Anda di halaman 1dari 22

BAB III

PERANCANGAN PRODUK

A. Perancangan Awal
1. Konsep Rancangan
Dalam merancang penggoreng kopi otomatis ini hal pertama yang harus
diketahui adalah konsep rancangan / draft design. Adapun draft design dari
mesin secara sederhana bisa dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 3.1 Draft Design

12

Keterangan:
1. Wadah Masuk Bahan
2. Tabung Penggorengan
3. Poros
4. Pillow Block
5. Sproket
6. Kompor Pemanas

7.
8.
9.
10.
11.
12.

31

Rangka Dasar
Panel Box Thermostat
Saklar Motor Listrik
Motor Listrik
Selenoid Valve
Adaptor

32

2. Spesifikasi Produk
Nama

: Mesin penggoreng kopi dengan penggerak motor listrik


untuk industri rumahan.

Fungsi

: Menggoreng bijian kopi mentah dengan dilengkapi


pengatur suhu otomatis untuk kematangan pada suhu yang
diinginkan.

Daya Mesin

: 130 Watt

Kapasitas

: 5 Kg/Proses

Berat

: 30 kg

Tinggi

: 794 mm

Panjang

: 700 mm

Lebar

: 500 mm

3. Daftar Nama Komponen


Dalam mesin ini menggunakan berbagai macam komponen, bentuk, dan
ukuran. Adapun komponen-komponen yang digunakan dalam mesin ini bisa
dilihat dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1 Nama-nama komponen
N
o

Nama Komponen

Jml

Material

Kebutuhan

Motor AC

20 Watt

Rantai

Besi

88 mata rantai

Pillow block

2 buah

Pipa Kotak 4x2

Besi

2 batang

Plat Tabung

SUS 304

1 lembar

Poros Tabung

S 30 C

1 batang

33

Plat Plendes

Besi plat

2 buah

Roda

4 buah

Kompor

1 buah

10

Regulator

1 buah

11

Selenoid Valve

12

Panelbox

Plastik

13

Saklar

14

Adaptor

1 buah

Plastik
-

1 buah
1 buah
1 unit

4. Prinsip Kerja Mesin Penggoreng Kopi Otomatis


Mesin penggoreng kopi ini menggunakan motor listrik sebagai penggerak
utama pemutar tabung pada saat proses penggorengan. Sistem pemanas dari
kompor yang terdapat dibawah tabung penggorengan, pengaturan suhu
pemanas kompor bisa disesuaikan dari thermostat yang tersedia untuk
mendapatkan pada suhu berapa panas dibutuhkan.
Kopi mentah masuk melalui corong atas kemudian ketika kopi sudah
masak keluar melalui lubang bawah tabung. Pada saat proses penggorengan
berlangsung selama tabung terus berputar biji kopi yang rusak atau cacat akan
keluar melalui celah kecil yang tersedia.

B. Perancangan Teknik

34

Menggoreng kopi ataupun sejenis bijian lainnya dari mesin berikut adalah 5
kg sekali proses. Dalam waktu penggorengan suhu maksimum pada thermostat
tidak akan bisa langsung dicapai. Butuh waktu berajngka untuk mendapatkan
panas yang ingin dicapai terlebih dahulu. Pada percobaan awal penggorengan kopi
dimulai pada saat suhu 0 derajat Celsius. Butuh waktu 3 jam untuk mendapat
panas maksimal standar ketentuan kopi yang baik untuk proses masaknya, dalam
jangka 3 jam mesin melakukan proses, kematangan juga didapat sesuai kapasitas
messin maksimal yaitu 5 kg sekali proses.
Dalam merancang mesin penggoreng biji kopi ini selain perhitumgan
kapasitas produksi, perlu juga diketahui tentang adanya pengoperasian system
pemanas dari penggoreng utama berikut. Hal ini didapat dari hasil percobaan
mesin yang telah jadi.

Tabel 3.2. Hasil Percobaan


Pengujian
Suhu Awal Dalam
Celcius

Waktu Dalam Menit

Suhu Pencapaian
Dalam Celcius

60

50

II

50

60

70

Dari hasil percobaan tersebut menjelaskan, biji kopi dalam penggorengan


panas awal dari nol derajat akan membutuhkan waktu panas maksimum standar
penggorengan kopi cenderung lebih lama daripada mesin yang terlebih dahulu
dipanaskan. Namun dengan cara penggorengan yang berbeda pula hasil
kematangan yang didapat juga akan berbeda.
Dalam mesin penggoreng biji kopi ini terdapat beberapa komponen yang
harus di hitung, antara lain:

35

1. Perhitungan Putaran Mesin


Untuk 1x proses (5 kg) diasumsikan dibutuhkan 10 kali putaran tabung
penggorengan diperlukan:

n=

putaran poros
Q(http :/ otoengine . com)
W

Dimana,

n : Putaran per menit (Rpm)

