Anda di halaman 1dari 124

EDDY S.

I'{ARIZAR
U,ridang-undang Rl Nomor'19 Tahun 2002
tentang Hak Cipta

Lingkup Hak Gipta


Pasal 2:

1.

Hak Cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, yang
timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan
dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

ffiffiffiffiffiffiffiffiffi
ffiWffiffiffiWWffiffi
Teknik Meroncong

Mebel Kreqtif

Konsepsi, solusi, inovosi, dqn implementosi

Ketentuan Pidana
PasalT2:
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak
melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat(1) dan
dipidana dengan pidana penjara masing' ayat(2)
masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau
denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta
rupiah), atau pidana penjara paling lama7 (tujuh)

tahun dan/atau denda paling banyak

2.

;)
**l

Rp

%t
'*11

5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada


umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), dipidana dengan pidana
penjara paling lama 5 (lima)tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah).

&i&
r

,- !
it,l

,. ',,,

. ,,

ll

Media Pressindo
Yogyakarta, 2005

SEKAPUR SIRIH
0lef:

DESIGNING fORNITURE
Teknik

Mersncong Mebel Kreoii,

Konsepsi. solusi, inovosi, don implemento$i

EDDY S. MARIZAR

Perancang Sampul :Acho Makkawaru, Udin Khoirudin


Penyunting : Arisatya Yogaswara
Designing Furniture / Eddy S. Marizar
Yogyakarta: Media Pressindo, 2005
xii + 242 hlm; 14.5 x 21 cm

ISBN
979-222-111-5
Cetakan Pertama, April 2005

Penerbit Media Pressindo


Jl. Godean Km. 5,6 No. 34 B
Perempatan Ringroad Barat Demakijo
Yogyakarta 55292
Telp. (0274) 620879; Faks. (0274) 62s743

Dr. Eddy Hadi Waluyo, M. Hulp.*

Pada umurhnya, sebuah rancangan mebel iahir karena adanya kebutuhan terhadap fungsi mebel tersebut.
Sebuah kursi misalnya, hadir setelah si perancang memahami akan kegunaannya, siapa yang menggunakannya, bagaimana menggunakannya, kapan digunakannya, dan juga
berapa iama digunakannya. Si perancang juga akan mempertimbangkan bahan-bahan yang akan dipakai, bagaimana merakit dan memproduksinya, berapa besar biaya
pembuatannya dan juga harga jualnya, serta pada akhirnya
memikirkan bagaimana tampilan kursi tersebut akan di-

buat.

Berkaitan dengan ihwal tampilan, ternyata terdapat


banyak sekali sumber yang dapat memberikan inspirasi
bagi perancangan sebuah mebei. Namun pada dasarnya,
kreativitas si perancanglah yang akan berperan untuk mewujudkan tampilan yang orisinil serta unik.
_ Setelah proses kelahirannya itu, konsumen dengan
seieranya yang sangat beragam akan membuat seleksi
kursi mana yang akan dibelinya. Berbagai pertimbangan
akan berperan dalam menentukan pilihan tersebut. Konsumen dapat mengawali ketertarikannya terhadap suatu
mebel dari fungsi, harga, atau bisa pula dari bentuk mebel
tersebut.
Dalam upaya merancang mebel, selain beranjak
dari berbagai pertimbangan praktis, ada pula pertimbangan
rasa, yang mempertimbangkan bagaimana olahan estetik
atau bentuk rancangan dari suatu mebel. Perancangan
dapat berawal pula dari dorongan kebutuhan yang bersifat
psikologis, seperti misalnya kebutuhan akan suatu tampilan yang indah, atau untuk memperiihatkan sikap respek
terhadap aiam, atau citra rancangan yang bersifat feminin,
lembut, dan gemulai. Bisa pula pilihan jatuh pada bentukbentuk maskulin yang kokoh dan kekar. Sering kali sebuah
status sosial turut menentukan bentuk sebuah kursi atau
mebel. Sebagai contoh adalah bentuk kursi yang akan
dipakai raja di ruang balairung atau hakim-hakim diruang
sidang pengadilan. Begitu pula dengan bentuk rancangan

r
kursi tamu atau mebel di rumah seorang hartawan yang

tentunya mencerminkan status sosial-ekonomi si empunya


rumah. Dapat pula sebuah kursi atau mebel dirancang agar
dapat mencerminkan sebuah kultur, atau merupakan ref I e ks i s e b u ah zaman (ze itg e i sD ataup un madzhab.
Berbagai aspek perancangan seperti tertera di atas
telah dibahas secara luas dalam buku Desrgning Furniture
yang ditulis oleh Drs. Eddy S. Marizar, M. Hum. Penulis ini
telah mengupas berbagai aspek yang perlu digagas, dipelajari dan dianggit dalam hal rancang*merancang mebel,
khususnya dalam membuat desain kursi. Sulit memang,
tetapi itulah beban keilmuan seorang desainer yang tidak
hanya bertanggung pada dirinya, tetapi juga kepada
masyarakat pengguna rancangannya.
Upaya penulis (di teneah kesibukannya sebagai
mahasiswa Pascasarjana S3 UGM) dalam berbagi ilmu dan
resep merancang mebel ini patut dihargai sebagai rbsa
tanggung jawabnya, terutama terhadap keberlangsungan
industri mebel nasional. Buku ini sangat dianjurkan untuk
dimiliki dan dibaca para pemerhati dan pelaku seni rancang
mebel. Semoga karya tulis ini dapat ikut memberikan kontribusi dalam memperkaya khazanah referensi desain,
khususnya di bidang desain mebel.
Jakarta, Februari 2005

KATA PENGANTAR
Dengan rahmat Allah Yang Maha Agung, akhirnya
buku ini dapat diselesaikan. Keinginan untuk menyusun

buku tentang desain mebel yang berkaitan

dengan

kreativitas dan inovasi adalah sebuah niat yang tertunda


lama. Akan tetapi, berkat dukungan dari banyak pihak, buku
ini dapat hadir demi pengembangan keilmuan, terutama di
bidang desain.

Desain mebel yang ada di sekitar aktivitas hidup


kita adalah hasil perancangan para desainer. Sernua orang
bisa menjadi desainer mebel. Akan tetapi merancang mebel
yang kreatif, logis, dan estetis memerlukEn konsep pemikiran yang matang, jeli, dan cerdas.
Saat ini, buku-buku tentang perencanaan desain
mebel masih banyak yang berbahasa asing, yang terkadang
belum dapat dicerna secara optimal oleh para peminatnya.
Untuk mengisi kekosongan tersebut, maka penulis.mencoba untuk menyusunnya dalam bahasa Indonesia dan bernuansa Indonesia.

Kasus-kasus diambil dari berbagai proyek desain


mebel yang ada di Indonesia, termasuk yang pernah dikaji
oleh para mahasiswa desain dari sejumlah perguruan tinggi. Gagasan-gagasan kreatif dalam desain mebel yang
ditampilkan adalah gagasan kreatif dan inovatif yang per-'
nah dirancang oleh para desainer, baik dalam maupun luar
negeri. Selain itu, penulis juga menggunakan bahan acuan
atau referensi yang diterbitkan oleh negara lain.

*Eddy H.
Waluyo adatah anggota Majetis Himpunan Dostrirror
lnterior lndonesia dan Ketua Himpunan Desainer lntori<tr ltxlonesia
periode tahun 1 993-1 996.

Buku ini dapat dimanfaatkan oleh kalangan mahasiswa desain interior, desain mebel, desain produk, arsitektur, dan desainer pada umumnya, bahkan para pengusaha mebel yang berminat besar dalam pengembangan
desain produk. Oleh sebab itu, kehadiran buku Designing
Furniture: Teknik Merancang Mebel Kreatif ini dapat dijadikan
bahan acuan, referensi, sekaligus pedoman dalam mendesain mebel-mebel kreatif yang bernuansa Indonesia.
Penyusunan buku ini tak mungkin dapat terwujud
tanpa dukungan dari berbagai pihak. Ucapan terima kasih

vi

vil

I
:

I
I
j

r
saya sampaikan kepada Bapak Djauhari Sumintardja, Dipl.

Ine, Ph.D, tokoh arsitektur Indonesia yang telah memberikan hadiah buku pada penulis yang berjudul, Chairs,
karya Charlotte and Peter Fieil, sebagai oleh-oleh dari
negeri Belanda. Selain itu, penulis ucapkan terima kasih

Ka&fi+ doatda .ta*refo tttueocar'an oalal

qai"

6arr. aato 6owtn1aat.

(Wat4a#,2OOZ)

pada rekan Drs. Emilius Heri Hermono yang rela mensuplai

buku bagus untuk penulis, terutama buku karya Seth Stem


yang berjudul, Desig4ing Furniture fiom Concept to Shop
Drawing: a Practical Guide.

Tiga referensi pendukung lainnya adalah karya

Pietro Borretti dari Italconsult dalam makalahnya berjudul,


lnternational Seminar on Furniture Development and Promotion, juga buku berjudul, Ecyclopedia of Furniture Making,
karya Ernest Joyce, dan Neo-Furniturekarya Claire Downey. Kelima buku referensi itu telah memberikan inspirasi
tak ternilai, walaupun tidak semua pendapat dari para penulis buku tersebut penulis sepakati.
Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Bapak
Drs. B. Suparto, dosen Desain Mebel di ISI Yosyakarta
yang telah memberikan cikal-bakai pengetahuan desain
mebel. Selain itu juga terima kasih penulis sampaikan
kepada para mahasiswa, yaitu: Endry, Yoanita HR, Mariana, Cheqita Ernantia, Sufhie, Kartini, dan Fency. Mereka
adalah para mahasiswa/i yang telah mengikuti mata kuliah
Desain Mebel Empat di FSRD Universitas Tarumanagara
Jakarta. Juga pada mahasiswa Interstudi, Ronny. Gagasan
mereka layak mendapat pujian, karena berani, kreatif, dan
atraktif. Terima kasih juga pada dua putriku tercinta dan
istriku terkasih yang telah memberi semangat dan membantu penyusunan buku ini.
Pada akhirnya, tak ada gading yang tak retak. Oleh
sebab itu, penulis mohon masukan saran, kritik tajam, dan
data pendukung lainnya dari semua pihak yang ingin bersama-sama mengembangkan desain sebagai ilmu pengetahuan.

Kaat*ttao atdrrqa aawula*

lr4L'44L

Wq tailfab
@&U@o@l

6raAa otr 6alrb lral-lral

katruaao
i&a

Aila,

afab alan nanul,

Arra Aanaa pue4aa 4arrc

F*nna*

BSD, Agustus 2003

EddyS. Marizar

vilt

qaro? Leretu.

l%arrr&.2OO2l

kaletitao ad,alat eln4tua,a a*t


l*uula* cata.6o44n bla,

dant,

kattultaa. dfahlo pzatl,ou* da* gaqaaan


arar" 6"1r/r* af^a

.q.i/W

aAa,

lanl, ,ta*? anuoah .rin4air il4ata.

t
i

runaAnaal earya paatlaato


Semoga bermanfaat.

eqig Uai,
6taae.

aal,oa,

drr4ae

otaag b,oo

6ar4a a2rAnd.

I
DAFIAR

SEKAP0R

ISI

SIRIH-v

KATA PENGANTAR-vi|

DAFIAR

6l-xi

BAGIAN SATO
DESAIN SEBAGAI HASIL PROSEs KREATIT-

A,

Konsep Desoin-l

B, Penggolion Gogoson Desoin-4


C. Kreotivitos don lnovosi-.l0
BAGIAN DUA
PRINSIP DESAIN MEBEL MODERN_ 1 7

A.
B,
C.

Pengertion Desoin-l7
Pengertion Desoin Mebel Modern-2O
Prinsip Seni l?upo don Desoin Mebel-2O

BAGIAN TIGA
BAHASA DESAIN MEBEL-26

A.

Bohoso Desoin-26
B, Bohoso Emosionoldolom Estetiko Rupo-27
C. Bohoso Rosionoldolom Logi(o Fungsionol-29
'Bohoso
D,
Spirituoldolom Etiko Desoin-3.l

i
i
I

BAGIAN EMPAT
GAYA DAI.AM DESAIN MEBEL-36

A,

Seioroh Desoin Mebel-36

B, Goyo Klosik-36

xi

I
Modern-39
Goyo Postmodern-A2

C. Goyo
D,

ffiMffiWIffi

BAGIAN LIMA
DESAIN MEBEL KREATIf DAN INOVATIT-A7

A.

Neo-Furniture-47

B, Memphis-58
esain lahir di tengah masyarakat modern,
yaitu masyarakat industri yang berawal dari

BAGIAN ENAM
KONSEPSI DESAIN MEBEL

KREATIF-6I

A, Konsep Desoin Mebel-76


I

Anolisis Aktivitos Monusio-76

2. Anolisis Bentuk don Fungsi-91


3. Anolisis Ergonomi-106
4. Anolisis Antropometriko-l I B
5. Anolisis Bohon don Tekstur-.l28
6. Anolisis Struktur don Konstruksi- I 40
7. Anolisis Worno*179
8, Anolisis Rogom Hios-l8l
9, Anolisis Hordworesdon Accessorles-l
B, Sketso Desoin Alternotif-.l93
C. Gombor Presentosi-206
D, Gombor Kerio*208
E, Gombor Blow-up (Breok-downl-2o7
F, Protolype-221
G. Pedomon Lotihon Peroncongon Mebel-230

BA}IAN A(UAN.-zSI

89

l--l Revolusi Industri. Desain hadir sebagai


upaya kreatif dan inovatif manusia untuk memenuhi tuntutan kebutuhan aktivitasnya. Proses kreatif dan inovatif
ini "dihembuskan" oleh kekuatan otak kiri dan otak kanan
manusia yang diolah oleh alam pikiran manusia itu sendiri.
Jadi desain itu ada, karena ada pemikiran kreatif
dan inovatif dari dalam diri manusia. Pemikiran kreatif dan
inovatif manusia untuk memecahkan berbagai masalah
dipahami sebagai konsep yang terprogram. Di dalam profesi desain, pemrograman desain itu dikenal dengan istilah
konsep desain.
Proses berpikir dalam desain disebut programming.
Blla programming adalah pencarian masalah (problem seeking), maka desain adalah pemecahan masalah.(problem
solving). Pemecahan masalah dalam desain ini termasuk
sebagai suatu usaha kreatif (Pena, 1977). Dengan demikian, programming adalah analisis dan desain adalah
sintesis.
Programming mengacu pada masalgh yang rasional-obyektif yang diwujudkan dalam bentuk konsep-konsep. Konsep adalah upaya pencarian data yang bertujuan
untuk memecahkan masalah dan lebih bersifat subyektif,
intuitif, tetapi mudah dalam menangkap konsep-konsep
secara fisik. Konsep dibuat untuk melancarkan jalan menuju implementasi desain.
A. Konsep Desain

Konsep berasal dari kata concept dalam bahasa


Inggris yang artinya adalah pengertian, bagan, gambaran

xll

t
!
I

r
Ira}',t4Jr1t !:t,

t!! ur t.

atau konsepsi. Konsep merupakan dasar atau awal dari


perencanaan (Suparto, 1979: 5). Konsep merupakan jalan
pemecahan masalah secara rasional, yakni untuk mengetahui nilai positif atau negatif dari sebuah pemikiran.
Selain itu konsep juga digunakan untuk menghindari kegagalan dalam perencanaan.
Konsep berfungsi sebagai alat kontrol untuk melatih disiplin dan tanggungjawab seorang desainer. Konsep
juga berguna untuk menghindari penyelewengan dan membangun sikap konsekuen terhadap bagan pemikiran yang
telah dipilih.
Jadi, konsep adalah gagasan sistematik dan rasional yang dapat disajikan dalam bentuk bagan, sketsa,
atau kerangka berpikir untuk kemudian direalisasikan
menjadi bentuk-bentuk serta pola-pola yang optimal. Bentuk-bentuk tersebut merupakan hasil konsep rasionalfungsional yang juga mempertimbangkan unsur emosional
berupa nilai-nilai estetika rupa.
Konsep desain yang mempertimbangkan unsur
rasional dan emosional harus didukung dengan alasanalasan konkret tentang penciptaan desain. Konsep desain
juga harus disertai gambar kerja lengkap dengan skala
ukuran, konstruksi, wama, dan bahan-bahan yang digunakan.

Konsep sebuah desain adalah suatu jalan yang ha-

7,. l".t

!!

k.

ll

et fi n c a,

Me

hel Krba

ti

dalam satu siklus analitis, sintesis, dan evaluatif sampai


memperoleh pemecahan desain yang optimum. Black box
cenderung seperti pesulap yang kreatif, tetapi irasional.
Desain diciptakan manusia dari dua sisi yang berbeda, yaitu: rasional-irasional, jiwa-raga, alau yin-yang,
untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan hidup manusia. Oleh sebab itu, desain dibuat sesuai dengan tuntutan
kebutuhan aktivitas manusia.
Tuntutan kebutuhan manusia bukan han:ra tuntutan
terhadap selera yang berkaitan secara emosional saja,
yang hanya berpijak pada aspek estetika, akan tetapi juga
berupaya untuk memenuhi tuntutan fungsional yang
rasional. Dalam ha1 ini, faktor manusia menjadi tolok ukur
sebuah desain. Desain tidak hanya indah, tetapi juga berguna bagi kegiatan manusia, sehingga manusia survive da1am kehidupan yang dijalaninya.
Sebelum divisualisasikan, desain direkayasa di benak desainer dalam bentuk konsep. Konsep dapat puia
dipahami sebagai pedoman untuk memvisualisasikan berbagai gagasan desain, agar hasil akhirnya sesuai dengan
tuntutan kebutuhan aktivitas manusia pemakainya. Di dalam menyusun konsep desain, terdapat sembilan masalah
yang harus dianalisis dalam tala alur sebuah konsep (lihat
Bagian Enam).

rus dilalui di daiam urutan perencanaan. Konsep juga


berfungsi untuk menghasilkan ekspresi dalam wujud
perencanaan (Suparto, 1979: 5). Perencanaan tersebut diupayakan seoptimal mungkin sesuai dengan tuntutan selera estetika manusia.
Untuk mendukung pemikiran tersebut, dalam konteks ini dipilih konsep desain yang mengacu pada metode
g/assbox (Jones, 1973: 49). Prinsip metode E/assbox adalah
cara menganaiisis desain secara sistematik. Desainer berpikir seperti komputer, tapi bukan sebagai mesin komputer.
Sisi rasional-fungsional menggunakan pola g/ass box dan

sisi kreatif-imajinatif dengan iompatan emosional menggunakan pola black box. Desainer hendaknya mengambil
posisi seimbang antar a g/ass box dan bl ack box.
Jones (7973:50) mengungkapkan bahwa desainer
yang rasional atau sistematik amat mirip dengan gambaran
sebuah komputer yang manusiawi. Desainer adalah individu yang bekerja atas informasi yang diumpan kepadanya

i
,

5ls]Ei.4

Y*"t"

S|MSAL,ABtM

Gambar

1.

Bila seorang desainer hanya menggunakan proses black box. ibarat seorang
tukang sulap yang kreatif tetapi tidak rasional (Jones, 1 973: 46)

r
fiesigrtng Fut,t,t,ite

Proses berpikir desain mengacu pada metode g/ass


box dengan sistematika proses sebagai berikut: (1) data
dikiasifikasi dan dianalisis, (2) dibuat sintesis, (3) dievaiuasi, (4) hasil proses berpikir tersebut dijadikan landasan atau pedoman dalam menciptakan desain. Pedoman
atau landasan tersebut biasa disebut sebagai konsep de-

fpJ.;r,,f

]l",fxr.

1,

;1-s

ng f$e nc I K r e a! {

.:ll
I

sain.

Sepuluh masalah yang diolah dalam proses desain

meliputi: (1) studi aktivitas manusia pemakai, (2) studi


gerak manusia dan antropometrika/ukuran/dimensi, (3)
studi fungsi dan ergonomi, (4) studi bentuk dasar dan estetika, (5) studi bahan utama dan tekstur, (6) studi warna,
(7) studi struktur dan konstruksi, (B) studi ragam hias, (9)
studi bahan penunjang dan hardwares, (10) studi gaya
Gtyle) dalam desain. Bila sepuluh masalah tersebut sudan
dapat dipetakan secara sistematik dan rasional, maka
desainer membuat sketsa alternatif dalam bentuk gambar
perspektif atau gambar presentasi. Langkah berikutnya
adalah membuatpr-"ototype, mock-up atau sampel produk.

Bila sudah dipresentasikan atau dikonsultasikan


pada pemesan, pelanggan, atau pengguna, maka produk
mebel yang sudah dievaluasi itu dibuatkan gambar kerja
dengan menggunakan skala. Proses terakhir bagi desainer
adalah mewujudkan produk tiga dimensional ke dalam
proses produksi yang sesuai dengan pesanan pelanggan.
Perlu kita ingat bahwa selama proses evaluasi,
tidak menutup kemungkinan konsep akan bergeser atau
direvisi sesuai tuntutan pemesannya. Usahakan agar tetap
konsisten dengan pemikiran yang sudah direncanakan dalam konsep desain sebelumnya.

