Surabaya.
Ujung dari semua ledakan penduduk itu adalah kerusakan lingkungan
dengan segala dampak ikutannya seperti menurunnya kualitas pemukiman dan
lahan yang ditelantarkan, serta hilangnya fungsi ruang terbuka.Dampak lonjakan
populasi bagi lingkungan sebenarnya tidak sederhana.Persoalannya rumit
mengingat persoalan terkait dengan manusia dan lingkungan hidup.Butuh
kesadaran besar bagi tiap warga negara, khusunya pasangan yang baru menikah,
untuk merencanakan jumlah anak.
D. Pengaruh Kepadatan Populasi Penduduk Terhadap Lingkungan
Kepadatan penduduk dapat mempengaruhi kualitas penduduknya. Pada
daerah yang kepadatannya tinggi, usaha peningkatan kualitas penduduk lebih sulit
dilaksanakan. Hal ini menimbulkan permasalahan social, ekonomi, keamanan,
kesejahteraan, ketersediaan lahan, air bersih, kebutuhan pangan, dan dapat
berdampak pada kerusakan lingkungan. Kepadatan penduduk mempengaruhi
beberapa aspek yang berkaitan dengan kehidupan penduduk berikut ini:
1. Ketersediaan Udara Bersih
Udara bersih merupakan kebutuhan mutlak bagi kelangsungan hidup
manusia. Udara bersih banyak mengandung oksigen. Semakin banyak jumlah
penduduk berarti semakin banyak oksigen yang diperlukan. Bertambahnya
pemukiman, alat transportasi, dan kawasan industri yang menggunakan bahan
bakar fosil (minyak bumi, bensin, solar, dan batu bara) mengakibatkan kadar
CO2 ( karbon dioksida ) dan CO ( karbon monoksida ) di udara semakin tinggi.
Berbagai kegiatan industri juga menghasilkan gas-gas pencemar seperti oksida
nitrogen (NOx) dan belerang (SOx) di udara. Zat-zat sisa itu dihasilkan akibat dari
pembakaran yang tidak sempurna.
Jadi dapat dipahami bahwa semakin tinggi kepadatan penduduk, maka
kebutuhan oksigen semakin banyak. Oleh karena itu pemerintah kota di setiap
wilayah gencar mengkampanyekan penanaman pepohonan. Selain sebagai
penyejuk dan keindahan, pepohonan berfungsi sebagai hutan kota untuk
menurunkan tingkat pencemaran udara.

2. Ketersediaan Pangan
Untuk bertahan hidup, manusia membutuhkan makanan. Dengan
bertambahnya jumlah populasi penduduk, maka jumlah makanan yang diperlukan
juga semakin banyak. Ketidakseimbangan antara bertambahnya jumlah penduduk
dengan bertambahnya produksi pangan sangat mempengaruhi kualitas hidup
manusia. Akibatnya penduduk dapat kekurangan gizi atau bahkan kurang pangan.
Sebagian besar lahan pertanian di kota digunakan untuk lahan pembangunan
pabrik, perumahan, kantor, dan pusat perbelanjaan. Untuk memenuhi kebutuhan
pangan masyarakat kota sangat tergantung dengan tersedianya pangan dari desa.
Jadi kenaikan jumlah penduduk akan meningkat pula kebutuhan pangan dan
lahan.
3. Ketersediaan Lahan
Kepadatan penduduk mendorong peningkatan kebutuhan lahan, baik lahan
untuk tempat tinggal, sarana penunjang kehidupan, industri, tempat pertanian, dan
sebagainya. Untuk mengatasi kekurangan lahan, sering dilakukan dengan
memanfaatkan lahan pertanian produktif untuk perumahan dan pembangunan
sarana dan prasarana kehidupan. Selain itu pembukaan hutan juga sering
dilakukan untuk membangun areal industri, perkebunan, dan pertanian. Meskipun
hal ini dapat dianggap sebagai solusi, sesungguhnya kegiatan itu merusak
lingkungan hidup yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Jadi
peluang terjadinya kerusakan lingkungan akan meningkat seiring dengan
bertambahnya kepadatan penduduk.
4. Ketersediaan Air Bersih
Meskipun 2/3 dari luasan bumi berupa air, namun tidak semua jenis air bisa
digunakan secara langsung. Oleh karena itu persediaan air bersih yang terbatas
dapat menimbulkan masalah yang cukup serius. Air bersih dibutuhkan oleh
berbagai macam industri, untuk memenuhi kebutuhan penduduk, irigasi, ternak,
dan sebagainya. Jumlah penduduk yang meningkat juga berarti semakin banyak
sampah atau limbah yang dihasilkan. Kawasan yang tertutup rapat oleh aspal dan
beton membuat air tidak dapat meresap ke lapisan tanah, sehingga pada waktu
hujan air hanya mengalir begitu saja melalui permukaan tanah. Akibatnya

