Anda di halaman 1dari 27

BAB II

DENSITAS, SAND CONTENT DAN PENGUKURAN KADAR MINYAK PADA


LUMPUR PEMBORAN
1

Tujuan Percobaan
1

Mengenal material pembentuk lumpur pemboran serta fungsi utamanya.

Menentukan densitas lumpur pemboran dengan menggunakan alat mud


balance.

Menetukan kandungan pasir dalam lumpur pemboran.

Mengetahui besarnya kadar pasir (%) yang terkandung dalam lumpur


pemboran.

Menentukan kadar minyak dan padatan yang terdapat dalam lumpur bor
(emulsi).

Mengenal dan memahami alat-alat dan bahan pada praktikum densitas,


sand content dan pengukuran kadar minyak pada lumpur pemboran.

Teori Dasar

1 Densitas
Penggunaan lumpur sebagai fluida pemboran sangat besar peranannya
dalam menentukkan keberhasilan suatu pemboran, sehingga perlu diperhatikan
sifat kimia dan fisik lumpur tersebut. Penggunaan lumpur pemboran didasarkan
pada kondisi suatu sumur yang berbeda-beda, untuk itu diperlukan pengamatan
tersendiri terhadap jenis-jenis lumpur yang sesuai dengan kondisi pemboran.
Kehilangan lumpur adalah hilangnya sebagian atau seluruh lumpur
pemboran dalam sirkulasinya masuk ke dalam formasi yang sedang dibor,
sehingga sirkulasi pemboran tidak sempurna. Masuknya lumpur pemboran ke
dalalam formasi bisa diakibatkan kesalahan dalam operasi pemboran.

Kerugian akibat terjadinya hilang lumpur ini adalah hilangnya lumpur


pemboran, penurunan permukaan lumpur d idalam lubang bor yang dapat
menyebabkan terjadinya semburan liar pada formasi lain yang bertekanan
tinggi. Kerugian yang lain adalah tidak didapatinya serbuk bor untuk sample
log, bahaya terjepitnya pipa bor, kehilangan waktu dan biaya serta
menimbulkan kerusakan formasi.
Faktor-faktor Penyebab Hilang Lumpur
Faktor-faktor yang menyebabkan problem hilang lumpur di formasi
adalah jenis formasi, tekanan dan lumpur pemboran.
1.

Jenis formasi
Ditinjau dari jenis formasinya, maka problem hilang lumpur dapat
terjadi pada formasi permeabel, formasi gua-gua dan formasi rekahan.
a

Coarsely Permeable Formation


Jenis Formasi ini terdiri dari batu pasir dan gravel, dengan
keadaan diameter lubang atau pori-pori batuan formasi sedikitnya
tiga kali lebih besar dari diameter butiran padatan lumpur.

Cavernous Formation
Formasi ini banyak terdapat reef, gravel maupun formasi yang
terdapatnya gua-gua misalnya formasi batu kapur (Limestone dan
Dolomite)

Fissures, Fractures, Faults


Merupakan celah-celah atau retakan dalam formasi yang
terjadi secara alami maupun secara mekanis (Induced fracture)
misalnya, karena penekanan pada waktu masuk pahat atau kenaikan
tekanan pompa yang tinggi, lumpur yang terlalu berat dan gel
strength yang terlalu besar.

A
B
C
D

Permeable
Unconsolidated
formation
Vugular and cavernous
formation
Faulted, jointed and
fissured
Induced faulted

Gambar 2.1. Beberapa Type Hilang Lumpur

Tekanan
Tekanan dapat didefinisikan sebagai kekuatan perluas, atau secara
matematis adalah :

Tekanan =

Gaya
Luas

Tekanan Formasi
Tekanan formasi merupakan tekanan yang disebabkan oleh
fluida didalam formasi. Tekanan formasi dapat dikatakan normal
apabila gradien tekanan formasi berkisar 0.433 psi/ft sampai 0.465
psi/ft. Bila kurang dari itu maka tekanan formasinya subnormal dan
bila tekanan diatas gradien tekanan normal maka formasinya
abnormal. Model Persamaan yang sering digunakan untuk
menentukan tekanan formasi adalah Persamaan d-exponent.
Persamaan d-exponent yaitu

d log( R / 60 N ) / log( 12W / 1000d b )


