Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
Pengakuan terhadap suatu negara atau bangsa muncul pasca Perang Dunia
I, yaitu ketika kelompok perjuangan dari suatu wilayah yang masih dikuasai
berusaha memerdekakan diri dan membangun suatu bangsa. Kemunculannya teori
pengakuan juga memberikan dorongan kepada bangsa-bangsa terjajah untuk
memperjuangkan haknya. Eksistensi suatu Negara juga berkenaan dengan
kemampuannya menyelenggarakan hubungan internasional, meskipun kepastian
batas wilayah belum ditentukan.
Meskipun teori ini masih dalam perdebatan bagi ahli hukum akan
kewajiban penerapan pengakuan dalam pendirian suatu negara atau pemerintahan
baru, namun hal ini sangat unik untuk di kaji sebagai teori baru yang seakan
menjadi kebiasaan internasional yang tak tertinggalkan.
Menurut Dr. Mohammed Hafeed Ghanem; Pengakuan terhadap negara
atau pemerintahan baru adalah suatu ikrar dari negara (anggota komunitas
internasional) terhadap negara atau pemerintahan baru yang memenuhi unsur
terbentuknya negara dan bermaksud untuk menjalankan hubungan dengan negara
tersebut sebagai subyek hukum internasional.
Dalam prakteknya, pengakuan terhadap negara atau pemerintahan baru
merupakan aktifitas politik untuk mengakui adanya fakta tentang kedaulatan
pemerintahan negara tertentu yang termasuk di dalamnya konsekuensi yang di
timbulkan dari pengakuan tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengakuan Negara Baru (Teori-Teori Pengakuan)
Di kalangan para sarjana hukum internasional, terdapat 2 (dua) golongan
besar yang mengemukakan pendapat yang berbeda.
Golongan pertama berpendapat, bahwa apabila semua unsur kenegaraan
telah dimiliki oleh suatu masyarakat politik, maka dengan sendirinya telah
merupakan sebuah negara dan harus diperlakukan secara demikian oleh negaranegara lainnya. Jadi secara ipso facto harus menganggap masyarakat politik yang
bersangkutan sebagai suatu negara dengan hak-hak dan kewajiban-kewajiban
yang dengan sendirinya melekat padanya.
Pengakuan hanyalah bersifat pernyataan dari pihak-pihak lain, bahwa
suatu negara baru telah mengambil tempat disamping negara-negara yang telah
ada. Golongan pertama ini dikatakan menganut teori declaration.
Sebaliknya golongan kedua berpendapat, walaupun unsur-unsur negara
telah dimiliki oleh suatu masyarakat politik, namun tidak secara langsung dapat
diterima sebagai negara di tengah-tengah masyarakat internasional. Terlebih
dahulu harus ada pernyataan dari negara-negara lainnya, bahwa masyarakat
politik tersebut benar-benar telah memenuhi semua syarat sebagai negara.
Apabila telah ada pernyataan demikian dari negaranegara lainnya,
masyarakat politik tersebut mulai diterima sebagai anggotabaru dengan
kedudukannya sebagai sebuah negara, di tengah-tengah negara lainnya yang telah
ada. Setelah itu barulah dapat menikmati hak-haknya sebagai negara baru.
Golongan kedua ini dikatakan menganut teori Konstitutif.
Di antara kedua golongan ini terdapat beberapa sarjana yang menganut
pendirian jalan tengah, memang selalu terdapat perbedaan dalam praktek negara
dalam memberikan pengakuan terhadap negara atau pemerintah baru yang pada
hakekatnya dapat dikembalikan pada perbedaan pendapat antara penganut teori
deklarator dan teori konstitutif. Penganut teori deklarator antara lain: Brierly,
Erich, Fiscker Williams, Francois, Tervboren, Schwezenberger. Dalam tulisan ini
akan dibahas beberapa pendapat Para sarjana tersebut.