cadangan air di dalam tanah semakin lama semakin berkurang sehingga pada
musim kemarau sering kekurangan air bersih
5. Pencemaran lingkungan
Aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sering
menimbulkan dampak buruk pada lingkungan. Misalnya untuk memenuhi
kebutuhan bahan bangunan dan kertas, maka kayu di hutan ditebang. Untuk
memenuhi kebutuhan lahan pertanian, maka hutan dibuka dan rawa/lahan gambut
dikeringkan. Untuk memenuhi kebutuhan sandang, didirikan pabrik tekstil. Untuk
mempercepat transportasi, diciptakan berbagai jenis kendaraan bermotor. Apabila
tidak dilakukan dengan benar, aktivitas seperti contoh tersebut lambat laun dapat
menimbulkan pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem. Misalnya
penebangan hutan yang tidak terkendali dapat mengakibatkan berbagai bencana
seperti

banjir

dan

tanah

longsor, serta

dapat

melenyapkan

kekayaan

keanekaragaman hayati di hutan tersebut. Apabila daya dukung lingkungan


terbatas, maka pemenuhan kebutuhan penduduk selanjutnya menjadi tidak
terjamin. Di daerah yang padat, karena terbatasnya tempat penampungan sampah,
seringkali sampah dibuang di tempat yang tidak semestinya, misalnya di sungai.
Akibatnya timbul pencemaran air dan tanah. Kebutuhan transportasi juga
bertambah sehingga jumlah kendaraan bermotor meningkat. Hal ini akan
menimbulkan pencemaran udara dan suara. Jadi kepadatan penduduk yang tinggi
dapat mengakibatkan timbulnya berbagai pencemaran lingkungan dan kerusakan
ekosistem.
E. Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Perekonomian
Pertumbuhan penduduk semakin cepat sejalan dengan meningkatnya
tingkat kesehatan masyarakat. Dengan berkembanganya teknologi kesehatan,
mendorong angka kematian yang semakin menurun sedangkan angka kelahiran
tetap tinggi. Hal ini menyebabkan perbedaan angka kematian dan kelahiran
sehingga pertumbuhan penduduk semakin cepat.Beberapa pakar menjelaskan
bahwa jumlah penduduk suatu Negara tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh

terlalu besar, yaitu harus seimbang dengan jumlah sumber-sumber ekonomi atau
yang dikenal dengan Teori Penduduk Optimum.
Pengaruh pertumbuhan populasi terhadap pertumbuhan ekonomi masih
menjadi perdebatan. Hal ini didasarkan adanya beberapa Negara pertumbuhan
ekonominya di dorong oleh pertumbuhan penduduknya seperti Negara-negara di
Eropa barat, beberapa Negara di Afrika, dan Amerika Latin dimana pertumbuhan
penduduknya mendorong pertumbuhan dan pembangunan. Berbeda halnya
dengan sebagian besar Negara-negara di Asia seperti Bangladesh, India atau
bahkan Negara kita pertumbuhan penduduknya berpotensi menghambat
pertumbuhan dan pembangunan. Dengan demikian kita mengkatagorikan dua
Ekonom dalam hal ini, yaitu Ekonom yang menganggap pertumbuhan populasi
sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi, dan Ekonom yang menganggap
pertumbuhan populasi sebagai penghambat pertumbuhan ekonomi. Ekonom yang
berpendapat bahwa pertumbuhan populasi akan mendorong pertumbuhan
ekonomi (misalnya: Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation)memiliki
alasan dengan bertambahnya jumlah penduduk maka tenaga kerja yang
dibutuhkan dalam menumbuhkan perekonomian akan muda didapatkan dan
dengan bertambahnya penduduk akan memperluas pangsa pasar sehingga
permintaan terhadap produk meningkat yang bisa mendorong pertumbuhan
ekonomi.
Adapun Ekonom yang berpendapat bahwa pertumbuhan populasi justru
akangmenghambat pertumbuhan ekonomi (Malthus dan Ricardo) dengan alasan
jika perekonomian tidak mampu menyediakan kesempatan kerja bagi angkatan
kerja,maka mereka justru akan menjadi pengangguran dan menjadi beban
perekonomian,dan

selanjutnya

justru

akan

memperkecil

pendapatan

perkapita.Namun yang diperkirakan yang terjadi di Negara maju pada awal


RevolusiIndustri di abad ke-18. Pertumbuhan penduduk di Eropa Barat waktu itu
justru mempercepat Industrialisasi. Pertumbuhan penduduk ekonomi Negara
tersebut karena mereka sudah makmur, punya modal melimpah sendangkan buruh
kurang.Akan tetapi di Negara berkembang skenarionya menjadi lain.