Sedangkan untuk Persamaan d-exponent koreksi:
dc d

9
MW

Tekanan formasi dapat dihitung dengan Persamaan :


EMW

9d
0.3
dc

Keterangan :
d

: d-exponent

dc

: d-exponent koreksi

EMW : Equivalent Mud Weight, lb/gal


b

Tekanan Overburden
Tekanan overburden adalah tekanan yang diterima oleh
formasi akibat adanya gaya berat jenis batuan, yang merupakan

kombinasi antara berat jenis fluida yang terkandung didalam poripori batuan diatasnya.
Persamaan tekanan overburden adalah :
Po = Go x D
Keterangan :
Po : Tekanan overburden, psi
Go : Gradien tekanan overburden, psi/ft
D
c

: Kedalaman, ft

Tekanan Hidrostatik
Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang diakibatkan oleh
tekanan fluida pemboran, dalam keadaan statis/diam merupakan
fungsi dari tinggi kolom lumpur dan berat jenisnya.
Ph = 0.052 x MW x D
Keterangan :
Ph

: Tekanan hidrostatik, psi

MW : Mud weight, ppg


D

: Kedalaman, ft
Tekanan hidrostatik berfungsi untuk menahan tekanan formasi

supaya fluida formasi tidak masuk kedalam lubang bor. Untuk itu
tekanan hidrostatik harus lebih besar dari tekanan formasi.

Ph = Pf x (1 + SF)
Dimana SF merupakan faktor keselamatan yang besarnya berkisar
antara 2% - 10%.
d

Tekanan Rekah Formasi

Tekanan rekah formasi adalah tekanan dimana formasi mulai


rekah.

Hubbert

dan

Willis

menurunkan

Persamaan

untuk

menentukan gradien rekah formasi. Persamaan sebagai berikut :


Gfr

1
1 2Gf
3

Di lapangan tekanan rekah formasi dicari dengan melakukan


Leak Off Test.
Prosedur Leak Off Test adalah sebagai berikut :

Casing shoe dibor dengan kedalaman lubang bor 10-15 ft.

Kondisikan lumpur dan angkat pipa bor.

Tutup BOP, buka line ke annulus selubung.

Gunakan pompa tekanan tinggi/volume rendah dan naikkan


tekanan sampai 200 psi

Pompakan bbl bertahap dan tunggu tekanan naik.

Lanjutkan

tes

sampai

tekanan

naik,

tekanan

yang

meninggalkan garis lurus adalah tekanan yang membuat


formasi mulai pecah.

Catat berapa banyak lumpur masuk ke formasi.

Persamaan yang digunakan adalah :


Tekanan rekah formasi
Pfr = Ps + (0.052 x MW x D)
Berat lumpur maksimum (MWmax)
MWmax = Pfr / (0.052 x D)
Gradien rekah formasi
Gfr = MWmax x 0.052

Keterangan :
Pfr

: Tekanan rekah formasi, psi

Gfr

: Gradien tekanan rekah formasi, psi/ft

Ps

: Tekanan permukaan, psi

MWmax : Berat lumpur maksimum, ppg

Pressure, psi

Volume pumped, bbl

Gambar 2.2. Kurva Penentuan Leak off Test

Lumpur Pemboran
Dalam operasi pemboran, jenis lumpur dan sifat-sifatnya yang
sesuai dengan kondisi formasi sangat mendukung dalam keberhasilan
pemboran tersebut.
a

Fungsi Lumpur Pemboran


Mengangkat Cutting ke permukaan
Membentuk Mudcake yang tipis dan licin
Mengontrol tekanan formasi
Cutting Suspension
Mendinginkan dan melumasi pahat dan rangkaian pipa

Menahan sebagian berat Drill string dan Casing


Mencegah gugurnya dinding lubang bor
Media Logging
Mendapatkan informasi sumur
b

Komponen Lumpur Pemboran


Pada mulanya orang hanya menggunakan air saja untuk
mengangkat serbuk bor. Kemudian dengan berkembangnya sistem
pemboran, lumpur mulai digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat,
dan zar-zat kimia yang ditambahkan dan akhirnya digunakan pula
udara dan gas untuk pemboran walaupun lumpur tetap bertahan.
Secara umum lumpur pemboran dapat dibagi menjadi tiga
komponen atau fasa, yaitu:
Komponen cair.
Komponen padatan.
-

Reaktif solids.

