Anda di halaman 1dari 7

A.

Hari dan Tanggal Percobaan


Jumat , 9 Oktober 2015
B. Tujuan
Sesuai modul
C. Dasar Teori
Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa, karena mempunyai sifat
dapat memuta cahaya terpolarisasi ke arah kanan. Di alam, glukosa terdapat dala buah-buahan
dan madu lebah. Darah manusia normal mengandung glukosa dalam jumlah atau konsentrasi
tetap, yaitu antara 70 100 mg tiap 100 ml darah. pankreas. Insulin membantu glukosa dalam
darah masuk ke sel untuk menghasilkan tenaga. Gula darah yang tinggi dapat berarti bahwa
pankreas tidak memproduksi cukup insulin, atau jumlah insulin cukup namun tidak bereaksi
secara normal. Hal ini disebut dengan resistensi insulin. Tingkat gula darah diatur melalui umpan
balik negatif untuk mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Level glukosa di dalam
darah dimonitor oleh pankreas.
Penentuan kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satu
metode yang digunakan untuk penentuan kadar glukosa darah adalah reaksi reduksi ion kupri
(Cu2+) di dalam larutan kupritartrat oleh glukosa darah menjadi ion kupro (Cu +) dalam suasana
basa. Sebelumnya darah harus bebas protein (deproteinasi filtrat darah). Deproteinasi dilakukan
karena dalam menentukan kadar glukosa darah maka albumin/protein dalam darah harus
dihilangkan karena protein juga dapat bereaksi dengan Cu, ketika protein telah terdenaturasi
maka tidak akan mengganggu absorbansi glukosa dengan analisis spektrofotometri UV-VIS
sehingga didapatkan hasil yang valid untuk penentuan kadar glukosa.
Senyawa Cu2O yang terbentuk dari hasil penambahan larutan kupritartrat bereaksi dengan
asam fosfomolibdat membentuk senyawa fosfomolibdenum oksida yangberwarna biru tua.
Intensitas warna biru yang terbentuk sebanding dengan kadar glukosa didalam darah sampel
sehingga dapat diukur serapannya secara spektrofotometri. Filtrat bebas protein dipanaskan
dalam larutan tembaga alkalis akan menghasilkan Cu 2O. Kemudian Cu2O direaksikan dengan
asam fosfomolibdat yang akan menghasilkan warna biru yang dapat dibaca pada
spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. Intensitas warna biru molibdat ini
merupakan ukuran banyaknya tembaga yang direduksi dengan demikian menyatakan jumlah
glukosa yang diperoleh dibandingkandengan standar. Metode ini memiliki beberapa keuntungan,
antara lain hanya dibutuhkan dua pelarut, filtrat yang terbentuk lebih netral, dan proses filtrasi
ebih cepat.
pada percobaan ini setelah larutam hasil diatas telah ditambahkan akuades sebanyak 7ml,
maka dilakukan pengujian kadar absorbansinya dengan menggnakan spektrofotometer.
Spektrofotometri merupakan metode analisis yang didasarkan pada absorpsi radiasi
electromagnet,. cahaya terdiri dari radiasi gelombang dengan panjang berlainan akan
menimbulkan cahaya yang berlainan sedangkan campuran cahaya dengan panjang-panjang ini

akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih meliputi seluruh spektrum nampak yaitu terdapat
pada 400-760 mm. Spektrofotometer ini hanya terjadi bila adanya perpindahan elektron dari
tingkat energi yang rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Perpindahan elektron tidak
diikuti oleh perubahan arah spin, hal ini dikenal dengan sebutan tereksitasi singlet. Prinsip kerja
spektrofotometri berdasarkan Hukum Lambert-Beer, bila cahaya monokromatik melalui suatu
media, maka sebagian cahaya disebut diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian diteruskan
(Sabrina 2012).
Dalam tubuh manusia, kadar glukosa darah normal adalah 80-100 mg/dl (1 dl= 100 mL).
Namun, kadar glukosa darah tersebut tergantung dengan waktu setelah makan dalam satu jam
pertama setelah makan, kadar gula darah meningkat sekitar 130 mg/dl darah, lalu menurun
setelah 2-3 jam berikutnya setelah glukosa tersebut digunakan dalam berbagai jaringan.
Sejumlah glukosa diubah menjadi glikogen dan disimpan dalam hati dan otot. Bila glukosa
diperlukan untuk energi atau glikogen, kelebihan glukosa akan diubah menjadi lemak. Glikogen
merupakan sumber energi cadangan yang akan dikonversi kembali menjadi glukosa pada saat
dibutuhkan lebih banyak energi. Meskipun lemak simpanan dapat juga menjadi sumber energi
cadangan, lemak tidak pernah secara langsung dikonversi menjadi glukosa. Fruktosa dan
galaktosa lain yang dihasilkan dari pemecahan karbohidrat, langsung diangkut ke hati yang
mengkonversinya menjadi glukosa.

