Anda di halaman 1dari 26

PETA KETAHANAN DAN KERENTANAN PANGAN

(Food Security and Vulnerability Atlas FSVA)

Pusat Ketersediaan dan Kerawanan Pangan


Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian

>> 1. Latar Belakang

Pangan dan gizi merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Tersedianya pangan
yang cukup, bergizi dan aman akan dapat mewujudkan SDM yang berkualitas untuk
melaksnakan pembangunan nasional.

Sementara terdapat kendala dalam pengelolaan program ketahanan pangan, yaitu


kurang tersedianya informasi ketahanan pangan yang akurat dan tertata dengan
baik.

Oleh karena itu, penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) untuk
memfasilitasi kebutuhan informasi lokasi keberadaan kantong-kantong yang rentan
terhadap rawan pangan.

>> 2. Tujuan
Menyediakan informasi bagi pengambil keputusan dalam perencanaan
program, penentuan target serta intervensi kerawanan pangan dan gizi di
tingkat provinsi dan kabupaten

Menjawab 3 pertanyaan

1.Dimana Daerah Yang Rentan Terhadap Kerawanan Pangan?

2. Mengapa Daerah Tersebut Rentan Terhadap Kerawanan Pangan?


3. Berapa Jumlah Penduduk Yang Rentan Terhadap Kerawanan Pangan?

>> 3. Kerangka Konsep Ketahanan Pangan


Ketahanan pangan:
Kondisi terpenuhinya pangan
bagi negara sampai dengan
perseorangan, yang tercermin
dari tersedianya pangan yang
cukup, baik jumlah maupun
mutunya,
aman,
beragam,
bergizi, merata, dan terjangkau
serta tidak bertentangan dengan
agama, keyakinan dan budaya
masyarakat, untuk dapat hidup
sehat, aktif dan produktif secara
berkelanjutan.
Sumber: UU No. 18 tahun 2012
tentang pangan

* Definisi Indikator:
Sesuatu yg dapat memberikan (menjadi) petunjuk atau keterangan:
Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI

>> 4. Tiga Aspek Utama Dalam FSVA


KETERSEDIAAN
KETERSEDIAAN PANGAN
PANGAN :: Kondisi
Kondisi tersedianya
tersedianya pangan
pangan dari
dari hasil
hasil produksi
produksi
dalam
dalam pnegeri,
pnegeri, cadangan
cadangan angan,
angan, serta
serta pemasukan
pemasukan pangan,
pangan, termasuk
termasuk
didalamnya
didalamnya bantuan
bantuan pangan,
pangan, apabila
apabila kedua
kedua sumber
sumber utama
utama tidak
tidak dapat
dapat
memenuhi
memenuhi kebutuhan.
kebutuhan.
AKSES
AKSES PANGAN
PANGAN :: Kemampuan
Kemampuan rumah
rumah tangga
tangga untuk
untuk memperoleh
memperoleh cukup
cukup
pangan,
pangan, baik
baik yang
yang berasal
berasal dari
dari produksi
produksi sendiri,
sendiri, pembelian,
pembelian, barter,
barter, hadiah,
hadiah,
pinjaman
pinjaman dan
dan bantuan
bantuan pangan
pangan maupun
maupun kombinasi
kombinasi diantara
diantara keenamnya.
keenamnya.
Ketersediaan
Ketersediaan pangan
pangan di
di suatu
suatu daerah
daerah mungkin
mungkin mencukupi,
mencukupi, akan
akan tetapi
tetapi tidak
tidak
semua
rumah
tangga
memiliki
akses
yang
memadai
baik
secara
kuantitas
semua rumah tangga memiliki akses yang memadai baik secara kuantitas
maupun
maupun keragaman
keragaman pangan
pangan melalui
melalui mekanisme
mekanisme tersebut
tersebut di
di atas.
atas.
PEMANFAATAN
PEMANFAATAN PANGAN
PANGAN :: Penggunaan
Penggunaan pangan
pangan oleh
oleh rumah
rumah tangga
tangga dan
dan kemampuan
kemampuan individu
individu
untuk
untuk menyerap
menyerap dan
dan memetabolisme
memetabolisme zat
zat gizi
gizi (konversi
(konversi zat
zat gizi
gizi secara
secara efisien
efisien oleh
oleh tubuh).
tubuh).
Pemanfaatan
Pemanfaatan pangan
pangan juga
juga meliputi
meliputi cara
cara penyimpanan,
penyimpanan, pengolahan
pengolahan dan
dan penyiapan
penyiapan makanan
makanan
termasuk
termasuk penggunaan
penggunaan air
air dan
dan bahan
bahan bakar
bakar selama
selama proses
proses pengolahannya
pengolahannya serta
serta budaya
budaya atau
atau
kebiasaan
pemberian
makan
terutama
untuk
individu
yang
memerlukan
jenis
makanan
kebiasaan pemberian makan terutama untuk individu yang memerlukan jenis makanan
khusus
khusus serta
serta kebutuhan
kebutuhan masing-masing
masing-masing individu
individu (pertumbuhan,
(pertumbuhan, kehamilan,
kehamilan, menyusui,
menyusui, dll).
dll).