W : Beban (Kg)
Q : Kapasitas maksimal (Kg/Jam)

1800 putaran
1,6 kg / jam
5 kg

= 576 putaran / jam

576 putaran
60 menit

9,6 putaran/menit

Jadi putaran mesin yang dibutuhkan adalah 9,6 putaran/menit

2. Perhitungan Daya yang Dibutuhkan

36

Untuk mencari daya yang dibutuhkan terlebih dahulu harus diketahui


besar torsi yang diperlukan dari kapasitas kg/jam.
Maka Torsi (T)

= Kapasitas Jarak Poros


= 5 kg 500 mm
= 2500 kg.mm

Maka Daya yang diperlukan yaitu :


Pada motor penggerak dipilih motor gear box dengan rpm dari motor
adalah 40 rpm untuk memudahkan saat dikontrol dengan limit switch. Daya
yang diperlukan adalah,
T 2. .n
.
1000 60
P=
( kW )
102

(Sularso & K. Suga, 1997: 7)

2500 2 .3,14 .9,6


.
1000
60
P=
102

P = 0,02 Kw

P = 20 Watt
Namun untuk memperkuat motor saat mengangkat beban pertamakali
karena kerja dari motor pendorong bekerja hidup mati hidup mati maka
diberikan faktor koreksi motor sebesar 10, sehingga daya rencana motor
adalah,

37

Pd = P x Fc
Pd = 2 watt x 10
Pd = 20 watt
Jadi besarnya motor yang digunakan adalah 20 Watt. Besarnya daya
motor yang direncanakan dengan mempertimbangkan faktor koreksi dan
motor yang ada di pasaran.
3. Perhitungan Transimisi Rantai Rol
Direncanakan sebuah motor dengan daya 0,02 kw dengan putaran 40 rpm
dipasang pada mesin penggoreng biji kopi, dimana:

Daya yang akan ditransmisikan (P)

: 0,02 KW

Putaran poros penggerak (n1)

: 40 Rpm

Perbandingan reduksi (i)

: 2,35

Jarak sumbu poros

: 390mm

Roda gigi 1(z1)

: 15

Roda gigi 2(z2)

: 35

Daya rencana (Pd)

: 20 Watt

Jarak Sumbu Poros (C)

: 390 mm

38

3.1. Diameter Jarak Bagi Sproket

d p=

p
(SularsoK . Suga ,1997 :197)
sin ( 180 /Z 1 )

d p=

12,70
=61,083mm
sin ( 180 /15 )

D p=

p
(SularsoK . Suga ,1997 :197)
sin ( 180 /Z 2 )

D p=

12,70
=141,678 mm
sin ( 180 /35 )

3.2. Diameter Luar Sproket


d k ={0,6+cot ( 180 /Z 1 )} p(SularsoK . Suga ,1997 :197)
d k = { 0,6+cot ( 180 / 15 ) } 12,70=60,348 mm
D k ={0,6+cot ( 180 /35)} p(SularsoK . Suga ,1997 : 197)
D k = { 0,6+cot ( 180 /35 ) } 12,70=385,463 mm

3.3. Diameter Naf Maksimum Sproket


d B max = p {cot ( 180 / Z1 ) 1 }0,75( SularsoK . Suga , 1997:197)

39

d B max =15,875 { cot ( 180 /15 )1 } 0,75=46,28 mm


D B max = p {cot ( 180 / Z2 ) 1 }0,75( SularsoK . Suga , 1997:197)

D B max =15,875 { cot ( 180 /35 )1 } 0,75=127,727 mm

3.4. Kecepatan Rantai

v=

p . Z 1 . n1
(SularsoK . Suga , 1997 :198)
1000 60

v=

12,70 . 15. 40
m
=0,127
1000 60
s

3.5. Beban Maksimal

F=

102. Pd
( SularsoK . Suga , 1997 :198)
v

F=

102. 0,03
=24,094 kg
0,127

40

4. Perencanaan Poros
Direncanakan bahan poros yang akan digunakan adalah baja karbon untuk
konstruksi mesin tipe S30C, dimana menurut (Sularso & K.Suga, 1987: 3)
dalam table bahan diketahui baja karbon S30C memiliki spesifikasi:

Kekuatan tarik B : 48 Kg/mm2

Perlakuan panas : Penormalan

4.1. Analisa Gaya yang Ada Pada Poros

Daya rencana(Pd)

: 0,02 KW

Putaran poros (n)