Brierly menganggap teori konstitutif sulit dipertahankan secara konsekuen


dengan mengemukakan, bahwa kemungkinan ada suatu negara yang diakui oleh
negara A, tetapi tidak diakui oleh negara B, dengan demikian pada saat yang sama
negara yang bersangkutan bagi negara. A merupakan pribadi internasional, tetapi
tidak untuk negara B.
Demikian pula kritik terhadap teori konstitutif terletak pada adanya
keharusan bagi penganutnya, bahwa suatu negara yang tidak diakui tidak memiliki
hak-hak dan kewajiban menurut hukum internasional misalnya intervensi pada
umumnya dianggap sebagai suatu perbuatan illegal, namun tidak demikian jika
dilakukan terhadap negara yang tidak diakui sebaliknya jika negara yang tidak
diakui terlibat dalam suatu peperangan, maka negara tersebut tidak berkewajiban
menghormati hak-hak negara netral sebagaimana diharuskan oleh hukum
internasional.
Erich berpendapat bahwa ia cenderung mengatakan bahwa pengakuan itu
sifatnya declaration semata, karena yang diakui adalah negara yang sudah ada.
Kalau suatu pemerintah asing mengakui suatu negara baru, maka pemerintah itu
menyatakan sikapnya, bahwa ia berhadapan dengan kenyataan yaitu dengan suatu
badan tersusun yang tidak dapat dibantah lagi dan diakui karena memang ada
dalam kenyataan.
Schwarzenberger condong pada teori deklaration, tetapi tidak dinyatakan
secara tegas. la berpendapat bahwa setiap negara bebas untuk memberikan atau
menolak memberikan pengakuan. Dengan demikian dapat terjadi suatu negara
dalam hubungannya dengan satu atau beberapa subyek Hukum Internasional,
tetapi tidak dengan yang lainnya.
B. Teori Konstitutif
Penganut teori ini adalah Wheaton, Hershey, Von Liszt, Moore, Schuman
dan Lauterpacht dalam pembahasan ini akan diuraikan beberapa pendapat dari
pelopor aliran/teori ini.
Isheaton berpendapat bahwa jika negara baru ingin berhubungan dengan
negara-negara lainnya dalam masyarakat internasional yang anggota-anggotanya
memiliki hak-hak dan kewajiban tertentu dan diakui oleh masing-masing, maka

negara baru itu terlebih dahulu memerlukan pengakuan dari negara-negara lainnya
sebelum dapat mengambil bagian sepenuhnya dalam kehidupan antar negara.
Moore berpendapat bahwa meskipun sebuah negara baru memiliki hakhak dan atribut-atribut kedaulatan, terlepas dari soal pengakuan, tetapi hanya jika
negara baru itu diakui barulah mendapat jaminan untuk menggunakan hak-haknya
itu.
Lauterpacht berpendapat bahwa suatu negara untuk menjadi pribadi
internasional hanya melalui pengakuan saja. Namun walaupun pemberian
pengakuan

itu

sepenuhnya

merupakan

kebijakan

dari

negara

yang

memberikannya, tindakan itu bukanlah suatu tindakan yang semena-mena saja,


tetapi pengakuan atau penolakan itu harus dilakukan berdasarkan prinsip-prinsip
hukum.
Jadi pengakuan itu memang konstitutif sifatnya, tetapi ada kewajiban
bagian negara-negara yang telah ada, jika semua syarat kenegaraan pada negara
baru itu telah dipenuhi, untuk memberikan pengakuan yang telah menjadi hak
negara baru itu.
C. Teori Jalan Tengah
Kedua teori yang telah dikemukakan tidak sepenuhnya memuaskan,
sehingga beberapa sarjana telah merumuskan teori baru yang dinamakan teori
jalan tengah atau teori pemisah. Penganut teori ini adalah: Rivier, Cavare,
Verdross dan Starke.
Rivier berpendapat bahwa adanya suatu negara yang berdaulat adalah
terlepas dari adanya pengakuan negara-negara lain. pengakuan hanya merupakan
pencatatan dari suatu hal yang telah terjadi dan sifatnya hanya persetujuan akan
hal tersebut. Dengan demikian pengakuan mengadakan ikatan formal untuk
menghormati pribadi baru itu, hak-hak dan atribut kedaulatan di bawah hukum
internasional. Hanya sesudah mendapat pengakuan, penggunaan hak-hak tersebut
akan terjamin. Hubungan politik yang teratur hanya mungkin terjadi antara
negara-negara yang saling mengakui. Starke berpendapat, bahwa kebenaran
mungkin berada di tengah-tengah kedua teori itu.