Inert solids.

Komponen kimia.
Lumpur sangat besar peranannya dalam menentukan keberhasilan
suatu operasi pemboran sehingga perlu diperhatikan sifat-sifat dari
lumpur tersebut, seperti densitas, viskositas, gel strenght ataupun
filtration loss. Dalam percobaan ini akan dibahas salah satu sifat saja
yaitu densitas.
Densitas lumpur bor berhubungan langsung dengan fungsi lumpur
bor sebagai penahan tekanan formasi. Adanya densitas lumpur bor yang
terlalu besar akan menyebabkan lumpur bor akan hilang ke formasi (lost
circulation), sedangkan apabila terlalu kecil akan menyebabkan kick

(masuknya fluida formasi ke lubang sumur). Maka densitas lumpur harus


disesuaikan dengan keadaan formasi yang akan di bor.
Densitas lumpur dapat menggambarkan gradien hidrostatik dari
lumpur bor dalam (psi/ft). Tetapi di lapangan biasanya dipakai satuan ppg
(pound per gallon).
Asumsi-asumsi :
Volume setiap material adalah additive :
Vs + Vml = Vmb ..........................................................................(1)
Jumlah berat adalah additive, maka :
sVs + mlVml = mbVmb ...............................................................(2)
Keterangan:
Vs

Volume solid, gallon

Vml

Volume Lumpur lama, gallon

Vmb =

Volume Lumpur baru, gallon

densitas solid, ppg

ml

densitas Lumpur lama, ppg

mb

densitas Lumpur baru, ppg

Dari persamaan 1 dan 2 didapat :

Vs

( mb ml )Vml
s mb
.................................................................(3)

Karena zat pemberat (solid) beratnya adalah :

W s V s x s
Bila dimasukkan dalam persamaan (3)

Ws

( mb ml )Vml
s
s mb

(%) Volume solid:

Vs
( ml )
100 mb
100
Vmb
s ml
(%) berat solid :

sV s
( ml ) s
100 mb
100
mbVmb
( s ml ) ml
Maka bila yang digunakan sebagai solid adalah barite dengan SG = 4,3
untuk menaikkan densitas dari lumpur lama seberat ml ke lumpur baru
sebesar mb setiap bbl lumpur lama memerlukan berat solid, Ws sebanyak :

Ws 684

( mb ml )
(35.8 mb )

Keterangan :
Ws = berat solid / zat pemberat, kg barite/bbl lumpur.
Sedangkan jika yang digunakan sebagai pemberat adalah bentonite
dengan SG = 2.5 maka untuk tiap barrel lumpur diperlukan:

Ws 398

( mb ml )
(2.5 mb )

Ws = kg bentonite/bbl lumpur lama


Lumpur pemboran sebagai benda cair mempunyai berat jenis. Berat
jenis suatu benda adalah berat benda dibagi volumenya pada temperatur

dan tekanan tertentu. Satuan (Dimensi) yang dipakai adalah kg/l, gr/cc
dan lb/gal. Berat jenis lumpur pemboran diukur dengan alat timbangan
lumpur (mud balance) yaitu semacam alat penimbang yang disatu
ujungnya berskala dan ujungnya yang lainnya terdapat mangkuk tempat
akan ditentukan densitasnya. Kalibrasi alat tersebut dapat dilakukan
dengan air biasa harus menunjukkan angka 8,33 lb/gal (ppg), 62,4 lb/cuft,
1 spesifik gravitasi dan 433 psi/1000 ft. Hasil pengukuran yang lengkap
dicatat dalam satuan-satuan tersebut diatas.
Berat jenis lumpur harus dikontrol agar dapat memberikan tekanan
hidrostatik yang cukup untuk mencegah masuknya cairan formasi
kedalam lubang bor, tetapi tekanan tersebut jangan terlalu besar sehingga
menyebabkan formasi pecah dan lumpur hilang ke formasi. Oleh karena
itu berat jenis lumpur pemboran perlu direncanakan sebaik-baiknya dan
disesuaikan dengan keadaan tekanan formasi.
Tekanan hidrostatik lumpur didasar lubang adalah fungsi dari berat
jenis lumpur itu sendiri dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Ph =

