Anda di halaman 1dari 8

NAMA

: FITRI RACHMAWATI

NIM

: 0911121255

RUANGAN

: PICU

TANGGAL

: 23-27 AGUSTUS 2013


BRONKOPNEUMONIA

A. Defenisi
Bronkopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang
disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing (Bare, 2005).
Bronkopneumonia adalah frekensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang
lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningkat, nadi meningkat, pernapasan
meningkat (Putro, 2007).
Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa
lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak Infiltrat (Wong, 2009).
B. Etiologi
Sebagian besar bronkopneumonia disebabkan oleh bakteri, yang timbul secara
primer atau sekunder setelah infeksi virus. Penyebab tersering pneumonia bakterialis
adalah

bakteri

positif-gram,

Streptococus

pneumoniae

yang

menyebabkan

bronkopneumonia streptokokus. Bakteri Staphylococcus aureus dan streptokokus betahemolitikus grup A juga sering menyebabkan bronkopneumonia, demikian juga
Pseudomonas aeruginosa. Bronkopneumonia lainnya disebabkan oleh virus, misalnya
influenza. Bronkopneumonia mikoplasma, suatu bronkopneumonia yang relatif sering
dijumpai, disebabkan oleh suatu mikroorganisme yang berdasarkan beberapoa
aspeknya, berada di antara bakteri dan virus. Individu yang mengidap acquired
immunodeficiency syndrome, (AIDS) sering mengalami pneumonia yang pada orang
normal sangat jarang terjadi yaitu pneumocystis carinii. Individu yang terpajan ke
aerosol dari air yang lama tergenang, misalnya dari unit pendingin ruangan (AC) atau
alat pelembab yang kotor, dapat mengidap bronkopneumonia Legionella. Individu yang
mengalami aspirasi isi lambung karena muntah atau air akibat tenggelam dapat
mengidap pneumonia asporasi. Bagi individu tersebut, bahan yang teraspirasi itu

sendiri yang biasanya menyebabkan bronkopneumonia, bukan mikro-organisme,


denmgan mencetuskan suatu reaksi peradangan. Penyebab bronkopneumonia adalah:
1. Bakteri (paling sering menyebabkan pneumonia pada dewasa):

Streptococcus pneumoniae

Staphylococcus aureus

Legionella

Hemophilus influenzae

2. Virus: virus influenza, chicken-pox (cacar air)


3. Organisme mirip bakteri: Mycoplasma pneumoniae (terutama pada anak-anak dan
dewasa muda)
4. Jamur tertentu.
Adapun cara mikroorganisme itu sampai ke paru-paru bisa melalui:

Inhalasi (penghirupan) mikroorganisme dari udara yang tercemar

Aliran darah, dari infeksi di organ tubuh yang lain

Migrasi (perpindahan) organisme langsung dari infeksi di dekat paru-paru.

Bronkopneumonia juga bisa terjadi setelah pembedahan (terutama pembedahan perut)


atau cedera (terutama cedera dada), sebagai akibat dari dangkalnya pernafasan, gangguan
terhadap kemampuan batuk dan lendir yang tertahan. Yang sering menjadi penyebabnya
adalah Staphylococcus aureus, pneumokokus, Hemophilus influenzae atau kombinasi
ketiganya.
Bronkopneumonia dikelompokkan berdasarkan sejumlah sistem yang berlainan. Salah
satu diantaranya adalah berdasarkan cara diperolehnya, dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu
"community-acquired" (diperoleh diluar institusi kesehatan) dan "hospital-acquired"
(diperoleh di rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya). Bronkopneumonia yang didapat
diluar institusi kesehatan paling sering disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae.
Bronkopneumonia yang didapat di rumah sakit cenderung bersifat lebih serius karena pada
saat menjalani perawatan di rumah sakit, sistem pertahanan tubuh penderita untuk
melawan infeksi seringkali terganggu. Selain itu, kemungkinannya terjadinya infeksi oleh
bakteri yang resisten terhadap antibiotik adalah lebih besar.