>> 4. Indikator FSVA Provinsi 2014


No.
1

Indikator

Definisi
Sumber Data
Keterangan
Aspek Ketersediaan Pangan
Rasio konsumsi
Rasio konsumsi normatif per kapita Kabupaten
Untuk
terhadap produksi bersih serealia
normatif per
dalam Angka
menyesuaikan
(padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar) 2010-2012, BPS dengan data di
kapita terhadap
ketersediaan
Pusat, maka dibuat
serealia
proporsi untuk
data produksi per
kecamatan
Aspek Akses Pangan
Persentase
Nilai rupiah pengeluaran per kapita SUSENAS 2013 Diolah dengan
penduduk hidup
setiap bulan untuk memenuhi
dan Sensus
metode SAE (Small
di bawah garis
stdanar minimum kebutuhanPenduduk 2010 Area Estimation)
kemiskinan
kebutuhan konsumsi pangan dan
non pangan yang dibutuhkan oleh
seorang individu untuk hidup secara
layak
Persentase desa
Persentase desa yang tidak
PODES 2011,
PODES 2011 diolah
yang tidak
memiliki akses penghubung yang
BPS
memiliki akses
dapat dilalui kendaraan roda 4/lebih
penghubung yang atau sarana transportasi air
memadai
Persentase rumah Persentase rumah tangga yang
SUSENAS 2013 Diolah dengan
tangga tanpa
tidak memiliki akses terhadap listrik dan Sensus
metode SAE (Small
akses listrik
dari PLN dan/atau non PLN,
Penduduk 2010 Area Estimation)
misalnya generator

INDIKATOR FSVA PROVINSI 2014 (lanjutan)


No.

Indikator

Angka harapan
hidup pada saat
lahir

Persentase balita
tinggi kurang
(stunting)

Definisi
Sumber Data
Aspek Pemanfaatan Pangan

Keterangan

SUSENAS 2013 dan


Sensus Penduduk
2010

Persentase
perempuan buta
huruf

Perkiraan lama hidup rata-rata


bayi baru lahir dengan asumsi
tidak ada perubahan pola
mortalitas sepanjang hidupnya
Anak di bawah lima tahun yang
tinggi badannya kurang dari -2
Stdanar Deviasi (-2 SD) dengan
indeks tinggi badan menurut
umur (TB/U)
Persentase perempuan di atas 15
tahun yang tidak dapat membaca
atau menulis huruf latin

SUSENAS 2013 dan


Sensus Penduduk
2010

Diolah dengan
metode SAE (Small
Area Estimation)

Persentase rumah
Persentase rumah tangga yang
tangga tanpa akses tidak memiliki akses ke air minum
ke air bersih
yang berasal dari leding meteran,
leding eceran, sumur bor/pompa,
sumur terlindung, mata air
terlindung dan air hujan dengan
memperhatikan jarak ke jamban
minimal 10 m
Persentase
Persentase keluarga yang tinggal
keluarga yang
di desa dengan jarak lebih dari 5
tinggal di desa
km dari fasilitas kesehatan
dengan jarak lebih
dari 5 Km dari
fasilitas kesehatan

SUSENAS 2013 dan


Sensus Penduduk
2010

Diolah dengan
metode SAE (Small
Area Estimation)