: 70 Rpm

Panjang poros

: 500mm

Beban gear Sproket pada poros : 5 kg

4.2. Poros Dengan Beban Puntir

P=f c P ( kW ) ( SularsoK . Suga ,1997 :7 ) Pd

41

1,0.0,02 ( kW )=0,02 kW

Dimana :
Pd

= daya rencana motor

= daya yang di transmisikan


fc

=faktor koreksi

Tabel 2.1.Faktor-FaktorKoreksiDaya yang Akan Ditransmisikan(fc)


Daya yang ditransmisikan
fc
Daya rata-rata yang diperlukan

0,8 1,2

Daya trasmisi yang direncanakan

1,2 2,0

Daya normal

1,0 1,5

Sumber : (Sularso& K.Suga,1997: 7)

4.2.1. Besarnya tegangan geser ijin a

b
kg
( SularsoK . Suga , 1997: 8 )
Sf 1 Sf 2 mm2
48
kg

6,0.1,5 mm2
kg
5,33
mm2
a=

( )
( )
( )

Dimana:
a = Tegangan Geser Ijin (

kg
)
2
mm

b = Kekuatan Tarik Bahan (

kg
)
mm2

42

4.2.2. Torsi Pada Poros

T =9,74 105
5

9,74 10

Pd
( kg . mm )( SularsoK . Suga , 1997 :7 )
n

0,02
=48,7 kg . mm
40

Dimana :
Pd =daya rencana ( kW )
n=putaran pada poros(rpm)

4.2.3. Diameter Poros

M
Km

KtT

5,1
ds

a
1,0 2

2,0 2 +

5,1

a
1

( 5) 3
5,1

5,33
2,27 1 mm

43

Dimana:
KmM

= Faktor koreksi beban lentur (Beban lentur tetap = 1,5; Beban


Lentur dengan tumbukan ringan 1,5 2,0; Beban lentur
dengan tumbukan berat 2,0 3,0)

KtT

=Faktor koreksi beban puntir (tidak ada tumbukan = 1,0; Dikenai


sedikit kejutan / tumbukan 1,0 1,5; Dikenai kejutan /
tumbukan berat 1,5 3,0)

Poros untuk gandar adalah 2,271 mm


Karena poros gandar ini mengikuti bearing dari roda maka poros gandar
dinaikan menjadi 20 mm yang mana poros ini memenuhi syarat

4.3. Poros Dengan Beban Lentur

Poros penompang tabung harus mampu menompang dengan skema


gaya sebagai berikut,

44

Gbr.3.2 Diagram gaya vertical

Besi poros menggunakan material besi S30C dengan kekuatan tarik

48 kg/mm2, dengan gaya F1 dan F2 masing-masing 2,5 kg.

Perencanaan untuk diameter poros dihitung sebagai berikut;

pada titik A = 0

F1 x 30 mm +F2 x 39 mm Rb x 45 mm = 0

Rd x 45 mm = 2,5 kg x 30 mm + 2,5 kg x 39 mm

Rd=

7,5 kg . mm+ 97,5 kg . mm


45 mm

Rd = 2,33 kg

pada titik D = 0

F1 x 39 mm +F2 x 30 mm Ra x 45 mm = 0

Ra x 45 mm = 2,5 kg x 39 mm + 2,5 kg x 30 mm

Ra=

97,5 kg . mm+7,5 kg . mm
45 mm

45

Ra = 2,33 kg
Momen pada setiap titik
MA

=0

MB

= 30 mm x 2,33 kg

= 69,9 kg.mm
MC

= 39 mm x 2,33 kg

= 90,87 kg.mm
MD

=0

Momen terbesar terdapat pada titik C yaitu sebesar 90,87 kg.mm, sehingga
besar diameter poros adalah;
Mb

Wb

= Mb /

. Wb
b

0,1 d3 = 90,87 / 48
d3
d=
d

= 10 x 90,87 / 48

90,87
48
= 1,256 2 mm (pada skema)

sehingga poros untuk slider minimal haruslah berdiameter 2 mm namun


karena untuk menyamakan ukuran dengan alur glidingan maka poros
slider dipilih berdiameter 20 mm

5. Bantalan

46

Bantalan dipilih dengan diameter dalam bantalan adalah 20 mm, karena


bantalan yang lengkap dengan pillow box terkecil yang mudah didapatkan di
toko-toko adalah bantalan dengan diameter 20 mm, sebenarnya ada bantalan
yang memiliki diameter lebih kecil dari 20 mm namun haruslah pesan dan
harganya lebih mahal, disamping itu bantalan dengan diameter dalam 20 mm
ini sudah lebih dari cukup untuk menumpu ulir daya yang mana diameter
minor ulir daya ini seharusnya hanyalah 4 mm. Berdasarkan tabel pemilihan
bantalan gelinding menurut Sularso & K.Suga (1997:143) untuk poros 20 mm
dipilih bantalan jenis terbuka nomor bantalan 6003 dengan spesifikasi sebagai
berikut:
Diameter dalam (d)

: 20 mm

Diameter luar (D)

: 35 mm

Lebar (B)

: 10 mm

Kapasitas dinamis nominal spesifik (C)

: 470 kg

Kapasitas nominal statis spesifik (C0)

: 296

5.1. Menentukan Jenis Beban


Beban yang ditumpu oleh bantalan adalah beban radial dengan seberat
5 kg, dimana beban 5 kg akan ditumpu oleh 2 bantalan maka masing
masing bantalan akan menerima beban sebesar 2,5 kg.