C. Patofisiologi
Mikroorganisme masuk ke dalam paru melalui jalan pernafasan secara percikan
(droplet). Organisme masuk kedalam paru melalui saluran nafas bagian atas atau
nasofaring. Bila pertahanan tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan
nafas sampai ke alveoli yang menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan
sekitarnya. Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan
yang meliputi empat stadium, yaitu :
1. Kongesti (4 s/d 12 jam pertama)
Eksudat serosa masuk ke dalam alveolus melalui pembuluh darah yang
berdilatasi dan bocor.
2. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya)
Paru-paru tampak merah dan bergranulasi karena sel-sel darah merah, fibrin dan
lekosit polimorfonuklear mengisi alveolus.
3. Hepatisasi kelabu (3 s/d 8 hari)
Paru-paru tampak kelabu karena lekosit dan fibrin mengalami konsolidasi di
dalam alveoli yang terserang.
4. Resolusi (7 s/d 11 hari)
Eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali
pada strukturnya semula.
Bercak-bercak infiltrat yang terbentuk adalah bercak-bercak yang difus, mengikuti
pembagian dan penyebaran bronkus dan ditandai dengan adanya daerah-daerah konsolidasi
terbatas yang mengelilingi saluran-saluran nafas yang lebih kecil.
D. Manifestasi klinis
Biasanya didahului dengan adanya infeksi saluran nafas bagian atas selama
beberapa hari. Pada bayi bisa disertai dengan hidung tersumbat, rewel serta nafsu makan
yang menurun. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39oC atau lebih. Anak sangat
gelisah, dispnea. Kesukaran bernafas yang disertai adanya sianosis di sekitar mulut dan
hidung. Tanda kesukaran bernafas ini dapat berupa bentuk nafas berbunyi (ronki dan
friction rub di atas jaringan yang terserang), pernafasan cuping hidung, retraksi-retraksi
pada daerah supraklavikuler, interkostal dan subkostal. Batuk biasanya tidak dijumpai pada

awal penyakit, anak akan mendapat batuk setelah beberapa hari, di mana pada awalnya
berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.
E. Pemeriksaan penunjang
1. Gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000 40.000/ mm3
dengan pergeseran ke kiri. Jumlah leukosit yang tidak meningkat berhubungan
dengan infeksi virus.
2. Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun.
3. Peningkatan LED.
4. Pewarnaan gram/ kultur sputum dan darah didapat dengan biopsy jarum, aspirasi
trakeal, bronkoskopi fiberoptik atau biopsy pembukaan paru untuk mengatasi
organisme penyebab
5. Analisa gas darah(AGD) menunjukkan hipoksemia dan hiperkarbia. Pada stadium
lanjut dapat terjadi asidosis metabolik.
F. Penatalaksanaan
Penisilin merupakan terapi yang spesifik karena kebanyakan pneumococcus sangat
peka terhadap obat tersebut. Pada bayi dan anak-anak, pengobatan awal dimulai dengan
pemberian penisilin G dengan dosis 50.000 unit/kgBB/hari secara intramuskular tanpa
penyulit. Terapi ini dilanjutkan sampai 10 hari atau paling tidak sampai 2 hari setelah suhu
badan pasien normal. Bila didapatkan penderita alergi penisilin maka diberikan
sefalosporin dengan dosis 50 mg/kgBB/hari. Asupan cairan per oral secara bebas dan
pemberian aspirin untuk mengatasi demam tinggi, merupakan tambahan utama untuk
pengobatan penyakit ini. Pemberian oksigen segera untuk penderita dengan kesukaran
bernafas sebelum menjadi sianosis.
G. Prognosis penyakit
Dengan pemberian antibiotika yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan
sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein dan yang datang
terlambat menunjukkan mortalitas yang lebih tinggi.
H. Pengkajian
1. Data Subjektif
a. Anak lemah, mudah lelah

b. Kehilangan napsu makan, mual/muntah


c. Sakit kepala, influenza
d. Nyeri dada (pleuritik), meningkat oleh batuk
e. Batuk bersputum merah muda dan purulent
f. Demam
g. Mengigigil berulang, gemetar.
2. Data Objektif
a. Penurunan toleransi terhadap aktivitas
b. Takikardi
c. Wajah kemerahan atau pucat
d. Distensi abdomen
e. Hiperaktif peristaltik
f. Perkusi dada pekak diatas area yang terkonsilidasi
g. Takipnea
h. Dispnea progresif
i. Pernapasan dangkal
j. Penggunaan otot bantu pernapasan
I. Diagnosa keperawatan
a. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d peningkatan produksi sputum.
b. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveoli-kapiler.
c. Resiko tinggi penyebaran infeksi b.d ketidakadekuatan pertahanan utama
(penurunan kerja silia, perlengketan sekret pernapasan).
d. Gangguan rasa nyaman nyeri b.d inflamasi parenkim paru.
e. Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuatnya masukan
nutrisi.
f. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
g. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebihan (demam,
berkeringat banyak, hiperventilasi, muntah).
h. Ansietas b.d dispnea dan hospitalisasi.
i. Kurang pengetahuan dari orang tua mengenai kondisi dan kebutuhan tindakan b.d
kurangnya informasi.
J. Rencana keperawatan

1. Ketidakefektifan

bersihan

jalan

napas

berhubungan

dengan

inflamasi

trakheobronkial, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.