x 0.433 x D
0,052 . . D
8.33

Dimana :
Ph = tekanan hidrostatis lumpur
= densitas lumpur, ppg
D = kedalaman, ft
Tekanan hidrostatik lumpur di dasar lubang akan mempengaruhi
kemampuan daripada formasi dibawahnya yang akan dibor. Semakin
besar Ph atau semakin mampat sehingga merupakan hambatan tambahan
terhadap kemampuan pahat untuk mengoreknya, sehingga kemajuan
pahat akan semakin lambat. Hubungan antara kecepatan pemboran

dengan tekanan hidrostatik lumpur di dasar lubang dapat dilihat dengan


grafik di bawah ini (gambar 2.3).
18
13
Drilling rate - feet/hour

8
3
-2

Hydrostatic pressure - 190 psi

Gambar 2.3. Hubungan Tekanan Hidrostatik Lumpur vs Laju Pemboran

2 Sand Content
Yang dimaksud dengan sand content adalah kadar pasir di dalam lumpur
bor. Pasir tidak boleh terlalu banyak didalam lumpur bor, karena dapat merusak
peralatan yang dilaluinya pada saat sirkulasi, dan akan menaikkan berat jenis
dari lumpur bor itu sendiri. Maksimal yang diperbolehkan adalah 2% volume.
Tercampurnya serpihan-serpihan formasi (cutting) ke dalam pemboran
akan membawa pengaruh pada operasi pemboran. Serpihan-serpihan pemboran
yang biasanya berupa pasir akan dapat mempengaruhi karakteristik lumpur
yang di sirkulasikan, dalam hal ini akan menambah densitas lumpur yang telah
mengalami sirkulasi. Bertambahnya densitas lumpur yang tersirkulasi ke
permukaan akan menambah beban pompa sirkulasi lumpur. Oleh karena itu
setelah lumpur di sirkulasikan harus mengalami proses pembersihan terutama
menghilangkan partikel-prtikel yang masuk ke dalam lumpur selama sirkulasi.
Alat-alat ini yang biasanya disebut conditioning equipment adalah :
1

Shale Shaker

Fungsinya membersihkan lumpur dari serpihan-serpihan atau


cutting yang berukuran besar. Penggunaan screen (saringan) untuk
problematika padatan yang terbawa dalam lumpur menjadi salah satu
pilihan dalam solid control equipment. Solid/ padatan yang mempunyai
jari-jari yang lebih besar dari jari-jari screen akan tertinggal/tersaring dan
dibuang, sehingga jumlah solid dalam lumpur bisa terminimalisasi. Jarijari screen di set agar polimer dalam lumpur tidak ikut terbuang.
Kerusakan screen bisa diperbaiki dan diganti. Hasil pengamatan
menunjukan bahwa kualitas cutting yang tersaring dalam system Glydril
MC jauh lebih baik dari pemboran dengan water base mud.

Gambar 2.4. Shale Shaker

Degasser
Fungsinya membersihkan lumpur dari gas yang mungkin masuk ke
lumpur pemboran. Alat ini sangat berfungsi pada saat pemboran
menembus zona permeable, yang ditandai dengan pemboran menjadi
lebih cepat, densitas lumpur berkurang dan volume lumpur pada mud pit
bertambah.

Gambar 2.5. Degasser

Desander

Merupakan peralatan yang membersihkan lumpur dari partikelpartikel padatan yang berukuran kecil yang biasanya lolos dari shale
shaker.

Gambar 2.6. Desander

Desilter
Fungsinya

sama

dengan

desanser

tetapi

desilter

dapat

membersihkan lumpur dari partikel-partikel yang berukuran kecil.


Penggunaan desilter dan mud cleaner harus dioptimalisasi oleh beberapa
faktor seperti : berat lumpur, biaya fasa liquid, komposisi solid dalam
lumpur, biaya fasa liquid, biaya logistik yang berhubungan dengan bahan
kimia dan lain-lain. Biasanya berat lumpur yang dikehendaki sekitar 10,8
biasanya lebih praktis dengan menggunakan mud cleaner dibandingkan
dengan penyaringan dengan screen terkecil. Selain itu penggunaan mud
cleaner lebih praktis juga lebih murah.