PODES 2011, BPS

PODES 2011 diolah

Diolah dengan
metode SAE (Small
Area Estimation)

RISKESDAS 2013 dan Diolah dengan


Sensus Penduduk
metode SAE (Small
2010
Area Estimation)

>> 5. INDIKATOR FSVA PROVINSI 2015


No.
1

Indikator

Definisi
Sumber Data
Keterangan
Aspek Ketersediaan Pangan
Rasio konsumsi
Rasio konsumsi normatif per kapita Kabupaten
Untuk
terhadap produksi bersih serealia
normatif per
dalam Angka
menyesuaikan
(padi, jagung, ubi kayu dan ubi jalar) 2012-2014, BPS dengan data di
kapita terhadap
ketersediaan
Pusat, maka dibuat
serealia
proporsi untuk
data produksi per
kecamatan
Aspek Akses Pangan
Persentase
Nilai rupiah pengeluaran per kapita SUSENAS 2014 Diolah dengan
penduduk hidup
setiap bulan untuk memenuhi
dan Sensus
metode SAE (Small
di bawah garis
stdanar minimum kebutuhanPenduduk 2010 Area Estimation)
kemiskinan
kebutuhan konsumsi pangan dan
non pangan yang dibutuhkan oleh
seorang individu untuk hidup secara
layak
Persentase desa
Persentase desa yang tidak
PODES 2014,
PODES 2014 diolah
yang tidak
memiliki akses penghubung yang
BPS
memiliki akses
dapat dilalui kendaraan roda 4/lebih
penghubung yang atau sarana transportasi air
memadai
Persentase rumah Persentase rumah tangga yang
SUSENAS 2014 Diolah dengan
tangga tanpa
tidak memiliki akses terhadap listrik dan Sensus
metode SAE (Small
akses listrik
dari PLN dan/atau non PLN,
Penduduk 2010 Area Estimation)
misalnya generator

INDIKATOR FSVA PROVINSI 2015 (lanjutan)


No.

Indikator

Angka harapan
hidup pada saat
lahir

Persentase balita
tinggi kurang
(stunting)

Definisi
Sumber Data
Aspek Pemanfaatan Pangan

Keterangan

SUSENAS 2014 dan


Sensus Penduduk
2010

Persentase
perempuan buta
huruf

Perkiraan lama hidup rata-rata


bayi baru lahir dengan asumsi
tidak ada perubahan pola
mortalitas sepanjang hidupnya
Anak di bawah lima tahun yang
tinggi badannya kurang dari -2
Stdanar Deviasi (-2 SD) dengan
indeks tinggi badan menurut
umur (TB/U)
Persentase perempuan di atas 15
tahun yang tidak dapat membaca
atau menulis huruf latin

SUSENAS 2014 dan


Sensus Penduduk
2010

Diolah dengan
metode SAE (Small
Area Estimation)

Persentase rumah
Persentase rumah tangga yang
tangga tanpa akses tidak memiliki akses ke air minum
ke air bersih
yang berasal dari leding meteran,
leding eceran, sumur bor/pompa,
sumur terlindung, mata air
terlindung dan air hujan dengan
memperhatikan jarak ke jamban
minimal 10 m
Persentase
Persentase keluarga yang tinggal
keluarga yang
di desa dengan jarak lebih dari 5
tinggal di desa
km dari fasilitas kesehatan
dengan jarak lebih
dari 5 Km dari
fasilitas kesehatan

SUSENAS 2014 dan


Sensus Penduduk
2010

Diolah dengan
metode SAE (Small
Area Estimation)

PODES 2014, BPS

PODES 2014 diolah

Diolah dengan
metode SAE (Small
Area Estimation)

RISKESDAS 2013 dan Diolah dengan


Sensus Penduduk
metode SAE (Small
2010
Area Estimation)

>> 6. Indikator FSVA Kabupaten


No.

Indikator

Definisi

Sumber Data

Tempat usaha untuk menjual barang keperluan sehari-hari


secara eceran

PODES 2011 pertanyaan


1208

Pendataan Program
Perlindungan Sosial
(PPLS) 2011

Aspek Ketersediaan Pangan


1

Jumlah warung
atau toko
kelontong

Aspek Akses Pangan


2

Persentase
penduduk miskin

Nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk


memenuhi standar minimum kebutuhan-kebutuhan
konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan oleh
seorang individu untuk hidup secara layak.

