Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

Setiap manusia normalnya memiliki organ sensori, yaitu organ pembau, pendengaran,
pengecapan, dan penglihatan. Organ- organ tersebut tidak jarang atau bahkan rawan sekali
mengalami gangguan, sehingga terjadi gangguan sensori persepsi pada penderitanya.
Hidung adalah salah satu organ sensori yang fungsinya sebagai organ penghidu. Jika hidung
mengalami gangguan, maka akan berpengaruh pada beberapa sistem tubuh, seperti
pernapasan dan penciuman.
Salah satu gangguan pada hidung adalah polip nasi. Polip nasi ialah massa lunak yang
bertangkai di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Permukaannya
licin, berwarna putih keabu-abuan dan agak bening karena mengandung banyak cairan.
Bentuknya dapat bulat atau lonjong, tunggal atau multipel, unilateral atau bilateral.
Polip dapat timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai
usia lanjut. Bila ada polip pada anak dibawah usia 2 tahun, harus disingkirkan kemungkinan
meningokel atau meningoensefalokel. Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi ialah
adanya rinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang tidak
mendukung teori ini dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi
masih belum diketahui dengan pasti. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma
nonalergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada
usia dewasa dan lebih sering pada laki laki, dimana rasio antara laki laki dan perempuan
2:1 atau 3:1. Penyakit ini ditemukan pada seluruh kelompok ras. Prevalensi polip hidung
dilaporkan 1-2% pada orang dewasa di Eropa dan 4,3% di Finlandia. Jarang ditemukan pada
anak- anak. biasanya polip hidung ditemukan pada umur 20 tahun.

BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Preoperatif
A.

B.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. S

No. MR

: 673921

Umur

: 25 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-Laki

Pekerjaan

: Swasta

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Agama

: Islam

Alamat

: Lebong

MRS

: 23 Desember 2014

ANAMNESIS
1.

Anamnesis (Autoanamnesis tanggal 23 Desember 2014)


a.

Keluhan Utama
Hidung terasa tersumbat sejak 1 bulan yang lalu

b.

Riwayat Penyakit Sekarang


1 tahun yang lalu pasien sering mengeluhkan bersin-bersin yang berulang.
Muncul hampir setiap pagi hari dan apabila terjadi perubahan cuaca. Bersin sebanyak
> 10 kali dalam sekali serangan. Saat bersin pasien juga mengelurkan cairan bening
seperti ingus yang encer dan banyak. Pasien juga merasakan hidung yaang gatal dan
tersumbat. Keluhan hilang sendiri tanpa pengobatan.

Empat bulan yang lalu, pasien merasakan ada benjolan yang mengganjal
dihidung disebelah kanan dan kiri lubang hidung pasien yang terasa mengganggu.
Pasien mengeluhkan tidak bisa mengenali bau-bauan.
1 bulan yang lalu, pasien mengeluhkan masa tersebut terasa semakin banyak
dan menutupi seluruh lubang hidung sebelah kiri pasien. Sehingga pasien sulit untuk
bernafas dan pasien bernafas melalui mulut.
c. Riwayat Penyakit Dahulu : Pasien belum pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
d. Riwayat Penyakit Keluarga : Keluarga pasien belum pernah mengalami hal serupa
sebelumnya.
d.

Riwayat Pekerjaan, Sosial Ekonomi dan Kebiasaan : pasien tinggal bersama


orang tua, dengan pekerjaan swasta.