D. Alat dan Bahan


Sesuai modul
E. Cara Kerja
1. Deproteinasi Filtrat Darah
0,5 ml darah oxalated
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 1,5 mL akuades
Dicampur dengan baik (dengan pengaduk
Ditambah 1,5 mL Ba(OH)2 0,3 N
Diaduk hingga rata
Ditambahkan lagi 1,5 mL ZnSO4 5%
Dicampur dengan baik
Didiaamkan selama 3 menit
Disentrifuge selama 20 menit
Diambil 1 ml untuk dilakukan penentuan kadar gula

Hasil

2. Penentuan Kadar Glukosa dalam Darah


1,0 ml Filtrat darah bebas protein
Dimasukkan ke dalam tabung reaksi (Tabuung 7)
Ditambah 1,0 mL pereaksi Nelson
Dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit,
kemudian dimasukkan dalam air dingin
Ditambahkan 1,0 mL pereaksi arsenomolibdat
Diaduk hingga merata
Dibaca absorbansinya

Hasil

3. Pembuatan Kurva Standart


1 ml Larutan

1 ml

1 ml

1 ml

1 ml

1 ml

Blanko

glukosa

glukosa

glukosa

glukosa

glukosa 0,1

(10ml)

0,02 mg/ml

0,04 mg/ml

0,06 mg/ml

0,08 mg/ml

mg/ml

akuades

- Dimasukkan
ke
dalam
tabung reaksi (Tabuung 16)
- Ditambah 1,0 mL pereaksi
Nelson
- Dimasukkan ke dalam air
mendidih
selama
20
menit,
- kemudian
dimasukkan
dalam air dingin
- Ditambahkan
1,0
mL
pereaksi arsenomolibdat
- Diaduk hingga merata
- Dibaca absorbansinya
Hasil Pengamatan
NB : Penambahan Pereaksi Nelson , Dipanaskan pada penangas, dan ditambah pereaksi
arsenomolibdat dilakukan bersama antara cara kerja Nomer 2 dan 3, sehingga ada 7
tabung yang diukur absorbansinya.
F. Data Pengamatan

Tabel hasil pengamatan :