Praktek internasional menunjukkan bahwa baik teori deklarasi maupun


konstitutif keduanya dianut. Teori konstitutif digunakan apabila pengakuan itu
diberikan karena alasan-alasan politik. Negara-negara biasanya memberikan atau
menolak memberikan pengakuan atas dasar prinsip-prinsip hukum atau
berdasarkan preseden. Demikian juga pengakuan ditangguhkan karena alasan
politik sampai akhirnya pengakuan diberikan sebagai imbalan atas pemberian
keuntungan diplomatik secara materil dari negara atau pemerintah yang meminta
pengakuan.
Starke menunjukkan pula, bahwa teori declaration mendapat dukungan
dari asas-asas yang berlaku dalam masalah pengakuan, yaitu:
a. Jika timbul persoalan dalam badan pengadilan negara-negara baru mengenai
lahirnya negara itu, tidak penting untuk memperhatikan bilamana mulai
berlakunya perjanjian-perjanjian dengan negara-negara lain yang memberikan
pengakuan itu jika semua unsur kenegaraan secara nyata telah dipenuhi, maka
b.

saat itulah yang menentukan lahirnya negara tersebut.


Pengakuan terhadap, suatu negara mempunyai akibat surat (retroaktif) sampai
saat lahirnya negara itu secara nyata sebagai negara merdeka. Asas ini juga
berlaku terhadap perkara-perkara di pengadilan yang dimulai sebelum tanggal
diberikannya pengakuan itu.
Jika diteliti praktek yang berlaku mengenai persoalan pengakuan ini,

terdapat kenyataan bahwa hanya negara-negara yang menentang lahirnya suatu


negara yang membuat pernyataan, sedangkan pada umumnya pengakuan yang
diberikan pada suatu negara yang baru lahir hanya bersifat implisit, yaitu tampak
adanya pengakuan dalam bentuk pernyataan-pernyataan, kecuali negara yang baru
lahir tersebut membuat arti dan hubungan yang khusus dengan negara-negara
tertentu. Tidak banyak negara lahir di tahun 60 dan 70-an, terutama negara kecil di
kawasan Afrika, Pasifik dan Karibia, tanpa disambut berbagai pernyataan
pengakuan tetapi itu bukan berarti bahwa kelahirannya ditolak oleh masyarakat
internasional. Tetapi ada beberapa pengecualian dimana kelahiran suatu negara
ditentang oleh masyarakat internasional dengan merujuk pada sikap PBB.
Sejarah mencatat ada beberapa negara yang kelahirannya ditentang oleh

masyarakat internasional, yang pada akhirnya negara baru tersebut akan bidang
keberadaannya.
Rhodesia misalnya yang memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal
11 Nopember 1965 melalui kelompok minoritas kulit putih yang dibawah
pimpinan Ian Smith dengan melepaskan diri dari kekuasaan Inggris, mendapat
kecaman keras dari PBB yang meminta kepada negara-negara anggota PBB untuk
tidak mengakuinya dan tidak mengadakan hubungan diplomatik dan hubungan-hubungan lainnya dengan kekuasaan yang illegal tersebut.
Rhodesia tidak dapat bertahan lama dan kemudian digantikan oleh
Zimbabwe yang lahir pada tahun 1980. Contoh lain yaitu kelahiran negara yang
ditentang oleh masyarakat internasional ialah Turkish Republic of Northern
Cyprus tanggal 15 November 1983. Dalam waktu tiga hari Dewan Keamanan
PBB mengeluarkan resolusi yang mengecam pendirian negara tersebut yang
menyebutnya "Legally Invalid".
Pakistan adalah satu-satunya negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB
yang menentang resolusi tersebut dan sampai sekarang hanya. Turki yang
mengakui negara tersebut.
Demikian pula dengan negara Israel yang lahir tanggal 14 Mei 1948,
sampai sekarang masih tetap tidak diakui oleh negara-negara Arab, kecuali 2
negara yang telah membuat perjanjian perdamaian dengan negara tersebut, yaitu:
Mesir pada bulan Maret 1979 dan Yordania pada bulan Oktober 1994.
Negara-negara

