Anda di halaman 1dari 5

Perbandingan Kinerja Jaringan Algoritma Backoff

IEEE 802.11
Rizka Nurhasanah

Nurbani Yusuf

S1 Teknik Telekomunikasi
Universitas Telkom
Bandung
nrizka@students.telkomuniversity.ac.id

S1 Teknik Telekomunikasi
Universitas Telkom
Bandung
nurbanyusuf@students.telkomuniversity.ac.id

AbstrakPada jaringan mobile ad hoc wireless (MANET),


tabrakan paket antara node tidak dapat sepenuhnya
dihilangkan karena sifat penyebarluasan dari node. Untuk
menghindari tabrakan ini lapisan MAC mengadopsi skema
Binary Exponential Backoff (BEB). Dalam skema BEB,
contention window (CW) pada sebuah node direset ke nilai
awal setelah setiap transmisi sukses dari paket. Dalam kasus
terdapat paket yang tabrakan, ukuran CW menjadi dua kali
lipat. Peristiwa ini menyebabkan kinerja jaringan menjadi
rendah. Beberapa algoritma backoff akan dibahas dan
dilakukan analisis perbandingan kinerjanya. Dari hasil
simulasi, diperoleh bahwa SABA menjadi algoritma paling
unggul karena memiliki delivery ratio tertinggi dan overhead
terendah.
Kata kunciMANET; contention window;
Exponential Backoff; Smart Adaptive Backoff

Binary

I. PENDAHULUAN
Jaringan wireless pertama kali hadir pada sekitar tahun
1970an. Sejak saat itu, jaringan ini terus berkembang sangat
cepat. Hal tersebut bisa dilihat pada saat ini dimana semua
trend jaringan berpindah pada teknologi internet wireless.
Mobile wireless network yang juga disebut mobile ad hoc
network (MANET) telah menjadi teknologi baru dalam
jaringan wireless. Kita dapat mengelompokkan dua tipe
pada internet nirkabel yaitu; infrastruktur dan jaringan ad
hoc.

II.

MACAM-MACAM ALGORITMA BACKOFF 802.11

A.

BINARY EXPONENTIAL BACKOFF (BEB)


Algoritma BEB digunakan oleh protokol IEEE
802.11 Medium Access Control (MAC). BEB menggunakan
distribusi acak seragam untuk memilih nilai backoff.
Algoritma ini membuat peningkatan ukuran CW secara
eksponensial berdasarkan kegagalan transmisi. Algoritma
ini menggandakan CW setiap waktu pada sebuah node yang
mengalami tabrakan paket, contohnya paket CTS atau
balasan ACK yang tidak diterima sebelum timeout habis.
Jika sebuah node berhasil dalam transmisi paketnya, CW
direset ke nilai minimum. Untuk mencegah peningkatan
CW yang terlalu besar atau penurunan CW yang terlalu
kecil, ditentukan dua batas CW yaitu CWmax dan CWmin.
Beberapa node dapat mencapai throughput yang
lebih besar dibanding yang lain. Masalah ini terjadi
disebabkan karena skema reset nilai CW (dari pengirim
yang berhasil melakukan tranmisi) ke nilai CW minimum,
ketika node lain terus mempertahankan CW mereka yang
besar. Sehingga mengurangi kesempatan node-node lain
dalam perebutan kanal dan menyebabkan dominasi kanal
oleh node yang telah berhasil melakukan transmisi.

MANET merupakan sekumpulan node-node yang


bergerak yang membangun komunikasi antar link pada
wireless. Setiap node bertindak sebagai host atau router.
Karena node-node nya bergerak, maka topologi jaringannya
dapat berubah dengan cepat dan tidak bisa diprediksi
sepanjang waktu. Dengan kata lain, MANET tidak
memiliki base station, sehingga komunikasi antar node
diatur oleh node-node itu sendiri. Untuk mengatur
komunikasi antar node agar tetap berjalan semestinya, maka
diperlukan suatu algoritma backoff yang mengatur nodenode tersebut untuk berkomunikasi secara otomatis dengan
mempertimbangkan aspek QoS dan collision (tabrakan)
pada sebuah jaringan [1].
Gambar 1. Deskripsi Algoritma BEB[2]