Tulis kyk di laporan sementara
G. Analisis Data dan Pembahasan
Pada percobaan penentuan kadar glukosa dalam darah yang praktikan lakukan,
bertujuan agar praktikan mampu menentukan kadar glukosa dalam sampel darah yang
telah disiapkan. Sampel darah yang digunakan berasal dari sampel darah ayam yang
sudah disiapkan. Untuk percobaan pertama yaitu deprotenasi filtrat darah, dilakukan
pengambilan darah yang berwarna merah sebanyak 0,5 mL yang dimasukkan ke dalam
tabung sentrifuge yang telah berisi 1,5 mL aquades. Lalu darah yang telah masuk ke
dalam tabung sentrifuge, dicampur hingga merata sampai tidak terdapat gumpalan darah.
Aquades yang ditambahakan dalam darah berfungsi agar darah dapat encer sehingga
albumin dalam darah akan dapat larut oleh aquades. Albumin merupakan protein yang
dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas. Albumin sendiri terdapat dalam
serum darah dan putih telur (Anna Poedjiadi, 1994). Setelah larutan tercampur
merata,larutan menjadi merah jernih. Lalu ke dalam tabung sentrifuge yang berisi larutan,
ditambahkan 1,5 mL larutan Ba(OH)2 0,3 N yang membuat larutan menjadi dua fasa
dengan larutan bagian atas tetap jernih tetapi yang bagian bawah berwarna hijau lumut.
Larutan tersebut diaduk hingga merata. Kemudian ke dalam larutan ditambahkan 1,5 mL
larutan ZnSO4.7H2O 5%, yang menghasilkan gumpalan putih pada larutan, lalu larutan
dicampur sampai rata. Larutan didiamkan 3 menit, yang kemudian di dalam larutan
menjadi timbul endapan (+) didasar tabung reaksi. Setelah itu larutan disentrifuge selama
20 menit agar terjadi endapan albumin secara sempurna untuk diambil filtrat darah yang
bebas dari protein, yang menghasilkan dalam dasar larutan terdapat endapan (+++) yang
berwarna hijau tua, sedangkan pada bagian atas larutannya jernih tak berwarna. Larutan
dalam tabung reaksi tersebut diambil sebanyak 1 ml dan diberi label nama nomor 7.
Penambahan 1,5 mL larutan Ba(OH)2 0,3 N bertujuan untuk mengendapkan albumin
yang terlarut dalam air. Sedangkan 1,5 mL larutan ZnSO4.7H2O 5%berfungsi sebagai
katalisator untuk mempercepat reaksi pengendapan albumin oleh 1,5 mL larutan Ba(OH)2
0,3 N.
Selanjutnya yaitu melakukan pembuatan larutan standar untuk menentukan kurva
standar larutan glukosa darah. Pada percobaan ini, larutan sampel darah dimasukkan pada
lima tabung reaksi yang berbeda dengan tabung pertama berisi 1 mL H2O; tabung kedua
berisi 1 mL glukosa dengan 0,02 mg/L; tabung ketiga berisi 1 mL glukosa dengan 0,04
mg/L ; tabung keempat berisi 1 mL glukosa dengan 0,06mg/L; tabung kelima berisi 1 mL
glukosa dengan 0,08 mg/L dan tabung keenam berisi 1 mL glukosa dengan 0,1 mg/L.
Sampel darah yang diletakkan pada keenam tabung reaksi, diuji dengan menambahkan 1
mL pereaksi nelson. Lalu dilakukan pemanasan selama 20 menit, yang menghasilkan
larutan pada tabung reaksi pertama berwarna biru (+); larutan pada tabung reaksi kedua
berwarna biru (++); larutan pada tabung reaksi ketiga berwarna biru (+++); larutan pada

tabung reaksi keempat berwarna biru (++++); dan larutan tabung reaksi kelima berwarna
biru (+++++). Kemudian kelima tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam air dingin
sampai larutan terasa dingin pada suhu ruang yaitu 25 oC. Saat larutan kembali dingin, ke
dalam larutan ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat yang membuat larutan menjadi
berwarna biru yang semakin jernih. Lalu larutan diaduk sampai merata. Kemudian
larutan diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan
panjang gelombang 540 nm yang menghasilkan absorbansi larutan standar glukosa darah
sebesar 0 ; 0,05 ; 0,07 ; 0,11 ; 0,13 ; 0,118.
Kurva standar larutan glukosa darah
Berikut data absorbansi larutan standar glukosa darah :
Konsentrasi Sampel (M)

Absorbansi
0
0,05
0,07
0,11
0,13
0,118

0,00
0,02
0,04
0,06
0,08
0,1

Sehingga didapatkan persamaan garis dari kurva larutan standar glukosa darah, yaitu
sebagai berikut :

Kurva Larutan Standar Glukosa Darah


0.14

f(x) = 1.24x + 0.02


0.12 R = 0.88
0.1

Absorbansi
Linear (Absorbansi)

0.08
Absorbansi

Linear (Absorbansi)

0.06

Linear (Absorbansi)

0.04

Linear (Absorbansi)

0.02
0
0

0.02 0.04 0.06 0.08

0.1

0.12

Konsentrasi Sampel (M)

Penentuan Kadar Glukosa Darah


Persamaan garis yang dipeorleh dari kurva standar : y
besar absorbansi larutan darah 0.104.
y