Gambar 2.
Masalah yang dilihat dan dianalisis dalam pikiran
manusia dalam bentuk konsep yang optimal.

B. Penggalian Gagasan Desain

Lingkungan hidup manusia adalah sumber inspirasi


yang tiada habisnya. Alam adalah guru bagi desainer. Apakah Anda pernah melihat sebuah kursi dari bentuk dasar
tangan manusia? Apakah Anda pernah berpikir gagasan
desain berawal dari bentuk bunga? Apakah Anda pernah
melihat bentuk seperti kupu-kupu? Apakah terpikir oleh
kita sebuah gagasan desain meja dengan penyangga atau

kaki dari bentuk manusia yang sedang merangkak? Atau


Anda pernah membayangkan sebuah mebel yang tidak meniru dari alam?

Gambar 3.
Metode pemikiran Glass Box ditinjau dari
sudut pandang rasional. (Jones, 1973: 50, 55)

I
!'* kt

Designlng Fur*ltur*

Dalam program studi desain interior dan desain


produk di berbagai perguruan tinggi, para mahasiswa juga
dilatih untuk menggali gagasan-gagasan, mengembangkan
ide-ide kreatif dan inovatif. Penggalian gagasan diungkapkan dalam bentuk sketsa-sketsa yang unik serta kreatif.
Ha1 itu dapat kita perhatikan pada beberapa sketsa
desain karya mahasiswa yang cukup kreatif dan inovatif
(lihat sketsa desain alternatif). Dalam sketsa tersebut
tampak ekspresi visual yang penuh emosional dikawinkan
dengan aspek fungsional yang rasional.
Jika menggunakan pengamatan yang cermat,
kreatif dan inovatif, maka akan lahir jutaan gagasan bentuk
mebel yang dapat dikreasikan. Seperti misalnya bentuk
meja yang seiama ini umum dikenal berbentuk segi empat
dan bulat (oval). Mengapa tidak membuat bentuk daun meja
seperti buah mangga?
Terkadang kita turut prihatin mengamati perkembangan desain mebel di Indonesia yang belum pernah
"menghentak" sejarah mebel dunia. Kita terlalu rajin untuk
meniru dan menjiplak desain-desain orang lain. Kita juga
terlaiu asyik berorientasi pada kehebatan desainerdesainer asing, terutama desainer Barat yang selalu
menjadi tolok ukur kita. Dalam konteks ini kita akan
melihat bagaimana cara "Barat" menggali gagasan desain
mebelnya secara kreatif dan inovatif.
Padahal jika kita menoleh ke "Timur", terutama di
Indonesia, kita akan menemukan sumber daya etnik berupa
ragam hias Nusanlara yang sangat kaya dengan aneka
ragam coraknya.
Coba kita lihat ragam hias Toraja, Asmat, Jawa,
Padang, Aceh, Bali, Kalimantan. Sulawesi, dan masih
banyak lagi yang menjadi "harta karun" bangsa Indonesia.
Kita belum mencintai budaya sendiri. Kita masih sering
terlena dengan budaya lain.
Konsep back to culture dalam menciptakan gagasan-gagasan desain mebel akan memberikan added
value bagi produk mebel. Untuk menggali gagasangagasan desain yang bernilai tambah itu, memanc dibutuhkan keberanian, kreativitas, dan inovasi yang terus
menerus serta tetap konsisten terhadap konscp desainnya
sendiri.

ctrr]$

M * r ;t t;

EFTSIETSI

. - SmgOUX
\..b.a.*'*

Diagram
F undame

ntal

pe miki

"/

1.

ran desai n

me be

lilorei drl;ai,,

J,,rr._j,,y L,".,;jrr,rc

il1

mffi
I

ir"**dnmenla I

fi

liq t.t*1v

n''rirq M#upr {re.rJi./

IG

d**ln ln*b*l
r. ----

* --- --- -l

I
tr-| r-egir*a;
_^#,

Rasionat

t'
f

i
-"j

l#{l.a
*re
@otffi
b m]6o

@wE

fis{t,

Gambar 4.

Diagram

2.

Kerangka pemikiran desain mebel

Konsep besaran dan bentuk garis bidang veftikal


yang dapat dipertimbangkan secara emosional
sekaligus rasional. (Stem, 1989)

jtr:;q!1t t|*

i,t

1i1 1

?bknik Msra*cang &4e$el

1p

Kr**lf

Kreativitas dan lnovasi


Istilah inovasi berasal dari bahasa Inggris yaitu
innovation. Inovasi berarti pembaharuan atau perubahan
baru. Inovasi desain selalu berkaitan dengan kreativitas.
Jika kreativitas adalah pengembangan ide-ide baru, maka
inovasi adalah proses penerapan ide-ide secara aktual ke
dalam praktik. Inovasi adalah pengenalan cara-cara baru
yang lebih baik. Inovasi terbatas pada pengertian usahausaha yang dilakukan secara sengaja untuk memperoleh
keuntungan dari berbagai perubahan baru.
West (2000: 1B) menyebutkan bahwa inovasi tidak
mengisyaratkan hal yang baru secara absolut. Perubahan
dapat dipandang sebagai suatu inovasi, jika perubahan tersebut baru bagi seseorang, kelompok, atau organisasi yang
memperkenalkannya.
Kreativitas adalah penyatuan pengetahuan dari
berbagai bidang pengalaman yang berlainan untuk menghasilkan ide-ide yang baru dan lebih baik. Kreativitas adalah salah satu bagian mendasar dari usaha rnanusia
(West,2000: 14).
Suatu definisi yang lebih ilmiah menyatakan bahwa
G.

kreativitas adalah suatu pertimbangan subyektif dan


berkonteks spesifik mengenai sifat yang baru dan nilai
suatu hasil dari perilaku individual atau kolektif (Ford,
1995 dalam West, 2000: 15).

Pandangan lain tentang kreativitas diungkapkan


pula oleh Goman (1991: 2) yang mendefinisikan bahwa
kreativitas sebagai upaya menghadirkan suatu gagasan
baru, sedangkan inovasi diartikan sebagai penerapan
praktis sebuah gagasan kreatif. Gomen juga menjelaskan
bahwa pemikiran kreatif adalah kemampuan bakat yang
terbawa sejak lahir dan disertai dengan keterampilan yang
dapat dipelajari, dikembangkan dan dipergunakan sehari-

hari dalam berbagai pemecahan masaiah.

Jadi orang yang kreatif adalah orang yang tidak


meredam kreativitas yang ada dalam dirinya dan senantiasa memusatkan kebiasaan kreatif dalam berbagai

Gambar 5.
Kupu-kupu berkepak sebagai sumber inspirasi
dan menjadi ide dasar bentuk dalam perancangan
kursi yang berjudul 'l,lariposa Bench" karya
Riccardo (Radice, 1 994).

aspek kehidupan.

Dalam konteks desain mebel yang kreatif dan


inovatif, desainer dituntut untuk mencrrrirhkan seluruh
pemikirannya secara terprogram dalirnr konsep desain.
Implementasi konsep disajikan dal:rnr lrcntuk gagasangagasan desain yang kreatif dan inovirtif

10

11

OeskTning FuluJure

\ r!.
,
;
a

ILi r rd lilrr ol rc..r t' g


:

-.,

l\'i r: [i t:

14

re a

it

,r' ,,:;S1,
i $r

i*, . > .t

Gambar 6.
Bunga merekah sebagai sumber inspirasi dan
menjadi ide dasar bentuk desain kursi
Getsuen Chair" karya Masanori lJmeda, 1990.
(Charlotte & Peter Fiell, 2001 : 150)

I
I
I

GambarT.
Robot sebagai sumber inspirasi dan menjadi ide
dasar bentuk desain rak buku.

12

13

\':,tr1rtltr1 I ttilttlutt

Is&nik Lferans a ng

?& *

hel

!{.r*

at!{

*
i

J
3

Gambar 9.
Pafung 'Sculpture Table" karya Allen Jones (1969) mengambil bentuk wanita yang
sedang merangkak sebagai sumber inspirasi dan menjadi ide dasar bentuk dalam
perancangan kaki meja. Desain ini dianggap kurang etis, karena mengandung
unsur eksploitasi terhadap wanita. Namun demikian, dari sudut pandang
seni murni, konsep desain meja ini dianggap tidak melanggar etika,
bahkan dianggap mengandung nilai estetika.

Gambar g.
Gapura.ciri khas Jepang, kupu-kupu, dan huruf
Kanii
.menjadi sumber inspirasi sefta'ide dasar bintui ''
oatam perancangan kursi yang beiudut ,Butterflv,l
Bahan dari moulded plywood.
Desain karya Sori yanagi, 1956.
(Vegesack, at- at. ed., 1996: 160 & 161)

14

15

l-'.rsrtf i ifi ;q

u ft1 it{.t

ff)

::],,tt,l:.:,tt:i.i:]i,i:::iiit::,,i,,i,ill3ltrN$lpil]]l,

Bffi

Il{.,'.rltffi

Sfl

,.,,i,t,

.,,i.,.i't:,.,i,],:t,t,,:.

,;,'!{$$ffi fl

rinsip desain selalu beranjak dari elemenelemen seni. rupa. Jadi dalam memahami
prinsip-prinsip yang berlaku dalam desain

", llT$,,r=.rr{^L*-lll-

mebel modern selayaknya kita mengacu pada prinsip seni


rupa yang muncul di era modern. Oleh sebab itu, dalam
menyusun sebuah konsep desain kita harus terlebih dahulu
memahami tentang pengertian desain secara elementer.

..

A. Pengertian Desain

tt

Istilah 'desain' akan muncul apabila terjadi pertemuan antara seni dengan industri, dan apabila orang
mulai membuat keputusan untuk memproduksi benda atau
produk yang dibutuhkan (Bayley, l9B2: 9, dalam Walker,
t9B9: 27 -28).
Kata desain berasal dari kata disegno dalam bahasa
Italia, dan diterjemahkan sebagai desain atau menggambar
(Lucie-Smith, 1994 : 66).
Istilah designo yang dikenal di Eropa, mempunyai
arti gambar rancangan pematung atau' pelukis sebelum
membuat patung atau karya lukisannya (Imam, Yasraf, dan

Jamaluddin, 1998: 2).

I
I
f

Gambar 10
Desain kursi teras ini berorientasi pada pasar. Konsep desain kursi
knocked-down ini dipengaruhi pemikirin gaya modern, industriat,
massa/, komersial, global, bahkan sanga[ rasionat. Desain ini
merupakan karya seorang pembeti
dari Amerika Serikat (1990).

16

Sedangkan kata design (bahasa Inggris) memiliki


banyak pengertian, sehingga pemahamannya harus dibatasi sesuai dengan konteksnya. Pengertian desain
secara haraf.iah diterjemahkan menjadi bentuk, model,
pola, konstruksi, mode, tujuan atau maksud yang berhubungan dengan perencanaan bentuk (Echols dan Shadilv, 1990: 177).
Dalam konteks budaya industri, desain adalah suatu
upaya penciptaan model, kerangka bentuk, pola atau corak
yang direncanakan dan dirancang sesuai dengan tuntutan
kebutuhan manusia pemakai, dalam hal ini konsumen akhir.

', i, ,j .-';''--":tt

Dengan ungkapan lain, kegiatan desain merupakan


suatu . tegiatan yang dimulai dari gagasan-gagasan
inovatif, atau kemampuan untuk mengha-il[an karya cipta
yzng benar-benar dapat memahami permintaan paiar
(Bagas, 1999: B3). Desain yang baik- memiliki kecenderung:n qntuk memenangkan persaingan dan menguasai
pasar (Imam, dkk., 1998: 3).
. Dengan demikian, desain lebih banyak dipengaruhi
oleh kecepatan membaca situasi, pemenuhan liebutuhan
pasar, permintaan konsumen, serta kekayaan akan ide-ide
dan imajinasi untuk menciptakan dan mengembangkan
desain produk baru (Bagas, 1999), yans diolah melalui
proses induslri.
Selain itu, Kenji Ekuan mempertegas bahwa desain
lahir karena manusia berkeinginan untuk-membuat segala
hal mer-rjadi menarik. Manusia memang merindukan T<eindahan dari setiap benda pakainya (Ekuan, 1986: B9).
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disepakati bahwa
desain adalah bagian dari seni rupa yang bertugas untuk
menciptakan benda-benda pakai yang menarik, indah, dan
berguna.
_ Pada awalnya desain dibuat untuk menghasilkan
produk-produk kerajinan yang menggunakan berbagai
hiasan tumbuhan, hewan, manusia, atau bentuk lainnya.
Bentuk-bentuk tersebut diperoleh dari percobaanpercobaar yang 1ama, bahkan memakan waktu bertahuntahun sehingga kemudian muncul sebagai suatu tradisi.
Saat itu, desain dibuat tanpa bantuan desainer yang
terdidik- Meskipun demikian, produk yang dihasitfan
sangat indah, terkadang teramat rumit dengan beragam
hiasan. Sedangkan proses pembuatannya sangat scderhana. Jones menyebutnya sebagai metode evolLrsi
kerajinan (craft evolution) (Jones, 797 3: 75-20).
Setelah melalui proses pencarian yang lama tcrsebut, kemudian timbul suatu ide untuk memperccplrt
proses pembuatan produk dengan menggunakan gantlrar.gambar skaia. Desain digambar dengan teliti tu-lt,lrilr
dahulu sebelum proses produksi berlangsung.
Gambar-gambar tersebut kemudian digunakrrn sc
bagai pedoman proses produksi. sehingga [r,,.,,r 1,,.,
duksi menjadi lebih cepat dan efisien. Jones mr:nyr,lrril rrr,,rr
sebagai metode desain yang berlandaskan pafh g;rrnlxrr(Jones, 1973: 20-23).
,

18

Jadi proses tersebut sangat berbeda dengan metode desain yang sangat mengandalkan tradisi uji coba
yang berlahun-tahun lamanya, seperti pada metode evo-

lusi kerajinan. Pada metode evolusi kerajinan, tukang atau


perajin merangkap sebagai desainer secara turun-temurun. Perajin juga berperan sebagai seniman yang hanya
mengandalkan intuisi saja.
Jika kita amati secara cermat, dalam kasus desain
mebel, realitas dalam mendesain mebei memang bukan
hanya kerja seni semata, namun juga bukan kerja tukang.
Terdapat perbedaan di antara keduanya.
Seniman beke.rja karena dorongan dari dalam nalurinya. Kepekaan naluri artistiknya hadir karena doronEJan dari dalam jiwanya sendiri. Sedangkan seorang
tukang bekerja karena pesanan orang lain, Artinya, ia bekerja karena dorongan dari luar dirinya, berdasarkan
perintah dari pihak lain yaitu konsumen.
Kerja seni sangat mengandalkan kebebasan kreativitas. Kerja tukang mengikuti kehendak pemesan. Uniknya, kerja desain meliputi kedua aspek tersebut, walaupun
tidak selalu terjadi hubungan kerja yang ideal antara
desainer dengan konsumennya (Darwis, 1985).
Desain mebel termasuk dalam kategori desain
fungsional, yaitu desain yang banyak memberikan pelayanan atau fasilitas pada kegiatan hidup manusia. Untuk

membuat desain mebel diperlukan persyaratan dan


prinsip-prinsip yang berorientasi pada seluruh anatomi
dan ukuran manusia, keadaan jasmani, cara bergerak, cara

bersikap, dan tuntutan selera manusia.


Titik tolak perencanaan mebel adalah manusia
secara keseluruhan, yang memiliki beragam kegiatan dengan berbagai tuntutannya (Suparto, 1979). Keinginan
tidur secara nyaman, keinginan dr-rduk dengan santai,
keinginan kerja dengan baik dan tidak 1esu, keinginan akan
keindahan, keinginan keselamatan di dalam pekerjaan,
keinginan praktis dan masih banyak lagi tuntutan-tuntutan
lainnya. Semua itu merupakan tuntutan yang harus dipenuhi secara sistematik.
Pada masa sekarang, profesi desainer ditantang
untuk memenuhi semua tuntutan manusia, baik secara fisik
maupun psikologis. Oleh sebab itu, ketika seorang desainer akan membuat desain diperlukan pemikiranpemikiran yang konseptual agar desain yang diciptakan
dapat memenuhi permintaan manusia pemakainya.
19

D*sEning

Fut

7bftri& i#eran* a rt*

rt:{ur.

B. Pengertian Mebe! Modern

di dalam interior arsitektural. Kata mebel berasal dari

bahasa Perancis yaitu meubel, alau bahasa Jerman yaitu

dari arah, posisi, ruang, dan (4) unsur praktikal, yaitu

I
I

penggambaran, makna, dan fungsi (Wong, 7972:78). Unsur


praktikal tersebut yang menjadi kunci dalam kajian desain
yang kontekstual, sedangkan unsur konsepsual, visual, dan

relasional menjadi unsur dalam upaya menciptakan bentuk-bentuk (Wong, 7972: 9-11), yang indah dan funssional.

Seni rupa murni (fine art) tidak mempermasalahkan


fungsi fisik dari hasil karyanya. Ekspresi bentuk yang
indah menjadi prinsip dasarnya. Sebaliknya, dalam seni
rupa terapan (applied art) fungsi merupakan penggerak

C. Prinsip Seni Rupa dan Desain Mebel

20

I llre a lif

manfaat dari hasil karyanya. Hal

jemahkan menjadi mebel. Istilah 'mebel' digunakan karena


sifat bergeraknya atau mobilitasnya sebagai barang lepas

Untuk mencari landasan desain.mebel modern dalam kajian seni rupa, dibutuhkan suatu upaya untuk melacak prinsip dasar seni rupa.
Berdasarkan beberapa teori, terungkap bahwa
perbendaharaan bahasa visual dalam seni rupa-memiliki
kesamaan dengan prinsip dasar desain. Hal ini disebabkan
karena desain senantiasa mengacu pada kaidah-kaidah
seni rupa. Kaidah tersebut oleh Terry Barret dikatakan
sebagai unsur-unsur formal dalam kajian seni rupa.
Unsur formal itu selalu berhubungan dengan prinsip-prinsip desain yang terdiri dan skala, proporsi,
kesatuan, variasi, repetisi, irama, keselarasan, arah, dan
tekanan (Barrett,1994: 25). Unsur-unsur formal dalam
bahasa seni tersebut meliputi garis, wujud, cahaya, warna,
tekstur, massa, dan ruang yang disusun berdasarkan
komposisi (Fichner-Rathus, 1995 : 32).
Dalam konteks desain mebe1, perbendaharaan bahasa rupa tersebut terdiri dari bentuk, komposisi dan
proporsi, warna, tekstur, dan hiasan. Sedangkan dalam
landasan desain terdapat kesatuan funity), penonjolern (dominance), repetisi (repetition), kontras GontrasD, karakter
Gharacter), dan gaya (style) (Stem, 1989: 44- 106).
Dengan demikian, bahasa rupa yang tcrrliri dari
unsur-unsur dan prinsip-prinsip seni ru1,ra itu nrcmiliki
tanda-tanda visual yang sama. Tanda-tarrrlit scni rupa
yang sama dengan tanda-tanda desain arlalirlr titik, earis,
media, warna, perspektif, tekstur, volumr', wrrjrrrl, bcntuk,
dan gaya (Bogart, 1977 : 6).

Esensi perbedaannya hanya pada aspek fungsi atau


itu terungkap dalam
pendapat Wucius Wong yang membagi unsur-unsur desain
menjadi empat kelompok, yaitu (1) unsur konseptual yang
terdiri dari titik, garis, bidang, dan volumei (2) unsur visual
yaitu wujud, warna, dan iekstur; (3) unsur relasional terdiri

Kata Furniture (dalam bahasa Inggris) diter-

mobel (Baryl, 7977 : 26).


Pengertian mebel secara umum adalah benda pakai
yang dapat dipindahkan, berguna baei kegiatan hidup manusia, mulai dari duduk, tidur, bekerja, makan, bermain,
dan sebagainya, yang memberi kenyamanan dan keindahan
(Baryl, 7977: 26) bagi para pemakainya.

8"4e b

*F

bentuk. Bentuk selalu mengikuti fungsi.

Konsep form follows function ini menjadi ideologi


yang mengikat dalam visualisasi desain mebel modern
(Pile, 1990: 1+). Teori "form follows function" ini diperkenalkan oleh arsitek Amerika Louis Sullivan (18567924), pada akhir abad ke-19, yang menghubungkan antara aspek fungsional dengan aspek material dan aspek
ekonomi (Lucie-Smith, 1994: B6).
Dengan demikian, bentuk-bentuk menjadi lebih
sederhana. Seringkali pertimbangan desain hanya ditentukan oleh fungsionalitas saja mengikuti kemajuan
teknologi yang semata mengutamakan fungsi. Pada kasus
ini, aspek fungsi dapat terpenuhi dengan menciptakan
banyak bentuk, sehingga mebel menjadi beragam fungsi
(Schaefer, 19Bl: 290-295).
Penggunaan bentuk desain mebel yang sederhana
tetapi fungsional telah melahirkan gerakan modern yang
sangat berpengaruh di seluruh penjuru dunia, termasuk di
negara-negara berkembang seperti di Indonesia.
Pada umumnya, desain mebel modern merupakan
desain yang bersifat sangat praktis, dan biasanya ada
beberapa tambahan komponen sehingga praktis dan
efisien dalam kegunaannya. Contohnya adalah sistem
knocked-down, dr mana mebel bisa diubah-ubah kegunaannya (BM. 1992:20).