Ketika sebuah node mengirim sebuah paket ke


tujuan spesifik, node akan mendeteksi medium bersama
untuk memilih apakah transmisi dapat mulai dilaksanakan
atau tidak. Jika kanal terdeteksi idle, proses transmisi
dimulai. Jika tidak, node harus menunggu sejumlah waktu
acak antara range [0, CW-1], waktu ini dihitung
menggunakan rumus:
Backoff time = (Rand () MOD CW)*aSlotTime.
Setelah mendapat waktu backoff, node harus
menunggu sampai waktu ini mencapai nilai nol sebelum
memulai proses transmisi. Waktu backoff berkurang saat
time slot ditemukan idle. Setelah backoff timer mencapai
nilai nol, node mengirim paket data. Namun ketika kanal
sibuk, BO timer akan berhenti. Terakhir jika node menerima
ACK untuk paket terkirim, CW direset ke nilai minimum
untuk node tersebut. Jika node tidak menerima ACK atau
dalam hal ini pengiriman paket gagal, CW meningkat secara
eksponensial ke nilai backoff yang baru [2].
B.

PESSIMISTIC LINEAR-EXPONENTIAL
BACKOFF (PLEB)
Algoritma PLEB merupakan kombinasi dua
perilaku increment ukuran contention window. Algoritma
ini mengasumsikan kegagalan berdasarkan kongesti dalam
jaringan akibat tingginya laju trafik atau jumlah node yang
ada di jaringan cukup banyak. PLEB bekerja pada dasar
pemikiran bahwa kongesti tidak mungkin diselesaikan
dalam waktu dekat. Sehingga respon pertama pada
kegagalan transmisi, PLEB meningkatkan ukuran window
secara eksponensial dan kemudian dilanjutkan secara linear.
Peningkatan secara eksponensial membuat waktu tunggu
menjadi lebih panjang sebelum melakukan transmisi
selanjutnya.
Walaupun
begitu,
setelah
sejumlah
penambahan waktu tersebut, PLEB mulai menjalankan
timer-nya secara linear, bukan eksponensial. Hal ini
bertujuan untuk menghindari peningkatan backoff yang
berlebihan [3].
Berikut merupakan skema algoritma yang
dirancang pada PLEB:
Step 0: Set BO to initial value
Step 1: While Bo 0 do
For each time slot
If channel is idle then BO=BO 1
Step 2: Wait for a period of IDFS then Send
If (sendFailure) then
if ( numberOfBackoffs <= N) then
CW =CW *2
Else
CW = CW + T
Go to step 1
Stop

Gambar 2. Deskripsi Algoritma PLEB[2]


C.

LOGARITHMIC BACKOFF ALGORITMA (LBA)

LBA menawarkan beberapa pengembangan yang


bertujuan untuk menggunakan kanal secara efisien dan
mengurangi collision. Algoritma ini menggunakan
peningkatan secara logaritmik daripada perpanjangan
eksponensial dari ukuran window untuk mengeliminasi efek
degradasi dari distribusi nomor acak. Algoritma ini dapat
mencapai throughput yang lebih tinggi dan packet loss yang
lebih rendah ketika dalam lingkungan mobile ad hoc [4].
Berikut persamaan yang digunakan pada LBA:
(BO)new = (log (BO)old)*(BO)old*a SlotTime

Gambar 3. Peningkatan CW dalam Algoritma


Logaritmik[4]
Pseudo code dari algoritma yang termodifikasi:
Step 0: Set BO to initial value
Step 1: While Bo 0 do
For each time slot
If channel is idle then BO=BO -1
If channel is idle for more than IDFS then
Send
Else

Bo = log(BO)*BO
Go to step 1
Stop
D.