berpenduduk

Islam

non-Arab

lainnya

juga

tidak

mempunyai hubungan dengan Israel. Walaupun Israel telah menjadi anggota PBB
sejak tanggal 11 Mei 1949, namun keanggotaanya sama sekali tidak merubah
sikap kelompok negara tersebut, sampai dicapainya penyelesaian secara
menyeluruh sengketa Timur Tengah dengan mengakui hak rakyat Palestine untuk
mendirikan negaranya sendiri di wilayah Palestine.
Dari contoh yang telah dikemukakan, nyatalah bahwa pengakuan adalah
suatu kebijaksanaan politik. Pengakuan negara hanya dilakukan satu kali,
perubahan bentuk suatu negara tidak akan merubah statusnya sebagai negara.
Sebagai contoh: Perancis sejak tahun 1791 sampai tahun 1875 beberapa kali
mengalami perubahan, dari kerajaan, republik, kekaisaran, kembali ke kerajaan

dan republik dengan pembentukan Republik III tahun 1875, Republik IV tahun
1941 dan sejak tahun 1958 Republik V tetap merupakan negara Perancis.
D. Pengakuan Pemerintah Baru
Pengakuan pemerintah ialah suatu pernyataan dari suatu negara, bahwa
negara tersebut telah siap dan bersedia mengadakan hubungan dengan
pemerintahan yang baru diakui sebagai organ yang bertindak untuk dan atas nama
negaranya. Pengakuan pemerintah ini penting, karena suatu negara tidak mungkin
mengadakan hubungan resmi dengan negara lain yang tidak mengakui
pemerintahannya. Akan tetapi secara logika pengakuan terhadap suatu negara juga
berarti pengakuan terhadap pemerintah negaranya.
Akan tetapi berbagai peristiwa dapat terjadi dengan pemerintah didalam
negara jika negara itu suatu kerajaan, maka Raja yang memerintah suatu waktu
meninggal dunia dan diganti oleh putra mahkota. Dalam hal negara itu republik,
maka presidennya dapat diganti karena meninggal dunia dalam jabatan atau
karena habis masa jabatannya. Demikian pula dengan negara yang menganut asas
demokrasi parlementer dengan pemerintah yang dikepalai oleh seorang Perdana
Menteri, pemerintah itu dari waktu ke waktu dapat berganti.
Oppenheim-Lauterpach berpendapat, bahwa dalam hal pergantian kepala
negara dari sebuah negara, apakah ia seorang Raja atau Presiden, maka biasanya
negara-negara diberitahu tentang penggantian itu dan umumnya negara lain
mengakui Kepala Negara baru itu melalui suatu tindakan resmi, misalnya berupa
ucapan selamat pemberitahuan dan pengakuan itu sebuah arti hukum, sebab
dengan pemberian itu sebuah negara mengumumkan, bahwa individu yang
bersangkutan adalah organ-organnya yang tertinggi dan berdasarkan hukum
nasionalnya

mempunyai

kekuasaan

untuk

mewakili

negaranya

dengan

keseluruhan, hubungan internasionalnya dan sebagai imbangannya dengan adanya


pengakuan dari negara-negara lain yang menyatakan bahwa mereka bersedia
berunding dengan individu itu sebagai organ tertinggi dari negaranya.
Dalam praktek, kalau Kepala Negara Baru mendapat kedudukannya
dengan cara normal dan konstitusional, maka pengakuan itu diberikan sebagai
suatu hal yang lumrah.