5.2. Perhitungan Beban Ekuivalen

Pr = XVFr + YFa

(Sularso & K. Suga, 1997: 135)

47

Jika dalam beban bantalan tidak terdapat beban aksial maka harga
untuk faktor X=1 dan Y=0 sehingga persamaan diatas menjadi;

Pr = XVFr

(Sularso & K. Suga, 1997: 135)

Pr = 1 x 1 x 2,5 kg

Pr = 2,5 kg

5.3. Faktor Kecepatan


33,3
n

( )

1
3

33,3
40

1
3

Fn =
136)

( )

Fn =

Fn = 0,94

SularsoK . Suga , 1997:

48

5.4. Faktor Umur Bantalan


SularsoK . Suga ,
C
1997: 136)
F h=F n
P

Fh =0,94

390
2

Fh = 183,3

5.5. Faktor Nominal Bantalan


Lh = 500 f 3h

SularsoK . Suga , 1997: 136)

Lh = 500 x 183,33

Lh = 3.079.338.268 jam

Perencanaan umur mesin adalah mesin dapat beroperasi selama 5


tahun dengan waktu operasi per hari adalah 8 jam kerja, seingga waktu
umur nominal bantalan seharusnya nimimal selama;
Umur mesin: 8 jam x 360 hari x 5 tahun = 14.400 jam
Jadi bantalan sangat baik untuk mesin karena umur nominal bantalan
lebih lama daripada rencana mesin yaitu;
3.079.338.268 jam > 14.400 jam

49

6. Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi dalam satu kali proses penggorengan bisa memuat
5kg/proses. Angka tersebut diperoleh dari volume ruang tabung
Dimana:
atau

1
2,14 35 262
4
= 12.658,1 kg

7. Pasak
Dari diameter poros 20 mm, dan bahan pasak yang digunakan adalah jenis
S30C.
Sfk1

= 6,0

Sfk2

= 2,0

Dimana B
3)
Maka:

(kekuatan tarik) = 48 kg/mm2.(Sularso & K. Suga, 1997:

50

7.1. Gaya Tangensial Pada Permukaan Poros (F)

T
ds
2

( )

(Sularso & K. Suga,

1997: 25)
=

2500
10

= 250 kg
7.2. Tegangan Geser yang Diijinkan

ka

B
Sfk 1 . Sfk 2

48
6,0.2,0

(Sularso & K. Suga,

1997: 25)

= 4 kg/mm2

7.3. Pemeriksaan Pasak


7.3.1. Tegangan geser yang diijinkan (ka= 4 kg/mm2)

ka =

F
b .l 1

4 kg

(Sularso & K. Suga, 1997:

25)
250

4 = 7.l 1
l1 8,92

7.3.2. Tekanan permukaan yang diijinkan (pa= 8 kg/ mm2 )


diameter kecil

Pa

1997: 27)

F
l2
t1
( )
t2

(Sularso & K. Suga,

51

250
l 2 .(4)

L2

7,81

7.3.3. Pemeriksaan lebar pasak digunakan perbandingan 0,25-0,35 dari


diameter poros. (Sularso & K. Suga, 1997: 27)

7.3.4. Lebar pasak (b) = 7 mm

b
=
ds
1997: 28)
0,25 <

7
25

b
ds

= 0,28

(Sularso & K. Suga,

< 0,35

0,25 < 0,28 < 10,35 (BAIK)


7.3.5. Pemeriksaan panjang pasak digunakan perbandingan 0,75-1,5
dari diameter pasak.
Panjang pasak (L) = 20 mm
l
=
ds
1997: 28)

0,75 <

l
ds

l
ds

=1

(Sularso & K. Suga,

< 1,5

0,75 < 1 < 1,5 (BAIK

8. Flowchart Pengoperasian Mesin

1. Persiapan Bahan

2. Sambungkan Stop Kontak

52

Saklar naik keatas


pada saat proses
3. Cek LPG

4. Nyalakan Saklar
Saklar turun untuk
mengeluarkan
bahan olahan

5. Nyalakan Kompor

6. Atur Pemanas Pada Kotak Panelbox thermostat

7. Masukkan Bahan

8. Tunggu Hasil Olahan