10

Kondisi Negara berkembang sangat berbeda dengan kondisi Negara maju. Di


Negara berkembang(termasuk Indonesia) jumlah capital terbatas dan yang
melimpah justru jumlah penduduknya. Karena itu pertumbuhan penduduk justri
dianggap berdampak buruk bagi perekonomian dari beerbagai segi.Lalu
bagaimana dengan bangsa kita Negara Indonesia apakah pertumbuhan penduduk
akan memicu pertumbuhan ekonomi. Kayaknya jawabannya berbedakarena
Negara kita tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukupsehingga
terjadi banyak pengangguran dan sehingga banyak angkatan kerja dengansangat
terpaksa meninggalkan tanah air untuk penghidupan yang layak.

BAB III
PENUTUP

11

A. Kesimpulan
Persoalan kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup adalah dua hal
yang saling terkait antara satu dengan lainnya.Terjadinya kerusakan lingkungan
sehingga yang dapat mengakibatkan ketidakseimbangan sumber daya alam, dapat
berdampak kepada kehidupan manusia secara makro.Sehingga dalam tataran
selanjutnya, ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan penduduk dan kualitas
sumber daya alam dapat menyebabkan kehancuran seluruh kehidupan manusia.
Oleh karena itu perlu adanya upaya kedepan secara bijak guna tetap mempertahan
kelestarian dan kualitas lingkungan.Konsep ini coba dilakukan penyeimbangan
antara kuantitas pertumbuhan penduduk dengan segala kebutuhannya, dengan
tetap mempertahankan kualitas lingkungan.Hingga akhirnya diperoleh suatu
keseimbangan yang ideal antara laju pertumbuhan penduduk dengan kelestarian
lingkungan.
B. Saran
Menurut kami, masih banyak hal-hal di Indonesia yang perlu diperbaiki demi
perbaikan bangasa dan negara Indonesia

yang lebih baik kedepannya.Baik

bidang-bidang dasar seperti politik, ekonomi, sosial & budaya, serta hukum harus
banyak mengalami perubahan mengarah kepada yang lebih baik. Populasi
penduduk tidak bisa kita hindari, tetapi kita perlu untuk tetap menyadari bahwa
besarnyaa pengaruh populasi penduduk terhadap bangasa dan negara yang
tentunya dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan dan
sekitarnya. Kami yakin meskipun secanggih-canggihnya perubahan zaman nanti,
apabila kita tetap berpegang teguh terhadap pedoman tersebut, maka kehidupan
negara ini akan menjadi semakin baik kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

12

Abdullah, Oekan. S. 2002. Tanggung Jawab Sosial Masyarakat Ilmiah Dalam


Menata Lingkungan Masa Depan, Upaya Meniti Pembangunan
Berkelanjutan, Bandung: Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Alfi, Nurhadi. 1990. Islam dan Tradisi Jawa Tentang Lingkungan Hidup,
Kependudukan, dan Kualitas Manusia, Dalam: Jurnal LPPM-UNS,
Septembar.
Arkanudin. 2001. Perubahan Sosial Peladang Berpindah Dayak Ribun Parindu
Sanggau Kalimantan Barat, Bandung: Tesis Magister pada Program
PascasarjanaUniversitasPadjajaran
Brown, Lester R. 1992. Tantangan Masalah Lingkungan Hidup (Bagaimana
Membangunan Masyarakat Manusia Berdasarkan Kesinambungan
Lingkungan Hidup yang Sehat), Diterjemahkan oleh S. Maimoen, Jakarta:
YayasanObor.
Geertz, Clifford. 1976. Involusi Pertanian (Proses Perubahan Ekologi di
Indonesia),Jakarta:BhrataKaryaAksara.
Jones, Gavin W. 1993. Population, Environment and Sustainable Development in
Indonesia, Dalam: Warta Demografi, Tahun XX Nomor 40, Desember.
Soemarwoto, Otto. 1991. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Cetakan
ke-5,Bandung:PenerbitanDjambatan

13