Akses penghubung
yang memadai

Jalan utama desa yang dapat dilalui kendaraan bermotor


PODES 2011 pertanyaan
roda 4 atau lebih, dengan klasifikasi sebagai berikut:
1002c
1. sepanjang tahun;
2. sepanjang tahun kecuali saat tertentu (ketika turun
hujan, longsor, pasang, dll);
3. sepanjang tahun kecuali sepanjang musim hujan;
4. tidak dapat dilalui kendaraan bermotor roda 4 atau lebih
sepanjang tahun

Persentase
penduduk tanpa
akses listrik

Persentase rumah tangga yang tidak memiliki akses


terhadap listrik (baik dari PLN dan/atau non PLN)

PODES 2011 pertanyaan


501
9

Indikator FSVA Kabupaten (lanjutan)


No.

Indikator

Definisi

Sumber Data

Aspek Pemanfaatan Pangan


5

Jumlah sarana /fasilitas


kesehatan

Jumlah sarana kesehatan yang ada di desa (seperti


rumah sakit, rumah bersalin, poliklinik, puskesmas,
puskesmas pembantu, praktek dokter/bidan,
poskesdes, polindes, posyandu)

PODES 2011
pertanyaan 704

Jumlah penderita gizi


buruk

Tanda-tanda berat dan tinggi badan sangat kurang &


tidak sesuai umur, harus dinyatakan oleh tenaga
medis

PODES 2011
pertanyaan 709

Jumlah kematian balita


dan ibu melahirkan

Jumlah kematian balita (usia dibawah 5 tahun) dan


ibu pada masa kehamilan, persalinan atau nifas (40
hari setelah persalinan)

PODES 2011
pertanyaan 710

* Untuk indikator FSVA Kabupaten 2016, saat ini masih dalam pembahasan.

FSVA NASIONAL

11

Indikator FSVA Nasional 2015

Aspek Ketersediaan
Pangan

Rasio konsumsi
terhadap
ketersediaan
bersih serealia

Aspek Akses Pangan

Aspek Pemanfaatan
Pangan

Persentase
penduduk hidup
dibawah garis
kemiskinan

Angka harapan
hidup pada saat
lahir

Persentase desa
tanpa akses
penghubung yang
memadai
Persentase desa
tanpa akses
penghubung yang
memadai

12

Persentase balita
tinggi kurang
Persentase
perempuan buta
huruf
Persentase rumah
tangga tanpa akses air
bersih
Persentase desa
dengan jarak > 5 km
dari fasilitas
kesehatan

4. Indikator FSVA Nasional 2015


No.

Indikator

Definisi

Sumber Data

Aspek Ketersediaan Pangan


1

Rasio konsumsi
Rasio konsumsi normatif per kapita terhadap
produksi bersih serealia (padi, jagung, ubi
normatif per kapita
terhadap ketersediaan kayu dan ubi jalar)
serealia

Provinsi dalam
Angka 2011-2013,
BPS

Aspek Akses Pangan


2

Persentase penduduk
hidup di bawah garis
kemiskinan

Nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap


bulan untuk memenuhi stdanar minimum
kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan
non pangan yang dibutuhkan oleh seorang
individu untuk hidup secara layak

SUSENAS 2013, BPS

Persentase desa yang


tidak memiliki akses
penghubung yang
memadai

Persentase desa yang tidak memiliki akses


penghubung yang dapat dilalui kendaraan
roda 4/lebih atau sarana transportasi air

PODES 2014, BPS

Persentase rumah
tangga tanpa akses
listrik

Persentase rumah tangga yang tidak memiliki SUSENAS 2013 ,


akses terhadap listrik dari PLN dan/atau non
BPS
PLN, misalnya generator

Indikator FSVA Nasional 2015 (Lanjutan)


No.