C.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis:
Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 110/60 mmHg

Nadi

: 85 x/menit, reguler

Pernafasan

: 20 x/menit, regguler, sifat pernafasan torakoabdominal

Suhu

: 36,5 oC

Pemeriksaan Sistemik
Kepala

: DBN

Mata

: DBN

Toraks

: DBN

Abdomen

: DBN

Ekstremitas

: DBN

Pemeriksaan

Daun telinga

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Kelainan Kongenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Kelainan Metabolic

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Nyeri

pergerakan Nyeri

pergerakan

aurikular (-), nyeri tekan aurikular (-), nyeri tekan


tragus (-)

tragus (-)

Liang telinga

Lapang

Lapang

Hiperemis

Tidak Hiperemis

Tidak hiperemis

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

dinding

Serumen

Secret (-), serumen (+)

Secret (-), serumen(+)

telinga

Bau

Warna

Coklat

Coklat

Jumlah

Sedikit

Sedikit

Jenis

Lunak

Lunak

Warna

Abu-abu, putih mutiara

Abu-abu, putih mutiara

Reflek cahaya

Cone of light (+) arah Cone of light (+) arah

Liang dan

Membrane Timpani

pukul 5

pukul 7

Retraksi

Tidak ada

Tidak ada

Atrofi

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Nyeri (-)

Nyeri (-)

Tanda radang

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri ketok

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Utuh

Mastoid

Audiometri (tidak dilakukan)


Hidung
Hidung luar

Deformitas

Kelainan Kongenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Sinus

Nyeri ketok

(-)

paranasal

Nyeri tekan

(-)

Vibrise

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang

sempit, hipermis (-)

sempit, hiperemis (-)

Sempit

Sempit

Sempit

Lokasi

Konka

Konka

Jenis

Bening dan cair

Bening dan Cair

Jumlah

Sedikit

Sedikit

Bau

Ukuran

Hipertropi

Hipertropi

Konkha

Warna

Hiperesmis

Hiperemis

Inferior

Permukaan

Licin

Licin

Edema

(+)

(+)

Ukuran

Eutrofi

Eutrofi

Warna

Normal

Normal

Permukaan

Licin

Licin

Edema

Tidak ada

Tidak ada

lurus/deviasi

Deviasi (-)

Deviasi (-)

Permukaan

Normal

Normal

Warna

Hiperemis (-)

Hiperemis (-)

Abses

Tidak ada

Tidak ada

Perforasi

Tidak ada

Tidak ada

Simetris

Simetris

Rinoskopi Anterior
Vestibulum

Cavum nasi

Secret

Konkha
Media

Septum

Rinoskopi Posterior (tidak dilakukan)


Orofaring dan mulut
Palatummole

Simetris/tdk

dan arkus
faring
Dinding
faring

Tonsil

KGB

Warna

Normal, hiperemis (-)

Normal, hiperemis (-)

Edema

Warna

Normal, hiperemis (-)

Normal, hiperemis (-)

Permukaan

Licin

Licin

Ukuran

T1

T1

Warna

Normal, hiperemis (-)

Normal, hiperemis (-)

Permukaan

Licin

Licin

Muara kripti

Tidak ada

Tidak ada

Detritus

Tidak ada

Tidak ada

Eksudat

Tidak ada

Tidak ada

DBN
Karies : tidak ada

Gigi

D.

E.
1.

Kesan : Baik

DIAGNOSIS
Diagnosis

: Polip Nasi ec rhinitis alergi

Diagnosis Tambahan

: Rintis Alergi Kronik

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Nilai

Nilai Normal

Ht

45

37-47

Hb

15,7

13-18

Leukosit

9.100 mm3

4.000-10.000

Trombosit

342.000mm3

150.000-400.000

GDS

99 g/dl

70-120

F.

CT

5, 00

BT

3, 00

TATA LAKSANA
Polipektomi

G.

PROGNOSIS
Prognosis
Quo ad vitam : Bonam
Quo ad sanam : Bonam

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik maka dapat disimpulkan: Diagnosa
perioperatif:
Status operatif : ASA 1
Jenis operasi : Polipektomi
Jenis anestesi : General Anestesi (Intubasi)
Konsul Anestesi
Prinsip setuju tindakan anestesi, saran :
1. Puasa 6 jam pre op
2. Pasien ASA I
3. Cairan pre op Ringer Laktat

2.2. Intraoperatif (28 Desember 2015)


Tindakan Operasi
Tindakan Anestesi
Lama Operasi
Lama Anestesi
Jenis Anestesi
Posisi