Gambar 2.7. Desilter

Penggambaran sand content dari lumpur pemboran adalah merupakan


persentase volume dari partikel-partikel yang diameternya lebin besar dari 74
Mikron. Hal ini dilakukan melalui pengukuran dengan saringan tertentu. Jadi
rumus untuk menentukan kandungan pasir (sand content) pada lumpur
pemboran adalah :

Vs
x100%
Vm

Dimana :
n

= Kandungan pasir

Vs

= Volume pasir dalam lumpur

Vm

= Volume lumpur

Tercampurnya serpihan-serpihan formasi (cutting) ke dalam lumpur


pemboran akan mempengaruhi operasi pemboran. Serpihan pemboran akan
menaikan densitas lumpur yang disirkulasikan. Bertambahnya densitas akan
menambah beban pompa, oleh karena itu lumpur pemboran harus mengalami
pembersihan setiap saat.
Lumpur dengan komponen minyak dikembangkan untuk menanggulangi
sifat-sifat lumpur dasar air (water base mud) yang tidak diinginkan. Untuk itu
digunakan lumpur dasar minyak (oil base mud) yang mempunyai keuntungan

antara lain : mempunyai sifat lubrikasi/ meleburkan/ menghancurkan yang baik,


staobilitas temperatur yang tahan sampai 500oF, corrosion resistance,
meminimalisasi kerusakan formasi, dan mencegah terjadinya shale problem.

Gambar 2.8. Pengangkatan Cutting

3 Pengukuran Kadar Minyak


Kandungan minyak adalah banyaknya minyak yang terkandung dalam
lumpur emulsi dimana air sebagai bahan dasarnya. Lumpur emulsi yang baik
adalah lumpur pemboran dengan kadar minyak maksimal sebesar 15 20 %.
Kadar minyak dalam lumpur emulsi mempunyai pengaruh yang cukup besar
terhadap laju pemboran. Hal ini terutama karena minyak akan memberikan
pelumasan sehingga pahat lebih awet, mengurangi pembesaran lubang bor dan
mengurangi penggesekan pipa bor dengan formasi serta mengurangi
kemungkinan terjadinya jepitan terhadap pahat. Akan tetapi setelah melewati
kandungan minyak optimum tersebut, kenaikan kadar minyak akan
menyebabkan penurunan laju pemboran, hal ini tejadi pada permukaan bit yang

lebih licin saat kontak dengan batuan formasi karena adanya pelumasan yang
berlebihan.
3

Peralatan dan Bahan

1 Peralatan
1

Mud balance;

Retort Kit;

Multi Mixer;

Wetting Agent;

Sand Content Test;

Gelas ukur 500 cc.

Gambar 2.9. Sand Content Set

Gambar 2.10. Mud Balance

Gambar 2.11. Retort Kit

Gambar 2.12. Multi Mixer

Gambar 2.13. Gelas Ukur 500 cc

2 Bahan

Barite;

Bentonite;

Air tawar ( aquades ).

Prosedur Percobaan

1 Densitas Lumpur
1

Mengkalibrasi peralatan Mud Balance sebagai berikut :

Membersihkan peralatan mud balance;

Mengisi cup dengan air hingga penuh, lalu ditutup dan dibersihkan
bagian luarnya. Keringkan dengan kertas tissue;

Meletakkan kembali mud balance pada kedudukan semula;

Rider ditempatkan pada skala 8,33 ppg;

Mencek pada level glass bila tidak seimbang atur calibration screw
sampai seimbang.

Menimbang beberapa zat yang digunakan.

Menakar air 350 cc dan dicampur dengan 22,5 gr bentonite. Caranya air
dimasukkan ke dalam bejana lalu dipasang pada multi mixer dan
bentonite dimasukkan sedikit demi sedikit setelah multi mixer dijalankan.
Selang beberapa menit setelah dicampur, bejana diambil dan isi cup mud
balance dengan lumpur yang telah dibuat.

Cup ditutup dan lumpur yang melekat pada dinding bagian luar dan tutup
dibersihkan dengan bersih.

Letakkan balance arm pada kedudukan semula, lalu atur rider hingga
seimbang. Baca densitas yang ditunjukkan oleh skala.