Indikator

Definisi

Sumber Data

Aspek Ketersediaan Pangan


5

Angka harapan hidup


pada saat lahir

Perkiraan lama hidup rata-rata bayi baru


lahir dengan asumsi tidak ada perubahan
pola mortalitas sepanjang hidupnya

Persentase balita tinggi


kurang (stunting)

Anak di bawah lima tahun yang tinggi


RISKESDAS 2013,
badannya kurang dari -2 Stdanar Deviasi (-2 Kemenkes
SD) dengan indeks tinggi badan menurut
umur (TB/U)

Persentase perempuan
buta huruf

Persentase perempuan di atas 15 tahun


yang tidak dapat membaca atau menulis
huruf latin

Persentase rumah
tangga tanpa akses ke
air bersih

SUSENAS 2013, BPS

SUSENAS 2013, BPS

Persentase rumah tangga yang tidak


SUSENAS 2013, BPS
memiliki akses ke air minum yang berasal
dari leding meteran, leding eceran, sumur
bor/pompa, sumur terlindung, mata air
terlindung dan air hujan dengan
memperhatikan jarak ke jamban minimal 10
m
Persentase desa dengan Persentase desa dengan jarak lebih dari 5
PODES 2014, BPS
jarak lebih dari 5 Km dari km dari fasilitas kesehatan
fasilitas kesehatan

5. Hasil FSVA Nasional 2015


Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan
2015

15

Hasil FSVA Nasional 2015 (Lanjutan)


Prioritas

Kabupaten Tanpa
Pemekaran *

Kabupaten Lama Kabupaten Hasil


(induk) **
Pemekaran ***

1
2
3
4
5
6

2
24
46
64
61
110

3
9
3
10
11
5

Total

307

41

Total

9
11
3
10
13
4

14
44
52
84
85
119

3,52
11,06
13,07
21,11
21,36
29,90

50

398

100,00

Prioritas 1 & 2 kelompok yang dikategorikan relatif rentan terhadap kerawanan pangan (14,58 %).
Prioritas 3 & 4 kelompok yang dikategorikan pada tingkat sedang terhadap kerawanan pangan
(34,18 %).
Prioritas 5 & 6 kelompok yang dikategorikan relatif tahan terhadap kerawanan pangan (51,26%).
Keterangan:
*)
Kabupaten tanpa pemekaran mengacu pada 307 kabupaten yang tidak berubah dari FSVA 2009
hingga FSVA 2015.
**)
Kabupaten lama (induk) menunjukkan kabupaten yang mengalami perubahan batas (pemekaran)
pada tahun 2009 2015 yang umumnya tetap menggunakan nama kabupaten yang lama.
16
***)
Kabupaten baru mengacu pada unit administrasi
kabupaten baru yang dibuat pada saat mengalami
pemekaran dan masih tergabung dengan kabupaten induk pada FSVA 2009.

Klasifikasi Kabupaten Prioritas 1 dan 2


Klasifikasi Kabupaten Prioritas 1 (Kabupaten)
Papua
0

10

12

14

Klasifikasi Kabupaten Prioritas 2 (Kabupaten)


Sumatera Utara

Sumatera Barat

Riau

Nusa Tenggara Timur

Maluku
Maluku Utara

Maluku Utara

Papua Barat

Papua

12

17
0

10

12

14

16

Karakteristik Utama Kerentanan terhadap


Kerawanan Pangan Prioritas 1 dan 2
Karakteristik Utama Kerentanan terhadap Kerawanan Pangan Prioritas 1:
1. Tingginya jumlah desa yang tidak memiliki akses penghubung yang
memadai (jalan darat dan air),
2. Tingginya jumlah rumah tangga tanpa akses listrik,
3. Tingginya angka perempuan buta huruf,
4. Tingginya jumlah desa yang tidak memiliki akses ke fasilitas kesehatan
dalam jarak 5 km, dan
5. Tingginya angka stunting pada balita.
. Karakteristik Utama Kerentanan terhadap Kerawanan Pangan Prioritas 2:
1. Tingginya angka stunting pada balita,
2. Tingginya jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih dan layak minum,
3. Rendahnya angka harapan hidup,
4. Tingginya jumlah rumah tangga tanpa akses listrik, dan
5. Tingginya angka perempuan buta huruf.
18

Kabupaten Prioritas 1 FSVA Nasional 2015


NO.