= 1.242x + 0.017

= 1.242x + 0.017; dengan

0.104

= 1.242x + 0.017

0.104 - 0.017 = 1.242x


x=

0.087
1.242

x = 0.07 mg/mL

Pada penentuan kadar glukosa darah, praktikan memasukkan sampel darah dalam
tabung reaksi, sampel darah diujidengan menambahkan 1 mL larutan reagen nelson yang
menghasilkan warna larutan menjadi biru(+). Lalu dilakukan pemanasan selama 20
menit, yang menghasilkan larutan pada tabung reaksi berwarna biru (++). Pemanasan
larutan pada percobaan ini berfungsi untuk menambah laju reaksi oleh 1mL reagen
nelson. Penambahan 1mL reagen nelson sendiri bertujuan untuk membentuk warna biru
ketika ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat. Karena larutan ini mengandung asam
laktat dan ion Cu+. Kemudian tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam air dingin
sampai larutan terasa dingin pada suhu ruang yaitu 25 oC. Saat larutan kembali dingin, ke
dalam larutan ditambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat yang membuat larutan menjadi
berwarna biru yang semakin jernih. Lalu larutan diaduk sampai merata. Kemudian
larutan diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan
panjang gelombang 640 nm yang menghasilkan absorbansi larutan standar glukosa darah
sebesar 0,104.Sehingga didapatkan kadar glukosa darah sebesar 0,07 mg/mL. Sedangkan
pada literatur, kadar glukosa normal dalam darah yaitu 70-90 mg/100mL (Anna
Poedji,2004). Maka, kadar glukosa yang praktikan dapatkan masih sangat rendah dari
kadar normal glukosa darah. Pada penambahan 1 mL reagen Cu Alkalis, ion kupri (Cu+)
akan direduksi oleh gula menjadi kupro (Cu2+) dan mengendap sebagai Cu2O
(kuprooksida). Dengan menambahkan 1 mL reagen arsenomolibdat, kuprooksida melarut
lagi dan warna larutan akan berubah menjadi biru jernih disebabkan oleh adanya oksidasi
Mo. Penambahan 1,5 mL larutan Ba(OH)2 0,3 N sebelumnya juga membantu terjadinya
reduksi ion Cu2+ karena reaksi terjadi dalam suasana basa. Intensitas warna larutan adalah
ukuran banyaknya gula yang ada di dalam filtrat (Girindra 1999).

H. Daftar Pustaka

Girindra, A. 1993. Biokimia 1. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Lehninger, Albert L, 1982. Dasar-Dasar Biokimia Jilid I. Jakarta: Penerbit Erlangga.


Muray, Robert K, dkk, 2003. Biokimia Harper Edisi 2. Jakarta: Penerbit EGC.
Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: ui press.
Tim Biokimia 2015. Modul Praktikum V Penentuan konsentrasi Gula Dalam Darah.
Malang:Universitas Negeri Malang.

I. Jawaban Pertanyaan
1. Karena Glukosa merupakan satu-sastunya gula yang terdapat di dalam darah dan
merupakan bahan bakar yang ideal bagi sebagian besar jaringan (Guyton & Hall, 1996),

2.

karena digunakan untuk penghasil ATP


Dalam tubuh terdapat hormone insulin yang berfungsi untuk mengatur metabolism
glukosa. Bila glukosa terlalu banyak dalam darah, insulin mendorong penyimpanan glukosa
(glikogen) di hati (lever) dan sel otot.

3. Diabetes militus, Diabetes mellitus adalah penyakit yang ditandai dengan kadar gula
darah yang tinggi yang disebabkan oleh gangguan pada sekresi insulin atau gangguan
kerja insulin atau keduanya.
Galaktosemia. Galaktosemia merupakan suatu keadaan dimana kadar galaktosa di dalam
darah tinggi. Gangguan ini disebabkan oleh kurangnya salah satu enzim yang penting untuk
metabolisme galaktosa, yaitu gula yang terdapat pada laktosa. Metabolit yang bersifat toksik
untuk hati dan ginjal terakumulasi. Metabolit ini juga merusak lensa mata, sehingga
menyebabkan katarak.