Ulangi langkah lima untuk komposisi campuran yang berbeda.

2 Sand Content
1

Isi tabung gelas ukur dengan lumpur pemboran dan tandai. Tambahkan air
pada batas berikutnya. Tutup mulut tabung dan kocok dengan kuat.

Tuangkan campuran tersebut ke saringan. Tambahkan air ke dalam


tabung, kocok dan tuangkan ke saringan. Ulangi hingga tabung menjadi
bersih. Cuci pasir yang tersaring pada saringan untuk melepaskan sisa
lumpur yang melekat.

Pasang Funnel tersebut pada sisi atas dari sieve. Dengan perlahan-lahan
balik rangkaian peralatan tersebut dan masukkan ujung fannel ke dalam
gelas ukur. Hanyutkan pasir ke dalam tabung dengan menyemprotkan air
melalui saringan sehingga semua pasir tertampung dalam gelas ukur.
Biarkan pasir mengendap. Dari skala yang ada pada tabung, baca persen
volume dari pasir yang mengendap.

Catat sand content dari lumpur dalam persen volume.

3 Penentuan Kadar Cairan Larutan


1

Ambil himpunan retort keluar dari insulator blok, keluarkan mud chamber
dari retort.

Isi upper chamber dengan steel wall.

Isi mud chamber dengan lumpur dan tempatkan kembali tutupnya,


bersihkan lelehan lumpurnya.

Hubungkan mud chamber dengan upper chumber, kemudian tempatkan


kembali dalam insulator.

Tambahkan setetes wetting agent pada gelas ukur dan tempatkan di


bawah kondensator.

Panaskan lumpur sampai tak terjadi kondensasi lagi yang ditandai dengan
matinya lampu indikator.

Hal-hal yang perlu dicatat selama pengujian berlangsung adalah :

% volume minyak = ml minyak x 10

% volume air = ml air x 10

% volume padatan = 100-(ml minyak + ml air) x 10

Gram minyak = ml minyak x 0.8

Gram lumpur = lb / gall x 1.2

Gram padatan = gram lumpur (gram minyak + gram air)

Ml padatan = 10 (ml minyak + ml air)

Spesific gravity padatan rata-rata = gram padatan/ml padatan.

% berat padatan = (gram padatan/gram lumpur) x 100

Hasil Analisa
Setelah dilakukan beberapa langkah kerja di atas maka didapatkan hasil sebagai
berikut ini :
Tabel 2.1. Data Densitas dan Sand Content Hasil Percobaan

No

Komposisi lumpur

Densitas

Sand

(ppg)

Content
(% Volume)

1
2
3
4
5

Lumpur dasar (LD)


LD + 2 gr Barite
LD + 5 gr Barite
LD + 10 gr CaCO3
LD + 15 gr CaCO3
6
Pembahasan

1 Pembahasan Praktikum

8.65
8.70
8.75
8.75
8.80

0.55
0.60
0.60
0.90
0.90

Dari percobaan yang dilakukan di atas digunakan zat additive berupa


barite dan CaCO3. Sedangkan lumpur dasar yang digunakan berasal dari
campuran air 350 cc dan bentonite 22,5 gram. Densitas lumpur dasar ini sebesar
8,65 ppg.
Pada percobaan pertama, yang dilakukan adalah menaikkan densitas
lumpur pemboran dengan menambahkan barite sebanyak 2 gram ke dalam
lumpur dasar. Setelah dilakukan penambahan barite ke dalam lumpur dasar,
dihitung densitas lumpur dan didapatkan nilai densitasnya sebesar 8,70 ppg.
Tahap selanjutnya ditambahkan barite sebanyak 5 gram dan densitas yang
didapatkan nilainya sebesar 8,75 ppg. Artinya penambahan barite sebanyak 3
gram mampu menaikkan densitas sebesar 0,05 ppg.
Dipercobaan kedua zat additive yang kita gunakan adalah CaCO3. Dengan
menambahkan CaCO3 sebanyak 10 gram ke dalam lumpur dasar yang
densitasnya 8,65 ppg, Densitas lumpur baru yang dibuat nilainya akan naik
menjadi 8,75 ppg. Artinya ada penambahan 0,10 ppg ketika ditambahkan
CaCO3 sebanyak 10 gram. Pada tahap selanjutnya ditambahkan 15 gram CaCO3
ke dalam lumpur dasar sebanyak 15 gram. Densitas yang didapatkan sebesar
8,80 ppg.
Dari kedua additive di atas yang ditambahkan ke dalam lumpur dasar,
keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu menaikkan densitas lumpur.
Penggunaan barite lebih ekonomis karena dengan jumlah yang sedikit, nilai
densitas yang didapatkan akan lebih besar dari pada menggunakan CaCO3. Dari
percobaan terlihat 5 gram barite akan mampu menaikkan densitas lumpur
sebesar 0,10 ppg. Dalam keadaan yang sama, diperlukan CaCO3 10 gram untuk
menaikkan densitas sebesar 0,10 ppg.
Kedua zat additive di atas termasuk dalam kategori zat pemberat, dimana
fungsi dari zat pemberat ini adalah untuk menjaga tekanan hidrostatis, agar
tekanan pori yang tinggi dapat diimbangi. Pada kondisi demikian biasanya berat