Penggantian Kepala Negara sebenarnya adalah urusan intern dari negara


yang bersangkutan. Pemberitahuan kepada negara-negara lain boleh dianggap
suatu formalitas belaka, suatu "Courtesy" dalam kehidupan internasional dan
pengakuan seperti itu bukan pengakuan dalam arti hukum. Jika dalam suatu
negara berlaku sistem demokrasi parlementer dimana kepala pemerintah adalah
seorang Perdana Menteri, apabila pergantian pemerintah terjadi secara
konstitusional, maka praktek menunjukkan bahwa tidak timbul pengakuan
Perdana Menteri baru oleh negara-negara lainnya. Sebagai contoh konkrit
misalnya, pemerintah buruh yang berkuasa di Inggris dikalahkan dalam pemilihan
umum oleh partai konservatif dan terbentuklah pemerintah baru dibawah seorang
Perdana Menteri Konservatif, maka pemerintah yang baru ini sama sekali tidak
memerlukan pengakuan dari manapun juga.
Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan bahwa setiap penggantian
pemerintah yang terjadi secara normal dan konstitusional, menurut hukum
internasional tidak memerlukan pengakuan bagi pemerintah baru itu.
Macam-Macam Pengakuan Pemerintah Baru
Hukum internasional mengenal dua macam bentuk pengakuan pemerintah
baru, yaitu pengakuan pemerintah secara de facto dan pengakuan pemerintah
secara de jure.
Pengakuan de facto biasanya diberikan oleh suatu negara kepada suatu
pemerintah baru jika masih timbul keragu-raguan terhadap stabilitas dan
kelangsungan hidup suatu negara, atau terhadap kemampuannya dalam memenuhi
kewajiban-kewajiban internasional. Negara yang memberikan pengakuan seperti
ini masih melihat dan menunggu kelangsungan pemerintah baru tersebut, apakah
pemerintah baru itu permanen, dihormati dan ditaati oleh rakyatnya, apakah
berhasil menguasai dan mengontrol secara efektif wilayahnya ataukah mampu
memenuhi kewajiban-kewajiban internasional.
Menurut praktek yang dilakukan oleh beberapa negara, diantaranya
Inggris, pemberian pengakuan de facto biasanya tidak menimbulkan hubungan

diplomatik yang sempurna ataupun memberikan hak-hak imunitas diplomatik


kepada wakil-wakil dari pemerintah de facto itu.
Walaupun para sarjana sependapat, bahwa pengakuan de facto sifatnya
hanya sementara dan kalau perlu dapat ditarik kembali, namun sekali pemberian
pengakuan de facto, akibat hukumnya demikian luas bagi pemerintah yang
bersangkutan, sehingga dalam banyak hal tidak berbeda kedudukannya dari suatu
pemerintah yang telah mendapat pengakuan de jure.
Sebagaimana dikemukakan juga oleh Oppenheim, bahwa pengakuan de
facto walaupun sifatnya sementara dan dapat ditarik kembali, namun pada
hakekatnya tidak dapat dibedakan dari pengakuan de jure, karena semua
perundang-undangan dan tindakan-tindakan intern lainnya dari penguasa yang
diakui secara de facto itu, dimuka pengadilan dari negara yang memberikan
pengakuan diperlakukan sederajat dengan tindakan-tindakan yang diambil oleh
suatu pemerintah yang tidak diakui secara de jure.
Pengakuan de jure diberikan kepada suatu pemerintah baru apabila negara
tersebut sudah tidak ragu-ragu lagi terhadap pemerintah tersebut. Pengakuan de
jure diberikan berdasarkan atas penilaian faktor-faktor faktual dan faktor-faktor
hukum.
Pemerintah yang diakui secara de jure adalah pemerintah yang telah
memenuhi tiga ciri, yaitu:
a) Efektivitas: Kekuasaan yang diakui di seluruh wilayah negara.
b) Regularitas: Berasal dari pemilihan umum atau telah disahkan oleh konstitusi.
c) Eksklusivitas: Hanya pemerintah itu sendiri yang mempunyai kekuasaan dan
tidak ada pemerintahan tandingan
Praktek

negara-negara

mewujudkan,

bahwa

sering

negara-negara

mengakui de facto terlebih dahulu dengan membuka hubungan dagang, kemudian


diikuti dengan pengakuan de jure. Demikian pula Indonesia juga diakui secara de
facto terlebih dahulu oleh sejumlah negara pada waktu revolusi fisik tahun 19451949 dan nanti setelah pemulihan kedaulatan diberi pengakuan de jure. Mesir
mempunyai