Tujuan : Jalan napas bersih dan efektif
Kriteria Hasil :
-

Tidak mengalami aspirasi

Suara napas normal

Menunjukkan batuk yang efektif dan peningkatan pertukaran udara dalam paruparu.

Intervensi :
a.

Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan dan gerakan dada.


R : Takipnea, pernapasan dangkal, dan gerakan dada tak simetris sering terjadi
karena ketidaknyamanan gerakan dinding dada dan/atau cairan paru.

b.

Auskultasi area paru, catat area penurunan/tak ada aliran udara dan
bunyi napas adventisius, mis., krekels, megi.
R : Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan. Bunyi
napas bronkial (normal pada bronkus) dapat juga terjadi pada area konsolidasi.
Krekels, ronki, dan mengi terdengar pada inspirasi dan/atau ekspirasi pada
respons terhadap pengumpulan cairan, sekret kental, dan spasme jalan
napas/obstruksi.

c.

Bantu pasien dalam melakukan napas dalam, tunjukkan/bantu


pasien mempelajari melakukan batuk, mis., menekan dada dan batuk efektif
sementara posisi duduk tinggi.
R : Napas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru/jalan napas lebih
kecil. Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan napas alami, membantu silia
untuk

mempertahankan

jalan

napas

paten.

Penekanan

menurunkan

ketidaknyamanan dada dan posisi duduk memungkinkan upaya napas lebih


dalam dan lebih kuat.
d.

Penghisapan sesuai indikasi.


R : Merangsang batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik pada
pasien yang tak mampu melakukan karena batuk tak efektif atau penurunan
tingkat kesadaran.

e.

Memberikan cairan lebih kurang 2500 ml/hari dan air hangat


R : Cairan air hangat membantu memobilisasi dan mengeluarkan sekret.

2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar


kapiler, gangguan kapasitas pengangkutan oksigen dalam darah
Tujuan : pertukaran gas dapat teratasi
Kriteria Hasil:
-

Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA


dalam rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.

Berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.

Intervensi:
a. Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernapas.
R : Manifestasi distres pernapasan tergantung pada/indikasi derajat keterlibatan
paru dan status kesehatan umum.
b. Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, napas dalam, dan batuk
efektif.
R : Tindakan ini meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan pengeluaran
sekret untuk memperbaiki ventilasi.
c. Pertahankan istirahat tidur. Dorong menggunakan teknik relaksasi dan aktivitas
senggang.
R : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan/konsumsi oksigen untuk
memudahkan perbaikan infeksi.
d. Observasi penyimpangan kondisi, catat hipotensi banyaknya jumlah sputum
merah muda/berdarah, pucat, sianosis, perubahan tingkat kesadaran, dispnea
berat, gelisah.
R : Syok dan edema paru adalah penyebab umum kematian pada pneumonia
dan membutuhkan intervensi medik segera.
3.

Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi berhungan dengan tidak


adekuatan pertahanan tubuh primer dan sekunder.
Tujuan : infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil :
-

Mencapai waktu perbaikan infeksi berulang tanpa komplikasi.

Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.

Intervensi:
a.

Pantau tanda vital dengan ketat, khusunya selama awal terapi.

R : Selama periode waktu ini, potensial komplikasi fatal (\hipotensi/syok) dapat


terjadi.
b.

Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekret (mis., meningkatkan


pengeluaran daripada menelannya) dan melaporkan perubahan warna, jumlah
dan bau sekret.
R : Meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya membatasi atau
menghindarinya, penting bahwa sputum harus dikeluarkan dengan cara aman.

c.

Tunjukkan/dorong tehnik mencuci tangan yang baik.


R : Efektif berarti menurunkan penyebaran /tambahan infeksi.

d.

Batasi pengunjung sesuai indikasi.


R : Menurunkan pemajanan terhadap patogen infeksi lain.

e.

melakukan isolasi sesuai dengan kebutuhan indivudual


R : isolasi mungkin dapat mencergah penyebaran/memproteksi pasien dari
proses infeksi lain.