: Polipektomi
: General Anestesi ( Intubasi )
: 45 menit (13.00 13.45)
: 55 menit (12.55 13.50)
: Intubasi, Tube 6,5 OTT ,menggunakan O2 4L/mnt
: Supine

A. Waktu anestesi dan operasi


Jam anestesi mulai: 12;55 WIB
Jam anestesi selesai: 13.50 WIB
Jam operasi mulai: 13.00 WIB

Jam operasi selesai: 13.45 WIB

Jam

Tindakan

18.4
5

18.5
5

19.0
5

19.1
5

Tekanan
darah
(mmHg)
110/60

Pasien masuk
ke kamar
operasi, dan
dipindahkan ke
meja operasi
Pemasangan
monitoring
tekanan darah,
nadi, saturasi
O2
Infus RL
terpasang pada
tangan kiri
100/70
Obat induksi
dimasukkan
secara iv:
Bupivacaine
100mg Dalam
beberapa saat
pasien
teranestesi
regional
Dilakukan
pemasangan
nasal kanul,
dan diberikan:
O2 : 2L/menit
Pernafasan
sponatan
Operasi dimulai 100/68
Kondisi
terkontrol
90/54
Kondisi
terkontrol
dimasukkan
secara iv:
Epedhrine10mg

Frekuensi Saturas
Nadi
i (%)
90

100

90

100

85

98

78

99

19.2
5
19.3
5

19.4
5
19.5
5
20.0
5

dimasukkan
secara iv:
Fentanyl100mg

dimasukkan
secara iv:
Midazolam 5mg

Kondisi
terkontrol
Kondisi
terkontrol
Operasi Selesai
Pemberian 02
dihentikan
Pemberian
metamizole
1000 mg drip
Pelepasan alat
monitoring
Pasien
dipindahkan ke
ruang
pemulihan
Dilakukan
monitoring
tensi, nadi,dan
pernafasan

20.1
5
20.2
5

Kondisi
terkontrol
Pasien
Mengeluh nyeri

105/68

80

100

110/82

83

99

125/76

90

97

119/65

87

99

120/60

80

98

126/76

79

100

120/70

73

99

B. Perhitungan Terapi Cairan:


Perhitungan cairan pengganti puasa: 6 jam x 2 ml/kg jam x 50 kg = 600 cc
Maintenance: 2 ml x 50 kg = 100 cc
Stress operasi: 6ml x 50 kg = 300 cc
EBV: 65 x 50 kg = 3250 cc

Perdarahan
-

29 kasa kecil 20 X 10= 200 ml


1 kasa besar = 100 ml
Tabung suction = 200 ml
Total 500 ml (15% EBV)
IWL
15 x 50 kg / 24 jam = 750 cc/24 jam = 31,25 cc/ jam = 15,7 cc/jam = 16 cc /jam

Cara Pemberian:
Jam 1 : (50 % x 600) + 100 + 300 + pengganti jumlah perdarahan (500 cc ) = 700
+ kristaloid 2-4 kali jmlh perdarahan =
Perhitungan balance cairan:

Input: 4 kolf 200 cc RL = 2200 cc

Output: Urine +IWL + perdarahan = 100+ 16 cc + 500 cc = 626 cc

Balance cairan = + 1574 cc

1.3.
-

Post Operatif
Keadaan pasca operasi
Drip metamizole 1 ampul
Aldrete score : 9 (layak ditransport ke ruang perawatan)
Warna kulit
: normal (2)
Motorik : gerak 4 anggota tubuh (2)
Pernapasan
: spontan (2)
Tekanan darah: 20 mmHg dari pre op (2)
Kesadaran
: sadar sepenuhnya (2)
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi
: 73 kali per menit
Suhu
: 36,20 celsius
Pupil
: isokhor
Pasien bisa langsung makan minum.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI
Polip hidung adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan didalam rongga
hidung, berwarna putih keabu-abuan, yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Polip dapat
timbul pada penderita laki-laki maupun perempuan, dari usia anak-anak sampai usia lanjut.
Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasi adalah adanya rhinitis alergi atau penyakit
atopi, tetapi makin banyak penelitian yang mengemukakan berbagai teori dan para ahli
sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti.

2. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Hidung Luar
Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah :
1. Pangkal hidung (bridge)
2. Dorsum nasi
3. Puncak hidung
4. Ala nasi
5. Kolumela
6. Lubang hidung (nares anterior)
Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit,
jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M.
Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan
menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar),
antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat
pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh :
-

Superior : os frontal, os nasal, os maksila

Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor
dan kartilago alaris minor

Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi
fleksibel.

Perdarahan :
1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A.
Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna).
2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna,
cabang dari A. Karotis interna)
3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)
Persarafan :
1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis)
2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)
Kavum Nasi
Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan
yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini
berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa
kranial media. Batas batas kavum nasi :
Posterior

: berhubungan dengan nasofaring

Atap

: os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale

dan sebagian os vomer


Lantai

: merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal,

bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini
dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.
Medial

: septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra

dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan
subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini
disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela.
Lateral

: dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os

etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.


Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang
etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan
di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang
berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan
meatus nasi suprema terletak di bagian ini.
Perdarahan :

Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang
merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan
cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa
yang berjalan bersama sama arteri.
Persarafan :
1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N.
Etmoidalis anterior
2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum
masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor
menjadi N. Sfenopalatinus.

Mukosa Hidung
Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional
dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat
pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak
berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada
bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang kadang
terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa
berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous
blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel
goblet.
Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting.
Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke
arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan
dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam
rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret
terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat
disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat
obatan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan
sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan
tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk

oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah
mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.
Fisiologi hidung
1. Sebagai jalan nafas
Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atas setinggi
konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah nasofaring, sehingga aliran
udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi, udara masuk melalui
koana dan kemudian mengikuti jalan yang sama seperti udara inspirasi. Akan
tetapi di bagian depan aliran udara memecah, sebagian lain kembali ke belakang
membentuk pusaran dan bergabung dengan aliran dari nasofaring.
2. Pengatur kondisi udara (air conditioning)
Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk mempersiapkan udara
yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara :
a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir. Pada
musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan dari lapisan ini
sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya.
b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknya pembuluh
darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka dan septum yang luas,
sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal. Dengan demikian suhu
udara setelah melalui hidung kurang lebih 37o C.
3. Sebagai penyaring dan pelindung
Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu dan bakteri dan
dilakukan oleh :
a. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasi
b. Silia
c. Palut lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada palut
lendir dan partikel partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks
bersin. Palut lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia.
d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut
lysozime.
4. Indra penghidu
Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius
pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum.

Partikel bau dapat mencapai daerah ini dengan cara difusi dengan palut lendir atau
bila menarik nafas dengan kuat.
5. Resonansi suara
Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung
akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara
sengau.
6. Proses bicara
Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng) dimana
rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molle turun untuk
aliran udara.
7. Refleks nasal
Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran
cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung
menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu
menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.
3. ETIOLOGI
Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi
alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum
diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau
sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal
dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian
menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak
mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak
mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang
dewasa dan jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan
gejala dari kistik fibrosis.
Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain :
1. Alergi terutama rinitis alergi.
2. Sinusitis kronik.
3. Iritasi.
4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan
hipertrofi konka.