tempat

tersendiri

sebagai

negara

pertama

yang

mengakui

kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tanggal 23 Maret 1946 dan kemudian

secara de jure tanggal 18 November 1946 bersama Syria, Libanon, Saudi Arabia,
Yordania dan Yaman dalam kerangka Liga Arab.
Perbedaan Antara Pengakuan Negara dan Pemerintah
1. Pengakuan negara adalah pengakuan terhadap suatu entitas baru yang telah
mempunyai semua unsur konstitutif negara dan yang telah mewujudkan
kemampuannya untuk melaksanakan hak-hak dan kewajiban sebagai anggota
masyarakat internasional.
2. Pengakuan negara ini mengakibatkan pula pengakuan terhadap pemerintah
negara yang diakui dan berisikan kesediaan negara yang mengakui untuk
mengadakan hubungan dengan pemerintah yang baru itu.
3. Pengakuan terhadap suatu negara sekali diberikan tidak dapat ditarik kembali,
sedangkan pengakuan terhadap suatu pemerintah dapat dicabut sewaktuwaktu. Bila suatu pengakuan ditolak atau dicabut setelah terbentuknya suatu
pemerintah baru, maka negara yang menolak atau mencabut pengakuan
tersebut tidak lagi mempunyai hubungan resmi dengan negara tersebut. Bila
suatu pengakuan ditolak atau dicabut, maka personalitas internasional negara
tersebut

tidak

berubah

karena

perubahan

suatu

pemerintah

tidak

mempengaruhi personalitas internasional suatu negara.


Mengenai pengakuan de jure yang mungkin diberikan kepada pemerintah
pelarian (government in exile), hal seperti ini hanya terjadi dalam keadaan perang,
yaitu apabila suatu negara diduduki oleh suatu kekuasaan asing dan beberapa
pemimpin dari negara tersebut melarikan diri keluar wilayahnya. Di luar negeri
mereka membentuk suatu pemerintah pelarian, seperti contoh pemerintah Belanda
yang dibentuk di London ketika Nederland diduduki oleh Nazi Jerman selama
Perang Dunia ke II.
Pengakuan de jure seperti ini biasanya diberikan oleh negara lain yang
juga sedang berperang dengan negara yang menduduki wilayah negara yang
bersangkutan.
Penyalahgunaan Pengakuan Pemerintah Baru
Tujuan penyalahgunaan pengakuan pemerintah baru adalah bahwa
pengakuan yang diberikan kepada suatu pemerintah baru yang bersifat sebagai

alat politik nasional guna menekannya supaya memberikan konsesi-konsesi


politik dan lain-lain kepada negara yang akan memberikan pengakuan.
Pengakuan Terhadap Pemberontak (Belligerency)
Bila di suatu negara terjadi pemberontakan dan pemberontakan tersebut
telah memecah belah kesatuan nasional dan efektivitas pemerintahan, maka
keadaan ini menempatkan negara-negara ketiga dalam keadaan yang sulit
terutama dalam melindungi berbagai kepentingannya di negara tersebut. Dalam
hal ini, lahirlah sistem pengakuan belligerency. Negara-negara ketiga dalam
sikapnya membatasi diri negaranya sekedar mencatat bahwa para pemberontak
tidak kalah dan telah menguasasi sebagian wilayah nasional dan mempunyai
kekuasaan secara fakta. Bentuk pengakuan ini telah dilakukan beberapa kali di
masa lampau oleh Amerika Serikat dan juga Inggris. Contoh yang paling dikenal
adalah pengakuan belligerency yang diberikan kepada orang-orang Selatan di
Amerika Serikat pada waktu perang saudara oleh Perancis dan Inggris serta
Negara-negara Eropa lainnya.
Historis:
1. 13 koloni Amerika memisahkan diri dari Inggris tanggal 4 Juli 1776.
Kemudian Perancis mengakui koloni-koloni tersebut tanggal 6 Februari 1778
agar dapat membantu mereka. Kebijaksanaan Perancis tersebut dianggap
Inggris sebagai kasus Belli. Waktu itu, dalam hukum internasional belum
dikenal istilah pengakuan belligerency.
2. Permulaan abad 19, koloni-koloni
memproklamasikan

kemerdekaan.