SMART ADAPTIVE BACKOFF


SABA mengasumsikan bahwa pemecahan masalah
tabrakan di jaringan yang trafiknya rendah dan kongesti
yang tidak terlalu banyak, tidak perlu dilakukan dalam
waktu dekat. Sehingga dapat digunakan increment
eksponensial. Pada jaringan yang jarang dilalui trafik tinggi,
link tranmisinya dapat rusak dengan mudah akibat
mobilitas. Sebagian besar hanya ada satu jalur pada table
route untuk kondisi jaringan tersebut.
Increment eksponensial memberikan nilai yang
cukup memadai untuk membangun jalur lain. Jaringan yang
kongestinya terlalu besar menandakan banyak node dalam
jaringan yang menggunakan jalur yang sama, sehingga
dibutuhkan waktu tunggu lebih banyak sebelum memulai
transmisi pada jalur tersebut. Ketika transmisi berhasil
dilakukan, setiap CW disimpan. Increment jenis ini diulang
untuk lima keberhasilan proses transmisi.
Langkah pertama dalam SABA, mengatur nilai
inisial untuk backoff timer, decrement waktu backoff
tersebut akan dimulai berdasarkan slot waktu yang idle. Jika
tidak idle, timer akan freeze. Setelah timer mencapai nol,
paket data akan ditransmisikan. Untuk kasus transmisi yang
berhasil, nilai CW disimpan dalam history array. Jika tidak,
mekanisme backoff akan dijalankan. Langkah kedua,
increment dilakukan secara eksponensial berdasarkan
keberhasilan proses transmisi. Berikut merupakan skema
algoritma yang dirancang oleh SABA:
Set BO to initial value
While Bo 0 do
For each time slot
If channel is idle then BO=BO -1
Wait for a period of DIFS then Send
If (Send-Failure) then
If (CW array of last five successes is full)
If (Array used for the first time)
Calculate the average
of the history array and
use it as a new CW
value
Else
If (CW > N) then
CW = CW + T
Backoff-Timer
= Random x; 1 x CW - 1
Else
CW = Log
(CW) * CW
Backoff-Timer
= Random x; 1 x CW - 1
Else
CW = CW * 2
1 Set BO to initial value

Else
Save the CW value used in the history
Go to line number 1
Stop Backoff-Timer = Random x 1 x CW - 1
Else
Save the CW value used in the history
Go to line number 1
Stop
Algoritma menghitung rata-rata nilai pada array
untuk digunakan sebagai titik awal dalam memulai jenis
increment lain. Jika CW baru masih sangat tinggi, akan
digunakan linear increment. Jika tidak, akan digunakan
logarithmic increment. Tujuan utama menggunakan ratarata ukuran CW yaitu untuk mengurangi ukuran CW yang
terlalu besar. Kedua jenis increment baik logaritmik maupun
linear bertujuan untuk mencegah ukuran CW yang
berlebihan agar kinerja jaringan dapat meningkat [2].

III.

SIMULASI DAN EVALUASI HASIL SIMULASI

Pada simulasi antara algoritma BEB dan LBA


dilakukan dengan menggunakan 9 topologi dengan jumlah
node yang berbeda untuk tiap topologinya dan maksimum
kecepatan 10 m/s, dengan kecepatan mobilitas yang
berbeda untuk sebuah jaringan berisi 50 node. Trafik yang
ada di jaringan digambarkan sebagai CBR traffic, waktu
pause 10 detik, panjang antriannya 50 paket.

Gambar 4. Throughput algoritma standar vs algoritma


termodifikasi untuk kecepatan beragam[4]
Untuk kecepatan yang berbeda, algoritma
eksponensial memberikan throughput yang lebih tinggi pada
beberapa kecepatan. Tetapi nilai keseluruhan throughput
dalam jaringan tidak stabil, misalnya terjadi perubahan
antara kecepatan 4 m/s ke 6 m/s, terdapat peningkatan
throughput sebesar 30%. Pada kecepatan dimana BEB
mencapai throughput yang lebih tinggi, perbedaan
throughput tidak signifikan. Dengan menggunakan
algoritma logaritmik, perubahan throughput maksimum
sebesar 15% dibandingkan BEB yang mengalami kenaikan
sebesar 45%.

detik), SABA memiliki rasio yang paling tinggi pada


kisaran 80% (cenderung stabil).