21

#t.::,j

:: ,L! , .!,t.!l;r't

produksi massal di pabrik, gerakan modern, dan masyarakat konsumen (Julier, 1993: 11). Hai ini selaras dengan
pendapat Bayley yang menempatkan desain sebagai sesuatu yang bermula dari kehadiran industrialisasi dan
penggunaan metode produksi massa.
Gagasan desain itu sendiri lahir akibat suatu perkawinan antara seni dan industri yang muncul pada tahun

Desain mebel modern sangat memperhatikan


bentuk dasar yang sederhana, efisien, dan praktis. pemgkaia.n teknologi modern dan tuntutan ekonomi menjadi
tolok ukur yang menentukan karena desain dibuat den"gan
tujuan menambah niiai secara maksimal, dengan biSva
yang minimal.

Karakteristik visual dalam desain mebel secara


prinsip memiliki unsur-unsur yang tidak luput dari elemen
seni rupa. Bentuk dan wujud, wa?na, tekstur, dan peng:
gunaan hiasan merupakan prinsip dasar yang terierm"in
dalam sebuah desain mebel (Borretti, 1988: Z1). Namun

demikian, dalam konsep desain mebel modern,

1930-an, yaitu ketika desain kerapkali dihubungkan


dengan'desain industri'.
Bayley (dalam Walker, 1989: 28) berpandangan

bahwa suatu desain dibatasi oleh isu-isu yang ber-

ada

kecenderungan tidak mempergunakan hiasan


- Pe_nggunaan konsep desain dalam pengertian
.

modern akan selalu dikaitkan dengan revoluii industri,

hubungan dengan penampilan visual dan gaya suatu benda,


serta fungsi dan manfaat lain yang tidak terungkap secara
visual
Selain unsur bentuk, skala, tekstur, warna, cahaya,
dan gaya (Friedmann, 197O: 34-56), ternyata Friedmann,
Pile, dan Wilson telah melibatkan pula unsur sejarah mebel
dalam uraian perbendaharaan bahasa desainnya.

{
{

f
Gambar

11

php

batu aiau kursi para dewa dalam kepercayaan agama HinduBali Kuno merupakan perwujudan desain dalam pengeftian sakral_
spiritual. Prinsip-prinsip desain dan elemen desain datam konteks
seni rupa ditampilkan, baik secara emosional maupun rasional.
(Sutaba, 2001)

Gambar 12
Kursi unik gaya Neo-Furniture yang mengasosiasrkan
bentuk binatang, secara emosional tampak unik.
Elemen dan prinsip desain sangat kental dalam
sajian bentuk lengkungan yang gemulai.

22

(Stem,1989)

23

#e.sigrr:g Fur;ifur*

iyr..ttii ff

14,,1-;t\ liLii!

{,"t ,il:f

\lhl

il

\i

\(

1!

tL
s

to

Gambar 14
Desain kursi yang mengacu pada prinsip seni rupa dan desain
sanoat mem-perhatikan bentuk-bentuk estetis walaupun masih
sederhana, sePefti Yang tamPak Pada
desain'sandaran kursi di atas.

Gambar 13'
Ketiga rancangan kursi di atas masih konsisten menggunakan
elemen dan prinsip desaln secara cerdas dan iantik, sehingga
memiliki karakteristik yang berbeda.
Linear Range High Back
(Gaya Vinoti), B. Kursi Toraja (Gaya tndonesia),
C. Kursi rotan Love Seat (Gaya Jepang).

/.

24

25

T
ffiffiffi

I,

ahasa berperan sebagai alat komunikasi bagi


manusia. Sedangkan desain adalah salah satu

media komunikasi visual yang diwujudkan

dalam bentuk gambar. Oleh karena itu,


itu. hihasa
bahasa desain afarr
atau

bahasa visual sebaiknya menjadi saiah satu pemikiran


dalam setiap perancangan mebe1, terlebih lagi dalam penciptaan desain-desain mebel yang kreatif.

A. Bahasa Desain
K-ehidupan manusia tak pernah luput dari unsur
bahasa. Baik itu berupa bahasa verbal dengan kata-kata,
mauplln berupa bahasa visual, seperti: tekS, kalimat, dan
bentuk rupa.

Manusia selalu memiliki keinginan dan tuntutan


agar aktivitas yang dilakukannya dapat tercapai secara
optimal. Ha1 ini tak lepas dari upaya manusia unluk survive
dalam kehidupannya. Daiam kelangsungan hidup manusia
terdapat berbagai tantangan yang haius dihadapi baik
secara rasional maupun emosional. Ekspresi bahasa
rasional dan emosional dalam memenuhi tuntutan
kebutuhan aktivitas manusia dapat diungkapkan melalui
desain.

Menrlrut.Suparto (7979: B), desain nlerupakan


sarana untuk menghadapi tantangan kebutuhan untuk
memenuhi fungsi kemanusian. Fungsi kemanusiaan di
dalam desain meliputi desain yang diwujudkan, kegunaan
desain, bentuk dalam desain, dan perwujudan desain itu
sendiri. Perbedaan bentuk yang dihasilkan oleh desainer
sebagai akibat dari proses pemikiran dalam menanggapi
berbagai probiem aktual dan faktual yang berbeaa sEIuai
dengan tuntutan zamanny a.

i tl Y fi

M * {i}

i'i t a

n*

l.,l

* l:tt I

ll

rtt aIi:i

Dalam desain mebel terdapat dua bahasa desain


yang sangat dibutuhkan dalam konsep merencanakan sebuah mebel. Bahasa desain yang pertama adalah bahasa
emosional yang berpijak pada elemen-elemen estetika
rupa. Bahasa yang kedua adalah bahasa rasional yang
berpedoman pada logika fungsional.Memang tidak mudah
membahasakan atau memvisualisasikan keduanva dalam
bentuk benda tiga dimensional.
Setiap tampilan bahasa desain memiliki manfaat
yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu
keindahan, kenyamanan, keselamatan, keamanan, penghargaan, efisiensi, dan efektivitas bagi para pemakainya.
B. Bahasa Emosionaldalam Estetika Rupa

AVisualvocabulary pada sebuah desain terdiri dari


bentuk, komposisi dan proporsi, warna, tekstur dan ornamen (Stem,1989: 43). Elemen-elemen tersebut merupakan bahasa emosional dalam estetika.
Sesungguhnya, bahasa emosional yang berhubungan dengan estetika rupa dimulai dari bentuk titik,
kemudian garis, dan bidang. Bentuk-bentuk' tersebut
mempunyai makna-makna simbolis dan psikologis tersendiri. Bentuk tersebut dapat memberikan nilai ekspresi
yang indah, sekaligus menampilkan citra dari mebel yang
diciptakan.

Untuk merangkai elemen-elemen visual dibutuhkan komposisi dan proporsi yang selaras dengan "rasa"
yang menciptakan dan selaras denga'n selera yang menikmati.
Secara emosional, estetika rupa bertujuan untuk
menampilkan citra simbolis, sehingga bentuk visual yang
ditampilkan memiliki nilai status sosial bagi para pemakainya. Salah satu tujuan desain yaitu nilai penghargaan
(status sosial) yang dapat dicapai melalui nilai estetika
rupa yang diwujudkan secara optimal dalam karakteristik
desain mebel.

Elemen desain yang bertanggung jawab untuk


menghadirkan nilai estetika rupa adalah warna, bentuk,
elemen bias, bahan, tekstur, dan terkadang konstruksi.
Selain itu prinsip desain yang menjadi panduan menuju
estetika rupa yaitu proporsi, komposisi, kesatuan, irama,
repetisi, harmoni, dan kontras.

27

#esigning {:umiturc

Visualisasi

-!

d-e9ai_n

ek*ik ?lera*can6t Ma&*l fire*flf

sangat berhubungan dengan

nilai-nilai estetika. Nilai adalah suatu prosintase

dlari

pengukuran suatu karya tentang nilai positif dan negatif.


Qoabila

Desain dikatakan memiliki nilai estetik yang baik


nilai-nilai negatifnya mendekati
p"..e"" (B.

Suparto, 7979: 6). Nilai estetik sangat"ot


subyektif dai
sangat..tergantung pada manusia penilainya. Selain itu,
nilai-nilai universal yang tumbuh d-alam buhaya dan berl
kembang .pada suatu zaman juga turut mempengaruhi

subyektivitas sang penilai.


Lebih lanjut B. Suparto menyatakan bahwa nilai
estetik harus selalu ada pada setiap
penciptaan desain,
sebab estetika merupakan salah - satu tuntutan kemanusiaan yang memiliki keinginan akan keindahan.
Keindahan selalu berhubungan dengan selera
masyarakat. Untuk itu, desainer harus menemflatkan dirily3 qi tengah selera masyarakat. Tuntutan kebutuhan,
keinginan, dan selera. masyarakat menjadi pertimbangiri
yang sangat penting di dalam mewujudkan sebuah desain.
Pertimba-ngan unsur estetika-emosional dan p".ii-l
bangan fungsional-rasional menjadi kunci kebeihasilan
seorang desainer mebel.

Gambar 16
Bahasa emosional yang memvisualisasikan bentuk-bentuk bulat
(elemen desain). Bentuk tersebut dipergunakan untuk
membahasakan, mengkomunikasikan, dan menginformasikan citra
feminin, gemulai, wanita, informal dan santai'

C. Bahasa Rasionaldan Logika Fungsional

Bahasa rasional dalam desain mengacu pada logika

fungsionai vine *".umbah era modern. Suatu mebel difungsi


k;fik;; b"i'nitIi apabila mebel tersebut memiliki
program
hiddlam
kebutuhan
,;il b;.h;bungan^dengan
dup manusia.

Gambar 15
Bah.asa emosional yang memvisualisasikan bentuk-bentuk segi
empat dan segi tiga (elemen desain). Bentuk tersebut dipergunikan
untuk membahasakan, memvisualisasikan, dan menginformasikan
citra maskuin, jantan, formal, dan tegas.

28

Fungsi adalah suatu istilah yang digunakan oleh


manusia dalam menjabarkan maksud seberapa. jauh pemebel- terhadap aktivitas manusia. Fungsi
;;;il b";aa
jn
jawaban
dari setiap kebutuhan hidup manusia
*".rput
(Suparto, 1979:9).
Pada era modern, fungsi menjadi titik tolak setiap
pakai,
termasuk mebel. Dalam desain terdapat
benda
ia"btogi ."tiap bentuk harus mensikuti fungsi' Logika
fungsional beitujuan untuk mencapai nilai kenyamanan,
para
6;;iil;4"n, keamanan, efisieusi, dan efektifitas basi
pemaiiainva. Logika fungsional sangat berkaitan dengan
er-g-onomi'
6"iiirt r"itomi-manusia, antropometri, dan
eoemilihan
mempengaruhi
akan
tersebut
Asp"ii-uspek
i"iren ae.'rin seperti bentuk, bidang, bahan, ukuran, struktur, dan konstruksi.

29

T-

:1:l|-,::1i..1..

D. Bahasa Spiritualdalam Etika Desain

Bahasa spiritual adalah bahasa hati nurani yang


diekspresikan dalam desain. Bahasa spiritual dalam desain
mengacu pada etika yang berlaku dalam ragam budaya
masyarakat tertentu. Terkadang, ada pula etika yang
berlaku universal. Elemen desain yang berpengaruh terhadap bahasa spiritual adalah warna, bentuk, ragam hias,
ukuran, dan konstruksi.
Tujuan yang hendak dicapai dalam bahasa spiritual
ini adalah penghargaan (status sosial), kekuasaan, kekuatan magis, dan legitimasi atas kekuasaan para pemakainya. Misalkan desain kursi untuk para dewa atau
para raja. Hal yang berhubungan dengan etika, misalnya
saja desain meja untuk sekretaris yang bagian muka
mejanya tidak tertutup, akan mengganggu ruang gerak
sang sekretaris dalam melakukan aktivitasnya.
Contoh lain adalah warna, bentuk, ragam hias,
ukuran, dan konstruksi pada desain kursi raja atau kursi
dewa berbeda dengan kursi untuk manusia biasa atau abdi
dalem dalam sebuah kraton atau sebuah pura dalam agama
Hindu.

Gambar 17
Gagasan
yang menggunakan bahasa rasionat dan logika
.desain
fungsional tampak terlihat dari kursi karya philippe Starck deigan
bentuk stacking chair yang tersusun.indah.

30

Gambar 18
Bahasa desain mebel
berupa kursi yang

mengandung unsur
emosional, sakral, dan
estells versl gaya oriental
Cina. Ragam hias kursi
yang digunakan adalah
'Mega Mendung'. (Yates,
19BB:21)

31

t tt .t,lt t!itr''1i

ir11;,":

RE,TSRAT'O'V

REFLECTIAN
mirror image of stretchers
creates symmetry

Gambar 19
Alternatif bentuk-bentuk yang kontras
pada desain meja. (Stem, 1989: 28)

32

Gambar 20
Gambar atas menunjukkan bagaimana komposisi garis dan bentuk
memberikan kualitas desain. Sedangkan gambar bawah menunjukkan
bahwa setiap garis memiliki karakter tersendiri dan
menghadirkan cita rasa desain.(Stem, 1989: 51)

33

3
ft
Id
q.)

]}cl
&

r*

s
t)

;
.&
I

>,r-

ea;i*;4as{jj:

^E
&:
0)6

EE E
SBF

e33.

EE-Y

* t s*R

; FE*S

a cbi(/)
S octr\

E $s;E
tci*P

:s;

$= *5
'6oS

E;

(B-

(E

hp
(46

3^i
SS
F

trJ

\.'=
e{Y

$qx

.aiiP
N
k59
r- t5'G G-h
p;
aE
^<
v=(o

t5 $
s=tb'

sb

9?

da

rf

ui,

(Y)

(Y)

rp

!" r,

la l'rt s 1 2

t "

")

{,

\t

f\./f

'-'

lJt I

L a

"

GAYA
DESAIN MEBEL

iF-jidiTi

R$;

/*n uyu atau style merupakan salah satu titik


da_lam perancangan mebel. Gaya-gaya
{ ryawal
yang telah lahir dapat

memberikan inspirasi
dan motivasi bagi para desainer untuk menciptaki"-gup
mebel yang baru di masa depan. Oleh sebab itJ titu It i"
meneiusuri sejarah gaya mebel secara ringkas aan piait.

ffi

ffi
tl

RENAISSANCE

'b

WL
ffll-1
[!
SHERATON

A. Sejarah Desain Mebel

4"',

Di dalam sejarah desain mebel dunia dikenal berbagai gaya mebel. Akan tetapi gaya-gaya tersebui drprt
dikelompokkan menjadi empat eava inebet v;"s irtdi,
yaitu: gaya prjmitif, gaya klasik , euvu modein,
Ail ily;
postmodern. Keempat gaya terse6ut memiliki t<aiak:
teristik.desqll yu.,s sangat berbeda. Dalam iuo"teiis l"i,
hanya akan dibahas tiga gaya mebel secara umum.

t\tu

/ft

rt--:\

Yrtm
''l!

LOUIS XV

B. Gaya Klasik

h.ffi/l

l*---->,

,r{

Pada umumnya, keberadaan mebel-mebei klasik


di Eropa lahir dari kekuatan ambisi manusia uniut<
-el
legitimasi status sosialnya. Hal ini menunjukkun Uun*,
mebel .dapat dijadikan sarana untuk menghadirkr., .itri
(lmage) pemakainya.

Artefak-artefak yang ditemukan membuktikan

bahwa mebel telah dijadikan 'alat' untuk menampilkil kekuasaan dan kemewahan bagi penguasa paaa )aiii"ia.
Hal ini terbukti dari kelahirarineUerap a saya aesiin
-eUJi

klasik yang cenderung mencermint<an etiiisi;;=i

;;i

penguasa, termasuk para bangsawan dan raja pada saat


mereka berkuasa.

Perkembangan desain mebel ktasik Eropa diawali


oleh gaya Gothik dan terus berlangsung hingga abad ke-

Gambar 23
Gaya kursi klasik dapat dijadikan sebagai sumber gagasan bagi para
desainer masa kini. Gaya klasik dimulai dari
gaya Mesir, Yunani hingga Neo-Klasik.
(Soepratno, 2000: 120)

37

#*sigi;icg

f*r*if*lt

i9. Periode ini merupakan rangkaian tonggak sejarah


mebel Eropa yang satgat penting mengingat gaya mebel
Eropa telah merambah ke seluruh benua, termasuk ke Benua Amerika dan Asia.
Kehadiran desain mebel klasik Eropa di Indonesia
juga tak luput dari pengaruh perkembangan desain mebel
di Eropa. Desain mebel klasik ini masuk ke Indonesia
bersamaan dengan masuknya bangsa Eropa. Pada saat itu
bangsa Eropa menjajah negeri kita selama ratusan tahun,
sehingga mau tidak mau pengaruh kebudayaan mereka pun
mengalir deras masuk ke dalam tatanan budaya Indonesia.
Jika kita amati, peninggalan bangsa Eropa tersebut
hingga kini masih tercermin pada karya-karya desain
mebel di Jepara. Gaya mebel-mebel buatan Jepara memiliki karakteristik yang sama dengan gaya mebel-mebe1
klasik Eropa, seperti Chippendale, Sheraton, Queen Anne
dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu,. sudah selayaknya kita mencoba
untuk meninjau lebih dalam mengenai perkembangan
sejarah desain mebel klasik Eropa sebagai bahan kajian
desain. Kita juga perlu melakukan identifikasi terhadap
lalar belakang pemikiran penciptanya, apakah memiliki
pendekatan kontekstual, baik dalam bidang sosial-budaya
maupun politik-ekonomi, sehingga desain mebel klasik
Eropa dapat berkembang ke seluruh penjuru dunia.
Desain-desain mebel klasik banyak dipengaruhi
oleh gaya arsitektur gereja yang bersifat religius dan
sakral, sehingga karakteristik yang ditampilkan dalam
desain mebel pada umumnya senapas dengan gaya

arsitekturnya yang penuh dengan hiasan. Hiasan-hiasan


brnament) yang rumit, bergulung-gulung, dan bergelora,
serta sarat dengan unsur dekoratif, menjadi ciri khas mebel klasik Eropa.
Bentuk yang agung, mewah dan megah juga menjadi karakter yang khas mebel gaya klasik. Bentuk-bentuk
desain yang berkembang tersebut lahir akibat dari upaya
para bangsawan atau raja untuk memperoleh legitimasi
atas kekuasaannya, seperti yang dilakukan oleh Raja
Louis, Napoleon, Queen Anne, George, dan masih banyak
lagi.

Dengan demikian perkembangan desain mebel


. yang lahir pada era klasik di Eropa itu sangat kental dipengaruhi oleh konteks sosial-budaya dan sosial-politik

Tt k t t L l,l r: r t ; r : <: ;: t t

!,.1 * lL --

I i. | {}

r'*

Kehadiran desain mebel klasik Eropa relatif tidak

stabil dan timbul tenggelam akibat dari perubahan-

perubahan kondisi sosial-politik di Eropa pada masa itu.


Meskipun demikian, bila dikaji secara runtut, maka akan
terlihat dampaknya terhadap dinamika perkembangan desain mebel dunia, termasuk pengaruhnya di Indonesia.
Konkretnya dapat dilihat pada desain-desain mebel yang
berkembang di kawasan industri kerajinan Jepara.
Di sisi lain memang ada kecenderungan yang
menunjukkan bahwa pertumbuhan desain mebel klasik
Eropa hanya merupakan pengulangan atau modifikasi serta
penyempurnaan secara teknis dari periode satu ke periode
berikutnya. Hal ini dapat dilihat dari bentuk-bentuk desain
mebel yang saling mempeng'aruhi dengan dinamika perubahan yang hampir mirip satu sama lain.
Dalam mengamati suatu karya desain mebel klasik
Eropa, sudah selayaknya kita dekati secara cermat, bahkan
kita berusaha untuk 'menyelaminya' agar dapat mengidentifikasi ciri-ciri desainnya secara detail.
Dengan demikian, secara ringkas dapat disimpulkan bahwa desain mebel kiasik Eropa pada umumnya
memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) desain dikerjakan oleh seniman, (2) mayoritas penuh dengan hiasan
(ornamenD; (3) produk dikerjakan oleh tukang kayu; (4)
bersifat kerajinan tangan dan dibuat secara manual.; (5)
desain dibuat berdasarkan selera/kehendak raja atau
bangsawani (6) desain yang dibuat bertujuan untuk memperoleh kebanggaan, kemewahan atau gengsi sosial, serta
untuk melegitimasi kekuasaan raja, (7) produk tidak dibuat
secara massal; (B) desain cenderung eksklusif, (9) konsep
desain cenderung "black box", emosional, spiritual, magis,
dan sakral; (10) gagasan hanya berdasarkan pengalaman di
lingkungannyai (11) kemampuan atau keterampilan yang
digunakan berlandaskan pada tradisi alamiah secara turuntemurun. Esensi gaya desain mebel klasik berpijak pada
konsep fungsi harus mengikuti makna bentuk dan o.rnamen.
C. Gaya Modern

Istilah modernism dipahami sebagai aliran baru yang


merujuk pada semua gaya yang dianggap modern. Akan
tetapi, apa yang dianggap 'modern' oleh tiap generasi,
selalu sesuai dengan standar pada zaman itu.

yang berkembang pada zamannya.