PROVINSI

KABUPATEN

PAPUA

PUNCAK

PAPUA

INTAN JAYA

PAPUA

NDUGA

PAPUA

LANNY JAYA

PAPUA

PEGUNUNGAN BINTANG

PAPUA

TOLIKARA

PAPUA

PUNCAK JAYA

PAPUA

MAMBERAMO TENGAH

PAPUA

YAHUKIMO

10

PAPUA

MAMBERAMO RAYA

11

PAPUA

DEIYAI

12

PAPUA

DOGIYAI

13

PAPUA

YALIMO

14

PAPUA

19

ASMAT

Kabupaten Prioritas 2 FSVA Nasional 2015


NO.

PROVINSI

KABUPATEN

NO.

PROVINSI

KABUPATEN

SUMATERA BARAT

KEPULAUAN MENTAWAI

23

MALUKU UTARA

KEPULAUAN SULA

SUMATERA UTARA

NIAS

24

PAPUA BARAT

TAMBRAUW

SUMATERA UTARA

NIAS SELATAN

25

PAPUA BARAT

TELUK BINTUNI

SUMATERA UTARA

NIAS BARAT

26

PAPUA BARAT

TELUK WONDAMA

SUMATERA UTARA

NIAS UTARA

27

PAPUA BARAT

MAYBRAT

RIAU

KEPULAUAN MERANTI

28

PAPUA BARAT

SORONG

NTT

SUMBA TENGAH

29

PAPUA BARAT

SORONG SELATAN

NTT

TIMOR TENGAH SELATAN

30

PAPUA BARAT

KAIMANA

NTT

SUMBA BARAT DAYA

31

PAPUA BARAT

MANOKWARI

10

NTT

SABU RAIJUA

32

PAPUA BARAT

RAJA AMPAT

11

NTT

SUMBA BARAT

33

PAPUA

JAYAWIJAYA

12

NTT

SUMBA TIMUR

34

PAPUA

PANIAI

13

NTT

MANGGARAI TIMUR

35

PAPUA

MAPPI

14

NTT

ALOR

36

PAPUA

SUPIORI

20

Hasil FSVA Nasional 2015 (Lanjutan)


ANALISIS PERUBAHAN STATUS KETAHANAN PANGAN
ANTARA FSVA 2009 DAN FSVA 2015

21

Perubahan pada Status Prioritas Kabupaten di Indonesia


antara FSVA 2009 and FSVA 2015 *)
135 kabupaten (34%) telah berhasil meningkatkan status prioritas
mereka sebanyak dua tingkat atau lebih
40 kabupaten (10%) menunjukkan peningkatan sebanyak satu
tingkat.
191 kabupaten (48%) tidak mengalami perubahan pada status
prioritas mereka,
30 kabupaten (8%) mengalami penurunan status sebanyak satu
tingkat dan
2 kabupaten (7%) mengalami penurunan status sebanyak dua tingkat
atau lebih.

*)

22

Dengan menggunakan polled data 2009 dan 2015

PETA KETAHANAN DAN KERENTANAN PANGAN


PROVINSI JAWA TIMUR - BERDASARKAN FSVA
NASIONAL 2015

HASIL FSVA NASIONAL


PROVINSI JAWA TIMUR
Kabupaten

PACITAN
PONOROGO
TRENGGALEK
TULUNGAGUNG
BLITAR
KEDIRI
MALANG
LUMAJANG
JEMBER
BANYUWANGI
BONDOWOSO
SITUBONDO
PROBOLINGGO
PASURUAN
SIDOARJO
MOJOKERTO
JOMBANG
NGANJUK
MADIUN
MAGETAN
NGAWI
BOJONEGORO
TUBAN
LAMONGAN
GRESIK
BANGKALAN
SAMPANG
PAMEKASAN
SUMENEP

24

Prioritas
6
6
6
6
6
6
6
6
3
6
3
3
3
3
6
6
6
6
6
6
6
6
6
5
4
3
3
3
3

PRIORITAS

HASIL FSVA NASIONAL


PROVINSI JAWA TIMUR

JUMLAH KABUPATEN

PERSENTA
SE

PRIORITAS 1

PRIORITAS 2

PRIORITAS 3

31,03

PRIORITAS 4

3,45

PRIORITAS 5

3,45

PRIORITAS 6

18

25

62,07

TERIMA KASIH