4. PATOFISIOLOGI
Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang kebanyakan terdapat
di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler,
sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut,
mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga
hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip.
Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab
tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama,
vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa.
Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya
membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus maksila,
kemudian sinus etmoid. Setelah polip terrus membesar di antrum, akan turun ke
kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang
yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada
rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia
karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun.
Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa
menyebabkan obstruksi di meatus media.
5. GEJALA KLINIS
Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa sumbatan di
hidung. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat
keluhannya. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau
anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya
akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore.
Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan
iritasi di hidung.
Pada pemeriksaan rinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna
pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. Pembagian stadium
polip menurut Mackay dan Lund (1997)
a. Stadium 0
b. Stadium 1
c. Stadium 2

: Belum terlihat polip


: polip masih terbatas dimeatus medius
: polip sudah keluar dari meatus medius, tampak
dirongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung

d. Stadium 3
: polip yang massif
Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka
hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaan antara polip dan konka
polipoid ialah :
Polip :
-

Bertangkai

Mudah digerakkan

Konsistensi lunak

Tidak nyeri bila ditekan

Tidak mudah berdarah

Pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.

6. DIAGNOSIS BANDING
Polip diagnosis banding dengan konka polipoid, yang ciri cirinya sebagai
berikut :
-

Tidak bertangkai

Sukar digerakkan

Nyeri bila ditekan dengan pinset

Mudah berdarah

Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin).

Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip


dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati
hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa
menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang berbahaya
pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.
7. PENATALAKSANAAN
Untuk polip edematosa, dapat diberikan pengobatan kortikosteroid :
1. Oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari,
kemudian dosis diturunkan perlahan lahan (tappering off).
2. Suntikan intrapolip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5
cc, tiap 5 7 hari sekali, sampai polipnya hilang.
3. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid, merupakan obat
untuk rinitis alergi, sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan

pengobatn kortikosteroid per oral. Efek sistemik obat ini sangat kecil,
sehingga lebih aman.
Untuk polip yang ukurannya sudah besar dilakukan ektraksi polip (polipektomi)
dengan menggunakan senar polip. Selain itu bila terdapat sinusitis, perlu dilakukan
drenase sinus. Oleh karena itu sebelum operasi polipektomi perlu dibuat foto sinus
paranasal untuk melihat adanya sinusitis yang menyertai polip ini atau tidak. Selain
itu, pada pasien polip dengan keluhan sakit kepala, nyeri di daerah sinus dan adanya
perdarahan pembuatan foto sinus paranasal tidak boleh dilupakan.
Prosedur polipektomi dapat mudah dilakukan dengan senar polip setelah
pemberian dekongestan dan anestesi lokal.
Pada kasus polip yang berulang ulang, perlu dilakukan operasi etmoidektomi
oleh karena umumnya polip berasal dari sinus etmoid.
8. PROGNOSIS
Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatannya juga
perlu ditujukankepada penyebabnya, misalnya alergi. Terapi yang paling ideal pada
rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi.
Secara medikamentosa, dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa
dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau
tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung
lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan hiposensitisasi,
yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang
memuaskan.

BAB III
PEMBAHASAN

RESUME KASUS
Laki-laki usia 25 tahun datang dengan keluhan hidung terasa tersumbat sejak 1 bulan
yang lalu. Sejak 1 tahun yang lalu pasien sering mengeluhkan bersin-bersin yang berulang.
Muncul hampir setiap pagi hari dan apabila terjadi perubahan cuaca. Bersin sebanyak > 10
kali dalam sekali serangan. Saat bersin pasien juga mengelurkan cairan bening seperti ingus
yang encer dan banyak. Pasien juga merasakan hidung yaang gatal dan tersumbat. Keluhan
hilang sendiri tanpa pengobatan. Enam bulan yang lalu, pasien merasakan ada benjolan yang
mengganjal dihidung disebelah kanan dan kiri lubang hidung pasien yang terasa
mengganggu. Pasien mengeluhkan tidak bisa mengenali bau-bauan. Satu bulan yang lalu,
pasien mengeluhkan masa tersebut terasa semakin banyak dan menutupi seluruh lubang
hidung sebelah kiri pasien. Sehingga pasien sulit untuk bernafas dan pasien bernafas melalui
mulut. Pasien belum pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Keluarga pasien belum
pernah mengalami hal serupa sebelumnya.
Berdasarkan kepustakaan, gejala klinis pada penderita tersebut mengarah kepada
diagnosis polip hidung. Pada kepustakaan disebutkan keluhan utama penderita polip nasi
adalah hidung rasa tersumbat dari yang ringan sampai yang berat, rinore dari yang jernih
sampai purulen, hipoosmia atau anosmia. Dapat juga disertai bersin-bersin, rasa nyeri
dihidung disertai sakit kepala didaerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin
didapati post nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah
bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.
Dapat menyebabkan gejala pada saluran napas bawah, berupa batuk kronik dan mengi,
terutama pada penderita polip nasi dengan asma. Selain itu harus ditanyakan riwayat rhinitis
alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat lainya serta alergi makanan.8