38

39

t .;,;1.t1,
-r,. r.,;.',;;,.r

ir i,i,,',

r_.

Pada umumnya, desain mebel masa kini kita sebut


'modern' karena sangat tepat dengan istilah yang mewakili
zamannya. Oleh karena itu, sebutan desain'modern' dalam
pengkajian mebel akan selalu dikaitkan dengan metode

dalam memproduksi produk-produk industri


r

(Jones,

973).

Ditinjau secara kronologis dalam kajian sejarah


desain, mebel modern bisa dikatakan sebagai produk dari
perkembangan keadaan setelah terjadinya Perang Dunia I.
Namun bila ditelusuri lebih lanjut, sesungguhnya mebel

modern berakar dari fase-fase awal Revolusi Industri


yang terjadi di sekitar pertengahan abad ke- 1B SM.
Aronson (1965: 305) mengungkapkan bahwa revolusi industri itu sendiri telah membawa dampak yang
luar biasa dalam perkembangan desain pada saat itu.
Kemajuan teknologi yang demikian pesat membuat sistem
produksi berubah total, di mana tenaga manusia digantikan
oleh mesin-mesin pabrik, dan barang-barang diproduksi
secara masal (mass production). Akibatnya, posisi desainer
mengalami pergeseran dan cenderung lebih bersifat
komersial, bergerak sesuai tunlutan pasar. Bahkan seringkali ditemui seorang desainer merangkap sebagai produsen dari mebel tersebut..

Pada tahun 1830, seiring dengan merebaknya


pasar, maka muncul pabrik-pabrik yang mempercepat
pertumbuhan industri. Dibukanya lahan-lahan baru juga

mengakibatkan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang


sangat pesat, sehingga lahir kalangan masyarakat baru
dengan pola hidup mewah atau yang biasa disebut kaum
borjuis; yang menjadi konsumen desain pada saat itu.
Adapun tahap*tahap awal desain yang ditampilkan
pada era modern ini merupakan adaptasi dari bentuk dan
tema yang sudah ada. Rahan-bahan yang dipakai kebanyakan merupakan hasil proses produksi mesin. Kemudian muncul inovasi-inovasi baru untuk menjawab
tantangan zaman, dengan lebih memperhatikan kekuatan
dan kelemahan desain secara struktural serta lebih mempertimbangkan biaya pembuatannya.
Pengolahan bahan kursi dari pipa-pipa logam yang
disambung-sambung, dibentuk, dan dicat sedemikian rupa
sehingga menghasilkan bentuk yang meniru bahan kayu
merupakan suatu inovasi baru yang berkaitan dcngan pola
pikir desain modern.

40

ii l{'r('1,,C(-as,l

ri.iel' ; n,',';ttri

Bila dikaji dari perkembangan sejarah desain


mebel modern pada abad ke-20, dapat diidentifikasi
karakteristiknya sebagai berikut: (1) desain dikerjakan
oleh arsitek dan desainer profesionali (2) bentuk mengikuti fungsi; (3) desain diciptakan sederhana dan praktisi
(4) desain dibuat berdasarkan kebutuhan pasar; (5) tampilan desain cenderung bersifat universal, mempunyai
bentuk yang sama atau mirip di seluruh duniai (6) konsep
desain berdasarkan pemikiran "gtlass box", berlandaskan
pada logika material, rasional, dan komersial; (7) gagasan
desain didasarkan pada hasil penelitian ilmiahi (B) mebel
dikerjakan dengan menggunakan mesin produksi; (9) keterampilan diperoleh secara formal dari sekolah, bukan

turun temurun seperti pada desain mebel tradisional. Gaya


modern juga ditandai oleh (1) gaya internasional (universal); (2) fungsionai-pragmatik; (3) bentuk yang sederhana, (4) mekanikal, logis dan teknologisi (5) anti
hiasan, (6) anti metafora, (7) anti simbolik; dan (B) susunan
fungsional (Jencks, 1989: 67).
Lima gaya desain yang menjadi tonggak sejarah
desain mebel modern adalah Art Nouveau, Deutcher
Werkbund, De Stijl, Bauhaus, danArt Deco. Gaya-gaya ter
sebut telah berkembang dan menyebar ke seluruh dunia,
termasuk ke Indonesia dengan berbagai macam problematikanya.
Intinya, gaya desain mebel modern memiliki konsep kesederhanaan bentuk yang harus selalu mengikuli
f

ungsi.

Gambar 24
Desain kursi gaya modern cenderung sederhana,

praktis, fungsional. dan rasional.

41

T* kr

tk

!'.4*ra n ta,tg

Ad**el &rei;lri

puitik dan terkesan bermain-main. Bahkan..pada tingkat


metodologis, desain mebel postmodern dianggap 2nti
dianggap tidak memiliki metodologi.
estetika Ean juga
-kenyataannya,
justru nilai-nilai estetika,
Namun pada
nilai-nilai rasional, kerangka analisis dan metodologis itulah yang diolah dan didekonstruksi oleh konsep postmodbrn menjadi bentuk metafora (Sukada)'

Desain mebel postmodern diciptakan dengan


bahasa ungkapan semantik (semiotika) setelah melalui
suatu proses perancangan yang didasari oleh realitas budaya pada zamannya.
Desain mebel postmodern juga mengandung nilainilai bermakna simbolik yang dapat mengasosiasikan kemegahan, kemewahan, keangkuhan, keindahan, kenyamanu.,] k"utnunan, status sosial, pemberontakan, bahkan citra
dari pemiliknya. Arsitekturnva dapat pula dipertimbangkan
pada berbagai tataran yang berbeda, mulai dari tataran
iisik, mekanik, ekonomis, sosial, bahkan semantik. Dipgndang dari sudut tataran semantik, desain mebel tidak ha-

Gambar 25
Kursi taman

D. Gaya

produksi tndonesia untuk pasar ekspor.

Postmodern

Charles A. Jencks telah menyusun suatu klasifikasi


gaya postmodern dalam lingkup arsitektur, yang kemudian
juga menular pada desain mebe1.
Menurut Jencks, gaya postmodern mempunyai

tanda-tanda sebagai berikut: (1) berkode ganda fuoubte


coding); (2) berbentuk semiotikai (3) rumit (kompleks); (4)
p_lnya arti semiotika-semantik; (b) menggunakan hiasan;
(6) metaf ora i (7) simbolik ; (B) berfuns.si c"a;pr.r"
; a;;ig j
kontekst ual.

Dalam konteks budaya postmodern, konsep desain. yang paling dihir-rdari aaatafr mebel-meb"f-vi"e
bersifat masal, rasional, dan kaku. Sebagai grriirvi
diajukan desain mebel yang didominasi oleh'urr;;l;i;;l_
spesifik, individual, dan asosiatif. Akibatnv,
-rn.rl-r"f
buah konflik yang mendudukkan desain" -"bel
;*tmodern sebagai karya irasional, emosional, eXsp?esif,
42

Gambar 26
Desain tempat tidur ata.u karpet yang mengasosiasikan serakan batu di
halaman. Bahan yang digunakan adalah bahan yang lentur dan lunak
(double coding). (Sembach' at al, 1989:204)

43

1..t.! J t i.4r:!

:it1a.it:t.: fl/,ij

't lr' :il'l'{

nya berperan sebagai objek semata, melainkan juga sebagai suatu unit kultural yang termasuk dalam unsurunsur budaya yang kompleks.
Dari pengamatan Jenck tersebut, dapat disimpul-

kan bahwa arsitektur postmodern dilatarbelakangi oleh


cara-cara baru dalam menyampaikan aspek estetika, yaitu
melah-ri teknik berkomunikasi dengan memanfaatkan
simbol-simbol bahasa visual. Semua aspek mengikuti
kaidah-kaidah kebahasaan yang sarat dengan istilah iinguistik, sehingga diperlukan keluasan interpretasi terhadap suatu makna dari tanda-tanda.

. Esensinya bahwa desain mebel postmodern selalu


'bermain-main' dengan bentuk dan makna, dengan mengikuti irama bahasa (linguistik). Dalam konteks desain,
bahasa yang dimaksr-rd adalah bahasa visual atau bahasa
rupa. Gaya desain mebel postmodern yang sudah dikenal

di dunia antara lain gaya Memphis dan gaya Neo Furniture.


Prinsip yang dianut oleh gaya desain mebel postmodern ini adalah fungsi mengikuti permainan bentuk, atau
fungsi bermain-main dengan bahasa bentuk.

Gambar 27
Gaya postmodern
cenderung
bermain-main
dengan bentuk,
simbol,rumit,
metafora, dan
emosional.

44

Gambar 28
Desain meja keria yang mengasosiasikan burung berkepak' Desain ini
memiliki iakna'simbo-ti* terbang iauh tinggi, yang merupakan ciri dari

gaYa desain Postmodern.

45

\tt,l(:; F::.rrti!#1:

ffiF
esain mebel yang kreatif dan inovatif dapat
ditemukan pada berbagai desain mebel gaya
modern dan postmodern. Demikian pula
dengan gagasan-gagasan baru yang berkembang dalam

dunia perguruan tinggi dan sekolah-sekolah desain di

Indonesia.
Dalam kajian ini, akan lebih banyak disajikan desain-desain mebel gaya postmodern, antara lain gaya Neo
Furniture dan gaya Memphis.
A. Neo-Furniture

Gambar 29
Desain-desain mebel gaya postmtodern cenderung kreatif, inovatif,
emosional, dan estefis. ldeologinya selalu berani
rhenggunakan bentuk yang memitiki makna.
(Sembach, at al, 19Bg: 214; Charlotte & Fielt, 2001: 114)

Gerakan Neo-Furniture lahir pada sebuah pameran tahun 1991 di Eropa. Kelahiran Neo-Furniture ini
merupakan dampak dari upaya penyatuan Eropa, yaitu
sesaat setelah tembok Berlin diruntuhkan. Pameran
tersebut bertujuan untuk sebagai menegaskan kembali
keberadaan "New Deslgrn" yaitu sebuah gerakan yang
bertujuan untuk memproduksi benda-benda yang memiliki
fungsi sebagai alat komunikasi (Downev, 1994).
Para peserta pameran membicarakan tentang
"Senso4z Revolution" yang menerangkan bahwa benda
(seperti mebel) bukan lagi berperan sebagai kenyataan
yang harus dipahami, melainkan berfungsi untuk merasakan pengaruh dari pancaindera kita. Neo-Furniture
sebagai aliran desain baru kemudian berkembang menjadi
gerakan yang menuju surialisme.
Nilai kreatif dan inovatif dari beraneka ragam
desain baru versi Neo-Furniture terletak pada keberanian
dan kebebasan dalam mengekspresikan beragam gagasan
yang selama ini belum terpikirkan oleh para desainer pada
era modern.

46

{; *

s i g r; i t

t;

{; t; ;'t t ll * N:

l'i;J<r

:ri

i;,j+,.,:tr;e";it;1,' ;1;lilL:

tr' lit

l;;i:i

Penampilan bentuk yang terkadang unik, aneh,

bebas, dan liar itu merupakan niiai tambah yane lahir dari
kualitas kreatif dan bobot inovatif. Gaya dalam Neo- Furni-

ture mengacu pada gaya masa lalu, yaitu saya primitivisme, Barok Baru, Naturalisme Baru, Bricolage, Modern
Baru, dan Romantik Post-Punk (Downey, 1gg4).

Gambar 31
Gambar 30

Metapo Headboard karya Ricardo D, 1991


(Downey, 1 994: 1 02)

Modifikasi sandaran dari bentuk bunga pada


desain kursi karya Ricardo Dalisi berjudul
Fiordalisi Chair,l 99 1.
(Downey,1994)

48

49

Gambar 32
Tom Dixon mendapat inspirasi
gagasan dari bentuk S, 1987.

(Downey,1994)

50

Gambar 33
'Gallo &rrnchair"
Karya Nigel Coates, 1991.
(Downey, 1 994: 1 04)

51

,,

l. )it

1{,lt|!

}i!t.t,'tj

Gambar 34
Bentuk S terus
dikembangkan
oleh Tom Dixon
sebagai sumber
inspirasi pada
karya-karya
desain kusinya

yang berjudul
Salvaged Metal

Chair, 7986.
(Downey,1994)

Gambar 35
Spiral

juga

menjadi sumber
inspirasi desain
kursi karya
Luigini Serafini

yang berjudul

Suspiral
Chair,7989.
(Downey,1994)

Gambar 36
C4 Chair karya Yamo (1990) merupakan kursi yang sangat
imajinatif dengan mengambil bentuk anjing
yang sedang menyalak.
(Downey, 1994)

52

53

l*ir:iir L.l*t*;lr:a ;t g !'l * i:<: ! ll

r:

ai ;{

Gambar 37
Neo-Furniture sebagai tonggak gaya postmodern memiliki gebrakan
inovasi yang atraktif. Neolia Headboard adalah kursi yang sangat
emosional, terbuat dari kayu yang tidak dibuang kulitnya. Kursi ini
merupakan karya dari Andrea Branzi,1989.
(Vegesack, at al, 1996: 233)

54

Gambar 38
Kaki meja dari besi yang diberi hiasan, dengan daun meia
berbentuk angka delapan ini merupakan karya dari Eric
Schmitt beriudul Forged-iron Table (1990).

(DowneY,1994)

55

Gambar 39

56

Gambar 40

"Selvaged Metal Chair"

Julliet Ou Soir karya Kristian Gavoille (1990) adalah desain

Karya Tom Dixon 1986.


(Downey, 1 994: 1 25)

(DowneY,1994)

yang unik dan bermain-main bentuk'

57

j'

,jr ., ,. i-..,.i . ..I'\"

''

'','

.,,..,;

B. Memphis

Gerakan Radical Design lahir di italia pada pertengahan tahun 1960-an. Memphis merupakan salah satu

gerakan desain radikal yang terdiri dai-i gabungan beberapa desainer seperti Gio Ponti dan kawan-kawan.
Memphis memperjelas eksistensinya dan dipasarkan sebagai gaya internasional baru pada tahun 1981.
Nama Memphis merupakan gabungan dari kota Mesir
Kuno dan juga makam Illvis Presley di Tennessee, yang
mengarah pada desain 'lPopArt".

Desain Memphis mempergunakan bahasa visual


berupa bentuk-bentuk yang kontras dengan pola dasar*
nya. Mebel-mebel yang dibuat memiliki nilai kreatif dan
inovatif. karena menggunakan bahasa simbolik yang bermakna (semantik) dengan ekspresi yang emosional. Akan
tqlapi desain-desain Memphis juga masih tetap memiliki
nilai fungsional sesuai dengan tuntutan kebuiuhan pemakainya.

Gambar 42
Rak buku berjudul

Baverly

karya Ettore Soffsass, 7987.


(Radice, 1994)

Nilai kreatif dan inovatif ditampilkan dalam bentuk-bentuk mebel yang menyimpang dari ideologi gaya

Gambar 41
Etfore Sottsass adalah desainergaya Memphis yang mendesain rak
buku secara tak lazim dan sangat inovatif. lde dasarnya diambit dari
bentuk robot dan diberi judul Cadton,7987. (Radice, 1 994)

58

modern yang simgtris, kaku, dan sederhana.


Selain ilu, mebel gaya Memphis juga menggunakan
warna-warna yang unik dan eksentrik dengan komposisi
bentuk yang sangat bebas. Memphis juga mengolah polapola dasar yang berbeda dengan gaya modern, bahkan
menggugurkan karakteristik de sain rnebel modern.

59

ilr:s;g;tir;;

f:

Lt

:-t ; i!Lt

r*

ffiffiffi
r

KOI{SIPSI
DESAIH t'fEBEt KRIATIT

& /$ enciptakan desain mebel yang kreatif bui h I $ kanlah pekerjaan yang sulit. Pada dasar; Y Anya, setiap orang memiliki potensi menjadi

desainer. Akan tetapi menciptakan mebel tanpa konsep


desain yang rasional merupakan pekerjaan yang ekspresif -emosional tanpa kendali.
Oleh sebab itu, konsep desain menjadi sangat
penting untuk mengendalikan keseimbangan antara olah
pikiran dan perasaan dari penciptanya. Kreativitas sebuah
desain mebel selalu mengacu pada keselarasan antara logika dan estetika, juga keselarasan antara fungsi dan
emosl.
Dalam beberapa kasus, ada desainer yang hanya
berpikir estetika semata, dan ada pula desainer yang hanya memikirkan unsur logika. Untuk menghindari hal itu,
konsep harus menjadi titik awal dari sebuah perancangan.
;-!;

Gambar 44
Gambar 43
First Chair karya Michele De Lucchi (1983)
juga termasuk dalam kelompok
Memphis. (Radice, 1 994)

60

Desain kursi inovatif


yang sarat dengan nilainilai estetik ini
merupakan salah satu

karya dari Risdiyanto


(lSl Yogyakarta), yang
diberi judul Dancing On
The Waves, 7997.
(Bondan, 1997)

l-.tt) si

* !1 !-]Q f'
!

t.i

!":)

iln !"u

* kr

k i.lt: t"::*tt;tt'tt; ll

t:1.:t:!

{;

t,tt

t!ii

Gambar 45
"Blue lmpulse"
Karya Danang lndradi
(lSl Yogyakarta,
Asri, 1997).(Bondan,
1 e97)

Gambar 47
Desarn Chest Of Drawers yang sangat kreatif dan inovatif
karya Ashley Cartwright (kanan) dan John Cederquist (kiri).
(Joice, 1987: 410, 411)

Karya William K Sawaya (1990)


Bentuk kaki belakang mengekspresikan rambut ikal.

62

63

/
l)*sri;:;r';g { *
L

t;

n:

Gambar 49
lde dasarkupu-kupu karya Starck (kiri) dan ide dasar Jendeta
pintu ghotic (kanan) digunakan pada karya-ka4za postmodern
karya John Makepeace. (Joice, 1987: 465)

Gambar 48
Desain kreatif dan inovatif juga datpat diilhami oteh bentuk
flora, berupa ranting, daun, dan akar, yang memiliki nilai
estetis tinggi seperti terlihat pada karya
John Makepeace. (Joice, 1987: 465)

64

65

) 1' .. 'r .. r ,,,,;t .,..

Tekt',h

A'tr

a,l{

Li.,r(, L4*bt.:

K"t alt{

Gambar 50
Steel Heart sa/ah satu
desain kursi yang kreatif
dan inovatif karya Andika
Nugroho (l Sl Yogyakarta,
Asn, 1997). (Bondan, 1997)

Gambar 51
Desain kursi besi dengan
menggunakan ide dasar
bentu k binatang (Downey,
1994).

66

Gambar 52
Gambar atas adalah gambar kursi yang ide dasarnya
mengambil bentuk terong. Gambar bawah adalah desain kursi
Rose Chair karya Masanori Umeda yang mengambil ide
dasar dari bentuk bunga merekah.
(Downey, 1 994: 1 A5)

67

ilesig,"rlng l: urnitu re

Jblrirk Msranca*g Mehe! l{reatif

COMPUTER SKIPPER
Angelo Mangiarotti

Kapstok karya Gido Drocco


dan Franco Mello, 1971
(Sembach, et al., 1989)

HWH

-rr
Gambar 53
(dai berbagai sumber)

68

"Spluga"
ZANOTTA

"Marietta"
ESIAS/S/TENDER

Achille Castiglioni

Renato De Marco

"Coleotteri"
MAZZEI
Massimo Morozzi

"Valet de Coeurs"
MATTEO GR/SS/
Francesco Soro

"Hydra"
FIAM
Massimo Morozzi

Gambar 54
berbagai sumber)

69

ilt'.. :cli:stS

l: ui

I d;.t

:ti!u:.t)

"

iti ?', t ; t, :, J :1 Q ;"1 t',',

".

: f "', ]!'{

Gambar 55
Desain kursi besi
yang memiliki
bentuk berbeda
dengan kursi lain,

Gambar 57
Gambar 56
Sofa yang amat kreatif dan unik gaya Neo-Furniture,

Gagasan desain meja dan kursi yang sangat


kreatif dan inovatif.

mengambil ide dasar dari bentuk batang phon atau


ranting. (Downey, 1 994)

70

71

iir:srql;16 Srmilure

{*k*ik

N'l

* ran*

a*g !'"il*b*i Kreali{

Gambar 58
Tempat tidur yang amat kreatif dan unik gaya Neo-Furniture

(Downey,1994).

Gambar 60
Gambar 59
Desain kursi
rotan yang
bernuansa
Jepang, cantik,
dan elegan.