Gambar 5. Paket yang terbuang dari algoritma standar vs


algoritma termodifikasi untuk kecepatan beragam[4]

Gambar 5. Overhead dari BEB, PLEB dan SABA untuk


20 node, 5 sumber , 20 paket per detik[2]

Untuk kecepatan 7 m/s hingga 12 m/s pada


algoritma BEB, drop packet lebih sedikit dalam jaringan.
Perbedaan yang terlihat tidak terlalu besar diantara
keduaalgoritma tersebut. Algoritma backoff yang digunakan
bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi jumlah drop
packet, faktor lainnya yaitu ukuran antrian. Pada simulasi
ini, throughput lebih tinggi dicapai dalam kondisi jumlah
node yang besar daripada jumlah node yang sedikit. Jumlah
node yang besar menyebabkan pertikaian lebih tinggi, hal
ini memungkinkan sebuah node memiliki backoff dalam
periode berurutan, sehingga efek signifikan dari perilaku
algoritma logaritmik dan nilai backoff mulai lebih dekat.

Overhead dari BEB, PLEB, dan SABA untuk 20


node, 5 sumber (tiap sumber mengirim 20 paket ), SABA
memiliki nilai overhead yang paling rendah.

Pada simulasi lain, jaringan dengan jumlah node


10, 20, 50 dan 100 ditempatkan secara acak dalam area
1000 meter x 1000 meter. Tiap node mempunyai range
propagasi radio sebesar 250 meter, kapasitas kanal 2 Mbps.
Setiap program yang dieksekusi membutuhkan waktu 900
detik. Protokol layer MAC yang digunakan yatu IEEE
802.11. Constant Bit Rate (CBR) trafik node digunakan
pada simulasi. Digunakan model arah jalan untuk node yang
mobilitas. Kecepatan node maksimum yang digunakan
yaitu: 1, 2, 3, dan 4 meter per detik. Beban trafik yang
digunakan yaitu 5, 10, dan 20 paket per detik, diulang untuk
5 dan 10 sumber.

Gambar 7. Data delivery ratio dari BEB, PLEB dan


SABA untuk 100 node, 5 sumber, 20 paket per detik[2]
Delivery ratio dari BEB, PLEB, dan SABA untuk
100 node, 5 sumber dimana tiap sumber mengirim 20 paket
per detik, SABA memiliki ratio yang paling tinggi kisaran
75% - 85%.

Gambar 8. Overhead dari BEB, PLEB dan SABA untuk


100 node, 5 sumber, 20 paket per detik[2]

Gambar 6. Data delivery ratio dari BEB, PLEB dan SABA


untuk 20 node, 5 sumber, 20 paket per detik[2]
Delivery ratio dari BEB, PLEB, dan SABA untuk
20 node, 5 sumber (tiap sumber mengirim 20 paket per

Overhead dari BEB, PLEB, dan SABA untuk 100


node, 5 sumber dimana tiap sumber mengirim 20 paket
perdetik.
Hasil simulasi dengan scenario lain: Overhead
SABA memiliki nilai yang paling rendah, pada kisaran 00.75.Delivery ratio dari BEB, PLEB, dan SABA untuk 20
node, 10 sumber (tiap sumber mengirim 10 paket per detik),