lumpur yang digunakan berkisar antara 18 18,5 ppg. Material lain yang
termasuk pemberat adalah ilminite dan hematite.
Aplikasinya di lapangan, penggunaan kedua jenis zat pemberat ini
digunakan berdasarkan kondisi dari sumur pemboran. Kedalaman dan tekanan
formasi yang ada pada sumur tersebut merupakan faktor utama sebagai
pemilihan jenis zat additive apa yang digunakan.
Selain itu dalam percobaan ini dihitung juga kadar pasir (sand content)
yang terkandung di dalam lumpur pemboran. Kadar pasir yang terkandung di
dalamnya yaitu sebesar 0,50 % untuk lumpur dasar + barite, dan 0,75 % untuk
lumpur dasar + CaCO3.
Perhitungan ini perlu dilakukan agar dalam operasi pemboran, kadar pasir
yang ada di dalam lumpur tidak mengganggu kinerja mesin pompa pendorong
lumpur dan peralatan drill string. Kandungan pasir yang tinggi juga akan
menaikkan densitas lumpur pemboran, sehingga akan menyebabkan terjadinya
filtration loss.
2 Pembahasan Soal Analisa
1

Dilihat dari data percobaan tersebut jelaskan apakah barite dan CaCO 3
mempunyai fungsi yang sama ?
Jawaban : Dari data percobaan tersebut menunjukkan bahwa Barite dan
CaCO3 mempunyai fungsi yang sama sebagai additive untuk menaikkan
densitas lumpur, Barite dan CaCO3 juga digunakan pada lumpur di dasar
minyak.

Jika saudara bekerja sebagai Mud Engineer pada suatu operasi pemboran.
Dari dua jenis material pemberat di atas material manakah yang akan
saudara gunakan? berikan alasannya!
Jawaban : material yang akan saya gunakan adalah barite, karena
kandungan pasirnya kecil dan dari segi biaya juga lebih ekonomis.

Barite ( BaSO4 ) mempunyai SG dari 4,2 4,5. Dari data diatas


perkirakan SG dari barite tersebut. Jika diketahui SG bentonite = 2,6
Diketahui : air

= 8,33 ppg

SG bentonite = 2,6
Ditanyakan : SG barite?
Jawab :

lumpur

= air x SG bentonite
= 8,33 x 2,6
= 21,658 ppg

lumpur ml
ml SGbarite ml

Vs
Vml
=

21,658 8,33
8,33 SGbarite 8,33
0,5

SGbarite = 4,2
4

Dari jawaban soal no.3, perhatikan harga yang diperoleh tersebut berada
di dalam range SG barite seperti tertulis dalam soal? Jika ya, tentukan
apakah barite tersebut termasuk pure barite atau oAPI barite? Jika tidak,
jelaskan sebabnya !
Jawaban : Berdasarkan jawaban no.3 didapat harga SG Barite sebesar 4,2
seperti yang termasuk di dalam range SG dalam soal, berarti barite
tersebut merupakan pure barite atau API barite.

Dari tabel di atas terlihat bahwa selain densitas juga diukur kadar pasir.
Jelaskan secara singkat mengapa perlu dilakukan pengukuran kadar pasir
dan bagaimana cara mengatasi masalah tersebut dalam operasi
pemboran !