72

Mungkin kita tidai pernah membayangkan desain


kitchen set yang terbuat dai sebatang tiang besi
lengkap dengan rak dan kompor untuk memasak.
Desain ini meruPakan karya dari
Stefan Wewerka, 1983.
(Sembach, 1989:224)

73

rCkr.ii

fi r: ::i t i t't !.1 f u rn i tu r*


t"S

,lt,i,'.

ir4fir.,g lJtb,:l i{'t,st'l

&

]'
120
47

Gambar 62
Gambar 61

Desain daun meja kerja direksi tidak hanya berbentuk segi


empat dan bulat. (Koleksi Sapoiti, ltalia)

Atas: Desain meja karya Elisabeth Scheidl. (Stem, 1989: 52)


Bawah: Kursi karya Mario Botta "Quinta" (1985) dan
karya Phillipe Starck.

74

75

l6Jq7,iX,i,.,fr1gr:C,,ii,{; fuJeLr I

1), ./' '),i I ":.i:l::

did.rl,I

A. Konsep Desain Mebel

Stem (.1989:2) mengungkapkan bahwa desain dimulai dari inspirasi yang digerakkan oleh getaran gagasa!. Gagasan desain hanya akan berhasil dengan baik
apabila diawali oleh pembuatan konsep terlebitr dahulu.

Dalam hal ini, konsep desain berperan sebagai pengendali


masalah yang terjadi di dalam pembuatan desain.

Daiam konteks merancang desain mebel kreatif,

ada sembilan langkah yang harus dilalui untuk mencapai


desain mebel yang optimal.

Analisis Aktivitas Manusia


Manusia hidup dengan beragam aktivitasnya, baik
yang dilakukan di dalam ruangan maupun di luar ruangan.
Seluruh aktivitas tersebut membutuhkan sarana pendukung berupa mebel:
Bila manusia ingin melakukan kegiatan duduk,
maka dibutuhkan kursi yang nyaman, aman, dan indah.
Untuk memenuhi hal tersebut, maka diperlukan sentuhan
pemikiran dan gagasan dari para desainer.
Setelah melakukan analisis terhadap aktivitas duduk manusia, akan ditemukan beragam sikap duduk. Hal
ini tentu saja dapat mempengaruhi bentuk, fungsi, dan
ukuran sebuah sarana duduk. Dengan demikian, sikap
duduk manusia sebagai pemakai, merupakan kunci dalam
menciptakan sebuah desain kursi.
1.

Gambar 64

Gambar 63
Sandaran kursi yang
ergonomis dan logis.
(Wil khehn,

76

990 : cover)

Atas, tradisi duduk manusia dari belahan Timur cenderung


tanpa kursi (lesehan atau duduk di atas lantai).
(Sriwarno, 1998: 16)
Bawah, duduk dalam tradisi Barat memiliki standar
antropometrika agar tercapai kenyamanan
dalam menggunakan kursi (tanda v).
(Bonetti, 1988: 20)

77

L*

fi.i

tlEl{t{I IX#rt

'tt

i,!*, .its i'!l! ^r!{i :. ltt:.,!!'

8{*Idx A+{e 1f :*alu Yril' ML*il$1 t ll{i trdh { ill!r]'


,trad J$]6 l"S&1! lfrJ1rr, ir$,rldi{. }{'{rtr( E4u1 :dw
HEl{*l*fsdl $udu P2rililf (i6r..it1s rrtt t*txag
dllt.i{ PdtfilF
r &r#rgAr{ I xrg{(a laol{; r&r{ls1i' I
. 5(*t8r6 or$ui. l{hfrtrl*
, it*sr.ri ulix rum rruw*
{
. eB{f dmt fl?f,/d{ Lt$d er*sr
,

ffi

Atmfi,

Ur.d.,drtP

* Lfl4t au{$&*4,1 ta(, }lg{fiwknr,t


!&lX sa* r$*l
. &{re {j6r* *4xt'4h ttltir* ql&:g

r.#ut{Ll-.
n b.\-rr:*\

T:l lllql

ryry-:*fi{wl3$],:
. .lrr.A6nl Tr}4f4r

'

t***"

[-

Jfs

ftit{

M6l1,brr.{ditE { rr#firl'l"C
lryi r ld{li *Frf"amfc{ r6*f:r!{ I f af*""C.n ;
| *$raa ]ltt&r M,}tur'uf /Fr"1ia$:E{l Sdfias- &
{u84{ y&qydw I r*re-it , i.t}ndd(d . fiS )
Trfr,p;{T lt-dylr,tl,r;.1 l3.[t , trFd- * . trfi& t
' {IJ!,Ar"6t ,lIrit$
&:sr6ardr1 tutLu.r!
' tEsr.;r,t
* 1S/rdilt

Fuhgsi menanyokah ihformGi

r: Fungsi mengoperosikon
r pesowot telephone

Gambar 65
Berbagai sikap duduk yang berlaku universal. Mulai dari duduk
di lantai (tikar), duduk dl dingklik, duduk santai, di sofa, bar, meja
makan, dan sebagainya. Aktivitas duduk ini mempengaruhi
fa kto r e rgo nom i s d a n antropo metri s.

Gambar 66
Yoanita Hadirahardja (Untaa 2002) menyikapi
konsep desarn counter dimulai dari aktivitas yang
terjadi di sekitar counter.

78

79

r tt

t\)t It t.)

rj iriirj

I'**rrir

:j

irier,*rrr:e il G

ll e *e ; l< lt

a li

-J

Ld
u

i
\i!
e

&

-ffia^[ ",

\'
r/

.-#.\=-t.t

('
i

-l
I

itrr

\ll
.fl

d,
$tl
*'l

utl

-)l
:-)l
i{:
Gambar 68
Gambar 67
Analisis aktivitas dl area counter desk.
Konsep cerdas ini merupakan karya Yoanita HR.

Anallsis aktivitas duduk pada kursi kantor yang


.dirancang mobile sehrngga fleksibel untuk
digerakkan sesuai kebutuhan pemakai.
(Dalam Katalog kursi kantor\Nilkhehn, 7990)

(Untar,2001)

80

81

I,li,t,d I i, i. i. :r;i"g

!.4{:f't.! 4.r.:nt,!

Gambar 69
Desain kursi kantor yang ideal. Bentuk dan fungsinya
mengacu pada tuntutan kebutuhan ergonomi
pemakai. (Dalam Katalog kursi kantor
Wilkhehn, 7990)

Gambar 70
Aktivitas duduk di coftee table pada masyarakat
Thailand hampir sama dengan aktivitas minum the
pada tea table di masyarakat Jepang.
(Borretti, 19BB: 60)

82

83

Dnsigrurlq

Lt t

n itt i r*

{* k* i k

fvtr *

ra n

cang i,,l*hel

&i**fd

Gambar 71
Seorang abdi dalem duduk bertugas di
halaman keraton Yogyakafta (2001)

84

Gambar 72

Gambar 73

Sikap dudukabdi dalem keraton Yogyakarta di


hadapan kursi raja. Bersimpuh di lantai.
(2001).

Tradisi duduk di kursi berawal dari budaya Barat


dengan,berbagai persyaratan desain agar dicapai
optimalisasi dalam aktivitas duduk.
(Vegesack, at al, 1996: 170)

85

fr

.,"."".,..,., r,.,..'?_.".,

''rr,'.1J:r1J

Gambar 75
Gambar 74
Kursi yang memiliki ide dasar bentuk katak melompat

ini tetap dirancang dengan memikirkan aspek


ergonomi dan sikap duduk manusia.

Desain kursi yang kreatif dan unik ini bentuknya


mengikuti fungs,; sesual dengan tuntutan
kebutuhan aktivitas manusia.
(Vegesack, at al, 1996: 115)

(Vegesack, at al, 1996: 170)

86

87

Tek*ik ful*ra*csr; f#e&r:i {re*&I

Jrt*sigr-ux; Frlntllr.rre

Gambar 76
Berbagai sikap duduk orang Barat di atas
kursi kanvas dalam posisi rileks.
(Vegesack, at al, 1996: 114)

Gambar 77
Beragam sikap duduk manusia di atas kursi sebagai
upaya untuk mencari kenyamanan duduk. Desain
kursi merupakan karya dari Don Albinson.
(Fixtures Furniture, tanpa tahun : 1 0)

88

89

#*si;rr:r;51

f * *t itLt rr:

loi.r,k

t'.1.. i

itt'1..;,

riq,.l;r.,

(:i:.,t;l

Vsua{{

2.Analisis Bentuk dan Fungsi


Kenyamanan dapat dicapai melalui bentuk yang
sesuai dengan fungsi dan juga anatomi tubuh manusia.
Untuk menentukan bentuk yang kreatif dan inovatif, sebaiknya dilakukan dengan mengacu pada b-entukbentuk dasar yang ada di lingkungan kita' ide bentuk dasar
bunga, burung terbang, huruf, robot, dan semua benda
yanE ada di sekitar kiia dapat dijadikan sumber inspirasi
yang kaya nuansa.

I
"Pantower" karya
Vener Panton 1968-

';,

1969 (Charlotte &


Fiell, 2001: 122)
Bentuk yang
mengikuti fungsi

berdasarkan.
kebutuhan dari
aktivitas manusia

yang rileks.

Sikap rileks
manusia di atas
mebel.(Vegesack,
at al, 1996: 166)

Gambar 78
Bentuk bulatan pada tampak depan meja
memberikan kekuatan visual.

GambarT9

90

91

il
n,. .t,._"t.... 81,.,,:i. _,..

Bentuk dasar ini diperlukan sebagai daya rang-

sang gagasan yang kreatif dan inovatif. Ide bentuk dasar


juga merupakan pedoman dalam pengembangan desain,
yang akan dituangkan ke dalam berbagai sketsa alternatif.
Pengembangan ide bentuk dasar juga dapat menjadi inspirasi dalam perancangan bentuk-bentuk mebel.
Misalnya, meja tidak selalu harus berbentuk segi empat,
bu1at, atau segi tiga. Demikian juga dengan kursi, tidak
selamanya harus berkaki empat. Rak buku juga tidak harus

memiliki kaki. Posisi rak tidak diwajibkan berdiri tegak


sembilan puluh derajat. Jutaan gagasan dapat kita lahirkan
melalui bentuk-bentuk dasar yang berserakan di sekitar
kita.
Selain bentuk dasar, perlu dicermati juga karakteristik bentuk yang dimulai dari garis, lalu bidang, dan
ruang. Garis lurus atau bentuk segi empat memiliki karakteristik maskulin, keras, dan kaku. Sedangkan garis lengkung mempunyai karakteristik feminin, lembut, dan lentur.
Demikian pula dengan bentuk atau garis-garis jenis
lainnya yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, ide-ide desain yang kreatif dan
inovatif selayaknya beranjak dari pemilihan ide-ide bentuk dasar yang cerdas dan berkarakter.

Gambar 80
Bentuk dan fungsi
kursi selain
tergantung pada
anatomi manusia,
juga tergantung pada
fungsi praktis kursi itu
sendrn. Stacking

Chair yang dapat


disusun dan mobile ini
merupakan contoh
yang efektif dari gaya
modern.

92

t;

L
rffi;

Flexible seating system of foam developed by Jorn Utzon in 1968

(1

b:k.:H
Gambar 81
Atas: Bentuk dan fungsi yang mengambil bentuk-bentuk binatang
yang diaplikasikan menjadi desarn sofa modular.
Bawah: Perubahan bentuk dari sepatu menjadi kursi merupakan
kekuatan dalam analisis bentuk dan fungsi, sepefti yang
dianalisis oleh Cheqita Ernantia. (Untar,2002)

93

{
l*,tr;Ir i.dcra*c,ar;g Me**l (r**J#

Gambar 83
Daun meja dan sandaran kursi yang berbentuk
asimetris memiliki nilai kreatif dan inovatif.
Sandaran kursi dibuat sepefti bendera yang
sedang berkibar (Anonim).

Gambar 82
Bentuk dan fungsi kursi tergantung pada
anatomi manusia.

94

95

7Al"',iL

&n*ta,tr)'tn

Al"'-hh! K ^.,t {

'1

I
I

I
Gambar 84
Anyaman rotan pada desain kursi tidak selamanya
menghasilkan desain yang konvensional. Kursi yang
mirip hewan ini merupakan karya Borek Siparek,

Gambar 85
Kursi beftanduk dan meja beftulang beton
yang sangat atraktif.

1988. (Downey, 1994)

96

97

U
*esj*1*;,j f u rn it r*

rr

t:

ut

i,i

l',1'..r:"rt.i:r tg Me!s+! ,4t

*at.l

rl
II
rl

Gambar 86
Atas, desain kursi gaya Elvis yang kreatif dan
inovatif, terbuat dari rotan dan kayu karya
Djaso Saputra, Cirebon (2000).
Bawah, desain kursi rotan yang mempunyai sandaran
ragam bentuk aslmefrls buatan Cirebon.

98

i
t

Gambar 87

Desain kursi berbahan metal ini sangat inovatif,


atraktif, dan kreatif. Karya Ron Arad, 1991.
(Downey, 1994: 1 33)

99

DesiEninp {:urnit*re

Ie&nrk Af*rancilrE Melel Kre;11/

Gambar 89
Perbandingan bentuk kursi yang ergonomis.
estefls, dan fungsional dapat dilihat secara jelas
dalam visualisasi ketiga gambar.
(Stem, 1989: 70)

I
i,

Gambar 88
Lemai laci dai bentuk dasar huruf S menjadi
kekuatan desain karya Shiro Kuramata.

100

101

il e s i g r, i * ;1 Fu;inilrrre

,;
i

'i
I

Gambar 91
Atas: Desain kursi yang unik dan inovatif pada sandaran
tangan menuju kaki belakang karya Jasper Morrison.
' (Charlotte & Fiell, 2001: 108)
Bawah: Folding Chair, sebuah kursi santai yang
terbuat dari kayu'dan kanvas.

Gambar 90

Marilyn Chair karya Arata lsozaki (1972) merupakan


desain kursi inovatif yang setara dengan Neo-Furniture

102

103

il,I
Ib&*l& M*rax*ang trfe**l

S*slci:mr; F*n:itrtr*

{reirtrf

Gambar 92
Sketsa desain kusi tipat

Java Chair yang


dikembangkan The
Peng Sun dari pembeli
Amerika (1990).

104

Gambar g3
Sikap duduk orang Barat di atas kursi
postmodern karya Geonatan De Pas, dkk.
Berkesan santai dan sangat informal.
(Charlotte & Fiell, 2001 : 56)

105

ry
**sig;;i;rg

F t:;"nilu

re

3.Analisis Ergonomi
Kata 'ergonomi' berasal dari bahasa Latin, yaitu
ergon yang berarti kerja, dan nomos yang berarti hukum
alam (Bridger, 1995). Ergonomi merupakan studi tentang
sistem kerja manusia yang berkaitan dengan fasilitas dan
lingkungannya, yang saling berinteraksi satu sama lain.
Tujuan analisis ergonomi adalah untuk menyesuaikan suasana kerja dengan aktivitas manusia di
lingkungannya. Intinya adalah untuk mencari kesesuaian
antara karakteristik pekerjaan dengan karakter manusianya. Dalam konteks desain mebel, ergonomi adalah analisis human factors yang berkaitan dengan anatomi, psikologi, dan fisiologi.
Ergonomi juga mempelajari gerakan tubuh manusia yang berkaitan dengan aktivitasnya. Tujuannya
adalah menciptakan kenyamanan sebuah sarana. Ukuran
manusia yang berkaitan erat dengan kenyamanan dapat
ditelusuri melalui ilmu antropometri. Ergonomi sendiri
digunakan sebagai dasar dari pengukuran antropometrik
terhadap fungsi-fungsi tubuh manusia, kaitannya dengan
lingkungan, agar tercapai kenyamanan fungsional.

Gambar 95
Atas: Dudukan kursi akan bergerak ke arah vertikal jika
sedang tidak diduduki. Sikap duduk diciptakan desainer.
(John F. Kennedy lnternational Airpoft, New York from
Fixtures Furniture, tanpa tahun, hlm.55)
Bawah: Sikap duduk dan antropometri versi Le Corbusier.

Gambar 94
(Panero, 1979)

tr

106

'107

il
Teknilt

**slgrrlr;g Furni{ure

frilc

ranc;nn fuf*iel Krealli

x
rl

-t*

^O

,9

H*$

CY

at
CJ

fl

('r9-) &
YA I kI

rJ

\G\

LJ

tl

t-J

r r'-l
I ---t

\ t;\.

' \r^

\ '1-\
L-j

Gambar 96
Sandaran kursi yang ergonomis harus mengikuti posisi tulang
belakang manusia yang cenderung berbentuk S. (Panero,
1979: 68; Grandjean, 1978: 102; Borreti, 1988: annex 1.2).

Gambar 97
Postur tubuh dan posisi duduk manusia mempunyai hubungan erat dengan
kelenturan tulang belakang manusia agar ergonomis
(Grandjean, 1978: 100)

108

109

il

I
i)s.,.,'r.,r.

r ir,rrrit,,r,:

Gambar 99
Adjustable Chair untuk kenyamanan optimal.
(Wilkhehn, 1990:7)

Gambar 98
Posisi badan dan kaki

pada saat duduk mempengaiuhi

si*ulasi darah dalam tubuh yang berdampak pada


ke nya m a n a n d u d uk

rgonomi s.

(Panero, 1979: 62)


i

1f0

111

ll

f
I.rr,,N .', 1 '"r{f }t,q ,Ueb:i {,.:.:ril

D*signrrg Fu{nitLrff

r- rndeades|qho.
I

Shape ol mouldd.irf
c.nler or oi n6rd &nS

--r*

b!.k at
eck .nd

sla@cushion6d cha, o, sota baci


3htuld maintaln w{h frtu slpFd.

.t

AB6 mat 5e lefr tfe ll


rn.tudd should drve back

a1

S.er snouB ertEnd 1 3


in.hes &hiid enrinud stanl

red

C!rv Iormodld.d se6l,3.8 r^chds


5ad slde otcounler: or.!toe ro.
enlre langh or&nch. or c!tue to
be obtamdSh 6in suppod

The ideal prcfile for chair.

Mw.osiB

spnng

dclshbn

rest

Sibn

prfered

Head rest position prcfered

reaerend&

f6@ral

B('ove,ail oepu o, sdr'ur

'
I

Mr\rr,!m and mnrmlh---f,deph


oria.i l.rr...mm,nnad M

I
I
l
A.6a may be let llilrluded
$hould cutue backat leas( astar

I S6eishoulde{end

5mches

bshrnd con{inued $anr ol chan

Curve tor mou(d *et, 3 I


inch6s 6&h sd. d .minr6.

to @ oblaned rilh hh ^r
suppo{when usinq dshin o.

dtue

Gambar 101

Gambar 100

Bentuk ergonomi sebuah kursi.


(Grandjean, 1978)

Bentuk ideal sebuah kursi yang dikaitkan dengan ergonomi.

(Grandjean, 1 978:

112

1 1

7-1 1 8)

113

ffi
0eslcrmg Funrifuir*

Tekn i k f'tterancan{.:'

{\Iebe! K{e atif

M
M
M

ffi

Gambar 102
Bentuk dudukan kursi ideal secara ergonomis (A),
dan tidak ergonomis (B).
(Panero, 1979)

Gambar 103
Struktur konstruksi kursi kerja yang dapat diatur dan
digerakkan (adjustable & mobile,).

114

115

F
Sesigr;fug Furniivre

Teknik ?vleraflcang Mei:ef

MAIJIi.X

K*T.o'"

THUffAT,p

ReACt

Kr*alil

xlrtitut
300Y
oep"}{

60
0

$*
F

st^

*3 r*
&

d
E
0
0

0
$

t
0
F
I

EE

:u

rl
o5

i0

l&

:i0
lo

{)

&

htrt

l)
'g

8r t

tu

--.F

i;
lo
la

lo
BUTTOCX-

r,e -)
l-inr/tDrH
-

6UTTOCX-Xt{EE

'

eLBOW-

Ltilcr}{

10-Lsow
&*EAOrr*

rOE LEilCTH

BUYIOSX-LICLEXBTH

Gambar 104

Gambar 105
Atas dudukan kursi ideal secara ergonomis (A)
dan tidak ergonomis (B).

Sikap duduk dan gerak aktivitas manusia secara antropometris


akan berpengaruh pada ukuran dan besaran mebel.

(panero,1979)

116

2
a

*_* &

IO

LfIIGIh

l{

POruTEAL

\I

I ig

F
I

117

*E'
T* k n i k

Deaigning Fumilure

Analisis Antropometrika
Mebel sudah selayaknya dirancang berdasarkan
ukuran yang tepat untuk menghindari ketidaknyamanan.
Selain itu, perancangan mebel juga harus mampu mengurangi geiakan fisik dalam penggunaannya. OIeh karena
itI, pemahaman terhadap ukuran tubuh manusia pemakai
sangat penting dalam merancang sebuah mebel yang memiliki fungsi optimal.
Data tentang ukuran-ukuran tubuh manusia dan
karakteristik jangkauannya dalam gerak aktivitas dikenal
sebagai data antropometri.
'Antropometri' berasal dari bahasa Yunani yaitu
anthropos yang berarti manusia dan metron yang berarti
mengukur. Jadi, Antropometri adalah ukuran-ukuran tentang-manusia. Setiap manusia memiliki ukuran yang ber-

l'":t

* ra

nc*ng

Alefo

el fireafil

4.

TYPING RETURN AND DESK / MALE USER

60-72

152.4-1A2

beda.