SABA memiliki rasio yang paling tinggi yaitu pada kisaran


75% - 90%. Overhead dari BEB, PLEB, dan SABA untuk
20 node, 10 sumber (tiap sumber mengirim 10 paket
perdetik). Nilai Overhead SABA menjadi yang paling
rendah. Overhead dari BEB, PLEB, dan SABA untuk 100
node, 10 sumber dimana tiap sumber mengirim 20 paket
perdetik. Overhead SABA memiliki nilai yang paling
rendah, hampir menuju nilai nol. Delivery ratio dari BEB,
PLEB, dan SABA untuk 50 node, 5 sumber dimana tiap
sumber mengirim 20 paket per detik, SABA memiliki rasio
yang paling tinggi kisaran 85% - 95%.
SABA memperoleh kinerja terbaik dalam jaringan
yang kecil dan besar. Algoritma ini menggunakan rata-rata
lima exponential increment (hanya increment yang berhasil)
lebih baik dibanding exponential increment dalam BEB dan
PLEB. Untuk jumlah node yang makin banyak dan jaringan
yang makin besar (contohnya 100 node), exponential
increment memiliki hal penting dalam kinerja jaringan; BEB
terus memperbesar gaps antar ukuran CW yang
menyebabkan penurunan pada kinerja jaringan.

ACKNOWLEDGMENT
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak
Tody selaku dosen Jaringan Nirkabel Program Studi S1
Teknik Telekomunikasi, Universitas Telkom, Bandung,
yang telah memberikan kesempatan dan arahan dalam
pembuatan paper ini.

REFERENSI
[1]

[2]

[3]

[4]

IV.

KESIMPULAN

Pada paper ini, beberapa skenario dipelajari untuk


membandingkan algoritma backoff yang baru dengan
algoritma backoff standard yang sudah ada. Algoritma
logaritmik mencapai throughput yang tertinggi dan packet
loss yang lebih rendah dibandingkan algoritma standar.
Kesenjangan nilai backoff antar node menjadi lebih dekat
karena pertikaian tinggi, kemungkinan node menjalankan
backoff untuk periode yang lebih berurutan,. Ketika
menggunakan algoritma logaritmik, perbedaan antara kedua
periode backoff menjadi lebih kecil dan peluang kalah
dalam pertikaian tidak meningkat secara dramatis.
Algoritma logaritmik memperoleh jumlah paket terkirim
yang lebih tinggi secara keseluruhan pada semua kecepatan
yang digunakan dalam percobaan. Hal yang masih harus
diselidiki lebih lanjut pada algoritma logaritmik ini yaitu
peningkatan dalam jumlah paket yang terbuang selama
waktu simulasi, hal ini diduga disebabkan faktor lain.
Secara umum, hasil penelitian menunkukkan
bahwa setiap jenis jaringan membutuhkan penangan yang
berbeda untuk mengatasi masalah peningkatan contention
window. Untuk jaringan yang kecil, akan dipilih increment
yang kecil, sedangkan untuk jaringan menengah dan
jaringan yang besar akan dipilih increment yang kecil
setelah dilakukan increment yang besar di awal. Sehingga
SABA menjadi skema yang paling unggul dalam
menghasilkan kinerja jaringan yang terbaik. Terbukti dari
hasil simulasi, dengan kondisi node bergerak, SABA
memperoleh delivery ratio paling tinggi dan overhead
paling rendah jika dibandingkan dengan PLEB dan BEB.

A. Maali, N. Qassim,Adaptive Backoff Algorithm for IEEE 802.11


MAC Protocol, Int. J. Communications, Network and System
Sciences, vol.4, pp.249-324, July 2009
O. Bani, S. Manaseer , dan A. Momani, Adaptive Backoff
Algorithm for Wireless Internet, Journal of Emerging Technologies
in Web Intelligence, vol. 4, no.2, May 2012
S. Manaseer and M. Masadeh. Pessimistic Backoff for Mobile Ad
hoc Networks. Al-Zaytoonah University, the International
Conference on Information Technology (ICIT'09), Jordan, 2009.I.S.
Jacobs and C.P. Bean, Fine particles, thin films and exchange
anisotropy, in Magnetism, vol. III, G.T. Rado and H. Suhl, Eds. New
York: Academic, 1963, pp. 271-350.
S. Manaseer, M. Ould-Khaoua, and L. Mackenzie. On the
Logarithmic Backoff Algorithm for MAC Protocol in MANETS,
Akses
online:
https://www.researchgate.net/publication/229019192_On_the_logarit
hmic_backoff_algorithm_for_MAC_protocol_in_MANETs