Selain anamnesis, penegakkan diagnosis dapat dilakukan berdasarkan pemeriksaan


fisik THT. Pada inspeksi hidung luar ditemukan hidung penderita tampak mekar. Pada
rinoskopi anterior dekstra dan sinistra terlihat massa yang berwarna pucat pada meatus
inferior dan mudah digerakan. Diagnosis banding pada kasus pasien ini adalah :

a.

Rhinitis Alergi Kronis


Hal yang mendukung adalah terdapat riwayat bersin berulang, keluar ingus
(rinore) yang encer dan banyak, hidung tersumbat. Pada rinoskopi anterior tampak
mukosa oedem, dan adanya sekret encer yang banyak.
Hal yang tidak mendukung adalah hidung dan mata tidak gatal dan tidak ada
lakrimasi. Pada pemeriksaan fisik tidak ditemukan gejala khas rhinitis alergi kronik
yaitu allergic shiner (bayangan gelap di daerah mata karena statis vena sekunder),
allergic sallute (menggosok hidung karena gatal dengan punggung tangan) dan allergic
crease (garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah). Pada rinoskopi anterior
mukosa tidak berwarna pucat atau livid.

Operasi pembedahan Polipektomi


Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat
massif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Indikasi pembedahan apabila polip sudah
menghalangi saluran napas, menghalangi saluran drainase/sinus, dan mengganggu aktivitas
sehari-hari sehingga dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip
dengan anastesi lokal, etmoidektomi intra nasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip
etmoid, operasi Caldwell Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik adalah apabila tersedia
fasilitas endoskopi maka dapat dilakukan fasilitas endoskopi maka dapat dilakukan tindakan
BSEF.
Manajemen Airway Intubasi

DAFTAR PUSTAKA

1.

Soepardi, Efiaty. Iskandar, Nurbaiti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok edisi IV cetakan I. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta 2000

2.

Soepardi, Efiaty. Hadjat, Fachri. Iskandar, Nurbaiti. Penatalaksanaan dan Kelainan


Telinga Hidung Tenggorok edisi II. Balai Penerbit FK-UI, Jakarta 2000

3.

Kapita Selekta Kedokteran edisi III jilid I hal. 113 114. Penerbit Media
Aesculapius FK-UI 2000

4.

Adam Boies H. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi keenam. 1997. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC

5.

Arsyad, Soepardi, dkk. Buku Ajar Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher.
Edisi keenam. 2007. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

6.

Estuningtyas, Ari, dan Azalea Arif. Obat Lokal. Dalam: Farmakologi dan Terapi.
Gunawan, Sulistia Gan, dkk. Ed. Kelima. Jakarta: Departemen Farmakologi
FKUI, 2008: 531-2

7.

Adams, George. Boies, Lawrence. Higler, Peter. Buku Ajar Penyakit Telinga
Hidung Tenggorok. W.B. Saunders, Philadelphia 1989

8.

Ballenger, John Jacob. Diseaes of The Nose Throat Ear Head and Neck. Lea &
Febiger 14th edition. Philadelphia 1991

LAPORAN KASUS
POLIP NASI

OLEH:
MEILISA SRI SUZANA
H1AP10026

PEMBIMBING:
AKBP. dr. YALTA HASANUDIN, Sp. An

KEPANITERAAN KLINIK ILMU ANESTESI


RS BHAYANGKARA TK.III KOTA BENGKULU
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2015