Antropometri dibutuhkan sebagai pedoman dalam


mendesain mebel yang berkaitan dengan ukuran tubuh
manusia secara fisik. Antropometri meliputi pengukuran
terhadap sikap berdiri, berjalan, duduk, bersandar, ti.,g-g1
badan, j-angkauan tangan, pinggul, pantat sampai kaki. Hal
ini periu dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan
kenyamanan dan keaman.an yang optimal.
Antropometri setiap bangsa berbeda-beda' Antropometri juga dipenearuhi oleh usia, jenis kelamin, dan
ras. Oleh sedab itu, dalam mendesain mebel diperlukan
analisis antropometri bagi pemakai-pengguna mebel tersebut.

TYPING RETURN AND DESK / FEMALE USER

4,.-l ."t+---'----)
Gambar 107
Gambar 106
Area aktivitas
konsumen di dalam
toko akan
mempengaruhi ukuran
panjang dan lebar
counter display.
(Panero, 1979)

118

Standar
antropometrika untuk
tempat duduk atau
kursi kantor.

(Panero,1979)

1.19

18

30.5-45.7

3
0
0
0

!
!
1
!
!

,I

!
t
0
0

LAUNGE SEATING / CLEARANCES RELATIONSHIPS

!
I

&

r@

rlii

,].t

''J

Gambar 108

Gambar 109

(Panero, 1979)

(Panero, 1979)

RECLINING CHAIR wlTH FOOTREST / MALE AND FEMALE

120

121

DesrEninE Fumllure

Teknik fderanca*9tr Mebe! llreati{

K*cragmSarsr

Bl.

Tirrygiiindamn3?)nrm
(Lrlsr &rdulru minimrl 360 mnt}
Prqians

&t&tun

br*im dcpm 3zt$-{}0 rxn


hagirn bdaka$ 6O rnrn

82. Purjry &erkur


C. fiqggi &nrjm rtp

400, 425"

450rrr

D. Tingi imdrm pru1ggt $Sdasminirml l0O nrn


E. fingsi sarsirenprnggungbo$rshminirul 180 um

f'.

neld*tkmiriryFndd*m30dcqiat
knniringrn pwiti krki 60 d.mjit
Ilerajat kernirfurym rltdsrm l0l d.rrid

Ka&:rlrgu Camhar
A Tinggi erduk rr p6da siai depar 357, 40O, 420 nm
(trbar dudukrn miairnal 520 mm).
B.
C.

Peqiug drdrtta$ ke dahm 430" .t60, 490 mn


Tinggi snrd&rn minimd 4$0 nfir

D.

Draju kanirirgln &d*en

D,

Tinggi wr&mntangur 165-250 nun


Daqia lenriringm lardrrrn l05-l l0 d.rajrr

,$'.

(}.2o

dmjst

G. Dqi*

fi.

Gambar

111

Rekomendasi ukuran kursi kursi


yang paling sederhana.

(Boneti,1988)

Gambar 110
Rekomendasi ukuran kursi kursi secara umum
(Borreti, 1988: annex 1.1)

122

123

T
T*

SesignhE !:urniture

s---J'----*
Ar.tr,ry C,,.u"-t,,,,.
zw
t.rn

E 24-28

A"tv

k* ! k ltl * r a n c a n g

*,1*

h*l

Kre alit

tv

lse

61.0-71.1

BOOK STORE/ DISPLAY AREA

SHAMPOO STATIOHS

Gambar 113
(Panero, 1979)

Gambar 112
SXATIPOO STATIOI{ / FEI'AL CL'ENT

124

(Panero, 1979)

SHOE STORE/ FITTING AREA

125

r
O*sjgnlrrg Furniture

Te

A 1A-)4
B

48-58

36-40
D 4F.52
E JU-Jb
I
t2
G 69

H 42-50
12-16

J 1a
K24
tvt

WALL UI{IIIACCESS AY ilALE

36-39

*n

k ld e ra n r.a rtg !,lc ts*i

!{ r e,t I i

457-61 0
121.9-147.3
91.4-101.tt
-4

11

Ib.Z-91.4
142.9

1753
1

3U.5-4U.6
4

o-al

91.4-99.1

WALL UNITi
ACCESS BY TEUALE

3;

ls
ls

t:

ti:

M"Yz-"

ra
l(J

i>l

il1

Gambar 114
(Panero, 1979)
wALL-Mout{tED BAR
ACCESS BY MALE

126

u[lr/

WALL.IIOUilTED BAR U'IIT/


ACCE*9 BY FEIIALE

Gambar 11i
Area ke.rja resepslonls ditentukan oleh antropometri
.
berdasarkan aktivitas di counter desk.

(panero,1979)

127

Iirki;r&

S*srg*ing F*mitLtr*

,r

L,

1,4*r

a*c*cc il*i:*i &,3etif

Selain itu, bahan kayu juga dapat'diolah menjadi


kayu lapis (plywood), blockboard, particteboard, dan MDF.
Bahan-bahan olahan dari kayu ini juga dapat digunakan
dalam pembuatan mebel, terutama mebel-mebe1 yang di-

23.t

i\

tr-.,I)i

kenal dengan sebutan

anelwood furniture.

DiIiD,ay
a) nler

Gambar 116
Area kerjaresepslonts sangat ditentukan oteh
antropometri aKivitas manusia di counter desk.
(Panero, 1979)

5.Analisis Bahan dan Tekstur


Setiap bahan (material) memiliki karakter dan juga
tekstur (kesan raba) yang berbeda-beda pada permukaannya. Bahan juga menampilkan warna asli bawaan dari
bahan itu sendiri.
Secara garis besar, bahan terbagi menjadi dua jenis. Pertama, bahan dari alam seperti kayu, rotan, bambu, besi, kulit, pandan dan sejenisnya. Kedua, bahan
buatan atau sintetis seperti plastik, fiberglass, upholstery,
kulit imitasi, dan sejenisnya.
Setiap aktivitas desain membutuhkan pengetahuan tentang karakteristik bahan dan tekstur. Keduanya
harus sesuai dengan fungsi mebel yang dirancang. Jenis
bahan yang dapat digunakan untuk membuat mebel adalah
kayu jati, kayu ramin, nyatoh, meranti, kayu karet, pinus,
sono keling, dan masih banyak lagi.
128

Gambar 117
(A) Kayu veener, (B) Papan (taminating board),
(C) Playwood dilapisi tacon, dan (D) Daun taci
berlapis keftas bermotif kayu.

129

T
$r,

i-)*.sigr:;r:g

!;

* *t t lt:

re

s##ffi
Gambar 119

Gambar 118
MDF (Medium DensitY Fibreboard)
terbuat dari bubur kayu yang halus'

130

Motif pada granit untuk worktop pada counter desk,


kitchen set, atau meja kerja.

131

r
*,;

si E n i n E

Fi;r,'litu;re

?bJ<.r;rk

ifera*c

an

g I'l * l:* I Krt: atif

@w
ffi

feknik rendering yang menampilkan


karakter kain jok dan kulit untuk mebel.

Gambar 120
Particleboard drlaplsl melamine paper.
Particleboard terbuat dari bubuk kayu yang
masih kasar sehingga tidak tahan air"

Gambar 121
Kain jok, kulit, dan plastik.

132

133

i'iau;,rr,rr:n

Ft ! .Jt

t'u

t'

.-1

l.

I'

,i

ASH BURL

Gambar 122
Berbagai karakter bahan.

134

Gambar 123

13s

:,,

..,t,,

-,..,

r:.

Ti: k * i k

.._,,!.,.-

*l *

r'a n

t*rrg fui*r;*l {l*alif

B&

.,i!:i.'.i!:i.:::1,.: l
"..' .i '' :.

ft

,,',r !1
.,;' ir,,:;!il.-

tr
&
si
xe
*:

'i:

x:'
G.1 lkUl 1\isn {rr!( ilrJr;l!r'11

I l:,1,,,!!.irr!,r'r

..i,'l
I

I
I
I

i
I

--_

-.J

Gambar 125
Gambar 124

Aneka serat kdyu di pasaran.

Ragam corak kayu veneer yang seiaras.


(Joyce, 1987: 311)

136

137

11......

:. ., t::'.",".tt ....

tlti
tlll
,,s:.:lJ::,.

Gambar 126
Karakter serat kayu dan karakteristik tekstur kayu:
I
I

!
i

Gambar 127
Blockboard, sambungan kayu yang dibuat
papan lengkungan.

138

139

Jr',tir,r:' : rt, i:r t:

ti,' t:

Analisis Struktur dan Konstruksi


Struktur dan konstruksi merupakan elemen desain
mebel yang berkaitan dengan faktor kesatuan dari berbagai komponen mebe1. Pertimbangan struktur dan konstruksi ini dilakukan dengan tujuan menjamin keselamatan
pemakainya
Konstruksi merupakan bagian dari proses desain
yang disusun setelah bahan*bahan untuk mebel dipilih dan
disatukan dengan menggunakan sambunEaan-sambungan.
Konstruksi adalah sambungan antara komponen satu dengan komponen lainnya, yang tersusun secara struktural.
Ada dua sistem struktur dan konstruksi yang dikenal dalam desain mebel, yaitu: sistem build-in furniture
dan build-up furniture. Build-in furniture adalah suatu sistem
konstruksi mebel yang memanfaatkan dinding, lantai, atau
langit-langit pada bangunan sebagai bidang penguat
konstruksi. Sedangkan build-up furniture adalah suatu sislem konstruksi yang tidak terikat oleh bangunan sebagai
penguat konstruksi. Konstruksi mebel dibuat lepas bebas
dari struktur bangunan
Konstruksj dipisahkan menjadi tiga kelompok,
yaitu: konstruksi dengan materi sejenis tanpa pengikat
tambahan, konstruksi antara dua materi atau 1ebih, dan
konstruksi dengan pengikat khusus.
B. Suparto (1979) telah mengklasifikasikan jenisjenis konstruksi berdasarkan jenis, sistem atau sifat
konst ruk sinya.
r Konstruksi antara materi dengan materi secara
permanen, tak bcrubah, atau yang sering disebut fxed
6.

construction.

Konstruksi antara materi dengan materi atau antara


elemen dengen elemen yang dapat dilepas atau dibongkar pasang dan sering disebut sebagai knockeddown system.

Konstruksi antara materi dengan materi yang dapat


bergerak, labil, bisa dipasang menurut kebutuhan,
dapat berubah, dan selalu berubah sesuai dengan
beban.

Selain ketiga sistem konstruksi tersebut, dalam


konteks desain mebel modern sistem konstruksi telah
berkembang sesuai kebutuhan fungsional.

140

'

l?]&*rk Merurc;l,t;;

fle**l

Xreatif

Untuk kebutuhan pengiriman ekspor, dipilih kons-

truksi mebel folding, stacking, knocked-up, dan knockeddown. Untuk kebutuhan praktis juga dibuat konstruksi
module system, multifunction, dan mobile sysfem.

Konstruksi dapat juga dibagi menurut bentuknya,

yaitu: konstruksi yang disembunyikan dan konstruksi

yang ditampakkan dengan petunjuk khusus.

Pada umumn5ra, ada dua jenis sistem konstruksi


kayu yang digunakan, yaitu: konstruksi konvensionaltradisional dan konstruksi kontemporer-modern.
a. Konstruksi Konvensional.

Konstruksi kayu yang masih digunakan hingga


adalah konstruksi konvensional, yang dipeigunakan dalam berbagai macam bentuk. Perbedaannya
dengan konstruksi sebelumnya terletak pada pen atau pusaat

ini

rus penyambung yang dapat dibuat dengan memanfaatkan


mesin modern seperti tenon-mortiseratau spindte shaper.

ffi

ffiwffiffi
141

ilosrg;tirtg

!: ur* i{n

T'*k;;

re

Jenis konstruksi kayu yang sering digunakan ada-

lah sambungan parohan, sambungan alur bantu, puruslubang, anak lidah, lidah-alur panjang, dan sponing-lidah.

ik ?,leran*ar:g l,.d*i;*i

{re,*iii

anak lidah

ra.j

t(

.
-a

tit
Ir
lrt
tit
tt
l-.-:

---

)>1

--.--.',

I
I

r::--T --t-T..:

:llil r-ts-

-i
t

ill
r.l

tenon-mortiser (purus /ubang)

inl

tl

rE;i,----1
1..'"*^t

lrF"r----l

lrl
lr
lrl
| "-----.i
l'.
" l.
ta::-::-r

I'

1--::q
-f
\1l I L-----.1

+-'

Millimetres

Millimetres

uM
li

'

t. b
4.1

l/

.le rle

r
ffi
,L
1 L--l t _

tB

*-vta -t

;l
*l
11
1{

r,
?a*
?6
:l
:i
t{
JO
5,

"t:'
1a I I
17 10
?

5'
n

10

rr

ri
?!

?'
t&

r-:-g-j*131:-:!r

Gambar 129
(Wycott,2002)

142

?i .16

10

t: ?u lI
!t ?i 1,
tr ?! r!
5! ,0 70
t6 tr ,:
60 i6 tt
)0 .: ,!
|t {t I2
r!0 a0 r0
'!r, L l!

Gambar 130
Sam bunga n al u r-t i d a h (grouping)

(Wycoff,2002)

143

,'.,,

Bj--

ffi'H
'nr:?

.,';.

i.;

i iul;, : k]...,,:.:

6i
3

--m,'H

mff

, t.. "i.:i

ru$

m,m

$r nffi
w

\*-/
\etsl

\--,
Gambar 131
Konstruksi adu manis.
(Wycotf, 2002)

Gambar 132
Konstruksi tidah-pasak dan purus

(Wycott,2002)

144

145

T
lles!g*ing {:urnltur*

Teknik fv4*rancang Meb*I lirealit

ryl

ffi
ffi

tt

w,

lla

fiil

Ir.;

ffi*{
ffi
t,

Gambar 133
Sambungan kayu purus-lobang (Ienon-mortiser.).

Gamhar 134
Detail konstruksi kayu, (Joice, 1987: 172)

(Wycotf,2002)

146

147

Y
I

)*:,3l,lrrfi

t I r't.1

it i t t t)

{e kn

l',4

* r* * ta n g lifi e l:e I Kre

atif

ll:l\
F::*

m#
h-'-ffi

WN
Gambar 136
Kerangka konbtruksi kaki meja. (Joice, 1987: 217)

Gambar 135
Kerangka konstruksi meia. (Joice, 1 987 : 21 9)

148

149

'"T

l)esEning f urni!itr*

T*kr} i k

l\",|e

{a nc an

g M*ba I Kr *ali{

N, IN

\EN
S*
v--/s

@,q

tai-''
2
A---"'

--t-a"-'f.......,#f

r.,-F-_Jr'

li$:rn,i

f;Y
I

Gambar 137
Standar penyambungan carcass stand. (Jolce, 1 987 : 223)

Gambar 139
Kaki meja berbentuk pitar. (Joice, 19g7: 213)

150
151

-I
'{

fr

*.rirtr:lrp l: s r* ilu n:

^,F
fl=

Gambar

re
'{

ek *

L,4

t r* rt* it r: ;;

{tl e h* I l{.re ;at

if

ffiffiffi*

1_39

Blow-up struktur konstruksi kursi dengan


menggunakan sistem purus dan dowel.
(Joice, 1987: 461)

Gambar 140
A(as.'Blow-up pada sistem konslruksl dowel atau purus pada kaki kursi'

Bawah: Sistem konstruksi kerangka dudukan dan webbing.


(Joice, 1987)

152

153

DeS,gl ur,'1

u'

t'tt! J

B. Konstruksi Kontemporer.
The Minifix Connector System.

Dalam konstruksi knocked-down telah banyak diciptakan hardwares berupa knocked-down fittings. Salah satu yang sudah digunakan oleh kalangan industri mebel
adalah the minifix connector system. Penyambung kayu ini

merupakan sistem konstruksi KD Furniture gaya kontemporer. Selain mudah digunakan, penyambung ini juga
praktis dan stabil (Hafele, 19BB: 1).
Sistem penyambungan tergambar dalam ilustrasi
di bawah ini.

{*

()(i

s;

i k !t4 *

r*

*ang }fe&el l(r*atjf

II
TT1
._

'l

ffiw
a

r'

--...-{:

t
J:_r_
ll,
bH.-..t

' ;l

ffiwffis
'/''\

r\/tr \^

t
Ih

\-/I

W'?"1

r+E

ffir
l_---{

E:e=

Gambar 142
n si ste m kon stru ksi
minifix connector system
pada lemari.

Pe ne rapa

Gambar 141

1s4

155

T
Jr i,r

ji

,ii' J..llr tr:r nii.J ir{1;f. t K: r tl:'

.1(+r-

f...q
\rV

Length

-i,ttfr
l*i

;, uSry
"'

To screw into $l*{lved nul

Minifix 1 5 mountings for single and double-sided installationd.

ffi.**

Tr: screw into sloeve lor doutll*-$;rded a$sembly

-*]o-k# ffi

spreading
hole.

lnstallation of bolt with M4 thread in


dowel with internal M4 thread in o 5 mm

Minifix

^#

15 Knock Down Fittings

HAFELE
Gambar 143
Model minifix connector system
pada sambungan papan panel.
(Hafele, 1988)

156

lnstallation of bolt with M6 thread in sleeve or


dowel for push-fit or press fit fastening.

ffi
Gambar 144
Model minifix connector system.
(Hafele, 19BB)

157

T.r
r
Tbknilc A,feruiirlca,rgi,1.{e*el

l)*srgning {urnilure

Kr*alrf

$,,'d*

T'\ry
till ,q tBe(an tiregh side pbnql
Adds appkttwl M4 MHtrng tott

tn

slsi

wtth

erd

ffi

l,,r.rpLilll.nilq,gr,il,:r''flnril,8rnfltunr

tuedhdGs
rldonalliurffsrlxiardc,a3mllordarrda@db)adeLrtes{reoborwilhrnalrilts

r^

d.A
by

Gtr
ffiI",

ffi 0.,.i!i, r."",:ii

-9- . d;i\&il/;4
,l:lw{k

;
\._

,".,,:.,",i,*,},H

|.,.*iJ]:,i

;rjir
l-E&/m
ffi>ffi'
r

l ftl lrr:ti lfi W. m[

ffi ,,*

adh U]rdrn

it",& ;l

rI T.-ts

i i l*

Jfrff:il:,fi,T,'fitliH"Til#]H,

frnil
:it

ll ;w:alt ] (J9rft

#;q;:rl*TiJ'l:1:

';l*o'- ^L;'5i:

'.'I -.:*;-' ':'

ffi>ry-?l 'd;*-:*

Butrjoinrwithrur-rensthsidepaner/Minirixls

Gambarl41

l]il"'if"_;J
|

Ki.\$-.J.j#
i'{--. ' . \:<
.'ii',. ' .i
i,rl|
",

-,\1$ I

(Hafele, 1988)

Gambar 146

158

159

Teknik llerancang

il*bel Kreatif

The complete Mtniltx 10

z1::::'"

11-

,#='B

\.-r-

gd^

h(t

N
N

)6D
Gambar 148
Gambar 147
Pene rapa n si ste m kon stru ksi

minifix connector system.

160

Sistem penyambungan dan pemasangan

minifix (knocked-down/ pada panel.


(Hafele, 1988)

161

Sesrgrirg Furniture

Teknik Meran*ang l\ieb*! Kr*atif

Joint Connecting Bold

Joint Connecting Bold dikenal dengan istilah JCB.


JCB banyak digunakan oleh para pembuat mebel knockeddown di Indonesia, seperti Ligna, Beauty, dan sejenisnya.

Bentuk JCB adalah sekrup yang menggunakan nut penyambung seperti terlihat pada gambar ilustrasi.

Double-sided @nstruction by installation of 2 connecting bolts'with M4


thread in sleeve with internal thread, in s 5 m holes.

t"'{:}"

J
T'*
r[$

'',.*)

'o

tr'x!'
',tr].

Double-sided @nstruction by installation of 2 connecting bolts with M3


internal threads onto a threaded oin, in s 3 mm hole.

hsbila'lion ot conflecling boG wih M lhroad in


sle6v6wih ond'sdow (pmviding add-on bcilrty).

lnsblation ol @nneling bl6 wilh M6 thread in


3leov. or dowl for pusEftt or press fil tastsning.

*},

Joinl Connector

JCB.SM

Bolt

142080HD

Joint Connector
Cross Dowel

JRN 142013
ZP

L13x8

Hex Key Wrench

HKW-4

MLx2t

80Lx6O

Minifix 10 Knock Down Fittings

HAFELE
Gambar 149
(Hafele, 1988)

Gambar 150
Deskipsi komponen joint connecting bolt.

162

163

Teknik Merancang Mebe! Kreatif

Designing Furrtiture

lwecr(bryEu(N0I\

Gambar 152

Gambar 151

Gambar teknik penerapan loint connecting bolt


pada struktur konstruksi tempat lldur knocked-down.
Desain karya Eddy S. Marizar (1990).

Teknik penerapan joint connecting bolt


pada struKur sambungan kaYu.