Jawaban : Pengukuran kadar pasir perlu dilakukan karena dapat


mempengaruhi karakteristik lumpur yang disirkulasikan, dalam hal ini
menambah densitas lumpur yang telah disirkulasikan. Cara mengatasinya
adalah dengan proses pembersihan dengan menggunakan conditioning
equipment yang fungsinya menghilangkan partikel partikel yang masuk
ke dalam lumpur selama sirkulasi.
6

Pada saat ini selain barite dapat juga digunakan hematite (Fe2O3) dan
Ilmenite ( FeO.TiO2 ) sebagai density control additive. Hematite
mempunyai harga SG antara 4,9 5,3. Sedangkan ilmenite dari 4,5 5,11
dengan kekerasan masing masing 2 kali lebih dari barite. Dari data
tersebut, buatlah analisa kelebihan dan kekurangan additive tersebut jika
dibandingkan dengan barite !
Jawaban :
Kelebihannya :

Pengontrolan tekanan statik lumpur akan lebih mudah dilakukan.

Cocok untuk pemboran yang dangkal.

Lost circulation lebih mudah dicegah.

Kekurangannya :

Sukar larut dan bercampur dengan lumpur yang lama.

Tidak ekonomis apabila ingin menaikkan densitas.

Tidak sesuai dengan pemboran dengan tekanan formasinya yang


cukup tinggi.

Galena ( PbS ) mempunyai harga sekitar 7,5 dan dapat digunakan untuk
membuat lumpur dengan densitas lebih dari 19 ppg. Pada penerapannya,
Galena jarang digunakan sebagai additive pemboran. Jelaskan mengapa

material ini jarang digunakan sebagai density control additive dan hanya
digunakan untuk masalah masalah pemboran khusus?
Jawaban : Galena digunakan untuk masalah pemboran khusus karena
dapat menyebabkan formasi yang dilalui terbelah. Karena SG Galena
yang tinggi pula sehingga mampu meningkatkan densitas lumpur
mencapai >19 ppg.
8

Suatu saat saudara berada di lokasi pemboran. Pada saat itu bit mencapai
kedalaman 1600 ft. Saudara diharuskan menaikkan densitas dari 200 bbl
lumpur 11 ppg menjadi 11,5 ppg dengan menggunakan barite ( SG = 4,2 )
dengan catatan bahwa volume akhir tidak dibatasi. Hitung jumlah barite
yang dibutuhkan (dalam lb) !
Diketahui : Vml

200 bbl

200 x 42 gallon = 8400 gallon

ml

11 ppg

mb

11,5 ppg

4,2 x 8,33 ppg

35 ppg

Ditanyakan : W barite ?

mb ml xV
s mb

Jawaban :

W barite

ml

x s

=
= 6255,319 lb

Sebutkan hal-hal yang terjadi akibat sand content terlalu besar!


Jawaban:
-

Dapat

mempengaruhi

disirkulasikan.

karakteristik

lumpur

yang

akan

Meningkatkan densitas lumpur sehingga dapat menambah beban


pompa saat sirkulasi lumpur.

Dapat merusak peralatan pemboran, karena sand content bersifat


abrasive.

Rusaknya peralatan akan menambah cost.

Kesimpulan
1

Densitas lumpur harus disesuaikan dengan keadaan formasi yang akan


dibor agar dapat melakukan fungsinya secara optimal.

Densitas lumpur yang terlalu besar akan menyebabkan lumpur pemboran


hilang ke formasi (lost circulation), dan apabila terlalu kecil akan
menyebabkan masuknya fluida formasi ke lubang bor (kick).

Penambahan additive dapat menambah atau mengurangi densitas lumpur.


Penambahan Barite dapat menaikkan densitas, sedangkan penambahan air
menurunkan densitas lumpur.

Barite dan CaCO3 adalah jenis additive yang termasuk kategori pemberat,
yang fungsinya untuk menaikkan densitas yang berfungsi untuk menjaga
tekanan hidrostatis di dalam kolom sumur.

Kadar pasir yang ada di dalam lumpur pemboran perlu dianalisa, karena
kadar pasir dapat menyebabkan densitas lumpur pemboran mengalami
kenaikkan.