Spanyol

Inggris

dan

memberontak
Perancis

dengan
mengakui

pemberontak sebagai belligerent.


3. Puncak aplikasi Perang saudara Amerika Serikat (1861-1865).
a) Negara-negara bagian selatan, dengan ibukota Richmond, dengan
pemerintah dibawah pimpinan Jefferson Davis, dan Angkatan Bersenjata
yang dikepalai Jenderal Lee, pada tanggal 4 Februari 1861 menyatakan
diri berpisah dari Pemerintah Federal.
b) Pemerintah tandingan ini diakui sebagai Negara oleh negara-negara Eropa
tetapi hanya sebagai belligerent terutama oleh Perancis dan Inggris.
c) Mulai saat itu berkembanglah pengertian belligerency dalam hukum
internasional.

Pengakuan belligerency berarti:


1. Memberikan kepada pihak yang memberontak hak-hak dan kewajiban suatu
negara merdeka selama berlangsungnya peperangan.
2. Ini berarti:
a. Angkatan perangnya adalah kesatuan yang sah sesuai dengan hukum
perang dan bukan para pembajak
b. Peperangan antara pihak harus sesuai dengan hukum perang.
c. Kapal-kapal perangnya adalah kapal-kapal yang sah dan bukan bajak laut.
d. Blokade-blokade yang dilakukannya di laut harus dihormati oleh negaranegara netral.
3. Di lain pihak, pemerintah yang memberontak tersebut tidak dapat
merundingkan perjanjian-perjanjian internasional, tidak dapat menerima dan
mengirim wakil-wakil diplomatik dan hubungannya dengan negara-negara
lain hanya bersifat informal. Pemerinta tersebut tidak dapat menuntut hak-hak
dan kekebalan-kekebalan di bidang internasional. la merupakan subyek hukum
internasional dalam bentuk terbatas, tidak penuh dan bersifat sementara.
4. Sebagai akibat pengakuan belligerency oleh Negara-negara ke-3, negara induk
dibebaskan tanggungjawab terhadap negara-negara ke-3 tersebut sehubungan
dengan perbuatan-perbuatan kelompok yang memberontak.
5. Bila negara induk memberikan pula pengakuan belligerency kepada pihak
yang memberontak, ini berarti kedua pihak harus melakukan perang sesuai
denagn hukum perang. Dalam hal ini, pihak ke-3 tidak boleh ragu-ragu lagi
untuk memberikanb, pengakuan yang sama.
6. Pengakuan belligerency ini bersifat terbatas dan sementara serta hanya selama
berlangsungnya perang tanpa memperhalikan apakah kelompok yang
memberontak itu akan menang atau kalah dalam peperangan.
7. Dengan pengakuan belligerency ini, Negara-negara, ke-3 akan mempunyai
hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai Negara netral dan pengakuan
belligerency ini terutama diberikan karena alasan humaniter.

BAB III
PENUTUP
Menurut Dr. Mohammed Hafeed Ghanem; Pengakuan terhadap negara
atau pemerintahan baru adalah suatu ikrar dari negara (anggota komunitas
internasional) terhadap negara atau pemerintahan baru yang memenuhi unsur
terbentuknya negara dan bermaksud untuk menjalankan hubungan dengan negara
tersebut sebagai subyek hukum internasional.
Dalam prakteknya, pengakuan terhadap negara atau pemerintahan baru
merupakan aktifitas politik untuk mengakui adanya fakta tentang kedaulatan
pemerintahan negara tertentu yang termasuk di dalamnya konsekuensi yang
ditimbulkan dari pengakuan tersebut.

PERBEDAAN PENGAKUAN NEGARA


BARU DAN PEMERINTAHAN BARU
D
I
S
U
S
U
N
OLEH

Kelompok III.A2
1. ADE ARISKA
1206200091
2. AZIZAH ASLAM
1206200263
3. NURAISYAH PURBA 1206200266

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
MEDAN

2013