164

165

Designrng Furniture

Teknik Merantan$ ,*ebel Kreati{

Dowel

Salah satu alat penyambung dalam konstruksi

knocked-down adalah dowel. Dowel yang berbentuk bulat


panjang ini merupakan pengganti pasak yang biasanya
terbuat dari kayu atau bambu.
Ukuran dowel di pasaran memiliki standarisasi,
dengan ukuran diameter 6, B, 10, 12 milimeter dan panjang

berkisar antara 1, 1.5, 2, 2.5, 3, 4 sentimeter. Bentuk


dowelyang ideal tergambar dalam ilustrasi di bawah ini, di
mana tepinya dibuat bergerigi agar lem dapat mengendap

Penggambaran kons$uksl dowel,

-I.,

*-.

dan melekat.

m'

f'*
1]il

iru

mw
166

rd

trl
t-'

r,mmffiPffi 1t
fr
$m w
ffi

ffi:

rlilt

[;;]
Gambar 153

Gambar 154

Dowel kayu dibuat bergerigi agar lem lebih melekat pada sambungan.
Dowel kayu seing digunakan sebagai penyambung knocked-down.
(Borretti, 1988)

Menggambar teknik konstruksi sambungan dowel.


(Joice, 1987: 168)

167

Teknik M*rancanq Mebel Kreatif

Deslgnlng Furniture

Cosiderable shrinkaga
of tenon widlh

FH
S

1',r 6
l{ 5
17 A
?0 't{r
26 13
32 16
30 19
{{ ,r9
50 22

lli l,linctrsr
p
pr

20
25
30
{0
50
60
70
0o
90

Negligibl

p
12

.15

12
15
Zt
25.
30
35
40

t0
25
Combination of dowel and tenon joint for added strength

t0
t5
40

{5
50

Gambar 155
Tipe dan ukuran dowel penyambung.
(Sumber: FIRA dalam Borretti, 19BB: 29)

Gambar 156
Strufiur konstruksl dowel dan purus lubang.
(Borretti, 1988: 30)

168

169

Teknik Merancang fvlebel Krcatif

Designrng Furniture

r 3.
t'3',

[Fi'

em

I f':llruntuk

i__

.rl

"-+

Gambdr 157
Model struktur konsfruksi dowel.
(Kristianto, 1 993: 42-43)

170

Gambar 158

171

Teknik Merancang Mebel Kreati{

Designing Furnitue

Screw(Sekrup)
Sekrup sebagai alat penyambung kayu atau besi
juga termasuk dalam konstruksi knocked-doufi. Penyambungan dengan sekrup dapat dilihat pada gambar di bawah
1nl.

(3
fl
T{,

Yt,
d,

*{,

#,

If

Self-drilling
wood screw

Gamhar 160

Gambar 159

172

173

T*kt"tik Merancang

Seslgning Fumiture

M*bel Xr*atit

Plat Siku

Untuk membantu penyambungan siku di antara dua


kayu diperlukan plat siku yang menggunakan konstruksi
pengikat sekrup. Biasanya plat siku digunakan untuk me-

nyambung daun meja dengan palang di bawahnya.

ffiru
4i

Lcgbolt ,lolded lnto

@
arro{

r
Gambar 161

174

Gambar 162

175

ib&iti& i,{*rarcanE Mebei Kreatll

Designrng Furniture

c. Konstruksi Rel Laci

Sistem konstruksi rel laci harus dirancang sejak


awal pembuatan struktur laci. Konstruksi rel laci harus
presisi. Jenis dan sistem konstruksi rel laci banyak sekali
ragamnya. Mulai dari rel laci berbahan kayu, plastik, hingga besi. Mebel-mebel modern dan inovatif sering menggunakan rel laci dari besi.

t-

AfrA4HE }
IYYLOT{ ca.lt
out! rrz, ol DnAW E8
'A6r(

to

{J2
L

FRONT RAIL

o**':2'*
tt
.^

ll
Gambar 164

CENTER GUIDE
FRONT VIEW WITH DRAWER

Gambar 163

176

177

Dlsrgrrrirg Far*ilure

Teknik M*ran*ang Mebel $,rt:atif

Hasil percampuran warna tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua karakter warna, yaitu kelompok warna panas yang terdiri dari merah, oranye, dan
kuning, dan kelompok warna dingin terdiri dari hijau, biru,
dan ungu.

Warna-warna lain merupakan perpaduan dari keenam jenis warna tersebut. Warna yang condong memberikan kesan dinein dan warna yang cenderung menimbulkan kesan panas merupakan alternatif yang harus dipilih oleh para desainer mebel.

Hitam d?n putih terkadang tidak dikelompokan

sebagai warna. Putih memiliki karakter dan konotasi sebagai simbol kebersihan atau kesucian. Sedangkan hitam
dikonotasikan sebagai simbol kekuatan, bobot, wibawa,
atau kesan formal.
Warna apapun jika dicampur dengan warna putih
akan menghasilkan warna pastel. Sedangkan warna hitam
jika dicampurkan de.ngan warna apapun akan menjadi
warna lebih gelap dari warna aslinya.

Secara psikologis, pemilihan warna akan berpengamh pada fungsi dan karakter desain mebel yang
diciptakan. Misalkan, meja dan kursi direksi yang -engl
gunakan warna hitam, akan mencerminkan t
"*]nu*iin
dan kesan formal dari seorang direksi.
Untuk
memperdalam
analisis warna, sebaiknya
_
para desainer mencari dan mempelajari referensi teori
warna dari sumber-sqmber lain. Dengan referensi lengkap, diharapkan desainer akan lebih bijak dalam memilih
pewarnaan bagi karya mebelnya sehingga lebih memiliki
karakter. Ingat, warna mebei adalah jiwa pemakainya sekaligus jiwa dari ruang yang ditempatinya.
8.Analisis Ragam Hias

Ragam hias di Indonesia


sangat kaya dan memiliki banyak
corak. Setiap ragam hias mempunyai makna spiritual, sakral, dan
emosional. Kaya akan bentuk, kaya
warna, dan kaya rnakna simbolik.

Bila ragam hias tersebut


diolah secara tepat dan kreatif,

kemudian diterapkan dalam sebuah


desain mebel maka desain yang

dihasilkannya menjadi indah dan


memilikinilai tambah.

Gamhar 166
Atas:Warna hitam pada meja direktur memberikan karakter
berwibawa dan berbobot. (Saporiti ltalia Contract Division, tanpa tahun)
Bawah: Kursi logam berwama perak berkesan modern dan hightech.

Gambar 167
Cii-ciri motif hias Majapahit: (1) daun utamanya berbentuk ikal dan
memiliki jambul di mukanya serta memitiki angkup cekung benkafi (2)
uhiran daun berbentuk campuran, yaitu berbentuk cembung dan cekung.
(Soepratno,2000: 18)

180

181

fi*sigrrir;c {urnit*r*

Te kt"t i

f,$ *

ra ne a n

lVl *

bel Kr* atlf

Gambar 171

Gambar 170
Ragam hias topeng dari Sumba dan Su/ataresl Selatan
dapat juga dijadikan ragam hias mebel kreatif lndonesia.
(HooP, 1949)

184

Atas: Motif anyaman pada cerana perak dari Palembang dan


Jawa dapat menjadi inspirasi dalam merancang
desain ragam hias mebel yang kreatif.
Bawah: Ragam hias geometrik dari tanah Toraja,
Su/awesl Selatan.

(Hoop,1949)

185

Te

!)esigrirg furnitur*

kn

{vf *

ran c a n {} lrl * be ! Kre atif

Analisis Hardwares dan Accesones


Hardwares atau perangkat keras, daiam desain
mebel memiliki banyak ragam. Handle, engsel, sekrup, paku, rel laci, kunci, dan sejenisnya termasuk dalam perangkat keras.
Pada umumnya, hardwares dibuat di pabrik dengan
desain dan ukuran yang standar. Walaupun demikian, tak
tertutup kemungkinan bagi para desainer untuk menciptakan hardware s sendiri.
9.

TEAK

0tr
OIX HANDLE

{tn E
.Yf-,

I
aBT rr7 Htltogs

Gambar 175
Aneka ragam desaln handle untuk mebel.

Gambar 174
Ragam hias geometrik di Candi Sewu Jawa Tengah.

(Hoop,1949)

188

189

Drs'qrttrl; l:tti t itLri

Late lSth/early 19 thc

.l-c,{r

q*P
ffi
\J

@@

Mid-lgthc

B. Sketsa Desain

rrl

i.,1*r i.ir

a rt

g ll

* l: * I li i t: a I t {

Alternatif

Setelah seluruh analisis desain dibuat dan disusun


secara sistematik serta terprogram dalam format sebuah
konsep desain, maka tahap berikutnya adalah membuat
sketsa desain alternatif
Sketsa desain selayaknya berpedoman pada kon.

&@ ffi
o
q#w

sep desain yang sudah dibuat, sehingga desainer tetap


konsisten dengan pemikiran dan analisisnya. Sketsa desain alternatif yang berpedoman pada konsep desain dapat dipelajari dari studi sketsa beberapa mahasiswa sebuah perguruan tinggi di.Indonesia. Juga dapat dilihat
bagaimana sebuah proses desain kursi dimulai dari sketsa
hingga menjadi sebuah kursi.

@
@
ffi
Gambar 178

Gambar 179

Aneka ragam desain tarikan (handle,) gaya klasik

Atternatif sketsa desain kursi kerangka besi yang unik dan renik
karya lrma Damayanti. (Untar, 2002)

yang terbuat dari logam.

192

193

I,il.;t;r, jr :g

F*

l.t : t

i1

r:

lrl I

4..Jr..1.,;,,,,,.!l iylr,{ri.i

{,r,a{,,

Gambar 181

Gambar 180

Skelsa desaln Tom Loeser yang tetah diwujudkan dalam bentuk kursi
sesungguhnya. (Stem, 1989: 30 & 31)

Sketsa desaln kursi yang kreatif dan inovatif karya Tom Loeser.
Tampak adanya keselarasan antara konsep rasional-fungsional dengan
emosional-estetik. (Stem, 1989: 30 & 190)

194

195

JiAr;i& Al*r*ncang A.{e*el

{}*sig*i ng F*r;tilt;re

{realil

ambar 182
Dua alternatif sketsa desain kursi yang unik, imosionat,
dan atraktif, karya Mariana'
(Untar' 2002)

196

Gambar 183
Dua desain kursi yang sangat ekspresif, simbolik, inovatif, serta
emosional-fungsional. Sketsa desain ini merupakan
karya dari Yoanita HR. (untar, 2002)

197

iL

lJ*

tl
.!l

**

:
q)

EB

0<

a
ha
GT
>(E
OO)
E

:dPR
O (E .^
Y $ o:

'.E

ro \:
c+
a
oii.Q rl
XQ>E

f;

s-o

!s

.x.l9EO
'=
cQO
F\
EAI

* &r.
EN 6
i saO

o)(B

-\
hs

ao)

i(!G

ti P,
(uO)

*{
-(E

d'r

.<+9 !9 s
.=\';
c
!95(b)
l9:t:
e X +A
e v.=

SE$B
E
G

th
v

\i

P ESPT
3 g E3
ah S*tv
.E u$E$
a-v E0
\rl
c
s B$
H EA
Ecir
G-(!
P,:
(!

to

O(E
fra

C')

o)

o)

llrlinl[

i re ci.':i,r: r t i:, u t til, .rp

..

Gambar 186

Afasi Sketsa desain kursi yang kreatif dan inovatif


dari bentuk dasar microphone karya Sufhie. (Untar 2002)
Bawah: Skefsa desarn kursi dari bentuk dasar harpa
karya Mariana. (Untar, 2002)

200

1"{,.,;

1pr;J!:t, l}r:i},.t !1tt A!.i

Gambar 187
Afas; Skefsa desain kursi yang kreatif dan inovatif
goresan karya Yoanita HR. (Untar,2002)
Bawah: Skefsa desaln kursi karya Mariana yang
mengambil bentuk dasar ikan. (Untar, 2002)

201

;*t#,l'trjrijr

Ilir;iir llllr;,rt;r:'xl.q lle*i:l dr**iii

i{i l-tiirilill*

,.*::

rt*-"

Gambar 189

Sketsa desarn Well Tempered Ghair yang telah diwuiudkan


dalam bentuk kursi sesungguhnYa(Vegesack, at al. (ed.), 1996: 130-131)

Gambar 188
Skefsa gagasa n (konsep dasar gambar) Well Tempere d Chair karya
Ron Arad. (Vegesack, at al. (ed.), 1996: 130)

202

203

1
I)*sigrrirg Fl;nrl*re

Gambar 190
Afas: Desain kursi logam berjeruji (Koleksi

^
Bawah:

Gambar 191
Saporiti, ltalia)

Desain kursi rotan yang sangat kreailf dan emosional.


(Perhatikan bentuk sandaran samping yang dibuat tajam)

204

Skefsa desarn kursi yang kreatif dan inovatif goresan


Peter Shire, 1981. (Radice, 1994: 55 & 56)

205

, . ., ,,,, ,],

L:iri ir,i

ir.4air

i?r?t;i

t: lt! t: b t: I li r t

;;

C. Gambar Presentasi

Pada umumnya, gambar presentasi dibuat seindah


mungkin. Gambar presentasi dibuat dalam bentuk gambar
perspektif yang diberi warna sesuai dengan konsep desain yang telah dirancang.

Gambar 192
Atas : Gambar presentasi
tempat tidur susun
fasmi ne's bunkbed) karya
Eddy S. Marizar. (BRU

Group,1988)
Bawah: Gambar presentasi
meja teras (slated table,)
untuk pasar Amerika, karya
Eddy S. Marizar (199Q.

206

Gambar 193
Atas: Gambar presentasi desain kursi

Gicak-arm Chair karya Kaftini. (Untar, 2002)

Bawah: Gambar presentasi kursi gaya Memphis


karya Peter Shire. (Radice, 1994: 56)

207

lJ*siprlr6 F*mlture:

Tek*ik !,4*ra*cang Mel x:l

K r, :. tt t I

!l

D. Gambar Kerja

Gambar kerja adalah gambar teknik yang dibuat


secara detail dengan skala ukuran. Pada umumnya, skala
dibuat antara 1:5, 1:10, atau 1:20. Sedangkan untuk detail
konstruksinya dibuat skala 1:2 atau 1:1. Pola bentuk yang
s|1it menggunakan skala kecil dapat dibuat sesuai dengai
L,kuran sesungguhnya, yaitu dengan skala 1:1. Gambar
kerja_ biasanya dibuat di atas kertas kalkir dengan menggunaka_n rapido atau pena gambar ukuran 0.1, 0-.3, dan 0.6
atau 0.8.

FRONT VIEW OF CHAIR

,|

t--

a*----.ri.rX*""

r9*.,---19-----*-..*q

f,
t1,

'*

rl
l

il

ir

il

J.l

SIDE VIEW OF CHAIR

Gambar 195
Gambar 194

Sketsa gambar kerja (tampak depan dan samping) sebuah


desain kursi karya Mariana. (Untar, 2002)

Contoh gambar kerja (tampak depan dan samping)

sebuah desain kursi.

208

209

Teknik Merancang Mebel Kreati{

il*sigr;lr;E Furniture

Ftt?A

r$m{ry

t
I

tb.ta

+
I
I

B1

ram

IAMFAIf dI45

l!l\\Pnf 4iltP\tlh

Gambar kerja (gambar tampak) desain counter desk ka47a


Ronny DM. (lnterstudi' 1999)

Gambar 197
Gambar kerja arm chair dengan menyajikan gambar tampak depanbelakang, samping, sefta atas-bawah. ldealnya gambar kerja sebuah
kursi menyajikan gambar tampak dari berbagai sisi agar jetas dalam
pembuatannya.

210

211

T*knik {isleranca*g ft|*b*! Xr*ati !

D*siurtritg f*rnitur*

+r

H=*
Iri E
trffr
'fri''

./-i-\

.:5)

ffiEffifi*rrfi'

u'-totuufi

-nM6ffi*ei

il

l'"
-t

t
"I

Gambar 199
Gambar 198
Gambar kerja atau gambar tampak meia samping (side table) disaiikan
secara teknis dengan notasi penggunaan bahan baku.

212

Contoh gambar kerja tampak depan, atas, dan samping, dilengkapi


dengan gambar detail konstruksi (potongan). Gambar ini
merupakan karya Emilius Heri Hermono.
(Untar, 2000)

213

I ct\t

Designing Furniture

'*i ,*I* -

TAXM( DEPIil

]]fi

l',4t

aticdng lfiebel K,eati!

-u

."i-

Gambar 200
Gambar kerja meja lipat (ekspor) karya Eddy S. Marizar (1989)
berupa gambartampak depan, atas, samping, dan bawah, dilengkapi
dengan detail konstruksi (potongan).

214

Gambar 201
Contoh gambar kerja kursi rotan tampak depan, atas, samping, dan
belakang, yang juga diseriai dengan karya jadi (prototype).
Desain merupakan karya dari Fency.
(Untar, 2000)

215

Sesrr;rl;Ir

j?.r,,, i,-,,;'pr ;;, rl+;, i$ MC/:r., K.'r.ir liI

|t,ir?)lla,ire

Vru v t.LJ
14 lAtt.t
'(nYtl*J
aflrg)

,/

f*Yl

3ft1

,t

+i
z-

g*

r--

\ZF,.

;-

Dowe

_*_*JJ

:::-

1-

601

r'!0

2b

-E
I'

I
I

!l'lrillr !LtllL
) l)tht -111
iMr

ui
ll

)/41
, i;;,

ts

l*

tfi
I

I*
00 xAO'x 1&

hmbek

F 30 hio

Gambar 202
Gambar kerja desain meja makan yang kreatif, karya Ronny DM.
(lnterstudi, 1999)

haki samFing l$ar


100 n $Sx

16

Gambar 203
Perhatikan cara penggambaran secara teknis sambungan
dowel pada knocked-down, screw, dan loint connecting
bold. Gambar detail dari desain tempat tidur sorong (sliding
bed) karya EddY S. Marizar (1989)'

216

217

llesigning Frrrrifure

ibkrr& &,feiairc a ng

T**l

\l-r

,rr.Ll-T-

f,,4e b e

I l*"e at if

,I- ___ui
21

;
I

l_

-f

J
DTn.t/EL

LlSxrr?

I
I
I

28

t
l2

T
I

;,

I f"+
?E

xArj,f'x?r^tt
.fruo1taa4.
to irh

'lra(.rJt&o

ala{rio mr

I
I
I

DfiTAIL

'! ;'l
Gambar 204

Gambar detail potongan bingkai rak dengan bidang bagian atas rak
yang menggunakan lidah kayu sebagai struktur konstruksinya.

218

Gambar 205
Penggambaran lengkungan pada head tempat tidur tunggal. Perhatikan
struktur sambungan dowel, screw, dan joint connecting bold
pada sistem konstruksi knocked-down . Gambar dan desain
merupakan karya Eddy S. Marizar (1989).

2',|.9

*esi6rrr;g F*rnitux:

Itt:r,A

f,

4e.ra,rCat

qi Mebei Krcul:{

(Break-down)
gambar
kerja selesai dibuat, sebaiknya
Setelah
desainer membuat gambar kerja yang dipecah atau dipilah
berdasarkan komponen-komponen mebel yang dirancang. Pemilahan digambar dimaksudkan untuk memperlihatkan sistem penyambungan dan strukturnya. Jika diperlukan, dapat ditambahkan keterangan pemakaian baE. Gambar B low-U p

o
a

.//

Dar^tL f

han yang dicantumkan dalam gambar blow-up.

qc

rop,"ir

;Ffi]]ftr

Back splat

Shoe piece

i
ai

ir

i.,

pstAtL

$
}"
*-

Dtr,..tL

rtNlr4t{a
Pt,tt-i':
N.'.r,lrr
ca-1a/
i2l, Lt JLrl

I
il
lo,rta

Sn*
,.

l oo

*,m

Front legs (here of cabriole type)

Gambar 206
Teknik penggambaran tampak depan, potongan, dan keterangan
penunjuk arah gambar secara detail. Desain kursi bubutan dan

ukiran ini adalah karya B. Supado (1977).

220

Gambar 207
Penggambaran blow-up kursi gaya klasik karya Judith dan Martin
(Miller ed., 1991: 49)

221

Teknik Merattcang &.{eS*/

Sesigning Furniture

ffr*alif

.+

.\
'ffi:
'\7\-

,b

r'

.t.

Gambar 208
Penggambaran blow-up lemari yang berdampingan dengan laci.
(Borretti, 1988: annex 2.7)

Gambar 209
Penggambaran blow-up meja makan. Perhatikan kerangka
daun meja dan lima jenis daun meja. (Joice, 1987: 387)

222

223

/4,,^.^""1",^
r',,",_,',.,--.
rirJi!
! t t! t ilt t tt G

#LlJrf

Prototype
Prototype adalah sample, maket, atau mock-up.
Prototype dibuat berdasarkan gambar kerja atau detail
gambar teknik. Skala yang sering digunakan u6u1r6 1:10
atau 1:1. Idealnya sebuah prototype dibuat dengan skala
sesungguhnya yaitu 1 : 1.
Bahan, warna, konstruksi, dan tekstur prototype
dibuat sesuai dengan konsep desainer, sehingga seluruh
konsep desain dapat dievaluasi konsistensinya.
F.

Gambar 21O
Atas: Penggambaran blow-up kursi teras dari USA.
Bawah: Desain meja teras karya Eddy S- Marizar (1988).

Gambar 211
Prototype kursi bertangan (arm chair) yang terbuat dari rotan, dengan
menggunakan kerangka besi skala 1:5 karya Fency.
(Untar. 2000)

224

225

fuArrilr,{4*rlnca

*esi6ni:g !:urnitur*

ry Mebel

Kr

x;tltf

T
Gambar 212
Afas; Prototype kursl (love seal) bergaya Toraia, dengan
bentuk tanduk pada mahkota sandarannya'
Bawah: Arm chair logam buatan Saporiti, ltalia, 1992'

226

Gambar 213
Desain kursi tanpa tangan, menggunakan gaya Asmat pada
bagian sandarannya. Kursi ini merupakan prototype yang
terbuat dari kayu.

227

fnhr,k .n.,rartr,..tt ln llp\n!


llesig;rrii;p

K,;.;1ijl

fumrl*e

Gambar 214

Gambar 215

Desain kursi karya Ruperl Wiltiamson.


(Yates, 1988: 11 5)

I
!

Atas: Arm chair dengan kerangka besi yang dibungkus rotan'


merupakan sebuah prototype dengan skala 1:1.
Bawah: Dora chair yang terbuat dari kain iok dengan sandaran yang
dibungkus kulit, buatan Saporiti, ltalia, 1992.

228

229

I)esigtt,ng Futnlute

BAHAN ACOAN

G. Pe-doman Latihan Perancangan Mebel

Perancangan mebel kreatif memerlukan latihan


yang intensif. Latihan awal kita adalah mencari referensi
tentang desain-desain mebel yang pernah diciptakan oleh
orang lain di seluruh penjuru dunia.
Latihan kedua membuat konsep dalam bentuk
sketsa sebanyak mungkin. Upayakan membuat sketsa
dalam bentuk perspektif. Latihan ketiga adalah membuat
kohsep dalam bentuk pemikiran-pemikiran yang sangat
fundamental dalam desain, misalnya mengidentifikasi dan
menganalisis setiap aktivitas pengguna mebel yang akan
kita rancang. identifikasi dan pengkajian ini berkaitan
langsung dengan ergonomi, antropometri, bentuk, fungsi,
dan elemen-elemen estetika desain Iainnya.
Latihan keempat adalah melatih' diri dengan belajar menggambar teknik, seperti proyeksi, gambar teknik
potongan, detail konstruksi, dan sebagainya. Latihan kelima adalah mencoba untuk mengimplementasikan gambar
teknik tersebut ke dalam bentuk tiga dimensi atau bentuk
sesungguhnya, dehgan cara membrat prototype atau sample yang sesuai dengan harapan kita.
Latihan keenam adalah mengevaluasi, apakah
desain mebel yang kita rancang sudah memadai dan telah
sesuai dengan konsep yang kita buat di awal perancangan?
Coba diskusikan atau konsultasikan dengan orang lain.
Apakah desain yang kita rancang itu memenuhi semua kriteria sebuah ddSain mebel yang kreatif dan inovatif?

Agus Sachari, ed. Paradigma Desain lndonesia. Jakarta: CV'

Rajawali, 1986.

Alfian, T. H. Ibrahim. "Dimensi Teori Dalam Wacana Ilmu


Pengetahuan,"Makalah Stadium Generale Pascasarjanadi Fakultas Ilmu Budava Universitas Gadjah
Mada, Yogyakarta, 1 Oktober 2004'
Aronson, Joseph. The Encyclopedia of Furnifure. New York:
Crown Publishers, Inc., 1965.
Bagas Prasetyowibowo. Desain Produk lndustri. Bandung:
Yayasan Delapan-Sepuluh, 1 999.

Barrett, Terry. Criticizing Art: lJnderstanding the Contemporary. Toronto: Mayfield Publishing Companv,
1994.

Bayley, Stephen. "Art and Industry," London: Boilerhouse Project, 1982, dalam John A. Walker. Design
History and The History of Design. London: Pluto
Press. 1989.
Berger, Arthur Asa. Slgns in Contemporary Culture: An lntroduction fo Semiofrcs. New York: Longman, 1984.
Tand a-ta n d a d a ! a m Ke

ud ay a a n Ko nte m po rer.

Alih

bahasa M. Dwi Marianto dan Sunarto. Yogyakarta:


Tiara Wacana, Juni 2000.

Blaich, Robert and Janet Biaich. Product Design and Coor'


porate Strategy: Managing the Connection for Competitive Advantance. New York: McGraw-Hill, Inc.,
1993.

230

23',l

./

-l

,,, , , :: 'tl;t,ir,

Bogart, Doris van de. lntroduction To The Humanities;: Paintirg, Scutpture, Architecture, Music, and Literature.
New York dan London: Barnes dan Noble, Inc.,
1977.

Borretti, Pietro. "Guidelines of Product Design and


Enginering for The Furniture Industry," lnter'
national Seminar on Furniture Development and Promotion, Kualalumpur, B- 1 1 Agustus 1988.

Goman, Carol Kinsey. Kreativitas dalam Eisnls; Suatu


. Pedoman untuk Berpikir Kreatif. Alih Bahasa F.L.
Widie Kastyanto. Jakarta: Binarupa Aksara, 1991.
Grandjean, Etienne. Ergonomics of The Home. New York:
Halstead Press, Division of John Wiley & Sons,
1973.

Bridger, R.S. tntroduction to Ergonomics. New York:

Hayward, Helena, ed. Wortd Furniture: An ltlustrated History


from Earliest Times. New York: Crescent Books,
198l.

Charlotte and Peter Fiell. Charrs. Koln: Taschen Gmbh,

Heskett, John. /ndustrialDesign. London: Thames and Hudson Ltd., 1980.

McGraw Hill International, 1995.

2001.

Downey, C1aire. Neo-Furniture. London: Thames and Hudson,1994.

Hiesinger, Kathryn B. and George H. Marcus. Landmarks of


Twentieth-Century Design; An lllustrated Handbook.
New York: Abbeville Press Publishers, 1993.

Echols, John M. dan Hassan Shadilv. Kamus tnggrislndonesia. Ithaca and London: Cornell University
Press dan PT. Gramedia Pustaka Utama Jakarta,

Hiesinger, Kathryn B. and Felice Fisher. Japanese Design.


New York: The Philadelphia Museum of Art, 1994.

990.

Ekuan, Kenji. "Beberapa Pemikiran tentang Desain di


Indonesia," dalam Agus Sachari, ed., Paradigma
Desain di lndonesia. Jakarla: CV. Rajawali, 1986.
Fichner-Rathus, Lois. tJnderstanding Art. Fourth Edition.
. NewJersey: Prentice-Halllnc., 1995
Friedmann, Arnold, John F. Pile, dan Forrest Wilson.
lnterior Design; An lntroduction to Architectural lnteriors. New York, England, Amsterdam: Elsevier
Publishing Company, Ltd., 1970.
Gie, The Liang. Garis Besar Estetika (Filsafat Keindahan).
Yogyakarta: Supersukses, 1983.

232

der. lndonesische Siermotieven. Batavia:


Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten

Hoop, van

en Wetenschappen, 1,949.

Imam Buchori Zainudin, Yasraf Amir Piliang. dan


Jamaluddin. Desain Meningkatkan Mutu Produk.
"Jakarta:"Pusat Desain Nasional, 1998.

Jencks, Charles A. The Language of Post-modern Architecture. Fourth Revised Enlarged Edition. London:
Academic Edition, 1989.
Joice, Ernest. Encylopedia of Furniture Making. New York:
Sterling Publishing Co. Inc., 1987.

Jones, J. Christopher. Deslgn Methods: Seed of Human


Futures. London: John Wiley and Sons, 1973.

233

I
T*kn ik l,*e

fr*signinE Furnilure

of 20th Century Design and


Desrgners. T,ondon: The Thames and Hudson, 1993.

Julier, Guy. Encyclopaedia

Koentjaraningrat. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan.


J akarla: PT.' Gramedia, 797 4.

Kristianto, M. Gani. Teknik Mendesain Perabot Yang Benar.


Yogyakarta: Kanisius, 1993.
Lawson, Bryan. How Designers Think. London: The Architecture Press Ltd., 1983.
Lucie-Smith, Edward. Furniture; A Concise History. London:
Thames and Hudson, 7994.
Meuien. .W.J. Van der. Belajar dari Lahirnya lndustriatisasi di
Eropa. Jakarta: Yayasan Kerjasama Perguruan
Tinggi Katolik, (tanpa tahun).

Mudji Sutrisno dan Christ Verhaak. Estetika: Fitsafat Keindahan.Yogyakarta: Kanisius, 1993.

Myers, Bernard S. Undersfanding The Arfs. New York,


Chicago, San Francisco, Toronto, London: Hold,
Rinehart, and Winston, Inc., 1964.

ret

nca nq

ldebel K realif

Pile, John. Furniture Modern and Postmodern; Dtesign and


Technology. New York: John Wiley and Soni, Inc.,
1990.

Radice, Barbara. Memphis. Research, Experiences. Resu/fs,


Failurs and Successes of New Design London:
Thames and Hudson ,1994.
Schaefer. Herwin. "The Twentieth Century", dalam Helena
Hayward, ed. World Furniture: An illustrated History
from Earliesf limes. New York: Crescent Books,
1981

Sembach, Leuthauser, and Gossel. Meubeldesign Van De


20ste Eeuw. Benedikt Taschen Verlag GmbH & Co.
KG., 1989.
Soedarsono, R.M. Metodologi Penelitian: Seni pertunjukan dan
Seni Rupa. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan
Indonesia, 2001.

Soepratno. Ornamen Ukir Kayu Tradisionat Jawa. Jllid I.


Semarang: PT. Effhar, 2OO0
Sriwarno, Andar Bagus. Pengtantar Studi perancangan Fasilitas Duduk. Bandung: Penerbit ITB, 1998.

Panero, Julius dan Martin Zelnik. Human Dimension and


lntArior Space; A Source Book of Design Reference
Standard. New York: Whitney Library of Design,
1979.

Stem, Seth. Designing Furniture from Concept to Shop


Drawing: A Practical Guide. Edited by Laura Tringali.

Papanek, Victor. Design for The Real World: Human Ecology


and Social Change. Second Edition. London: Tha-

Sutaba, I Made. Tahta Batu Prasejarah di Bali: Telaah tentang


Bentuk dan Fungsinya. Yogyakarta: yayasan Maha-

mes andHudson, 1983.

Pena. Willia m. Problem Seeking: An Architectural Programming Primer. Washington: Caudill Rowlett Scott, Inc.,
1977

234

Newtown: The Taunton Press, 1989.

vhira,200l.

Ultrich, T. Karl, and Steven D. Eppinger . product Design and


Deve I o p m e nf. Ne w York : Mc Graw - Hill Internalional
Editions, 1995.

235

\
ilt

.;;1;rttng f:,t:t,ilt,. u

Tekn;k

ll*rarcefig

hie,!:el

t{refiti!

Umar Kayam, Senr, Tradisi, Masyarakat Jakarta: Sinar


Harapan,1981.

Usunier, Jean Claud e. Marketing Across Cuttures. Second


Edition. London : Prentice Hali. 1996.

Vegesack, Alexander von, Peter Dunas, and Mathis


Schwartz-Clauss, eds. 700 Masterpieces from The
Vitra Design Museum Collection. Weilham Rhein.
Swiss: Vitra Design Museum and Authors, 1996.
Walker, John A. Design History and The History of Design.
London: Pluto Press, 1989.

West, Michael

A.

Creativity

in Organizations: Mengem-

Alih bahasa
Bern. Hidayat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
bangkan Kreativitas dalam Organisasi.

Asia Pacific Design Conference, "Design Application


Eiample of Regional Industries in Indonesia, Japan, Malaysia, Taiwan, and Thailand," kumpulan
makalah, Pusat Desain Nasional Jakarta,23-30 Oktober 1998.

Baryl. "Furnitur dan Arsiteklur," A/aialah Pola Edisi


Maret 1.97 7, hlm. 26'29.
BM. "Perkembangan Ekspor Mebel Indonesia,"

i
]

20,

Maialah

Mebel lndonesla, Pebru ari 1992.

Bondan S.T., "Perpaduan dan F'ungsi dalam Desain Kursi


1997," Majalah ASR/, No. 172, Juli 1997, hlm. 6072.

2000.

Willard, Rudolph. Furniture Construction. Fourth Edition.

North Carolina: Department of industrial

Darwis Khudori. "Desain yang Bermakna Sosial," dalam


surat kabar Kompai,7 Desember 1985.

Engineering North Carolina State University RaIeigh, 1982.

Djoko Moelyono. "Peranan Desainer dalam Industri Me-

Wong, Wucius. Principles of Two-DimensionalDesrEtn. New


York: Van Nostrand.Reinhold, 1 972.

Eddy Supriyatna Marizar. "Desain Mebel untuk Pasar Bebas; Siasat Menghadapi Era Globalisasi," majalah
lndustri KonstrukslNo. 262, November 1997 .

Wycoff, Joyce. Menjadi Super Kreatif Metatui Metode Pemetaan-Pikiran Alih bahasa Rini S. Marzuki. Bandung:
MizanPustaka, 2002.

bel,"

Majalah Pola, edisi 23,7977

"Desain sebagai Pemicu Daya Saing," majalah

tnaustriKonstruksiXo.2BO, April-Mei

1999.

Yates, Simon. An Encyclopedia of Chair. Lond6n: Quintet


Publishing Limited, 1 9BB.

Fit. "Mebel Cantik, Mebel Menarik," surat kabar Kompas,


26.lanuari 1996.

Yayasan Desain Jepang. "Seminar Desain yang Lebih Baik


untuk Memasuki Pasar," makalah seminar Desain
Jepang di Jakarta, Maret 1995.

Ina M. Handayani. "Furnitur Rotan dengan Desain dan


kabar Suara
eqqta
surat
aL nduar
Selera Konsumen Internasional," rur
pembaruan 18 Ju1i 1997.

"lndustri Mebe1," Maialah Pola, Edisi 23,


hlm.32-34.
236

1,977,

237

-t

Desigi;hg Furrtilure

Pusat Desain Nasional. "Pendahuluan," dalarri pusat Desain


Nasional, Leaflet. (tanpa tahun).

lnteriorDesrgn, Vol. 10, 1991.

Saporiti.Italia Contract Division. Saporiti ltalia.

Kinno, Hayato. "Trends in Populer Products in Japan,"


makalah Design Seminar Jepang di Jakarta, 24-25
November 1997.

(tanpa tahuh).

Taiwan Furniture. Cens Publications


1986.

Sanento Yuliman. "Dua Seni Rupa," surat kabar Kompas,75


Januari 1985.

Catalogue

No. 5g, November

The Complete Hafele. Catalogue. Jerman:1988.

Solichin Gunawan. "Desain di Indonesia: Suatu Pernbukaan


dari Serangkaian Tulisan Mengenai Perkembangan
Desain di Indonesia," Maialah Pola, edisi 23,7977,

The Malaysian Timber Industry Board. "Furniture of


Malaysia," Catalogue Manual
Edition, 1986

.hlm.44-49.
Sriwarno, AndarBagus. "PengantarStudi Perancangan
Fasilitas Duduk," Catatan Kuliah, Jurusan Desain
ITB Bandung, 1998.

of

Mataysia, 2nd

Witkhehn.Katalog kursi kantor. I 990.

Suparto, B. "Desain Trimatra," Catatan Kuliah, STSRI ASRI,


Yo eyakarta,1.979.
Yamakawa, Y. "Product Design Development: Rattan Furniture Design," makalah dalam JICA ln-Country
Training di Cirebon, 7 November 2000.

Zen, MT. "Simposium Seni Rupa dan Teknologi," surat


kabar Kompas,5 September 1983.

Direktori, Katalog, Brosur, dan Leaflet


Fixtures Furniture. Catalogue. Kansas: 'l'anpa

tahun.

Hafete. "The Minifix Connector System: Applications in

Furniture Manufactur" und Interior

Design,"

Germany: Hafele KG Beschlagtechnik und Mo-

belzubehor,1g8s

238

239

i"

i+&;;r& i#erar-i*:: rru

BIODATA PENULIS

Eddy Supriyatpa t'larizar, Drs., lt{. Hun.


Eddv Suprivatna Marizar lahir di Jakarta' i ulusa!
lnstitut Seni
t=rirtii i i bidrng srudi ( Desain lnterior
Magi.slpr
dan
1
994]
Yogvakarta
i"al"&i, rtSit
-lJLrf=irata-D,"Aensan studi Penekajian Seni Rupa
-iri"ii
progrant
pada
Ekspor),
untuk
ikJsus b""ain Mebet Modern
di Universitas Gadjah Mada
.trai lf-r-ilmu Humaniora
aktif mengikuti
tUGvl %gvi[arta (2001) ini masih
(UGM) YogMada
Gadjah
al
U"i"ersitas
,i.,ei;-bo-(toi
gB
juga
berbaeai
mengikuti
aktif
i^ri.?ii, izon+;. s".iutu t 1 ia
bisnis'
dan
desain,
manajemen'
wdrkshop
."-i"ui serta
Promosi
Karirnya dimulai sebagai Staf- Pembina
(1981)' kedan Pemasuiu" ai Yogvakarta Craft Center
Produk di Proildil'-";lrdi Kepali Bagian Desain.dan
Kecil dan KeIndustri
aa"^pengembangan
r".r. Ai;Uilii"
"ieiPIKt,
Kanwil
Perindustrian
Dep"artemen
ir'ii.""
(1984b.i.'rfivrr.*ti-tigszjrg84). Selamq. qua tahun
Arsitektur
pensajar
di
Jurusan
19Bbi-btk;;li sebagai staf
p"f..,iti.
feiinit< rjniversiias Kristen I.donesia (UKI)
sariana

240

il

lt4*!t*Mr*atif

Jakarta. Sempat pula menjadi Product and Promotion Ass.


Manager di Olympic Furniture Group PT. Cahaya Sakti
Furintraco, Jakarla dan Bogor (1986-1988). I.alu pindah
menjadi Research & Development Managerdi PT. Bumi Raya
Utama Group. yang bergerak di bidang industri perkayuan
terpadu untuk ekspor di Pontianak, Tangerang, dan Jakarla
(1988-1992). Setelah itu menjabat Production Planning &
lnventory Control ePlC), juga sebagai Product Development
Manager, serta instruktur di PT. Fajar Santika (Sandei
Group) Serang, Banten pada tahun 1992-1994. Sedangkan
pada tahun 1993-1996 menjadi instruktur dan pembina di
Lembaga Pendidikan Manajemen bisnis dan Industri (MBI)
Pusdiklaker Tangerang. Pernah menjadi pedagang mebel
ekspor, konsultan industri. dan pengembang desain mebel
di PT. G2M Tanggerans (1994- 1997).
Sejak tahun 1996 hingea sekarang rnenjadi Managing Partners di Lembaga Progress Creative So/utions & lnnovations Serpong, khususnya di bidang Training & Consulting
dengan spesialisasi Furniture & Woodworking lndustries,
Deslgn Management, Creative Management & New Product
Development.
ia juga aktif sebagai pembina industri kecil dan kerajinan sejak tahun 1981. Berperan sebagai instruktur dan
konsultan pengembangan produk dan pemasaran untuk
Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Busrness Development
Servlces (BDS) di Kantor Menteri Negara Koperasi dan
UKM, Jakarta (1998).
EddV S. Marizar juga tercatat sebagai peneliti
kualitatif bidang desain produk mebel gaya klasik, modern,
postmodern, arsitektur, dan interior pada tahun 1992
hingga sekarang.
Untuk menyalurkan kegemarannya dalam bidang
tulis-menulis, sejak tahun 1977 ia aktif menulis artikei di
berbagai media masa cetak dan jurnal ilmiah. Karir sebagai
penuiis diawalinya di surat kabar Berita Yudha Jakarta
(1978), Kedaulatan Rakiat Yogyakarta (1983), Majalah
Gadis, Majalah Asri, dan Majalah Konstruksi Jakarta. Pernah
menjadi Redaksi Gema lndustri Yogyakarta (1983-1984).
Juga menjadi Redaksi di Jurnal VisualF'SRD Untar di tahun
1998-2000. Sekarang menjabat sebagai Staf Redaksi
sekaligus Wakil Pimpinan Redaksi Berita Tarumanagara dan
sebasai Redaksi di Jurnal Akademika Jakarta.

241

ilx,;i ;n tr:q

F i, t t ;t tt
1

Tahun 1996 menjadi editor untuk buku lJpaya


Membangun Citra Arsitektur, lnterior, dan Seni Rupa lndonesia,

yang diterbitkan oleh Penerbit Djambatan, dan

buku
Pengantar Desain lnteriorkarya Prof. J. Pamudji Suptandar.
Pernah pula menulis buku MebelKasik: Paradigma Desain di
Eropa yang diterbitkan oleh Gamma Pustaka pada tahun
2003.
Sejak tahun 1996 hingga sekarang, Eddv S. Marizar
menjadi akademisi di Akatdi Interstudi Jakarta dan juga
bekerja sebagai dosen tetap pada Fakultas Seni Rupa dan
De sain Universitas Tarumane g ar a J akarta.

242